Definisi dan Kontekstualisasi Diplomasi Digital (Twiplomacy)

Diplomasi digital merupakan fenomena yang menandai lahirnya era baru dalam komunikasi antar-negara. Konsep ini mencakup penggunaan teknik komunikasi digital, baik dalam konteks diplomasi antar-negara maupun dalam hubungan antara sebuah negara dengan kelompok opini publik asing. Twiplomacy, sebagai sub-genre spesifik, merujuk pada praktik diplomasi digital yang berpusat pada penggunaan platform Twitter (kini dikenal sebagai X) oleh aktor negara, termasuk pemimpin negara, diplomat, dan Kementerian Luar Negeri.

Perkembangan teknologi dan media sosial tidak hanya memengaruhi, tetapi justru dimanfaatkan secara optimal oleh bidang diplomasi, membentuk cara kerja dunia modern. Meskipun fenomena ini telah menciptakan bentuk diplomasi baru, analisis menunjukkan bahwa metode diplomasi konvensional atau tradisional masih memegang peranan relevan dan tidak dapat diabaikan. Dalam konteks ini, diplomasi digital berfungsi sebagai alat pelengkap yang esensial bagi pemerintah dalam tata negara modern, memperluas jangkauan dan mempercepat interaksi internasional.

Tujuan Laporan dan Kerangka Analisis

Laporan ahli ini bertujuan untuk mengupas tuntas analisis strategis mengenai bagaimana para pemimpin negara memanfaatkan Twitter. Fokusnya terletak pada tiga pilar utama: pertama, diskontinuitas atau pemotongan jalur komunikasi birokratis tradisional; kedua, efektivitas platform dalam memengaruhi narasi dan opini publik global; dan ketiga, implikasi yang timbul dari sifat instan diplomasi digital.

Kerangka analisis yang digunakan akan mengintegrasikan landasan teoritis soft power dan konsep diplomasi publik digital, yang berfokus pada hubungan antara sebuah negara dengan audiens asing. Kerangka ini diperkaya dengan studi kasus empiris yang kontras, termasuk komunikasi krisis yang konstruktif dan studi kasus kontroversial yang menunjukkan paradoks atau “ironi” dalam penggunaan platform instan.

Perbandingan Historis: Keterbatasan Saluran Tradisional vs. Keunggulan Platform Digital

Secara historis, saluran komunikasi diplomatik tradisional—seperti kawat diplomatik, pertemuan bilateral formal, atau pernyataan pers resmi—dicirikan oleh proses yang lambat, birokrasi yang berlapis, dan audiens yang sangat terbatas, sering kali hanya terdiri dari pemerintah mitra dan pers terpilih. Proses vetting yang ketat memastikan kehati-hatian tetapi mengorbankan kecepatan.

Teknologi digital dan media sosial secara radikal menggeser kegiatan diplomatik ke platform virtual, menawarkan akses langsung dan komunikasi real-time yang sebelumnya tidak terbayangkan. Pergeseran ini merupakan respons struktural terhadap kebutuhan baru akan transparansi, keterbukaan, komunikasi real-time, dan keterlibatan publik yang meluas, yang muncul akibat prevalensi media sosial. Ketika masyarakat global menjadi semakin terhubung, publik menuntut akses dan kecepatan informasi yang lebih tinggi. Jika pemimpin negara gagal memanfaatkan platform instan seperti Twitter, mereka berisiko kehilangan kontrol atas narasi, dianggap tidak responsif, dan menciptakan kekosongan informasi yang berpotensi diisi oleh aktor non-negara atau informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, Twiplomacy adalah adaptasi yang diperlukan untuk memenuhi harapan publik yang telah berevolusi seiring kemajuan teknologi.

Mekanisme Pemotongan Jalur Komunikasi Tradisional

Sifat Instan dan Ketersediaan Real-Time: Kecepatan sebagai Kekuatan Diplomatik

Salah satu fungsi transformatif Twitter adalah kemampuannya untuk memotong jalur birokrasi tradisional (bypass bureaucracy). Penggunaan platform ini memungkinkan pemimpin negara untuk menyampaikan pesan politik atau kebijakan luar negeri secara langsung kepada khalayak domestik dan internasional. Pesan yang disampaikan tidak perlu melalui proses vetting atau persetujuan berlapis dari Kementerian Luar Negeri. Hal ini memastikan pesan disampaikan secara instan dan tidak tersaring, mengubah waktu respons diplomatik dari hitungan hari menjadi detik, yang merupakan keunggulan kompetitif yang signifikan.

Kecepatan ini terbukti sangat penting dalam manajemen krisis. Analisis menunjukkan bahwa Twitter berfungsi sebagai media komunikasi krisis yang efektif bagi pemimpin pemerintahan. Misalnya, selama menghadapi gelombang COVID-19 Varian Delta dan Omicron di Indonesia, platform tersebut digunakan untuk menyampaikan arahan kebijakan dan informasi real-time kepada masyarakat. Kapasitas Twitter untuk komunikasi instan memungkinkan pemimpin untuk memimpin narasi krisis secara langsung, yang sangat krusial untuk koordinasi publik dan respons pemerintah yang cepat di tengah situasi yang mendesak.

Akses Langsung ke Audiens Asing (Public Diplomacy 2.0)

Diplomasi digital secara intrinsik terikat dengan diplomasi publik. Melalui Twitter, para diplomat dan pemimpin negara dapat memanfaatkan media sosial untuk meraih kepentingan nasional negara mereka dengan menjangkau publik asing secara langsung, melewati perantara media berita tradisional.

Dengan mempublikasikan informasi atau pernyataan kebijakan secara real-time, pemimpin secara efektif mengambil peran sebagai ‘diplomat-in-chief’ bagi negara mereka sendiri. Mereka dapat mempersonalisasi pesan mereka dan menumbuhkan hubungan parasosial dengan pengikut global. Kemampuan untuk secara langsung berkomunikasi dengan publik asing tanpa intervensi media atau birokrasi diplomatik formal memberikan kontrol narasi yang lebih besar kepada pemimpin, memungkinkan mereka untuk membentuk citra dan mempromosikan nilai-nilai negara mereka.

Implikasi Struktural Terhadap Lembaga Diplomatik

Digitalisasi diplomasi, meskipun berfungsi melengkapi bentuk tradisional, menuntut perubahan mendalam dalam cara kerja institusi diplomatik. Kementerian Luar Negeri di berbagai negara, termasuk di Indonesia, dipaksa untuk merespons dan mengintegrasikan perubahan dari metode komunikasi konvensional ke digital.

Namun, pemotongan jalur komunikasi tradisional membawa konsekuensi struktural yang harus dipertimbangkan. Jalur tradisional, yang diwakili oleh birokrasi Kemenlu, secara historis berfungsi sebagai gatekeeper (pemfilter informasi) dan moderator (pemeriksa nada). Penghapusan gatekeeper melalui Twitter menghasilkan kecepatan dan efisiensi yang luar biasa. Namun, penghapusan moderator menimbulkan risiko yang signifikan. Konten yang tidak melalui proses penyaringan formal dapat bersifat impulsif dan tidak terukur. Hal ini secara langsung meningkatkan risiko komunikasi yang merusak, misinformasi, atau ambiguitas.

Oleh karena itu, kekuatan naratif luar biasa yang diberikan kepada pemimpin melalui diplomasi instan juga membebani Kemenlu. Lembaga-lembaga diplomatik seringkali harus bekerja keras untuk mengklarifikasi, meredam, atau bahkan membalikkan dampak negatif dari cuitan pemimpin yang kontroversial atau tidak terukur. Terdapat trade-off kausal yang jelas: peningkatan kecepatan komunikasi berbanding terbalik dengan penurunan kontrol kualitas dan akurasi informasi.

Analisis Pengaruh Opini Publik: Teori dan Metrik Keterlibatan

Landasan Teoritis: Soft Power dan Diplomasi Publik Digital

Tujuan utama dari Twiplomacy yang efektif adalah memanfaatkan soft power—kemampuan suatu negara untuk memengaruhi preferensi negara lain melalui daya tarik budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan luar negeri. Diplomasi digital yang sukses harus membangun citra positif dan kredibilitas.

Namun, studi kasus menunjukkan bahwa diplomasi digital dapat menjadi sebuah ironi ketika elemen soft power tidak digunakan secara efektif. Dalam kasus-kasus tertentu, pemimpin menggunakan platform digital dengan bahasa yang jauh dari norma diplomasi. Cuitan yang bersifat sarkastik, menghina, atau bahkan mengandung ujaran kebencian secara fundamental merusak fondasi soft power. Meskipun cuitan yang provokatif mungkin efektif dalam memobilisasi basis domestik, secara internasional, tindakan tersebut meruntuhkan kredibilitas diplomatik dan menciptakan Digital Diplomacy Irony.

Model Keterlibatan Publik (PEM) di Twitter: Studi Kasus Penerapan Positif

Untuk mengukur dan menganalisis keberhasilan Twiplomacy, studi akademis telah mengembangkan kerangka kerja analitik media sosial, seperti Public Engagement Model (PEM). Model ini memberikan panduan strategis bagi para diplomat untuk memaksimalkan keterlibatan publik online secara konstruktif.

Analisis konten cuitan seorang duta besar Jerman, misalnya, menunjukkan bahwa komunikasi diplomatik yang sukses dicirikan sebagai Positif, Santun (Courteous), Penuh Penghargaan (Respectful), Dipersonalisasi, Interaktif, dan Langsung. Berdasarkan temuan ini, PEM mengidentifikasi tiga faktor penting yang secara signifikan mendorong keterlibatan publik online:

  1. Self-disclosure (Keterbukaan Diri): Berbagi aspek kehidupan pribadi atau budaya untuk membangun kedekatan dan persepsi otentisitas, yang penting untuk humanisasi diplomasi.
  2. Positive Attitude (Sikap Positif): Penggunaan bahasa yang positif, santun, dan terukur untuk mempertahankan kredibilitas diplomatik.
  3. Inquisitiveness (Keingintahuan/Interaktif): Upaya nyata untuk mendorong dialog dua arah dan umpan balik, yang menunjukkan keterbukaan dan transparansi, kunci dari diplomasi publik modern.

Komunikasi yang didasarkan pada model ini telah terbukti sangat efektif, menghasilkan ribuan interaksi dan menunjukkan bahwa kepribadian yang ramah dan interaktif adalah kunci untuk mengumpulkan dukungan publik yang luas.

Tabel 1 meringkas peran strategis dari faktor-faktor kunci dalam Model Keterlibatan Publik:

Table 1: Model Keterlibatan Publik (PEM) untuk Diplomasi Digital di Twitter

Faktor Kunci PEM Peran Strategis dalam Twiplomacy Implikasi (Pengaruh Opini Publik)
Self-disclosure Membangun kedekatan dan persepsi otentisitas Humanisasi pemimpin, meningkatkan koneksi emosional.
Positive Attitude Menjaga nada santun, sopan, dan terukur Mempertahankan soft power dan kredibilitas diplomatik.3
Inquisitiveness Mendorong dialog dua arah dan umpan balik Mendemonstrasikan keterbukaan dan transparansi (Kunci Diplomasi Publik).

Metrik Kuantitatif dalam Twiplomacy

Pengaruh di Twitter sering kali diukur melalui Engagement Rate (ER). Terdapat berbagai rumus untuk mengukur ER, yang membantu analis memahami sejauh mana publik berinteraksi dengan konten diplomatik yang disajikan. Metrik umum meliputi Engagement Rate per Post (ER post), di mana jumlah engagement dalam satu posting dibagi dengan jumlah followers, atau Engagement Rate Harian (ER harian), yang mengukur total interaksi harian dibagi dengan jumlah followers.

Metode kuantitatif ini sangat penting karena memungkinkan analis untuk menentukan postingan dan tema apa yang menghasilkan interaksi tertinggi dari waktu ke waktu. Namun, kuantitas engagement tidak selalu mencerminkan kualitas diplomatik.

Tinjauan Tematik Konten Digital: Isu yang Memicu Keterlibatan Tinggi

Analisis konten cuitan menggunakan alat analitik teks (seperti SentiStrength untuk sentimen dan NVivo untuk kategorisasi ) sangat penting untuk melengkapi data kuantitatif. Analisis ini membantu mengidentifikasi tema inti yang memicu respons publik.

Studi kasus telah mengidentifikasi delapan tema inti yang sering muncul dalam komunikasi diplomatik di Twitter: Demokrasi, politik, dan hukum; Masyarakat dan budaya; Konflik dan kekerasan; Kepribadian; Lingkungan dan kesehatan; Pembangunan ekonomi dan sosial; Kehidupan pribadi; dan Urusan kedutaan

Kuantitas engagement (dihitung oleh ER) harus ditinjau bersamaan dengan sentimen kualitatif. Seorang pemimpin mungkin memiliki ER yang tinggi karena cuitan yang sangat provokatif, namun jika analisis sentimen menunjukkan polarisasi atau sentimen negatif yang tinggi, pengaruh tersebut dapat bersifat merusak atau toksik, bertentangan dengan tujuan soft power yang lebih luas.

Oleh karena itu, keterlibatan harus dianalisis secara kualitatif, memastikan bahwa konten yang disebarkan—terutama melalui faktor Self-disclosure (Kepribadian dan Kehidupan Pribadi 3)—berfungsi untuk humanisasi diplomasi. Hal ini memenuhi kebutuhan publik akan keterbukaan dan transparansi, serta meningkatkan kepercayaan publik asing yang merupakan prasyarat penting bagi diplomasi yang konstruktif.

Studi Kasus Empiris: Twiplomacy dalam Dua Konteks Kontras

Twiplomacy dalam Komunikasi Krisis (Studi Kasus Indonesia: COVID-19)

Twitter terbukti sebagai alat komunikasi yang vital dalam manajemen krisis bagi para pemimpin di Indonesia. Selama gelombang COVID-19 Varian Delta dan Omicron, platform ini digunakan sebagai media yang cepat untuk memberikan informasi real-time, mengarahkan kebijakan publik instan, dan berupaya meredam kepanikan di tengah masyarakat.

Dalam konteks ini, Twiplomacy berfungsi sebagai saluran perintah langsung dari pusat kekuasaan ke masyarakat. Analisis gaya dan tema komunikasi (yang dapat diuji menggunakan teknik statistik seperti Uji Chi-square) menunjukkan bahwa pesan yang dominan adalah arahan, informasi kesehatan, dan pernyataan yang bertujuan untuk menenangkan situasi. Kecepatan platform memungkinkan pemimpin untuk mengendalikan narasi krisis secara langsung, yang pada akhirnya sangat penting untuk mengkoordinasikan respons cepat pemerintah di seluruh sektor.

Kasus Kontroversial: Ironi Diplomasi Digital (Studi Kasus Donald Trump)

Kontras yang tajam terlihat dalam penggunaan Twitter oleh mantan Presiden AS Donald Trump. Ia menggunakan platform tersebut sebagai sarana diplomasi, termasuk dalam konteks hubungan AS-Iran. Cuitannya bersifat langsung, seringkali sangat tidak terukur, dan berfungsi sebagai alat tawar-menawar yang agresif, yang secara efektif memotong semua jalur komunikasi formal Kemenlu.1

Penelitian mengenai Twiplomacy Trump menunjukkan bahwa bahasa yang digunakannya sangat jauh dari bahasa diplomasi konvensional. Cuitannya cenderung sarkastik, menghina, bahkan ujaran kebencian terhadap administrasi negara lain. Bahasa yang ekstrem ini menyebabkan diplomasi digital yang dijalankannya disebut “Ironi Diplomasi Digital,” karena penggunaannya justru menghancurkan tujuan diplomatik, yakni membangun hubungan dan soft power.

Praktik Twiplomacy yang agresif ini membawa dampak negatif yang signifikan. Analisis menunjukkan bahwa popularitas Trump menurun, baik secara domestik maupun luar negeri, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuannya dalam menangani isu-isu sensitif juga menurun. Penurunan legitimasi dan kepercayaan ini secara kausal terkait dengan gaya komunikasi yang tidak memenuhi prinsip-prinsip Positive Attitude dalam Model Keterlibatan Publik (PEM).

Meskipun Trump menggunakan Twitter secara masif untuk mendefinisikan ulang atau memulai isu, perannya dalam proses penyelesaian konflik AS-Iran tidaklah langsung. Hal ini menyiratkan bahwa Twitter sangat efektif sebagai katalisator untuk memotong jalur dan memulai narasi negosiasi, tetapi implementasi kebijakan dan penyelesaian konflik yang substansial pada akhirnya masih sangat bergantung pada saluran tradisional dan interaksi off-line yang terstruktur.

Tabel 2 menyajikan kontras antara penggunaan Twitter untuk manajemen krisis yang efektif versus praktik kontroversial yang menghasilkan ironi diplomatik.

Table 2: Kontras Twiplomacy: Komunikasi Krisis vs. Ironi Diplomatik

Karakteristik Studi Kasus Krisis (Efektif) Studi Kasus Kontroversial (Ironi)
Tujuan Instan Menginformasikan publik, mengendalikan kepanikan Membangkitkan basis domestik, menekan musuh
Gaya Bahasa Dominan Informasi, Arahan, Empati (Implisit) Sarkastik, Menghina, Konfrontatif
Dampak Terhadap Kepercayaan Meningkatkan peran pemimpin di masa sulit Menurunkan kepercayaan domestik dan internasional
Hubungan dengan Diplomasi Tradisional Mendukung kebijakan pemerintah secara cepat Melemahkan dan bertentangan dengan upaya diplomatik Kemenlu

Tantangan, Risiko, dan Masa Depan Diplomasi Instan

Risiko Misinformasi, Ambiguitas, dan Kesalahan Interpretasi

Kecepatan komunikasi digital, yang merupakan keunggulan utama dalam memotong jalur tradisional, secara inheren meningkatkan risiko penyebaran misinformasi, ambiguitas, dan kesalahan interpretasi. Cuitan yang disampaikan secara cepat dan ringkas seringkali tidak mampu menangkap nuansa kompleks dari kebijakan luar negeri, yang dapat menyebabkan reaksi berantai dari negara mitra, media internasional, dan pasar keuangan.

Risiko ini diperparah oleh hilangnya fungsi gatekeeping birokrasi yang sebelumnya memfilter pesan. Jika seorang pemimpin mengirimkan cuitan impulsif yang tidak divalidasi, konsekuensinya terhadap kebijakan luar negeri dapat terjadi secara instan dan serius. Diplomasi instan menuntut kehati-hatian yang ekstrem, sebab ambiguitas digital dapat memperburuk ketegangan internasional alih-alih meredakannya.

Tantangan Kontrol Narasi dan Reaksi Cepat

Diplomasi instan menempatkan para pemimpin di bawah pengawasan publik global 24 jam sehari. Setiap cuitan, baik disengaja atau tidak, segera memicu reaksi dan analisis global. Hal ini memaksa diplomat karir dan tim komunikasi untuk bereaksi secara cepat terhadap potensi krisis media yang mungkin disebabkan oleh pemimpin mereka sendiri.

Situasi ini menciptakan tekanan konstan pada pemerintah untuk menjaga konsistensi narasi diplomatik. Namun, ketika pemimpin menggunakan bahasa yang fluktuatif atau bertentangan dengan pernyataan resmi (seperti yang diamati dalam kasus negosiasi melalui Twitter), Kemenlu menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan satu suara yang kredibel.

Perbandingan Kontekstual: Diplomasi Digital di Negara Demokrasi vs. Sistem Otoriter

Praktik Twiplomacy adalah cerminan langsung dari struktur politik internal suatu negara. Terdapat perbedaan mendasar dalam tujuan dan gaya Twiplomacy antara negara demokrasi dan sistem otoriter.

Di negara demokrasi, supremasi hukum ditegakkan, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, dan masa jabatan pemimpin dibatasi. Pemimpin dalam sistem ini termotivasi untuk menggunakan Twiplomacy untuk tujuan akuntabilitas, transparansi, dan keterlibatan positif, sesuai dengan prinsip PEM. Kebijakan publik di sini berorientasi pada peningkatan kesejahteraan sosial dan akuntabilitas kepada rakyat.

Sebaliknya, di negara otoriter, kekuasaan terpusat pada penguasa tunggal atau kelompok kecil, dan hukum sering dijadikan alat untuk mempertahankan kekuasaan politik, bukan untuk kesejahteraan umum. Twiplomacy dalam konteks ini cenderung difokuskan pada pengendalian sosial, proyeksi kekuatan, atau penyebaran propaganda yang mendukung rezim. Meskipun risiko misinformasi tetap ada , tujuan utama Twiplomacy di sini adalah untuk kontrol, bukan untuk engagement otentik yang memerlukan dialog dua arah. Dengan demikian, struktur politik (Demokrasi vs. Otoriter) menentukan tujuan strategis penggunaan alat diplomasi digital.

Etika dan Standar Profesional dalam Komunikasi Digital Pemimpin Negara

Analisis kasus-kasus kontroversial telah menegaskan bahwa Twiplomacy yang melanggar etika dasar diplomasi—santun, hormat, dan terukur—secara fundamental merusak tujuan kebijakan luar negeri. Oleh karena itu, diperlukan kerangka etika dan panduan standar profesional yang jelas untuk memandu para pemimpin dalam menggunakan platform instan ini.

Untuk memitigasi risiko ambiguitas, misinformasi, dan inkonsistensi naratif , institusi diplomatik harus melakukan lebih dari sekadar merespons cuitan. Kemenlu perlu menginstitusionalisasikan diplomasi digital. Hal ini melibatkan integrasi analitik data canggih (seperti metrik ER dan sentimen SentiStrength 3) dengan prinsip-prinsip PEM 3 ke dalam pelatihan diplomatik. Standardisasi gaya dan konten akan memastikan bahwa meskipun pemimpin memiliki kemampuan untuk memotong jalur komunikasi tradisional, pesan yang disampaikan tetap konsisten dan mendukung upaya diplomatik jangka panjang.

Kesimpulan

Twitter telah merevolusi praktik diplomasi abad ke-21 dengan menawarkan akses instan dan kemampuan untuk memotong jalur birokrasi yang lambat, menjadikannya alat komunikasi krisis yang vital bagi pemimpin negara.2 Kecepatan ini memungkinkan pemimpin untuk secara langsung memengaruhi opini publik dan mengendalikan narasi secara real-time.

Namun, kekuatan platform ini adalah juga kerentanannya. Immediasi yang melekat pada platform ini, ketika tidak difilter oleh prinsip-prinsip etika dan Model Keterlibatan Publik (PEM), menciptakan risiko tinggi digital diplomacy irony. Kasus kontroversial menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang non-diplomatik dapat merusak soft power dan menurunkan kepercayaan publik domestik dan internasional. Efektivitas Twiplomacy sangat bergantung pada keselarasan antara strategi kecepatan digital dan etika komunikasi diplomatik.

Berdasarkan analisis empiris dan teoritis, institusi negara dan pemimpin dianjurkan untuk mengadopsi langkah-langkah strategis berikut:

  1. Adopsi Sadar Model Keterlibatan Publik (PEM): Pemimpin harus secara strategis memprioritaskan faktor Self-disclosure, Positive attitude, dan Inquisitiveness.Ini memastikan bahwa engagement yang tinggi berkontribusi pada pembangunan soft power yang berkelanjutan, alih-alih konfrontasi.
  2. Integrasi Analitik Kualitatif-Kuantitatif: Tim komunikasi diplomatik harus bergerak melampaui metrik kuantitatif sederhana seperti reach atau followers. Penggunaan Engagement Rate (ER ) harus dilengkapi dengan analisis kualitatif sentimen (menggunakan alat seperti SentiStrength) untuk memastikan bahwa engagement yang tinggi bersifat konstruktif dan positif, sejalan dengan tujuan diplomatik.
  3. Pengembangan Panduan Etika Digital: Institusi diplomatik harus mengembangkan panduan yang jelas mengenai batasan etika dalam komunikasi real-time untuk memitigasi risiko misinformasi, ambiguitas, dan bahasa yang tidak pantas, terutama ketika pemimpin memilih untuk memotong jalur tradisional.

Mengingat cepatnya evolusi platform media sosial, penelitian di masa depan harus berfokus pada:

  1. Studi Komparatif Rezim: Melakukan analisis komparatif yang lebih mendalam mengenai perbedaan Twiplomacy antara negara-negara demokrasi dan sistem otoriter.11 Hal ini akan memperjelas bagaimana tujuan politik internal memengaruhi strategi komunikasi digital dan pengelolaan risiko misinformasi  di kedua jenis rezim tersebut.
  2. Dampak Kebijakan Causal: Menyelidiki korelasi antara pernyataan instan di Twitter dan realisasi kebijakan luar negeri formal. Penting untuk mengukur seberapa sering ancaman atau janji yang dibuat melalui Twiplomacy benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan diplomatik atau militer yang konkret.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

47 + = 54
Powered by MathCaptcha