Kehadiran Islam di Italia memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, yang tidak dapat direduksi menjadi satu narasi tunggal. Narasi ini terfragmentasi dalam berbagai fase, mulai dari interaksi militer yang agresif hingga sinergi budaya yang damai, dan kemudian muncul kembali sebagai fenomena demografi modern. Sejarah ini melampaui dominasi politik dan peperangan, meninggalkan warisan budaya yang bertahan lama, terutama di wilayah Italia selatan. Laporan ini bertujuan untuk menyajikan analisis mendalam yang melampaui kronologi sederhana, dengan mengkaji hubungan sebab-akibat, warisan intelektual, arsitektur, dan implikasi kontemporer dari keberadaan Islam di Italia. Pendekatan ini menggabungkan studi historis dengan analisis sosial-budaya untuk memberikan gambaran yang komprehensif.
Jejak Sejarah: Penaklukan dan Kekuasaan di Mediterania
Era Awal: Kontak dan Serangan Pertama (Abad ke-7 – 9 M)
Kontak pertama antara dunia Muslim dan wilayah Italia terjadi jauh sebelum penaklukan sistematis. Armada Muslim pertama kali mencapai Sisilia, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Bizantium, pada tahun 652 M selama masa Kekhalifahan Rasyidin di bawah Khalifah Utsman bin Affan. Serangan awal ini bersifat sporadis dan tidak bertujuan untuk penaklukan permanen. Serangan serupa berlanjut pada masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, sering kali berupa serangan penjarahan yang dilancarkan dari Afrika Utara.
Pergeseran besar dari serangan sporadis menjadi penaklukan yang terorganisir terjadi pada tahun 827 M, ketika Dinasti Aghlabiyah dari Ifriqiyah (sekarang Tunisia) melancarkan kampanye sistematis untuk menguasai Sisilia. Aksi penaklukan ini tidak murni didorong oleh ambisi ekspansionis, melainkan juga dipicu oleh permintaan bantuan dari seorang komandan Romawi lokal bernama Euphemius yang sedang menghadapi konflik internal. Euphemius menawarkan kendali atas Sisilia kepada Bani Aghlab sebagai imbalan atas bantuan mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ekspansi Islam di wilayah ini berhasil memanfaatkan ketidakstabilan politik internal di kalangan penguasa setempat, yang menjadi pemicu penting bagi keberhasilan kampanye militer tersebut.
Masa Keemasan: Emirat Sisilia dan Bari (Abad ke-9 – 11 M)
Dengan dimulainya penaklukan oleh Bani Aghlab, Sisilia menjadi pusat kekuasaan Islam di Eropa. Pasukan Aghlabiyah mendarat di Mazzara dan secara bertahap menguasai seluruh pulau, dengan jatuhnya Syracuse pada tahun 878 M yang menandai selesainya penaklukan secara keseluruhan. Palermo kemudian diangkat sebagai ibu kota dan menjadi pusat peradaban Islam yang maju di Eropa.
Selain Sisilia, jejak kekuasaan Muslim juga hadir di daratan utama Italia. Emirat Bari (847–871 M) merupakan satu-satunya negara Muslim yang pernah didirikan di semenanjung Italia. Meskipun berumur pendek—hanya bertahan selama 24 tahun—dibawah para penguasa seperti Kalfün, Mufarrag ibn Sallam, dan Sawdan, Emirat ini menunjukkan cakupan ambisi dan jangkauan pengaruh Muslim di Italia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa Bari pada masa ini merupakan pusat peradaban yang makmur, dengan perdagangan budak, anggur, dan tembikar yang berkembang pesat.
Namun, terdapat perbedaan signifikan antara keberhasilan jangka panjang Emirat Sisilia dan kegagalan Emirat Bari yang berumur pendek. Sisilia, sebagai pulau besar yang secara geografis terisolasi, lebih mudah dipertahankan dan dikembangkan sebagai pusat otonom. Sebaliknya, Bari di daratan utama Italia lebih rentan terhadap serangan dari kekaisaran Eropa yang kuat, yang akhirnya menyebabkan kejatuhannya.
Transisi Kekuasaan: Kedatangan Bangsa Norman dan Dampaknya
Masa kekuasaan Muslim di Sisilia berakhir dengan kedatangan bangsa Norman pada tahun 1060 M. Dipimpin oleh Roger I, penaklukan pulau ini diselesaikan pada tahun 1091 M. Menariknya, nasib komunitas Muslim setelah penaklukan ini tidak berakhir dengan pengusiran massal secara langsung. Sebaliknya, banyak di antara mereka yang makmur dan diintegrasikan ke dalam militer serta birokrasi Norman. Hal ini menciptakan perpaduan budaya yang unik dan harmonis antara peradaban Islam, Bizantium, dan Norman.
Pola ini menunjukkan sebuah tren yang kontradiktif dengan pendekatan penaklukan di Abad Pertengahan pada umumnya. Kerajaan Norman di Sisilia tidak bertujuan untuk memusnahkan peradaban Islam yang mereka taklukkan, melainkan mengadopsinya. Mereka memanfaatkan struktur birokrasi, seni, dan ilmu pengetahuan Islam, menjadikannya bagian integral dari identitas kerajaan mereka. Fenomena ini menempatkan Sisilia sebagai pengecualian penting dalam sejarah Eropa, menunjukkan pragmatisme politik yang langka dan membuka jalan bagi sinergi budaya yang luar biasa.
Pemberontakan dan Akhir Komunitas Muslim (Abad ke-13 M)
Meskipun komunitas Muslim pada awalnya makmur di bawah kekuasaan Norman, keberadaan mereka tidak bertahan selamanya. Pada abad ke-13, nasib mereka menemui titik balik yang tragis. Setelah pemberontakan yang gagal, Kaisar Romawi Suci Frederick II memutuskan untuk mendeportasi sisa-sisa komunitas Muslim dari Sisilia ke Lucera, sebuah kota di Apulia, Italia selatan, pada tahun 1220-an.
Aksi deportasi ini bukan semata-mata tindakan keagamaan, tetapi merupakan respons politik terhadap perlawanan yang terus-menerus. Frederick II memindahkan sekitar 20.000 Muslim ke Lucera untuk menetralisir basis perlawanan mereka yang berbasis di pegunungan Sisilia dan, pada saat yang sama, memanfaatkan mereka sebagai milisi yang setia di daratan utama. Tindakan ini menunjukkan bagaimana kepentingan politik dapat mengesampingkan identitas agama demi tujuan strategis, sekaligus menandai akhir dari komunitas Muslim yang signifikan di Sisilia.
| Tahun | Peristiwa Penting |
| 652 M | Serangan pertama oleh armada Muslim di Sisilia. |
| 827 M | Awal penaklukan sistematis Sisilia oleh Dinasti Aghlabiyah. |
| 847–871 M | Berdirinya Emirat Bari, satu-satunya negara Muslim di daratan utama Italia. |
| 878 M | Jatuhnya Syracuse, menandai penguasaan penuh Sisilia oleh Muslim. |
| 1060–1091 M | Penaklukan Sisilia oleh bangsa Norman di bawah Roger I. |
| 1140 M | Muhammad al-Idrisi diundang ke istana Raja Norman Roger II. |
| 1220-an M | Deportasi komunitas Muslim Sisilia ke Lucera oleh Frederick II. |
| 1300 M | Kehancuran pemukiman Muslim di Lucera dan akhir jejak sejarah komunitas Muslim. |
Warisan Intelektual dan Arsitektur: Pilar Kebudayaan Islam di Italia
Muhammad al-Idrisi: Bapak Geografi Abad Pertengahan
Salah satu tokoh terpenting yang menjembatani peradaban Islam dan Kristen di Italia adalah Muhammad al-Idrisi. Lahir di Ceuta, Spanyol pada tahun 1100 M, al-Idrisi adalah seorang ilmuwan, geografer, dan kartografer Muslim yang menempuh pendidikan di Andalusia. Ia dikenal sebagai seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh ke berbagai belahan dunia, dari Portugal dan Inggris di barat hingga Asia Kecil di timur, untuk mengumpulkan data geografis.
Titik balik dalam kariernya terjadi pada tahun 1140 M, ketika ia diundang ke istana Raja Norman Roger II di Palermo, Sisilia. Kolaborasi ini menghasilkan karya monumental yang dikenal sebagai Kitāb nuzhat al-mushtāq fī ikhtirāq al-āfāq atau lebih sering disebut Tabula Rogeriana. Proyek ini melibatkan pengiriman agen dan juru gambar yang andal ke berbagai negara untuk mengumpulkan data, sebuah pendekatan yang mencerminkan metodologi ilmiah yang maju pada masanya. Karya ini disajikan dalam bentuk globe perak besar dan peta dunia yang terdiri dari 70 bagian.
Kolaborasi antara al-Idrisi dan Roger II melambangkan puncak sinergi intelektual antara peradaban Islam dan Kristen di Abad Pertengahan. Karya al-Idrisi berfungsi sebagai jembatan pengetahuan, menggabungkan sumber-sumber Yunani, Romawi, dan Muslim untuk menciptakan peta paling akurat pada zamannya. Peta-peta ini kemudian menginspirasi penjelajah Eropa seperti Christopher Columbus dan Vasco Da Gama. Jejak abadi ini secara langsung membentuk Era Penjelajahan, menegaskan peran krusial Sisilia sebagai pusat pertukaran ilmu pengetahuan.
Warisan Intelektual Lainnya
Sisilia dan Spanyol pada periode ini berfungsi sebagai jalur utama masuknya ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa Barat. Proses penerjemahan teks-teks filsafat dan sains dari bahasa Yunani ke Arab, dan kemudian dari Arab ke Latin, membantu mengakhiri Abad Kegelapan di Eropa. Banyak ilmuwan Muslim dari wilayah barat melahirkan penemuan-penemuan penting, seperti Abbas bin Farna yang menemukan pembuatan kaca dari batu dan Ibrahim bin Yahya al-Naqqas yang mahir dalam astronomi dan dapat menentukan waktu gerhana matahari.
Selain itu, orang-orang Arab memperkenalkan sistem hidrolik yang canggih untuk tujuan irigasi, merevolusi praktik pertanian di Sisilia. Kontribusi ini menunjukkan bahwa pengaruh Islam tidak hanya terbatas pada bidang intelektual, tetapi juga pada teknologi sehari-hari yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Arsitektur dan Seni: Gaya Arab-Norman
Sinergi budaya di Sisilia terwujud secara fisik dalam arsitektur Arab-Norman, sebuah perpaduan harmonis antara gaya Muslim, Bizantium, dan Norman. Salah satu contoh paling ikonik dari gaya ini adalah Istana Zisa di Palermo. Nama istana ini berasal dari bahasa Arab al-Aziz, yang berarti “megah” atau “mulia”. Meskipun dibangun atas perintah raja-raja Norman, William I dan William II, istana ini dirancang oleh arsitek dan pengrajin Arab dalam tradisi Fatimiyah.
Istana Zisa menampilkan banyak ciri khas arsitektur Islam, termasuk sistem pendingin alami yang canggih yang dirancang untuk musim panas. Sebuah kolam di depan istana mendinginkan udara sebelum masuk ke dalam melalui lorong berventilasi. Di dalamnya, Ruang Air Mancur (Fountain Hall) memiliki shadirwan atau sabil, air mancur yang mengalirkan air ke dalam kanal untuk menyalurkan udara dingin ke seluruh ruangan. Selain itu, istana ini dihiasi dengan ceruk muqarnas dan mosaik yang menunjukkan perpaduan flora dan fauna, yang mencerminkan gabungan estetika Islam dan Bizantium.
| Nama Tokoh | Jabatan/Identitas | Kontribusi Utama |
| Muhammad al-Idrisi | Ilmuwan, Kartografer, Geografer | Kolaborasi dengan Roger II; menciptakan Tabula Rogeriana, peta dunia yang sangat akurat yang menjadi model selama berabad-abad. |
| Roger II | Raja Norman Sisilia | Patronase seni dan sains Islam; mendukung Muhammad al-Idrisi dalam proyek kartografinya yang monumental. |
| Kalfün, Mufarrag, Sawdan | Emir di Bari | Mendirikan dan memerintah Emirat Bari, satu-satunya negara Muslim di daratan utama Italia. |
| Frederick II | Kaisar Romawi Suci | Memerintahkan deportasi komunitas Muslim Sisilia ke Lucera sebagai respons terhadap pemberontakan, memanfaatkan mereka sebagai milisi setia. |
Islam Kontemporer di Italia: Tantangan, Integrasi, dan Identitas
Demografi dan Populasi Muslim Modern
Setelah berakhirnya komunitas Muslim historis di Sisilia, keberadaan Islam di Italia baru muncul kembali secara signifikan pada abad ke-20 dan 21 melalui gelombang imigrasi. Saat ini, Islam merupakan agama minoritas, namun secara de facto adalah agama terbesar kedua di Italia, dengan populasi sekitar 2.6 juta jiwa. Komposisi demografis populasi Muslim sangat beragam, dengan komunitas terbesar berasal dari Maroko dan Albania. Uniknya, komunitas Albania merupakan komunitas Muslim tertua yang masih hidup di Italia. Secara geografis, populasi Muslim terkonsentrasi di wilayah utara Italia, dengan jumlah yang signifikan di Lombardy.
Tantangan Sosial dan Politik
Meskipun populasi Muslim di Italia cukup besar, mereka menghadapi tantangan krusial: Islam tidak diakui secara formal oleh negara. Pengakuan formal memerlukan perjanjian resmi (intesa) yang ditandatangani antara pemerintah dan komunitas agama. Ketidakadaan pengakuan ini menciptakan sebuah paradoks yang signifikan: meskipun Italia dikenal memiliki tingkat toleransi budaya dan agama yang tinggi—terutama karena merupakan pusat Kekuasaan Katolik Roma—negara secara institusional menolak memberikan pengakuan resmi kepada Islam.
Non-pengakuan ini menimbulkan sejumlah masalah praktis bagi komunitas Muslim. Hal ini menyebabkan kelangkaan tempat ibadah yang layak, dengan hanya delapan masjid resmi yang terdaftar di seluruh Italia, dibandingkan dengan ribuan masjid di negara Eropa lain seperti Prancis dan Inggris. Selain itu, komunitas Muslim menghadapi kesulitan dalam mendapatkan dana publik dan perlindungan hukum untuk tempat ibadah. Terdapat juga laporan mengenai hambatan struktural dalam integrasi, termasuk diskriminasi dalam pekerjaan dan kesulitan adaptasi budaya bagi imigran. Sentimen negatif yang menganggap Islam sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Barat juga berkontribusi pada diskriminasi ini.
Organisasi dan Upaya Integrasi
Menghadapi tantangan struktural ini, komunitas Muslim telah membangun berbagai organisasi untuk memfasilitasi integrasi dan advokasi. Organisasi-organisasi utama termasuk Unione delle Comunità Islamiche d’Italia (UCOII), Centro Islamico Culturale d’Italia (CICI), dan Comunità Religiosa Islamica Italiana (COREIS).
Organisasi-organisasi ini mengambil peran penting sebagai jembatan antara komunitas Muslim dan pemerintah Italia. UCOII, misalnya, aktif dalam menyediakan layanan sosial yang krusial seperti bantuan pemakaman dan dukungan hukum, sekaligus mempromosikan dialog antaragama. Upaya ini menunjukkan inisiatif dari bawah ke atas untuk mencapai integrasi. Salah satu langkah konkret yang signifikan adalah penandatanganan nota kesepahaman antara UCOII dan Kementerian Kehakiman Italia yang memungkinkan para imam memberikan layanan ibadah kepada narapidana Muslim di penjara. Perjanjian ini dianggap sebagai langkah penting menuju pengakuan resmi Islam.
Meskipun demikian, hubungan antara organisasi-organisasi ini dan pemerintah tidak selalu mulus. UCOII, sebagai salah satu perwakilan utama, menghadapi kritik dan kontroversi karena dugaan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin. Hal ini menyoroti bagaimana perbedaan pandangan di dalam komunitas Muslim sendiri, serta persepsi eksternal, dapat menjadi hambatan tambahan dalam upaya mencapai pengakuan resmi dan harmoni sosial.
| Nama Organisasi | Tahun Pendirian | Fokus/Peran Utama |
| UCOII (Unione delle Comunità Islamiche d’Italia) | 1990 | Advokasi pengakuan resmi, layanan sosial (pemakaman, dukungan hukum), dialog antaragama, dan menjadi perwakilan utama komunitas Muslim. |
| CICI (Centro Islamico Culturale d’Italia) | N/A | Mengelola Masjid Agung Roma dan berfungsi sebagai pusat kebudayaan Islam. |
| COREIS (Comunità Religiosa Islamica Italiana) | N/A | Fokus pada dialog antaragama dan pendidikan agama; memiliki cabang di Milan dan Roma. |
| USMI (Union of Muslim Students in Italy) | 1970-an | Organisasi mahasiswa yang berfokus pada aktivisme Islam. |
Kesimpulan
Jejak peradaban Islam di Italia merupakan mosaik sejarah yang kaya, yang membentang dari dominasi politik di Sisilia dan Bari hingga kontribusi intelektual dan artistik yang membentuk Abad Pertengahan Eropa, dan kini menjadi bagian dari lanskap demografi modern. Sejarah ini menunjukkan bagaimana Islam bukan sekadar kekuatan penakluk, melainkan juga peradaban yang mampu berkolaborasi, beradaptasi, dan meninggalkan warisan yang mendalam.
Kisah al-Idrisi dan Istana Zisa menjadi bukti nyata bagaimana pengetahuan dan estetika Islam dapat diintegrasikan ke dalam identitas kekuasaan Kristen, menghasilkan sinergi budaya yang luar biasa. Warisan ini tidak hanya mempengaruhi seni dan arsitektur, tetapi juga meletakkan dasar bagi kemajuan ilmiah yang mendorong Era Penjelajahan di Eropa.
Pada masa kini, komunitas Muslim di Italia menghadapi tantangan yang berbeda, namun tidak kalah kompleks. Dari perjuangan untuk pengakuan formal oleh negara hingga mengatasi hambatan struktural dan diskriminasi, tantangan ini menuntut respons yang terorganisir dan kolaboratif. Upaya organisasi seperti UCOII untuk menjalin dialog dan menyediakan layanan sosial adalah langkah penting menuju integrasi yang lebih baik.
Melihat pertumbuhan populasi Muslim yang terus berlanjut, prospek masa depan Islam di Italia sangat bergantung pada kemampuan negara dan komunitas untuk menjembatani kesenjangan ini. Pengakuan formal Islam sebagai agama oleh pemerintah Italia akan menjadi langkah kunci untuk memastikan kesetaraan, menyediakan sarana yang diperlukan untuk praktik keagamaan, dan memperkuat harmoni sosial dalam masyarakat yang semakin multikultural.
Daftar Pustaka :
- SEJARAH ISLAM DI SISILIA STUDI ATAS MASUK DAN …, accessed on September 18, 2025, https://repository.syekhnurjati.ac.id/2242/1/FERA%20ALVIAH%20HERAWATI-min.pdf
- ISLAM DI SICILIA: Asal-usul, Kemajuan dan Kehancuran, accessed on September 18, 2025, https://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/viewFile/436/pdf_1
- CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Kontribusi Peradaban Islam terhadap Peradaban Eropa, accessed on September 18, 2025, https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/carita/article/download/3474/1245/
- al-Idrīsī – EBSCO, accessed on September 18, 2025, https://www.ebsco.com/research-starters/biography/al-idrisi
- Muhammad al-Idrisi | Geographer, Maps, & Biography | Britannica, accessed on September 18, 2025, https://www.britannica.com/biography/Muhammad-al-Idrisi
- TRANSFORMATION OF THE WESTERN EDUCATION SYSTEM THROUGH ISLAMIC CONTRIBUTIONS: A HISTORICAL ANALYSIS – Jurnal IAIN Ambon, accessed on September 18, 2025, https://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/ALT/article/view/7642/2275
- Archnet > Site > Castello della Zisa, accessed on September 18, 2025, https://www.archnet.org/sites/3760
- Zisa Castle in Palermo – Visit Sicily, accessed on September 18, 2025, https://www.visitsicily.info/en/zisa-castle-in-palermo/
- Islam Di Italia | PDF – Scribd, accessed on September 18, 2025, https://id.scribd.com/document/850528389/Islam-Di-Italia
- Immigrati e religioni: crescono i musulmani. Ma i cristiani restano la maggioranza – Comunicato stampa 10.7.2025 – Fondazione ISMU, accessed on September 18, 2025, https://www.ismu.org/immigrati-e-religioni-crescono-i-musulmani-ma-i-cristiani-restano-la-maggioranza-comunicato-stampa-10-7-2025/
- Sebentar Lagi Islam Diakui sebagai Agama Resmi di Italia – jurnas.com, accessed on September 18, 2025, https://www.jurnas.com/artikel/73390/Sebentar-Lagi-Islam-Diakui-sebagai-Agama-Resmi-di-Italia/
