Kerangka Teori Bahasa Gaul dalam Era Digital

Fenomena Bahasa Gaul Global (Global Slang) merupakan indikator krusial dari evolusi bahasa di tengah era digital dan globalisasi yang intens. Bahasa gaul, didefinisikan secara sosiolinguistik, adalah varietas bahasa non-formal yang bersifat sementara, digunakan oleh subkultur tertentu, dan seringkali berfungsi sebagai kriptolek—sebuah kode bahasa yang membatasi akses oleh kelompok luar (out-group). Dalam konteks remaja, penggunaan bahasa gaul adalah alat utama untuk mengekspresikan identitas sosial dan kultural mereka di dalam masyarakat internasional yang terhubung.

Studi ini berargumen bahwa Bahasa Gaul Global adalah produk interaksi yang kompleks antara kekuatan budaya global (soft power) dan kebutuhan psikolinguistik mendasar remaja untuk membangun identitas kelompok yang efisien di ruang digital. Penggunaan bahasa gaul mencerminkan modernitas, asimilasi bahasa, dan keragaman linguistik dalam wacana sosial.

Definisi dan Fungsi Sosiolinguistik Bahasa Gaul

Bahasa gaul berfungsi lebih dari sekadar alat komunikasi; ia adalah penanda afiliasi. Dari perspektif sosiolinguistik, bahasa gaul memainkan peran sentral dalam menentukan batasan sosial. Kalangan muda menggunakan bahasa gaul sebagai mekanisme asimilasi dan modifikasi bahasa , yang pada akhirnya merefleksikan kebebasan berbahasa oleh penuturnya. Namun, fenomena ini juga menciptakan dilema, di mana ragam non-formal cenderung tidak taat kaidah, meskipun penguasaan ragam formal tetap diperlukan.

Bahasa Gaul dalam Konteks Globalisasi dan Digitalisasi (The Mediated Contact Hypothesis)

Globalisasi, yang didorong oleh perkembangan teknologi, telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya. Dalam konteks linguistik, media sosial (seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp) berfungsi sebagai katalis utama bagi difusi leksikal dan fenomena campur kode (code mixing). Platform digital ini telah mempermudah transfer budaya dan praktik komunikasi dari berbagai negara, memungkinkan bahasa nasional untuk memperkaya diri dan terus berkembang.

Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai Hipotesis Kontak Termediasi (The Mediated Contact Hypothesis). Data empiris menunjukkan bahwa penyebaran budaya Korea (Hallyu)  dan dominasi platform gaming atau chatting global  adalah pendorong utama perubahan leksikal. Ini menyiratkan bahwa kontak bahasa yang memicu penyerapan kosakata asing tidak lagi memerlukan kedekatan geografis atau migrasi fisik, tetapi terjadi melalui konsumsi konten digital yang dibagi bersama secara universal. Implikasinya adalah terjadinya homogenisasi slang berbasis pada konten dan komunitas digital yang relevan, bukan hanya pada batas lokasi geografis semata. Proses ini mengukuhkan Bahasa Gaul Global sebagai dialek yang melampaui batas-batas tradisional, di mana validitas leksikon ditentukan oleh algoritma dan volume interaksi digital.

Pendorong Budaya dan Jalur Difusi Leksikal Asing

Analisis mendalam terhadap Bahasa Gaul Global mengungkapkan tiga jalur utama penyerapan leksikal asing yang didorong oleh kekuatan budaya global, yakni Hallyu (Korea), dominasi digital/gaming (Inggris), dan musik urban (Spanyol).

The Korean Wave (Hallyu): Difusi Leksikal Berbasis Soft Power

Gelombang Korea, atau Hallyu, adalah fenomena budaya kuat yang menyebar secara global, ditandai oleh popularitas musik (K-Pop), drama (K-Drama), film, fashion, dan bahasa Korea. Hallyu, yang bermula pada akhir 1990-an dengan ekspor drama seperti “Winter Sonata,” kini menjadi tren masif, terutama di kalangan mahasiswa dan penggemar. K-Pop, yang menampilkan grup idola seperti BTS dan BLACKPINK, berfungsi sebagai mesin difusi leksikal yang sangat efektif.

Pengaruh Hallyu meluas karena idola K-Pop seringkali bertransisi ke karir akting, yang mengarahkan basis penggemar mereka ke tontonan drama Korea. Keterlibatan penggemar ini memicu permintaan konten Korea yang masif, yang kemudian didistribusikan secara global melalui platform streaming, sehingga mempopulerkan bahasa dan istilah Korea.

Studi Kasus Penyerapan Bahasa Korea

Penyerapan istilah Korea ke dalam bahasa gaul global cenderung berfokus pada kosakata yang mengekspresikan emosi, konsep sosial, atau efisiensi digital:

  1. Slang Emosional dan Kekaguman: Istilah seperti Daebak (대박) yang berarti “kejutan besar” atau “keren banget,” dan Simkung (심쿵) yang menggambarkan perasaan jantung berdebar kencang, banyak diadopsi untuk mengekspresikan reaksi intens.
  2. Efisiensi Digital: Pengguna remaja mengadopsi singkatan Hangul yang digunakan dalam komunikasi cepat, seperti ㅎㅇ (singkatan dari 하이, berarti “Hi” atau “Halo”) dan ㄹㅇ (singkatan dari 리얼, berarti “Beneran” atau Real). Penggunaan ini meniru praktik komunikasi asli Korea di media sosial untuk efisiensi.
  3. Konsep Sosial: Istilah yang mendefinisikan hubungan modern juga populer, contohnya Ssome (썸), yang digunakan untuk menggambarkan hubungan yang ambigu—ada “sesuatu” tetapi belum berstatus resmi pacaran.

Penyerapan slang Korea didorong oleh afiliasi komunitas penggemar (fandom). Fandom berfungsi sebagai laboratorium linguistik tertutup di mana penutur secara aktif menginternalisasi leksikon untuk menunjukkan loyalitas dan pemahaman yang lebih dalam terhadap budaya idola mereka. Slang Korea, dalam konteks ini, bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan juga performa identitas penggemar yang menunjukkan kedalaman keterlibatan kultural.

Dominasi Bahasa Inggris: Slang yang Digerakkan oleh Digital dan Gaming

Bahasa Inggris (seringkali B3 dalam komunitas multilingual) sudah memiliki landasan kuat karena diajarkan dalam pendidikan formal maupun non-formal, yang secara alami memfasilitasi campur kode (code-mixing). Namun, adopsi slang Inggris baru-baru ini didominasi oleh dua kekuatan: komunitas gaming dan kebutuhan efisiensi komunikasi teks.

Gaming Leksikon (In-Game Slang)

Dalam lingkungan gaming daring, terutama game berbasis diskusi cepat seperti Among Us, slang muncul dari kebutuhan pragmatis untuk komunikasi cepat dan efisien. Karena waktu diskusi dalam pertemuan darurat terbatas, pemain meminjam atau mengembangkan slang yang singkat dan mudah digunakan untuk bertukar detail dengan praktis. Contoh adopsi global mencakup:

  • Sus: Singkatan dari suspicious (mencurigakan), digunakan untuk menuduh seseorang sebagai Impostor.
  • Clutch: Merujuk pada tindakan mencetak kemenangan bagi tim ketika tim tersebut berada di ambang kekalahan.
  • Cap/No Cap: Digunakan untuk menyatakan bahwa sesuatu adalah kebohongan (Cap) atau bahwa seseorang mengatakan kebenaran (No Cap).

Slang dalam gaming ini sangat pragmatis, berfungsi untuk memperlancar proses komunikasi cepat.

General Internet Slang

Slang berbasis internet umum didominasi oleh akronim dan penyingkatan, seperti TIA (Thanks in Advance) atau JK (Just Kidding). Selain itu, terdapat istilah berbasis evaluasi atau deskripsi, seperti Broke (tidak punya uang)  dan Bussin (sangat enak, untuk makanan).

Slang Inggris menunjukkan universalitas pragmatik yang tinggi. Bahasa Inggris, sebagai lingua franca digital, cenderung lebih banyak menyumbangkan struktur komunikasi (pragmatik—singkatan, efisiensi) daripada nuansa budaya yang mendalam, berbanding terbalik dengan K-Slang yang menargetkan emosi dan konsep sosial.

Pengaruh Bahasa Spanyol: Leksikon Budaya dan Musik Latin

Penyerapan leksikon Spanyol ke dalam bahasa gaul global sebagian besar didorong oleh difusi genre musik global seperti Reggaeton dan budaya Latin yang terkait. Musik menyediakan konteks performatif yang kuat.

Studi Kasus Penyerapan Bahasa Spanyol (Reggaeton Slang)

Kata-kata yang diadopsi sering kali berakar pada istilah emosional atau deskriptif yang kuat:

  • Ay bendito: Ungkapan empati atau kasih sayang, digunakan untuk menunjukkan perhatian terhadap orang lain.
  • Duro: Berarti “Keras” atau “kuat,” tetapi digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu atau seseorang yang kuat atau sangat mengesankan.
  • Mano: Istilah persahabatan untuk teman laki-laki atau kenalan, setara dengan “Brother” atau “Friend”.

Slang Spanyol yang diadopsi seringkali memiliki kedalaman emosional dan ritme yang kuat, yang memungkinkan penutur remaja mengekspresikan diri dengan gaya performatif yang mengadopsi identitas ‘global Latin’ yang trendi melalui konsumsi musik dan konten terkait.

Tabel Ringkasan Komparatif Penyerapan Slang Global

Tabel berikut merangkum perbedaan jalur difusi dan fungsi identitas dari tiga sumber leksikal utama dalam Bahasa Gaul Global.

Analisis Komparatif Penyerapan Slang Global Berdasarkan Sumber Budaya

Sumber Budaya Contoh Leksikal Asing Mekanisme Difusi Utama Fungsi Identitas
Hallyu (Korea) DaebakSimkung, ㄹㅇ Media Streaming (K-Drama), K-Pop Afiliasi Fandom, Aesthetic Sosial, Ekspresi Emosi
Digital/Gaming (Inggris) SusBussinClutch Komunitas Online, Chatting Cepat, Game Efisiensi Komunikasi, In-Game Mastery, Universalitas
Musik (Spanyol/Latin) DuroAy benditoMano Konten Musik (Reggaeton), Influencer Ekspresi Emosi Intens, Keterbukaan Budaya Latin

Mekanisme Linguistik Penyerapan dan Adaptasi (Kajian Morfologi dan Semantik)

Pembentukan Bahasa Gaul Global tidak hanya melibatkan impor leksikal, tetapi juga modifikasi kreatif terhadap struktur bahasa, yang seringkali memadukan elemen asing dan lokal.

Fenomena Code-Mixing (Campur Kode) dan Code-Switching (Alih Kode)

Campur kode, yaitu penggabungan unsur-unsur bahasa asing ke dalam tuturan bahasa ibu atau nasional, telah menjadi tren komunikasi di kalangan remaja, terutama di media sosial. Fenomena ini digunakan untuk mengekspresikan identitas sosial dan kultural mereka, menunjukkan keterbukaan terhadap budaya asing, atau menunjukkan afiliasi dengan komunitas tertentu.

Dalam masyarakat multilingual, seperti yang diteliti di Kampung Inggris, mayoritas penutur mengenal dan menggunakan Bahasa Jawa (B1), Bahasa Indonesia (B2), dan Bahasa Inggris (B3). Bahasa Gaul Global memperluas praktik code-mixing ini, menambahkan elemen dari B4 (Korea) dan B5 (Spanyol). Campur kode tidak hanya menciptakan keragaman bahasa, tetapi juga menunjukkan kreativitas linguistik yang memperkaya ragam bahasa non-formal.

Morfologi Slang: Proses Penciptaan Kata Baru (Neologisme)

Remaja global menunjukkan kecenderungan untuk memodifikasi leksikal melalui proses morfologi non-standar, seperti pembalikan, penyingkatan, penghilangan suku kata, dan akronim.

Pembalikan Leksikal (Turning Over)

Pembalikan adalah praktik di mana kosakata ditulis atau diucapkan dari belakang ke depan, berbanding terbalik dengan urutan yang benar. Contoh paling umum dalam bahasa gaul Indonesia adalah kuy (pembalikan dari yuk) atau ngab (pembalikan dari bang). Tujuan utama pembalikan leksikal ini secara psikolinguistik adalah sebagai penciri bahwa suatu kelompok berbeda dengan kelompok lain. Penggunaan kata-kata hasil pembalikan, yang tidak umum, secara implisit menjadi pembatas antara generasi yang menggunakan slang digital (Gen Z/Milenial) dan generasi sebelumnya (Baby Boomer, X).

Penyingkatan dan Penghilangan Suku Kata

Penyingkatan dan penghilangan suku kata (biasanya suku kata terakhir) dilakukan untuk alasan praktis, berorientasi pada efisiensi waktu dan ruang dalam pengetikan atau ujaran di media sosial. Contohnya adalah perubahan kata santai menjadi san. Meskipun tujuannya efisiensi, praktik ini dapat menjadi tidak praktis dalam mencapai tujuan komunikasi karena tidak semua orang memahami proses penyingkatan tersebut.

Pengakroniman

Akronim adalah singkatan yang menggabungkan huruf atau suku kata dan dilafalkan seperti kata penuh. Akronim sengaja digunakan untuk mempercepat proses pengetikan atau ujaran tanpa mengurangi makna. Contohnya adalah komuk, yang merupakan akronim dari kondisikan muka.

Morfologi lokal untuk identitas global terlihat jelas dalam proses-proses ini. Remaja tidak hanya mengimpor leksikon global, tetapi juga menerapkan mekanisme morfologi lokal yang spesifik (seperti pembalikan leksikal, yang kuat di Indonesia) ke dalam konteks komunikasi global. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun leksikon Bahasa Gaul Global semakin universal, proses penciptaan dan adaptasi subkultur bahasa tetap terikat pada kreativitas linguistik yang spesifik di tingkat penutur.

Analisis Semantik: Pergeseran dan Ekstensi Makna

Bahasa gaul dicirikan oleh sifatnya yang sangat dinamis dan cepat berubah, mengikuti tren populer. Perubahan ini sering melibatkan pergeseran makna (polisemi) atau ekstensi makna.

Salah satu studi kasus semantik yang menonjol adalah kata Anjay yang menjadi viral. Kata ini, yang secara historis mungkin memiliki konotasi negatif, telah mengalami perubahan makna di kalangan anak muda menjadi ekspresi luapan emosi seperti kaget atau kagum. Perubahan ini mencerminkan kebebasan berbahasa dan adaptasi makna sesuai dengan konsensus kelompok penutur muda.

Campuran makna juga terlihat dalam frasa hybrid, seperti “Relate bet anjir,” yang memadukan slang Inggris (Relate) dengan penyingkatan lokal Indonesia (bet dari banget) dan kata seru lokal (anjir) yang telah meluas maknanya. Sifat dinamis dan cepat berubahnya slang menunjukkan bahwa validitas leksikon kini ditentukan oleh kecepatan difusi di media sosial dan volume interaksi, menggarisbawahi bagaimana slang berfungsi sebagai indikator kecepatan perubahan budaya kontemporer.

Slang dan Konstruksi Identitas Generasi (Kajian Psikolinguistik)

Penggunaan Bahasa Gaul Global adalah tindakan identitas, yang secara psikolinguistik berfungsi untuk membedakan diri dan memperkuat ikatan internal.

Psikolinguistik In-Group vs. Out-Group

Dari sudut pandang psikolinguistik, kebiasaan membalik, menyingkat, menghilangkan suku kata, dan akronim dilakukan untuk tujuan utama: mencirikan kelompok (group characteristics) dan menandakan kedekatan (closeness).

Slang bertindak sebagai bahasa eksklusif. Sifatnya yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu membuat orang luar kelompok tersebut merasa tidak relevan. Mekanisme seperti pembalikan kata (kuy, ngab) sengaja dilakukan untuk membatasi akses orang dewasa atau generasi sebelumnya ke ruang komunikasi remaja. Perilaku ini menunjukkan adanya ketidaktaatan kaidah berbahasa formal, di mana pengguna lebih memilih konsensus kelompok di atas norma linguistik.

Slang sebagai Manifestasi Kebebasan dan Kreativitas Linguistik

Penggunaan bahasa gaul merefleksikan modernitas dan keinginan untuk berasimilasi dengan budaya global, serta memodifikasi bahasa sebagai alat komunikasi dan sosialisasi. Bahasa gaul adalah manifestasi kreativitas linguistik.

Fenomena viral sebuah kata slang, seperti Anjay, menunjukkan bagaimana kalangan muda menggunakan bahasa sebagai ekspresi kebebasan. Meskipun slang diartikan oleh kalangan di luar usia muda sebagai makna negatif, kalangan muda tetap menggunakannya dalam berbagai momen, yang menegaskan otonomi mereka dalam menentukan norma bahasa kelompok.

Pemetaan Generasi Linguistik: Gen Z dan Generasi Alpha

Seiring perkembangan teknologi, studi sosiolinguistik saat ini mulai berfokus pada dinamika bahasa Generasi Alpha di tengah popularitas slang. Generasi muda saat ini lahir di era globalisasi teknologi, yang membuat kemampuan menggunakan lebih dari dua bahasa (multilingualisme) dalam berbagai wujud, termasuk campur kode slang, menjadi hal yang umum.

Bagi Generasi Z dan Alpha, Bahasa Gaul Global telah bertransformasi menjadi Bahasa Pivotal. Bahasa ini menjembatani jurang antara bahasa ibu (B1), bahasa nasional (B2), dan berbagai bahasa global (B3/Inggris, B4/Korea). Dalam budaya kontemporer, kegagalan menguasai slang sama dengan kegagalan berpartisipasi dalam interaksi sosial sejati. Oleh karena itu, penguasaan bahasa gaul bukan sekadar varietas non-formal, tetapi merupakan kompetensi sosial yang vital yang harus dikuasai untuk menunjukkan keintiman dan afiliasi.

  1. Tabel Fungsi Psikolinguistik Mekanisme Slang

Analisis fungsi psikolinguistik menggarisbawahi bahwa setiap modifikasi leksikal memiliki tujuan sosial yang spesifik di luar sekadar efisiensi.

Fungsi Psikolinguistik Mekanisme Slang dalam Pembentukan Kelompok

Mekanisme Linguistik (Slang Creation) Tujuan Utama (Psikolinguistik) Dampak pada Komunikasi Fungsi Identitas Utama
Membalik Leksikal (Turning Over) Mencirikan kelompok (Group Distinction) Menghambat komunikasi antar-generasi (Disobedient) Eksklusivitas & Batasan Generasi
Penyingkatan & Akronim (Abbreviating/Acronyms) Efisiensi Waktu/Ruang, Kedekatan Risiko ketidakjelasan, Prioritas penulis/pembicara Kecepatan & Closeness (Keintiman)
Campur Kode (Code Mixing) Ekspresi Identitas Sosial, Keterbukaan Memperkaya keberagaman bahasa (Creativity) Afiliasi Kultural Global

Implikasi Sosial dan Tantangan Dialektika Bahasa Gaul Global

Meskipun Bahasa Gaul Global mencerminkan kreativitas dan adaptasi budaya, ia juga menimbulkan tantangan signifikan, terutama dalam dinamika komunikasi antar-generasi dan standar linguistik.

Kesenjangan Komunikasi (Communication Gap) Antar-Generasi

Penggunaan bahasa gaul yang meluas, dengan istilah-istilah seperti ngab (pembalikan dari bang), sering kali tidak dipahami oleh generasi yang lebih tua, yang kemudian menciptakan kesenjangan komunikasi yang nyata. Istilah slang ini cenderung eksklusif, hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Mekanisme seperti pembalikan disengaja untuk membedakan kelompok , yang berarti kesenjangan komunikasi yang dihasilkan bukan merupakan kegagalan, melainkan keberhasilan dari strategi retensi identitas kelompok. Remaja secara implisit membatasi akses orang dewasa ke ruang komunikasi mereka, mempertahankan kemurnian subkultur tersebut dari pengawasan atau adaptasi dewasa.

Tantangan terhadap Kompetensi Bahasa Formal (Linguistik Normatif)

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah potensi bahwa penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat mengurangi penguasaan bahasa formal. Remaja yang terlalu sering menggunakan varietas non-formal berpotensi mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara resmi. Hal ini terlihat jelas dalam konteks akademis (misalnya, kesulitan menulis esai yang sesuai dengan kaidah bahasa yang benar) atau di dunia profesional (di mana penggunaan slang dapat menciptakan kesan tidak profesional).

Permasalahan yang sesungguhnya bukanlah pada kompetensi linguistik (kemampuan memahami struktur formal), melainkan pada performa linguistik (kebiasaan menggunakan ragam non-formal secara berlebihan). Meskipun bahasa di media sosial cenderung tidak taat kaidah, penguasaan ragam formal tetap merupakan keharusan. Multilingualisme modern yang efektif menuntut penutur memiliki kemampuan code-switching yang luwes, mampu beralih secara tepat antara ragam formal, informal, dan slang tergantung pada konteks sosialnya.

Prospek Positif: Pengayaan Leksikon dan Dinamika Bahasa Indonesia

Terlepas dari tantangan normatif, media sosial dan transfer budaya telah membawa dampak positif. Globalisasi mempermudah transfer praktik komunikasi dari berbagai negara, yang dapat memperkaya dan mengembangkan Bahasa Indonesia dalam berbagai aspek. Bahasa gaul adalah alat yang merefleksikan kreativitas anak muda.

Kunci untuk mengelola fenomena ini adalah kebijaksanaan. Meskipun dunia dan bahasa berubah, nilai-nilai komunikasi kebaikan, kedekatan, dan kejelasan harus tetap dijaga. Perubahan tata bahasa yang terjadi di media sosial harus terus diawasi, namun dengan tujuan untuk memperkaya bahasa nasional, bukan semata-mata untuk membatasi kreativitas linguistik yang sudah terjadi.

Kesimpulan

Bahasa Gaul Global adalah dialek yang dibentuk secara dinamis melalui interaksi kompleks antara kekuatan budaya soft power (Korea dan Spanyol) dan kebutuhan efisiensi digital (Inggris dan gaming). Difusi leksikal ini difasilitasi dan disesuaikan oleh proses morfologi lokal (pembalikan, akronim, penyingkatan) yang bertujuan utama untuk memperkuat identitas kelompok dan menandakan kedekatan. Bahasa gaul berfungsi sebagai kriptolek antar-generasi, yang secara efektif membatasi komunikasi dengan kelompok dewasa, sekaligus berfungsi sebagai Bahasa Pivotal yang penting bagi partisipasi Generasi Z dan Alpha dalam budaya kontemporer.

Rekomendasi Kebijakan Linguistik

  1. Pengembangan Kesadaran Sosiolinguistik: Institusi pendidikan harus mengimplementasikan kurikulum yang berfokus pada kesadaran sosiolinguistik. Hal ini berarti mengajarkan siswa untuk secara sadar membedakan dan memilih ragam bahasa (formal vs. informal/slang) yang tepat berdasarkan konteks komunikasi (akademis, profesional, atau sosial). Fokusnya harus pada fleksibilitas code-switching, bukan eliminasi slang.
  2. Memonitor Dinamika Leksikal: Lembaga bahasa perlu secara proaktif memonitor dan mendokumentasikan slang global yang masuk. Hal ini akan membantu dalam memetakan kekayaan leksikal dan potensi kata-kata asing yang dapat diserap secara formal (misalnya, melalui kata serapan) tanpa mengganggu struktur kaidah bahasa nasional.

Penelitian mendatang harus berfokus pada analisis longitudinal mengenai stabilitas leksikon slang. Mengingat sifat bahasa gaul yang sangat dinamis dan cepat berubah , perlu dianalisis bagaimana Generasi Alpha akan merespons slang yang diciptakan oleh Generasi Z ketika mereka mencapai usia dewasa. Penelitian harus menentukan apakah leksikon yang didorong oleh viralitas algoritma akan dipertahankan sebagai bagian dari bahasa nasional atau akan mengalami eliminasi cepat seiring dengan perubahan tren digital. Studi juga dapat mendalami korelasi antara intensitas konsumsi konten asing (Korea, Spanyol) dengan tingkat penguasaan slang yang spesifik, untuk mengukur kekuatan The Mediated Contact Hypothesis secara kuantitatif.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 5 =
Powered by MathCaptcha