Semiotika Kekuasaan dan Representasi Zoologis

Dalam peta politik global, simbol berfungsi sebagai bahasa universal yang melampaui batas-batas verbal. Semiotika politik—ilmu tentang tanda dan simbol dalam konteks kekuasaan—mengajarkan bahwa lambang-lambang ini adalah wadah narasi, nilai, dan aspirasi suatu bangsa. Representasi zoologis, atau penggunaan binatang sebagai simbol, adalah salah satu praktik tertua dan paling kuat dalam semiotika ini. Fenomena ini muncul karena karakteristik alamiah binatang, seperti kekuatan, keberanian, keluhuran, atau kelincahan, sering kali dipersonifikasi dan dijadikan representasi ideal dari sifat-sifat manusia yang ingin dijunjung oleh sebuah negara. Simbol-simbol ini bukan sekadar ornamen; mereka adalah cerminan identitas kolektif dan alat untuk memproyeksikan citra yang diinginkan, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional.

Tulisan ini membedah penggunaan simbol binatang dalam dua kategori utama yang saling terkait. Pertama, sebagai simbol literal atau lambang resmi (emblem), yang berfungsi sebagai representasi identitas yang statis dan formal, seperti yang terlihat pada lambang negara, bendera, atau mata uang. Kedua, sebagai metafora figuratif yang bersifat dinamis dan kontekstual, digunakan sebagai alegori, analogi, atau sarkasme dalam wacana politik dan diplomasi. Melalui pendekatan komparatif, studi kasus, dan analisis semiotika, tulisan ini bertujuan untuk menggali lapisan makna yang tersembunyi di balik pilihan-pilihan simbolik ini, menunjukkan bagaimana mereka berevolusi seiring waktu untuk mencerminkan perubahan sejarah, budaya, dan strategi politik.

Arkeologi Simbol: Akar Sejarah dan Mitologis

Pemilihan hewan sebagai lambang kenegaraan sering kali berakar pada narasi sejarah dan mitologi kuno. Simbol-simbol ini berfungsi untuk memberikan legitimasi historis, menyatukan populasi di bawah satu visi, dan memproyeksikan citra kekuatan atau idealisme tertentu kepada dunia internasional. Penggunaan makhluk mitologis, khususnya, menunjukkan bahwa pembentukan identitas suatu negara tidak hanya didasarkan pada realitas fisik atau politik, melainkan juga pada narasi transenden yang memberikan legitimasi dan keagungan spiritual. Narasi ini menghubungkan bangsa modern dengan warisan leluhur yang agung, menciptakan fondasi identitas yang lebih kuat dan tahan lama daripada sekadar simbol-simbol duniawi.

Studi Kasus 1: Garuda, Sang Pembebas dari Mitologi Hindu

Burung Garuda, sebuah makhluk mitologi ikonik, merupakan wahana Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dalam mitologi, Garuda digambarkan sebagai raja para burung yang memiliki tubuh tertutup bulu emas, berwajah putih, dan bersayap merah, dengan paruh dan sayap mirip elang tetapi tubuhnya seperti manusia. Kisah heroiknya, yang termuat dalam kitab Mahabharata bagian Adiparwa, menceritakan bagaimana ia berjuang untuk membebaskan ibunya, Sang Winata, dari perbudakan para naga. Untuk membebaskan ibunya, Garuda harus membawa air kehidupan milik para dewa, yang ia peroleh setelah mengalahkan mereka dalam pertempuran. Kisah ini menjadi dasar bagi makna-makna yang terkandung dalam mitosnya: Garuda melambangkan semangat kebebasan, keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan.

Dalam konteks kenegaraan Indonesia, figur Garuda telah jauh melampaui asal-usul mitologisnya. Burung Garuda dipilih sebagai lambang negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat. Lambang ini, yang dikenal sebagai Garuda Pancasila, memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan. Selain itu, jumlah bulunya memiliki makna yang sangat spesifik, melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945: 17 helai bulu pada masing-masing sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor, dan 45 helai bulu di leher. Kehadiran Garuda sebagai simbol kenegaraan telah lama mengakar dalam sejarah Indonesia, jauh sebelum terbentuknya negara modern, seperti yang terlihat pada relief kuno di candi-candi Hindu dan Buddha. Contohnya, relief di Candi Kidal dan Candi Sukuh secara khusus menggambarkan kisah Garudeya (Garuda), menekankan kehadirannya sebagai simbol pembebas dan spirit perjuangan yang tak pernah padam. Terdapat kemiripan visual yang mencolok antara relief di Candi Kidal dengan Garuda Pancasila, termasuk paruh yang kuat dan terbuka, serta lambang rantai yang dikalungkan, yang menegaskan bahwa relief kuno ini menjadi inspirasi utama lambang negara.

Secara komparatif, penggunaan Garuda juga ditemukan di Thailand, tetapi dengan makna yang sedikit berbeda. Di Thailand, figur Garuda, yang dikenal sebagai Khrut Pha, digunakan sebagai lambang keluarga kerajaan dan otoritas, yang menunjukkan peran Garuda sebagai wahana Dewa Wisnu. Perbandingan ini memperlihatkan bagaimana simbol yang sama dapat diadopsi dan diinterpretasikan secara berbeda untuk mencerminkan narasi politik yang berbeda—nasionalisme yang berdaulat di Indonesia, dan otoritas monarki di Thailand.

Studi Kasus 2: Naga, Simbol Kekaisaran dan Kesejahteraan di Asia

Berbeda secara mencolok dengan penggambaran naga dalam mitologi Barat, di Asia Timur naga adalah makhluk ilahi yang sangat dihormati, melambangkan kekuatan, otoritas, dan kesuksesan. Dalam tradisi Tiongkok, naga dipandang sebagai penguasa air dan hujan, menjadikannya simbol yang vital dalam masyarakat agraris kuno. Kehadirannya dipercaya membawa keberuntungan, kemakmuran, dan kebaikan.

Penggunaan naga sebagai simbol kekuasaan politik juga memiliki sejarah yang panjang dan sakral. Sejak zaman kuno, naga hanya boleh digunakan oleh kaisar sebagai perlambang kekaisaran, yang sering disebut sebagai “Putra Langit”. Simbolisme ini menciptakan koneksi spiritual antara penguasa dan kekuasaan ilahi, menegaskan bahwa kekuasaan kaisar adalah mandat dari surga. Bukti penggunaan simbol ini dapat ditemukan dalam arsitektur Tiongkok, di mana naga muncul di istana kekaisaran dan kuil-kuil, yang menunjukkan bahwa naga bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga jembatan antara dunia manusia dan ilahi.

Penggunaan makhluk mitologis sebagai lambang negara, baik Garuda maupun naga, merupakan sebuah strategi untuk membangun “arkeologi naratif.” Dengan menghubungkan masa kini dengan masa lalu yang penuh kejayaan dan makna spiritual, sebuah negara dapat menanamkan rasa kebanggaan kolektif yang mendalam dan memobilisasi persatuan. Simbol-simbol ini lebih dari sekadar representasi; mereka mewakili seluruh kisah heroik dan spiritual yang diyakini oleh masyarakat, memberikan fondasi identitas yang agung dan tak tergoyahkan.

Simbol Asal Mitologi Makna Inti Konteks Kenegaraan Implikasi Politik
Garuda Hindu-Buddha (Wahana Dewa Wisnu) Kebebasan, Keberanian, Kesetiaan Lambang negara Indonesia dan Thailand, maskot satwa langka Elang Jawa. Indonesia: Semangat kedaulatan, persatuan, dan kebesaran bangsa. Thailand: Otoritas kerajaan.
Naga Tiongkok Kuno (Penguasa Air dan Langit) Kekuasaan, Keberuntungan, Kebijaksanaan, Perlindungan. Simbol kekaisaran Tiongkok. Hubungan sakral antara kaisar (penguasa) dan kekuasaan ilahi.

Simbol Terestrial: Kekuatan, Warisan, dan Identitas Endemik

Selain makhluk mitologis, hewan-hewan nyata yang perkasa juga banyak digunakan sebagai lambang kenegaraan. Simbol-simbol ini cenderung berfokus pada sifat-sifat yang dapat diamati secara fisik, seperti kekuatan, keberanian, dan bangsawan, atau pada keunikan spesies yang melambangkan warisan alam suatu bangsa.

Sang Raja Hutan: Singa dan Tiga Maknanya

Singa adalah salah satu simbol kekuasaan yang paling universal, yang diakui secara global sebagai lambang kekuatan, keberanian, dan kenegaraan. Penggunaannya tersebar luas, dari kerajaan kuno hingga negara-negara modern. Meskipun tidak ada singa yang hidup secara alami di Inggris sejak abad ke-12, singa dipilih sebagai lambang Kerajaan Inggris untuk merepresentasikan kekuatan dan keberanian monarki. Demikian pula, di Belanda, lambang singa dipilih dari lambang keluarga Orange-Nassau untuk melambangkan persatuan negara, dengan semboyan kerajaan “Je Maintiendrai” (Saya Akan Mempertahankan) yang tertera di bawahnya. Sementara itu, di Asia Tenggara, singa dan harimau digunakan oleh Singapura dan Malaysia untuk mewakili kekuatan dan keberanian yang berakar pada warisan sejarah mereka.

Identitas Unik: Hewan Endemik sebagai Lambang Nasional

Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran narasi dari penggunaan simbol kekuasaan yang bersifat universal (seperti singa atau elang) menuju simbol yang lebih unik dan spesifik. Ini merupakan manifestasi dari nasionalisme modern yang berupaya membedakan diri dan mengedepankan kekhasan budaya, warisan alam, dan kedaulatan. Daripada meniru simbol-simbol kekuatan Eropa yang sering dikaitkan dengan masa kolonialisme, banyak negara yang baru merdeka mencari identitas yang otentik dalam fauna lokal mereka.

Banyak negara memilih hewan endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah mereka sebagai lambang nasional. Australia, misalnya, memilih Kanguru dan Burung Emu sebagai lambang negaranya karena kedua hewan ini tidak bisa bergerak mundur, yang melambangkan kemajuan bangsa yang tak pernah surut. Selandia Baru memilih Burung Kiwi, hewan nokturnal yang unik dan tidak bisa terbang, sebagai simbol nilai-nilai lokal dan kekhasan budaya mereka. Indonesia memiliki Komodo, reptil purba endemik yang dianggap sebagai harta berharga dan melambangkan kebanggaan atas kekayaan alam yang langka. Zimbabwe menggunakan  Sable Antelope yang memiliki tanduk panjang melengkung sebagai media pertahanan diri, sementara Botswana menggunakan Zebra yang merepresentasikan kekayaan fauna lokal.

Pemilihan hewan endemik sebagai simbol nasional ini adalah sebuah pernyataan politik yang penting. Ini bukan sekadar keputusan estetik, melainkan sebuah tindakan untuk menegaskan kedaulatan budaya dan kemandirian. Simbol-simbol ini berfungsi untuk menciptakan identitas yang berbeda dari para penjajahnya, serta menunjukkan komitmen terhadap pelestarian alam yang merupakan bagian integral dari identitas bangsa.

Negara Hewan Makna Khas Implikasi Politik
Australia Kanguru dan Emu Simbol kemajuan yang tak pernah mundur. Pernyataan identitas unik, melepaskan diri dari pengaruh imperial.
Selandia Baru Burung Kiwi Unik, berharga, dan lambang nilai-nilai lokal. Menekankan keaslian dan kekhasan budaya.
Indonesia Komodo Harta berharga dan warisan purba. Kebanggaan terhadap kekayaan alam yang langka.
Zimbabwe Sable Antelope Pertahanan diri yang unik. Menunjukkan ketangguhan dan kemampuan beradaptasi.
Botswana Zebra Kekayaan fauna lokal. Komitmen terhadap pelestarian alam dan warisan.

Simbol Penguasa Langit: Analisis Komparatif Simbolisme Burung Pemangsa

Elang adalah simbol kenegaraan yang paling dominan di seluruh dunia, dari Mesir kuno hingga kekaisaran modern. Burung pemangsa ini sering dikaitkan dengan karakteristik yang sangat idealis, seperti ketajaman visi, kekuatan, keberanian, fokus yang tajam, dan kemandirian.

Elang di Tiga Imperium: Studi Kasus Komparatif

Penggunaan elang sebagai simbol kenegaraan memiliki sejarah yang kaya. Di Kekaisaran Romawi, Aquila (elang emas) adalah lambang utama legiun, merepresentasikan kekuatan militer yang tak terkalahkan. Lambang ini kemudian diadopsi oleh berbagai kekaisaran di Eropa. Salah satu yang paling menonjol adalah Kekaisaran Rusia, yang menggunakan simbol elang berkepala dua yang berasal dari Kekaisaran Bizantium. Elang berkepala dua ini melambangkan kekuasaan yang membentang di Barat dan Timur, serta persatuan antara negara dan Gereja Ortodoks.

Di Amerika Serikat, Elang Botak (Haliaeetus leucocephalus) dipilih sebagai lambang nasional pada tahun 1782. Simbol ini diletakkan di Lambang Kebesaran Amerika Serikat dan melambangkan kekuatan, persatuan, dan kemandirian bangsa. Elang tersebut digambarkan menggenggam ranting zaitun dan anak panah, yang menunjukkan kekuatan negara untuk memilih antara perdamaian dan perang.

Kontradiksi Filosofis: Debat Benjamin Franklin

Analisis tentang simbol elang tidak akan lengkap tanpa membahas perdebatan bersejarah yang melibatkan salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat, Benjamin Franklin. Dalam sebuah suratnya kepada sang putri, Franklin secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya dengan pemilihan Elang Botak sebagai lambang nasional. Ia berpendapat bahwa elang adalah “burung dengan karakter moral yang buruk” karena sifatnya yang malas dan sering mencuri mangsa burung lain, seperti elang ikan (fishing hawk). Menurutnya, elang adalah pengecut, yang bahkan dapat diusir oleh burung yang lebih kecil seperti kingbird.

Franklin justru mengusulkan kalkun (turkey) sebagai lambang yang lebih terhormat. Ia memuji kalkun sebagai burung yang “jauh lebih terhormat” dan merupakan hewan asli Amerika (a true original native of America). Kalkun, menurut Franklin, adalah burung yang berani dan protektif, yang tidak akan ragu menyerang seorang grenadier Inggris berambut merah yang berani menginvasi wilayahnya.

Perdebatan ini menyoroti sebuah ketegangan fundamental dalam penggunaan simbol kenegaraan. Makna sebuah simbol tidaklah inheren atau melekat pada hewan itu sendiri, melainkan merupakan hasil dari narasi yang dibangun di sekitarnya. Penolakan Franklin terhadap elang didasarkan pada pengamatan yang realistis terhadap perilaku hewan, yang kontradiktif dengan idealisme yang ingin diproyeksikan oleh para pendiri bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa simbol kenegaraan adalah sebuah proyeksi, bukan deskripsi yang objektif. Perdebatan ini menggarisbawahi bahwa di balik simbol-simbol yang agung, terdapat perdebatan tentang karakter dan nilai-nilai inti yang seharusnya diwakili oleh suatu negara.

Metafora Binatang dalam Wacana Politik Kontemporer

Selain digunakan sebagai lambang formal, binatang juga berfungsi sebagai metafora dan alegori dalam wacana politik, baik sebagai alat retorika untuk menyederhanakan gagasan yang rumit maupun untuk mengkritik perilaku individu atau kelompok. Contoh klasik penggunaan alegori ini adalah novel  Animal Farm karya George Orwell, di mana hewan-hewan di sebuah peternakan memberontak melawan manusia, tetapi kemudian disalahgunakan oleh babi yang korup, menjadi satir terhadap Revolusi Rusia dan korupsi kekuasaan.

Ekonomi dan Politik Luar Negeri: Kasus “Hawk” dan “Dove”

Dalam tulisan ekonomi dan politik, dua istilah yang sering digunakan adalah “monetary hawk” (elang moneter) dan “monetary dove” (merpati moneter). Istilah ini mengkategorikan individu berdasarkan pendekatan mereka terhadap kebijakan moneter.

  • Monetary Hawk: Merujuk pada individu yang memprioritaskan inflasi rendah dan cenderung mendukung kebijakan moneter yang ketat, seperti menaikkan suku bunga. Istilah “hawk” diasosiasikan dengan sifat elang yang agresif dan memiliki visi yang tajam (eagle’s eye) dalam melihat ancaman inflasi dari jauh.
  • Monetary Dove: Merujuk pada individu yang memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, dan cenderung mendukung kebijakan moneter yang ekspansif, seperti menurunkan suku bunga. Merpati, yang diasosiasikan dengan kedamaian dan kelembutan, melambangkan sikap yang lebih akomodatif.

Penggunaan istilah ini menunjukkan bagaimana bahasa politik memanfaatkan persepsi universal terhadap hewan untuk menyederhanakan spektrum ideologi yang kompleks. Ini menciptakan dikotomi yang mudah dipahami oleh publik, namun berisiko menyembunyikan nuansa dan kompleksitas kebijakan yang sebenarnya.

Istilah Sifat Hewan Posisi Kebijakan Implikasi Politik
Hawk Agresif, memiliki visi tajam, fokus pada mangsa. Memprioritaskan inflasi rendah dengan kebijakan moneter ketat (misalnya suku bunga tinggi). Menunjukkan sikap tanpa kompromi terhadap inflasi, sering dianggap sebagai “pengawas” yang kuat.
Dove Damai, lembut, lebih akomodatif. Memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja dengan kebijakan moneter ekspansif (misalnya suku bunga rendah). Menunjukkan sikap yang peduli terhadap kesejahteraan publik, sering dianggap sebagai “penolong” yang berbelas kasih.

Bahasa Politik di Era Digital

Di era media sosial, penggunaan metafora binatang telah mengalami pergeseran yang signifikan, dari alegori yang mengkritik sistem menjadi label peyoratif yang menargetkan individu dan kelompok. Dalam wacana politik Indonesia, istilah seperti “cebong” (berudu) dan “kadal gurun” sering digunakan untuk merendahkan kelompok pendukung tertentu. Istilah “tikus kantor” juga digunakan secara luas sebagai metafora untuk koruptor.

Pergeseran ini menunjukkan degradasi dalam wacana politik. Metafora yang sebelumnya digunakan untuk mendidik atau menyindir, kini digunakan untuk dehumanisasi. Lawan politik direduksi menjadi “binatang” yang tidak berakal, membenarkan permusuhan dan menstigmatisasi kelompok lain. Hal ini mengubah perdebatan ideologis menjadi konflik personal yang memecah belah.

Studi Kasus Lanjutan: Diplomasi Panda Tiongkok

Penggunaan simbol binatang dalam politik mencapai tingkat kecanggihan tertinggi dalam “diplomasi panda” Tiongkok. Ini adalah contoh di mana sebuah negara secara proaktif memanipulasi citra binatang untuk tujuan strategis dalam hubungan internasional.

Secara historis, simbol kekuatan Tiongkok adalah naga. Meskipun naga dipandang sebagai makhluk agung dan bijaksana di Asia , di mata Barat, ia bisa mengintimidasi sebagai representasi makhluk berbahaya dan tak terkendali. Menyadari potensi mispersepsi ini, Tiongkok secara strategis menggantikan narasi “kekuatan keras” (naga) dengan narasi “kekuatan lunak” (panda).

Panda dipilih sebagai “duta persahabatan” karena daya tariknya yang universal. Sosoknya yang menggemaskan, jinak, dan pemalu memicu perasaan peduli dan melindungi. Sejak tahun 1950-an, Tiongkok telah mengirimkan panda ke berbagai negara, awalnya sebagai hadiah untuk sekutu sosialisnya, dan kemudian sebagai pinjaman jangka panjang dengan biaya yang mahal (hingga 1 juta USD per tahun) yang digunakan untuk mendanai konservasi.

Panda digunakan untuk mencapai tujuan diplomasi yang spesifik, seperti mencairkan hubungan dengan Amerika Serikat pada tahun 1972 setelah kunjungan Presiden Richard Nixon, atau memperkuat hubungan dengan mitra strategis seperti Malaysia dan Jerman. Panda juga melambangkan nilai-nilai Tiongkok yang damai dan ramah, serta komitmennya terhadap konservasi alam, yang membantu membangun citra global yang lebih positif.

Pergeseran dari naga ke panda adalah contoh paling canggih dari penggunaan simbol binatang dalam politik. Tiongkok secara sadar mengganti simbol kuno yang berpotensi menakutkan dengan simbol yang menawan untuk memenangkan hati publik global. Strategi ini sangat efektif karena panda menyajikan narasi yang sama sekali berbeda—narasi yang tidak mengancam, penuh kasih, dan berfokus pada kolaborasi ilmiah. Ini membuktikan bahwa simbol binatang dapat dimanipulasi secara pragmatis untuk re-branding nasional dan memfasilitasi tujuan diplomatik dan ekonomi.

Kesimpulan

Analisis mendalam terhadap penggunaan simbol dan metafora binatang dalam pemerintahan dan negara di dunia menunjukkan bahwa praktik ini jauh dari sekadar pilihan estetik. Simbol-simbol ini adalah cerminan dinamis dari sejarah, nilai, dan aspirasi suatu bangsa. Mereka berevolusi dari representasi kekuatan fisik yang statis menjadi alat untuk membentuk identitas budaya yang unik, dan pada akhirnya, menjadi instrumen strategis dalam diplomasi modern.

Dari Garuda yang melambangkan kebebasan dan pengorbanan, naga yang melambangkan kekuatan spiritual dan kekaisaran, singa yang merepresentasikan kebangsawanan, hingga hewan endemik yang merayakan keunikan budaya, setiap simbol memiliki lapisan makna yang mendalam. Perdebatan historis seperti yang dilakukan Benjamin Franklin tentang elang botak mengingatkan bahwa makna sebuah simbol tidaklah inheren, melainkan merupakan narasi yang dibangun dan dipertanyakan.

Pada akhirnya, pemahaman terhadap simbol dan metafora binatang ini sangat penting untuk dapat “membaca” narasi politik suatu bangsa. Mereka adalah petunjuk yang kuat untuk memahami idealisme, aspirasi, bahkan ketidaksepakatan yang mendasari suatu negara. Dengan menelaah bagaimana binatang digunakan sebagai cermin identitas, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih kaya dan bernuansa tentang kompleksitas pemerintahan dan hubungan internasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 3 = 5
Powered by MathCaptcha