Oleh : Habiburrohman

Penulis dan Aktivis Sosial Kemasyarakatan, Kota Pinang Labuhanbatu Selatan

 

Labuhanbatu Selatan hari ini sedang berada dalam fase konsolidasi sosial yang menarik. Di balik semangat besar “Kita bangun, jaga, dan rawat kampung kita”, tersimpan upaya intens pemerintah untuk mengajak sebanyak mungkin elemen masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Hampir semua stakeholder individu dan lembaga diberi ruang, diakomodir, bahkan didekatkan, seolah-olah keterlibatan adalah jawaban atas segala tantangan pembangunan. Ini tentu patut diapresiasi sebagai bentuk inklusivitas, namun juga patut direnungkan sebagai gejala simbolik.

Dalam perbincangan modern yang tidak kampungan, inklusi yang terlalu luas bisa menjadi bentuk distribusi simbolik, bukan substansi. Ketika setiap kelompok diberi peran, tetapi tidak diberi ruang pikir, maka sifat dan bentuk partisipasi berubah.

Sampai disini terdapat tantangan besar: bagaimana untuk dapat memastikan bahwa setiap representasi bukan hanya mengisi algoritma sosial, melainkan mengisi kepastian sosial. Karena pembangunan yang diletakkan di atas panggung yang simbolik tak selamanya mampu menembus realitas masyarakat yang hidup diluar sorotan.

Sering kali, semangat membangun kampung berubah menjadi semangat membangun legitimasi. Representasi kolektif bisa menjelma menjadi filter stabilitas politik, alih-alih pendorong inovasi.

Maka perlu kebijaksanaan substantif untuk membedakan mana keterlibatan yang berujuk pada ide, dan mana yang hanya bertujuan menjaga ritme harmonisasi dipermukaan. Legitimasi yang harmonis berbentuk visual memang penting, tapi tanpa kedalaman makna, instrumen pembangunan bisa kehilangan nadanya.

Stakeholder dalam konteks kelembagaan sebagai bagian dari mitra pembangunan yang strategis tentu mendukung setiap langkah Pemkab yang membuka ruang partisipasi. Namun, dalam keheningan peran kita belajar bahwa tidak semua hal perlu tampil untuk berpengaruh.

Kadang, ide dan gagasan bekerja lebih kuat ketika tidak dicitrakan. Kita harus optimis bahwa masa depan Labusel membutuhkan ruang berpikir yang lebih sunyi, tidak sekedar ruang yang bersuara ramai.

Hari ini, ketika simbol-simbol mulai memenuhi panggung, tugas kita bukan membantah simbol, tapi menyusupkan substansi ke dalamnya. Karena kampung ini tidak hanya perlu dirawat secara visual, tapi dibangun secara gagasan.

Dan itu hanya bisa dimulai dari keberanian untuk membedakan mana narasi yang menghibur, dan mana arah yang benar.

Di tengah riuhnya representasi ketokohan dan kelembagaan, kita perlu bertanya dalam diam dan mendalam: kemana arah pembangunan ini sebenarnya? Apakah hanya sekedar merawat keterhubungan antara elite dan komunitas, ataukah benar-benar menyusun jalan menuju transformasi sosial yang kaffah? Sebab di dalam sejarah pemerintahan yang berhasil, selalu ada yang tak terlihat namun bekerja: visi yang tak dipajang dalam flyer dan spanduk-spanduk, serta gagasan yang tak dilafalkan dalam sambutan seremonial.

Simbol memang menyentuh rasa, tapi ide akan menyentuh akal. Jika pembangunan hanya memuaskan rasakolektifi lewat upacara, pelantikan, atau pertemuan formal, maka pembangunan yang ada dalam proyeksi hanya berjalan dalam dimensi emosional. Labusel butuh lebih dari itu: gerakan berpikir yang sunyi, laboratorium kebijakan yang tumbuh dari keresahan nyata masyarakat, bukan hanya dari kehendak menjaga kesetiaan kelompok.

Tidak mudah memang menyampaikan hal ini di tengah antusiasme yang sedang dibangun. Tapi sejarah menunjukkan, loyalitas terbaik bukan datang dari pujian, melainkan dari kejujuran yang dibisikkan pelan-pelan.

Kita memahami bahwa posisi strategis bukan soal kedekatan dengan kekuasaan, melainkan kemampuan menjadi penyeimbang yang tak selalu terdengar. Dan itu, justru yang paling dibutuhkan saat simbol terlalu mendominasi.

Karena itulah, kita mendorong agar proses pembangunan ke depan lebih banyak digerakkan oleh forum-forum kecil, kelompok-kelompok gagasan, dan ruang partisipatif yang organik, bukan hanya struktural.

Representasi bisa dibagikan, tetapi ide tidak bisa dibagi tanpa proses. Kita lahir dan terus tumbuh dari dialektika, bukan dari penunjukan. Maka akan sangat indah jika Pemerintah membuka ruang ini, bukan sekadar memperluas panggung.

Labusel punya banyak ide dan gagasan pembangunan yang belum digali, yang mana keduanya ada pada guru-guru bangsa di desa, anak muda yang sering berdiskusi dan berpikir produktif di lorong-lorong, petani yang menulis dalam hati mereka tentang apa yang dibutuhkan. Itulah yang harus dijaga dan dirawat. Bukan hanya demi kampung ini, tapi demi masa depan politik yang organik dan dewasa, dimana simbol boleh megah, tapi ide harus tetap jadi rumah.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + = 4
Powered by MathCaptcha