Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis yang hilang secara paksa sejak 1998, tidak hanya meninggalkan jejak sastra, tetapi juga sebuah fenomena sosial dan politik yang tak terpisahkan dari konteks represif Rezim Orde Baru di Indonesia. Tulisan ini disusun untuk memberikan gambaran yang menyeluruh dan berlapis tentang dirinya, melampaui sekadar biografi faktual untuk menelusuri bagaimana kehidupannya yang bersinggungan langsung dengan kaum marjinal membentuk karakter dan karyanya. Tujuannya adalah untuk menyajikan analisis holistik yang menghubungkan profil pribadi, perjalanan artistik, karya sastra, perjuangan politik, hingga hilangnya secara misterius, yang hingga kini kasusnya belum terselesaikan.

Perjalanan Wiji Thukul menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara identitas seniman dan aktivisnya, di mana satu aspek secara kausal memperkuat yang lain. Puisinya, yang sejak kecil sudah ia tulis , tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai pemicu bagi aktivisme yang lebih vokal. Peristiwa kekerasan yang ia alami langsung dari aparat keamanan, seperti saat memimpin aksi demonstrasi buruh PT. Sritex pada 1995 yang mengakibatkan cedera permanen pada pendengaran dan penglihatan , tidak membungkamnya. Sebaliknya, pengalaman traumatis tersebut justru memetabolisme emosinya menjadi amunisi sastra yang lebih mendalam dan mendesak. Puisi-puisinya pada masa itu, seperti “Istirahatlah Kata-kata” atau “Aku Diburu Pemerintahku Sendiri,” berfungsi tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai catatan sejarah personal yang sarat dengan luka dan perlawanan. Dengan demikian, tulisan ini akan mengupas bagaimana pengalaman hidupnya, baik di tingkat personal maupun politik, membentuk setiap kata yang ia tulis dan setiap langkah yang ia ambil.

Potret Kehidupan: Dari Akar Rumput Hingga Garis Depan Perlawanan

Masa Muda dan Pembentukan Karakter

Wiji Thukul lahir dengan nama Widji Widodo pada 26 Agustus 1963, di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan; ayahnya adalah seorang penarik becak dan ibunya seorang pedagang ayam bumbu. Latar belakang ini memengaruhi jalan hidupnya secara fundamental. Keterbatasan ekonomi memaksa Thukul untuk berhenti sekolah di tingkat dua Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari, meskipun ia dikenal gemar menulis puisi sejak sekolah dasar.

Setelah putus sekolah, ia menyambung hidup dengan berbagai pekerjaan serabutan, seperti berjualan koran, menjadi calo tiket bioskop, dan tukang pelitur mebel. Namun, minatnya terhadap dunia seni tidak padam. Melalui seorang teman, ia bergabung dengan kelompok Teater Jagalan Tengah (Jagat), yang diasuh oleh Cempe Lawu Warta. Di sinilah nama “Thukul” yang berarti “tumbuh” disematkan kepadanya oleh Lawu, yang melihat potensi besarnya. Meskipun ia dikenal cadel atau “pelo” dalam melafalkan huruf  R dan kesulitan dalam menyanyi, bakatnya dalam berpuisi sangat menonjol. Lawu menggemblengnya dengan keras, mengajaknya mengamen puisi dari kampung ke kampung di berbagai kota, termasuk Solo, Yogyakarta, dan Surabaya, untuk menempa mentalnya. Pengalaman di lingkungan seni dan kemiskinan ini menjadi fondasi ideologis dan estetika karyanya. Latar belakangnya yang berasal dari “kaum marjinal” bukanlah sekadar detail biografi, melainkan sebuah identitas otentik yang membuatnya menjadi “orang dalam,” bukan sekadar intelektual luar yang berempati. Kedekatannya dengan realitas kehidupan buruh, tukang becak, dan gelandangan tercermin secara langsung dalam puisinya, yang lebih mengedepankan pesan lugas dibandingkan estetika puitis yang rumit.

Jalan Menuju Politik: Keterlibatan di JAKER dan PRD

Perjalanan Wiji Thukul dari seorang seniman menjadi aktivis politik adalah sebuah transisi yang dipicu oleh keterlibatan langsungnya dalam perjuangan rakyat. Pada tahun 1992, ia turut serta dalam demonstrasi menentang pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT. Sariwarna Asli Solo. Ia juga memimpin aksi massa petani di Ngawi pada tahun 1994, di mana ia ditangkap dan dipukuli oleh aparat militer. Peristiwa paling signifikan terjadi pada tahun 1995, ketika ia menjadi salah satu penggerak demonstrasi besar karyawan PT. Sritex. Dalam aksi ini, ia dipukuli aparat hingga mengalami cedera pendengaran dan hampir buta, meninggalkan cacat permanen.

Pengalaman kekerasan ini semakin membulatkan tekadnya untuk berorganisasi. Pada 1993, Thukul bersama temannya, Semsar Siahaan, mendirikan Jaringan Kerja Rakyat (Jaker), sebuah jaringan seniman yang berfokus pada daya cipta dan kreativitas. Meskipun Jaker pada awalnya memiliki komitmen untuk tidak bergerak di bidang politik praktis, gejolak politik yang memuncak di Indonesia mendorong Thukul untuk mengambil langkah lebih jauh. Pada 22 Juli 1996, ia memutuskan untuk menggabungkan Jaker dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan menjabat sebagai Ketua Divisi Propaganda. Keputusan ini menjadi titik balik krusial dalam hidupnya, mengubah statusnya dari seorang penyair perlawanan menjadi buronan politik yang paling dicari oleh rezim Orde Baru. Keputusan ini juga menyebabkan perpecahan ideologis dengan rekan-rekan lamanya, termasuk Semsar, Moelyono, Hilmar, dan mentornya, Lawu Warta. Bagi rezim Orde Baru, ancaman nyata bukan lagi berasal dari puisi-puisi yang dianggap menghasut, tetapi dari puisi-puisi tersebut yang terorganisir dalam sebuah gerakan politik struktural yang dianggap “menggulingkan Orde Baru”.

Puisi Sebagai Peluru: Analisis Stilistika dan Ideologi Karya Wiji Thukul

Realisme Sosialis dan “Sajak Pamflet”: Sederhana namun Menggempur

Karya sastra Wiji Thukul dikenal sebagai “sastra arus bawah” karena keterlibatannya yang sangat intens dengan persoalan-persoalan masyarakat kelas bawah. Puisinya secara sadar menolak estetisme dan keindahan bunyi yang lazim di koran atau majalah. Sebaliknya, ia memilih menggunakan diksi yang sederhana, lugas, dan mudah dimengerti, sehingga mampu menggetarkan jiwa dan membangkitkan semangat perlawanan bagi banyak orang dari berbagai kalangan, termasuk buruh, petani, dan mahasiswa.

Puisi-puisi Thukul tidak berfokus pada nilai estetika yang tinggi, melainkan pada pesan propaganda yang ingin ia sampaikan. Ciri-ciri ini menjadikannya sebagai tipe khas dari sajak pamflet. Stilistika utamanya didominasi oleh penggunaan paradoks, ironi, dan sarkasme yang meminimalisasi multitafsir dan membuat pesannya menjadi jelas. Gaya klimaks juga menjadi ciri khasnya, di mana puisinya mencapai puncak di bagian akhir dengan nada yang provokatif dan mengancam, seolah-olah meledak di tangan pembaca atau pendengar. Hal ini terlihat dari larik-larik penutupnya yang progresif seperti  …Biar jadi mimpi buruk presiden! atau …Maka hanya ada satu kata: lawan!. Karakteristik ini menempatkan aliran kepenyairannya dalam genre realisme sosialis, yang menggambarkan perjuangan kelas antara kaum yang tertindas (rakyat) dan yang menindas (pemerintah).

Interpretasi Tematik Puisi-puisi Kunci

Puisi-puisi Wiji Thukul menjadi himne perlawanan yang terus dikenang:

  • “Peringatan” (1986): Puisi ini berisi peringatan bagi penguasa untuk waspada ketika rakyat mulai berbisik-bisik atau tidak berani mengeluh. Puisinya diakhiri dengan seruan “Maka hanya ada satu kata: lawan!” yang menjadi kalimat ikonik dari gerakan pro-demokrasi di Indonesia.
  • “Sajak Suara”: Puisi ini menegaskan bahwa suara rakyat adalah kekuatan yang tidak bisa dibungkam, dipenjarakan, atau diredam. Di dalamnya bersemayam “kemerdekaan,” dan jika penguasa memaksa rakyat untuk diam, maka yang disiapkan adalah “pemberontakan”.
  • “Bunga dan Tembok”: Menggunakan metafora yang kuat, puisi ini mengibaratkan rakyat sebagai “bunga” yang tidak dikehendaki tumbuh oleh penguasa (digambarkan sebagai “tembok”). Namun, meskipun “dirontokkan di bumi kami sendiri,” rakyat telah menyebarkan “biji-biji” perlawanan di tubuh tembok itu, dengan keyakinan bahwa suatu saat tirani akan hancur dan perlawanan akan tumbuh bersama.
  • “Nyanyian Akar Rumput”: Puisi ini menjadi himne bagi kaum miskin dan terpinggirkan (“rumput”) yang terusir dan digusur akibat pembangunan. Puisinya adalah seruan untuk bersatu dan bergabung dalam barisan, diakhiri dengan kalimat yang provokatif, “Ayo gabung ke kami. Biar jadi mimpi buruk presiden!”.

Karya Lainnya: Kumpulan dan Makna di Baliknya

Selain puisi-puisi yang ikonik, Wiji Thukul juga menerbitkan beberapa kumpulan puisi yang mencerminkan konsistensi tema perjuangan dan kemiskinan yang ia angkat. Beberapa di antaranya adalah Puisi Pelo (1984), Darman dan Lain-lain (1994), Mencari Tanah Lapang (1994), Aku Ingin Jadi Peluru (2000), Nyanyian Akar Rumput (2003), Para Jenderal Marah-Marah (2013), dan Kebenaran akan Terus Hidup (2007). Puisi-puisi seperti “Tentang Sebuah Gerakan” dan “Suara dari Rumah-Rumah Miring” juga memperkuat narasi tentang pentingnya perjuangan kolektif dan realitas kehidupan di pemukiman kumuh.

Berikut adalah sintesis analisis tematik dari puisi-puisi kunci Wiji Thukul dalam sebuah tabel:

Judul Puisi Tahun Penulisan Tema Utama Ciri Stilistik Kunci Kutipan Kunci
Peringatan 1986 Peringatan bagi penguasa tentang potensi perlawanan rakyat. Diksi sederhana, gaya klimaks, seruan lugas. …maka hanya ada satu kata: lawan!
Sajak Suara Kekuatan suara rakyat yang tak bisa dibungkam oleh tirani. Metafora suara dan penjara, nada provokatif. Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan…
Bunga dan Tembok 1987-1988 Perlawanan yang terus tumbuh meskipun dihancurkan. Simbolisme “bunga” dan “tembok,” narasi perlawanan. …di tubuh tembok itu. Telah kami sebar biji-biji.
Nyanyian Akar Rumput 1988 Penderitaan kaum terpinggirkan akibat pembangunan. Diksi langsung, gaya klimaks, nada ajakan. Kami rumput. Butuh tanah. Dengar! Ayo gabung ke kami.

Menghilang di Tengah Badai: Kronik Luka yang Belum Usai

Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli): Momen Kritis yang Mengubah Jalan Hidupnya

Peristiwa penyerbuan markas Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada 27 Juli 1996, yang kemudian dikenal sebagai Kudatuli, menjadi titik balik kritis bagi Wiji Thukul. Rezim Orde Baru menuduh Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Akibatnya, PRD dinyatakan sebagai organisasi terlarang, dan seluruh pimpinan serta aktivisnya menjadi buronan politik negara. Sebagai Ketua Divisi Propaganda PRD, Wiji Thukul pun menjadi target utama perburuan aparat keamanan.

Kronologi Hilangnya Wiji Thukul: Pelarian dari Solo hingga Jejak Terakhir

Sejak awal Agustus 1996, Wiji Thukul memulai hidup dalam pelarian untuk menghindari kejaran aparat. Masa-masa sulit ini ia dokumentasikan dalam puisinya, seperti “Aku Diburu Pemerintahku Sendiri” dan “Para Jenderal Marah-marah,” yang menjadi catatan otobiografis dari trauma yang ia alami. Thukul mengembara dari satu kota ke kota lain—dari Solo ke Yogyakarta, Magelang, Salatiga, hingga Jakarta dan Pontianak—seringkali menumpang truk atau bus dan bersembunyi di rumah-rumah sahabatnya. Selama pelarian, ia tetap konsisten menulis puisi-puisi yang mengandung unsur politik, yang membuatnya dicap sebagai agitator berbahaya.

Ia harus mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengan istrinya, Siti Dyah Sujirah atau Sipon, paling sering di Pasar Klewer atau Stasiun Solo Balapan. Pertemuan terakhirnya dengan Sipon terjadi pada Januari 1998 di Stasiun Solo Balapan, di mana ia mengatakan akan pergi ke Jakarta. Setelah itu, pada Mei 1998, ia sempat menelepon Sipon untuk menanyakan kabar keluarganya di Solo di tengah gejolak kerusuhan yang meledak di Jakarta. Setelah panggilan telepon tersebut, tidak ada kabar lagi darinya. Misteri hilangnya baru disadari setelah Orde Baru jatuh pada 1998 dan para aktivis lain mulai kembali ke permukaan. Pihak keluarga menduga Thukul dilindungi oleh partainya, sementara rekan-rekan aktivisnya mengira ia bersembunyi bersama keluarganya. Hilangnya Wiji Thukul secara resmi diumumkan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada tahun 2000.

Hilangnya Wiji Thukul bukan hanya tragedi personal, tetapi juga merupakan simbol taktik penghilangan paksa yang sistematis oleh rezim Orde Baru untuk membungkam oposisi. Kasusnya menyoroti bagaimana rezim tidak hanya menggunakan kekuatan militer untuk membungkam para penentang, tetapi juga menciptakan kekacauan dan ketidakjelasan untuk memecah belah dan menghancurkan perlawanan secara psikologis. Strategi ini sangat efektif dalam mempertahankan otoritas dan kekerasan, karena ketidakpastian nasib para korban menimbulkan ketakutan abadi, baik bagi keluarga (yang tidak bisa berkabung) maupun bagi masyarakat luas (yang tidak tahu pasti nasib para aktivis yang hilang).

Tuntutan Keadilan: Peran Kontras dan Perjuangan “Koalisi Menolak Lupa”

Hingga saat ini, kasus penghilangan paksa Wiji Thukul dan 16 aktivis lainnya dalam rangkaian kerusuhan 1996-1998 masih menjadi salah satu kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang belum terselesaikan. Berbagai pihak, termasuk Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan “Koalisi Menolak Lupa,” terus berjuang menuntut keadilan. Tuntutan utama mereka adalah agar pemerintah menindaklanjuti rekomendasi DPR RI yang disahkan pada September 2009, yang mencakup: 1) pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc, 2) pembentukan tim pencarian aktivis yang masih hilang, 3) pemberian reparasi dan kompensasi kepada keluarga korban, dan 4) ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa. Dalam perjuangan ini, Koalisi Menolak Lupa secara simbolis menggunakan kalimat “Lawan!” dari puisi Thukul untuk menegaskan bahwa perjuangan tidak mengenal kedaluwarsa, dan tidak ada kompromi bagi para pelanggar HAM berat.

Warisan Abadi: Simbol yang Tak Terlupakan

Dari Aktivis Menjadi Martir Reformasi: Mengapa Ia Terus Dikenang?

Wiji Thukul telah menjadi martir bagi cita-cita progresif yang belum terpenuhi dari gerakan Reformasi. Kematiannya yang “tidak wajar” dan terkait dengan komitmen politiknya menjadikannya ikon perlawanan yang terus hidup dalam ingatan publik. Kenangannya semakin masif dibahas di ruang publik dan budaya populer, terutama sejak demonstrasi Kamisan yang dimulai pada tahun 2007. Wajahnya terus menghiasi mural dan produk budaya lainnya sebagai simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan.

Pengaruh Sastra Wiji Thukul di Era Modern

Meskipun telah lenyap secara fisik, puisi-puisi Wiji Thukul tetap relevan dan memiliki pengaruh yang signifikan di berbagai golongan masyarakat, khususnya gerakan mahasiswa. Karya-karyanya yang lugas dan berapi-api berfungsi sebagai alat kritik sosial yang menggugah kesadaran kolektif dan membangkitkan semangat perlawanan bagi generasi muda.

Representasi dalam Seni dan Budaya Populer

Warisan Wiji Thukul terus hidup dan berkembang melalui berbagai media. Anak-anaknya, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, telah melanjutkan perjuangan ayahnya. Fajar Merah dikenal karena melagukan puisi-puisi ayahnya dalam musik, sementara Fitri juga menerbitkan koleksi puisi. Kisahnya juga diangkat ke layar lebar melalui film drama Istirahatlah Kata-kata (2016) dan film dokumenter Nyanyian Akar Rumput (2018), memastikan bahwa kisahnya tetap dikenal oleh generasi baru.

Kehadiran Wiji Thukul adalah sebuah paradoks: ia hilang secara fisik, tetapi kehadiran dan pengaruhnya secara kultural dan politis justru semakin berlipat ganda. Fakta bahwa namanya terus tumbuh seperti makna namanya (Wiji Thukul – biji yang tumbuh), meskipun tubuhnya lenyap, mengafirmasi bahwa keberanian untuk bersuara tidak bisa dicabut oleh kekuasaan dan bahwa kebenaran akan terus hidup.

Kesimpulan: Sebuah Perjalanan Melawan Lupa

Sebagai penutup, Wiji Thukul adalah potret utuh dari seorang seniman rakyat yang menggunakan puisi sebagai senjata paling tajam untuk melawan tirani. Perjalanannya, dari seorang anak tukang becak yang cadel menjadi ikon perlawanan, menunjukkan bahwa sastra memiliki kekuatan transformatif untuk menjadi peluru yang menembus kebekuan sosial dan politik. Hilangnya secara paksa menjadi sebuah kenyataan tragis yang menimpa seorang penyair , namun ironisnya, tragedi inilah yang mengabadikan namanya sebagai martir.

Perjuangan untuk menuntaskan kasus penghilangan paksa Wiji Thukul dan para aktivis lainnya adalah ujian nyata bagi komitmen pemerintah terhadap hak asasi manusia dan keadilan transisional. Kasus ini, yang tidak mengenal kedaluwarsa, menjadi pengingat konstan bahwa janji-janji demokrasi tidak akan penuh jika keadilan bagi korban pelanggaran HAM masa lalu tidak ditegakkan.

Pada akhirnya, kisah Wiji Thukul adalah cerminan bahwa meskipun tiran harus tumbang , fakta dan tulisan jurnalisme saja tidak cukup untuk menuntaskan keadilan. Sastra dan ingatan kolektif memiliki peran krusial dalam melawan lupa dan menjaga api perlawanan tetap menyala, memastikan bahwa “biji-biji” yang ia sebar suatu saat akan tumbuh bersama untuk menghancurkan tembok tirani.

Tahun Peristiwa Kunci Karya Penting Signifikansi
1963 Lahir dengan nama Widji Widodo di Solo. Awal mula kehidupan di lingkungan kaum marjinal.
Putus sekolah di SMKI karena kendala ekonomi. Fondasi ideologis dan estetika “sastra arus bawah”.
Bergabung dengan Teater Jagat, diberi nama Thukul. Awal dari perjalanan artistik dan aktivisme.
1984 Puisi Pelo Awal dari karya yang terpublikasi.
1986 “Peringatan” Puisi ikonik yang menjadi seruan perlawanan.
1992 Terlibat demonstrasi anti-pencemaran lingkungan PT. Sariwarna Asli. Awal dari keterlibatan langsung dalam aksi massa.
1993 Mendirikan Jaringan Kerja Rakyat (Jaker) bersama Semsar Siahaan. Terlibat dalam pengorganisasian seniman.
1994 Ditangkap dan dipukuli aparat pada aksi petani di Ngawi. Mengalami kekerasan langsung dari rezim.
1995 Dipukuli aparat saat memimpin demonstrasi buruh PT. Sritex. Mengalami cedera permanen; memperkuat tekad perlawanan.
1996 Bergabung dengan PRD, menjadi Ketua Divisi Propaganda. Berubah status menjadi buronan politik setelah Peristiwa Kudatuli.
1996-1998 Hidup dalam pelarian dari kejaran aparat Orde Baru. “Aku Diburu Pemerintahku Sendiri,” “Para Jenderal Marah-marah” Puisinya menjadi catatan otobiografis dari masa traumatis.
1998 Hilang secara misterius setelah kontak telepon terakhir. Tragedi personal dan simbol dari taktik penghilangan paksa.
2000 Hilangnya secara resmi diumumkan oleh Kontras. Kasusnya diangkat ke ranah publik sebagai isu pelanggaran HAM berat.
2002 Dianugerahi Yap Thiam Hien Award. Pengakuan terhadap perjuangannya sebagai pembela HAM.
2016 Film Istirahatlah Kata-kata Kisahnya diabadikan dalam film fiksi untuk khalayak luas.
2018 Film dokumenter Nyanyian Akar Rumput Dokumenter tentang warisan perjuangannya melalui putranya.

 

 

Daftar Pustaka :

  1. 60 Tahun Wiji Thukul, Momentum Mengingatkan Negara untuk Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM… – KOMPAS.com, accessed September 22, 2025, https://nasional.kompas.com/read/2023/08/26/21093851/60-tahun-wiji-thukul-momentum-mengingatkan-negara-untuk-tuntaskan-kasus?page=all
  2. Biografi Wiji Thukul, Penyair dan Aktivis Korban Penghilangan Paksa – Kompas.com, accessed September 22, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2023/01/06/080000479/biografi-wiji-thukul-penyair-dan-aktivis-korban-penghilangan-paksa
  3. Wiji Thukul: Kekerasan dan Otoritas Orde Baru | NNC Netralnews, accessed September 22, 2025, https://www.netralnews.com/wiji-thukul-kekerasan-dan-otoritas-orde-baru/UjVORml4Q1J6cTN1bnVRWXN3cjZVdz09
  4. “The Flower and the Wall”: Poet-Activist Wiji Thukul … – Cogitatio Press, accessed September 22, 2025, https://www.cogitatiopress.com/politicsandgovernance/article/viewFile/7768/3735
  5. kritik dan perlawanan wiji thukul terhadap rezim orde baru dalam aku ingin jadi peluru, accessed September 22, 2025, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/26543/1/kritik%20dan%20perlawanan%20wiji%20thukul%20.pdf
  6. RETORIKA SUBVERSIF DALAM SAJAK – SAJAK WIJI THUKUL …, accessed September 22, 2025, https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/download/53/36
  7. 5 Puisi Wiji Thukul yang Menggetarkan Hati | kumparan.com, accessed September 22, 2025, https://m.kumparan.com/tutur-literatur/5-puisi-wiji-thukul-yang-menggetarkan-hati
  8. Wiji Thukul, Penyair Pemberontak – ahmadgaus, accessed September 22, 2025, https://ahmadgaus.com/2013/06/03/aku-ingin-jadi-peluru/
  9. PERINGATAN (Karya Wiji Thukul) – – Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, accessed September 22, 2025, https://pendidikanindonesia-fib.ub.ac.id/?p=1176
  10. PUISI, WIJI TUKUL: PERINGATAN – Malangupdatenews99 .com, accessed September 22, 2025, https://malangupdatenews99.com/puisi-wiji-tukul-peringatan/
  11. Mengenang Wiji Thukul, 5 Puisi Perlawanannya: Istirahatlah Kata-kata sampai Nyanyian Akar Rumput | tempo.co, accessed September 22, 2025, https://www.tempo.co/teroka/mengenang-wiji-thukul-5-puisi-perlawanannya-istirahatlah-kata-kata-sampai-nyanyian-akar-rumput-300494
  12. Kumpulan Puisi Wiji Thukul, Menyiratkan Perlawanan dan Tak Lekang oleh Waktu, accessed September 22, 2025, https://www.bola.com/ragam/read/5459919/kumpulan-puisi-wiji-thukul-menyiratkan-perlawanan-dan-tak-lekang-oleh-waktu
  13. (PDF) Analisis Puisi Sajak Suara Karya Wiji Thukul : Pendekatan …, accessed September 22, 2025, https://www.researchgate.net/publication/393347053_Analisis_Puisi_Sajak_Suara_Karya_Wiji_Thukul_Pendekatan_Struktural
  14. Aku ingin jadi peluru – e-book-kejari batam, accessed September 22, 2025, https://ebook.kejari-batam.go.id/mfhandler.php?file=Wiji%20Thukul%20-%20Aku%20Ingin%20Jadi%20Peluru.pdf&table=buku&field=file&pageType=view&key1=209
  15. Jejak Persembunyian Wiji Thukul Usai Dituding Terlibat 27 Juli 1996, accessed September 22, 2025, https://nasional.kompas.com/read/2021/07/27/16312221/jejak-persembunyian-wiji-thukul-usai-dituding-terlibat-27-juli-1996?page=all
  16. Mengenang Wiji Thukul, Aktivis yang Hilang Usai Peristiwa Kudatuli …, accessed September 22, 2025, https://nasional.kompas.com/read/2021/07/27/15370351/mengenang-wiji-thukul-aktivis-yang-hilang-usai-peristiwa-kudatuli-1996?page=all
  17. 60 Tahun Wiji Thukul: Kau di Mana, Kenapa Hilang dan Tak …, accessed September 22, 2025, https://www.konde.co/2023/08/peringatan-ulang-tahun-ke-60-wiji-thukul-menanti-keadilan-atas-pelanggaran-ham-berat/
  18. karya wiji thukul di bawah bayang-bayang | Prosa – Jendela Sastra, accessed September 22, 2025, https://www.jendelasastra.com/karya/prosa/karya-wiji-thukul-di-bawah-bayang-bayang
  19. Budaya Sesama, Membaca 100 Puisi Widji Thukul – beritajatim.com, accessed September 22, 2025, https://beritajatim.com/postingan-anda/budaya-sesama-membaca-100-puisi-widji-thukul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

90 − 82 =
Powered by MathCaptcha