PEMUDA CERDAS ANTI HOAX

Penulis : Nasky Putra Tandjung

Kata hoax menurut ahli Fisiologi Inggris Robert Nares, muncul pada akhir abad ke – 18. Asal kata hoax diduga dari kata hocus yang artinya jelas-jelas untuk menipu. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong”. Seorang Ahli Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Muhammad Alwi Dahlan juga menjelaskan hoax atau kabar bohong merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah. Pada hoax ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat. Berdasarkan pengertian hoax dari beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa hoax adalah berita bohong yang sengaja dibuat untuk memberikan pemahaman yang salah terhadap suatu fakta.

Pemuda abad ke – 21 adalah pemuda yang telah dimanjakan dengan perkembangan teknologi internet. Segala informasi dan komunikasi dapat dengan mudah dilakukan tanpa dibatasi ruang dan waktu. Apalagi kepemilikan smartphone saat ini seolah-olah telah menjadi kebutuhan primer yang menjangkiti semua lapisan umur di masyarakat. Tercatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 112 juta orang, peringkat ke-6 terbanyak di dunia.
Cepatnya proses pertukaran informasi melalui internet didukung dengan tersedianya berbagai media sosial yang dilengkapi fitur dan konten menarik yang berasal dari postingan perseorangan, kelompok maupun instansi. Ada yang diperuntukkan sebagai bahan komersiil, sekedar untuk update, bahkan untuk berbagi opini yang dikemas dalam bentuk tulisan maupun video.
Namun ternyata seiring kemudahan yang diberikan oleh berbagai media sosial untuk berbagi konten postingan baik tulisan maupun video, memicu terjadinya fenomena sosial baru di kalangan pemuda kita. Fenomena sosial tersebut tercermin jelas dengan perilaku penggunaan internet di kalangan pemuda kita yang sering dihiasi dengan caci maki, saling menghujat, saling mendeskriminasi satu sama lain hanya lantaran ketidak sepahaman terhadap sebuah postingan berita maupun informasi tertentu yang bahkan sebenarnya belum jelas asal sumbernya.

Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) merilis survei tentang informasi palsu (hoax) yang tengah marak di Tanah Air. Dari hasil survei itu, diketahui media sosial menjadi sumber utama peredaran hoax. Berdasarkan data Sub direktorat Cyber Crime Polda Metro Jaya, saat ini sekitar 300 konten media sosial menyebarkan berita hoax. Melalui media sosial, seseorang dengan leluasa merusak (bulying), menghujat, mencerca, memfitnah, memperolok orang atau kelompok lain tanpa merasa bahwa perbuatan tersebut melanggar hukum. Saling serang lewat isu-isu hoax hampir menjadi santapan harian di media sosial. Tak ada lagi tenggang rasa yang dulu merupakan salah satu ikon indah budaya bangsa Indonesia. Saat ini, tidak hanya kaum dewasa yang menjadi pengguna media sosial (netizen). Di kalangan remaja dan anakpun, penggunaan media sosial menjadi sebuah euforia tersendiri. Betapa mengerikannya ketika anak-anak yang seharusnya memperoleh informasi dan berita yang sehat justru disuguhi isu-isu hoax.

Berdasarkan pada hal tersebut, dibutuhkan perhatian khusus dari seorang pendidik agar anak-anak tidak menjadi korban penyalahgunaan media sosial dan berita hoax. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk membangun generasi anti hoax sejak dini yaitu melalui Budaya-budaya pembiasaan mengakses, mengelola, mengevaluasi, menganalisis, dan mengkomunikasikan sebuah berita dari media sosial. Terlebih jika berita tersebut adalah isu nasional yang sifatnya sensitif dan melibatkan banyak kepentingan. Yang tentunya dapat kita amati bersama-sama dalam kontestasi politik pilpres 2019 ini negara kita yang dibumbuhi dengan berbagai dogma dan isu miring yang akhirnya berujung pada ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak ayal, hal ini pun direspon dengan cepat oleh pemerintah khususnya pihak kepolisian dengan membentuk tim cyber crime yang bertugas untuk mengawasi penyebaran berita palsu atau biasa disebut Hoax.

Hoax merupakan ekses negatif kebebasan berbicara dan berpendapat di internet, khususnya media sosial dan blog. Menyikapi fenomena tersebut, para pemuda kita dituntut untuk berperan aktif dalam menangkal penyebaran informasi sesat yang dapat mengancam keutuhan NKRI kita. Sebagai pemuda yang tentunya dibekali dengan kecerdasan intelektual dan kedewasaan dalam berpikir, sudah sepatutnya kita menempatkan diri kita sebagai bagian kelompok masyarakat yang menjadi filterisasi utama untuk menyelamatkan masyarakat kita dari berbagai informasi Hoax. Bukan malah terjerumus dalam adu domba pihak-pihak yang tidak bertanggug jawab.
Proses filterisasi itu dapat kita mulai dengan aktif mengampanyekan gerakan anti-Hoax di media sosial dalam berbagai kegiatan kampus. Dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang merupakan representatif dari pemuda intelektual yang menimba pendidikan di kancah daerah, nasional maupun internasional serta keberadaan lembaga kemahasiswaan memiliki potensi besar dalam menanamkan penggunaan internet secara sehat kepada masyarakat. Bentuk kampanye tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pelaksanaan diskusi maupun seminar yang mengangkat topik tentang Hoax, sosialisasi tentang etika yang harus diperhatikan saat menggunakan internet, pembuatan video dokumenter, serta melaksanakan lomba kreatif sebagai langkah persuasif memunculkan kepedulian tentang maraknya isu Hoax ini.
Jumlah pemuda Indonesia yang mencapai 61,8 juta orang, atau 24,5% dari total 252 juta orang penduduk Indonesia juga diikuti dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi kepemudaan.

Hal ini menjadi keuntungan besar untuk terus mendorong agar menjadikan gerakan anti-Hoax ini sebagai salah satu isu sentral di seluruh organisasi kepemudaan yang harus disosialisasikan kepada khalayak ramai tentang etika berinternet serta tidak mudah mempercayai berita yang tidak jelas asal-usul sumbernya. Bahkan membentuk sebuah organisasi kepemudaan yang berorientasi khusus pada penanganan isu Hoax yang dinaungi oleh pemerintah khususnya kepolisian bisa menjadi salah satu solusi alternatif yang menjanjikan.
Keyakinan bahwa keberadaan pemuda di setiap lapisan masyarakat baik di lembaga pendidikan, politik, agama, dan lain-lainnya menjadikan pemuda hendaknya sebagai contoh tauladan yang hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan dalam membangun budaya berinternet yang beretika. Lewat tulisan ini penulis memotivasi serta ajakan lisan akan menjadi bahan pencerdasan yang baik kepada masyarakat dalam menggunakan internet.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas diri dari para pemuda kita juga harus menjadi perhatian kita bersama. Sebab upaya persuasif yang melibatkan khalayak ramai bukan sebuah perkara yang mudah. Seiring peluang menyambut bonus demografi 2020-2035, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pemuda untuk menjadikan internet sebagai ladang ilmu untuk meningkatkan kualitas diri dan jiwa kompetitif. Kemudahan memperoleh berbagai bahan referensi bacaan ilmiah yang ditawarkan melalui internet harus mampu dimanfaatkan secara positif dengan terus memperkaya cakrawala pengetahuan para pemuda kita.
Godaan budaya pamer yang saat ini banyak menjangkiti para pengguna media sosial harus kita hilangkan secara perlahan. Pemuda hendaknya bijak dalam menggunakan media sosial sehingga pemanfaatannya bukan hanya sekedar popularitas melainkan digunakan pula untuk membangun interaksi jejaring yang luas dengan berbagai pemuda dari sabang-merauke bahkan dengan pemuda lintas negara dalam menuntaskan berbagai persoalan global yang membutuhkan peranan dari para pemuda.

Maka penulis yang juga sebagai pemuda Indonesia berharap para pemuda harus menjadi aktor dari sebuah perubahan yang berdaulat dan cerminan masa depan bangsa dan negara mari sama-sama kita menyikapi penggunaan internet ini sebagai alat pencerdasan dan perekat persatuan bangsa. Sebagai kaum intelektual, para pemuda harus pro aktif dalam mengampanyekan gerakan anti-Hoax dengan harapan dapat menghindarkan masyarakat dari berbagai informasi yang menyesatkan, sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini akan terus terawat dalam balutan Bhinneka Tunggal Ika.

Author: admin

Media Jaringan Aktivis dan Antar Kampus di Labuhanbatu. Menyuguhkan berita, pemikiran dan peristiwa yang terjadidi kabupaten Labuhanbatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *