Sumatera Utara, sebuah provinsi yang terbentang di bagian utara Pulau Sumatra, menyajikan lanskap sosial budaya yang kaya dan berlapis. Uniknya, keberagaman ini tidak hanya terbentuk dari kelompok-kelompok etnis pribumi yang mendiami wilayahnya, tetapi juga dari kontribusi signifikan etnis-etnis pendatang yang telah berakar selama berabad-abad. Posisi geografis provinsi ini, yang diapit oleh rangkaian Pegunungan Bukit Barisan dan memiliki garis pantai timur yang strategis, memainkan peran krusial dalam membentuk dinamika populasi dan budaya yang ada.

Sejak lama, wilayah pesisir timur, terutama Kota Medan, telah berfungsi sebagai pintu masuk historis bagi peradaban dan perdagangan internasional. Bukti sejarah menunjukkan bahwa armada dagang Tiongkok telah mengunjungi pelabuhan di Sumatera Timur sejak abad ke-15. Demikian pula, pedagang dan buruh dari India bermigrasi ke wilayah ini, membentuk komunitas yang terpusat di kawasan seperti Kampung Keling. Dinamika ini menciptakan pola permukiman yang unik: etnis pendatang cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan dan pesisir, yang merupakan pusat ekonomi dan perdagangan, sementara etnis pribumi, seperti suku Batak dan Nias, sebagian besar tersebar di wilayah pedalaman dan kepulauan. Oleh karena itu, lanskap kultural Sumatera Utara adalah hasil dari interaksi kompleks antara benteng-benteng budaya pribumi di pedalaman dan zona akulturasi yang dinamis di wilayah pesisir.

Tujuan dari laporan ini adalah untuk menyajikan tinjauan yang komprehensif dan analitis mengenai beragam etnis dan kekayaan budayanya di Sumatera Utara. Laporan ini tidak hanya akan menguraikan ciri-ciri khas etnis pribumi, seperti rumpun Batak, Melayu, dan Nias, tetapi juga akan mengkaji peran serta etnis pendatang yang membentuk identitas kolektif provinsi, termasuk Jawa, Tionghoa, dan India. Lebih jauh, laporan ini akan mendalami fenomena-fenomena lintas budaya seperti sinkretisme agama dan akulturasi kuliner, yang menjadi bukti nyata dari perpaduan budaya yang terus berlangsung.

Etnis Pribumi: Pilar Budaya Sumatera Utara

Rumpun Batak: Identitas yang Kompleks dan Dinamis

Secara akademis, “Batak” adalah istilah kolektif yang digunakan untuk mengidentifikasi sejumlah kelompok etnis Austronesia yang berkerabat dekat dan mayoritas berdiam di Sumatera Utara. Kelompok-kelompok ini mencakup Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing, dan Pesisir. Namun, identifikasi ini tidaklah seragam. Di kalangan etnis itu sendiri, terdapat perbedaan mendalam antara identifikasi eksternal dan internal.

Fenomena ini paling nyata pada sikap etnis Mandailing, Karo, Simalungun, dan Pakpak yang secara historis menolak untuk disamakan dengan Batak. Penolakan ini dimulai oleh etnis Mandailing sejak tahun 1922, diikuti oleh Karo pada 1952, Simalungun pada 1963, dan Pakpak pada 1964. Alasan utama penolakan ini adalah perbedaan bahasa, adat, dan sejarah yang mencolok. Perbedaan ini menunjukkan bahwa identitas etnis tidak bersifat statis atau hanya didasarkan pada silsilah, melainkan dibentuk oleh proses sosiologis dan politik yang dinamis, membedakan mereka dari etnis Toba dan Angkola yang secara umum menerima sebutan “Batak”.

Batak Toba

Batak Toba adalah kelompok etnis terbesar dari rumpun Batak. Mereka berpusat di sekitar Danau Toba, termasuk di Kabupaten Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara. Inti dari budaya Batak Toba adalah sistem kekerabatan dan filosofi hidup yang dikenal sebagai Dalihan Na Tolu (tungku berkaki tiga). Konsep ini melambangkan tiga pilar utama dalam masyarakat: hula-hula (kelompok pemberi istri), boru (kelompok penerima istri), dan dongan tubu (saudara semarga). Setiap pilar memiliki peran dan kewajiban yang spesifik, seperti somba marhula-hula (menghormati pemberi istri) dan elek marboru (mengayomi penerima istri), yang memastikan harmoni sosial dalam setiap upacara adat.

Selain itu, tradisi Mangaranto (merantau) adalah ciri khas yang menonjol dari masyarakat Toba. Ini adalah praktik migrasi untuk mencari pendidikan dan peluang sosio-ekonomi yang lebih baik. Meskipun merantau, orang Batak Toba tetap mempertahankan ikatan yang kuat dengan desa asal mereka, yang disebut Bona Pasogit. Identitas seseorang sering kali ditentukan oleh Bona Pasogit mereka di Tano Batak (Tanah Batak), bukan dari tempat kelahiran mereka. Identifikasi ini diperkuat oleh sistem marga yang diwariskan secara patrilineal, yang menjadi identitas klan dan silsilah (tarombo) yang dijunjung tinggi.

Batak Karo

Suku Batak Karo adalah kelompok Batak terbesar di Sumatera Utara. Mereka menggunakan bahasa Karo (Cakap Karo) dan memiliki ciri khas pakaian adat yang didominasi warna merah dan hitam. Arsitektur mereka sangat unik, terutama Rumah Adat Karo atau Siwaluh Jabu. Rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku, memiliki tinggi mencapai 12 meter, dan dapat menampung hingga delapan keluarga dengan peran rumah tangga yang berbeda. Salah satu upacara tradisional mereka adalah Erdemu Bayu atau pesta perkawinan, yang melibatkan berbagai pihak kekerabatan seperti anak beru dan kalimbubu.

Batak Mandailing dan Angkola

Suku Mandailing dan Angkola umumnya mendiami wilayah Tapanuli Selatan. Mereka memiliki seni musik yang khas, yaitu Gordang Sambilan, sebuah ansambel yang terdiri dari sembilan gendang besar. Dahulu, Gordang Sambilan hanya dimainkan pada acara-acara sakral, tetapi kini sering ditampilkan dalam acara pernikahan, penyambutan tamu, dan hari besar. Rumah adat mereka, Bagas Gondang, memiliki bentuk persegi panjang dengan atap segitiga gunting yang dihiasi ornamen berwarna hitam, merah, dan putih.

Simalungun dan Pakpak

Suku Simalungun memiliki filosofi kekerabatan yang mirip dengan Dalihan Na Tolu, yang dikenal sebagai Tolu Sahundulan. Filosofi ini berlandaskan pada tiga pilar: Tondong (pemberi nasehat), Sanina (saudara), dan Boru (penerima kekuatan). Budaya ini tercermin dalam berbagai upacara adat, seperti Managgir untuk membersihkan raga dan batin, serta Marhajabuan yang merupakan upacara pemberian berkat setelah pernikahan. Sementara itu, masyarakat Pakpak memiliki ansambel musik khas bernama Gendang Sisibah, yang terdiri dari sembilan gendang yang dimainkan dengan stik.

Etnis Melayu

Etnis Melayu memiliki sejarah yang panjang di Sumatera Utara, terkait erat dengan keberadaan Kerajaan Melayu yang pernah ada di wilayah ini. Di Medan, jejak peradaban Melayu yang paling menonjol adalah warisan arsitektur dari Kesultanan Deli.

Istana Maimun, yang dibangun pada tahun 1888, dan Masjid Al Mahsun, yang dibangun pada tahun 1906, adalah bukti fisik dari kejayaan Kesultanan Deli. Arsitektur kedua bangunan ini adalah perpaduan unik dari gaya Moor, India, dan Melayu yang megah dan memukau. Tarian Serampang Dua Belas, yang terdiri dari 12 gerakan, merupakan tarian tradisional Melayu Deli yang populer, menggambarkan proses percintaan hingga pernikahan.

Etnis Nias

Suku Nias, yang menyebut diri mereka Ono Niha (Anak Manusia), berdiam di Pulau Nias. Salah satu tradisi mereka yang paling terkenal adalah Fahombo atau lompat batu, sebuah ritual inisiasi yang menandai transisi laki-laki dari masa kanak-kanak ke kedewasaan. Tradisi ini dilakukan dengan melompati tumpukan batu setinggi 2-4 meter dan dianggap mengandung unsur magis serta spiritual.

Fahombo kini telah menjadi atraksi wisata yang mendunia dan bahkan diabadikan di uang kertas Rp1,000. Keunikan arsitektur Nias juga terlihat pada rumah adat mereka, Omo Sebua dan Omo Hada, yang terbuat dari kayu nibung dengan fondasi balok diagonal yang membuatnya sangat kokoh dan tahan gempa.

Etnis Pendatang: Perekat dan Penggerak Budaya Baru

Komunitas Jawa (Pujakesuma)

Komunitas Jawa adalah salah satu kelompok etnis pendatang terbesar di Sumatera Utara, dengan populasi yang mencapai 40 persen dari total penduduk Kota Medan. Identitas kolektif mereka terorganisasi di bawah paguyuban bernama Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), yang didirikan pada tahun 1980. Organisasi ini berperan penting dalam melestarikan budaya Jawa, seperti seni dan bahasa, serta meningkatkan kualitas sosial-ekonomi anggotanya.

Konsep kekeluargaan dalam Pujakesuma sangat menarik karena melampaui ikatan darah. Mereka menganut prinsip “serasa, setekad, selakon” (sepaham cita-cita dan seperjuangan), yang menyatukan anggota dari berbagai latar belakang, termasuk keyakinan politik dan agama. Hal ini mencerminkan proses adaptasi dan pembentukan identitas baru di lingkungan perantauan, di mana rasa kebersamaan didasarkan pada pengalaman dan tujuan bersama.

Komunitas Tionghoa

Kedatangan etnis Tionghoa di Sumatera Utara, khususnya di Medan, dimulai sejak abad ke-15 melalui jalur perdagangan. Namun, kehadiran mereka menjadi sangat masif pada akhir abad ke-19, ketika mereka memonopoli sektor transportasi dan perdagangan dengan dukungan pemerintah kolonial Belanda. Kehadiran mereka di Medan juga memiliki narasi sejarah yang kompleks. Meskipun kawasan Kotta Cinna (Kota China) secara historis adalah pusat perdagangan abad ke-11, jejak peradaban yang ditemukan di sana justru menunjukkan dominasi etnis India, bukan Tionghoa.

Dominasi Tionghoa yang kemudian terjadi sebagian besar adalah hasil dari kebijakan kolonial Belanda yang memberlakukan stratifikasi sosial hierarkis: orang Eropa, orang Tionghoa (Timur Asing), dan orang pribumi. Hierarki ini menciptakan jurang pemisah yang dalam dan menumbuhkan stereotip negatif yang diwariskan secara turun-temurun. Fenomena ini menjelaskan mengapa, meskipun terjadi akulturasi yang intensif di bidang kuliner—seperti penyerapan kata-kata dan rempah Tionghoa ke dalam hidangan lokal seperti soto Medan dan kwetiau goreng —ketegangan sosial antar etnis masih dapat ditemui hingga saat ini.

Komunitas India

Sejarah komunitas India di Sumatera Utara dimulai dengan kedatangan pedagang dan kemudian buruh perkebunan tembakau pada abad ke-19. Di Kota Medan, keberadaan mereka terpusat di sebuah  enklave etnik yang dikenal sebagai Kampung Keling atau Little India. Kawasan ini menjadi pusat kegiatan budaya, ekonomi, dan sosial bagi komunitas India, dengan beragam toko yang menjual barang impor dari India, restoran otentik, serta bangunan keagamaan bersejarah seperti Kuil Shri Mariamman.

Kontribusi komunitas India sangat terasa dalam perayaan festival keagamaan seperti Diwali dan Thaipusam, yang menjadi daya tarik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Di bidang ekonomi, mereka aktif di berbagai sektor, termasuk perdagangan, industri, pertanian, dan pendidikan, menunjukkan integrasi yang harmonis sambil tetap melestarikan identitas budaya mereka.

Kajian Lintas Budaya: Fenomena Kultural di Sumatera Utara

Sinkretisme Agama dan Kepercayaan Tradisional

Sinkretisme adalah percampuran unsur-unsur dari beberapa agama atau kepercayaan yang berbeda menjadi satu kesatuan baru. Fenomena ini sangat menonjol di Sumatera Utara, di mana kepercayaan tradisional berinteraksi dan berpadu dengan agama-agama formal.

Parmalim adalah contoh nyata dari fenomena ini. Kepercayaan ini, yang dianut oleh sebagian masyarakat Batak Toba, berpusat pada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) dan pernah menjadi gerakan spiritual untuk melindungi kepercayaan nenek moyang dari pengaruh Kristen dan kolonialisme.

Fenomena yang lebih luas terjadi pada umat Kristen Batak Toba, yang sering kali tetap menjalankan ritual adat leluhur meskipun ada larangan dari gereja. Praktik seperti Mangongkal Holi (penggalian dan pemindahan tulang belulang leluhur) dan ziarah kubur tetap dijalankan sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan menjaga ikatan kekerabatan. Ini menunjukkan bahwa bagi banyak orang Batak, identitas spiritual mereka adalah perpaduan antara ajaran Injil dan kearifan lokal. Sinkretisme, dalam konteks ini, bukan dipandang sebagai penyimpangan, melainkan sebagai strategi kultural yang adaptif, yang memungkinkan masyarakat mempertahankan identitas lokal mereka di tengah perubahan sosial dan keberagaman keyakinan. Ritual adat ini dipandang sebagai sarana di mana anugerah ilahi dapat dirasakan dalam kehidupan komunal dan historis mereka.

Wastra (Ulos) dan Kerajinan Tangan

Ulos adalah kain tenun tradisional khas Batak yang memiliki makna simbolis dan filosofis yang mendalam. Dahulu, ulos digunakan sebagai penghangat tubuh. Seiring waktu, fungsinya berevolusi menjadi simbol kasih sayang, berkat, dan persaudaraan. Berbagai jenis ulos digunakan dalam upacara adat yang berbeda, baik suka maupun duka.

Tabel 1: Ragam Jenis Ulos dan Makna Simbolisnya

Jenis Ulos Fungsi Utama Makna Simbolis
Ulos Ragi Hotang Diberikan kepada pengantin baru dalam upacara pernikahan Simbol ikatan kasih sayang dan harapan agar pernikahan kuat seperti rotan.
Ulos Mangiring Diberikan oleh orang tua/nenek kepada cucu pertama Simbol kesuburan, harapan akan keturunan berikutnya. Digunakan juga sebagai gendongan bayi
Ulos Ragidup Diberikan dalam upacara adat besar Simbol kehidupan, kebahagiaan, dan umur panjang. Pembuatannya paling sulit dan harganya mahal.
Ulos Sadum Diberikan sebagai hadiah atau kenang-kenangan Simbol suka cita dan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ulos Sibolang Digunakan dalam upacara duka cita Simbol kesedihan dan duka.
Ulos Bintang Maratur Digunakan dalam upacara kelahiran dan pembukaan rumah baru Simbol kegembiraan dan berita baik.

Seni Pertunjukan dan Musik

Sumatera Utara kaya akan seni pertunjukan dan musik tradisional. Tari Tor-tor adalah tarian tradisional Batak yang diiringi musik gondang. Gerakan tarian ini, terutama hentakan kaki dan tangan yang khas, digunakan untuk mengungkapkan keluh kesah dan harapan. Sementara itu,

Tari Gundala-Gundala dari Suku Karo adalah ritual pemanggil hujan yang ditarikan dengan topeng kayu dan diiringi alat musik tradisional. Tarian ini berasal dari legenda Raja Sibayak dan burung raksasa Gurda Gurdi.

Keunikan lain adalah Tarian Sigale-Gale, sebuah ritual duka yang menggunakan boneka kayu berukuran manusia untuk mengantar arwah orang meninggal. Tarian ini diyakini dapat membawa arwah leluhur dan menjadi harapan agar nasib malang tidak terulang. Di bidang musik, etnis Mandailing terkenal dengan Gordang Sambilan-nya , sementara Batak Toba memiliki Garantung (xylophone dari kayu) dan Hasapi (alat musik petik dua senar).

Kuliner: Akulturasi dalam Hidangan

Kuliner Sumatera Utara adalah refleksi langsung dari keberagaman etnisnya. Berbagai hidangan memiliki kekhasan yang mencerminkan bahan-bahan lokal dan tradisi memasak masing-masing etnis.

Tabel 2: Komparasi Kuliner Khas Berbagai Etnis di Sumatera Utara

Etnis Nama Hidangan Bahan Utama Keterangan & Makna Budaya
Batak Toba Arsik Ikan mas, andaliman, asam cikala Hidangan simbol anugerah yang disajikan dalam upacara adat.
Batak Toba Na Niura Ikan mas atau mujair Mirip sashimi atau ceviche karena tidak dimasak dengan api, hanya melalui fermentasi bumbu. Dahulu hanya disajikan untuk raja.
Batak Toba Mie Gomak Mie lidi, santan, andaliman Dijuluki “spageti Batak” karena bentuknya. Nama gomak merujuk pada cara tradisional penyajiannya dengan tangan.
Melayu Bubur Podas Beras, kelapa, udang, bumbu Dikenal sebagai “bubur pedas” dan disajikan menjelang puasa Ramadan.
Melayu Gulai Ladang Santan kelapa Gulai khas yang tidak menggunakan minyak atau ditumis.
Melayu Ikan Botok Ikan besar, daun buih-buih, daun sikontut Kuliner kuno yang sulit dibuat dan bahan-bahannya sudah jarang ditemui.
Tionghoa & Lokal Soto Medan Daging, ayam, atau udang dengan kuah santan kental Nama soto berasal dari dialek Hokkian (cau do). Merupakan contoh akulturasi kuliner Tionghoa dengan rempah-rempah lokal.
Tionghoa & Lokal Kwetiau Goreng Kwetiau, daging, seafood Hidangan yang dipengaruhi Tionghoa namun memiliki bumbu yang lebih kuat dan lokal.

 

Warisan Sejarah dan Situs Budaya: Peninggalan Lintas Peradaban

Situs-situs bersejarah di Sumatera Utara adalah representasi fisik dari stratifikasi peradaban yang berlapis-lapis. Jauh sebelum masuknya Islam dan Kristen, jejak peradaban Hindu-Buddha ditemukan di kompleks candi Padang Lawas, yang merupakan kompleks candi terbesar di Sumatera Utara. Setidaknya ada enam biara/candi yang dapat diidentifikasi di wilayah Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara.

Lanskap sejarah kemudian bergeser dengan masuknya Islam dan berdirinya Kesultanan Deli. Simbol kejayaan kesultanan ini adalah Istana Maimun dan Masjid Al Mahsun. Kedua bangunan ini memadukan arsitektur Melayu dengan sentuhan India dan Timur Tengah, menciptakan landmark ikonik di Kota Medan.

Pada masa kolonial Belanda, struktur sosial dan ekonomi kembali berubah. Kekayaan dan dominasi etnis Tionghoa, yang diuntungkan oleh kebijakan kolonial, tercermin dalam cagar budaya seperti Rumah Tjong A Fie. Rumah ini dibangun pada tahun 1895 oleh pengusaha sukses Tjong A Fie dan kini berfungsi sebagai museum yang menyimpan artefak dan dokumen bersejarah dari era tersebut, menunjukkan peran etnis Tionghoa dalam sejarah Medan. Keberadaan berbagai museum, seperti Museum Gedung Arca yang menyimpan koleksi dari era prasejarah hingga masa perjuangan, menegaskan bahwa Sumatera Utara memiliki warisan budaya yang berlapis dan kompleks.

Kesimpulan

Analisis yang komprehensif ini mengonfirmasi bahwa Sumatera Utara adalah sebuah mozaik budaya yang dinamis, dibentuk oleh interaksi dan adaptasi berbagai etnis, baik pribumi maupun pendatang. Identitas etnis di provinsi ini tidaklah statis, melainkan terus berkembang seiring dengan narasi sejarah, politik, dan sosial. Penolakan identitas “Batak” oleh beberapa etnis adalah bukti nyata dari proses pembentukan identitas yang sensitif dan terus berubah. Di sisi lain, fenomena sinkretisme menunjukkan bahwa masyarakat telah mengembangkan strategi adaptif untuk mempertahankan kearifan lokal mereka di tengah pengaruh agama-agama formal.

Dengan kekayaan warisan budaya yang begitu beragam, mulai dari sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu dan Tolu Sahundulan, tarian ritual seperti Fahombo dan Sigale-Gale, kain simbolis Ulos, hingga akulturasi yang terlihat dalam kuliner, Sumatera Utara memiliki aset nasional yang sangat berharga. Namun, beberapa tradisi mulai langka dan memerlukan upaya pelestarian yang serius.

Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan komunitas lokal untuk mendokumentasikan, melindungi, dan mempromosikan warisan budaya ini. Peningkatan pariwisata budaya yang berkelanjutan, seperti melalui Festival Danau Toba  dan pertunjukan tradisional, dapat menjadi alat yang ampuh untuk memberdayakan komunitas dan memastikan kelangsungan budaya ini untuk generasi mendatang.

 

Daftar Pustaka :

  1. ETNIK TIONGHOA DIBANDAR RAYA MEDAN: KAJIAN TENTANG …, diakses Agustus 23, 2025, http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=810831&val=13268&title=ETNIK%20TIONGHOA%20DIBANDAR%20RAYA%20MEDAN%20KAJIAN%20TENTANG%20PANDANGAN%20MEREKA%20TERHADAP%20AGAMA%20ISLAM
  2. Islamisasi Etnik Tionghoa di Kota Medan, 1961-1998 | Sabrina | Warisan: Journal of History and Cultural Heritage, diakses Agustus 23, 2025, https://mahesainstitute.web.id/ojs2/index.php/warisan/article/view/578
  3. Daftar 8 Suku Asli di Sumatera Utara yang Wajib Diketahui – YouTube, diakses Agustus 23, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=x5YfXPLFzpc
  4. 8 Suku di Pulau Sumatera Utara, Nomor 7 Menolak Disebut Batak – iNews sumut, diakses Agustus 23, 2025, https://sumut.inews.id/berita/suku-di-sumatera-utara/all
  5. Mengenal Ciri Khas Kebudayaan Suku Batak: Warisan Leluhur yang Membanggakan, diakses Agustus 23, 2025, https://www.liputan6.com/feeds/read/5813481/mengenal-ciri-khas-kebudayaan-suku-batak-warisan-leluhur-yang-membanggakan
  6. 5 Upacara Tradisional Masyarakat Karo, Ada untuk Mengusir Roh Jahat – detikcom, diakses Agustus 23, 2025, https://www.detik.com/sumut/budaya/d-6258534/5-upacara-tradisional-masyarakat-karo-ada-untuk-mengusir-roh-jahat
  7. 5 Upacara Tradisional Suku Karo dan Tujuan Pelaksanaannya | kumparan.com, diakses Agustus 23, 2025, https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/5-upacara-tradisional-suku-karo-dan-tujuan-pelaksanaannya-22oPHWkAWeI
  8. 20 Alat Musik Sumatera Utara dan Cara Memainkannya – detikcom, diakses Agustus 23, 2025, https://www.detik.com/jabar/berita/d-6189752/20-alat-musik-sumatera-utara-dan-cara-memainkannya
  9. Budaya Simalungun dalam birokrasi – ETD UGM, diakses Agustus 23, 2025, https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/40397
  10. 7 Upacara Adat Simalungun yang Masih Dilestarikan | IDN Times Sumut, diakses Agustus 23, 2025, https://sumut.idntimes.com/life/education/7-upacara-adat-simalungun-yang-masih-dilestarikan-hingga-saat-ini-00-qzvn3-5n7stw
  11. Serunya Belajar 6 Kesenian Tradisional Medan Sambil Traveling!, diakses Agustus 23, 2025, https://bobobox.com/blog/kesenian-tradisional-medan/
  12. 5 Tarian Tradisional Sumatera Utara yang Wajib Diketahui Lengkap Beserta Penjelasannya, diakses Agustus 23, 2025, https://mamikos.com/info/tarian-tradisional-sumatera-utara-pljr/
  13. 11 Upacara Adat Sumatera Utara yang Unik & Masih Dilestarikan, diakses Agustus 23, 2025, https://bobobox.com/blog/upacara-adat-sumatra-utara/
  14. 5 Upacara Adat Sumatera Utara dan Keunikannya | kumparan.com, diakses Agustus 23, 2025, https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/5-upacara-adat-sumatera-utara-dan-keunikannya-22dsOyNMveu
  15. BERITA | Di HUT ke-43 Pujakesuma, Bobby Nasution: Keberadaan Etnis Jawa Sangat Penting & Strategis -.:: Pemko Medan ::., diakses Agustus 23, 2025, https://portal.medan.go.id/berita/di-hut-ke-43-pujakesuma-bobby-nasution-keberadaan-etnis-jawa-sangat-penting-strategis__read3383.html
  16. KEHIDUPAN MASYARAKAT PUJAKESUMA – Dl SUMATERA UTARA, diakses Agustus 23, 2025, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/10924/1/kehidupan%20masyarakat%20pujakesuma%20di%20sumatera%20utara.pdf
  17. Kotta Cinna, Jejak Perdagangan Abad ke-11 Sebelum Kota Medan Lahir – detikcom, diakses Agustus 23, 2025, https://www.detik.com/sumut/budaya/d-6612887/kotta-cinna-jejak-perdagangan-abad-ke-11-sebelum-kota-medan-lahir
  18. PENGARUH BUDAYA TIONGHOA TERHADAP KULINER DI KOTA MEDAN | Rudiansyah | Jurnal Cakrawala Mandarin, diakses Agustus 23, 2025, https://jurnal-apsmi.org/index.php/CM/article/view/110
  19. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kebebasan beragama dan penghayat kepercayaan diakui secara sah oleh negara melalui Undang-U, diakses Agustus 23, 2025, http://scholar.unand.ac.id/79891/2/bab%201.pdf
  20. Mengenal Struktur Kepercayaan Batak-Toba Halaman all – Kompasiana.com, diakses Agustus 23, 2025, https://www.kompasiana.com/parlinphn/65c73ed912d50f3b5e1a0c92/mengenal-struktur-kepercayaan-batak-toba?page=all&page_images=1
  21. Mendengarkan Adat Batak Toba: Berteologi Kontekstual tentang Adanya Keyakinan Relasi Orang Hidup dengan Roh Leluhur – Jurnal Christian Humaniora, diakses Agustus 23, 2025, https://e-journal.iakntarutung.ac.id/index.php/cultivation/article/download/2698/636
  22. Sinkretisme Agama dalam Komunitas Batak Toba: Studi Kualitatif terhadap Praktik Keagamaan – Jurnal Pendidikan Tambusai, diakses Agustus 23, 2025, https://jptam.org/index.php/jptam/article/download/29480/19553/49609
  23. Sinkretisme Agama dalam Komunitas Batak Toba: Studi Kualitatif terhadap Praktik Keagamaan | Jurnal Pendidikan Tambusai, diakses Agustus 23, 2025, https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/29480
  24. Mengenal Ulos, Kain Khas Masyarakat Batak yang Penuh Makna – detikcom, diakses Agustus 23, 2025, https://www.detik.com/sumut/budaya/d-6378374/mengenal-ulos-kain-khas-masyarakat-batak-yang-penuh-makna
  25. Kuliner Khas Melayu Sergai (Bagian I), diakses Agustus 23, 2025, https://mediacenter.serdangbedagaikab.go.id/2022/06/06/kuliner-khas-melayu-sergai-bagian-i/
  26. Padang Lawas, Situs Hindu-Budha Terbesar di … – Indonesia.go.id, diakses Agustus 23, 2025, https://indonesia.go.id/kategori/komoditas/1154/padang-lawas-situs-hindu-budha-terbesar-di-sumatera-utara
  27. Festival Danau Toba: Merayakan Keindahan Alam dan Budaya Batak – BATIQA Hotels, diakses Agustus 23, 2025, https://www.batiqa.com/id/read-article/eng-Festival-Danau-Toba-Merayakan-Keindahan-Alam-dan-Budaya-Batak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

61 + = 67
Powered by MathCaptcha