Seni Lukis sebagai Cermin Perjalanan Bangsa

Seni lukis di Indonesia lebih dari sekadar praktik estetika; ia adalah sebuah narasi visual yang merekam, merespons, dan bahkan membentuk identitas sebuah bangsa. Perkembangan seni lukis di kepulauan ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial, politik, dan budaya yang terus berubah, dari masa kolonial hingga era digital. Tulisan ini menyajikan analisis kronologis dan tematis dari evolusi seni lukis Indonesia, menyoroti pergeseran ideologi, perjuangan identitas, dan inovasi artistik yang telah mendefinisikan lanskap seni rupa hingga saat ini.

Adapun sejarah dan perkembangan seni lukis Indonesia secara garis besar dapat dipetakan melalui beberapa periode utama :

  1. Masa Pra-Kemerdekaan: Perkembangan seni lukis dimulai ketika Indonesia masih dijajah, di mana seni lukis tradisional Jawa mendapat pengaruh dari budaya Tiongkok dan India, dengan motif-motif Islami juga hadir. Namun, pengaruh yang signifikan datang dari seni rupa Belanda yang turut membentuk gaya awal.
  2. Masa Perintis Seni Lukis Modern: Setelah kemerdekaan, muncul tokoh-tokoh pionir seperti Raden Saleh, yang berhasil menembus kancah seni Eropa, dan kemudian disusul oleh maestro-maestro seperti Affandi, S. Sudjojono, dan Hendra Gunawan.
  3. Masa Modernisasi: Memasuki abad ke-20, seni lukis di Indonesia mulai mengadopsi gaya dan teknik melukis modern dari Barat, seperti aliran abstrak, kubisme, naturalis, dan impresionis. Tokoh seperti Basoeki Abdullah menjadi bagian dari era ini.
  4. Masa Seni Lukis Kontemporer dan Digital: Sekitar tahun 1990-an, terjadi perkembangan besar dengan munculnya seni lukis kontemporer yang mengeksplorasi media baru seperti video art, performance art, dan instalasi. Era digital pun membawa perubahan dengan munculnya lukisan dalam bentuk animasi dan gambar digital.

Dari Estetika Kolonial ke Jiwa Kerakyatan: Polemik Identitas Seni Rupa Modern (Pra-Kemerdekaan)

Raden Saleh: Sang Pionir yang Melampaui Batas (1807-1880)

Raden Saleh Syarif Bustaman diakui sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia. Lahir di Semarang pada tahun 1807, ia merupakan pelukis pertama dari Hindia Belanda yang mendapatkan pendidikan seni di Eropa. Keberhasilannya di Eropa membuatnya dikenal luas, dan lukisannya banyak dipengaruhi oleh kesenian Barat, khususnya gaya Romantisme dan Naturalisme. Ia dipercaya untuk melukis potret tokoh-tokoh penting pada masanya, seperti Potret H.W. Daendels dan Van Den Bosch.

Karya-karyanya sering kali mengadopsi genre lukisan Eropa yang populer pada masanya. Lukisan bertema perburuan, seperti Perburuan Singa (1840) dan Perburuan Banteng (1855), menunjukkan penguasaan teknik Barat yang luar biasa, dengan komposisi yang dramatis dan penuh konflik antara manusia dan alam liar. Salah satu karyanya,  Perburuan Rusa (1846), dianggap simbolis karena menggambarkan perjuangan untuk bertahan hidup.

Namun, lukisan Raden Saleh yang paling terkenal dan signifikan adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). Karya ini secara fundamental berbeda dari lukisan Romantisme-nya yang lain karena mengangkat tema sejarah nasional. Lebih dari sekadar dokumentasi peristiwa, lukisan ini merupakan sebuah pernyataan politik yang bernuansa. Raden Saleh menciptakan lukisan ini sebagai tandingan langsung dari lukisan Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro (1835) karya pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman.

Sebuah analisis mendalam menunjukkan adanya subversi visual dalam karya Raden Saleh. Pieneman menggambarkan Diponegoro dalam posisi menunduk dan Jenderal de Kock tampak berwibawa, mencerminkan narasi kolonial yang mengklaim kemenangan. Sebaliknya, Raden Saleh mengubah narasi tersebut menjadi adegan penangkapan yang heroik. Ia menggambarkan Diponegoro dengan wajah tegar, bukan menunduk, dan wajah para perwira Belanda, termasuk Jenderal Hendrik Merkus de Kock, tampak pucat dan ragu-ragu. Keputusan Raden Saleh untuk menciptakan lukisan tandingan ini adalah bukti bahwa ia, meskipun dididik di Eropa dan melayani bangsawan kolonial, tetap memiliki kesadaran identitas nasional yang kuat. Perjalanan dan pendidikannya di Eropa menjadi faktor yang memberinya penguasaan teknik Barat yang diperlukan untuk menghasilkan karya kaliber tinggi, tetapi pengalaman hidupnya sebagai pribumi dan patriotisme menjadi motivasi utama yang menghasilkan karya politis yang mendalam. Keterlibatannya dalam peristiwa seperti ini menetapkannya sebagai lebih dari sekadar pelukis; ia adalah seorang intelektual visual yang menggunakan kuasnya untuk membingkai ulang sejarah bangsanya sendiri.

Mooi Indie vs. Persagi: Perdebatan Identitas

Pada awal abad ke-20, lanskap seni lukis di Hindia Belanda didominasi oleh aliran yang kemudian dikenal sebagai Mooi Indie atau “Indies Mooi”. Aliran ini menampilkan lukisan-lukisan yang berfokus pada keindahan alam Indonesia yang eksotis, romantis, dan damai, seperti pemandangan gunung berapi, sawah, dan pohon kelapa. Lukisan-lukisan ini, yang sering kali bersifat dekoratif dan menyenangkan secara visual, dibuat untuk memenuhi selera pasar turis dan kolonial. Pelukis-pelukis seperti Basoeki Abdullah dikenal dengan karya-karyanya dalam gaya ini.

Sebagai respons terhadap Mooi Indie, muncul gerakan tandingan yang sangat signifikan: Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), yang didirikan pada tahun 1938. Tokoh sentral di balik gerakan ini adalah S. Sudjojono dan Agus Djaya. S. Sudjojono mengkritik keras Mooi Indie sebagai sebuah lukisan yang “hanya berfokus pada keindahan tanpa perasaan” dan mengabaikan realitas sosial-politik yang dialami oleh masyarakat pribumi. Sebaliknya, PERSAGI menyerukan seni yang “jujur, berjiwa kerakyatan, dan mencerminkan karakter tanah dan rakyatnya,” menciptakan seni “untuk rakyat, oleh rakyat”.

Perbedaan antara Mooi Indie dan Persagi bukanlah sekadar perbedaan gaya lukisan—naturalisme romantis versus realisme—melainkan sebuah perang ideologis yang fundamental. Mooi Indie mencerminkan pandangan kolonial yang meromantisasi dan mengeksploitasi keindahan alam Indonesia, sementara Persagi, dengan realisme sosialnya, berusaha merebut kembali narasi visual dan menggunakannya sebagai alat perjuangan kemerdekaan. Ketidakpuasan S. Sudjojono terhadap seni yang tidak berakar pada realitas rakyat memicu pendirian PERSAGI, dan gerakan ini menjadi landasan bagi seni rupa modern Indonesia yang berorientasi pada isu sosial dan nasionalisme. Bahkan ketika Sudjojono melukis pemandangan yang sekilas mirip Mooi Indie, ia sengaja memasukkan elemen kontras seperti tiang listrik dan saluran irigasi, yang menunjukkan realitas sehari-hari yang tidak sempurna, sebagai bentuk kritik halus terhadap idealisme yang disajikan Mooi Indie. Transformasi ini membuka jalan bagi karya-karya yang secara eksplisit menggambarkan penderitaan dan perjuangan rakyat, seperti lukisan  Mengungsi (1948) karya S. Sudjojono, sebuah tema yang tidak akan pernah ditemukan dalam karya Mooi Indie.

Tabel berikut memberikan gambaran yang jelas mengenai pergeseran ideologis dalam seni rupa Indonesia pada masa ini dan selanjutnya.

Tabel 1: Gerakan Seni Rupa Kunci Indonesia

Nama Gerakan Periode Ideologi/Tujuan Utama Tokoh Kunci Dampak Historis
Mooi Indie 1930-an Menggambarkan keindahan alam Indonesia secara romantis dan idealis untuk pasar kolonial dan turis. Basoeki Abdullah, Abdullah Suriosubroto Menciptakan estetika yang berfokus pada keindahan visual, tetapi dikritik karena mengabaikan realitas sosial.
PERSAGI 1938-1942 Mencari identitas seni lukis Indonesia yang otentik, jujur, dan berjiwa kerakyatan. Menolak Mooi Indie. S. Sudjojono, Agus Djaya, Affandi Menjadi landasan bagi seni lukis modern Indonesia yang berorientasi pada realitas sosial dan nasionalisme.
Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) 1974-1989 Memberontak terhadap definisi seni rupa konvensional. Menuntut redefinisi seni yang lebih luas dan relevan dengan isu sosial. Jim Supangkat, FX Harsono Mengawali era seni kontemporer Indonesia dengan memperkenalkan media dan konsep baru di luar lukisan dan patung.

Dekade Emas Seni Lukis Modern: Ekspresi Individu dan Realisme Otentik (1950-an – 1980-an)

Affandi: Ekspresionisme Murni dan Kejujuran Jiwa

Affandi Koesoema, yang lahir di Cirebon pada tahun 1907, adalah salah satu maestro seni lukis Indonesia yang paling diakui. Ia dikenal luas dengan gaya ekspresionismenya yang kuat, yang sering disebut sebagai “ekspresionisme murni” dalam literatur seni rupa. Namun, label ini memicu perdebatan di kalangan kritikus. Kritik dari Maman Noor, misalnya, menyatakan bahwa pemahaman ini mungkin keliru. Ekspresionisme Barat seringkali berakar pada teori dan filosofi yang kompleks, sementara gaya Affandi adalah manifestasi dari dorongan intuitif dan naluriah yang jujur, bukan dari teori.

Filosofi melukis Affandi adalah kejujuran. Ia menolak untuk memfilosofikan lukisannya, dan ia hanya menggambarkan kehidupan itu sendiri. Ia melukis dengan teknik yang sangat unik: memencet cat langsung dari  tube ke kanvas. Teknik ini menghasilkan goresan tebal dan bertekstur yang secara visual menyerupai ekspresionisme, tetapi motivasi di baliknya adalah insting dan kepekaan terhadap objek, bukan doktrin. Ini membuatnya terlepas dari beban teoretis gerakan Barat, memposisikannya sebagai seniman dengan aliran yang benar-benar otentik dan pribadi. Oleh karena itu, banyak yang berpendapat bahwa lukisannya mencerminkan gaya yang “hanya Affandi”.

Karya-karya ikoniknya merefleksikan pendekatan ini. Potret Diri (1974) dan Cangklong (1975) adalah contoh bagaimana ia mengeksplorasi perjuangan batin dan kejujuran dirinya sendiri. Lukisan  Barong dan Rangda (1982) menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, sebuah tema universal yang disalurkan melalui goresan-goresan emosionalnya. Gaya lukisan Affandi yang begitu personal dan otentik inilah yang membuatnya menjadi salah satu tokoh seni lukis yang paling berpengaruh di Indonesia.

Basoeki Abdullah: Sang Maestro Naturalis-Realis

Berbeda dengan Affandi yang fokus pada ekspresi emosi, Basoeki Abdullah, yang lahir di Surakarta pada tahun 1915, dikenal sebagai pelukis dengan gaya realis dan naturalis. Ia adalah pelukis resmi Istana Merdeka dan memiliki reputasi internasional yang kuat. Ia dikenal dengan kemampuannya melukis potret, pemandangan, flora, dan fauna dengan teknik yang sangat halus dan detail. Ia bahkan pernah mengalahkan 87 pelukis Eropa dan memenangkan sayembara melukis Ratu Juliana pada tahun 1948.

Karya-karyanya yang terkenal, seperti Kakak dan Adik (1978) dan Nyi Roro Kidul, menunjukkan penguasaan teknik yang luar biasa dalam menangkap keindahan dan esensi subjeknya. Keberadaan Basoeki Abdullah yang berfokus pada estetika dan tradisi realisme, bersamaan dengan Affandi yang berorientasi pada ekspresi pribadi dan Sudjojono yang berfokus pada realitas sosial-politik, menunjukkan pluralitas dan kekayaan seni rupa modern Indonesia. Ketiganya mewakili sisi-sisi yang berbeda dari sebuah narasi artistik, dan keberagaman inilah yang membuat periode ini menjadi dekade emas.

Tabel 2: Maestro Seni Lukis Indonesia dan Karyanya

Nama Pelukis Masa Hidup Aliran/Gaya Kunci Deskripsi Gaya Karya Ikonik Catatan Penting
Raden Saleh 1807-1880 Romantisme, Naturalisme Menggabungkan teknik Barat dengan tema-tema lokal; penuh drama dan emosi. Penangkapan Pangeran Diponegoro, Perburuan Singa. Pelopor seni lukis modern Indonesia dan seniman pertama yang menembus kancah internasional.
S. Sudjojono 1913-1986 Realisme Kerakyatan Fokus pada realitas sosial dan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mengungsi, Kawan-Kawan Revolusi. Pendiri PERSAGI dan kritikus utama aliran Mooi Indie.
Affandi 1907-1990 Ekspresionisme Pribadi Menggunakan goresan tebal, cat langsung dari tube, dan menolak filosofi; karyanya sangat otentik dan intuitif. Potret Diri, Cangklong, Barong dan Rangda. Maestro yang dikenal luas di dalam maupun luar negeri dan dianggap sebagai ikon seni rupa Indonesia.
Basoeki Abdullah 1915-1993 Realisme, Naturalisme Dikenal dengan teknik lukis yang sangat halus, detail, dan realistis; fokus pada potret, pemandangan, dan fauna. Kakak dan Adik, Nyi Roro Kidul. Pelukis resmi Istana Merdeka yang memiliki reputasi internasional.

Revolusi dan Ekspansi Konsep: Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) dan Awal Kontemporer

Menjelang tahun 1970-an, sebuah revolusi artistik terjadi. Hingga saat itu, institusi seni rupa terkemuka di Indonesia, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta, masih menganjurkan bentuk seni “murni” yang terbatas pada lukisan dan patung. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) muncul pada tahun 1974 sebagai pemberontakan terhadap definisi seni yang dianggap terlalu sempit ini. Gerakan ini berpendapat bahwa seni rupa harus peka terhadap isu-isu sosial dan politik, tidak hanya berfokus pada estetika dekoratif.

GSRB memproklamirkan pandangannya melalui manifesto pada tahun 1987 yang berjudul “Seni Rupa Adalah Emansipasi, Emansipasi Adalah Seni Rupa”. Manifesto ini memuat tiga proklamasi utama: emansipasi seni rupa dari tradisi yang keliru, redefinisi seni rupa untuk mengakomodasi segala bentuk ekspresi visual, dan emansipasi pemikiran untuk melawan pandangan yang terisolasi. Secara implisit, manifesto ini menolak “kemurnian” seni modern dan mendobrak batas antara “seni tinggi” dan “seni rendah”.

Gerakan ini menandai sebuah transformasi paradigmatik dalam cara seni dipahami dan diciptakan di Indonesia. Dari fokus pada “bentuk” (lukisan, patung) beralih ke fokus pada “ide” dan “konsep.” Ini adalah pergeseran dari estetika ke aktivisme, dari individualisme ke kolaborasi. Seniman GSRB memperkenalkan dan mempopulerkan media baru seperti instalasi, ready-mades, fotografi, dan found-objects untuk mengekspresikan kritik sosial dan isu identitas. Contoh karya kuncinya adalah  Ken Dedes oleh Jim Supangkat dan Paling Top oleh FX Harsono, yang menggunakan benda-benda temuan untuk menyampaikan makna kontekstual yang mendalam.

Pemberontakan akademis dan gerakan GSRB berhasil mendefinisikan ulang seni rupa di Indonesia. Gerakan ini membuka pintu bagi pluralitas media dan tema, yang menjadi landasan kuat bagi seni kontemporer saat ini. Gerakan ini berakhir pada tahun 1989 dan secara luas dianggap sebagai awal dari seni rupa kontemporer Indonesia.

Lanskap Seni Kontemporer: Keragaman, Eksplorasi, dan Jangkauan Global

Seni lukis dan seni rupa kontemporer di Indonesia adalah kelanjutan logis dari pergerakan seperti PERSAGI dan GSRB. Jika PERSAGI memfokuskan seni pada realitas sosial-politik nasional dan GSRB memperluas definisi “seni,” maka seniman kontemporer saat ini mengaplikasikan kedua prinsip tersebut dalam skala yang lebih luas, baik secara geografis maupun tematis. Mereka mengeksplorasi isu-isu sosial, politik, spiritualitas, identitas, dan budaya populer dengan pendekatan yang sangat beragam.

Beberapa profil seniman kontemporer terkemuka yang karya-karyanya memiliki pengaruh signifikan antara lain:

  • Eko Nugroho: Seniman asal Yogyakarta ini dikenal dengan gaya visualnya yang unik, menggabungkan komik, street art, dan elemen tradisional. Karyanya sering membahas isu-isu sosial dan politik dengan sentuhan humor. Ia telah berpartisipasi dalam biennale internasional bergengsi, termasuk Lyon Biennale dan Venice Art Biennale pada tahun 2013.
  • Christine Ay Tjoe: Dikenal sebagai pelukis ekspresionisme abstrak yang karyanya penuh emosi, sering mengeksplorasi tema-tema kehidupan, kematian, dan spiritualitas. Karyanya dicirikan dengan garis-garis yang kuat dan tekstur, serta palet warna yang bervariasi dari  muted hingga cerah. Ia telah diakui secara internasional dengan penghargaan seperti Prudential Eye Award for Best Emerging Asian Artist (2015) dan Asia Arts Game Changer Award (2018).
  • FX Harsono: Sebagai salah satu pelopor GSRB, FX Harsono terus menciptakan karya yang berfokus pada kritik sosial dan politik, terutama mengenai isu-isu identitas, sejarah, dan memori.
  • Melati Suryodarmo: Seniman performance art yang berlatar belakang pendidikan di Jerman dan tradisi seni pertunjukan Jawa, ia adalah contoh seniman yang menggabungkan pengaruh global dan lokal dalam karyanya.

Keberhasilan GSRB dalam mendemokratisasikan medium seni memungkinkan seniman kontemporer untuk bereksperimen dengan berbagai media, tidak hanya lukisan. Lingkungan seni yang lebih terbuka dan plural memungkinkan munculnya seniman dengan gaya dan tema yang sangat beragam, dari kritik sosial Eko Nugroho hingga spiritualitas Christine Ay Tjoe.

Ekosistem Seni Rupa Indonesia: Pameran, Lembaga, dan Pengakuan Global

Perkembangan seni rupa di Indonesia tidak hanya bergantung pada kreativitas seniman, tetapi juga pada ekosistem yang mendukung dan melegitimasi karya mereka. Beberapa institusi dan pameran besar memainkan peran vital dalam hal ini.

  • Institusi dan Pameran Penting: Galeri Nasional Indonesia, Museum MACAN (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara), dan Jogja National Museum (JNM) adalah lembaga-lembaga yang mendokumentasikan dan mempromosikan seni rupa Indonesia. Pameran-pameran besar seperti Art Jakarta, Art Jog, dan Jakarta Biennale, yang berawal dari Pameran Besar Seni Lukis Indonesia pada tahun 1974, memainkan peran krusial dalam mempromosikan seni rupa Indonesia dan memberikan “modal simbolik” kepada para seniman. Keberadaan acara-acara ini menciptakan pasar dan visibilitas bagi seniman, yang pada gilirannya mendorong inovasi dan kompetisi, dan pada akhirnya menarik perhatian kolektor dan komunitas seni internasional.
  • Pengakuan Internasional: Seni lukis Indonesia telah mendapatkan pengakuan global, dibuktikan dengan partisipasi seniman di biennale internasional dan penghargaan yang diraih. Eko Nugroho dan Christine Ay Tjoe adalah contoh nyata dari seniman yang berhasil menembus panggung global. Penghargaan seperti UOB Painting of the Year juga turut memberikan pengakuan yang signifikan.

Kesimpulan

Seni lukis Indonesia adalah sebuah perjalanan dinamis yang merefleksikan pergulatan identitas dan aspirasi bangsa. Dimulai dari asimilasi gaya Barat, perjuangan mencari identitas melalui polemik Mooi Indie dan Persagi, ledakan ekspresi individu oleh maestro seperti Affandi, hingga revolusi konseptual Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), setiap era telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Perdebatan historis dan gerakan artistik ini menunjukkan bahwa seni lukis di Indonesia adalah cermin dari pergulatan identitas bangsa, sebuah medium di mana ideologi dan perasaan dapat diungkapkan secara visual.

Saat ini, didukung oleh ekosistem yang semakin kuat, seniman-seniman kontemporer Indonesia terus menorehkan jejaknya di panggung global. Mereka melanjutkan dialog antara tradisi dan modernitas, antara lokal dan global, dengan pendekatan yang terus-menerus bereksperimen. Seiring dengan pertumbuhan pasar seni dan meningkatnya perhatian internasional, seni lukis Indonesia siap untuk terus berkembang dan memperkaya dunia seni global dengan perspektifnya yang unik dan kritis.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 4 = 10
Powered by MathCaptcha