Seni sebagai Mekanisme Kultural Pascakonflik

Kekerasan berskala besar, baik berupa perang etnis, perang sipil, maupun represi rezim otoriter, meninggalkan jejak psikologis dan sosiologis yang mendalam, tidak hanya pada individu tetapi pada struktur sosial secara keseluruhan. Dalam kajian pascakonflik, penting untuk membedakan antara trauma psikis individual dan luka sosial yang diwariskan, sering disebut sebagai trauma kolektif atau kultural. Trauma kolektif didefinisikan sebagai guncangan mendasar yang merusak kohesi dan narasi identitas sebuah komunitas, menuntut kerja working through grief atau kerja berduka yang melampaui masa hidup korban langsung.

Dalam konteks ini, seni muncul sebagai intervensi kritis. Seni pascakonflik tidak dapat dipahami sekadar sebagai ekspresi emosional pribadi; ia beroperasi sebagai instrumen politik, terapeutik, dan mediatif. Seni menjadi arsip yang fleksibel, merekam pengalaman yang tidak dapat atau tidak diizinkan untuk diceritakan melalui saluran resmi, sekaligus menjadi medan negosiasi bagi ingatan yang terfragmentasi.

Peta Wilayah Studi: Kontras Regional

Laporan ini memfokuskan analisis pada dua kawasan geografis utama yang dicirikan oleh konflik brutal dan berlarut-larut: Balkan dan Timur Tengah. Meskipun kedua wilayah menghadapi tantangan memori dan rekonsiliasi, sifat konflik dan prioritas artistik yang muncul menunjukkan perbedaan yang bernuansa:

  • Balkan (khususnya Bosnia-Herzegovina): Konflik 1990-an ditandai oleh perpecahan etnis yang tajam, praktik pembersihan etnis, dan genosida. Seni pascakonflik di sini sering kali berorientasi pada rekonstruksi fisik ruang publik yang terfragmentasi, menyasar rekonsiliasi komunal, dan mengkritik kegagalan intervensi internasional.
  • Timur Tengah (khususnya Lebanon dan Suriah): Konflik (perang sipil Lebanon, konflik Suriah) dicirikan oleh intervensi geopolitik yang kompleks, masalah orang hilang (missing persons), dan kontrol ketat atas narasi sejarah. Seni di sini cenderung berfokus pada pengarsipan kebenaran (bukti) dan perlawanan politik yang tersembunyi (counter-memory) terhadap narasi hegemoni.

Tesis Utama Laporan

Seni pascakonflik di kedua wilayah ini dapat dianalisis berdasarkan tiga fungsi naratif krusial—yaitu diagnostiktransisional, dan rekonsiliatif—yang berakar pada kerangka psikoanalitik trauma. Namun, manifestasi dan prioritas artistik dari fungsi-fungsi ini sangat dipengaruhi oleh sifat spesifik konflik regional. Di Balkan, terdapat fokus kuat pada intervensi spasial publik dan dialog etnis. Sebaliknya, di Timur Tengah, prioritas utamanya adalah pengarsipan kebenasan dan pemulihan sejarah yang terfragmentasi sebagai bentuk perlawanan politik.

Kerangka Teoretis: Naratologi, Memori, dan Psikoanalisis Trauma

Teori Trauma Kultural dan Kerja Berduka

Trauma kolektif memunculkan gejala psikologis yang kompleks pada level komunitas, yang menurut kerangka psikoanalitik dicirikan oleh represi (penekanan ingatan menyakitkan), repetition compulsion (pengulangan paksa pengalaman traumatis, seringkali tanpa kesadaran), dan kebutuhan esensial akan kerja berduka (working through grief). Karya sastra dan seni yang lahir dari konteks pascakonflik memikul tugas untuk memformulasikan pengalaman luka sosial yang melampaui kemampuan verbal individu.

Penelitian naratologi menunjukkan bahwa karya yang berhasil mengatasi trauma kultural menggunakan strategi penceritaan yang secara metodologis meniru struktur trauma itu sendiri. Teknik naratif seperti fragmentasi alur, analepsis/prolepsis yang terputus, pergeseran focalisasi, metafora tubuh dan luka, serta penggunaan “ruang kosong” (silence dan ellipsis) berfungsi sebagai penanda jejak trauma. Dalam pandangan ini, ketidakteraturan waktu dan bahasa dalam seni bukan merupakan kekurangan estetika, melainkan sebuah strategi metodologis yang secara tekstual mereplikasi struktur intrusif dan flashback dari trauma psikologis. Seni, dengan demikian, melakukan diagnosis kolektif.

Model Tiga Fungsi Naratif Seni Pascakonflik

Analisis naratif menautkan penanda gejala psikis (misalnya, intrusi mimetik, mimpi, serangan panik) dengan bentuk-bentuk pengisahan (testimoni, pengakuan, arsip keluarga) untuk memetakan peran seni dalam tiga tahap pemulihan kolektif :

  1. Fungsi Diagnostik: Karya seni memunculkan jejak trauma melalui ketidakteraturan waktu dan bahasa, berfungsi sebagai langkah awal untuk mengakui bahwa luka ada dan belum teratasi.
  2. Fungsi Transisional: Seniman atau komunitas menegosiasikan ambang batas yang sulit antara ingatan privat (rasa sakit individu yang terisolasi) dan narasi publik (pengakuan sosial terhadap peristiwa tersebut).
  3. Fungsi Rekonsiliatif: Pada tahap ini, cerita membuka kemungkinan kerja berduka dan membangun etika kesaksian, yang tujuannya adalah mengonversi trauma menjadi sumber memori kolektif yang produktif, alih-alih sekadar pengulangan kekerasan masa lalu.

Penelitian menunjukkan bahwa narasi yang menggabungkan ketegangan antara kesunyian (yang tak terkatakan) dan dokumentasi (arsip, catatan, foto) adalah yang paling efektif dalam formasi memori bersama. Artinya, fungsi seni adalah mengkurasi ambang batas antara rasa sakit pribadi dan perlunya pengakuan publik, yang esensial untuk transisi sosial-politik.

Katarsis dan Penyembuhan Kolektif

Salah satu peran terapeutik seni adalah menyediakan ruang untuk katarsis. Konsep katharsis, yang berasal dari filsuf Yunani yang merujuk pada “pembersihan” atau “penyucian” diri, dipopulerkan oleh Sigmund Freud dalam psikologi sebagai teknik pelepasan kecemasan dan ketegangan.

Dalam konteks pascakonflik, katarsis digunakan sebagai penyaluran emosi dan agresi yang terpendam, baik berupa kekesalan, kesedihan, maupun ketakutan yang didasari oleh peristiwa traumatis. Penciptaan karya seni bertujuan sebagai terapi penyembuhan trauma dengan cara menceritakan kembali keresahan traumatik melalui visualisasi metaforis dalam lukisan atau media lainnya.

Teknik ini memiliki implikasi penting bagi penyembuhan kolektif, terutama bagi individu atau komunitas yang mengalami kesulitan mengungkapkan penderitaannya secara verbal. Dalam masyarakat pascakonflik di mana kesaksian verbal seringkali terhalang oleh ancaman, rasa malu, atau stigma, seni visual atau naratif non-verbal menawarkan mekanisme katarsis yang sangat diperlukan untuk memulai proses self counseling dan pemulihan diri.

Tabel berikut merangkum bagaimana fungsi naratif ini termanifestasi dalam praktik artistik:

Klasifikasi Fungsi Naratif Seni dalam Konteks Trauma

Fungsi Naratif Tujuan Kultural/Psikis Teknik Artistik Kunci yang Relevan Contoh Regional Kunci
Diagnostik Memunculkan jejak trauma, menunjukkan ketidakteraturan, memaksa pengakuan. Fragmentasi Naratif, Metafora Luka, Ruang Kosong (Silence/Ellipsis). Fotografi Bencana (Israel-Palestina).
Transisional Menegosiasikan ambang antara ingatan privat (individual) dan narasi publik (kolektif). Testimoni (Pengakuan), Focalisasi Berpindah, Instalasi Publik. Bosnian Girl (Kamerić) , Pameran Arsip (Zaatari).
Rekonsiliatif Membuka kemungkinan kerja berduka, etika kesaksian, dan dialog rekonsiliasi. Penggabungan Dokumen dan Kesunyian, Proyek Seni Jalanan Interaktif. Street Art Mostar (Bosnia).

Fungsi Diagnostik: Seni sebagai Perekam Memori yang Terfragmentasi

Fungsi diagnostik seni adalah mengidentifikasi dan memvisualisasikan luka yang tak terlihat. Dalam konteks wilayah konflik, ini sering berarti mengungkap kekerasan sistemik dan menantang upaya penutupan sejarah.

Arsipel Trauma: Dokumentasi Kekerasan Sistemik

Di wilayah yang terus bergejolak seperti Israel-Palestina, fotografi digunakan sebagai alat penting untuk mendokumentasikan tindak kekerasan sistematik. Dokumentasi visual ini melampaui pelaporan insiden terpisah, menunjukkan kerusakan infrastruktur sipil, dampak psikologis dan fisik yang parah terhadap warga sipil (terutama perempuan dan anak-anak), dan pemindahan paksa yang terjadi secara sistematis. Representasi visual ini menguatkan klaim bahwa tindakan kekerasan adalah bagian dari praktik yang berkesinambungan, yang esensial dalam konteks keadilan transisional dan hukum internasional.

Namun, pengakuan penuh terhadap trauma membutuhkan lebih dari sekadar bukti visual. Meskipun fotografi mendokumentasikan kekerasan, teknik naratif yang efektif memerlukan penggabungan antara dokumentasi (arsip) dan kesunyian (yang tak terkatakan). Hal ini menunjukkan bahwa dokumentasi visual semata tidak cukup; seni harus menciptakan ruang untuk resonansi emosional dan pengakuan atas yang tak dapat dilihat, seperti trauma psikologis yang terinternalisasi.

Seniman sebagai Arkeolog Arsip (Studi Kasus Timur Tengah)

Di Lebanon, yang memiliki sejarah perang sipil yang panjang dan narasi sejarah resmi yang terfragmentasi, seniman sering mengambil peran sebagai arkeolog memori. Akram Zaatari, seorang seniman visual terkemuka dari Lebanon, terkenal karena karyanya yang berfokus pada pengarsipan. Ia telah memproduksi lebih dari lima puluh video, belasan buku, dan instalasi yang tak terhitung jumlahnya yang meneliti sirkulasi citra perang, kehidupan mantan militan, warisan sayap kiri yang kelelahan, dan arsip yang hilang atau tertunda.

Zaatari, sebagai salah satu pendiri Arab Image Foundation, secara fundamental berfokus pada arsip (foto, film, instalasi) yang merebut kembali kontrol narasi historis dari negara pascakonflik. Perhatian pada arsip di Timur Tengah ini menyiratkan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi sejarah yang terfragmentasi. Dalam lingkungan politik di mana kebenaran sering dimanipulasi atau disensor, arsip menjadi senjata politik dalam perjuangan kebebasan dan memori, menjadikan seniman sebagai penjaga memori yang terpinggirkan.

Representasi Kehilangan dan Forensic Art

Trauma kolektif sering kali berpusat pada masalah orang hilang dan penemuan kuburan massal, seperti yang dilaporkan terjadi di Provinsi Daraa, Suriah selatan. Kebutuhan untuk akuntabilitas dan identifikasi korban ini memicu perkembangan seni yang berorientasi forensik.

Di Bosnia, organisasi seperti International Commission on Missing Persons (ICMP) bekerja sama dengan seniman visual seperti Šejla Kamerić untuk menciptakan proyek seni terkait arsip forensik. Proyek ini bertujuan menautkan data ilmiah yang sulit dengan representasi artistik untuk memberikan pengakuan (hak atas pemulihan simbolis) kepada keluarga korban yang hilang, terutama yang terkait dengan genosida Srebrenica. Seni forensik, oleh karena itu, memperluas fungsi diagnostik dari sekadar visualisasi kekerasan menjadi proses pengakuan identitas korban melalui bukti fisik dan naratif.

Fungsi Transisional: Negosiasi Identitas dan Transformasi Ruang Publik

Fungsi transisional adalah di mana seni bertindak sebagai jembatan, membawa rasa sakit individual ke ranah publik dan memulai negosiasi identitas kolektif yang baru, sering kali melalui intervensi langsung di ruang yang terfragmentasi.

Intervensi Publik di Balkan: Mengubah Puing Menjadi Dialog

Wilayah Balkan, terutama Bosnia-Herzegovina, menunjukkan bagaimana seni digunakan untuk secara fisik mengubah jejak perang yang terlihat. Di Mostar, kota yang terbagi tajam secara etnis, Festival Seni Jalanan (Street Arts Festival) yang diprakarsai oleh seniman lokal berupaya keras untuk menghapus sisa-sisa perang tahun 1990-an.

Seniman jalanan dari berbagai belahan dunia menggunakan dinding-dinding bekas tembakan peluru dan bangunan yang ditinggalkan sebagai kanvas. Proyek ini memiliki tujuan ganda: pertama, mengubah wajah kota secara fisik dengan lukisan dinding warna-warni yang menarik perhatian turis asing. Kedua, dan yang lebih krusial, festival ini secara eksplisit mengirimkan pesan rekonsiliasi yang mendamaikan perpecahan antara komunitas Bosnia dan Kroasia. Pencetus festival tersebut, Marina Mimoza, menekankan bahwa seni digunakan untuk menghidupkan kembali kota dan mendatangkan “energi positif dan perdamaian”. Proyek Mostar menunjukkan bahwa seni jalanan tidak hanya simbolis, tetapi juga berfungsi sebagai infrastruktur sosial-ekonomi yang menghubungkan pemulihan psikologis dengan rekonstruksi vitalitas kota.

Representasi Tubuh yang Terluka dan Kritik Institusional

Pada skala yang lebih intim namun tetap bermuatan politik, karya seniman Bosnia Šejla Kamerić menampilkan negosiasi identitas yang terluka. Karya ikoniknya, Bosnian Girl (2003), adalah contoh kuat seni yang sangat intim namun berakar pada komentar sosial yang kuat.

Karya Kamerić menyinggung disfigurasi identitas nasional Bosnia dan secara langsung mengkritik kegagalan pasukan Belanda (sebagai bagian dari UNPROFOR) untuk melindungi zona aman Srebrenica pada tahun 1995, yang mengakibatkan pembunuhan terhadap 7.000 pria dan anak laki-laki Muslim. Kamerić, melalui potret dirinya, berdiri sebagai representasi untuk semua wanita di Bosnia. Dia menempatkan trauma individu pada panggung global untuk mengkritik kegagalan institusi, yang merupakan negosiasi esensial dalam periode transisional—memindahkan rasa sakit pribadi menjadi tuntutan keadilan publik.

Analisis terhadap Balkan menunjukkan adanya dikotomi strategis: Street Art berorientasi pada penyembuhan fisik dan rekonsiliasi etnis lokal, sementara karya Kamerić berorientasi pada kritik geopolitik dan memori trauma genosida. Keduanya menjalankan fungsi transisional, tetapi pada skala yang berbeda: lokal melawan global/institusional, mencerminkan kerumitan proses pemulihan.

Mediasi dan Seni Interaktif

Dalam upaya transisional untuk mendorong dialog, seni interaktif menawarkan mekanisme yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Seni interaktif melibatkan aktivitas seperti permainan, media sosial, dan kegiatan yang memungkinkan partisipasi langsung, yang dapat berfungsi sebagai sarana resolusi konflik.

Penggunaan media interaktif, terutama dalam konteks pendidikan di lembaga pendidikan Islam, misalnya, dapat membantu mempromosikan nilai-nilai sosial dan keagamaan untuk mencegah konflik. Dalam masyarakat pascakonflik, seni interaktif memecah dikotomi seniman-penonton dan mendorong negosiasi makna secara langsung di antara kelompok yang berkonflik, menjadikannya alat mediasi yang kuat untuk membangun pemahaman bersama yang baru.

Fungsi Rekonsiliatif: Etika Kesaksian dan Keadilan Transisional (TJ)

Fungsi rekonsiliatif seni adalah yang paling kompleks, karena melibatkan upaya untuk mencapai penutupan naratif dan mendorong koeksistensi, sering kali di tengah perlawanan dari narasi kekerasan yang masih bertahan.

Seni dalam Kerangka Keadilan Transisional (TJ)

Keadilan Transisional (TJ) harus dilakukan secara holistik, meliputi hak atas kebenaran, keadilan (membawa pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan), jaminan ketidak-berulangan (reformasi institusi), dan hak atas pemulihan (restoration). Seni berperan krusial dalam pemulihan simbolis dan material ini.

Seni, sebagai proyek sosial, melengkapi proyek hukum TJ. Di banyak negara pasca-genosida, pasca-diktator, atau pasca-perang saudara, rekonsiliasi membutuhkan narasi bersama yang tidak dapat dipaksakan oleh undang-undang. Seni menyediakan ruang simbolik di mana masyarakat merenungkan luka, bersalah, dan pilihan-pilihan manusia yang rapuh. Justru dengan menggambarkan rekonsiliasi—meskipun melalui jalan yang pahit—seni menawarkan pertanyaan penting dan menyalurkan trauma menjadi alat pembelajaran kolektif, tanpa memutus percakapan-percakapan esensial tentang kemanusiaan.

Keadilan transisional formal seringkali gagal menyembuhkan relasi komunal. Seni, oleh karena itu, mengintegrasikan aspek emosional dan naratif yang terabaikan oleh proses hukum, menawarkan pemulihan simbolis yang diperlukan untuk memecah kebuntuan narasi diskriminatif.

Narasi Kontra-Hegemoni dan Tantangan Sensor

Salah satu hambatan terbesar menuju rekonsiliasi adalah persistensi narasi diskriminatif pascakonflik, yang dapat bertahan hingga dua dekade atau lebih, seperti yang dialami oleh masyarakat pengungsi Kayeli di Ambon, Maluku. Seni kritis harus secara aktif menantang dan mengatasi narasi kekerasan komunal yang masih mengakar dalam perbincangan sehari-hari masyarakat pascakonflik.

Tantangan bagi seniman kritis adalah menghadapi tidak hanya sensor negara yang eksplisit, tetapi juga apa yang disebut sebagai sensor diffuse. Praktik sensor di era pasca-otoriter seringkali tidak lagi sepenuhnya di tangan birokrasi negara, tetapi tersebar dalam bentuk tekanan sosial, reaksi kelompok masyarakat konservatif, dan sensor mandiri (self-censorship) oleh para seniman sendiri.

Sensor ini lebih dari sekadar alat pembatasan; ia adalah alat konstruktif yang secara aktif membentuk apa yang dianggap sebagai “identitas nasional” yang ideal, stabil, dan “suci”. Seniman yang bekerja dengan trauma tidak hanya melawan rezim lama, tetapi melawan konstruksi identitas nasional idealis yang menekan kritik terhadap pelanggaran hak asasi manusia atau isu-isu sensitif lainnya. Ini berarti seni yang kritis seringkali dibatasi aksesnya atau bahkan dicekal, karena ia menentukan bentuk dan isi narasi yang diizinkan untuk hidup.

Tantangan Etis dalam Representasi

Meskipun seni sangat penting untuk dialog, terdapat risiko etis yang harus dikelola. Dalam upaya menggambarkan rekonsiliasi atau memori, karya seni dapat disalahartikan atau dituduh menormalisasikan narasi kekerasan atau impunitas. Oleh karena itu, seni harus menjaga etika kesaksian, yaitu menyampaikan penderitaan tanpa eksploitasi, dan menyediakan jalur yang efektif untuk mengkonversi trauma menjadi memori produktif, alih-alih sekadar repetisi kekerasan.

Berikut adalah perbandingan kontras yang memperjelas perbedaan strategis antara kedua wilayah studi:

Perbandingan Kontras Fokus Artistik: Balkan vs. Timur Tengah

Dimensi Fokus Wilayah Balkan (Contoh: Bosnia-Herzegovina) Wilayah Timur Tengah (Contoh: Lebanon, Suriah)
Isu Sentral Perpecahan Etnis, Gagalnya Perlindungan Internasional (Srebrenica), Rekonstruksi Ruang Komunal. Politik Arsip, Kekerasan Sistemik, Warisan Militansi, Masalah Orang Hilang.
Praktek Artistik Menonjol Seni Jalanan (Street Art) sebagai intervensi spasial, Instalasi yang mengkritik institusi global. Arsip Video/Foto, Lecture-Performances, Karya berbasis Dokumentasi/Teks (Akram Zaatari, Rabih Mroué).
Peran dalam Keadilan Transisional (TJ) Memulihkan kota secara visual dan mendorong dialog antar-komunitas secara fisik. Menantang narasi negara, menjaga memori perlawanan, dan mencari kebenaran yang terpinggirkan melalui bukti.

Tantangan dan Dukungan Institusional

Seni pascakonflik memerlukan ekosistem dukungan institusional yang memfasilitasi penciptaan, legitimasi, dan penyebarannya di tengah tantangan politik dan sosial.

Peran Lembaga Seni Global dan Biennale

Lembaga seni internasional memainkan peran ganda: memberikan legitimasi artistik dan menyediakan ruang aman untuk ekspresi yang berpotensi subversif di tingkat domestik. Perhelatan seperti Biennale Jogja, yang berfungsi sebagai barometer perkembangan seni rupa kontemporer, menjadi platform krusial yang memungkinkan seniman dari zona konflik (seperti Indonesia dan Nigeria dalam salah satu edisinya) mengeksplorasi konflik dan menantang narasi yang ada melalui tema-tema seperti Hacking Conflict.

Dukungan institusi internasional memungkinkan seniman untuk mem-bypass atau mengurangi dampak sensor domestik. Seniman dari wilayah konflik sering membutuhkan dua sirkuit legitimasi: validasi lokal dari komunitas dan organisasi non-pemerintah (Ornop) untuk healing dan validasi politik-artistik dari institusi global (Biennale). Konflik dapat timbul ketika narasi yang disukai oleh sirkuit global tidak sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan rekonsiliasi lokal.

Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) dan Trauma Healing Komunitas

Di tingkat akar rumput, Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) memiliki peran vital dalam mendukung pemulihan trauma. Ornop menunjukkan komitmen yang kuat terhadap partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan dan membentuk komunitas yang saling mendukung untuk pertukaran gagasan dan sumber daya.

Ornop dapat menyediakan dukungan trauma healing berbasis kelompok yang efektif, menawarkan akses ke berbagai sumber daya seperti pelatihan, seminar, dan workshop untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan anggota komunitas dalam mengelola trauma. Dukungan lokal ini memastikan bahwa upaya penyembuhan didasarkan pada konteks dan kebutuhan komunitas korban yang paling rentan.

Relasi Kuratorial dan Etika Diseminasi

Efektivitas seni sebagai alat pemulihan sangat bergantung pada praktik kurasi dan kebijakan budaya yang mendukungnya. Kajian menunjukkan bahwa praktik kurasi sastra, pendidikan memori, dan kebijakan budaya harus peka terhadap pemulihan pasca-konflik. Hal ini membutuhkan pemaduan indikator gejala psikis dengan perangkat naratologi. Dengan kata lain, kebijakan harus didasarkan pada pemahaman teoritis tentang bagaimana trauma bekerja.

Selain itu, kerja pengarsipan memainkan peran mendasar dalam menyediakan bahan baku untuk memori pascakonflik. Contohnya, inventarisasi arsip foto NIGIS (Netherlands Indies Government Information Service) dari periode Perang Dunia II, yang mencakup liputan di Eropa, Amerika, dan Asia Pasifik , menunjukkan pentingnya menjaga memori sejarah yang terancam hilang, yang kemudian dapat diakses dan diinterpretasikan ulang oleh seniman kontemporer. Kurator dan lembaga donor harus memprioritaskan karya yang menggabungkan kesunyian dan dokumentasi untuk memproduksi memori kolektif yang produktif, memastikan bahwa jalur dari luka individual menuju formasi memori bersama dapat ditelusuri secara tekstual dan visual.

Kesimpulan

Analisis mendalam ini menegaskan bahwa seni adalah aktor krusial dalam keadilan transisional dan pemulihan trauma kolektif, beroperasi melalui tiga fungsi yang terstruktur secara naratologis:

  1. Diagnostik: Seni merekam luka melalui fragmentasi naratif dan pengarsipan bukti, memaksa pengakuan terhadap kekerasan sistemik (fokus dominan di Timur Tengah).
  2. Transisional: Seni menjembatani ingatan privat dan publik melalui intervensi spasial dan kritik institusional (fokus kuat di Balkan).
  3. Rekonsiliatif: Seni memfasilitasi kerja berduka dan dialog yang sulit, melengkapi proses hukum dengan pemulihan simbolis.

Perbedaan prioritas artistik antara Balkan (fokus pada rehabilitasi spasial, rekonsiliasi antar-etnis) dan Timur Tengah (fokus pada pengarsipan kebenaran, perlawanan terhadap narasi hegemoni) menunjukkan bahwa seni harus selalu diinterpretasikan dalam konteks politik dan tahap pemulihan konflik yang spesifik.

Berdasarkan fungsi esensial seni dalam mengelola memori dan rekonsiliasi, terdapat beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan oleh lembaga kemanusiaan dan pemerintah yang terlibat dalam keadilan transisional:

  1. Integrasi Seni ke dalam Kerangka TJ Formal: Lembaga keadilan transisional harus secara eksplisit mengakui dan mendanai “pemulihan simbolis”  melalui program seni dan budaya sebagai bagian integral dari pemulihan. Ini harus mencakup dukungan pada proyek yang menyediakan mekanisme self counseling dan katarsis bagi komunitas korban, terutama mereka yang kesulitan berekspresi secara verbal.
  2. Mendukung Platform Arsip Kritis: Pendanaan harus dialokasikan untuk inisiatif berbasis arsip (seperti yang dilakukan oleh Akram Zaatari dan lembaga sejenisnya ) yang bekerja untuk memulihkan memori korban dan orang hilang. Program ini harus menautkan data forensik dan ilmiah dengan representasi artistik untuk memastikan pengakuan yang komprehensif bagi keluarga korban.

Rekomendasi untuk Kurator dan Lembaga Donor

  1. Kurasi Peka Trauma dan Etika Kesaksian: Kurator harus dididik untuk memprioritaskan karya yang secara metodologis menggabungkan narasi trauma (ketidakteraturan dan silence) dengan dokumentasi historis, yang terbukti lebih efektif dalam memproduksi memori kolektif yang produktif. Praktik kurasi harus menjaga etika kesaksian, menghindari eksploitasi penderitaan demi keuntungan estetika atau politik.
  2. Melawan Sensor Difus: Lembaga internasional dan donor harus secara aktif mendukung seniman yang menghadapi tekanan sosial atau self-censorship  melalui beasiswa, residensi, dan platform pameran yang menjamin kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Dukungan ini harus diarahkan pada karya yang menantang narasi identitas nasional yang idealis, memungkinkan diskusi publik mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan narasi diskriminatif yang terus bertahan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

28 − 18 =
Powered by MathCaptcha