Sumatera Utara, dengan posisi geografisnya yang strategis di pesisir barat dan timur Pulau Sumatra, telah lama dikenal sebagai salah satu titik pertemuan penting dalam jalur perdagangan maritim global. Jaringan pelayaran yang menghubungkan Timur Tengah, India, dan Tiongkok menjadikan wilayah ini sebagai laboratorium peradaban tempat berbagai budaya, ideologi, dan agama berinteraksi dan berasimilasi. Laporan ini mengulas secara komprehensif sejarah dan dinamika masuknya Islam ke wilayah Sumatera Utara, melampaui narasi kronologis yang umum dikenal. Analisis ini didasarkan pada sintesis data arkeologis, tekstual, dan sosiokultural untuk menyajikan gambaran yang holistik dan bernuansa mengenai proses Islamisasi yang berlangsung damai dan transformatif. Kajian ini tidak hanya berfokus pada “kapan” dan “bagaimana” Islam datang, tetapi juga mengkaji “mengapa” ia diterima dengan baik, serta “apa” dampak fundamentalnya terhadap masyarakat, budaya, dan struktur politik lokal.
Pra-Islamisasi: Fondasi Budaya dan Kepercayaan
Sebelum gelombang Islamisasi menyentuh wilayah ini, masyarakat Sumatera Utara telah memiliki fondasi budaya dan sistem kepercayaan yang kompleks. Data historis menunjukkan bahwa masyarakat lokal pada umumnya menganut sistem kepercayaan yang berakar pada animisme dan dinamisme, yang beriringan dengan pengaruh ajaran Hindu-Buddha yang telah masuk lebih dahulu ke Nusantara. Dalam tatanan sosial pra-Islam, peran pemimpin adat dan dukun sangat sentral. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai figur otoritas sosial tetapi juga memiliki kekuasaan besar dalam mengatur kehidupan spiritual dan ritual masyarakat.
Kehadiran Islam di tengah lanskap budaya yang sudah mapan ini menandai sebuah periode transisi yang tidak melibatkan konfrontasi besar. Pendekatan yang digunakan oleh para penyebar Islam, khususnya melalui jalur perdagangan dan asimilasi budaya, menunjukkan bahwa mereka tidak masuk ke dalam ruang hampa ideologis, melainkan ke dalam sebuah masyarakat yang telah memiliki sistem nilai. Kemudahan penerimaan Islam oleh masyarakat lokal dapat dipahami sebagai hasil dari metode dakwah yang adaptif dan akomodatif, di mana nilai-nilai Islam diintegrasikan secara harmonis dengan tradisi yang telah ada. Pergeseran dari sistem kepercayaan lama ke Islam secara bertahap juga disertai dengan perubahan peran sosial, yang nantinya akan menggeser dominasi pemimpin adat ke tangan figur-figur agama yang baru.
Kronologi dan Bukti Historis Awal Islamisasi
Narasi populer sering kali menempatkan awal Islamisasi di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, seiring dengan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai. Namun, bukti-bukti arkeologis dan tekstual yang ditemukan di Sumatera Utara memberikan gambaran yang jauh lebih awal, menggeser garis waktu ke beberapa abad sebelumnya.
Salah satu bukti paling kuat berasal dari Barus, sebuah kota pelabuhan kuno di Tapanuli Tengah. Situs ini, yang diyakini sebagai “titik nol” peradaban Islam di Nusantara, menampilkan jejak komunitas Muslim yang sangat tua. Makam Papan Tinggi di Barus, misalnya, diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Syekh Mahmud Khatab, seorang saudagar dari Arab-Persia yang menyebarkan Islam pada abad ke-7. Keberadaan makam kuno ini, bersamaan dengan penemuan makam Syekh Ushuluddin, memberikan bukti fisik yang kokoh mengenai kehadiran komunitas Muslim di wilayah tersebut sejak abad ke-7 Masehi.
Implikasi signifikan lainnya datang dari penemuan koin di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Koin-koin dari era Kekhalifahan Umayyah (sekitar tahun 701 M) dan Abbasiyah ditemukan di situs ini, membuktikan adanya hubungan perdagangan yang intens dan langsung antara Sumatera Utara dengan pusat dunia Islam di Timur Tengah pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Yang lebih penting, koin-koin Umayyah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga membawa pesan keagamaan yang jelas. Inskripsinya menampilkan kalimat syahadat dan Surah Al-Ikhlas dalam aksara Kufi. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi ekonomi secara inheren juga membawa transmisi ideologi keagamaan. Koin-koin ini adalah bukti konkret bahwa Islamisasi di Sumatera Utara tidak hanya terjadi melalui perantara, tetapi juga melalui kontak langsung dan organik antara para pedagang dari pusat kekhalifahan dengan penduduk lokal.
Bukti-bukti ini diperkuat oleh kesaksian para penjelajah asing. Catatan Tiongkok dari masa Dinasti T’ang pada abad ke-7 Masehi telah menyebutkan keberadaan komunitas Muslim di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Kemudian, pada abad ke-13, penjelajah Italia, Marco Polo, mencatat keberadaan komunitas Muslim di Perlak saat singgah di sana pada tahun 1292 M. Kesaksian ini sejalan dengan ditemukannya makam Sultan Malik al-Saleh, raja pertama Kerajaan Samudera Pasai, yang wafat pada tahun 1297 M. Beberapa dekade kemudian, penjelajah Muslim Maroko, Ibnu Battuta, mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345 M dan memberikan deskripsi terperinci tentang kerajaan tersebut sebagai pusat peradaban Islam yang maju, dengan raja yang saleh dan bersemangat dalam berilmu.
Tabel 1: Kronologi Kunci Masuknya Islam di Sumatera Utara
Tanggal | Peristiwa/Bukti Kunci | Implikasi Historis |
Abad ke-6 M | Keberadaan perkampungan Islam di Barus | Menandai awal kehadiran komunitas Muslim yang terorganisir di Nusantara. |
Abad ke-7 M | Makam Syekh Mahmud Khatab di Barus | Bukti fisik kehadiran tokoh penyebar Islam awal di wilayah tersebut. |
Abad ke-7 M | Catatan Dinasti T’ang | Bukti tekstual dari sumber asing tentang komunitas Muslim di era Sriwijaya. |
Abad ke-8-9 M | Penemuan koin Dinasti Umayyah dan Abbasiyah di Situs Bongal | Menunjukkan hubungan perdagangan langsung dan transmisi pesan keagamaan dengan pusat kekhalifahan Islam. |
1292 M | Kesaksian Marco Polo di Perlak | Mengonfirmasi keberadaan komunitas Islam yang telah mengakar kuat pada abad ke-13. |
1297 M | Makam Sultan Malik al-Saleh di Samudera Pasai | Bukti fisik berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara. |
1345 M | Catatan Ibnu Battuta di Samudera Pasai | Deskripsi terperinci tentang kemajuan peradaban dan keilmuan Islam di kawasan tersebut. |
Jalur dan Agen Islamisasi: Mekanisme Penyebaran yang Dinamis
Proses Islamisasi di Sumatera Utara merupakan fenomena multi-agen yang melibatkan berbagai jalur dan figur. Jalur perdagangan menjadi pintu masuk utama. Para saudagar Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan seperti Barus dan Samudera Pasai sebagai pusat aktivitas ekonomi. Metode ini bersifat damai dan berbasis interaksi, di mana hubungan bisnis yang terjalin sering kali berkembang menjadi hubungan personal dan asimilasi melalui pernikahan. Jalur pernikahan ini menjadi salah satu katalisator paling efektif dalam menyebarkan Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya, memungkinkan akulturasi yang mendalam dan berkelanjutan.
Selain pedagang, peran para ulama dan tokoh sufi juga sangat krusial. Mereka menyebarkan Islam melalui dakwah dan pendidikan. Salah satu tokoh yang dikenal adalah Syekh Ibrahim Sitompul di Tapanuli. Mereka tidak hanya mengajarkan ajaran esensial seperti keesaan Tuhan, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan informal yang menjadi pusat pembelajaran agama di masyarakat.
Proses ini mencapai puncaknya ketika Islam diadopsi oleh elit penguasa lokal. Berbagai kesultanan Melayu yang muncul di wilayah Sumatera Utara, seperti Kesultanan Deli, Asahan, Serdang, Bilah, Langkat, dan Kualuh, memainkan peran sentral sebagai agen Islamisasi. Sultan-sultan ini tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai agen perubahan budaya dan agama.
Studi Kasus: Peran Kesultanan Deli
Kesultanan Deli, yang berpusat di Medan, merupakan contoh nyata peran institusional dalam penyebaran Islam. Kesultanan ini menginstitusionalisasikan Islam melalui pendirian lembaga pendidikan Islam, pembangunan masjid-masjid, dan penerapan kebijakan politik yang mendukung syariat. Bangunan-bangunan monumental seperti Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimun, yang dibangun pada masa Sultan Ma’mun Alrasyid Perkasa Alamsyah, menjadi simbol fisik dari perpaduan kekuasaan politik dan spiritual, sekaligus berfungsi sebagai sarana penyebaran budaya Islam yang disesuaikan dengan tradisi lokal.
Transformasi Sosial-Budaya Pasca-Islamisasi
Proses Islamisasi membawa perubahan signifikan dan holistik terhadap struktur sosial, budaya, dan intelektual masyarakat Sumatera Utara. Pergeseran paling kentara terjadi pada struktur sosial. Di era pra-Islam, peran pemimpin adat dominan, namun dengan masuknya Islam, muncul figur-figur agama baru seperti ulama, kyai, dan guru agama. Mereka tidak hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga penentu norma dan nilai sosial dalam masyarakat. Penerapan hukum syariah dalam beberapa aspek kehidupan juga menunjukkan perubahan mendalam pada sistem pemerintahan dan tatanan sosial.
Salah satu dampak paling fundamental adalah revolusi linguistik dan sastra. Kedatangan Islam memperkenalkan Aksara Arab, yang kemudian diadaptasi menjadi Aksara Jawi untuk menulis bahasa Melayu. Bahasa Melayu diperkaya dengan kosakata dari Arab dan Persia, dan menjadi bahasa pengantar utama dalam dakwah dan komunikasi di seluruh Kepulauan Melayu. Perubahan ini menandai transformasi budaya yang signifikan, di mana ekspresi artistik dan intelektual masyarakat mulai berpusat pada nilai-nilai Islam. Karya-karya sastra baru, seperti syair, pantun, dan hikayat, mulai berkembang dengan tema-tema keagamaan, seperti kisah para nabi, sahabat, dan sufi.
Transformasi ini juga didukung oleh tradisi intelektual yang kuat, yang dibuktikan dengan penemuan dan pelestarian manuskrip-manuskrip kuno. Museum Sejarah Al-Qur’an Sumatera Utara di Kabupaten Deli Serdang menyimpan koleksi lebih dari 100 manuskrip kuno yang berasal dari berbagai wilayah, termasuk Medan, Barus, dan Simalungun. Manuskrip-manuskrip ini mencakup berbagai bidang keilmuan Islam, seperti Fiqih, Tauhid, Nahwu, Tafsir, dan Sharaf. Keanekaragaman dan kedalaman naskah-naskah ini membuktikan bahwa Islam yang berkembang di Sumatera Utara bukan hanya sebatas praktik ritual, tetapi telah mengakar kuat sebagai tradisi keilmuan yang terstruktur, menunjukkan adanya proses pembelajaran dan penyebaran ilmu yang berkelanjutan di kalangan masyarakat lokal.
Tabel 2: Bukti Arkeologis dan Intelektual Islamisasi di Sumatera Utara
Kategori Bukti | Deskripsi dan Lokasi | Signifikansi Historis |
Makam Kuno | Makam Syekh Mahmud Khatab di Barus | Bukti fisik tertua kehadiran dan dakwah Islam yang diyakini sejak abad ke-7 Masehi. |
Artefak Koin | Koin Dinasti Umayyah dan Abbasiyah di Situs Bongal | Menunjukkan hubungan perdagangan langsung dan transmisi pesan agama dari pusat kekhalifahan ke Sumatera Utara. |
Makam Kuno | Makam Sultan yang terkait dengan Pasai di Deli Serdang | Mengonfirmasi hubungan fisik dan pergerakan tokoh-tokoh penting dari Samudera Pasai ke wilayah Deli. |
Arsitektur | Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimun | Simbol institusionalisasi Islam oleh Kesultanan Deli dan perpaduan budaya lokal-Islam. |
Manuskrip | Manuskrip Fiqih, Tauhid, Tafsir, dsb. di Museum Sejarah Al-Qur’an Sumut | Bukti adanya tradisi keilmuan dan intelektual Islam yang mendalam dan terstruktur di masyarakat lokal. |
Analisis Komparatif: Model Islamisasi Sumatera Utara dalam Konteks Regional
Untuk memahami model Islamisasi di Sumatera Utara secara lebih mendalam, penting untuk membandingkannya dengan proses serupa di wilayah lain di Nusantara.
Perbandingan dengan Aceh
Data menunjukkan bahwa Aceh, khususnya di wilayah Pasai dan Peurelak, adalah pintu masuk Islam pertama di Indonesia dan telah mengakar sejak abad ke-7 Masehi. Hubungan antara Aceh dan Sumatera Utara bersifat kausalitas dan fungsional. Samudera Pasai, sebagai kerajaan Islam pertama, tidak hanya berfungsi sebagai pusat kekuasaan politik, tetapi juga sebagai pusat keilmuan dan peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara. Pasai mengirimkan dai dan ulama ke berbagai wilayah, dan menjadi tempat para cendekiawan dari berbagai negeri belajar. Hal ini menciptakan sebuah jaringan intelektual yang menyebar ke seluruh Nusantara, termasuk ke wilayah Sumatera Utara. Ketika Pasai mengalami kemunduran, banyak ulama dan intelektualnya berhijrah dan melanjutkan penyebaran ilmu mereka, memperkuat Kesultanan Aceh Darussalam dan bahkan menyebar ke Malaka dan Jawa Penemuan makam yang terkait dengan Samudera Pasai di Deli Serdang secara fisik menunjukkan pergerakan tokoh-tokoh penting ini, yang memperkuat hubungan kausalitas tersebut.
Kontras dengan Jawa Proses Islamisasi di Sumatera Utara didominasi oleh jalur maritim, perdagangan, dan peran institusional kesultanan. Model ini cenderung menghasilkan Islam pesisir yang dinamis dan terhubung erat dengan jaringan global. Sebaliknya, proses Islamisasi di Jawa lebih dikenal melalui pendekatan kultural yang sinkretis, dipelopori oleh Wali Songo. Pendekatan di Jawa lebih berfokus pada transformasi kultural dengan menyerap dan mengadaptasi tradisi lokal secara mendalam. Perbedaan fundamental ini menghasilkan dua corak Islam yang berbeda di Indonesia: Islam yang berorientasi pada jaringan maritim dan keilmuan (Sumatra) dan Islam yang lebih berbasis agraria dan asimilatif (Jawa).
Tabel 3: Perbandingan Model Islamisasi Sumatera Utara, Aceh, dan Jawa
Aspek | Sumatera Utara | Aceh (Pasai) | Jawa (Wali Songo) |
Kronologi Awal | Abad ke-6/7 M | Abad ke-7 M | Abad ke-14/15 M |
Jalur Utama | Perdagangan, asimilasi pernikahan, dan peran kesultanan | Perdagangan, institusionalisasi kerajaan, dan keilmuan | Dakwah kultural, seni, dan pendekatan sinkretis |
Karakteristik | Islam pesisir, terhubung dengan jaringan maritim global, dan diperkuat oleh elit politik | Pusat keilmuan, model peradaban, dan mesin penyebaran utama Islam di Nusantara | Islam agraria, internalisasi mendalam terhadap budaya lokal, dan harmonisasi dengan tradisi pra-Islam |
Tokoh Kunci | Syekh Mahmud Khatab, Syekh Ibrahim Sitompul, Sultan Deli | Sultan Malik al-Saleh, Ibnu Battuta, ulama dari berbagai negeri | Wali Songo (Sunan Kalijaga, dsb.) |
Kesimpulan dan Signifikansi Historis
Laporan ini menyimpulkan bahwa Islamisasi di Sumatera Utara adalah sebuah proses historis yang kompleks dan berlangsung jauh lebih awal dari narasi umum. Bukti-bukti arkeologis dari Barus dan Situs Bongal secara meyakinkan menunjukkan bahwa komunitas Muslim telah hadir dan berinteraksi secara langsung dengan dunia Islam sejak abad ke-7 Masehi, bukan hanya sebagai penerima ajaran, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan global yang dinamis.
Proses penyebaran Islam di wilayah ini bersifat multi-agen, di mana peran pedagang dan asimilasi melalui pernikahan menjadi fondasi awal, yang kemudian diperkuat secara institusional oleh kesultanan-kesultanan lokal seperti Kesultanan Deli. Transformasi yang dihasilkan bersifat holistik, tidak hanya mengubah keyakinan spiritual, tetapi juga merevolusi struktur sosial, bahasa (dengan adopsi Aksara Jawi), dan tradisi keilmuan, yang dibuktikan dengan keberadaan manuskrip-manuskrip kuno yang kaya.
Secara komparatif, model Islamisasi di Sumatera Utara memiliki karakter unik yang berbeda dari Jawa. Jika Jawa menekankan sinkretisme kultural, Sumatera Utara menampilkan model Islam maritim yang dinamis, terhubung erat dengan jaringan global, dan didukung oleh peran sentral kesultanan. Hal ini menjadikan Sumatera Utara sebagai pilar penting dalam sejarah peradaban Islam Nusantara, yang berfungsi sebagai gerbang awal, pusat difusi, dan sekaligus inkubator bagi tradisi intelektual dan budaya Islam yang unik.
Daftar Pustaka :
- Transformasi Sosial dan Budaya Melalui Islamisasi di Sumatera Utara – Medan Resource Center, diakses Agustus 18, 2025, https://jurnal.medanresourcecenter.org/index.php/ICI/article/download/1356/1417/7656
- 453 AL-AFKAR: Journal for Islamic Studies Sejarah Masuknya Islam …, diakses Agustus 18, 2025, https://al-afkar.com/index.php/Afkar_Journal/article/download/1406/987/12885
- Mengapa Islam Masuk Indonesia Pertama Kali Melalui Sumatera Bagian Utara?, diakses Agustus 18, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2022/11/10/140000179/mengapa-islam-masuk-indonesia-pertama-kali-melalui-sumatera-bagian-utara-
- Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera, diakses Agustus 18, 2025, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/masuk-dan-berkembangnya-islam-di-sumatera/
- Tunjukkan bukti-bukti masuknya Islam di Sumatera! – Mas Dayat, diakses Agustus 18, 2025, https://www.masdayat.net/2020/04/tunjukkan-bukti-bukti-masuknya-islam-di.html
- Sejarah Perkembangan Masuknya Islam di Sumatera – Detik.com, diakses Agustus 18, 2025, https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6395606/sejarah-perkembangan-masuknya-islam-di-sumatera
- Syekh Ibrahim Sitompul, Tokoh Penyebar Islam di Tapanuli yang Hampir Terlupakan, diakses Agustus 18, 2025, https://www.uinsyahada.ac.id/syekh-ibrahim-sitompul-tokoh-penyebar-islam-di-tapanuli-yang-hampir-terlupakan/
- Menelusuri Jejak-Jejak Peninggalan Islam di Sumatera Utara (Abad ke-13 hingga ke-20) dalam Perspektif Sejarah dan Sosial Tahun 2024 – ResearchGate, diakses Agustus 18, 2025, https://www.researchgate.net/publication/387082212_Menelusuri_Jejak-Jejak_Peninggalan_Islam_di_Sumatera_Utara_Abad_ke-13_hingga_ke-20_dalam_Perspektif_Sejarah_dan_Sosial_Tahun_2024
- Menelusuri Jejak-Jejak Peninggalan Islam di Sumatera Utara (Abad ke-13 hingga ke-20) dalam Perspektif Sejarah dan Sosial Tahun 2 – LPKD, diakses Agustus 18, 2025, https://journal.lpkd.or.id/index.php/Edukasi/article/download/1022/1576
- Kesultanan Deli Sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam di …, diakses Agustus 18, 2025, https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/27805
- Peran Kesultanan Deli dalam Pengembangan Islam di Medan | YASIN – LYAS Publisher, diakses Agustus 18, 2025, https://ejournal.yasin-alsys.org/yasin/article/view/814
- Pengaruh Kerajaan-Kerajaan Islam terhadap Perkembangan Bahasa dan Sastra di Sumatera, diakses Agustus 18, 2025, https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/136/135
- PRESERVATION OF AN ANCIENT MANUSCRIPT COLLECTION IN …, diakses Agustus 18, 2025, https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/santhet/article/download/3398/2256/18000
- MAKAM SULTAN DI TEMUKAN DI TANAH DELI – Gemarnews, diakses Agustus 18, 2025, https://www.gemarnews.com/2020/11/makam-sultan-di-temukan-di-tanah-deli.html
- Aceh Daerah Pertama di Indonesia Menerima Islam – Pemerintah Aceh, diakses Agustus 18, 2025, https://acehprov.go.id/berita/kategori/jelajah/aceh-daerah-pertama-di-indonesia-menerima-islam
- Kerajaan Islam Pertama di Indonesia Adalah Samudera Pasai …, diakses Agustus 18, 2025, https://www.liputan6.com/feeds/read/5755502/kerajaan-islam-pertama-di-indonesia-adalah-samudera-pasai
- 35 KESULTANAN SAMUDRA PASAI DAN STRATEGINYA DALAM ISLAMISASI NUSANTARA Miswari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa Jalan – Rumah Jurnal IAIN Lhokseumawe, diakses Agustus 18, 2025, https://journal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/liwauldakwah/article/download/1237/444
- Islamisasi di Pulau Jawa dalam Perspektif Asimilasi Budaya Anang Darun Naja Universitas Kahuripan Kediri anangdn@gmail.com Abstr, diakses Agustus 18, 2025, https://jurnalpps.uinsa.ac.id/index.php/joies/article/download/148/124/709