Kekayaan flora dan fauna di Pegunungan Bukit Barisan, yang berfungsi sebagai benteng ekologi vital di Pulau Sumatra. Tulisan ini menguraikan karakteristik geografis dan ekologis unik dari rangkaian pegunungan ini, yang membentang sepanjang 1.650 km dari Aceh hingga Lampung. Fokus utama laporan adalah identifikasi spesies-spesies kunci yang endemik dan terancam punah, seperti Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, Badak Sumatra, Bunga Rafflesia arnoldii, dan Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum). Laporan ini juga mengkaji secara kritis berbagai ancaman yang dihadapi oleh keanekaragaman hayati, termasuk perambahan hutan, fragmentasi habitat, perburuan liar, dan konflik manusia-satwa. Diakhiri dengan tinjauan upaya konservasi yang sedang berlangsung di tiga Situs Warisan Dunia UNESCO (Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan Selatan) serta rekomendasi strategis untuk masa depan. Analisis ini mengungkapkan kesenjangan kritis antara status perlindungan formal dan realitas di lapangan, menegaskan perlunya pendekatan konservasi berbasis lanskap dan keterlibatan masyarakat yang lebih kuat.

Pegunungan Bukit Barisan adalah sebuah rangkaian pegunungan monumental yang membentang sepanjang 1.650 km di Pulau Sumatra, dari ujung utara di Provinsi Aceh hingga ujung selatan di Provinsi Lampung. Rangkaian pegunungan ini sering disebut sebagai “tulang belakang” Sumatra karena perannya yang krusial dalam membentuk geografi, iklim, dan hidrologi pulau tersebut. Secara geologis, pembentukannya merupakan hasil dari proses tektonik penunjaman (subduksi) miring Lempeng Hindia-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Aktivitas tektonik ini telah menciptakan serangkaian gunung berapi aktif yang menjajar rapi dari utara ke selatan, memberikan ciri khas topografi yang menonjol pada pegunungan ini.

Struktur geologis unik ini tidak hanya membentuk bentang alam, tetapi juga bertindak sebagai arsitek utama ekosistem Sumatra. Peran Bukit Barisan sangat fundamental sebagai hulu bagi semua sungai besar di pulau ini, termasuk Sungai Alas, Batangtoru, Indragiri, Batanghari, Musi, dan Way Semaka. Selain itu, pegunungan ini secara signifikan memengaruhi pola iklim dan curah hujan regional. Sisi barat, yang berdekatan dengan Samudra Hindia, cenderung memiliki curah hujan lebih tinggi, sedangkan sisi timur yang menghadap Selat Malaka menerima curah hujan yang sedikit lebih rendah. Kondisi geografis dan iklim yang bervariasi ini menciptakan berbagai mikrohabitat, dari hutan mangrove dan pantai di dataran rendah hingga hutan hujan pegunungan yang terjal, yang pada akhirnya mendukung keanekaragaman hayati yang sangat tinggi di sepanjang koridor Bukit Barisan. Keanekaragaman ini, bagaimanapun, juga menimbulkan tantangan unik dalam konservasinya karena perbedaan ekologis yang signifikan antara wilayah utara dan selatan.

Tujuan dan Ruang Lingkup Laporan

Laporan ini disusun dengan tujuan untuk menganalisis secara mendalam kekayaan flora dan fauna yang mendiami lanskap Pegunungan Bukit Barisan. Ruang lingkup laporan ini mencakup seluruh bentang pegunungan, dari Aceh hingga Lampung, dengan fokus khusus pada tiga kawasan konservasi utama yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO: Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Aceh dan Sumatra Utara, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang melintasi empat provinsi, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Lampung dan Bengkulu. Melalui analisis ini, laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies-spesies kunci, menguraikan ancaman yang mereka hadapi, serta meninjau upaya-upaya konservasi yang telah dan sedang dilakukan.

Flora dan Tipe Ekosistem Hutan

Tipe-tipe Vegetasi dan Keanekaragaman Umum

Pegunungan Bukit Barisan merupakan rumah bagi berbagai macam tipe ekosistem hutan yang sangat kaya. Keanekaragaman vegetasi di kawasan ini sungguh luar biasa, mencerminkan topografi dan iklim yang bervariasi. Jenis-jenis vegetasi yang teridentifikasi, terutama di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), meliputi hutan mangrove, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan bukit, hingga hutan hujan pegunungan bawah dan tinggi.

Dari seluruh tipe ekosistem tersebut, hutan hujan dataran rendah diketahui memiliki kekayaan hayati paling tinggi di kawasan TNBBS. Beberapa flora khas yang ditemukan di ekosistem ini termasuk pidada (Sonneratia sp.), nipah (Nypa fruticans), cemara laut (Casuarina equisetifolia), dan pandan. Selain itu, hutan Bukit Barisan juga dipenuhi dengan berbagai jenis pohon berharga seperti meranti, mersawa, ramin, keruing, dan damar. Kawasan ini juga merupakan habitat penting bagi setidaknya 11 jenis flora endemik Sumatra, termasuk Bacaurea multiflora dan Madhuca magnifolia.

Flora Kunci, Endemik, dan Terancam Punah

Keunikan ekosistem Bukit Barisan disimbolkan oleh keberadaan flora karismatik yang sebagian besar bersifat endemik dan terancam punah. Dua contoh paling menonjol adalah Bunga Rafflesia dan Bunga Bangkai (Amorphophallus).

  • Rafflesia spp.: Dikenal sebagai bunga parasit raksasa, spesies Rafflesia arnoldii memiliki diameter yang dapat mencapai 1 meter, menjadikannya bunga terbesar di dunia. Siklus hidupnya sangat bergantung pada keberadaan tumbuhan inang spesifik, yaitu liana dari genus Tetrastigma spp., dan masa mekarnya yang hanya berlangsung sekitar lima hingga tujuh hari. Bunga Rafflesia juga dapat ditemukan di TNGL, dengan jenis Rafflesia achehensis sebagai salah satu flora endemik di sana. Keberadaan dan mekarnya bunga ini bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan indikator vital dari kualitas kesehatan hutan. Ketergantungan pada tumbuhan inang dan siklus hidup yang kompleks membuat spesies ini sangat rentan terhadap gangguan ekosistem, di mana hilangnya tumbuhan inang akibat deforestasi dan penebangan liar secara langsung mengancam kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, Rafflesia spp. dikategorikan sebagai spesies terancam punah oleh IUCN.
  • Amorphophallus spp.: Dikenal sebagai Bunga Bangkai, tumbuhan ini mengeluarkan aroma bangkai yang menyengat untuk menarik serangga penyerbuk. Beberapa spesies, seperti
    Amorphophallus titanum atau bunga bangkai jangkung, dapat mencapai ketinggian hingga 2 meter. Sama seperti Rafflesia, keberadaan Bunga Bangkai juga terancam oleh kerusakan habitat. Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi Amorphophallus titanum adalah Endangered (Terancam Punah).

Selain bunga-bunga karismatik tersebut, pohon-pohon kunci seperti Meranti dan Damar juga memiliki peran penting. Kayu Meranti yang sangat berharga menjadikannya target utama para penebang liar, yang secara langsung mengancam populasi dan ekosistem hutan. Sementara itu, Damar mata kucing (Shorea javanica) merupakan salah satu jenis pohon yang memiliki manfaat tradisional bagi masyarakat sekitar.

Tabel 1: Flora Kunci di Kawasan Bukit Barisan

Nama Umum Nama Ilmiah Lokasi Kategori Deskripsi Kunci
Bunga Rafflesia Rafflesia spp. TNBBS, TNGL, TNKS Parasit Endemik, Langka Bunga parasit raksasa yang mekar singkat, sangat bergantung pada tumbuhan inang dari genus Tetrastigma spp..
Bunga Bangkai Amorphophallus spp. TNBBS, TNKS Endemik, Terancam Punah Bunga dengan aroma busuk yang kuat, menarik lalat untuk penyerbukan. A. titanum dapat mencapai tinggi 2 meter.
Meranti Shorea spp. TNBBS Pohon Kunci, Terancam Salah satu pohon tertinggi di dunia, kayunya berharga dan menjadi target penebangan liar.
Damar Shorea javanica TNBBS Pohon Kunci Menghasilkan getah yang dimanfaatkan secara tradisional sebagai damar mata kucing.
Pinus Merkusi Kerinci Pinus merkusii strain kerinci TNKS Endemik Spesies pinus yang khas di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Kantong Semar Nepenthes spp. TNBBS Tumbuhan Karnivora Tumbuhan unik yang mampu menjebak serangga, memiliki variasi bentuk dan warna kantong.

Fauna dan Status Konservasi

Mamalia Kunci: Tiga Spesies Karismatik (Gajah, Harimau, Badak)

Pegunungan Bukit Barisan, khususnya tiga taman nasional utamanya, adalah habitat kritis bagi tiga spesies mamalia besar paling terancam di dunia.

  • Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus): Populasi globalnya diperkirakan kurang dari 2.000 individu. Gajah Sumatra diklasifikasikan sebagai Critically Endangered (Kritis) oleh IUCN TNBBS sendiri diperkirakan menjadi rumah bagi seperempat populasi gajah Sumatra yang tersisa. Kehidupan mereka menghadapi ancaman serius dari perburuan, hilangnya habitat, dan terputusnya koridor jelajah yang memicu konflik dengan manusia.
  • Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae): Dengan populasi global yang diperkirakan hanya sekitar 400 individu, Harimau Sumatra juga memiliki status konservasi Critically Endangered oleh IUCN. TNBBS merupakan salah satu wilayah hutan terpenting untuk konservasi harimau di Asia Tenggara, menampung perkiraan populasi sekitar 40-43 ekor. BKSDA Sumatra Barat mencatat sekitar 120 ekor harimau hidup di lanskap hutan provinsi tersebut.
  • Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis): Status Badak Sumatra adalah yang paling genting. Populasi di alam liar diperkirakan kurang dari 50 individu, menjadikannya salah satu spesies mamalia paling terancam di dunia. TNBBS merupakan benteng terakhir bagi setengah populasi badak Sumatra yang tersisa, meskipun jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 7-11 ekor pada tahun 2019.

Fauna Endemik dan Simbolis Lainnya

Keanekaragaman fauna di Bukit Barisan tidak merata di sepanjang bentangannya, menunjukkan adanya spesialisasi habitat yang signifikan. Contoh paling jelas adalah Orangutan Sumatra (Pongo abelii), yang keberadaannya secara spesifik dan eksklusif terbatas di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan tidak ditemukan di TNKS atau TNBBS.

Selain “Tiga Besar” dan Orangutan, Bukit Barisan juga menjadi habitat bagi berbagai fauna kunci lainnya:

  • Kambing Hutan Sumatra (Capricornis sumatraensis): Spesies endemik Sumatra yang dikenal soliter dan pemalu.
  • Primata: Kawasan ini juga dihuni oleh 7 jenis primata, termasuk Siamang (Symphalangus syndactylus), Owa (Hylobates agilis), dan Simpai (Presbytis mitrata)
  • Burung: Di TNBBS saja, telah teridentifikasi 450 jenis burung, termasuk 9 jenis burung rangkong (Buceros sp.). Kehadiran burung-burung ini, terutama rangkong, berfungsi sebagai bio-indikator penting bagi kesehatan hutan.
  • Herpetofauna: Penelitian di TNBBS menemukan 123 jenis reptil dan amfibi, yang juga digunakan sebagai bio-indikator lingkungan. Selain itu, terdapat pula beberapa jenis penyu di sepanjang pantai selatan dan barat.

Tabel 2: Perbandingan Keanekaragaman Fauna Kunci di Tiga Taman Nasional Utama

Spesies Kunci TN Gunung Leuser (TNGL) TN Kerinci Seblat (TNKS) TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
Harimau Sumatra Ada Ada Ada
Gajah Sumatra Ada Ada Ada
Badak Sumatra Ada Ada Ada
Orangutan Sumatra Ada, merupakan salah satu dari dua habitat tersisa Tidak ada Tidak ada
Kambing Hutan Sumatra Ada Ada Ada
Siamang Ada Ada Ada
Burung Rangkong Ada Ada Ada

Analisis Ancaman dan Tekanan terhadap Keanekaragaman Hayati

Kerusakan dan Fragmentasi Habitat

Ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati Bukit Barisan adalah kerusakan dan fragmentasi habitat. Deforstasi masif yang didorong oleh konversi lahan untuk pertanian dan perkebunan, seperti kelapa sawit dan pulp kayu, telah menyebabkan hilangnya 56% hutan alam Sumatra antara tahun 1985-2016. Di Aceh, misalnya, 51.821 hektar hutan purba hilang dalam rentang 2017-2020. Kerusakan ini tidak hanya menghilangkan ruang hidup, tetapi juga mengurangi ketersediaan pakan, tempat berlindung, dan ruang untuk aktivitas sosial satwa.

Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol yang menembus kawasan pegunungan  menyebabkan fragmentasi habitat yang parah. Jalan-jalan ini memotong koridor jelajah satwa, mengisolasi populasi, dan meningkatkan risiko penurunan keragaman genetik yang pada akhirnya berujung pada kepunahan. Pembangunan jalan juga membuka akses ilegal ke dalam kawasan konservasi, memudahkan perambah dan pemburu untuk masuk.

Konflik Manusia-Satwa Liar

Ancaman kerusakan habitat memiliki efek domino yang memicu konflik manusia-satwa. Berkurangnya wilayah jelajah dan sumber pakan di dalam hutan memaksa satwa, terutama predator seperti harimau dan gajah, untuk keluar dari habitat alami mereka dan memasuki permukiman atau perkebunan warga. Interaksi negatif ini seringkali menimbulkan kerugian ekonomi, seperti serangan terhadap ternak, atau bahkan menyebabkan korban jiwa manusia.

Kasus konflik manusia-harimau sering dilaporkan, dengan 39 kasus terjadi di Aceh pada tahun 2020. Tragedi juga terjadi di TNBBS, di mana perambahan liar disebut sebagai pemicu utama konflik yang menyebabkan korban jiwa. Konflik ini tidak hanya mencerminkan tekanan ekologis, tetapi juga merupakan bio-indikator kegagalan manajemen lanskap. Hal ini menunjukkan bahwa solusi parsial, seperti relokasi satwa, tidak akan efektif tanpa mengatasi akar masalahnya, yaitu perlindungan habitat yang utuh dan berkelanjutan.

Perburuan dan Perdagangan Ilegal

Perburuan liar merupakan ancaman langsung yang sangat serius, terutama bagi spesies karismatik seperti Badak dan Harimau Sumatra. Aktivitas ini didorong oleh permintaan pasar gelap untuk cula, kulit, dan bagian tubuh lainnya yang dipercaya memiliki khasiat obat tradisional. Modus operandi para pemburu seringkali terorganisir dan menggunakan jerat yang sangat mematikan, yang juga dapat menjebak satwa lain seperti Gajah.

Tingkat perburuan semakin meningkat seiring dengan terbukanya akses ke area hutan yang sebelumnya terisolasi akibat penebangan liar dan pembangunan infrastruktur. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: perambahan hutan membuka akses ke dalam kawasan konservasi, meningkatkan aktivitas perburuan, yang pada gilirannya menurunkan populasi satwa. Kelangkaan yang semakin parah ini justru meningkatkan nilai ekonomi ilegal satwa tersebut, yang selanjutnya mendorong lebih banyak perburuan. Siklus ini menyoroti bahwa masalah perburuan tidak hanya merupakan masalah kriminal, tetapi juga akibat langsung dari degradasi habitat dan penegakan hukum yang tidak efektif.

Tabel 3: Keterkaitan Ancaman dan Dampak pada Flora & Fauna Kunci

Jenis Ancaman Target Spesies Dampak Langsung Implikasi Luas
Deforestasi & Perambahan Hutan Harimau, Gajah, Badak, Rafflesia, Meranti Rusaknya habitat dan berkurangnya sumber pakan. Fragmentasi populasi. Hilangnya tumbuhan inang. Peningkatan konflik manusia-satwa. Penurunan populasi. Risiko kepunahan.
Fragmentasi Habitat (Pembangunan Jalan) Harimau, Gajah, Badak Terputusnya koridor jelajah. Terisolasi populasi. Penurunan keragaman genetik. Peningkatan akses bagi pemburu. Peningkatan konflik satwa-kendaraan.
Perburuan Ilegal Harimau, Badak, Gajah Kematian individu. Penurunan drastis populasi. Peningkatan nilai ekonomi ilegal satwa. Hancurnya rantai makanan. Risiko kepunahan total.
Konflik Manusia-Satwa Harimau, Gajah Kematian satwa. Kerugian ekonomi (ternak). Korban jiwa manusia. Reaksi negatif masyarakat terhadap konservasi. Penghilangan satwa secara ilegal oleh warga.

Upaya Konservasi dan Rekomendasi Masa Depan

Tinjauan Kawasan Konservasi Utama

Untuk melindungi keanekaragaman hayati yang tak ternilai, beberapa bagian dari Pegunungan Bukit Barisan telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, termasuk tiga Taman Nasional yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO: Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).Namun, sejak tahun 2011, kawasan ini telah ditempatkan dalam daftar “Situs Warisan Dunia dalam Bahaya” oleh UNESCO, sebuah indikasi bahwa ancaman terus-menerus mengikis integritas ekologisnya.

  • Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL): Rumah bagi Orangutan Sumatra, Harimau, Gajah, dan Badak. Kawasan ini menghadapi ancaman deforestasi dan konflik tapal batas, seperti yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang.
  • Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS): Sebagai taman nasional terbesar, TNKS adalah habitat penting bagi Harimau, Gajah, Badak, dan flora unik seperti Pinus Merkusi Kerinci. Kawasan ini secara masif terancam oleh kegiatan illegal logging dan perambahan.
  • Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS): Kawasan ini menjadi benteng utama bagi “Tiga Besar” dan memiliki berbagai tipe ekosistem. Namun, TNBBS menghadapi tekanan signifikan dari perambahan, fragmentasi habitat akibat pembangunan jalan, dan perburuan.

Pendekatan Konservasi Berbasis Masyarakat

Mengingat tantangan yang kompleks, peran masyarakat lokal sangat penting dalam upaya konservasi. Program seperti Perhutanan Sosial dan Community-Based Forestry (CBF) di Lampung menunjukkan potensi besar untuk menyeimbangkan kebutuhan mata pencaharian masyarakat dengan target konservasi. Masyarakat di desa-desa penyangga, seperti di sekitar TNBBS, telah berfungsi sebagai “penjaga” yang secara fisik dan sosial melindungi kawasan dari orang asing atau perambah. Pendekatan ini mengakui bahwa konservasi berkelanjutan tidak mungkin tercapai tanpa keterlibatan dan pemberdayaan komunitas yang hidup di sekitar hutan.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Ringkasan Temuan Kunci

Pegunungan Bukit Barisan merupakan benteng ekologi yang tak tergantikan, menampung kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa, termasuk spesies-spesies karismatik yang berada di ambang kepunahan. Namun, statusnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO yang kini berada dalam daftar “dalam bahaya” mencerminkan ancaman serius yang terus-menerus. Kerusakan dan fragmentasi habitat akibat deforestasi dan pembangunan infrastruktur adalah akar masalah yang memicu serangkaian dampak negatif, termasuk konflik manusia-satwa dan peningkatan perburuan liar. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan kritis antara status perlindungan yang diakui secara internasional dan realitas di lapangan.

Rekomendasi Aksi Lanjutan

Berdasarkan analisis yang mendalam ini, diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan multi-sektor untuk memastikan kelestarian Bukit Barisan di masa depan:

  • Penguatan Penegakan Hukum: Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk memberantas jaringan perburuan dan perdagangan ilegal. Hukuman yang berat harus diterapkan, dan patroli harus ditingkatkan, terutama di area yang teridentifikasi sebagai titik panas perburuan.
  • Pengelolaan Lanskap Terpadu: Strategi konservasi harus beralih dari manajemen yang berfokus pada per-taman nasional menjadi pengelolaan berbasis lanskap yang mencakup kawasan konservasi, hutan produksi, dan wilayah yang dikelola masyarakat. Pendekatan ini akan membantu menghubungkan kembali koridor-koridor satwa yang terfragmentasi dan memitigasi konflik secara lebih efektif.
  • Harmonisasi Manusia-Satwa: Program mitigasi konflik harus menjadi prioritas. Ini dapat mencakup edukasi masyarakat, pembangunan menara pantau, dan penggunaan teknologi seperti GPS collar untuk memantau pergerakan satwa.
  • Riset dan Pemantauan Berkelanjutan: Investasi dalam riset ilmiah dan pemantauan ekologis secara berkelanjutan sangatlah penting untuk mendapatkan data populasi yang akurat, memahami dinamika ekosistem, dan menginformasikan keputusan konservasi yang berbasis bukti.

 

Daftar Pustaka :

  1. Sejarah dan Keistimewaan Bukit Barisan, Kamu Perlu Tahu! – IDN Times Sumsel, diakses Agustus 23, 2025, https://sumsel.idntimes.com/travel/destination/sejarah-dan-keistimewaan-bukit-barisan-kamu-perlu-tahu-c1c2-01-vyj7y-gbgf5k
  2. Mengenal Bukit Barisan: Inilah Fakta dan Daya Tarik Wisatanya – Traveloka, diakses Agustus 23, 2025, https://www.traveloka.com/id-id/explore/destination/mengenal-bukit-barisan-inilah-fakta-dan-daya-tarik-wisatanya-acc/535974
  3. Bukit Barisan, Tulang Belakang Sumatera – Jelajah Kompas, diakses Agustus 23, 2025, https://jelajah.kompas.id/ekspedisi-cincin-api/baca/bukit-barisan-tulang-belakang-sumatera/
  4. struktur geologi pada zona transisi antara busur volkanik bukit barisan dengan cekungan belakang, diakses Agustus 23, 2025, https://jurnal.unpad.ac.id/bsc/article/download/8258/3805
  5. Pegunungan Bukit Barisan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Agustus 23, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Pegunungan_Bukit_Barisan
  6. Apa Kabar Bukit Barisan Sebagai Benteng Ekologi dan Budaya? – Mongabay, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2021/12/07/apa-kabar-bukit-barisan-sebagai-benteng-ekologi-dan-budaya/
  7. 6 Sungai Terpanjang di Sumatera dan Fakta Menariknya! – Traveloka, diakses Agustus 23, 2025, https://www.traveloka.com/id-id/explore/destination/sungai-terpanjang-di-sumatera-acc/537758
  8. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Agustus 23, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Bukit_Barisan_Selatan
  9. Mengenal Taman Nasional Kerinci Seblat yang Sudah Diakui UNESCO – Traveloka, diakses Agustus 23, 2025, https://www.traveloka.com/id-id/explore/destination/mengenal-taman-nasional-kerinci-seblat-acc/408831
  10. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan – TFCA Sumatera, diakses Agustus 23, 2025, https://tfcasumatera.org/bentang_alam/taman-nasional-bukit-barisan-selatan/
  11. taman nasional bukit barisan selatan, diakses Agustus 23, 2025, https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/6878/TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx
  12. Mengenal Flora dan Fauna yang Ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan – detikcom, diakses Agustus 23, 2025, https://www.detik.com/sumbagsel/wisata/d-6976827/mengenal-flora-dan-fauna-yang-ada-di-taman-nasional-bukit-barisan-selatan
  13. Mengenal Flora dan Fauna Langka di Taman Nasional Bukit …, diakses Agustus 23, 2025, https://infolubuklinggau.id/mengenal-flora-dan-fauna-langka-di-taman-nasional-bukit-barisan-selatan/
  14. Cantiknya Bunga Rafflesia yang Sedang Mekar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, diakses Agustus 23, 2025, https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4435881/cantiknya-bunga-rafflesia-yang-sedang-mekar-di-taman-nasional-bukit-barisan-selatan
  15. (PDF) BIOLOGICAL ASPECTS AND CONSERVATION OF Rafflesia arnoldii : INDONESIAN ENDEMIC PLANT CONSERVATION – ResearchGate, diakses Agustus 23, 2025, https://www.researchgate.net/publication/358740757_BIOLOGICAL_ASPECTS_AND_CONSERVATION_OF_Rafflesia_arnoldii_INDONESIAN_ENDEMIC_PLANT_CONSERVATION
  16. Konservasi Hayati, 17 (2): 49-55, Oktober (2021) – eJournal UNIB, diakses Agustus 23, 2025, https://ejournal.unib.ac.id/hayati/article/download/14387/8724/48736
  17. Berita Flora dan Fauna Taman Nasional Gunung Leuser, diakses Agustus 23, 2025, https://hugarastra.acehtenggarakab.go.id/berita/kategori/flora-dan-fauna/flora-dan-fauna-taman-nasional-gunung-leuser
  18. KEANEKARAGAMAN HAYATI FLORA DAN FAUNA DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN (TNBBS) RESORT MERPAS BINTUHAN KABUPATEN K – eJournal UNIB, diakses Agustus 23, 2025, https://ejournal.unib.ac.id/diksains/article/download/14702/pdf/37814
  19. Titan arum – Wikipedia, diakses Agustus 23, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Titan_arum
  20. KEANEKARAGAMAN FLORA DAN FAUNA DI RESORT BALIK BUKIT BALAI BESAR TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN – Jurusan Kehutanan – Universitas Lampung, diakses Agustus 23, 2025, https://hutan.fp.unila.ac.id/wp-content/uploads/2022/09/16-23_PROSIDING-SEMNAS-SVK-8-berISSN.pdf
  21. Belum Pernah Berkunjung ke Taman Nasional Kerinci Seblat, Ini Jumlah Berbagai Macam Jenis Flora dan Fauna – Kabar Jambi Kito – Halaman 2, diakses Agustus 23, 2025, https://www.kabarjambikito.id/budaya-wisata/5919947892/belum-pernah-berkunjung-ke-taman-nasional-kerinci-seblat-ini-jumlah-berbagai-macam-jenis-flora-dan-fauna?page=2
  22. Rusaknya Habitat Ancaman Utama Kehidupan Gajah Sumatera – Mongabay, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2020/08/12/rusaknya-habitat-ancaman-utama-kehidupan-gajah-sumatera/
  23. ANALISIS KONFLIK MANUSIA DENGAN GAJAH BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN – Neliti, diakses Agustus 23, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/446523-none-f79da0b7.pdf
  24. ELEPHANT | Global Environmental Conservation Organization, diakses Agustus 23, 2025, http://www.wwf.id/id/learn/forest-wildlife/elephant
  25. Konflik Manusia dengan Harimau Sumatera Kembali Terjadi di Mandailing Natal, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2024/08/15/konflik-manusia-dengan-harimau-sumatera-kembali-terjadi-di-mandailing-natal/
  26. BKSDA Catat Populasi Harimau Sumatera di Sumbar Tinggal 120 Ekor – Langgam.id, diakses Agustus 23, 2025, https://langgam.id/bksda-catat-populasi-harimau-sumatera-di-sumbar-tinggal-120-ekor/
  27. Laporan: Jumlah Badak Sumatera di Alam Liar Diperkirakan Kurang dari 50 Individu, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2022/10/08/laporan-jumlah-badak-sumatera-di-alam-liar-diperkirakan-hanya-50-individu/
  28. Taman Nasional Gunung Leuser, Rumah Flora dan Fauna Langka – detikcom, diakses Agustus 23, 2025, https://www.detik.com/sumut/berita/d-7013608/taman-nasional-gunung-leuser-rumah-flora-dan-fauna-langka
  29. Taman Nasional Gunung Leuser – MAKOPALA, diakses Agustus 23, 2025, https://makopala.org/1062-2/
  30. Taman Nasional Gunung Leuser – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Agustus 23, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung_Leuser
  31. Si Penyendiri dari Lereng Terjal – Indonesia.go.id, diakses Agustus 23, 2025, https://indonesia.go.id/kategori/seni/2202/si-penyendiri-dari-lereng-terjal?lang=1
  32. BIOSPECIES – Jurnal Online Universitas Jambi, diakses Agustus 23, 2025, https://online-journal.unja.ac.id/biospecies/article/download/31543/18871
  33. Harimau Sumatera – Ciri-Ciri, Habitat, dan Ancaman Populasi – LindungiHutan, diakses Agustus 23, 2025, https://lindungihutan.com/blog/ciri-ciri-harimau-sumatera/
  34. PERLINDUNGAN GAJAH SUMATERA DI ACEH BERDASARKAN KONVENSI TENTANG KEANEKARAGAMAN HAYATI 1992 – Universitas Trisakti, diakses Agustus 23, 2025, https://e-journal.trisakti.ac.id/index.php/refor/article/view/16423/9521
  35. pengaruh perambahan terhadap vegetasi dan satwaliar – di taman nasional rawa aopa watumohai – Neliti, diakses Agustus 23, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/491361-none-7b06b1e1.pdf
  36. KONFLIK MANUSIA DENGAN HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) DI HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT – eJournal UNIB, diakses Agustus 23, 2025, https://ejournal.unib.ac.id/jhutanlingkungan/article/download/28594/12805/84628
  37. Perambahan Hutan Sebabkan Konflik Manusia dengan Satwa Liar – RRI, diakses Agustus 23, 2025, https://www.rri.co.id/daerah/385879/perambahan-hutan-sebabkan-konflik-manusia-dengan-satwa-liar
  38. Balai TNBBS Sebut Perambahan Liar Jadi Pemicu Utama Konflik Harimau-Manusia, diakses Agustus 23, 2025, https://kumparan.com/lampunggeh/balai-tnbbs-sebut-perambahan-liar-jadi-pemicu-utama-konflik-harimau-manusia-259Vs3Ou9kb
  39. Apa Kabar Bukit Barisan Sebagai Benteng Ekologi dan Budaya?, diakses Agustus 23, 2025, https://leuserconservation.org/apa-kabar-bukit-barisan-sebagai-benteng-ekologi-dan-budaya/
  40. KENALI BADAK SUMATERA LEBIH JAUH! | wwf.id, diakses Agustus 23, 2025, http://www.wwf.id/id/blog/kenali-badak-sumatera-lebih-jauh
  41. Jerat Satwa Masih Ancaman Utama Kehidupan Badak Sumatera di Leuser – Mongabay, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2020/09/29/jerat-satwa-masih-ancaman-utama-kehidupan-badak-sumatera-di-leuser/
  42. Penyebab Konflik Harimau dan Manusia – Forest Digest, diakses Agustus 23, 2025, https://www.forestdigest.com/detail/1706/konflik-harimau-sumatera
  43. Pemkab Aceh Tamiang Bahas Konflik Tapal Batas TNGL – RRI, diakses Agustus 23, 2025, https://rri.co.id/daerah/548362/pemkab-aceh-tamiang-bahas-konflik-tapal-batas-tngl
  44. TNKS di Wilayah Sumsel Terancam Hilang, Akibat Masifnya Ilegal Logging dan Perambahan Kawasan – RMOLSUMSEL.ID, diakses Agustus 23, 2025, https://www.rmolsumsel.id/tnks-di-wilayah-sumsel-terancam-hilang-akibat-masifnya-ilegal-logging-dan-perambahan-kawasan
  45. Desa Penyangga TNBBS, Benteng Penyelamatan Badak Sumatera – Mongabay, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2020/12/03/desa-penyangga-tnbbs-benteng-penyelamatan-badak-sumatera/
  46. Perhutanan Berbasis Masyarakat di Indonesia Perlu Lebih Fokus pada Kondisi Lokasi, diakses Agustus 23, 2025, https://forestsnews.cifor.org/71215/perhutanan-berbasis-masyarakat-di-indonesia-perlu-lebih-fokus-pada-kondisi-lokasi?fnl=en
  47. Lampung, Model Kawasan Konservasi Berbasis Lanskap di Sumatera – Mongabay, diakses Agustus 23, 2025, https://mongabay.co.id/2020/07/10/lampung-model-kawasan-konservasi-berbasis-lanskap-di-sumatera/
  48. Monitoring Populasi dan Habitat Gajah Sumatera di SPTN Wilayah VI Besitang, Taman Nasional Gunung Leuser – Detail Artikel | Website Resmi BB-TNGL, diakses Agustus 23, 2025, https://tngunungleuser.ksdae.menlhk.go.id/artikel/monitoring-populasi-dan-habitat-gajah-sumatera-di-sptn-wilayah-vi-besitang-taman-nasional-gunung-leuser
  49. BRIN Dukung Upaya Konservasi Flora Terancam Kepunahan di Taman Nasional Gunung Leuser Melalui Kegiatan Riset, diakses Agustus 23, 2025, https://www.brin.go.id/news/119518/brin-dukung-upaya-konservasi-flora-terancam-kepunahan-di-taman-nasional-gunung-leuser-melalui-kegiatan-riset

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

87 − 83 =
Powered by MathCaptcha