Asia Selatan, sebuah kawasan yang mencakup negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan, dan Maladewa, merupakan salah satu pusat demografi paling vital di dunia. Kawasan ini menampung populasi yang diproyeksikan mencapai 2.085.207.717 pada tahun 2025, yang setara dengan 25,33% dari total populasi global. Angka ini menjadikannya wilayah geografis yang paling padat penduduk di dunia, dengan kepadatan rata-rata 326 orang per kilometer persegi. Tulisan ini menyajikan analisis mendalam mengenai kompleksitas demografi dan etnis di Asia Selatan, melampaui data statistik dasar untuk mengeksplorasi interaksi yang rumit antara sejarah, konflik, bahasa, agama, dan pola migrasi.
Populasi Asia Selatan tidak hanya signifikan karena ukurannya yang masif, tetapi juga karena dinamikanya. Usia median di kawasan ini relatif muda, diperkirakan 27,5 tahun pada tahun 2025 [1], yang menandakan adanya potensi dividen demografi yang besar, yaitu pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh peningkatan populasi usia produktif. Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan yang signifikan. Kepadatan penduduk yang ekstrem, diperparah oleh tingkat urbanisasi yang masih rendah (38,2% pada 2025, memberikan tekanan luar biasa pada sumber daya, infrastruktur, dan lapangan kerja. Analisis ini akan meneliti bagaimana faktor-faktor demografi ini membentuk lanskap sosial, politik, dan ekonomi di setiap negara, serta bagaimana sejarah dan konflik telah membentuk identitas kolektif di kawasan yang sangat beragam ini.
Lanskap Demografi Kuantitatif
Demografi Kawasan
Populasi Asia Selatan telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa dekade terakhir. Dari sekitar 464 juta pada tahun 1950, populasi ini membengkak menjadi lebih dari 2 miliar jiwa pada tahun 2025. Meskipun demikian, laju pertumbuhan tahunan telah menunjukkan tren perlambatan. Laju pertumbuhan mencapai puncaknya pada 2,4% pada tahun 1990, namun menurun signifikan menjadi 1,02% pada tahun 2025. Fenomena ini sebagian besar dapat diatribusikan pada penurunan tingkat kesuburan regional yang secara bertahap mendekati tingkat penggantian.
Sebuah dinamika yang menarik adalah adanya arus migrasi keluar yang berkelanjutan. Meskipun kawasan ini mencatatkan pertumbuhan populasi yang besar, tulisan menunjukkan adanya migrasi neto negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa sementara populasi terus bertambah secara alami karena tingginya tingkat kelahiran, sejumlah besar individu secara bersamaan meninggalkan wilayah tersebut, kemungkinan besar untuk mencari peluang ekonomi atau menghindari ketidakstabilan sosial. Pada tahun 2024, data menunjukkan bahwa India memiliki migrasi neto negatif sebanyak 630.830 jiwa, diikuti oleh Pakistan dengan -1.401.173 jiwa dan Bangladesh dengan -473.362 jiwa. Tren ini menunjukkan tekanan ekonomi yang mendorong migrasi, sekaligus menyoroti peran penting diaspora dalam mengirimkan remitansi kembali ke negara asal.
Demografi Per Negara
Data demografi per negara menyoroti variasi yang besar di dalam kawasan ini. India memimpin dengan populasi yang diproyeksikan mencapai 1.450.935.791 pada tahun 2025, menjadikannya negara terpadat di dunia dan menampung 17,3% dari populasi global. Pakistan berada di peringkat kelima secara global dengan populasi 251.269.164 jiwa pada tahun 2025, dan Bangladesh di peringkat kedelapan dengan populasi 173.562.364 jiwa. Bangladesh memiliki salah satu kepadatan penduduk tertinggi di dunia dan merupakan satu-satunya negara di peringkat sepuluh besar baik dalam hal populasi maupun kepadatan. Negara-negara lain seperti Nepal, Sri Lanka, Bhutan, dan Maladewa memiliki populasi yang jauh lebih kecil, berkisar dari 29 juta di Nepal hingga kurang dari satu juta di Bhutan dan Maladewa.
Tingkat pertumbuhan populasi juga bervariasi. Pakistan mencatatkan laju pertumbuhan tahunan tertinggi di antara negara-negara utama dengan 1,5% pada tahun 2024, sementara India dan Bangladesh menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih lambat, masing-masing 0,9% dan 1,2%. Sebaliknya, Nepal memiliki pertumbuhan populasi yang stagnan, bahkan mengalami laju perubahan negatif sebesar -0,15% pada tahun 2024, yang terutama disebabkan oleh migrasi neto yang signifikan.
Tabel berikut menyajikan data demografi kunci untuk negara-negara di Asia Selatan, menyoroti perbedaan ukuran, kepadatan, dan tren populasi yang ada di kawasan tersebut.
Tabel 1: Data Demografi Kunci Negara Asia Selatan
| Negara | Populasi (2025) | Kepadatan (P/Km²) | Tingkat Pertumbuhan Tahunan (%) | Usia Median | % Populasi Perkotaan |
| India | 1.450.935.791 | 442 | 0,9 | 28,1 | 38,2 |
| Pakistan | 251.269.164 | 337 | 1,5 | 19 | 36,4 |
| Bangladesh | 173.562.364 | 1.161 | 1,2 | 28 | 37,4 |
| Iran | 91.567.738 | 56 | 1,1 | 32,5 | 77,5 |
| Afganistan | 42.647.492 | 65 | 2,8 | 18,6 | 28,2 |
| Nepal | 29.651.054 | 207 | -0,15 | 25,3 | 24,5 |
| Sri Lanka | 23.103.565 | 332 | 0,61 | 32 | 18,2 |
| Bhutan | 791.524 | 20 | 1,4 | 27,2 | 38,6 |
| Maladewa | 527.799 | 1.765 | 1,2 | 29,3 | 43,8 |
Mozaik Etnis dan Linguistik
Kawasan Asia Selatan adalah rumah bagi salah satu keragaman etnis dan linguistik terbesar di dunia, yang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa keluarga bahasa utama. Tiga kelompok etnolinguistik terbesar yang mendominasi kawasan ini adalah Indo-Arya, Dravida, dan Iranik.
Kelompok Etnolinguistik Utama
Kelompok Indo-Arya merupakan kelompok etnolinguistik terbesar di Asia Selatan, dengan populasi sekitar 1 miliar orang. Mereka tersebar luas dan menjadi kelompok etnolinguistik dominan di India utara, timur, barat, dan tengah, serta di Bangladesh, Pakistan, Nepal, Sri Lanka, dan Maladewa. Subkelompok terbesar dari kelompok ini adalah penutur asli bahasa Hindi, yang berjumlah lebih dari 470 juta jiwa.
Kelompok Dravida adalah kelompok etnolinguistik dominan di India selatan. Mereka juga memiliki kehadiran yang signifikan di wilayah utara dan timur Sri Lanka, serta dalam kantong kecil di Pakistan. Di antara kelompok Dravida terdapat berbagai subkelompok seperti suku Kannadiga, Tamil, Telugu, dan Malayali. Sementara itu, kelompok Iranik memiliki kehadiran yang signifikan di Pakistan barat laut dan barat.
Kelompok Minoritas yang Beragam
Selain kelompok-kelompok besar ini, Asia Selatan juga memiliki mozaik kelompok minoritas yang kaya. Kelompok-kelompok ini meliputi:
- Sino-Tibet: Sebagian besar mendiami wilayah timur laut India, Nepal, Bhutan, dan Chittagong Hill Tracts di Bangladesh. Kelompok ini mencakup Tamang, Bodo, Newar, dan Gurung.
- Austroasiatik: Termasuk suku Munda dan Khasi.
- Turkik: Seperti Turkmen dan Uzbek, yang juga hadir di kawasan ini.
- Afro-Asia: Terdiri dari kelompok-kelompok seperti Chaush dan Sheedis/Siddis, sebuah komunitas dengan keturunan Afrika yang tinggal di Pakistan dan India.
- Lainnya: Terdapat juga kelompok-kelompok terisolasi secara linguistik seperti Andamanese, Kusunda, Vedda, dan Nihali.
Penting untuk dipahami bahwa klasifikasi etnolinguistik ini didasarkan pada kesamaan bahasa, bukan pada kesamaan genetik. Hal ini menyiratkan bahwa identitas etnis di Asia Selatan adalah sebuah konstruksi budaya yang kuat, yang berpusat pada bahasa sebagai elemen pemersatu. Terdapat pula banyak kelompok lain seperti keturunan Arab, Yahudi, dan Eropa-Eurasia, seperti Anglo-Indian, yang menambah keragaman etnis di kawasan ini.
Tabel berikut menunjukkan komposisi etnis mayoritas dan distribusinya di negara-negara utama di Asia Selatan.
Tabel 2: Komposisi Etnis dan Distribusi Geografis Mayoritas per Negara
| Negara | Kelompok Mayoritas | Persentase | Distribusi Geografis Utama |
| India | Indo-Arya | n/a | India Utara, Timur, Barat, dan Tengah |
| Pakistan | Punjabis | 44,7% | Wilayah Punjab |
| Bangladesh | Bengali | 99% | Seluruh wilayah |
| Sri Lanka | Sinhala | 74,9% | Barat daya dan wilayah tengah |
| Nepal | Khas | 39,37% | Wilayah Perbukitan Nepal |
| Bhutan | Tibeto-Burman | 96,60% | Seluruh wilayah |
Agama dan Bahasa: Fondasi Identitas Kolektif
Tinjauan Agama di Asia Selatan
Agama memainkan peran sentral dalam membentuk identitas sosial dan politik di Asia Selatan. Kawasan ini merupakan tempat kelahiran agama-agama besar dunia seperti Hindu, Buddha, Sikhisme, dan Jainisme. Pada tahun 2022, Asia Selatan memiliki populasi Hindu, Sikh, Jain, dan Zoroastrian terbesar di dunia. Mayoritas penduduknya terbagi menjadi kelompok-kelompok agama yang dominan di negara masing-masing:
- Hindu: Mayoritas di India (79,8%) dan Nepal (81,2%).
- Islam: Mayoritas di Pakistan (96,28%), Bangladesh (90,4%), dan Maladewa (100%).
- Buddhisme: Mayoritas di Sri Lanka (70,2%) dan Bhutan (74,8%).
Selain itu, terdapat populasi Kristen yang signifikan (2,3% di India) serta kelompok-kelompok minoritas lain seperti Sikh, Jain, dan Zoroastrian.
Tabel 3: Persentase Agama Utama per Negara di Asia Selatan
| Negara | Hindu (%) | Islam (%) | Buddha (%) | Kristen (%) | Lainnya (%) |
| India | 79,8 | 14,2 | 0,7 | 2,3 | 3,0 |
| Pakistan | 1,85 | 96,28 | – | 1,59 | 0,28 |
| Bangladesh | 9,5 | 90,4 | 0,6 | 0,4 | 0,1 |
| Sri Lanka | 12,6 | 9,7 | 70,2 | 6,2 | 1,3 |
| Nepal | 81,2 | 5,09 | 8,21 | 1,76 | 3,74 |
| Bhutan | 22,6 | 0,1 | 74,8 | 0,5 | 2,0 |
| Maladewa | – | 100 | – | – | – |
Peran Bahasa dan Agama dalam Identitas
Hubungan antara bahasa dan agama di Asia Selatan adalah salah satu aspek yang paling menarik dari identitas di kawasan ini. Meskipun berbagai agama dapat mengekspresikan kepercayaan mereka dalam banyak bahasa lisan, skrip tulisan yang digunakan untuk bahasa-bahasa ini seringkali memisahkan kelompok-kelompok agama secara tajam. Fenomena ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “skisma skriptural,” di mana bahasa lisan yang sama memfasilitasi komunikasi lisan, tetapi bentuk tertulisnya menjadi batas pemisah yang kuat.
Contoh yang paling jelas adalah bahasa Punjabi, yang diucapkan secara serupa oleh komunitas Muslim, Sikh, dan Hindu di wilayah Punjab. Namun, untuk menulis bahasa ini, mereka menggunakan tiga skrip yang berbeda: Muslim menggunakan skrip Nastaliq yang berbasis Arab, Sikh menggunakan alfabet Gurmukhi, dan Hindu Punjabi menggunakan skrip Gurmukhi atau Nāgarī. Pembagian ini menunjukkan bagaimana identitas agama tidak hanya terwujud dalam praktik spiritual, tetapi juga dalam media ekspresi budaya tertulis yang sangat penting untuk melestarikan teks-teks keagamaan dan sejarah. Akibatnya, hubungan antara bahasa lisan dan skrip tulisan memperkuat identitas agama dan dapat berkontribusi pada fragmentasi sosial.
Peran Sejarah dan Konflik dalam Membentuk Demografi Etnis
Lanskap demografi Asia Selatan saat ini adalah hasil langsung dari peristiwa-peristiwa sejarah, terutama konflik dan migrasi paksa. Partisi India tahun 1947 adalah peristiwa paling signifikan yang secara fundamental membentuk komposisi etnis dan agama di kawasan ini .
Partisi India 1947
Setelah kemerdekaan dari Kekaisaran Inggris, wilayah kolonial dibagi menjadi dua negara berdaulat: Dominion Pakistan yang didominasi Muslim dan Persatuan India yang didominasi Hindu. Proses partisi ini, yang dilakukan dengan tergesa-gesa oleh Sir Cyril Radcliffe, memicu salah satu migrasi massal dan krisis pengungsi terbesar dalam sejarah. Diperkirakan 14 hingga 17 juta orang mengungsi dari rumah leluhur mereka, dan antara 1 hingga 3 juta orang tewas akibat kekerasan dan krisis yang menyertainya.
Warisan Partisi tidak hanya menciptakan perbatasan fisik tetapi juga meninggalkan trauma psikologis yang mendalam bagi jutaan keluarga. Garis perbatasan yang sewenang-wenang ini terus menjadi sumber konflik, seperti dalam sengketa berkepanjangan di Kashmir, yang memicu Perang India-Pakistan pertama pada tahun 1947. Partisi pada dasarnya adalah peristiwa yang belum selesai, yang terus memengaruhi hubungan politik dan etnis di seluruh Asia Selatan hingga saat ini.
Konflik Etnis dan Agama di Kawasan
Pola konflik yang didasarkan pada perpecahan etno-religius berulang di seluruh kawasan. Perang Saudara Sri Lanka (1983-2009) adalah contoh yang jelas dari konflik antara mayoritas Sinhala yang beragama Buddha dan minoritas Tamil yang beragama Hindu. Konflik ini dipicu oleh kebijakan diskriminatif seperti Sinhala Only Act tahun 1956, yang membuat banyak penduduk Tamil menjadi pengangguran dan jatuh miskin. Perang ini menewaskan lebih dari 100.000 orang, dan menyebabkan banyak orang Tamil mengungsi ke India.
Pola yang mendasari konflik-konflik ini adalah upaya dominasi mayoritas etnis-agama. Di Sri Lanka, mayoritas Sinhala memonopoli kekuasaan politik dan ekonomi, yang memicu perlawanan dari kelompok minoritas Tamil. Demikian pula, gerakan nasionalisme Hindu, atau Hindutva, di India kontemporer bertujuan untuk mengubah India dari negara sekuler menjadi negara etno-nasionalis. Ideologi ini telah menciptakan ketegangan yang lebih serius dalam hubungan bilateral antara India dan Pakistan, serta meningkatkan kekhawatiran di kalangan komunitas Muslim di India.
Migrasi dan Pembentukan Diaspora Asia Selatan Global
Migrasi telah menjadi kekuatan transformatif dalam sejarah Asia Selatan, tidak hanya membentuk demografi di dalam kawasan tetapi juga menciptakan diaspora global yang signifikan.
Sejarah Migrasi dari Asia Selatan
Gelombang migrasi pertama yang signifikan terjadi selama era kolonial, ketika lebih dari 1 juta orang Asia Selatan diangkut sebagai pekerja kontrak ke berbagai belahan dunia untuk bekerja di perkebunan di Karibia, Fiji, Mauritius, dan Afrika. Pola migrasi ini berlanjut di dalam kawasan, dengan sejumlah besar pekerja bermigrasi ke Burma (Myanmar) dan Sri Lanka untuk bekerja di sawah dan perkebunan teh.
Pada era pasca-kolonial, migrasi mengambil karakter baru. Sejumlah besar orang Asia Selatan, terutama pekerja terampil dan profesional, beremigrasi ke Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada. Migrasi ini terus berlanjut, dengan orang-orang dari India, Pakistan, dan Bangladesh membentuk komunitas yang signifikan di kota-kota besar di seluruh dunia.
Dinamika Migrasi Kontemporer
Saat ini, migrasi dari Asia Selatan adalah fenomena dua sisi. Di satu sisi, migrasi ini seringkali merupakan respons terhadap kemiskinan, penganiayaan, dan konflik. Di sisi lain, migrasi ini menciptakan komunitas diaspora yang kuat dan berpengaruh. Data menunjukkan bahwa India, Pakistan, dan Bangladesh mencatatkan migrasi neto negatif yang signifikan, yang menekankan skala migrasi keluar yang berkelanjutan. Meskipun demikian, diaspora ini memainkan peran penting dalam perekonomian negara asal mereka melalui remitansi. Misalnya, pada tahun 2024, remitansi pribadi yang diterima Pakistan, India, dan Bangladesh menyumbang 9,4%, 3,5%, dan 6,0% dari PDB mereka.
Diaspora Asia Selatan, dengan populasi lebih dari 44 juta orang, telah menjadi kekuatan penting di negara-negara tuan rumah. Mereka telah berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih beragam dan demokratis, dengan banyak orang keturunan Asia Selatan terpilih menjadi perwakilan politik di negara-negara Barat. Sebuah aspek menarik dari diaspora ini adalah keberadaan “diaspora sekunder,” di mana keluarga-keluarga Asia Selatan telah berpindah melalui beberapa negara selama beberapa generasi untuk mencapai tujuan akhir [25]. Fenomena ini menunjukkan kerumitan pengalaman diaspora, di mana identitas dan tradisi diwariskan dan diadaptasi di berbagai lingkungan.
Kesimpulan
Asia Selatan adalah kawasan dengan demografi yang dinamis dan etnisitas yang kompleks, yang keduanya dibentuk oleh warisan sejarah yang bergejolak dan terus memengaruhi realitas kontemporer. Tulisan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi yang masif dan kepadatan penduduk yang ekstrem menjadi ciri khas kawasan ini. Identitas etnis di Asia Selatan adalah sebuah konstruksi yang berakar kuat pada bahasa, namun terbagi oleh skrip tulisan yang terkait dengan agama. Konflik-konflik etno-religius bersejarah, seperti Partisi India dan Perang Saudara Sri Lanka, telah secara permanen membentuk lanskap demografi dan politik, meninggalkan warisan ketegangan yang masih terasa hingga kini.
Sementara migrasi dari kawasan ini seringkali merupakan respons terhadap tantangan internal, migrasi juga telah menciptakan diaspora global yang berpengaruh. Komunitas diaspora ini tidak hanya menjadi sumber dukungan ekonomi vital bagi negara asal melalui remitansi, tetapi juga merupakan kekuatan politik dan budaya di panggung global.
Ke depan, Asia Selatan akan menghadapi tantangan signifikan. Kawasan ini harus mengelola pertumbuhan populasi yang masih cepat, terutama di tengah keterbatasan sumber daya. Masalah ini diperparah oleh urbanisasi yang lambat, yang memusatkan sebagian besar penduduk di wilayah pedesaan yang kurang berkembang. Selain itu, kawasan ini harus terus bergulat dengan warisan konflik etno-religius yang telah mendefinisikan hubungan antar negara dan antar komunitas. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana dinamika ini akan memengaruhi stabilitas regional dan peran Asia Selatan dalam tatanan global di masa depan.
