Mahasiswa Labusel Dalam Bingkai Pilkada Labusel 2020

Selintas terpikir sembari bertanya kepada diri sendiri “apa hubungannya mahasiswa dengan pilkada?” “Ahh ini pikiran terlalu formal dan munafik jika masih mempertanyakan itu”. Mahasiswa secara adminstratif adalah orang yang terdaftar belajar di perguruan tinggi. Mahasiswa memiliki tugas tidak hanya untuk belajar, KKN, ataupun kegiatan formal lainnya. Mahasiswa adalah agen perubahan, karena posisinya yang strategis sebagai control of sosial. Bernostalgia sejenak dengan pujangga W.S. Rendra dalam salah satu bait puisinya yang berjudul “Sajak Pertemuan Mahasiswa” menyebutkan:

“Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?”

Dari bait syair puisi Rendra tersebut, dapat simpulkan bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual yang terdidik pada waktu dan kondisi tertentu atas permasalahan-permasalahan yang ada dinegeri ini, akan memihak kepada kebenaran atau sebaliknya?. Dan ketika mahasiswa mendapatkan ilmu-ilmunya, ilmu tersebut akan menjadi alat pembebasan atau penindasan bagi masyarakat?.

Ketika berbicara terkait dengan momentum politik seperti Pemilihan Kepala Daerah di Labuhanbatu Selatan dalam waktu dekat ini, mata dan telinga biasa melihat dan mendengar yaitu sebagian dari mahasiswa baik individu ataupun lembaga telah mengambil posisi dan perannya terhadap momentum Pilkada tersebut. Melihat dan mendengar hal tersebut tidaklah mengherankan jika mahasiswa terlibat didalamnya, karena juga mahasiswa adalah salah satu dari angka-angka kategori bonus demografi yang dapat dikatakan besar pengaruhnya jika dimanfaatkan sebagai tim dan sebagai pemilih jelang Pilkada.

Secara esensi judul tidak ada yang salah jika posisi mahasiswa dalam momentum politik pilkada adalah berada didalam bingkaiannya, karena mahasiswa memang harus turut handil dan memiliki peran dalam Pilkada di Labuhanbatu Selatan, mengingat pengaruh politik sangatlah besar terhadap kehidupan bermasyarakat di daerah kedepannya. Namun yang menjadi sangat penting dimanakah posisi mahasiswa labusel yang tepat dan benar dalam momentum pilkada labusel? Jawaban dan implementasi dari pertanyaan tersebut sangatlah berpengaruh atas baik dan buruknya kondisi masyarakat labusel kedepan, maka posisi mahasiswa haruslah benar.

Gramsci dalam konsep hegemoni, intelektual organik yang gramsci pakai didalamnya adalah intelektual yang dengan sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada, dan ia bergabung dengan kelompok-kelompok revolusioner untuk men-support dan meng-counter hegemoni pada sebuah transformasi yang direncanakan. Mahasiswa Labusel sangat tepat dalam momentum Pilkada mendatang men-posisikan diri sebagai intelektual organik guna meng-counter atas dominasi kaum elit politik, yang mana sampai sekarang masih saja rentan berpotensi melakukan gerakan-gerakan yang berdampak negatif kepada kehidupan masyarakat dimasa yang akan datang. Dengan begitu maka apabila intelektual organik sudah dominan dalam implementasiannya, maka twrxiptalah civil society (masyarakat madani) dalam perspektif gramsci, dan juga akan ditemukan seperti yang dikatakan oleh Habermas sebagai solidaritas budaya dan komunitas masyarakat itu terbentuk.

Labuhanbatu Selatan sebagai daerah otonom muda adalah sedang berada pada fase berkembang. fase ini membutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang cerdas sebagai kebutuhan jalannya kehidupan pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik yang baik dalam tempo panjang. Mengawal jalannya praktek berdemokrasi di Labuhanbatu selatan dengan baik sebagai mahasiswa adalah berada ditengah, memposisikan diri sebagai mahasiswa yang mempunyai konsistensi idealisme terkokoh ditengah dinamika berdaerah, dan terakhir adalah menjadi mahasiswa yang berkualitas dan berintegritas terkait dengan bagaimana Pilkada Labusel dalam waktu dekat dapat terlaksana dengan dinamika politik yang sehat tanpa melukai nilai-nilai demokrasi. Dalam praktek berdemokrasi haruslah optimis, karena mahasiswa adalah anak kandung dari masyarakat itu sendiri, “anak yang baik adalah anak yang mampu berguna bagi orang tuanya dan melindunginya dari segala kejahatan”.

Yakin Usaha Sampai !

Penulis: HABIBURROHMAN (Ketua Umum HMI Komisariat Y-ULB Labusel Periode 2019-2020)

#kirakira

Author: admin

Media Jaringan Aktivis dan Antar Kampus di Labuhanbatu. Menyuguhkan berita, pemikiran dan peristiwa yang terjadidi kabupaten Labuhanbatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *