Sumatera Utara, sebuah provinsi yang kaya akan keberagaman sosial, budaya, dan geografis, telah menjadi tempat lahirnya banyak figur berpengaruh yang memberikan kontribusi signifikan, tidak hanya bagi wilayahnya sendiri, tetapi juga bagi narasi besar bangsa Indonesia. Dari pegunungan Tapanuli hingga pesisir Melayu, dan dari etnis Batak, Mandailing, hingga Karo, wilayah ini telah menjadi “tempat peleburan” yang menghasilkan pemimpin, pejuang, seniman, dan inovator yang memiliki dampak mendalam. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas secara komprehensif tokoh-tokoh kunci dari Sumatera Utara, menelusuri jejak mereka dari era perjuangan kemerdekaan hingga masa kontemporer. Analisis yang disajikan melampaui biografi dasar untuk mengeksplorasi peran mereka dalam berbagai sektor, serta bagaimana mereka mencerminkan evolusi sosial, politik, dan ekonomi Sumatera Utara.
Dalam menyusun tulisan ini, pendekatan analitis dan tematik digunakan untuk mengidentifikasi pola dan benang merah yang menghubungkan tokoh-tokoh dari generasi yang berbeda. Setiap figur dipilih berdasarkan kontribusi monumental mereka yang meninggalkan warisan abadi. Penting untuk dicatat bahwa dalam proses verifikasi data, beberapa tokoh yang secara historis sering diasosiasikan dengan Sumatera secara umum namun berasal dari provinsi lain tidak dimasukkan dalam tulisan ini. Misalnya, Tuanku Imam Bonjol dan Mohammad Hatta yang berasal dari Sumatera Barat, serta Tuanku Tambusai dari Riau, meskipun disebutkan dalam beberapa materi penelitian, secara tegas diidentifikasi berasal dari luar Sumatera Utara. Keputusan ini memastikan bahwa fokus tulisan tetap pada tokoh-tokoh yang memiliki akar kuat dan identitas yang secara spesifik berasal dari Sumatera Utara. Dengan memahami kontribusi para tokoh ini, tulisan ini berupaya memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang identitas dan peran Sumatera Utara dalam narasi kebangsaan, melacak kesinambungan dari warisan perjuangan masa lalu menuju inovasi dan pencapaian di era modern.
Para Patriot dan Pemimpin: Tokoh-Tokoh Perjuangan dan Pendirian Bangsa
Simbol Perlawanan Abadi: Sisingamangaraja XII (1845–1907)
Sisingamangaraja XII, yang memiliki nama kecil Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, adalah seorang raja Batak yang memimpin perlawanan epik melawan kolonial Belanda. Ia menjadi salah satu figur paling populer dalam masyarakat Batak dan diakui sebagai pemimpin yang berani. Terdapat inkonsistensi data mengenai tahun ia naik takhta; beberapa sumber menyebutkan tahun 1845 , sementara sumber lain menyebutkan 1876, menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI. Terlepas dari perbedaan tahun tersebut, masa kepemimpinannya dimulai pada periode krusial ketika Belanda mulai berekspansi ke wilayah Batak.
Perang Batak (1878-1907) dipicu oleh penolakan Sisingamangaraja XII terhadap upaya Belanda untuk memonopoli perdagangan di Bakkara dan pengaruh dari misionaris yang meminta bantuan pemerintah kolonial. Pada 16 Februari 1878, ia secara resmi memproklamasikan perang, memulai serangkaian pertempuran yang berlangsung hingga puluhan tahun. Meskipun markasnya di Bakkara berhasil ditaklukkan Belanda pada 3 Mei 1878, Sisingamangaraja XII dan para pengikutnya tidak menyerah. Mereka melarikan diri dan melanjutkan perjuangan melalui taktik gerilya, bahkan mendapatkan dukungan dari pasukan Aceh. Perlawanan yang gigih ini menunjukkan keberanian dan semangat yang pantang menyerah. Perjuangan Sisingamangaraja XII tidak hanya sekadar perlawanan militer, tetapi juga simbol penolakan terhadap asimilasi budaya dan agama yang dibawa oleh kolonialisme, menjadikannya representasi identitas Batak yang kuat. Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran pada 17 Juni 1907 di daerah Dairi. Sebagai pengakuan atas jasa-jasanya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 1961. Warisannya menjadi contoh nyata bahwa perlawanan lokal adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan nasional, yang kemudian diabadikan dalam narasi kebangsaan.
Jenderal Besar dan Konseptor Strategi: A.H. Nasution (1918–2000)
Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, seorang tokoh bersuku Mandailing yang lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, memainkan peranan sentral dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Ia merupakan salah satu jenderal yang tidak hanya memimpin di medan perang, tetapi juga dikenal sebagai seorang intelektual yang merumuskan konsep-konsep strategis krusial. Kontribusi utamanya terletak pada pencetusan taktik perang gerilya (guerrilla warfare) sebagai strategi utama melawan penjajah Belanda. Konsep ini didasarkan pada pemahamannya bahwa dukungan rakyat adalah kunci untuk mengalahkan kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Selain taktik militer, Nasution juga merupakan pencetus konsep Dwifungsi ABRI, sebuah doktrin yang memberikan peran ganda bagi militer dalam bidang pertahanan dan sosial-politik. Konsep ini menunjukkan visi Nasution tentang peran militer yang melampaui tugas konvensional, menjadikannya pilar pembangunan dan stabilitas bangsa, meskipun doktrin ini kemudian menjadi subjek perdebatan. Peran Nasution semakin menonjol selama peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Sebagai salah satu jenderal yang menjadi sasaran utama penculikan, ia berhasil meloloskan diri dengan melompat dari jendela, meskipun harus kehilangan putri kesayangannya, Ade Irma Suryani, dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean. Perannya dalam menumpas G30S/PKI menunjukkan komitmennya yang kuat dalam menjaga stabilitas dan keamanan negara. Dari seorang guru, ia bangkit menjadi panglima besar, membentuk fondasi pertahanan modern dan profesional di Indonesia.
Diplomat dan Arsitek Kebijakan Luar Negeri: Adam Malik (1917–1984)
Adam Malik Batubara, lahir di Pematangsiantar, adalah seorang jurnalis, diplomat, dan politikus ulung. Perjalanan kariernya dimulai sebagai aktivis dan jurnalis. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi Ketua Partindo cabang Pematangsiantar, dan pada 1937, ia mendirikan kantor berita Antara. Keterlibatannya dalam peristiwa Rengasdengklok menjelang proklamasi kemerdekaan menunjukkan karakternya yang proaktif dan berani.
Kiprahnya meluas ke panggung global saat ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dari tahun 1966 hingga 1977. Selama periode ini, ia memainkan peran kunci dalam pendirian ASEAN pada 1967 dan memulihkan hubungan diplomatik dengan berbagai negara, termasuk Malaysia dan Tiongkok. Ia juga berhasil menjadi mediator untuk konflik di Asia Tenggara, seperti di Kamboja dan Vietnam. Adam Malik memimpin Majelis Umum PBB ke-26 pada tahun 1971-1972, di mana ia memimpin penerimaan Republik Rakyat Tiongkok sebagai anggota PBB. Puncaknya, ia menjabat sebagai Wakil Presiden ketiga Indonesia dari tahun 1978 hingga 1983. Yang menarik, ia dikenal berani mengkritik pemerintah Orde Baru terkait korupsi yang disebutnya sebagai “wabah”. Perjalanan karier Adam Malik menunjukkan transformasi dari seorang aktivis yang berani ke seorang diplomat ulung, yang tetap memegang teguh idealismenya bahkan di puncak kekuasaan.
Figur Pejuang Lintas Sektor: Djamin Ginting, T.B. Simatupang, dan Achmad Tahir
Selain tokoh-tokoh besar di atas, Sumatera Utara juga melahirkan banyak pejuang lain yang kontribusinya tak kalah penting, merefleksikan keragaman etnis dan peran yang ada di provinsi ini.
- Djamin Ginting: Lahir di Desa Suka, Kabupaten Karo, Djamin Ginting adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan suku Karo yang menentang pemerintahan Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan, ia menjadi petinggi TNI yang berhasil menumpas pemberontakan. Wafat di Ottawa, Kanada, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2014.
- T.B. Simatupang: Tahi Bonar Simatupang, seorang Batak Toba dari Sidikalang, menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP) hingga 1953. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2013, dan wajahnya diabadikan pada pecahan uang logam Rp500 sebagai pengakuan atas jasanya yang besar.
- Achmad Tahir: Sebagai pejuang kemerdekaan dari etnis Melayu di Kisaran, Achmad Tahir pernah mengemban tugas sebagai Panglima Divisi IV/TKR. Setelah era revolusi, ia berkarir di bidang sipil dan politik, menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi dan Duta Besar Indonesia untuk Prancis. Perjalanan kariernya menunjukkan bagaimana seorang pejuang militer dapat bertransformasi menjadi pemimpin sipil dan diplomat, merepresentasikan fleksibilitas dan adaptabilitas pemimpin-pemimpin dari wilayah ini.
Ketiga tokoh ini, yang berasal dari etnis berbeda (Karo, Toba, Melayu), secara kolektif menunjukkan bahwa kontribusi Sumatera Utara pada era kemerdekaan adalah hasil dari kolaborasi multi-etnis dalam satu kesatuan perjuangan.
Tabel di bawah ini merangkum data penting mengenai para pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Utara.
| Nama Tokoh | Gelar | Asal Suku/Daerah | Perjuangan | Kontribusi Utama | Tahun Pahlawan Nasional |
| Sisingamangaraja XII | Raja, Pejuang | Batak Toba | Perang Batak (1878-1907) | Memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda | 1961 |
| T. Amir Hamzah | Pangeran, Sastrawan | Melayu Langkat | – | Sastrawan Pujangga Baru, menyatukan rasa kebangsaan melalui syair | 1975 |
| Adam Malik | Diplomat, Politikus | Mandailing Batak | Pergerakan Nasional | Mendirikan Antara, Menlu, Wapres, arsitek pendirian ASEAN | 1998 |
| Djamin Ginting | Letjen, Pejuang | Karo | Revolusi Nasional | Menentang Hindia Belanda, menumpas pemberontakan | 2014 |
| T.B. Simatupang | Letjen | Batak Toba | Revolusi Nasional | Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) | 2013 |
| Abdul Haris Nasution | Jenderal | Mandailing | Revolusi Nasional | Konseptor Perang Gerilya, pencetus Dwifungsi ABRI | 2002 |
Penggerak Peradaban: Sastra, Seni, dan Budaya
Pionir Sastra dan Seni Rupa Modern
Jauh sebelum kemerdekaan, Sumatera Utara telah menjadi tempat berkembangnya pergerakan intelektual dan seni yang signifikan. Tokoh-tokoh di bidang ini menggunakan pena dan kuas sebagai alat perjuangan untuk membangun identitas dan karakter bangsa.
- Merari Siregar: Merari Siregar adalah seorang sastrawan dari Sipirok, Tapanuli Selatan. Ia dikenal sebagai penulis novel pertama berbahasa Indonesia, Azab dan Sengsara (1920). Novel ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah sastra nasional, tetapi juga merupakan alat kritik sosial yang tajam terhadap praktik kawin paksa yang dianggapnya tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Karyanya menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya di medan perang, melainkan juga di medan budaya, melalui pencerdasan dan kritik terhadap tradisi yang tidak progresif.
- Sindoedarsono Soedjojono: S. Soedjojono, yang lahir di Kisaran, Sumatera Utara, diakui sebagai “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia”. Ia adalah pionir yang memperkenalkan modernitas seni rupa dalam konteks kondisi faktual bangsa. Karyanya memiliki ciri khas kasar dan jujur, menangkap realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia secara apa adanya. Pada 1938, ia memimpin pendirian Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), yang menjadi tonggak awal seni lukis modern berkarakteristik Indonesia. Melalui lukisan, ia menyuarakan realitas yang mungkin tidak terjangkau oleh media lain, menegaskan peran seni sebagai dokumentasi dan kritik sosial.
- Amir Hamzah: Sastrawan terkemuka dari Langkat ini bergelar Pahlawan Nasional. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan Pujangga Baru, sebuah gerakan sastra yang merayakan identitas nasional. Melalui syair-syairnya yang indah, ia menuangkan rasa cintanya terhadap Indonesia, menjadikannya simbol penyatuan rasa kebangsaan melalui karya seni. Merari Siregar, S. Soedjojono, dan Amir Hamzah menunjukkan bahwa Sumatera Utara adalah salah satu pusat pergerakan intelektual dan seni yang merumuskan fondasi seni dan sastra yang berkarakteristik Indonesia, bukan sekadar meniru gaya Barat.
Seniman dan Kreator Kontemporer
Di era kontemporer, definisi “tokoh berpengaruh” telah berevolusi, mencakup individu yang meraih ketenaran di panggung global melalui bakat di bidang hiburan, olahraga, dan kreativitas.
- Lyodra Ginting: Lyodra, penyanyi kelahiran Medan, meraih ketenaran nasional dan internasional melalui kompetisi televisi dan platform media massa. Ia memenangkan Indonesian Idol sebagai pemenang termuda, dikenal karena kemampuannya menggunakan teknik vokal whistle register secara otodidak. Ia juga menerima berbagai penghargaan internasional, seperti Best New Asian Artist dari Mnet Asian Music Awards 2021. Kiprahnya menunjukkan bagaimana talenta dari daerah dapat meraih panggung global, membuktikan bahwa perjuangan di era modern adalah dalam kompetisi yang sangat ketat.
- Raline Shah: Meskipun lahir di Jakarta, Raline Shah mewakili Sumatera Utara dalam ajang Puteri Indonesia 2008 dan memiliki akar keluarga yang kuat di provinsi tersebut, dengan ayahnya, Rahmat Shah, adalah seorang pengusaha dan politikus terkemuka. Ia dikenal sebagai aktris, filantropis, dan pengusaha. Raline memanfaatkan statusnya sebagai figur publik untuk tujuan filantropi, termasuk mendirikan Rumah Harapan Indonesia, sebuah organisasi yang membantu anak-anak yang membutuhkan perawatan medis.
- Anthony Ginting: Anthony Sinisuka Ginting, atlet bulutangkis yang memiliki akar Batak Karo, telah mengukir prestasi gemilang di kancah global. Ia dikenal dengan julukan “penakluk raksasa” setelah mengalahkan pemain top dunia dan meraih medali perunggu di Asian Games 2018. Prestasinya di Olimpiade dan berbagai turnamen internasional lainnya menegaskan bahwa bakat dan identitas regional dapat bersinar di panggung global.
Munculnya tokoh-tokoh kontemporer seperti mereka merepresentasikan pergeseran lanskap pencapaian dari ranah politik/militer ke ranah budaya, hiburan, dan olahraga. Kekuatan mereka terletak pada bakat individu yang didukung oleh platform modern dan jaringan yang kuat.
Dinamika Ekonomi dan Politik Masa Kini
Titan Bisnis dan Filantropi: Sukanto Tanoto (Lahir 1949)
Kisah Sukanto Tanoto, yang lahir di Belawan, Sumatera Utara, adalah personifikasi dari modernisasi ekonomi di provinsi ini. Ia adalah pendiri dan chairman dari RGE (Royal Golden Eagle), sebuah konglomerat global yang bergerak di bidang sumber daya alam seperti pulp dan kertas, kelapa sawit, dan energi. Tanpa latar belakang pendidikan formal yang tinggi saat memulai, ia membangun bisnisnya dari nol, dimulai sebagai pemasok suku cadang pada tahun 1967.
RGE kini memiliki aset lebih dari US$15 miliar dengan lebih dari 60.000 karyawan di seluruh dunia. Sukanto Tanoto masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Selain itu, ia juga dikenal karena peran filantropinya melalui Tanoto Foundation, yang didirikannya bersama keluarga pada tahun 1981. Yayasan ini berfokus pada pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, dan penanggulangan bencana. Kisahnya menunjukkan bahwa etos kerja dan visi yang kuat dapat mengubah individu dari daerah pesisir menjadi pemain global yang dominan, mencerminkan potensi ekonomi yang luar biasa dari Sumatera Utara.
Lanskap Politik Terkini: Bobby Nasution (Lahir 1991)
Muhammad Bobby Afif Nasution, lahir di Medan, mewakili wajah baru kepemimpinan di Sumatera Utara. Sebelum menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, ia menjabat sebagai Walikota Medan. Karier politiknya dimulai dengan latar belakang bisnis di bidang properti.
Perjalanan politik Bobby Nasution secara signifikan dipengaruhi oleh hubungannya dengan Presiden Joko Widodo, yang adalah ayah mertuanya. Ia memenangkan pemilihan Walikota Medan pada tahun 2020 dengan dukungan dari PDI-P, namun kemudian berpindah ke Partai Gerindra setelah mendukung Prabowo Subianto dalam Pemilu 2024. Kebangkitan politiknya memicu diskusi publik tentang fenomena dinasti politik di Indonesia. Kisahnya menjadi studi kasus tentang bagaimana pengaruh personal dan jaringan kekuasaan di tingkat nasional dapat menjadi faktor penentu dalam memengaruhi lanskap politik di tingkat daerah. Perjalanan kariernya menunjukkan pergeseran dari “meritokrasi perjuangan” menuju “meritokrasi jaringan” yang mencerminkan dinamika politik modern di Indonesia.
Berikut adalah tabel yang merangkum beberapa tokoh kontemporer dari Sumatera Utara.
| Nama Tokoh | Bidang | Asal Daerah/Etnis | Pencapaian Signifikan |
| Lyodra Ginting | Seni, Musik | Medan, Batak Karo | Juara Indonesian Idol termuda, Best New Asian Artist 2021 |
| Raline Shah | Seni, Filantropi | Medan, Melayu/Pakistan | Aktris, runner-up Puteri Indonesia, pendiri Rumah Harapan Indonesia |
| Anthony Ginting | Olahraga, Bulutangkis | Cimahi (berakar Batak Karo) | Medali perunggu Olimpiade, Juara Asia 2023 |
| Sindoedarsono Soedjojono | Seni Rupa | Kisaran | “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” |
| Sukanto Tanoto | Bisnis, Filantropi | Belawan | Pendiri RGE, salah satu orang terkaya di Indonesia, pendiri Tanoto Foundation |
| Bobby Nasution | Politik | Medan, Mandailing Batak | Gubernur Sumatera Utara, mantan Walikota Medan |
Sintesis dan Kesimpulan Strategis
Analisis komprehensif terhadap tokoh-tokoh berpengaruh dari Sumatera Utara, dari masa lampau hingga kini, mengungkap pola kontinuitas dan perubahan yang menarik.
Kontinuitas:
- Semangat Perjuangan: Dari Sisingamangaraja XII yang memimpin perlawanan gerilya, hingga A.H. Nasution yang merumuskan strategi pertahanan, dan Merari Siregar yang berjuang melalui pena, semangat gigih untuk mencapai visi yang lebih besar tetap menjadi benang merah yang kuat. Keteguhan ini terlihat juga pada tokoh kontemporer yang berjuang di tengah kompetisi global, seperti Lyodra dan Anthony Ginting.
- Identitas Kuat: Meskipun banyak tokoh mencapai puncak karier di luar Sumatera Utara (seperti Adam Malik di Jakarta dan New York, atau Sukanto Tanoto di Singapura), mereka tetap membawa dan merepresentasikan identitas regional mereka. Ini menegaskan bahwa warisan budaya dan etnis lebih penting daripada tempat lahir dalam membentuk identitas tokoh masa kini.
Perubahan:
- Pergeseran Medan Perang: Jika tokoh masa lalu berjuang di medan pertempuran fisik dan politik untuk eksistensi bangsa, tokoh-tokoh masa kini berinovasi dan bersaing di ranah ekonomi, seni, dan hiburan. Perjuangan telah bertransformasi dari melawan kolonialisme menjadi membangun reputasi bangsa di mata dunia.
- Jalur Kepemimpinan: Kepemimpinan masa lalu seringkali lahir dari pengorbanan dan idealisme, seperti yang ditunjukkan oleh Sisingamangaraja XII dan Adam Malik. Sebaliknya, karier politik di era kontemporer seperti yang dialami Bobby Nasution, menunjukkan bahwa jaringan kekuasaan dan afiliasi politik di tingkat nasional menjadi faktor yang semakin krusial dalam mencapai posisi puncak di tingkat daerah.
Kesimpulan:
Sumatera Utara telah menjadi sumber tak henti dari figur-figur luar biasa yang membentuk sejarah Indonesia. Tulisan ini menunjukkan bahwa ada kesinambungan dalam etos kerja dan semangat juang, meskipun cara manifestasinya telah berevolusi seiring dengan zaman. Sejarah pahlawan perjuangan mengajarkan kita tentang pentingnya kedaulatan dan identitas, sementara kisah para pionir modern menunjukkan bahwa potensi Sumatera Utara terletak pada kemampuannya beradaptasi, berinovasi, dan bersaing di panggung global.
Daftar Pustaka :
- Tuanku Tambusai Sebagai Pahlawan Inspirasi Lintas Generasi Rokan Hulu, diakses September 22, 2025, https://rokanhulukab.go.id/detailpost/tuanku-tambusai-sebagai-pahlawan-inspirasi-lintas-generasi-rokan-hulu
- Tuanku Tambusai Pahlawan Nasional Riau – RanahRiau.com, diakses September 22, 2025, https://www.ranahriau.com/berita-18898-tuanku-tambusai-pahlawan-nasional-riau.html
- Jangan Lupakan Sejarah! Ini 12 Sosok Pahlawan Nasional dari Sumut, diakses September 22, 2025, https://sumut.idntimes.com/science/discovery/arifin-alamudi/12-sosok-pahlawan-nasional-dari-sumut
- (PDF) Biografi dan Peranan A.H Nasution Pada Masa Era Orde Baru – ResearchGate, diakses September 22, 2025, https://www.researchgate.net/publication/376033156_Biografi_dan_Peranan_AH_Nasution_Pada_Masa_Era_Orde_Baru
- Jenderal Besar AH Nasution Konseptor Taktik Perang Gerilya yang Lolos dari G30S, diakses September 22, 2025, https://www.tempo.co/politik/jenderal-besar-ah-nasution-konseptor-taktik-perang-gerilya-yang-lolos-dari-g30s–467110
- Sejarah Singkat Jenderal AH Nasution yang Berhasil Selamat pada Peristiwa Berdarah G30SPKI – Kompasiana.com, diakses September 22, 2025, https://www.kompasiana.com/ardiansyahdwizulfikarumj/668a26c3c925c46e373a6ab2/sejarah-singkat-jenderal-ah-nasution-yang-berhasil-selamat-pada-peristiwa-berdarah-g30spki
- Adam Malik – Wikipedia, diakses September 22, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Adam_Malik
- Adam Malik | Indonesian Politician, Diplomat & Activist | Britannica, diakses September 22, 2025, https://www.britannica.com/biography/Adam-Malik
- Peran Adam Malik dalam Diplomasi Politik Luar Negeri Indonesia Tahun 1966-1977, diakses September 22, 2025, https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/95425/Peran-Adam-Malik-dalam-Diplomasi-Politik-Luar-Negeri-Indonesia-Tahun-1966-1977
- Merari Siregar – TribunMedan Wiki, diakses September 22, 2025, https://tribunmedanwiki.tribunnews.com/2020/09/23/merari-siregar
- Mengenal Lebih Dekat Sindoedarsono Soedjojono, Bapak Seni Rupa Modern Indonesia Asal Kisaran Sumatera Utara – merdeka.com, diakses September 22, 2025, https://www.merdeka.com/sumut/mengenal-lebih-dekat-sindoedarsono-soedjojono-bapak-seni-rupa-modern-indonesia-asal-kisaran-sumatera-utara-176365-mvk.html
- Sindoedarsono Soedjojono – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses September 22, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Sindoedarsono_Soedjojono
- Anthony Sinisuka Ginting – Indonesia Olympic Commitee, diakses September 22, 2025, https://nocindonesia.id/athlete/view/anthony+sinisuka+ginting
- Anthony Sinisuka Ginting – Wikipedia, diakses September 22, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Anthony_Sinisuka_Ginting
- Profil Sukanto Tanoto, Crazy Rich Medan yang Hobi Borong Properti Mewah – detikcom, diakses September 22, 2025, https://www.detik.com/sumut/bisnis/d-6693627/profil-sukanto-tanoto-crazy-rich-medan-yang-hobi-borong-properti-mewah
- Sukanto Tanoto – RGE, diakses September 22, 2025, https://www.rgei.com/id/tentang-kami/tata-kelola-kepemimpinan/sukanto-tanoto
- Biografi Sukanto Tanoto | PDF – Scribd, diakses September 22, 2025, https://id.scribd.com/document/326332191/Biografi-Sukanto-Tanoto
- Organisasi – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses September 22, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/halaman/organisasi
