Sektor pertanian di Sumatera Utara merupakan pilar ekonomi yang kokoh dan terus berkembang, menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah berbagai dinamika global. Kontribusinya yang signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini, yang diproyeksikan mencapai 25,88% pada tahun 2025, menegaskan perannya sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi dan penyangga stabilitas daerah. Provinsi ini diberkahi dengan keanekaragaman geografis yang memungkinkan budidaya berbagai komoditas unggulan, mulai dari perkebunan seperti kelapa sawit, karet, dan kopi, hingga tanaman pangan dan hortikultura bernilai tinggi.
Peluang pengembangan industri pertanian di Sumatera Utara sangat luas, terutama melalui peningkatan produksi dan produktivitas yang didorong oleh adopsi teknologi modern seperti pertanian digital dan cerdas. Pengembangan varietas unggul dan praktik pertanian berkelanjutan juga menjadi kunci untuk meningkatkan ketahanan pangan dan daya saing produk di pasar global. Selain itu, potensi besar terletak pada hilirisasi komoditas utama, seperti pengolahan kelapa sawit menjadi oleofood dan oleokimia, serta pengembangan kopi spesialti dan produk hortikultura olahan yang dapat meningkatkan nilai tambah dan pendapatan ekspor. Pasar ekspor yang kuat, dengan Sumatera Utara menduduki peringkat teratas dalam nilai ekspor pertanian nasional pada tahun 2021, menunjukkan kapasitas provinsi ini untuk memenuhi permintaan global yang terus meningkat. Agrowisata juga menawarkan jalur diversifikasi ekonomi pedesaan yang menjanjikan, mengintegrasikan pertanian dengan pariwisata.
Namun, untuk merealisasikan potensi ini, Sumatera Utara harus mengatasi sejumlah tantangan krusial. Kekurangan dan kualitas tenaga penyuluh pertanian yang tidak merata menjadi hambatan utama dalam transfer pengetahuan dan adopsi teknologi. Dampak perubahan iklim, yang menyebabkan ketidakpastian ketersediaan air dan peningkatan serangan hama, mengancam stabilitas produksi. Permasalahan infrastruktur pertanian, khususnya kondisi irigasi yang banyak rusak, secara langsung membatasi peningkatan produktivitas. Selain itu, akses terbatas petani terhadap permodalan dan informasi pasar masih menjadi isu yang perlu diatasi secara sistemik. Pembelajaran dari program strategis seperti Food Estate Humbang Hasundutan menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih partisipatif dan berpusat pada petani untuk menghindari kegagalan implementasi.
Rekomendasi strategis mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan regenerasi petani, penguatan infrastruktur dan adopsi teknologi, diversifikasi komoditas melalui hilirisasi berbasis pasar global, pengelolaan risiko perubahan iklim, peningkatan akses permodalan dan jaringan pasar, serta penguatan kolaborasi multi-pihak. Dengan pendekatan yang komprehensif, inklusif, dan berkelanjutan, sektor pertanian Sumatera Utara memiliki kapasitas untuk tidak hanya mencapai swasembada pangan tetapi juga menjadi pemain kunci di pasar pertanian global, mendorong kesejahteraan masyarakat secara luas.
Pendahuluan
Sumatera Utara, sebuah provinsi yang terletak di bagian barat Indonesia, memiliki luas daratan mencapai 72.460,744 kilometer persegi. Dengan kepadatan penduduk sekitar 212 jiwa per kilometer persegi pada tahun 2023, provinsi ini merupakan rumah bagi populasi yang terus bertumbuh, yang secara inheren meningkatkan permintaan akan produk pangan. Keunggulan geografis Sumatera Utara terletak pada topografinya yang sangat beragam, mencakup wilayah pesisir, dataran rendah dengan ketinggian 0-300 meter di atas permukaan laut (mencakup 52,33% dari total luas daratan), perbukitan dengan ketinggian 300-600 meter di atas permukaan laut (13,70% dari luas daratan), dan pegunungan yang menjulang di atas 600 meter di atas permukaan laut (33,96% dari luas daratan). Keragaman bentang alam ini menciptakan fondasi alami yang kuat untuk pengembangan berbagai jenis kegiatan pertanian, mulai dari perkebunan skala besar hingga budidaya tanaman pangan dan hortikultura di dataran tinggi.
Sektor pertanian telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Sumatera Utara. Perannya tidak hanya terbatas pada penyediaan pasokan makanan yang esensial bagi penduduk , tetapi juga sebagai penyerap tenaga kerja yang signifikan. Data menunjukkan bahwa pada Agustus 2022, lapangan usaha pertanian mampu menyerap sekitar 34,65% dari total angkatan kerja yang bekerja di provinsi ini. Angka ini menggarisbawahi betapa vitalnya sektor ini dalam menopang mata pencarian sebagian besar masyarakat Sumatera Utara.
Stabilitas dan kontribusi yang konsisten dari sektor pertanian terhadap ekonomi regional, bahkan di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak harga pangan dunia, semakin memperkuat posisinya sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi dan motor pemulihan daerah. Kemampuan sektor ini untuk tetap produktif dan stabil, bahkan saat sektor lain mungkin mengalami kontraksi, menjadikannya aset strategis yang tak ternilai bagi pembangunan berkelanjutan Sumatera Utara. Oleh karena itu, analisis mendalam terhadap peluang dan potensi yang terkandung dalam industri pertanian provinsi ini menjadi sangat relevan dan mendesak.
Profil Sektor Pertanian Sumatera Utara: Fondasi dan Struktur
Sektor pertanian di Sumatera Utara, yang mencakup tanaman bahan pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan, secara konsisten menjadi penyumbang nilai tambah terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi. Pada tahun 2018, sektor ini berkontribusi sebesar 21,40%, melampaui sektor industri pengolahan yang menyumbang 20,29%. Angka ini menunjukkan peran dominan pertanian sebagai kekuatan ekonomi utama di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, kontribusi sektor pertanian diproyeksikan akan terus meningkat, mencapai 25,88% dari PDRB. Peningkatan ini bukan sekadar angka, melainkan indikasi kuat akan ketahanan ekonomi sektor pertanian dan perannya yang semakin sentral. Sektor ini telah terbukti menjadi penyangga utama ekonomi Sumatera Utara, memberikan stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi daerah, terutama setelah tekanan global dan gejolak harga pangan dunia. Kemampuan sektor pertanian untuk mencatatkan pertumbuhan positif bahkan di masa pandemi COVID-19 menegaskan posisinya sebagai fondasi yang dapat diandalkan untuk pembangunan lebih lanjut.
Dalam struktur PDRB sektor pertanian itu sendiri, sub-sektor perkebunan memegang peranan terbesar. Pada tahun 2022, sub-sektor perkebunan menyumbang 57,35% dari total PDRB lapangan usaha pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian. Kontribusi ini diikuti oleh sub-sektor tanaman pangan sebesar 13,40%, hortikultura 8,86%, dan perikanan 8,12%. Dominasi perkebunan ini mengarahkan perhatian pada pentingnya investasi berkelanjutan dan peningkatan nilai tambah di sub-sektor ini.
Analisis kontribusi PDRB ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya besar dalam skala, tetapi juga merupakan kekuatan yang tumbuh dan menstabilkan ekonomi Sumatera Utara. Pertumbuhan ini sangat penting bagi investor dan pembuat kebijakan, karena menunjukkan fondasi yang andal untuk pembangunan lebih lanjut dan potensi pengembalian investasi yang tinggi di sektor ini, berfungsi sebagai penyangga terhadap guncangan ekonomi eksternal.
Tabel 1: Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB Sumatera Utara (2018-2025)
Tahun | Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB (%) | Kontribusi Sub-sektor Pertanian terhadap PDRB Pertanian (2022) (%) |
2018 | 21,40 | – |
2022 | – | Perkebunan: 57,35 |
Tanaman Pangan: 13,40 | ||
Hortikultura: 8,86 | ||
Perikanan: 8,12 | ||
2025 | 25,88 (proyeksi) | – |
Komoditas Unggulan dan Potensi Diversifikasi
Topografi Sumatera Utara yang beragam, dengan sebagian besar wilayah yang sesuai untuk tanaman tahunan atau perkebunan, terutama di wilayah timur, sekitar Danau Toba, wilayah selatan, Pantai Barat, serta pulau-pulau kecil, menjadi dasar bagi keanekaragaman komoditas pertanian.
Subsektor Perkebunan: Kelapa Sawit, Karet, Kopi, Kakao, dan Rempah-rempah
Sub-sektor perkebunan merupakan penyumbang pendapatan daerah terbesar ketiga di Sumatera Utara dan merupakan sub-sektor penting yang memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB sektor pertanian provinsi.
- Kelapa Sawit: Komoditas dominan dan andalan, dengan Sumatera Utara menjadi salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia. Pada tahun 2023, luas area tanam kelapa sawit mencapai sekitar 1.353.515 hektare (Ha), dengan produksi sebesar 5.453.030 ton. Pada tahun 2020, produksi kelapa sawit mencapai 7.008,32 ribu ton dari luas lahan 440 ribu hektare. Kelapa sawit merupakan komoditas basis dengan nilai
Location Quotient (LQ) sebesar 1,62, menunjukkan keunggulan kompetitif yang kuat dan pertumbuhan yang dinamis karena kondisi wilayah yang sangat cocok dan penanganannya yang relatif mudah dibandingkan komoditas lain. - Karet: Komoditas perkebunan penting lainnya. Pada tahun 2019, produksi karet Sumatera Utara mencapai 547.300,83 ton dengan luas lahan sekitar 585.749,21 hektare. Perkebunan rakyat memberikan kontribusi terbesar, yaitu 311.076,66 ton dari 393.189,02 hektare. Pada tahun 2023, luas perkebunan karet di Sumatera Utara mencapai 373,1 ribu hektare, menjadikannya provinsi ketiga terluas di Indonesia untuk komoditas ini.
- Kopi: Komoditas unggulan yang melegenda dengan sebutan “Mandheling Coffee” sejak tahun 1825. Sumatera Utara menyumbang 72,34 ribu ton terhadap total produksi kopi nasional antara tahun 2010 hingga 2019, dan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2020, total produksinya mencapai 76,59 ribu ton, setara dengan 10% dari produksi nasional. Kopi Arabika dan Robusta diproduksi di Sumatera Utara, dengan volume produksi Kopi Arabika yang lebih besar. Kopi menunjukkan peluang pasar yang besar baik di dalam maupun luar negeri. Volume ekspor kopi mencapai 65.000 ton pada tahun 2023, dengan nilai sekitar USD 250 juta. Negara tujuan utama ekspor meliputi Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan.
- Kakao: Menunjukkan tren kenaikan ekspor yang signifikan dari Sumatera Utara, mengindikasikan daya saingnya di pasar global.
- Komoditas Perkebunan Lainnya: Termasuk kelapa, cengkeh, kulit manis, nilam, kemiri, tembakau, tebu, pala, lada, kapuk, pinang, dan panili.
Kontribusi PDRB yang tinggi dan nilai ekspor yang signifikan dari kelapa sawit, karet, dan kopi menunjukkan arah strategis yang jelas: kekuatan pertanian Sumatera Utara sangat bergantung pada sektor perkebunan yang berorientasi ekspor. Ini menyiratkan bahwa kebijakan dan investasi harus terus memprioritaskan peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah pada komoditas-komoditas dominan ini untuk mempertahankan dan memperluas pangsa pasar global. Nilai LQ yang tinggi untuk kelapa sawit lebih lanjut memperkuat keunggulan kompetitifnya.
Subsektor Tanaman Pangan: Padi, Jagung, dan Kedelai
Padi: Produksi padi di Sumatera Utara menghadapi fluktuasi. Luas panen padi di Sumatera Utara diperkirakan turun 6,99 ribu hektare pada tahun 2023. Total produksi beras tahun 2023 diproyeksikan sekitar 1,19 juta ton, sedikit menurun 0,38% dibandingkan produksi tahun 2022 yang mencapai 1,20 juta ton. Namun, pada awal tahun 2023, produksi beras menunjukkan peningkatan, dengan prediksi mencapai 0,5 juta ton antara Januari hingga April, lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun 2022.
- Jagung: Di Kabupaten Karo, produksi jagung pada tahun 2019 mencapai 767.305 ton.
- Kedelai: Merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang dibudidayakan.
Proyeksi penurunan luas panen padi dan sedikit penurunan total produksi beras pada tahun 2023, meskipun ada peningkatan di awal tahun, menandakan tantangan yang berkelanjutan dalam mencapai swasembada pangan. Hal ini bertentangan dengan tujuan ketahanan pangan yang lebih luas dan menyoroti kerentanan potensial. Ini berarti bahwa sementara tanaman ekspor sedang berkembang pesat, tanaman pangan dasar memerlukan perhatian khusus, mungkin melalui perbaikan irigasi, pengembangan varietas unggul, dan dukungan yang lebih kuat bagi petani tanaman pangan untuk memastikan pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Subsektor Hortikultura: Sayuran dan Buah-buahan Bernilai Tinggi
Sub-sektor hortikultura, meskipun memiliki kontribusi PDRB yang lebih kecil dibandingkan perkebunan (8,86% pada tahun 2022), menawarkan potensi signifikan untuk diversifikasi pendapatan dan peningkatan ekonomi lokal karena siklus panen yang lebih pendek dan nilai per hektare yang lebih tinggi.
- Hortikultura Sayuran: Komoditas kunci meliputi bawang merah, cabai, kentang, kubis, petsai, bawang putih, dan tomat. Kabupaten Karo merupakan produsen penting kentang, kubis, petsai, dan tomat. Kabupaten Dairi dikenal dengan bawang merah dan cabai. Simalungun menghasilkan cabai, kentang, kubis, dan bawang putih. Humbang Hasundutan unggul dalam tomat dan bawang putih. Tapanuli Utara dikenal dengan cabai, petsai, dan bawang putih. Kabupaten Pakpak Bharat juga menghasilkan cabai.
- Hortikultura Buah: Buah-buahan penting meliputi mangga, durian, jeruk, pepaya, pisang, dan salak.35 Kabupaten Dairi unggul dalam mangga, durian, pisang, dan pepaya. Simalungun dikenal dengan jeruk. Samosir menghasilkan mangga, durian, dan pisang. Humbang Hasundutan unggul dalam durian, pisang, pepaya, dan salak.
Daftar rinci komoditas hortikultura dan konsentrasi regionalnya menunjukkan fondasi yang kuat untuk pertanian bernilai tinggi. Meskipun perkebunan mendominasi PDRB, hortikultura, meskipun lebih kecil, menawarkan potensi signifikan untuk diversifikasi pendapatan dan peningkatan ekonomi lokal karena siklus yang lebih pendek dan nilai per hektare yang lebih tinggi. Ini menunjukkan peluang strategis untuk berinvestasi dalam penanganan pascapanen, pengolahan, dan akses pasar untuk produk-produk yang mudah rusak dan memiliki permintaan tinggi ini.
Subsektor Peternakan dan Perikanan
- Peternakan: Meliputi sapi potong, kerbau, domba, babi, ayam kampung, ayam petelur, ayam pedaging, dan itik. Kabupaten Simalungun merupakan basis untuk ayam petelur, ayam pedaging, dan sapi potong.
- Perikanan: Menyumbang 8,12% terhadap PDRB sektor pertanian.
Tabel 2: Data Produksi dan Luas Lahan Komoditas Unggulan Pertanian Sumatera Utara (2020-2023)
Komoditas | Tahun | Luas Tanaman (ribu Ha) | Produksi (ribu ton) | Keterangan |
Kopi | 2010-2019 | – | 72,34 | Peningkatan produksi |
Kopi | 2020 | 95,47 | 75 | – |
Kopi | 2020 | – | 76,59 | 10% produksi nasional |
Kopi | 2023 | – | 65 (ekspor) | Nilai ekspor USD 250 juta |
Kelapa Sawit | 2020 | 440 | 7.008,32 | – |
Kelapa Sawit | 2023 | 1.353,515 | 5.453,030 | – |
Karet | 2019 | 585,749.21 | 547,300.83 | Perkebunan rakyat 311.076,66 ton dari 393.189,02 Ha |
Karet | 2023 | 373,1 | – | Terluas ke-3 di Indonesia |
Padi (luas panen) | 2023 | Turun 6,99 | – | Perkiraan turun |
Beras (total produksi) | 2022 | – | 1.200 | – |
Beras (total produksi) | 2023 | – | 1.190 | Menurun 0,38% dari 2022 |
Beras (Jan-Apr) | 2023 | – | 0,5 | Lebih tinggi dari periode sama 2022 |
Jagung (Kab. Karo) | 2019 | – | 767,305 | – |
Karakteristik Geografis dan Kesesuaian Lahan Pertanian
Luas total daratan Sumatera Utara adalah 72.460,744 km². Provinsi ini memiliki topografi yang sangat beragam, yang secara langsung memengaruhi potensi dan jenis kegiatan pertanian yang dapat dikembangkan. Dataran rendah dan pesisir (0-300 mdpl) mencakup 52,33% dari luas daratan. Wilayah perbukitan (300-600 mdpl) seluas 13,70% dari daratan, dan pegunungan (di atas 600 mdpl) mencakup 33,96% dari luas daratan Sumatera Utara.
Kesesuaian lahan untuk tanaman tahunan atau perkebunan meliputi hampir dua pertiga wilayah Sumatera Utara, terutama di wilayah bagian timur, kawasan sekitar Danau Toba, wilayah bagian selatan, Pantai Barat, serta di pulau-pulau kecil. Area-area ini sangat ideal untuk budidaya komoditas perkebunan utama seperti kelapa sawit, karet, dan kopi. Namun, ada juga kawasan yang kurang sesuai untuk perkebunan, seperti di bagian tengah sebelah utara Danau Toba, sepanjang Pantai Barat, Mandailing Natal bagian selatan, Tapanuli Selatan bagian utara, dan beberapa tempat di Labuhan Batu.
Selain itu, lahan yang sesuai untuk budidaya peternakan umumnya mengikuti kawasan perkebunan, kawasan tanaman pangan lahan kering, dan kawasan tanaman pangan lahan basah yang tidak berada di sekitar pantai. Ini menunjukkan adanya sinergi antara pengembangan perkebunan dan peternakan dalam pemanfaatan lahan.
Karakteristik geografis dan kesesuaian lahan yang terperinci ini bukan hanya deskriptif, melainkan juga preskriptif. Hal ini menunjukkan bahwa Sumatera Utara memiliki keunggulan kompetitif alami untuk diversifikasi pertanian. Luas lahan yang sesuai untuk perkebunan menjelaskan dominasi kelapa sawit, karet, dan kopi saat ini. Namun, keberadaan wilayah perbukitan dan pegunungan juga mendukung hortikultura bernilai tinggi dan kopi spesialti. Ini menyiratkan bahwa strategi pembangunan yang seimbang harus memanfaatkan kemampuan lahan yang beragam ini untuk mengoptimalkan produksi di berbagai sub-sektor, daripada terlalu bergantung pada satu atau dua komoditas. Pendekatan ini dapat meningkatkan ketahanan terhadap fluktuasi pasar atau dampak iklim.
Peluang dan Potensi Pengembangan Industri Pertanian di Sumatera Utara
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, bekerja sama dengan Bank Indonesia, secara aktif memperkenalkan teknologi “Digital Farming” dan “Smart Farming” kepada para petani. Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat transformasi sektor pertanian menuju pendekatan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Program “Petani Milenial” juga sangat menekankan pentingnya pertanian cerdas dan digital , mengakui bahwa teknologi dapat secara signifikan meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja petani, serta mengurangi kerugian akibat faktor alam seperti kekeringan atau banjir. Pengelolaan pertanian dengan digitalisasi dapat mengoptimalkan penggunaan bibit, ketersediaan air, dan pupuk, serta menghindari penggunaan pestisida berlebihan.
Namun, terdapat tantangan signifikan dalam adopsi teknologi ini. Data menunjukkan bahwa 223.845 dari 361.814 petani milenial di Sumatera Utara masih “gaptek” atau belum memanfaatkan teknologi digital secara optimal, termasuk penggunaan alat dan mesin pertanian modern, internet/telepon pintar, drone, atau kecerdasan buatan.
Dorongan untuk pertanian digital dan cerdas merupakan peluang yang jelas untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi yang signifikan. Namun, tingginya persentase petani milenial yang “gaptek” menunjukkan adanya hambatan kritis dalam modal manusia. Ini bukan hanya tentang menyediakan teknologi; ini tentang memungkinkan adopsi. Implikasinya adalah bahwa transformasi digital yang berhasil memerlukan investasi besar dalam pelatihan literasi digital dan layanan penyuluhan untuk memastikan teknologi tersebut dimanfaatkan secara efektif di tingkat petani. Tanpa mengatasi kesenjangan ini, potensi teknologi modern akan tetap sebagian besar tidak terwujud.
Pengembangan Varietas Unggul dan Praktik Pertanian Berkelanjutan
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) Sumatera Utara telah berhasil mengembangkan 23 varietas padi unggul, termasuk varietas Inpari 42. Varietas Inpari 33 secara khusus dianggap strategis dalam mendukung ketahanan pangan, dengan Kabupaten Langkat berambisi menjadi pusat benih unggul di tingkat regional. Pengembangan varietas-varietas ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kondisi lingkungan yang berubah dan meningkatkan hasil panen.
Selain itu, program “Petani Milenial” secara aktif mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan. Ini mencakup pertanian organik, rotasi tanaman, dan penggunaan bahan-bahan yang dapat terbiodegradasi. Praktik-praktik ini tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan tetapi juga dapat meningkatkan kualitas produk dan daya saing di pasar yang semakin peduli lingkungan.
Pengembangan 23 varietas padi unggul dan fokus strategis pada Inpari 33 menunjukkan peluang nyata untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan ketahanan terhadap tekanan lingkungan. Ini merupakan respons langsung terhadap masalah ketahanan pangan. Selain itu, penekanan pada praktik berkelanjutan dan pertanian organik dalam program “Petani Milenial” menunjukkan pendekatan yang berwawasan ke depan yang dapat membedakan produk Sumatera Utara di pasar global, menarik konsumen yang bersedia membayar lebih untuk barang-barang yang diproduksi secara berkelanjutan. Hal ini juga sejalan dengan tren lingkungan global dan dapat membuka jalur ekspor baru.
Optimalisasi Pemanfaatan Lahan dan Sumber Daya Air
Upaya terus dilakukan untuk meminimalkan berbagai masalah yang menghambat laju pembangunan sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura di Sumatera Utara. Isu-isu seperti kepemilikan lahan yang masih kecil, tingkat kehilangan produksi yang tinggi, kerusakan infrastruktur pertanian, dan lemahnya akses petani terhadap teknologi, informasi pasar, serta permodalan, secara bertahap diminimalisir.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara khusus memfokuskan perhatian pada perbaikan pintu air irigasi, terutama di Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deli Serdang. Langkah ini dianggap krusial untuk mendukung program ketahanan pangan nasional dan memungkinkan petani untuk melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Perbaikan ini mencakup normalisasi saluran irigasi dan perbaikan infrastruktur yang rusak, dengan anggaran yang sudah dialokasikan untuk kegiatan tersebut pada tahun 2025.
Masalah yang terus-menerus terjadi pada infrastruktur irigasi merupakan kendala langsung dan nyata terhadap produktivitas pertanian, terutama untuk tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi. Rendahnya persentase irigasi yang berfungsi baik berarti bahwa bahkan dengan benih atau teknik yang lebih baik, kelangkaan air atau pengiriman yang tidak efisien dapat menghilangkan keuntungan. Insiden runtuhnya sistem irigasi baru-baru ini menggarisbawahi urgensi masalah ini. Ini menyiratkan bahwa meskipun proyek infrastruktur baru itu penting, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem yang ada harus menjadi prioritas utama untuk memastikan pasokan air yang konsisten dan memungkinkan intensitas tanam yang lebih tinggi (misalnya, tiga kali panen setahun). Hal ini juga memengaruhi moral petani dan stabilitas keuangan mereka.
Peluang Hilirisasi dan Peningkatan Nilai Tambah Komoditas
Hilirisasi diakui sebagai pendekatan strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian. Dengan mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau jadi, hilirisasi dapat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan menghasilkan devisa yang lebih besar karena kelipatan nilai jual produk yang lebih tinggi
Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit dan Produk Turunannya (Oleofood, Oleochemicals)
Sumatera Utara menunjukkan dukungan kuat terhadap program Hilirisasi Investasi Strategis (HIS) untuk industri kelapa sawit. Provinsi ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, termasuk perkebunan yang luas, serta infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan kawasan industri, yang menjadikannya lokasi ideal untuk pengembangan hilirisasi kelapa sawit. Sumatera Utara menduduki peringkat keempat terbesar di Indonesia dalam produksi kelapa sawit.
Fokus pengembangan industri oleofood untuk periode 2025-2035 adalah produk lemak khusus (specialty fats) dan aditif makanan (food additives). Sementara itu, untuk industri oleokimia, fokus utamanya adalah metil ester, polimer turunan minyak sawit, dan minyak esensial. Keberadaan beberapa perusahaan pengolahan kelapa sawit besar di Sumatera Utara, seperti PT Mahkota Group Tbk dan PT Cisadane Sawit Raya Tbk, yang mencakup sektor hulu dan hilir, menunjukkan kapasitas industri yang sudah terbangun.
Mengingat posisi Sumatera Utara sebagai produsen kelapa sawit utama, dorongan untuk HIS adalah logis dan sangat berdampak. Fokus khusus pada oleofood dan oleokimia menunjukkan langkah maju melampaui ekspor CPO dasar. Ini merupakan peluang signifikan untuk menangkap nilai yang lebih tinggi, mendiversifikasi aliran pendapatan, dan berintegrasi ke dalam rantai pasokan global untuk produk industri canggih, bergerak naik dalam rantai nilai. Strategi ini, jika dilaksanakan dengan baik, dapat secara signifikan meningkatkan PDRB regional dan menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi.
Peningkatan Kapasitas Pengolahan Karet dan Diversifikasi Produk Turunan
Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua setelah Sumatera Selatan. Karet dan produk turunannya diekspor dalam bentuk karet alam (lateks), karet olahan (Crumb Rubber/TSNR/SIR), dan produk karet jadi (ban, barang karet untuk industri dan otomotif, barang karet untuk umum, dll.). Karet olahan memiliki peran terbesar dalam ekspor, dengan pangsa rata-rata 57,54% dari total ekspor karet dan produk karet Indonesia.
PT Industri Karet Nusantara, yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara, merupakan pemain kunci dalam pengolahan karet, memproduksi berbagai produk karet seperti paving block karet, speed bumper, dan dock fender.
Meskipun karet olahan adalah ekspor utama, keberadaan perusahaan seperti PT Industri Karet Nusantara yang memproduksi berbagai produk karet menunjukkan peluang yang baru muncul namun signifikan untuk diversifikasi lebih lanjut. Bergerak melampaui karet olahan curah ke barang manufaktur bernilai lebih tinggi dapat mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas mentah dan memenuhi permintaan industri tertentu, meningkatkan profitabilitas dan stabilitas keseluruhan sektor karet.
Hilirisasi Kopi Spesialti dan Pemasaran Produk Olahan
Kopi Sumatera Utara, khususnya Kopi Mandailing dan Kopi Gayo, telah melegenda dan diakui secara global karena cita rasanya yang khas. Terdapat potensi ekonomi yang sangat besar dalam mengolah kopi lebih lanjut dari sekadar biji mentah (green beans) menjadi biji sangrai (roasted beans) atau bubuk kopi, yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan dapat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti FITRI KOPI di Kabupaten Karo telah berhasil mengolah kopi arabika spesialti menjadi green bean, roast bean, dan bubuk kopi, bahkan produk sampingan seperti cascara. Hal ini menunjukkan inisiatif lokal yang kuat dalam peningkatan nilai tambah.
Permintaan global terhadap kopi spesialti terus meningkat, dengan konsumen yang semakin mencari kopi dengan cerita asal-usul (origin) dan praktik berkelanjutan. Kopi Sumatera, dengan cita rasa unik dan kualitas premiumnya, sangat sesuai dengan tren ini. Pameran internasional seperti Specialty Coffee Expo menjadi platform penting untuk memperkenalkan kopi Sumatera ke pasar global.
Pengakuan global terhadap kopi Mandailing dan Gayo serta meningkatnya permintaan akan kopi spesialti menghadirkan peluang pasar premium. Fokus saat ini pada biji mentah berarti nilai yang signifikan terabaikan. Dengan berinvestasi dalam pemanggangan, pengemasan, dan branding (hilirisasi), Sumatera Utara dapat menangkap pangsa yang jauh lebih besar dari rantai nilai. Hal ini juga sejalan dengan tujuan program “Petani Milenial” untuk pertanian modern berorientasi ekspor dan dapat secara signifikan meningkatkan pendapatan petani dan pendapatan ekspor regional. Keberhasilan UMKM lokal menunjukkan kelayakan pendekatan ini dalam skala kecil, yang dapat ditingkatkan dengan dukungan yang tepat.
Potensi Pengolahan Hortikultura dan Tanaman Pangan
Konsep “Agri Unggul” di Kabupaten Dairi merupakan inisiatif yang melibatkan pertanian terpadu skala besar berbasis klaster, mencakup hortikultura, peternakan, dan perkebunan. Program ini mengandalkan mekanisasi, modernisasi pertanian, dan sistem digitalisasi, dengan fokus pada hilirisasi produksi pertanian. Ini menunjukkan pergeseran menuju pendekatan yang lebih terstruktur dan berskala besar untuk produksi pangan dan hortikultura.
Selain itu, pembangunan kawasan pertanian terpadu di lima kabupaten (Karo, Mandailing Natal, Dairi, Pakpak Bharat, dan Tapanuli Selatan) juga mengindikasikan fokus pada produksi sistematis yang dapat mendukung industri pengolahan.
Konsep “Agri Unggul” di Dairi dan rencana kawasan pertanian terpadu menandakan pergeseran menuju pendekatan yang lebih terstruktur dan berskala besar untuk produksi pangan dan hortikultura. Integrasi ini, dikombinasikan dengan mekanisasi dan digitalisasi, menciptakan volume dan konsistensi yang diperlukan untuk pengolahan hilir yang layak. Mengolah buah-buahan, sayuran, dan bahkan makanan pokok menjadi produk dengan masa simpan lebih lama (misalnya, beku, kering, puree, tepung) dapat mengurangi kerugian pascapanen, memperluas jangkauan pasar, dan menstabilkan pendapatan petani, terutama untuk barang-barang yang mudah rusak.
Potensi Pasar Ekspor dan Tren Permintaan Global
Sumatera Utara telah menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam ekspor pertanian di Indonesia. Pada tahun 2021, provinsi ini menempati peringkat pertama nilai ekspor komoditas pertanian se-Indonesia, dengan total nilai ekspor mencapai Rp27 triliun. Angka ini menggarisbawahi kapasitas provinsi dalam memenuhi permintaan pasar internasional.
Pada Agustus 2021, Gubernur Sumatera Utara melepas ekspor 33 jenis komoditas pertanian senilai Rp431,67 miliar ke 37 negara tujuan. Komoditas yang diekspor antara lain biji kopi, minyak sawit, pinang, bunga krisan, asam potong, ubi jalar beku, durian beku, kulit manis, cengkeh, dan bungkil tongkol jagung. Ekspor terus menunjukkan peningkatan, dengan kenaikan 43,33% dari Januari hingga Juni 2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Terdapat juga permintaan global yang belum terpenuhi untuk komoditas tertentu, seperti sabut kelapa, di mana empat negara menyatakan minat untuk mengimpor namun Sumatera Utara belum dapat memenuhi kuotanya. Ini menunjukkan adanya ceruk pasar yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan.
Bea Cukai di Sumatera Utara secara aktif menggalakkan ekspor hasil perkebunan dan rempah-rempah, bahkan turut serta dalam Indonesian Spices Forum and Business Expo (ISBFE) World 2021 untuk mengembalikan kejayaan rempah nusantara di pasar global. Tren kenaikan ekspor yang signifikan juga tercatat untuk kakao biji asal Sumatera Utara, menunjukkan daya saingnya di pasar global.
Posisi terdepan Sumatera Utara dalam ekspor pertanian nasional merupakan indikator kuat daya saing global dan akses pasarnya. Peningkatan nilai ekspor yang berkelanjutan, meskipun ada tantangan global, menunjukkan ketahanan. Permintaan yang belum terpenuhi untuk komoditas seperti sabut kelapa menyoroti peluang spesifik dan dapat ditindaklanjuti untuk peningkatan produksi yang ditargetkan dan pengembangan rantai nilai. Ini menyiratkan bahwa Sumatera Utara tidak hanya harus mempertahankan kekuatan ekspornya saat ini tetapi juga secara aktif mengidentifikasi dan mengembangkan produk-produk khusus dengan permintaan global yang tinggi, berpotensi melalui investasi yang ditargetkan dan dukungan petani.
Tabel 3: Nilai Ekspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara (2021-2023) dan Negara Tujuan Utama
Tahun | Total Nilai Ekspor Pertanian (Rp/USD) | Komoditas Kunci Ekspor | Negara Tujuan Utama |
2021 | Rp27 triliun | Kopi Biji, Minyak Sawit, Pinang, Bunga Krisan, Asam Potong, Ubi Jalar Beku, Durian Beku, Kulit Manis, Cengkeh, Bungkil Tongkol Jagung, Kakao Biji, Pakan Ternak, Sabut Kelapa | 37 negara tujuan (termasuk AS, Jerman, Jepang, Korea Selatan untuk kopi) |
2023 | USD 250 juta (khusus kopi) | Kopi Biji (65.000 ton) | Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Korea Selatan |
Pengembangan Agrowisata dan Ekonomi Pedesaan Berbasis Pertanian
Sumatera Utara memiliki potensi agrowisata yang signifikan, memanfaatkan kebun-kebun, perkebunan (karet, kelapa sawit, teh, kakao), perikanan, peternakan, dan hutan yang beragam. Agrowisata tidak hanya bertujuan untuk melestarikan lingkungan tetapi juga untuk meningkatkan pendapatan petani dan kualitas alam pedesaan menjadi hunian yang berkualitas. Selain itu, agrowisata dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar tentang kehidupan pertanian, mengurangi arus urbanisasi dengan menciptakan lapangan kerja dan pendapatan lokal, serta mempromosikan produk lokal dan regional.
Beberapa objek agrowisata spesifik yang menunjukkan potensi ini meliputi:
- Agrowisata Kopi: Desa Wisata Panorama Indah Sileme-leme di Kabupaten Humbang Hasundutan menawarkan agrowisata kopi arabika unggul, menjadi tempat rekreasi yang populer di Pollung. Pengunjung dapat mencicipi dan membeli kopi. Desa Wisata Sait Buttu Asri di Kabupaten Simalungun juga menawarkan agrowisata kopi.
- Agrowisata Buah dan Sayur (Berastagi, Karo): Kebun Strawberry S&A Pandia dan Kebun Strawberry Purba Family & Farm di Berastagi, Kabupaten Karo, memungkinkan pengunjung untuk memetik stroberi segar dan menikmati pemandangan Gunung Sinabung dan Gunung Sipiso-Piso yang indah. Kebun Efi juga menawarkan pengalaman memetik buah-buahan seperti apel, jeruk, dan stroberi, serta taman bunga yang indah. Pasar Buah Berastagi adalah pusat produk segar lokal.
- Perkebunan Teh (Simalungun): Kebun Teh Sidamanik di Simalungun, dengan luas 6.373,29 hektare dan ketinggian 800-1.100 mdpl, menawarkan panorama perkebunan teh yang membentang luas. Pengunjung dapat memetik daun teh bersama petani dan menikmati secangkir teh di tengah udara sejuk pegunungan.
Deskripsi terperinci dari berbagai situs agrowisata ini menunjukkan peluang yang jelas untuk mendiversifikasi ekonomi pedesaan di luar produksi primer. Agrowisata tidak hanya menghasilkan pendapatan langsung dari pengunjung tetapi juga menciptakan permintaan untuk produk lokal, mendukung usaha kecil, dan memberikan nilai edukasi. Hal ini dapat membantu mengatasi masalah seperti kemiskinan pedesaan dan urbanisasi. Keberhasilan bergantung pada pengelolaan terintegrasi, infrastruktur berkualitas, dan partisipasi masyarakat untuk memastikan keberlanjutan dan keaslian.
Tabel 5: Potensi Agrowisata Unggulan di Sumatera Utara berdasarkan Komoditas dan Lokasi
Jenis Agrowisata | Lokasi/Situs Spesifik | Komoditas Pertanian Terkait | Atraksi/Aktivitas Kunci |
Kopi | Desa Wisata Panorama Indah Sileme-leme, Humbang Hasundutan | Kopi Arabika Unggul | Rekreasi, mencicipi dan membeli kopi |
Kopi | Desa Wisata Sait Buttu Asri, Simalungun | Kopi | – |
Buah & Sayur | Kebun Strawberry S&A Pandia, Berastagi, Karo | Stroberi | Memetik stroberi segar, pemandangan Gunung Sinabung & Sipiso-Piso |
Buah & Sayur | Kebun Strawberry Purba Family & Farm, Berastagi, Karo | Stroberi, jeruk, terong belanda | Memetik stroberi segar, pemandangan bukit & pegunungan |
Buah & Sayur | Kebun Efi, Karo | Apel, jeruk, stroberi | Memetik buah, taman bunga, camping, peternakan |
Buah & Sayur | Pasar Buah Berastagi, Karo | Jeruk, apel, stroberi, dll. | Pusat produk segar lokal |
Teh | Kebun Teh Sidamanik, Simalungun | Daun Teh | Panorama perkebunan teh, memetik daun teh bersama petani, bersantai sambil menyeduh teh |
Tantangan dan Hambatan dalam Pengembangan Sektor Pertanian
Isu Sumber Daya Manusia: Kekurangan dan Kualitas Penyuluh Pertanian
Sektor pertanian di Sumatera Utara menghadapi tantangan serius terkait sumber daya manusia, terutama dalam hal ketersediaan dan kualitas tenaga penyuluh pertanian. Provinsi ini melaporkan kekurangan sekitar 3.142 penyuluh pertanian yang tersebar di 33 kabupaten/kota. Saat ini, Sumatera Utara hanya memiliki sekitar 2.971 penyuluh pertanian untuk melayani 6.113 desa, yang berarti banyak desa kekurangan pendampingan pertanian yang memadai. Berdasarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2023 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, idealnya setiap desa memiliki setidaknya satu penyuluh pertanian.
Selain masalah kuantitas, sistem penyuluhan pertanian di Sumatera Utara juga menghadapi kendala kualitas. Banyak penyuluh yang bersifat “polyvalen,” artinya mereka menangani beberapa bidang pertanian sekaligus, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, hingga perikanan. Hal ini mengakibatkan kurangnya spesialisasi dan pendalaman keahlian, yang dapat mengurangi efektivitas penyuluhan. Keterbatasan dukungan regulasi dan sarana prasarana pembelajaran bagi penyuluh dan petani juga menjadi hambatan.
Lebih lanjut, sebagian besar petani milenial di Sumatera Utara masih menghadapi masalah literasi teknologi. Dari 361.814 petani milenial, sebanyak 223.845 di antaranya masih “gaptek” atau tidak menggunakan teknologi digital, termasuk alat dan mesin pertanian modern, internet/telepon pintar, drone, atau kecerdasan buatan.
Angka-angka yang mencolok mengenai kekurangan penyuluh pertanian dan masalah “polyvalen” bukan sekadar masalah administratif; ini merupakan hambatan fundamental bagi pembangunan pertanian. Penyuluhan yang efektif sangat penting untuk transfer teknologi, praktik berkelanjutan, dan akses pasar. Ditambah dengan masalah “gaptek” di kalangan petani milenial, hal ini menciptakan defisit modal manusia yang signifikan yang secara langsung merusak upaya peningkatan produktivitas, adopsi pertanian digital, dan peningkatan manajemen pertanian secara keseluruhan. Tanpa sistem penyuluhan yang kuat dan terspesialisasi, bahkan kebijakan dan inovasi teknologi yang bermaksud baik akan sulit menjangkau dan menguntungkan sebagian besar petani. Ini adalah tantangan sistemik dan kritis yang memerlukan intervensi yang mendesak dan komprehensif.
Tabel 4: Perbandingan Kebutuhan dan Ketersediaan Penyuluh Pertanian di Sumatera Utara (2025)
Indikator | Jumlah |
Total Desa di Sumatera Utara | 6.113 |
Jumlah Penyuluh Pertanian Ideal (1 per desa) | 6.113 |
Jumlah Penyuluh Pertanian Saat Ini | 2.971 |
Defisit/Kekurangan Penyuluh Pertanian | 3.142 |
Total Petani Milenial | 361.814 |
Petani Milenial “Gaptek” (Tidak Menggunakan Teknologi Digital) | 223.845 |
Dampak Perubahan Iklim dan Kerentanan Terhadap Bencana Alam
Perubahan iklim merupakan ancaman yang semakin nyata bagi sektor pertanian di Sumatera Utara. Provinsi ini telah mengalami peningkatan suhu rata-rata yang signifikan, hampir 1 derajat Celsius dalam kurun waktu 70 tahun terakhir (atau 0,13 derajat Celsius per dekade), yang merupakan tanda jelas pemanasan global. Peningkatan suhu ini berdampak langsung pada ketidakpastian ketersediaan air, yang pada gilirannya memengaruhi produktivitas tanaman perkebunan dan pertanian secara keseluruhan.
Selain itu, perubahan iklim juga meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan badai. Banjir yang sering terjadi dapat menghancurkan tanaman dan merusak infrastruktur pertanian seperti irigasi, sementara kekeringan berkepanjangan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, menyebabkan tanaman kekurangan air. Badai dan angin kencang juga dapat merusak tanaman dan fasilitas pertanian. Semua kejadian ini berkontribusi pada penurunan produksi pertanian dan ketahanan pangan.
Lahan pertanian di daerah pesisir juga rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti terendam air laut yang mengakibatkan salinisasi tanah, menjadikannya tidak cocok untuk pertanian. Tanaman yang tumbuh di tanah yang terlalu asin akan mengalami stres, mengurangi pertumbuhan, dan produktivitasnya. Peningkatan cuaca ekstrem juga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit pada tanaman.
Peningkatan suhu yang teramati dan dampak spesifiknya terhadap ketersediaan air, kerusakan tanaman, wabah hama, dan salinisasi tanah menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman yang jauh, melainkan tantangan yang saat ini semakin intensif. Hal ini secara langsung memengaruhi stabilitas dan keberlanjutan sektor pertanian utama Sumatera Utara, terutama perkebunan. Implikasinya adalah bahwa strategi adaptasi dan mitigasi tidak hanya bersifat opsional, tetapi sangat penting untuk ketahanan pangan jangka panjang dan ketahanan ekonomi. Kegagalan untuk mengatasi masalah ini akan menyebabkan penurunan produktivitas, peningkatan kerugian, dan berpotensi ketidakstabilan sosial.
Permasalahan Infrastruktur Pertanian: Kondisi Irigasi dan Aksesibilitas
Kerusakan infrastruktur pertanian, khususnya sistem irigasi, merupakan hambatan signifikan bagi peningkatan produktivitas di Sumatera Utara. Data pada tahun 2015 menunjukkan bahwa hanya 9% (atau 9.887 hektare) dari irigasi di Sumatera Utara yang berada dalam kondisi baik. Sisanya berada dalam kondisi rusak, dengan 65% rusak sedang, 9% rusak berat, dan 17% rusak ringan. Kondisi ini sangat menghambat upaya peningkatan produksi tanaman pangan yang ditargetkan untuk swasembada.
Laporan terbaru menyoroti masalah spesifik, seperti jebolnya irigasi Paya Sordang di Tapanuli Selatan pada Maret 2025, yang mengancam ratusan hektare sawah di lumbung pangan daerah tersebut dengan kekeringan. Meskipun perbaikan sementara telah dilakukan dan perbaikan permanen sedang berjalan, insiden ini menunjukkan kerentanan sistem irigasi yang ada. Petani di Kabupaten Serdang Bedagai juga mengeluhkan menurunnya debit air untuk irigasi sawah, yang berdampak pada pola tanam mereka.
Masalah infrastruktur irigasi yang terus-menerus terjadi merupakan kendala langsung dan nyata terhadap produktivitas pertanian, terutama untuk tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi. Rendahnya persentase irigasi yang berfungsi baik berarti bahwa bahkan dengan benih atau teknik yang lebih baik, kelangkaan air atau pengiriman yang tidak efisien dapat menghilangkan keuntungan. Insiden runtuhnya sistem irigasi baru-baru ini menggarisbawahi urgensi masalah ini. Ini menyiratkan bahwa meskipun proyek infrastruktur baru itu penting, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem yang ada harus menjadi prioritas utama untuk memastikan pasokan air yang konsisten dan memungkinkan intensitas tanam yang lebih tinggi. Hal ini juga memengaruhi moral petani dan stabilitas keuangan mereka.
Akses Terbatas Petani terhadap Permodalan, Teknologi, dan Informasi Pasar
Petani di Sumatera Utara menghadapi tantangan dalam mengakses sumber daya penting seperti teknologi, informasi pasar, dan permodalan. Keterbatasan akses ini menghambat kemampuan petani untuk mengadopsi praktik pertanian modern, meningkatkan skala usaha, dan mengoptimalkan hasil panen mereka.
Program “Petani Milenial” berusaha mengatasi masalah ini dengan menyediakan pelatihan manajemen keuangan dan memfasilitasi pembentukan koperasi bagi petani. Namun, pengalaman dari program Food Estate di Humbang Hasundutan menunjukkan bahwa intervensi permodalan yang tidak terstruktur dengan baik dapat menimbulkan masalah baru. Meskipun program tersebut bertujuan untuk menyediakan modal usaha tani melalui investor, beberapa petani justru terlilit utang dan kehilangan lahan mereka akibat gagal panen dan ketidakmampuan membayar kembali pinjaman. Hal ini menyoroti risiko dari skema pembiayaan yang tidak mempertimbangkan secara memadai kondisi dan kapasitas petani kecil.
Tema berulang tentang terbatasnya akses petani terhadap modal, teknologi, dan informasi pasar merupakan masalah sistemik yang mencegah petani kecil untuk meningkatkan skala usaha dan mengadopsi praktik modern. Pengalaman negatif dengan program Food Estate di mana petani kehilangan tanah karena utang menyoroti risiko intervensi keuangan yang terstruktur dengan buruk. Ini menyiratkan bahwa sekadar memberikan akses tidaklah cukup; syarat-syarat akses (misalnya, kredit terjangkau, harga pasar yang adil, teknologi yang sesuai) dan mekanisme dukungan (misalnya, literasi keuangan, manajemen risiko, koperasi yang kuat) sangat penting untuk memberdayakan petani secara nyata dan mencegah eksploitasi atau kegagalan.
Evaluasi dan Pembelajaran dari Program Strategis Nasional (Food Estate)
Program Food Estate di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), yang dimulai pada tahun 2020, merupakan salah satu program strategis nasional (PSN) yang bertujuan untuk mengembangkan produksi pangan secara terintegrasi. Luas lahan proyek ini direncanakan akan diperluas dari 215 hektare menjadi 1.000 hektare, dengan target ambisius 20.000 hektare pada tahun 2024, berfokus pada komoditas seperti kentang, bawang merah, dan bawang putih.
Meskipun memiliki tujuan strategis, implementasi program Food Estate menghadapi berbagai tantangan dan kritik:
- Ketiadaan Kajian Dampak Lingkungan dan Sosial: Ombudsman RI menduga adanya pelanggaran hukum karena tidak adanya kajian dampak lingkungan dan sosial yang komprehensif.
- Masalah Lahan dan Hak Petani: Petani diminta menyerahkan lahan mereka untuk program tersebut, menimbulkan kekhawatiran tentang pengalihan hak atas tanah dan kurangnya kejelasan mengenai hak guna lahan. Beberapa petani bahkan kehilangan tanah mereka karena gagal bayar pinjaman yang macet.
- Kurangnya Partisipasi dan Transparansi Petani: Petani merasa tidak dilibatkan dalam perencanaan, dan terdapat ketidaktransparanan dalam pelaksanaan proyek.
- Kontrak yang Tidak Seimbang: Kontrak kerja cenderung menguntungkan perusahaan/investor, dengan mekanisme penetapan harga jual yang tidak jelas, membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga.
- Praktik Budidaya yang Tidak Sesuai: Penyiapan lahan yang terburu-buru dan pemilihan jenis tanaman (misalnya, varietas baru bagi petani) tidak selalu sesuai dengan kondisi tanah lokal atau pengalaman petani. Banyak petani mengeluhkan hasil panen yang sangat sedikit, menyebabkan kegagalan proyek pada tahap awal
- Kurangnya Penyuluhan dan Bimbingan: Petani kurang mendapatkan bimbingan yang memadai mengenai metode budidaya baru.
- Pergeseran dari Kedaulatan Pangan ke Pertanian Komersial: Kritikus berpendapat bahwa program ini menggeser fokus dari ketahanan pangan rumah tangga menjadi pola kerja pertanian komersial yang lebih menguntungkan korporasi.
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sedang melakukan evaluasi terhadap program Food Estate di Humbang Hasundutan
Detail kegagalan dan kritik terhadap program Food Estate merupakan pembelajaran yang sangat penting. Meskipun merupakan Program Strategis Nasional, implementasinya menyoroti kekurangan serius dalam keterlibatan pemangku kepentingan, penilaian lingkungan, kontrak yang adil, dan kesesuaian pertanian. Fakta bahwa petani kehilangan tanah dan terlilit utang merupakan tanda bahaya besar. Ini menyiratkan bahwa program pertanian skala besar, bahkan dengan niat baik, harus benar-benar berpusat pada petani, transparan, dan dibangun di atas penilaian dampak lingkungan dan sosial yang kuat. Pendekatan top-down tanpa konteks lokal dan pemberdayaan petani cenderung gagal dan dapat memperburuk kerentanan yang ada, pada akhirnya merusak ketahanan pangan daripada memperkuatnya. Proyek skala besar di masa depan harus belajar dari kegagalan ini untuk memastikan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
Kebijakan dan Program Pemerintah Pendukung Sektor Pertanian
Inisiatif Pemerintah Provinsi: Program Petani Milenial dan Peningkatan IPM
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) telah meluncurkan program “Petani Milenial” sebagai salah satu fokus pengembangan petani muda yang memiliki jiwa kewirausahaan di bidang agrobisnis. Program ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja, menumbuhkembangkan wirausaha muda di Sumatera Utara, dan mencegah kegagalan regenerasi di sektor pertanian. Selain itu, inisiatif ini juga diharapkan dapat menekan arus urbanisasi dengan menciptakan peluang ekonomi di pedesaan. Program ini mendorong petani muda untuk menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, termasuk pertanian organik, rotasi tanaman, dan penggunaan bahan-bahan yang dapat terbiodegradasi. “Petani Milenial” juga merupakan bagian dari kolaborasi Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), yang mempromosikan teknologi pertanian cerdas dan pertukaran pengetahuan antar petani muda di kawasan tersebut.
Selain itu, terdapat program “Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Pertumbuhan Ekonomi melalui Penguatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)” di Provinsi Sumatera Utara. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut melalui tiga dimensi utama IPM: kesehatan, pendidikan, dan standar hidup yang layak. Strategi yang diterapkan meliputi peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan, perbaikan infrastruktur sekolah dan pemberian beasiswa bagi anak-anak petani, serta diversifikasi sumber pendapatan dan akses ke pasar. Program ini juga berupaya meningkatkan infrastruktur pertanian, seperti pembangunan irigasi dan penyediaan teknologi canggih, serta membantu petani melalui pelatihan manajemen keuangan dan pembentukan koperasi.
Program “Petani Milenial” dan IPM menunjukkan pemahaman holistik dan progresif dari pemerintah bahwa pembangunan pertanian saling terkait dengan modal manusia dan kesejahteraan sosial. Ini merupakan tanda positif. Namun, data dari BPS mengenai 223.845 petani milenial yang “gaptek” menyoroti kesenjangan implementasi yang signifikan. Program-program ini ada, tetapi jangkauan dan efektivitasnya dalam literasi digital dan adopsi teknologi jelas tidak memadai. Ini menyiratkan bahwa meskipun niat kebijakannya kuat, pelaksanaannya memerlukan strategi yang lebih kuat, mungkin melalui pelatihan yang ditargetkan, infrastruktur yang lebih baik untuk akses digital, dan jangkauan yang lebih efektif oleh penyuluh pertanian.
Dukungan Infrastruktur dan Upaya Perbaikan Irigasi
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memprioritaskan pengembangan sarana dan prasarana pertanian, termasuk perbaikan irigasi tersier. Pada tahun 2015, Kementerian Pertanian menyetujui perbaikan irigasi di Sumatera Utara untuk perluasan lahan seluas 18.450 hektare, dengan prioritas di 18 kabupaten/kota penghasil tanaman pangan.
Upaya perbaikan irigasi terus berlanjut hingga tahun 2025. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memfokuskan perbaikan pintu air irigasi, khususnya di Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deli Serdang, sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Tujuan utamanya adalah memungkinkan petani untuk panen hingga tiga kali dalam setahun. Kegiatan ini mencakup normalisasi saluran irigasi dan penggunaan alat berat jenis long arm untuk mempercepat proses. Gubernur Sumatera Utara juga telah berkomitmen untuk segera memperbaiki irigasi yang jebol di Kabupaten Batu Bara.
Fokus yang konsisten pada perbaikan irigasi menunjukkan bahwa pemerintah mengakui defisit infrastruktur yang kritis. Tujuan spesifik untuk memungkinkan tiga kali panen setahun melalui irigasi yang lebih baik adalah tujuan strategis yang jelas untuk meningkatkan produksi pangan. Namun, fakta bahwa masalah-masalah ini terus berlanjut menunjukkan bahwa upaya historis tidak memadai atau menghadapi tantangan berkelanjutan. Ini menyiratkan kebutuhan tidak hanya untuk perbaikan, tetapi juga rencana pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur jangka panjang yang lebih berkelanjutan, berpotensi melibatkan sistem pemantauan canggih dan partisipasi masyarakat untuk memastikan umur panjang dan efektivitas.
Insentif Investasi dan Promosi Sektor Pertanian
Realisasi investasi di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan pertumbuhan yang pesat, mencapai Rp22,206 triliun pada semester I tahun 2023, meningkat 15,75% dibandingkan periode yang sama tahun 2022. Pertumbuhan ini mencerminkan iklim investasi yang semakin kondusif di provinsi tersebut.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara proaktif mempromosikan potensi investasi kepada negara-negara asing, termasuk potensi di sektor perkebunan karet, bahan baku karet, dan pengolahannya. Delegasi dari sembilan negara, termasuk AS, Jepang, Malaysia, Tiongkok, Singapura, Belanda, Jerman, dan Thailand, telah diajak untuk melihat langsung peluang investasi di Sumatera Utara.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumatera Utara menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan regulasi kebijakan dan dokumen “IPRO” (Investment Project Ready to Offer) untuk menjelaskan secara transparan insentif yang ditawarkan kepada investor. Dokumen ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan para investor mengenai insentif yang diberikan, sehingga dapat menarik lebih banyak investasi ke sektor pertanian dan lainnya.
Pertumbuhan investasi yang signifikan dan promosi proaktif kepada negara-negara asing menunjukkan komitmen pemerintah untuk menarik modal. Penyebutan eksplisit tentang persiapan dokumen “IPRO” untuk merinci insentif menunjukkan pemahaman bahwa investor membutuhkan insentif yang jelas dan nyata di luar potensi semata. Ini menyiratkan bahwa paket insentif yang transparan, kompetitif, dan dikomunikasikan dengan baik sangat penting untuk menerjemahkan upaya promosi menjadi investasi yang nyata, terutama dalam pengolahan nilai tambah di seluruh komoditas pertanian.
Strategi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim
Pemerintah Sumatera Utara semakin menyadari dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan telah mulai mengimplementasikan program mitigasi. Program mitigasi pangan diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memastikan ketahanan pangan di Sumatera Utara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terdapat seruan untuk komitmen bersama dalam mengambil langkah-langkah konkret menghadapi dampak perubahan iklim pada sektor perkebunan, dengan menekankan sinergi antarlembaga dan pembangunan kapasitas adaptif. Penjabat Gubernur Sumatera Utara juga telah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan penanaman pohon sebagai upaya memulihkan kualitas lingkungan, yang berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.
Meskipun kesadaran akan ancaman iklim semakin meningkat dan langkah-langkah awal telah diambil, implementasi strategi yang komprehensif masih dalam tahap awal. Ini menyiratkan kebutuhan kritis untuk bergerak melampaui seruan umum untuk bertindak menuju program pertanian cerdas iklim yang spesifik, didanai, dan terintegrasi. Program-program ini harus mencakup varietas tanaman yang tahan iklim, teknik pengelolaan air yang efisien, dan sistem peringatan dini, terutama untuk wilayah dan komoditas yang rentan.
Rekomendasi
Untuk memaksimalkan peluang dan mengatasi tantangan dalam industri pertanian di Sumatera Utara, diperlukan serangkaian rekomendasi strategis yang terintegrasi dan berkelanjutan:
Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Regenerasi Petani
Strategi multi-pihak harus diterapkan untuk mengatasi kekurangan dan meningkatkan kualitas tenaga penyuluh pertanian, serta mendorong regenerasi petani.
- Rekrutmen dan Pelatihan Spesialisasi: Meluncurkan program rekrutmen agresif untuk penyuluh pertanian baru, diikuti dengan program pelatihan khusus untuk meningkatkan keahlian mereka di sub-sektor tertentu (misalnya, pertanian digital, hortikultura bernilai tinggi, teknologi pascapanen).
- Program Literasi Digital Inklusif: Mengembangkan dan memperluas program pelatihan literasi digital yang ditargetkan untuk petani milenial, memanfaatkan teknologi seluler dan lokakarya praktis. Ini harus diintegrasikan ke dalam program “Petani Milenial”.
- Insentif Spesialisasi: Memberikan insentif bagi penyuluh untuk berspesialisasi dan bagi petani untuk mengadopsi komoditas spesifik yang berpotensi tinggi.
- Penguatan Koperasi Petani: Memberdayakan koperasi petani untuk berfungsi sebagai pusat lokal transfer pengetahuan, tawar-menawar kolektif, dan akses ke sumber daya, mengurangi ketergantungan hanya pada penyuluhan pemerintah.
- Kemitraan Publik-Swasta (KPS): Mendorong keterlibatan sektor swasta dalam pelatihan petani dan diseminasi teknologi, khususnya untuk solusi pertanian digital.
Penguatan Infrastruktur dan Adopsi Teknologi Pertanian
Prioritas harus diberikan pada rehabilitasi dan pengembangan infrastruktur pertanian yang kritis, disertai dengan percepatan adopsi teknologi.
- Rencana Induk Irigasi Komprehensif: Menyusun dan mengimplementasikan rencana induk yang komprehensif untuk rehabilitasi sistem irigasi dan pembangunan baru, dengan fokus pada area tanaman pangan berpotensi tinggi. Ini harus mencakup protokol pemeliharaan yang kuat dan pelibatan masyarakat.
- Dukungan Mekanisasi: Memfasilitasi akses petani terhadap mesin pertanian modern melalui subsidi, skema kredit, dan program pelatihan, terutama untuk inisiatif pertanian terpadu skala besar seperti “Agri Unggul”.
- Infrastruktur Digital: Memperluas konektivitas internet pedesaan untuk mendukung inisiatif pertanian digital dan akses ke informasi pasar.
- R&D dan Transfer Teknologi: Memperkuat lembaga penelitian dan pengembangan (misalnya, BRMP Sumatera Utara) untuk mengembangkan teknologi yang disesuaikan secara lokal dan memfasilitasi transfernya kepada petani.
Diversifikasi Komoditas dan Hilirisasi Berbasis Pasar Global
Pergeseran dari ekspor komoditas mentah ke ekspor produk bernilai tambah harus menjadi fokus, dengan penekanan pada diversifikasi ke produk bernilai tinggi dan spesialti.
- Hilirisasi Kelapa Sawit: Secara aktif mempromosikan dan memberikan insentif investasi di industri oleofood dan oleokimia, memastikan masyarakat lokal dan petani kecil mendapatkan manfaat dari rantai nilai ini.
- Branding Kopi Spesialti: Berinvestasi dalam branding, kontrol kualitas, dan sertifikasi (misalnya, Fair Trade, Organik) untuk kopi Mandailing dan Gayo , menargetkan pasar global premium. Mendukung UMKM dalam pengolahan kopi.
- Pengolahan Hortikultura: Mengembangkan fasilitas pengolahan untuk produk hortikultura bernilai tinggi (buah-buahan, sayuran) untuk mengurangi kehilangan pascapanen dan memperpanjang masa simpan. Menjelajahi pasar untuk produk buah/sayur beku, kering, atau olahan.
- Diversifikasi Produk Karet: Mendukung pengembangan produk karet yang beragam di luar bentuk mentah atau setengah jadi, memasuki pasar barang industri dan konsumen.
- Pengembangan Komoditas Niche: Mengidentifikasi dan mendukung pengembangan komoditas niche berpotensi tinggi lainnya dengan permintaan global yang belum terpenuhi, seperti sabut kelapa.
Pengelolaan Risiko Perubahan Iklim dan Adaptasi Inovatif
Implementasi strategi pertanian cerdas iklim yang kuat sangat penting untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
- Varietas Tahan Iklim: Mempromosikan dan mendistribusikan varietas tanaman yang tahan iklim (misalnya, padi tahan kekeringan) dan jenis ternak yang adaptif.
- Manajemen Air Efisien: Mengimplementasikan sistem manajemen air yang efisien, termasuk pemanenan air hujan, irigasi cerdas, dan teknologi hemat air, terutama di daerah yang rentan kekeringan atau kelangkaan air.
- Sistem Peringatan Dini: Mengembangkan dan menyebarluaskan sistem peringatan dini iklim yang terlokalisasi bagi petani untuk mengantisipasi dan beradaptasi dengan kejadian cuaca ekstrem.
- Agroforestri dan Reboisasi: Mempromosikan praktik agroforestri dan reboisasi skala besar untuk meningkatkan penyerapan karbon, kesehatan tanah, dan retensi air
- Manajemen Hama dan Penyakit Terpadu: Mengembangkan strategi manajemen hama dan penyakit terpadu yang disesuaikan dengan pola perubahan iklim.
Peningkatan Akses Permodalan dan Jaringan Pasar bagi Petani
Memastikan akses yang adil dan berkelanjutan terhadap keuangan dan peluang pasar bagi semua petani adalah krusial.
- Produk Keuangan yang Disesuaikan: Mengembangkan produk keuangan yang mudah diakses dan ramah petani (misalnya, kredit mikro, asuransi pertanian) yang memperhitungkan siklus pertanian dan risiko, belajar dari tantangan program Food Estate.
- Koneksi Pasar: Memperkuat koneksi pasar langsung antara petani/koperasi dan pembeli (domestik dan internasional), mengurangi ketergantungan pada perantara dan memastikan harga yang adil.
- Platform Pasar Digital: Mendorong penggunaan platform digital untuk penyebarluasan informasi pasar dan penjualan langsung, memungkinkan petani mengakses pasar yang lebih luas.
- Pembiayaan Rantai Nilai: Mengimplementasikan model pembiayaan yang mendukung seluruh rantai nilai, dari produksi hingga pengolahan dan pemasaran.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Ekosistem Pertanian yang Kuat
Mendorong kolaborasi yang kuat antara lembaga pemerintah, sektor swasta, lembaga akademik, dan organisasi petani adalah fundamental.
- Kohesi Kebijakan: Memastikan konsistensi dan sinergi di antara berbagai kebijakan dan program pemerintah terkait pertanian.
- Keterkaitan Riset-Industri: Memperkuat kolaborasi antara lembaga penelitian dan sektor swasta untuk mempercepat komersialisasi inovasi pertanian.
- Platform Pemberdayaan Petani: Menciptakan platform formal agar suara petani dapat didengar dalam perumusan kebijakan dan desain program, belajar dari isu-isu top-down pada program Food Estate.
- Kemitraan Investasi: Memfasilitasi kemitraan publik-swasta untuk proyek pertanian skala besar, memastikan pembagian manfaat yang adil dan mitigasi risiko bagi masyarakat lokal.
Kesimpulan
Sektor pertanian di Sumatera Utara berdiri sebagai pilar ekonomi yang dinamis dan esensial, menunjukkan potensi besar untuk pertumbuhan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan. Kontribusinya yang dominan terhadap PDRB provinsi, didukung oleh keanekaragaman komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan kopi, serta potensi hortikultura bernilai tinggi, menegaskan perannya sebagai fondasi ekonomi yang kokoh. Peluang signifikan terletak pada peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi modern, pengembangan varietas unggul, dan optimalisasi pemanfaatan lahan. Lebih lanjut, hilirisasi produk pertanian, khususnya kelapa sawit, kopi spesialti, dan hortikultura, menawarkan jalur yang menjanjikan untuk peningkatan nilai tambah dan diversifikasi pendapatan ekspor. Posisi Sumatera Utara sebagai eksportir pertanian terkemuka di Indonesia membuktikan daya saingnya di pasar global, dengan peluang untuk mengembangkan niche pasar yang belum terpenuhi. Selain itu, pengembangan agrowisata menawarkan dimensi baru untuk diversifikasi ekonomi pedesaan, mengintegrasikan pertanian dengan pariwisata dan menciptakan peluang lokal.
Namun, untuk merealisasikan potensi penuh ini, Sumatera Utara harus secara proaktif mengatasi tantangan struktural yang mendesak. Kesenjangan sumber daya manusia, terutama kekurangan dan kurangnya spesialisasi penyuluh pertanian, serta rendahnya literasi digital di kalangan petani milenial, menjadi hambatan utama dalam transfer pengetahuan dan adopsi inovasi. Dampak perubahan iklim, yang memanifestasikan diri dalam ketidakpastian air, cuaca ekstrem, dan peningkatan hama, mengancam stabilitas produksi dan memerlukan strategi adaptasi yang kuat. Permasalahan infrastruktur pertanian, khususnya kondisi irigasi yang rusak, secara langsung membatasi intensifikasi pertanian. Pembelajaran dari program strategis seperti Food Estate Humbang Hasundutan menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang berpusat pada petani, transparan, dan mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial untuk menghindari kegagalan dan memastikan manfaat yang merata.
Masa depan pertanian Sumatera Utara bergantung pada implementasi rekomendasi strategis yang komprehensif. Ini termasuk investasi besar dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur pertanian, percepatan adopsi teknologi, diversifikasi komoditas melalui hilirisasi, pengelolaan risiko perubahan iklim yang proaktif, peningkatan akses petani terhadap permodalan dan pasar, serta penguatan kolaborasi multi-pihak. Dengan mengadopsi pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan, Sumatera Utara dapat tidak hanya mencapai ketahanan pangan yang lebih besar tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai nilai pertanian global, mendorong pembangunan ekonomi yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakatnya.
Daftar Pustaka
- Sumbang 25,88 Persen PDRB, Pertanian Jadi Penyangga Utama Ekonomi Sumut, diakses Agustus 15, 2025, https://m.gosumut.com/berita/baca/2025/08/06/sumbang-2588-persen-pdrb-pertanian-jadi-penyangga-utama-ekonomi-sumut
- Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Sektor Pertanian di Provinsi Sumatera Utara | JURNAL AGRICA, diakses Agustus 15, 2025, https://ojs.uma.ac.id/index.php/agrica/article/view/5065
- MSMB PERKENALKAN DIGITAL FARMING UNTUK PETANI DI SUMATERA UTARA, diakses Agustus 15, 2025, https://msmbindonesia.com/jadi-mitra-bank-indonesia-msmb-perkenalkan-digital-farming-untuk-tingkatkan-produktivitas-petani-di-sumatera-utara/
- Penerapan Komunikasi Penyuluhan Pertanian Milenial pada Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) di Desa – Journal UII, diakses Agustus 15, 2025, https://journal.uii.ac.id/cantrik/article/download/19392/12077/62210
- Varietas Inpari 33 Strategis Dukung Ketahanan Pangan – Sumut – AnalisaDaily.com, diakses Agustus 15, 2025, https://analisadaily.com/berita/baca/2025/05/20/1063477/varietas-inpari-33-strategis-dukung-ketahanan-pangan/
- Balitbang Pertanian Sumut hasilkan 23 varietas padi unggul – ANTARA News Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://sumut.antaranews.com/berita/403286/balitbang-pertanian-sumut-hasilkan-23-varietas-padi-unggul
- Melalui IMT-GT, Pemprov Sumut Canangkan Petani Milenial – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/melalui-imt-gt-pemprov-sumut-canangkan-petani-milenial
- Pemprov Sumut Dukung Hilirisasi Investasi Strategis Sektor Industri Kelapa Sawit, diakses Agustus 15, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/pemprov-sumut-dukung-hilirisasi-investasi-strategis-sektor-industri-kelapa-sawit
- Hilirisasi Oleochemical di Sumatera: Punggawa Baru dalam Transformasi Ekonomi Regional Berkelanjutan – SUMATRANOMICS, diakses Agustus 15, 2025, https://sumatranomics.com/artikel-blog/hilirisasi-oleochemical-di-sumatera-punggawa-baru-dalam-transformasi-ekonomi-regional-berkelanjutan/
- Daftar Perusahaan Hasil Pertanian & Perkebunan di Sumatera Utara Agustus 2025 | Indonetwork, diakses Agustus 15, 2025, https://www.indonetwork.co.id/s/sumatera-utara/k/hasil-pertanian-perkebunan/perusahaan
- Hilirisasi, Kopi Sumatera Utara Berpotensi Ekonomi Besar – GoSumut.com, diakses Agustus 15, 2025, https://www.gosumut.com/berita/baca/2022/09/28/hilirisasi-kopi-sumatera-utara-berpotensi-ekonomi-besar
- Kopi Menjadi Salah Satu Komoditas Unggulan Sumatera Utara – BINUS UNIVERSITY, diakses Agustus 15, 2025, https://binus.ac.id/medan/2025/01/21/kopi-menjadi-salah-satu-komoditas-unggulan-sumatera-utara/
- Tahun 2021, Nilai Ekspor Komoditas Pertanian Sumut Tertinggi se-Indonesia – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/tahun-2021-nilai-ekspor-komoditas—pertanian-sumut-tertinggi-seindonesia
- ANALISIS POTENSI AGROWISATADI KABUPATEN KARO SKRIPSI Disusun Oleh : APPRILA NATASYA BR SURBAKTI NIM.0501163190 FAKULTAS EKONOMI, diakses Agustus 15, 2025, http://repository.uinsu.ac.id/12674/1/SKRIPSI%20APPRILA%20NATASYA%20BR%20SURBAKTI.pdf
- Sumut Kekurangan 3.142 Penyuluh Pertanian: Tantangan Ketahanan Pangan – Planet, diakses Agustus 15, 2025, https://planet.merdeka.com/hot-news/sumut-kekurangan-3142-penyuluh-pertanian-tantangan-ketahanan-pangan-287608-mvk.html
- BPS Ungkap 223 Ribu Petani Milenial di Sumut Gaptek – detikcom, diakses Agustus 15, 2025, https://www.detik.com/sumut/bisnis/d-7071221/bps-ungkap-223-ribu-petani-milenial-di-sumut-gaptek
- Dampak Perubahan Iklim, Sektor Pertanian di Sumut Terancam – Media Indonesia, diakses Agustus 15, 2025, https://mediaindonesia.com/nusantara/696161/dampak-perubahan-iklim-sektor-pertanian-di-sumut-terancam
- Dampak Perubahan Iklim terhadap Produksi Pertanian di Indonesia – Program Studi Agribisnis Terbaik Di Sumut, diakses Agustus 15, 2025, https://agribisnis.uma.ac.id/2024/05/24/dampak-perubahan-iklim-terhadap-produksi-pertanian-di-indonesia/
- Perkembangan Produksi Komoditi Pangan dan Hortikultura Sumut Meningkat dengan Pesat, diakses Agustus 15, 2025, https://diskominfo.sumutprov.go.id/page/berita/perkembangan-produksi-komoditi-pangan-dan-hortikultura-sumut-meningkat-dengan-pesat-
- Food Estate di Sumatra Utara: ancaman untuk hutan hujan dan kedaulatan pangan, diakses Agustus 15, 2025, https://www.hutanhujan.org/updates/10724/food-estate-di-sumatra-utara-ancaman-untuk-hutan-hujan-dan-kedaulatan-pangan
- BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan perekonomian nasional dan me – Universitas Medan Area, diakses Agustus 15, 2025, https://repositori.uma.ac.id/bitstream/123456789/554/4/128220007_file4.pdf
- Kajian Potensi Perkebunan Rakyat di Provinsi Sumatera Utara Menggunakan Location Quotient dan Shift Share, diakses Agustus 15, 2025, https://ojs.uma.ac.id/index.php/agrica/article/view/1159/1150
- Didominasi Perkebunan Rakyat, Produksi Karet Sumut 547.300,83 Ton – Industri & Perdagangan – MedanBisnisDaily.com, diakses Agustus 15, 2025, https://medanbisnisdaily.com/news/online/read/2019/05/22/76003/didominasi_perkebunan_rakyat_produksi_karet_sumut_547_300_83_ton
- Subsektor Perkebunan: Kopi Menjadi Komoditas Unggulan Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://upland.psp.pertanian.go.id/artikel/1687761445/subsektor-perkebunan-kopi-menjadi-komoditas-unggulan-sumatera-utara
- ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN SEKTOR PERTANIAN DATARAN TINGGI SUMATERA UTARA – EJURNAL UNTAG SAMARINDA, diakses Agustus 15, 2025, http://ejurnal.untag-smd.ac.id/index.php/AG/article/download/5055/5087
- Luas Panen Padi Sumut 2023 Diperkirakan Turun 6,99 Ribu Hektare, diakses Agustus 15, 2025, https://indexsumut.com/2023/11/23/luas-panen-padi-sumut-2023-diperkirakan-turun-699-ribu-hektare/
- BPS: Panen padi Sumut 322,14 ribu hektare Januari-September 2023, diakses Agustus 15, 2025, https://sumut.antaranews.com/berita/552144/bps-panen-padi-sumut-32214-ribu-hektare-januari-september-2023?page=all
- Produksi Beras di Sumut Mengalami Peningkatan Pada Awal 2023 – detikcom, diakses Agustus 15, 2025, https://www.detik.com/sumut/bisnis/d-6610016/produksi-beras-di-sumut-mengalami-peningkatan-pada-awal-2023
- TANAMAN PANGAN SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN PETANI DI KABUPATEN KARO | Jurnal Inovasi Penelitian – STP Mataram, diakses Agustus 15, 2025, https://ejournal.stpmataram.ac.id/JIP/article/view/1348
- Perbaikan Irigasi Jadi Fokus Sumut – LIMAKOMA.com, diakses Agustus 15, 2025, https://www.limakoma.com/2025/01/perbaikan-irigasi-jadi-fokus-sumut.html
- Sumut Kekurangan 3.142 Penyuluh Pertanian, Pemerintah Diminta Tambah Tenaga, diakses Agustus 15, 2025, https://medan.jawapos.com/news/2575560425/sumut-kekurangan-3142-penyuluh-pertanian-pemerintah-diminta-tambah-tenaga
- MODEL NILAI SISTEM AGRIBISNIS PETANI KARET RAKYAT DI KABUPATEN LANGKAT – Repository UMA, diakses Agustus 15, 2025, https://repositori.uma.ac.id/jspui/bitstream/123456789/26659/1/221802005%20-%20Plawer%20Sekar%20Arimbi%20Br.%20Pakpahan%20Fulltext.pdf
- Industri Karet Nusantara: Industri Karet Termurah di Medan, diakses Agustus 15, 2025, https://industrikaretnusantara.web.indotrading.com/
- POTENSI EKSPOR DI SUMATRA UTARA – BINUS UNIVERSITY, diakses Agustus 15, 2025, https://binus.ac.id/medan/2025/01/21/potensi-eskpor-di-sumatra-utara/
- Pemkab Dairi bersiap menjadi sentra pertanian terpadu di Sumut – ANTARA News Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://sumut.antaranews.com/berita/501669/pemkab-dairi-bersiap-menjadi-sentra-pertanian-terpadu-di-sumut
- 5 Kabupaten Awali Pembangunan Kawasan Pertanian Terpadu di Sumut – Media Indonesia, diakses Agustus 15, 2025, https://mediaindonesia.com/nusantara/519878/5-kabupaten-awali-pembangunan-kawasan-pertanian-terpadu-di-sumut
- Lepas Ekspor Komoditas Pertanian Senilai Rp431 Miliar, Edy Rahmayadi Dorong Seluruh Kabupaten/Kota Maksimalkan Potensi Wilayah – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/lepas-ekspor-komoditas-pertanian-senilai-rp431-miliar-edy-rahmayadi-dorong-seluruh-kabupatenkota-maksimalkan-potensi-wilayah
- Sumut Kekurangan Tenaga Penyuluh Pertanian, Banyak Desa Belum Didampingi, diakses Agustus 15, 2025, https://metrodaily.jawapos.com/ekonomi/2355565313/sumut-kekurangan-tenaga-penyuluh-pertanian-banyak-desa-belum-didampingi
- RE Nainggolan: Pertanian Sumut Hadapi 5 Permasalahan – beritasumut.com, diakses Agustus 15, 2025, https://www.beritasumut.com/peristiwa/9493/RE-Nainggolan–Pertanian-Sumut-Hadapi-5-Permasalahan/
- Program Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Pertumbuhan Ekonomi Melalui Penguatan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Utara | Jurnal Pengabdian Sosial, diakses Agustus 15, 2025, https://ejournal.jurnalpengabdiansosial.com/index.php/jps/article/view/151
- Implementasi Program Food Estate di Kabupaten Humbang Hasundutan – Repositori USU, diakses Agustus 15, 2025, https://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/97744/Implementasi%20Program%20Food%20Estate%20di%20Kabupaten%20Humbang%20Hasundutan.pdf?sequence=1&isAllowed=y
- Pemprov Sumut canangkan program petani milenial – ANTARA News, diakses Agustus 15, 2025, https://www.antaranews.com/berita/3723822/pemprov-sumut-canangkan-program-petani-milenial
- Investasi Sumut Tumbuh Pesat – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 15, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/investasi-sumut-tumbuh-pesat
- Sumut Promosikan Investasi Potensial kepada Sembilan Negara Ini …, diakses Agustus 15, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/sumut-promosikan-investasi-potensial-kepada-sembilan-negara-ini
- Overview – BRMP SUMUT, diakses Agustus 15, 2025, https://sumut.bsip.pertanian.go.id/organisasi/overview
- Branding Berbasis Digital Content Kopi Arabica Tanah Karo Dan Peningkatan Produktifitas Untuk Hilirisasi Industri Kopi Desa Lingga Kecamatan, diakses Agustus 15, 2025, https://ejournal.upbatam.ac.id/index.php/jpkm/article/download/4594/2338
- Mau Buat Pertanian Terpadu, Bupati Dairi: Upaya Ciptakan Lumbung Pertanian – detikcom, diakses Agustus 15, 2025, https://www.detik.com/sumut/sumut-bercahaya/d-6321506/mau-buat-pertanian-terpadu-bupati-dairi-upaya-ciptakan-lumbung-pertanian
- BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat Karo merupakan masyarakat pedesaan yang sejak dahulu mengandalkan titik perekon, diakses Agustus 15, 2025, https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/18385/3/7.%20NIM.%20308121054%20CHAPTER%20I.pdf
- Food Estate di Sumatera Utara Tak Bisa Tegakkan Kedaulatan Pangan dan Sejahterakan Petani, diakses Agustus 15, 2025, https://spi.or.id/food-estate-di-sumatera-utara-tak-bisa-tegakkan-kedaulatan-pangan-dan-sejahterakan-petani/