Revolusi Prancis, yang terjadi antara tahun 1787 dan 1799, merupakan salah satu titik balik paling fundamental dalam sejarah modern. Peristiwa ini secara radikal mengubah cara hubungan antara penguasa dan rakyat, serta menetapkan landasan bagi konsep-konsep dasar seperti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan (Liberté, Égalité, Fraternité) yang menjadi fondasi demokrasi modern. Gerakan revolusioner ini tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil dari konvergensi unik dan kompleks dari berbagai krisis yang bersifat struktural dan situasional. Tesis utama dari laporan ini adalah bahwa Revolusi Prancis adalah konsekuensi yang tak terhindarkan dari sistem yang sudah rapuh secara internal, dipercepat oleh krisis eksternal yang parah, dan difasilitasi oleh gelombang ide-ide baru yang memberikan rakyat sebuah “cetak biru” untuk masa depan yang berbeda. Analisis ini akan secara sistematis mengupas setiap faktor tersebut, menunjukkan bagaimana mereka saling berinteraksi dan mengalir dalam sebuah alur peristiwa yang koheren hingga meletusnya pergolakan.

Latar Belakang Struktural: Pondasi Ketidakstabilan yang Rapuh (Ancien Régime)

Sistem sosial, politik, dan ekonomi Prancis sebelum Revolusi, yang dikenal sebagai Ancien Régime, telah dibangun di atas fondasi yang sangat tidak stabil. Ketidakseimbangan yang mengakar ini menciptakan ketegangan yang hanya menunggu pemicu yang tepat untuk meledak.

Sistem Sosial Feodal (Tiga Golongan): Ketidaksetaraan yang Merajalela

Masyarakat Prancis pada abad ke-18 terstruktur secara kaku menjadi tiga golongan (Estates) yang didasarkan pada hak istimewa yang diwariskan, bukan pada kemampuan atau kekayaan. Struktur ini memecah masyarakat menjadi tiga kelompok utama:

  • Golongan Pertama: Terdiri dari rohaniwan (pendeta, biarawan, dan pejabat gereja). Meskipun jumlahnya sangat minoritas, mereka memegang kekuasaan dan pengaruh yang besar.
  • Golongan Kedua: Terdiri dari kaum bangsawan dan aristokrat. Golongan ini juga merupakan minoritas yang menikmati hak-hak istimewa turun-temurun.
  • Golongan Ketiga: Merupakan kelompok yang paling besar, mencakup sekitar 97% dari total populasi Prancis yang berjumlah sekitar 25 juta jiwa. Kelompok ini terdiri dari beragam lapisan masyarakat, mulai dari kaum borjuis yang makmur (pedagang, pengusaha, profesional), petani, hingga buruh miskin.

Dua golongan teratas—rohaniwan dan bangsawan—menikmati hak-hak istimewa yang luas, yang paling menonjol adalah pengecualian dari sebagian besar pajak. Sebaliknya, Golongan Ketiga, yang merupakan mayoritas populasi dan menanggung seluruh beban ekonomi negara, dikenakan pajak yang sangat berat dan tidak proporsional. Kondisi ini menciptakan kecemburuan sosial yang mendalam, di mana rakyat merasa “seperti ‘sapi perahan'” karena harus menanggung beban yang sangat berat sementara penghasilan dan upah mereka stagnan di tengah kenaikan harga.

Tabel di bawah ini memvisualisasikan ketidaksetaraan yang terjadi dalam struktur sosial tersebut:

Golongan Komposisi Hak Istimewa Beban Pajak
Golongan Pertama Rohaniwan Kekuasaan besar, kepemilikan tanah, hak-hak istimewa, pengecualian pajak Dibebaskan dari sebagian besar pajak
Golongan Kedua Bangsawan Hak atas tanah yang luas, posisi politik dan militer, pengecualian pajak Dibebaskan dari sebagian besar pajak
Golongan Ketiga Borjuis, petani, buruh, rakyat jelata (97% populasi) Sedikit atau tidak ada hak istimewa, tidak punya hak memegang jabatan Menanggung beban pajak paling berat dan tidak proporsional

Ketidakadilan sosial bukanlah masalah terpisah dari krisis keuangan, melainkan merupakan akar penyebabnya. Sistem pajak yang regresif ini secara langsung menghambat upaya negara untuk mengatasi kebangkrutan. Menteri keuangan seperti Jacques Necker dan Charles Alexandre de Calonne menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyeimbangkan keuangan adalah dengan mengenakan pajak pada kaum bangsawan dan rohaniwan yang kaya. Namun, setiap upaya reformasi ini secara konsisten ditolak oleh parlemen yang dikuasai oleh kaum elite, menunjukkan bahwa system Ancien Régime secara fundamental tidak mampu mereformasi dirinya sendiri. Frustrasi ini tidak hanya dirasakan oleh para petani miskin, tetapi juga oleh kaum borjuis yang sukses secara ekonomi, tetapi tidak memiliki suara politik yang setara dengan status sosial mereka.

Monarki Absolut yang Gagal dan Lemahnya Kepemimpinan Louis XVI

Meskipun kekuasaan monarki Prancis secara teori bersifat absolut, dalam praktiknya, kepemimpinan Raja Louis XVI jauh dari kata kuat atau efektif. Louis XVI digambarkan sebagai seorang raja yang pemalu, tidak memiliki karisma, dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Ia lebih menyukai hal-hal teknis seperti ilmu terapan, fisika, dan pembuatan kunci, dibandingkan dengan tugas-tugas politik yang mendesak. Ketidaksesuaian ini membuatnya tidak mampu mengelola krisis yang semakin meningkat.

Kelemahan raja diperparah oleh reputasi Ratu Marie Antoinette. Dikenal dengan julukan “Madame Deficit,” ia menjadi simbol pemborosan istana di tengah penderitaan rakyat. Marie Antoinette sering dituduh menghambur-hamburkan uang untuk pesta dan perhiasan, yang secara efektif memicu kebencian publik yang sudah mendidih. Kerusakan reputasi raja dan ratu, yang diperkuat oleh rumor dan skandal, melemahkan kepercayaan rakyat terhadap monarki.

Kegagalan Louis XVI bukanlah sekadar masalah pribadi, tetapi merupakan kegagalan sistematis. Monarki absolut seharusnya menjadi pusat kekuasaan dan stabilitas, tetapi ketidakmampuan raja untuk memimpin dan melakukan reformasi menunjukkan kepada rakyat bahwa sistem itu sendiri sudah tidak berfungsi. Kontradiksi antara kekuasaan absolut yang seharusnya dipegangnya dengan keraguannya dalam menghadapi oposisi menciptakan “kekosongan kekuasaan” yang berbahaya, membuka celah bagi gerakan revolusioner untuk bertindak.

Katalis Revolusioner: Krisis Jangka Pendek dan Ide-Ide Baru

Fondasi ketidakstabilan struktural yang telah mengakar selama berabad-abad dipercepat menuju titik puncak Revolusi oleh beberapa faktor pemicu yang terjadi dalam jangka pendek.

Krisis Ekonomi: Dari Utang Perang Hingga Roti Mahal

Pemerintahan Louis XVI mewarisi krisis keuangan yang kronis, yang diperparah secara dramatis oleh keterlibatan Prancis dalam Perang Tujuh Tahun dan Perang Kemerdekaan Amerika. Perang ini, meskipun berhasil menantang kekuasaan Inggris, sangat mahal dan tidak menghasilkan keuntungan nyata bagi Prancis, meninggalkan negara dalam “utang yang besar”.

Krisis keuangan ini diperparah oleh krisis pangan yang parah. Kegagalan panen yang terjadi berturut-turut pada tahun 1788 dan 1789 menyebabkan harga bahan pokok, terutama roti, melonjak drastis. Kenaikan harga ini membuat makanan pokok rakyat jelata menjadi barang mewah, sehingga memicu kelaparan dan penderitaan yang meluas.

Peristiwa yang dikenal sebagai “Perang Tepung” (Flour War) pada tahun 1775 merupakan petunjuk signifikan tentang apa yang akan terjadi. Kerusuhan besar-besaran pecah di seluruh Prancis akibat kenaikan harga biji-bijian, yang baru bisa diredam setelah pengerahan pasukan dan kontrol harga diberlakukan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan sosial akibat kelaparan sudah mendidih selama bertahun-tahun sebelum Revolusi, dan hanya menunggu pemicu yang lebih besar untuk meletus. Krisis ekonomi dan kenaikan harga roti secara efektif menyatukan berbagai lapisan Golongan Ketiga, mengubah kebencian yang terfragmentasi menjadi “ketidakpuasan dan kemarahan rakyat” yang bersatu.

Peran Intelektual Abad Pencerahan

Di tengah krisis yang memburuk, ide-ide dari Abad Pencerahan (Aufklarung) menyediakan kerangka intelektual dan bahasa yang diperlukan untuk mengubah ketidakpuasan menjadi tuntutan politik yang koheren. Para filsuf Prancis seperti Montesquieu, Voltaire, dan Rousseau menantang dogma lama yang menempatkan kekuasaan raja dan gereja sebagai otoritas tertinggi.

  • Montesquieu menggagas gagasan pemisahan kekuasaan sebagai antitesis terhadap monarki absolut, sebuah pemikiran yang mendasari sistem pemerintahan modern. Voltaire secara vokal mengkritik intoleransi agama dan despotisme, serta mengadvokasi kebebasan berpendapat, beragama, dan pemisahan gereja dan negara.
  • Rousseau menawarkan pemikiran paling radikal tentang kedaulatan rakyat. Ia berpendapat bahwa kekuasaan penguasa hanya sah jika didasarkan pada “kontrak sosial” dengan rakyatnya. Jika seorang penguasa gagal melindungi hak-hak alamiah rakyat, maka rakyat berhak untuk mengubah atau menggulingkan pemerintah tersebut.

Ide-ide ini bukan sekadar teori abstrak. Peningkatan tingkat literasi dan penyebaran pamflet yang murah membuat pemikiran ini dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas, termasuk kaum borjuis dan beberapa bangsawan liberal. Peristiwa Revolusi Amerika juga menjadi contoh nyata bahwa ide-ide Pencerahan dapat diimplementasikan dalam praktik, memberikan harapan dan keberanian bagi rakyat Prancis bahwa perubahan radikal adalah mungkin. Abad Pencerahan memberikan justifikasi teoretis yang sangat dibutuhkan untuk sebuah tatanan sosial dan politik baru.

Kronologi Awal: Pemicu Langsung dan Awal Mula Pergerakan

Latar belakang struktural yang rapuh dan katalis jangka pendek yang mematikan akhirnya berkonvergensi dalam serangkaian peristiwa yang mengawali Revolusi Prancis.

Pertemuan Estates-General: Konflik yang Tak Terhindarkan

Tertekan oleh krisis keuangan dan utang negara yang menumpuk, Raja Louis XVI terpaksa memanggil Majelis Estates-General pada Mei 1789, sebuah badan legislatif yang belum pernah bersidang sejak tahun 1614. Tujuannya adalah untuk mendapatkan persetujuan mengenai pajak baru guna mengatasi defisit. Namun, sidang ini segera menemui jalan buntu karena perselisihan fundamental mengenai mekanisme pemungutan suara.

Kaum elite (Golongan Pertama dan Kedua) menginginkan pemungutan suara “per golongan” (by order), yang akan memungkinkan mereka untuk selalu menang 2-1 dan memblokir reformasi pajak yang akan merugikan mereka. Sebaliknya, Golongan Ketiga, yang jumlahnya jauh lebih besar, menuntut pemungutan suara “per kepala” (by head) untuk mendapatkan perwakilan yang adil. Konflik ini secara publik menunjukkan kegagalan Ancien Régime untuk mereformasi dirinya sendiri. Ketika Golongan Ketiga menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dalam sistem yang ada, mereka dipaksa untuk mengambil tindakan radikal.

Lahirnya Majelis Nasional dan Sumpah Lapangan Tenis

Kebuntuan di Estates-General memicu tindakan revolusioner pertama. Pada 17 Juni 1789, para perwakilan Golongan Ketiga mendeklarasikan diri sebagai Majelis Nasional (The National Assembly) dengan tujuan untuk menyusun konstitusi baru Prancis. Tindakan ini dianggap sebagai ancaman langsung bagi kekuasaan raja dan direspons dengan upaya untuk membubarkan Majelis tersebut.

Pada 20 Juni 1789, para anggota Majelis Nasional berkumpul di sebuah lapangan tenis terdekat dan mengucapkan sumpah yang dikenal sebagai Sumpah Lapangan Tenis (The Tennis Court Oath). Mereka bersumpah untuk tidak akan membubarkan diri sampai konstitusi baru terbentuk. Sumpah ini bukan hanya sebuah janji, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan yang tegas, melambangkan pergeseran kekuasaan dari monarki kepada rakyat yang diwakilinya.

Penyerbuan Penjara Bastille: Simbol Perlawanan Rakyat

Dalam suasana tegang, rumor menyebar bahwa Raja Louis XVI akan menggunakan kekuatan militer untuk membubarkan Majelis Nasional yang baru terbentuk. Ketakutan ini, ditambah dengan kelaparan dan kemarahan yang sudah mendidih, memicu massa rakyat di Paris untuk bertindak. Pada 14 Juli 1789, sekelompok besar rakyat menyerbu Penjara Bastille.

Bastille dipilih sebagai target bukan karena penjara itu menahan banyak tahanan, melainkan karena ia adalah “lambang absolutisme dan tirani kerajaan”. Aksi massa ini berhasil menyita amunisi dan meriam, serta secara simbolis meruntuhkan lambang kekuasaan lalim raja. Penyerbuan Bastille menandai transisi kritis dari revolusi politik yang digerakkan oleh kaum borjuis menjadi revolusi massa yang melibatkan rakyat jelata. Peristiwa ini menunjukkan bahwa massa yang dimobilisasi oleh kelaparan dan kebencian telah menjadi kekuatan politik yang signifikan dan tak terduga. Tanggal 14 Juli kini diperingati sebagai Hari Nasional Prancis (Bastille Day), mengakui bahwa pada hari itu, kedaulatan rakyat secara resmi menggantikan monarki absolut.

Sintesis dan Analisis: Keterkaitan Antar Faktor

Revolusi Prancis adalah hasil dari interaksi kompleks dari berbagai faktor yang saling memperkuat satu sama lain dalam sebuah alur peristiwa yang tak terhindarkan.

  1. Struktur sosial Ancien Régime yang tidak adil menciptakan ketidakpuasan dan penderitaan ekonomi jangka panjang pada Golongan Ketiga, menjadikannya sebuah reservoir kemarahan yang besar.
  2. Krisis keuangan yang diperparah oleh utang perang memaksa monarki yang sudah lemah untuk mencari solusi.
  3. Monarki yang tidak kompeten (Louis XVI) dan pemborosan di istana (Marie Antoinette) gagal mengatasi krisis dan justru merusak legitimasi kekuasaan, sehingga membuat rakyat kehilangan kepercayaan.
  4. Ide-ide Pencerahan menyediakan kerangka intelektual dan bahasa yang diperlukan untuk mengubah ketidakpuasan yang terisolasi menjadi tuntutan kolektif untuk kebebasan, kesetaraan, dan kedaulatan rakyat.
  5. Dorongan untuk memecahkan krisis keuangan memicu pemanggilan Estates-General.
  6. Konflik tentang prosedur voting di Majelis ini secara langsung mencerminkan dan memperburuk ketegangan yang ada dalam sistem sosial.
  7. Kegagalan sistem ini menyebabkan tindakan revolusioner pertama (Sumpah Lapangan Tenis) yang didorong oleh kaum borjuis yang terinspirasi Pencerahan.
  8. Ketika Raja mencoba menggunakan kekerasan, kemarahan rakyat yang sudah mendidih akibat kelaparan dan beban pajak meletus dalam penyerbuan Bastille, mengubah perjuangan politik elite menjadi sebuah revolusi massa.

Setiap faktor ini tidak cukup kuat untuk memicu Revolusi secara sendirian. Namun, konvergensi unik dari semua faktor inilah yang menciptakan “badai yang sempurna,” yang meletuskan pergolakan sosial, politik, dan ekonomi yang fundamental.

Kesimpulan: Warisan Revolusi Prancis

Revolusi Prancis adalah sebuah peristiwa yang menunjukkan kekuatan yang melekat pada kehendak rakyat. Gerakan ini secara permanen mengubah tatanan politik Prancis dan mengilhami gerakan revolusioner dan reformasi di seluruh dunia. Revolusi ini berhasil meruntuhkan sistem monarki absolut, menghapuskan feodalisme, dan menetapkan sistem republik sebagai bentuk pemerintahan alternatif yang modern.

Warisan terbesarnya adalah penyebaran ide-ide kebebasan, persamaan, dan persaudaraan ke seluruh Eropa dan melampaui batasnya. Prinsip-prinsip ini menjadi model perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan yang mengubah cara pandang masyarakat umum tentang politik, ekonomi, dan hak-hak asasi manusia selamanya. Revolusi Prancis menjadi bukti abadi bahwa ketika sebuah sistem gagal melayani rakyatnya, rakyat memiliki hak dan kekuatan untuk meruntuhkannya dan membangun tatanan baru yang lebih adil dan rasional.

 

Daftar Pustaka :

  1. Ringkasan dari Revolusi Prancis: Revisi – Teachy, diakses Agustus 30, 2025, https://www.teachy.app/id_ID/ringkasan/pendidikan-menengah-atas/kelas-12-sma/sejarah/ringkasan-revolusi-prancis-tinjauan
  2. Mengenal Revolusi Perancis dan Faktor yang Menyebabkannya – Kompas.com, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompas.com/tren/read/2023/06/26/084500865/mengenal-revolusi-perancis-dan-faktor-yang-menyebabkannya?page=all
  3. Revolusi Perancis: Penyebab, Dampak, dan Pengaruh terhadap Indonesia – Kompas.com, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/02/122013379/revolusi-perancis-penyebab-dampak-dan-pengaruh-terhadap-indonesia
  4. 6 Penyebab Revolusi Perancis Singkat dalam Sejarah Dunia | kumparan.com, diakses Agustus 30, 2025, https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/6-penyebab-revolusi-perancis-singkat-dalam-sejarah-dunia-23YxRltPJ4M
  5. Penggolongan Kelas Sosial di Perancis Sebelum Revolusi Abad ke …, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2024/03/15/150000279/penggolongan-kelas-sosial-di-perancis-sebelum-revolusi-abad-ke-18
  6. Dampak Revolusi Perancis – Universitas Djuanda, diakses Agustus 30, 2025, https://unida.ac.id/artikel/dampak-revolusi-perancis
  7. Latar Belakang Pecahnya Revolusi Perancis Halaman 1 – Kompasiana.com, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompasiana.com/rudi81564/6704501434777c5fa226a022/latar-belakang-pecahnya-revolusi-perancis
  8. Penyebab Terjadinya Revolusi Perancis – Kompas.com, diakses Agustus 30, 2025, https://amp.kompas.com/skola/read/2020/05/27/160000869/penyebab-terjadinya-revolusi-perancis
  9. Latar Belakang Revolusi Prancis – UMJ, diakses Agustus 30, 2025, https://umj.ac.id/just_info/latar-belakang-revolusi-prancis/
  10. Sejarah Dunia, 5 Fakta Penyebab Terjadinya Revolusi Prancis | IDN Times, diakses Agustus 30, 2025, https://www.idntimes.com/science/discovery/sejarah-dunia-5-fakta-penyebab-terjadinya-revolusi-prancis-01-xrvpf-n03s3j
  11. Mengapa Revolusi Prancis Jadi Simbol Perlawanan Rakyat terhadap Tirani dan Ketidakadilan? – SINDOnews.com, diakses Agustus 30, 2025, https://international.sindonews.com/read/1613441/41/mengapa-revolusi-prancis-jadi-simbol-perlawanan-rakyat-terhadap-tirani-dan-ketidakadilan-1756526926
  12. 14 Juli 1789, Revolusi Perancis, Masyarakat Prancis Bersatu Membuat Perubahan, diakses Agustus 30, 2025, https://lazpersis.or.id/berita/14_juli_1789_revolusi_perancis_masyarakat_perancis_bersatu_untuk_membuat_perubahan/detail
  13. Penggolongan Kelas Sosial di Perancis Sebelum Revolusi Abad ke-18 – Kompas.com, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2024/03/15/150000279/penggolongan-kelas-sosial-di-perancis-sebelum-revolusi-abad-ke-18?page=all
  14. Louis XVI of France – World History Encyclopedia, diakses Agustus 30, 2025, https://www.worldhistory.org/Louis_XVI_of_France/
  15. Louis XVI | Palace of Versailles, diakses Agustus 30, 2025, https://en.chateauversailles.fr/discover/history/great-characters/louis-xvi
  16. Revolusi Perancis – PPI Jerman, diakses Agustus 30, 2025, https://ppijerman.org/revolusi-perancis/
  17. Terangkan sebab khusus terjadinya Revolusi Prancis – Mas Dayat, diakses Agustus 30, 2025, https://www.masdayat.net/2021/09/terangkan-sebab-khusus-terjadinya.html
  18. Dampak Revolusi Prancis – Latar Belakang, Pemikiran, dan Kronologisnya – Pijar Article, diakses Agustus 30, 2025, https://www.pijarbelajar.id/blog/dampak-revolusi-prancis
  19. Revolusi Prancis I; Latar Belakang – Indonesiana.id, diakses Agustus 30, 2025, https://www.indonesiana.id/read/163443/revolusi-prancis-i-latar-belakang
  20. Revolusi Prancis Dipicu Kenaikan Harga dan Utang Besar – SUARAISLAM.ID, diakses Agustus 30, 2025, https://suaraislam.id/revolusi-prancis-dipicu-kenaikan-harga-dan-utang-besar/
  21. Revolusi Prancis dan Perkara Roti Mahal – Majalah Sunday, diakses Agustus 30, 2025, https://majalahsunday.com/gara-gara-roti-mahal-awal-mula-revolusi-perancis-yang-mengubah-dunia/
  22. Timeline: Flour War – World History Encyclopedia, diakses Agustus 30, 2025, https://www.worldhistory.org/timeline/Flour_War/
  23. Revolusi Perancis (Siri Revolusi Dunia – 05) – Sosialis, diakses Agustus 30, 2025, https://sosialis.net/2024/12/14/revolusi-perancis-siri-revolusi-dunia-05/
  24. Peran dan Pengaruh Para Filsuf dan Pemikir Terhadap Revolusi …, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompasiana.com/rudi81564/679e3151ed641524a57ffca4/peran-dan-pengaruh-para-filsuf-dan-pemikir-terhadap-revolusi-perancis
  25. Summoning of the Estates General, 1789 | Palace of Versailles, diakses Agustus 30, 2025, https://en.chateauversailles.fr/discover/history/key-dates/summoning-estates-general-1789
  26. Louis XVI Calls the Estates-General | Research Starters – EBSCO, diakses Agustus 30, 2025, https://www.ebsco.com/research-starters/history/louis-xvi-calls-estates-general
  27. Latar Belakang Revolusi Prancis 1789 dan Kronologi Peristiwanya – Tirto.id, diakses Agustus 30, 2025, https://tirto.id/latar-belakang-revolusi-prancis-1789-dan-kronologi-peristiwanya-gyiz
  28. Penyerbuan Bastille: Awal Revolusi Prancis – Zenius Education, diakses Agustus 30, 2025, https://www.zenius.net/blog/revolusi-prancis/
  29. Penjara Bastille, Sasaran Pertama Revolusi Perancis – Kompas.com, diakses Agustus 30, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/14/070000079/penjara-bastille-sasaran-pertama-revolusi-perancis
  30. Dampak Revolusi Perancis – Universitas Djuanda, diakses Agustus 30, 2025, https://unida.ac.id/post/dampak-revolusi-perancis-66
  31. Faktor Pemicu Lahirnya Revolusi Prancis | kumparan.com, diakses Agustus 30, 2025, https://kumparan.com/potongan-nostalgia/faktor-pemicu-lahirnya-peristiwa-revolusi-prancis-27431110790538721

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

50 − = 45
Powered by MathCaptcha