Perkeretaapian di Pulau Sumatra, sebuah sistem yang memiliki karakteristik unik dan sangat berbeda dari jaringan kereta api di Pulau Jawa. Secara fundamental, perkeretaapian Sumatra adalah sistem yang terfragmentasi dan berorientasi pada angkutan barang massal, bukan sebagai jaringan terintegrasi untuk angkutan penumpang. Jaringan yang ada di empat divisi regional PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) beroperasi secara semi-independen, dengan angkutan komoditas strategis seperti batubara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan semen menjadi pilar utama pendapatan.
Secara historis, perkeretaapian di Sumatra dikembangkan pada era kolonial untuk tujuan spesifik, yaitu mengangkut komoditas dari tambang dan perkebunan ke pelabuhan untuk diekspor. Model ini terus berlanjut hingga kini, yang ditunjukkan oleh dominasi angkutan batubara di Divisi Regional III (Sumatera Selatan) dan Divisi Regional IV (Tanjungkarang, Lampung). Data menunjukkan bahwa Divre III Palembang mengangkut 29,2 juta ton barang pada tahun 2024, mengalami kenaikan sebesar 11,8% dari tahun sebelumnya, yang menegaskan peran vitalnya dalam logistik nasional. Meskipun demikian, KAI juga mulai mengoptimalkan aset non-angkutan dan meningkatkan layanan penumpang di beberapa koridor, seperti layanan kereta api bandara di Sumatera Utara dan LRT di Sumatera Selatan.
Masa depan perkeretaapian Sumatra berada di bawah visi strategis proyek Jalur Kereta Api Trans-Sumatra. Proyek ini bertujuan untuk mengintegrasikan jaringan yang saat ini terputus, mengubah perkeretaapian dari “penghubung tambang ke pelabuhan” menjadi tulang punggung logistik dan konektivitas regional. Rencana Induk Perkeretaapian Nasional menargetkan ekspansi signifikan pada jaringan rel, namun implementasi ini menghadapi tantangan besar, termasuk isu-isu historis, teknis, dan finansial. Tantangan kritis lainnya adalah masalah standarisasi lebar rel, karena proyek-proyek baru mengadopsi ukuran 1.435 mm, berbeda dari jaringan yang ada saat ini sebesar 1.067 mm.
Mengingat kondisi ini, rekomendasi utama laporan ini adalah mendorong investasi berkelanjutan pada modernisasi infrastruktur dan teknologi angkutan barang yang sudah ada. Optimalisasi model bisnis angkutan barang harus terus menjadi prioritas, sambil secara paralel mempercepat proyek strategis seperti reaktivasi jalur dan pembangunan Trans-Sumatra. Sinergi yang kuat antara PT KAI, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah sangat penting untuk mengatasi tantangan dan mewujudkan potensi perkeretaapian Sumatra sebagai koridor ekonomi yang kuat dan efisien.
Pendahuluan
Transportasi darat memainkan peran krusial dalam mobilitas penduduk dan distribusi logistik di Indonesia, terutama di pulau-pulau besar. Di Pulau Sumatra, yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, perkeretaapian memiliki peran yang sangat strategis sebagai alat vital untuk pergerakan komoditas massal. Berbeda dengan jaringan kereta api di Pulau Jawa yang telah lama terintegrasi dan berfokus pada angkutan penumpang, sistem di Sumatra dikarakterisasi oleh jaringan yang terfragmentasi, yang secara historis dirancang untuk melayani kebutuhan industri tertentu. Analisis yang mendalam terhadap perkeretaapian di Sumatra menyoroti dinamika yang unik ini, di mana angkutan barang menjadi motor penggerak utama operasional.
Laporan ini bertujuan untuk menyajikan tinjauan yang komprehensif dan mendalam mengenai lanskap perkeretaapian Sumatra. Cakupannya melampaui deskripsi superfisial dengan menyajikan analisis multi-dimensi, mencakup konteks historis yang membentuk jaringan saat ini, struktur operasional di bawah PT KAI, peran krusial dalam rantai logistik nasional, serta proyek-proyek pengembangan di masa depan yang akan mengubah perannya. Laporan ini juga mengidentifikasi tantangan dan peluang strategis yang dihadapi oleh sektor ini.
Pendekatan penyusunan laporan ini didasarkan pada sintesis data yang cermat dari berbagai sumber tepercaya, termasuk dokumen teknis, laporan perusahaan, dan artikel berita. Informasi dari sumber-sumber tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi pola, hubungan sebab-akibat, dan implikasi yang lebih luas, sehingga laporan ini dapat menawarkan wawasan yang bernuansa dan rekomendasi yang berharga bagi para pemangku kepentingan.
Sejarah dan Evolusi Perkeretaapian Sumatra
Fragmentasi Jaringan di Era Kolonial
Sejarah perkeretaapian Sumatra secara fundamental menjelaskan karakteristiknya saat ini sebagai jaringan yang terfragmentasi. Pembangunan rel di pulau ini tidak pernah dimaksudkan sebagai satu kesatuan yang terintegrasi, melainkan sebagai alat logistik untuk eksploitasi dan pengangkutan komoditas ekspor dari daerah kaya sumber daya. Ini adalah model yang sangat berbeda dari pendekatan pembangunan jaringan di Jawa. Jalur kereta api pertama di Sumatra dibangun pada era kolonial Belanda. Jaringan ini dimulai di Aceh pada tahun 1876, diikuti oleh Sumatera Utara pada tahun 1889, Sumatera Barat pada tahun 1891, dan Sumatera Selatan pada tahun 1914.
Pembangunan ini dipelopori oleh perusahaan-perusahaan swasta dan pemerintah kolonial yang beroperasi secara terpisah. Di Sumatera Utara, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) mendirikan jaringan untuk mengangkut komoditas seperti karet dan tembakau. Sementara itu, di Sumatera Barat, pembangunan rel didorong oleh ditemukannya batubara Ombilin. Jaringan di sana secara khusus dirancang dengan sistem rel gigi (rack railway) untuk menavigasi medan yang curam dan berbukit, yang menunjukkan fokus utama pada rekayasa teknis untuk tujuan eksploitasi sumber daya. Kondisi ini menciptakan sistem yang terdiri dari jaringan-jaringan yang terputus-putus, sebuah anomali yang masih terlihat hingga saat ini.
Pada masa pendudukan Jepang, proyek pembangunan rel tambahan sempat dilakukan, seperti Jalur Kereta Api Muaro-Pekanbaru sepanjang 220 km, yang dibangun untuk menghubungkan Selat Malaka dengan Padang. Jalur ini, yang dikenal sebagai “Jalur Kereta Api Maut Pekanbaru”, selesai tepat pada hari penyerahan Jepang, namun tidak pernah sepenuhnya dimanfaatkan dan kini dalam keadaan tidak aktif. Keberadaan jalur-jalur bersejarah yang terbengkalai ini menunjukkan bagaimana kepentingan strategis historis menjadi cetak biru bagi infrastruktur perkeretaapian yang ada.
Linimasa Pasca-Kemerdekaan hingga Transformasi Modern
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, berbagai sistem kereta api yang terpisah, kecuali Deli Spoorweg Maatschappij, digabungkan menjadi Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada tahun 1953. Seluruh jaringan nasional, termasuk Deli Spoorweg Maatschappij, dinasionalisasi pada tahun 1958 di bawah Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), yang kemudian mengalami beberapa kali perubahan nama dan status, dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tahun 1971, Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) pada tahun 1991, hingga menjadi PT Kereta Api (Persero) pada tahun 1999.
Transformasi kelembagaan ini menandakan pergeseran signifikan dari entitas pelayanan publik menjadi perusahaan terbatas yang berorientasi bisnis dan profit. Pergeseran ini menjadi kunci untuk memahami strategi PT KAI saat ini, termasuk diversifikasi pendapatan di luar angkutan penumpang dan barang. Contoh dari strategi ini adalah optimalisasi aset non-angkutan, seperti pengelolaan aset tanah dan bangunan. Divisi Regional I Sumatera Utara, misalnya, berhasil menertibkan aset lahan dan bangunan senilai Rp51,5 miliar pada tahun 2025. Demikian pula, Divre III Palembang berhasil mensertipikatkan lahan seluas 2,29 juta meter persegi senilai Rp524,4 miliar dan memperkenalkan layanan inovatif seperti drive-thru untuk penagihan sewa aset. Strategi ini menunjukkan komitmen KAI untuk mengelola asetnya secara transparan dan efektif demi keberlanjutan operasional perusahaan.
Tabel 1: Linimasa Perusahaan Kereta Api di Indonesia
Nama Perusahaan/Badan | Tahun Operasional | Keterangan Singkat |
Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) | 1863-1958 | Perusahaan swasta pertama di era kolonial. |
Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) | Kolonial | Perusahaan swasta di Sumatera Utara. |
Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) | 1945–1950 | Badan kereta api pertama setelah kemerdekaan. |
Djawatan Kereta Api (DKA) | 1950–1963 | Penerus DKARI, melakukan nasionalisasi pada tahun 1958. |
Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) | 1963–1971 | Perusahaan negara yang fokus pada modernisasi. |
Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) | 1971–1991 | Transisi ke entitas layanan publik. |
Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) | 1991–1999 | Menjadi perusahaan umum. |
PT Kereta Api (Persero) | 1999–Sekarang | Berstatus perseroan terbatas, berorientasi bisnis. |
Struktur Operasional dan Jaringan Saat Ini di Sumatra
Operasional perkeretaapian PT KAI di Sumatra saat ini dikelola oleh empat Divisi Regional (Divre) yang beroperasi secara terpisah. Jaringan rel di pulau ini memiliki total Panjang 1.869 km, dengan 1.348 km di antaranya masih beroperasi. Setiap divisi memiliki fokus operasional dan strategis yang berbeda, yang mencerminkan karakteristik ekonomi dan geografis wilayahnya.
Divisi Regional I (Sumatera Utara)
Berpusat di Medan, Divre I melayani wilayah strategis seperti Kota Medan, Binjai, dan sekitarnya. Jaringannya mencakup rute-rute penting seperti Medan-Tebing Tinggi, Tebing Tinggi-Kisaran, dan Kisaran-Rantauprapat. Salah satu layanan utamanya adalah KA Bandara Kualanamu, yang menghubungkan Stasiun Medan dengan Bandara Kualanamu. Layanan ini juga telah diintegrasikan dengan KA Srilelawangsa dan menerima subsidi Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah, menunjukkan upaya untuk meningkatkan pilihan transportasi publik bagi masyarakat.
Pada tahun 2009, terdapat laporan bahwa pengusaha perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara enggan menggunakan jalur kereta api untuk mengangkut CPO karena infrastruktur yang buruk dan risiko kecelakaan yang tinggi. Namun, laporan terbaru menunjukkan upaya KAI Divre I dalam mengatasi masalah lain, yaitu pengelolaan aset non-angkutan. Keberhasilan menertibkan lahan dan bangunan yang tidak berhak dimanfaatkan menunjukkan pergeseran fokus strategis perusahaan untuk mengoptimalkan pendapatan dari aset yang dimiliki. Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan penegak hukum. Upaya ini mencerminkan langkah korporat yang melampaui sekadar operasional kereta, menunjukkan adanya perbaikan manajemen aset yang penting untuk mendukung kelangsungan bisnis secara keseluruhan.
Divisi Regional II (Sumatera Barat)
Berpusat di Padang, Divre II melayani wilayah Sumatera Barat. Layanan utamanya adalah KA Minangkabau Express yang menghubungkan Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau, serta KA Sibinuang yang melayani rute Padang-Naras. Divre ini aktif mengupayakan reaktivasi jalur-jalur nonaktif. Contohnya adalah reaktivasi jalur Pariaman-Naras yang diresmikan oleh Kementerian Perhubungan. Selain itu, jalur Sawahlunto-Batu Tabal juga diusulkan untuk direaktivasi dalam rencana strategis 2025-2029.
Potensi angkutan barang di Divre II sangat besar, terutama untuk angkutan CPO. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah mendukung rencana PT KAI untuk mengoperasikan kereta api pengangkut CPO dari Naras, Pariaman, ke Pelabuhan Teluk Bayur. Layanan ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan dan kerusakan jalan yang disebabkan oleh truk angkutan CPO, sehingga menghemat anggaran pemeliharaan jalan pemerintah daerah dan memberikan manfaat ekonomi ganda. Hal ini menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara strategi bisnis KAI dalam angkutan barang dengan agenda pembangunan infrastruktur yang lebih luas di tingkat provinsi.
Divisi Regional III (Sumatera Selatan) & Divisi Regional IV (Tanjungkarang)
Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang, meskipun terpisah secara administratif, mengoperasikan jaringan rel yang saling terhubung dan sangat krusial bagi angkutan barang massal di Sumatera Bagian Selatan. Jaringan ini berfungsi sebagai tulang punggung logistik, terutama untuk angkutan batubara dan semen. Stasiun Kertapati di Palembang (Divre III) dan Stasiun Tanjungkarang di Lampung (Divre IV) berfungsi sebagai hub utama.
Peran dominan angkutan batubara di koridor ini bukanlah fenomena baru. Sebuah proyek rehabilitasi jalur Tanjungenim-Kertapati sudah dilakukan sejak tahun 1959, di mana rel lama tipe R25 diganti dengan rel tipe R42 yang lebih kuat, dan gerbong batubara baru didatangkan dari Rumania. Langkah-langkah modernisasi serupa terus berlanjut hingga kini. Pada tahun 2024, Divre III Palembang mengganti 131.500 meter rel baru dan menambahkan 61.060 meter kubik balas untuk meningkatkan stabilitas rel. Komitmen ini, ditambah dengan kedatangan 60 gerbong datar baru pada tahun 2025 , menunjukkan bahwa KAI terus berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi angkutan batubara di wilayah ini. Divre IV sendiri mengangkut lebih dari 25,4 juta ton batubara di Lampung pada tahun 2023. Kedua divisi ini merupakan mesin logistik utama PT KAI yang secara kuantitatif membuktikan peran vital mereka dalam perekonomian regional.
Tabel 2: Ringkasan Operasional Empat Divisi Regional di Sumatra
Divisi Regional | Kedudukan | Wilayah Kerja | Fokus Operasional | Layanan Utama | Catatan Strategis |
I Medan | Sumatera Utara | Mebidangro, Binjai, Rantau Prapat, Pematangsiantar | Penumpang dan barang | KA Bandara Kualanamu, Srilelawangsa | Diversifikasi ke optimalisasi aset non-angkutan |
II Padang | Sumatera Barat | Padang, Pariaman, Bukittinggi, Sawahlunto | Penumpang dan barang (potensial) | KA Minangkabau Express, Sibinuang | Reaktivasi jalur dan angkutan CPO |
III Palembang | Sumatera Selatan & Bengkulu | Patungraya Agung, Palembang, Lahat, Lubuk Linggau | Angkutan barang dominan | Angkutan batubara dan semen | Peningkatan kapasitas rel dan gerbong untuk angkutan batubara |
IV Tanjungkarang | Lampung & Sumatera Selatan | Lampung Selatan, Way Kanan, Ogan Komering Ulu | Angkutan barang dominan | Angkutan batubara Prabumulih-Panjang | Mengangkut jutaan ton batubara ke Pelabuhan Tarahan |
Analisis Angkutan Barang dan Logistik
Perkeretaapian di Sumatra secara esensial adalah tulang punggung untuk angkutan komoditas strategis. Model bisnisnya sangat didominasi oleh angkutan barang massal, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan KAI dan efisiensi logistik nasional. Angkutan batubara, semen, dan CPO merupakan lini bisnis utama yang menopang operasional di seluruh divisi regional.
Dominasi angkutan batubara sangat terlihat di Divre III dan IV. Pada tahun 2024, total angkutan barang di Divre III Palembang mencapai 29.198.824 ton, sebuah peningkatan substansial sebesar 11,8% dari tahun sebelumnya. Mayoritas volume ini berasal dari angkutan batubara yang dipindahkan dari wilayah pertambangan seperti Tanjung Enim ke pelabuhan. Divre IV juga menunjukkan peran yang serupa, dengan 25,4 juta ton batubara diangkut di wilayah Lampung sepanjang tahun 2023. Angkutan semen juga memiliki peran penting, seperti layanan relasi Stasiun Kertapati-Stasiun Tigagajah untuk Semen Baturaja dan Stasiun Bukit Putus-Stasiun Indarung untuk Semen Padang.
Keunggulan kompetitif kereta api dalam logistik komoditas massal sangat jelas. Berdasarkan penelitian, angkutan kereta api memiliki biaya per ton/km yang lebih murah untuk beban besar dan jarak jauh dibandingkan moda truk. Meskipun truk menawarkan fleksibilitas untuk menjangkau lokasi tambang tertentu, penggunaan rel oleh KAI, khususnya melalui anak perusahaan
KAI Logistik , memberikan manfaat ganda. Selain efisiensi ekonomi bagi perusahaan, hal ini juga menciptakan eksternalitas positif bagi masyarakat. Penggunaan kereta api secara massal untuk angkutan batubara dan CPO secara efektif mengurangi lalu lintas truk di jalan raya, yang pada gilirannya dapat mengurangi kemacetan, kerusakan jalan, dan kecelakaan, sehingga menghemat anggaran pemeliharaan jalan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal ini menjadikan perkeretaapian sebagai solusi logistik yang lebih berkelanjutan.
Tabel 3: Volume Angkutan Barang dan Jenis Komoditas Berdasarkan Divisi Regional
Divisi Regional | Jenis Komoditas Utama | Lintas Relasi Kunci | Volume Angkutan Tahunan |
Divre I | Kelapa Sawit (potensi) | Medan-Belawan (historis) | Data tidak tersedia |
Divre II | CPO (potensi) | Naras-Pelabuhan Teluk Bayur | Data tidak tersedia |
Divre III | Batubara, Semen | Kertapati-Lubuk Linggau, Kertapati-Lahat, Kertapati-Tigagajah | 29.198.824 ton (2024) |
Divre IV | Batubara | Prabumulih-Panjang, Pidada-Tarahan | 25.426.944 ton (2023) |
Pengembangan dan Masa Depan Perkeretaapian Sumatra
Visi strategis untuk masa depan perkeretaapian Sumatra berpusat pada proyek Jalur Kereta Api Trans-Sumatra. Rencana ini, yang berbeda dari proyek Jalan Tol Trans-Sumatra, bertujuan untuk mengintegrasikan jaringan-jaringan rel yang saat ini terputus di seluruh pulau. Rencana Induk Perkeretaapian Nasional menargetkan perpanjangan jaringan rel secara nasional hingga 10.524 km pada tahun 2030, dengan Sumatra memainkan peran kunci dalam ekspansi ini. Proyek ini akan menghubungkan empat jaringan yang ada dan menciptakan koridor utama yang membentang dari Aceh hingga Lampung.
Proyek-proyek pembangunan baru telah dimulai untuk mewujudkan visi ini. Salah satu yang paling menonjol adalah pembangunan jalur rel yang akan menghubungkan Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara. Jalur ini, yang akan membentang dari Banda Aceh ke Medan, akan mencakup Pembangunan 40 stasiun baru. Selain pembangunan jalur baru, terdapat pula upaya signifikan untuk mereaktivasi jalur-jalur nonaktif yang memiliki nilai historis dan potensi ekonomi. Di Sumatera Barat, pemerintah telah mengusulkan reaktivasi jalur
Sawahlunto-Batu Tabal dan Muaro-Pekanbaru. Jalur terakhir, meskipun dibangun oleh Jepang pada masa lalu, kini dikaji kembali oleh Kementerian Perhubungan untuk mendukung konektivitas regional.
Salah satu tantangan teknis terbesar dalam mewujudkan jaringan Trans-Sumatra yang terintegrasi adalah masalah standarisasi lebar rel. Jaringan yang ada di Sumatra saat ini menggunakan lebar 1.067 mm. Namun, proyek-proyek perkeretaapian baru di Indonesia, termasuk yang sedang dibangun di Sulawesi dan Jabodebek LRT, menggunakan lebar 1.435 mm. Perbedaan ini menciptakan hambatan besar untuk interoperabilitas dan konektivitas. Pembangunan jaringan Trans-Sumatra sebagai satu kesatuan akan membutuhkan solusi teknis yang kompleks, seperti konversi rel atau penggunaan system dual-gauge yang akan memerlukan investasi besar dan perencanaan yang cermat.
Tabel 4: Proyek Strategis Perkeretaapian di Sumatera
Nama Proyek | Divisi Regional/Lokasi | Jenis Proyek | Rute | Status/Target Penyelesaian | Keterangan |
Trans-Sumatra Railway | Seluruh pulau | Pembangunan baru & reaktivasi | Aceh-Lampung | Jangka panjang, pasca-2030 | Menghubungkan empat jaringan terpisah |
Jalur Banda Aceh-Medan | Aceh & Sumatera Utara | Pembangunan baru | Banda Aceh-Medan | Tahap perencanaan dan pembangunan | Akan dilengkapi dengan 40 stasiun baru |
Reaktivasi Jalur Naras-Sungai Limau | Sumatera Barat (Divre II) | Reaktivasi | Naras-Sungai Limau | Selesai dan diresmikan | Mendukung angkutan CPO dan penumpang lokal |
Reaktivasi Jalur Sawahlunto-Batu Tabal | Sumatera Barat (Divre II) | Reaktivasi | Sawahlunto-Batu Tabal | Diusulkan dalam rencana strategis 2025-2029 | Berpotensi untuk angkutan batubara dan wisata |
Peningkatan Lintas Tanjungenim-Kertapati | Sumatera Selatan (Divre III) | Peningkatan infrastruktur | Tanjungenim-Kertapati | Sedang berlangsung | Mengganti 131.500 meter rel baru |
Tantangan dan Peluang
Sektor perkeretaapian di Sumatra menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai potensi penuhnya. Masalah infrastruktur dan keamanan telah menjadi isu historis, seperti yang terlihat dari keengganan pengusaha kelapa sawit di Sumatera Utara pada tahun 2009 untuk menggunakan kereta api karena kekhawatiran akan kecelakaan dan kondisi rel yang buruk. Meskipun ada upaya perbaikan, keandalan dan keamanan jalur tetap menjadi faktor krusial untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan dan volume angkutan.
Tantangan operasional lainnya adalah pengelolaan aset tanah. Sejarah panjang KAI sebagai entitas yang berevolusi dari jawatab (organisasi pemerintah) menjadi persero (perusahaan terbatas) telah meninggalkan warisan berupa aset tanah yang luas namun seringkali tidak terkelola dengan optimal. Divre I dan Divre III telah menunjukkan keberhasilan besar dalam menertibkan aset ini, tetapi proses ini masih merupakan tantangan berkelanjutan yang membutuhkan strategi manajemen yang kuat dan kerja sama dengan pihak berwenang. Optimalisasi aset tanah tidak hanya melindungi properti perusahaan tetapi juga membuka peluang baru untuk diversifikasi pendapatan, seperti melalui kerja sama komersial.
Peluang strategis bagi perkeretaapian Sumatra sangatlah besar, terutama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional. Dengan fokusnya pada angkutan barang, KAI dapat terus berperan sebagai koridor ekonomi yang menghubungkan sentra-sentra produksi dengan pelabuhan. Model ini telah terbukti sukses secara historis dengan batubara dan semen. Peluang lainnya adalah integrasi multi-moda, di mana layanan kereta api dapat disinergikan dengan moda transportasi lain, seperti jalan tol dan pelabuhan. Hal ini akan menciptakan rantai logistik yang lebih efisien dan terpadu, yang pada akhirnya akan meningkatkan konektivitas domestik. Diversifikasi pendapatan, seperti yang telah dilakukan KAI Divre III dengan layanan drive-thru untuk penagihan sewa aset, menunjukkan komitmen perusahaan untuk tidak hanya mengandalkan angkutan sebagai satu-satunya sumber pendapatan, yang merupakan strategi yang vital untuk keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Kesimpulan
Perkeretaapian di Sumatra berada di persimpangan jalan historis. Jaringan ini, yang secara fundamental dibentuk oleh kebutuhan logistik di era kolonial, kini sedang dalam proses transformasi untuk menjadi tulang punggung konektivitas regional. Temuan laporan ini menunjukkan bahwa perkeretaapian Sumatra saat ini adalah sistem yang terfragmentasi, berfokus pada angkutan barang massal, dan dikelola oleh divisi regional yang beroperasi secara semi-independen. Meskipun demikian, KAI telah menunjukkan komitmen untuk modernisasi melalui peningkatan kapasitas angkutan barang dan diversifikasi pendapatan.
Untuk mewujudkan potensi perkeretaapian Sumatra sebagai jaringan yang terintegrasi dan efisien, beberapa rekomendasi strategis perlu dipertimbangkan:
- Untuk PT KAI: Terus memprioritaskan modernisasi dan peningkatan kapasitas jalur angkutan barang yang sudah ada, terutama untuk komoditas batubara dan CPO. Mengingat angkutan barang adalah pilar utama pendapatan, investasi di bidang ini akan memastikan keberlanjutan operasional perusahaan. Pada saat yang sama, terus mengoptimalkan aset non-angkutan melalui strategi komersialisasi yang inovatif.
- Untuk Pemerintah Pusat dan Daerah: Mempercepat implementasi proyek Jalur Kereta Api Trans-Sumatra sesuai dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional. Penting untuk menyelesaikan isu-isu teknis seperti standarisasi lebar rel guna memastikan interoperabilitas jaringan di masa depan. Kerangka regulasi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan KAI akan mempercepat pembangunan infrastruktur ini dan menarik investasi.
- Untuk Investor: Mengidentifikasi peluang investasi dalam proyek infrastruktur logistik yang selaras dengan visi Trans-Sumatra. Proyek-proyek seperti pembangunan atau reaktivasi jalur rel angkutan komoditas, serta pengembangan sarana dan prasarana penunjang, menawarkan prospek yang menjanjikan dalam mendukung rantai pasok regional dan nasional.
Daftar Pustaka :
- Penerapan Teknologi Rel Kereta Api di Sumatera Barat – Analisis Sejarah, diakses Agustus 23, 2025, https://jas.fib.unand.ac.id/index.php/JAS/article/download/128/93
- KAI Divre I Sumut Selamatkan Aset Negara Rp51 Miliar Tahun Ini – Media Indonesia, diakses Agustus 23, 2025, https://mediaindonesia.com/nusantara/782116/kai-divre-i-sumut-selamatkan-aset-negara-rp51-miliar-tahun-ini
- KAI Divre III Palembang Amankan Aset Negara Senilai Rp524 Miliar, Ribuan Hektare Lahan Telah Bersertipikat – RMOLSUMSEL.ID, diakses Agustus 23, 2025, https://www.rmolsumsel.id/kai-divre-iii-palembang-amankan-aset-negara-senilai-rp524-miliar-ribuan-hektare-lahan-telah-bersertipikat
- Tahukah Anda? KAI Palembang Hadirkan Layanan Drive Thru Penagihan Kontrak Sewa Aset, Mudahkan 333 Debitur! – Planet, diakses Agustus 23, 2025, https://planet.merdeka.com/hot-news/tahukah-anda-kai-palembang-hadirkan-layanan-drive-thru-penagihan-kontrak-sewa-aset-mudahkan-333-debitur-377731-mvk.html
- Gubsu Sambut Baik Tahun Ini Kemenhub Bangun 231 Km Jalur Rel Baru, diakses Agustus 23, 2025, https://www.sumutprov.go.id/artikel/artikel/gubsu-sambut-baik-tahun-ini-kemenhub-bangun-231-km-jalur-rel-baru
- BAB II GAMBARAN UMUM PT.KERETA API INDONESIA (PERSERO) DIVRE I SUMATERA UTARA, diakses Agustus 23, 2025, https://eprints.undip.ac.id/58915/2/BAB_II.pdf
- Pengusaha Perkebunan Enggan Memakai KA – KOMPAS.com, diakses Agustus 23, 2025, https://nasional.kompas.com/read/2009/02/09/18202922/pengusaha.perkebunan.enggan.memakai.ka
- Divre II (West Sumatra Regional Division II) Padang – RailTravel Station, diakses Agustus 23, 2025, https://railtravelstation.com/pt-kai/divre-ii-padang/
- Reaktivasi Selesai, Menhub Resmikan Pengoperasian Jalur KA Sumatera Barat Rute Pariaman-Naras – Kementerian Perhubungan, diakses Agustus 23, 2025, https://dephub.go.id/post/read/reaktivasi-selesai,-menhub-resmikan-pengoperasian-jalur-ka-sumatera-barat-rute-pariaman-naras
- Jalur KA Sawahlunto-Batu Tabal masuk usulan reaktivasi 2025-2029 – ANTARA News, diakses Agustus 23, 2025, https://www.antaranews.com/video/3834120/jalur-ka-sawahlunto-batu-tabal-masuk-usulan-reaktivasi-2025-2029
- Gubernur dukung operasional KA CPO di Sumbar – ANTARA News Sumatera Barat, diakses Agustus 23, 2025, https://sumbar.antaranews.com/berita/569190/gubernur-dukung-operasional-ka-cpo-di-sumbar
- KAI Divre III Palembang Datangkan 60 Gerbong Datar untuk Perkuat Angkutan Batu Bara di Sumatera Selatan – Palpos.id, diakses Agustus 23, 2025, https://palpos.disway.id/read/697651/kai-divre-iii-palembang-datangkan-60-gerbong-datar-untuk-perkuat-angkutan-batu-bara-di-sumatera-selatan
- PT KAI Angkut 25,4 Juta Ton Batubara di Lampung – Berdikari.co, diakses Agustus 23, 2025, https://berdikari.co/2024/02/07/pt-kai-angkut-254-juta-ton-batubara-di-lampung
- Rehabilitasi Jalan Rel di Sumatera Selatan – RODA SAYAP, diakses Agustus 23, 2025, https://roda-sayap.com/rehabilitasi-jalan-rel-di-sumatera-selatan/
- KAI Palembang ganti rel baru 131.500 meter selama 2024 – ANTARA News, diakses Agustus 23, 2025, https://www.antaranews.com/berita/4604086/kai-palembang-ganti-rel-baru-131500-meter-selama-2024
- INOVASI dan PEMBANGUNAN – JURNAL KELITBANGAN VOL.03 NO. 01, diakses Agustus 23, 2025, http://repository.lppm.unila.ac.id/27924/3/ISI.pdf
- Bukit Asam (PTBA) dan KAI Logistik Teken Kerja Sama Jasa Bongkar Muat Batu Bara, diakses Agustus 23, 2025, https://www.ptba.co.id/berita/bukit-asam-ptba-dan-kai-logistik-teken-kerja-sama-jasa-bongkar-muat-batu-bara-2014
- 15 Sections of The Sumatera Toll Road – KPPIP, diakses Agustus 23, 2025, https://kppip.go.id/en/priority-projects/road/15-sections-of-the-sumatera-toll-road/
- Trans-Sumatra Toll Road – Wikipedia, diakses Agustus 23, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Trans-Sumatra_Toll_Road
- Rencana-Induk-Perkeretaapian-Nasional.pdf – DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI BALI, diakses Agustus 23, 2025, https://dishub.baliprov.go.id/wp-content/uploads/2022/11/Rencana-Induk-Perkeretaapian-Nasional.pdf
- BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Transportasi perkeretaapian mempunyai banyak keunggulan dibanding transportasi jalan lainn, diakses Agustus 23, 2025, http://scholar.unand.ac.id/13293/2/BAB%20I.pdf
- Trans-Sumatra Railway – Future Southeast Asia, diakses Agustus 23, 2025, https://futuresoutheastasia.com/trans-sumatra-railway/
- Aceh dan Sumatera Utara Akan Terhubung Kereta Api – PT INKA, diakses Agustus 23, 2025, https://www.inka.co.id/artikel/aceh-dan-sumatera-utara-akan-terhubung-kereta-api
- Dukung Distribusi Logistik Aceh, Kadishub Aceh Pantau Percepatan Pembangunan Jalur Kereta Api Aceh – Dishub – Dinas Perhubungan Aceh, diakses Agustus 23, 2025, https://dishub.acehprov.go.id/2022/08/06/dukung-distribusi-logistik-aceh-kadishub-aceh-pantau-percepatan-pembangunan-jalur-kereta-api-aceh/
- Jalur Kereta Api Trans Sumatera Akan Segera Digarap – Kementerian Perhubungan, diakses Agustus 23, 2025, https://dephub.go.id/post/read/jalur-kereta-api-trans-sumatera-akan-segera-digarap