Analisis komprehensif ini menegaskan bahwa pengaruh platform TikTok terhadap perilaku gizi remaja dan dewasa muda di Asia Tenggara bersifat dualistik dan kompleks. TikTok berfungsi sebagai lingkungan gizi yang kuat, secara bersamaan memberikan potensi edukatif yang signifikan sekaligus memicu risiko kesehatan publik yang serius. Secara negatif, platform ini memfasilitasi normalisasi perilaku makan yang tidak teratur (disordered eating) melalui konten diet culture toksik dan mempercepat konsumsi makanan viral berkepadatan kalori tinggi. Studi kritis di Indonesia menunjukkan bahwa konten yang paling populer, khususnya video “What I Eat in A Day” (WIED), secara sistematis gagal mematuhi standar gizi nasional, berkorelasi dengan defisit nutrisi yang parah di kalangan pengguna intensif. Di sisi positif, platform ini adalah alat yang efektif untuk meningkatkan literasi gizi, keterampilan memasak, dan mempromosikan kuliner lokal yang menghubungkan makanan dengan identitas budaya. Kesenjangan krusial yang memerlukan intervensi segera terletak pada kegagalan kebijakan kesehatan publik untuk menanggulangi dominasi narasi peer influencer yang tidak kredibel yang mengurangi efektivitas pedoman gizi resmi.

Konteks Adopsi TikTok di Asia Tenggara dan Kesehatan Publik

Pemanfaatan media sosial telah berkembang pesat di Asia Tenggara, dan TikTok, sebagai platform berbasis video pendek, telah menjadi kekuatan pendorong utama dalam membentuk tren, khususnya di dunia kuliner regional. Kecepatan penyebaran informasi di TikTok, di mana sebuah video berdurasi 30 hingga 60 detik dapat menciptakan gelombang hype yang memengaruhi jutaan pengguna, menjadikannya platform yang tak terhindarkan dalam diskursus gaya hidup dan kesehatan digital. Algoritma yang dipersonalisasi memainkan peran besar dalam mendorong konten yang relevan ke audiens yang tepat, menciptakan efek domino yang luar biasa dalam penyebaran tren kuliner.

Populasi sasaran utama, yakni remaja dan dewasa muda (usia 18–35 tahun), di Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara, saat ini menghadapi peningkatan serius dalam prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM). Perubahan diet dan gaya hidup modern yang dipengaruhi oleh lingkungan digital telah memperburuk masalah ini, menjadikan media sosial sebagai lingkungan utama yang membentuk kebiasaan makan baru. Oleh karena itu, platform seperti TikTok berada di garis depan dalam menentukan pilihan makanan dan status gizi generasi muda di kawasan ini.

Ulasan ini secara eksplisit mengkaji pedang bermata dua dari TikTok. Di satu sisi, terdapat dampak positif seperti peningkatan aksesibilitas makanan, pengetahuan tentang pengontrolan porsi, dan keterampilan memasak. Di sisi lain, terdapat ancaman signifikan berupa peningkatan risiko perilaku makan tidak teratur (disordered eating) dan paparan misinformasi gizi, sebuah dinamika yang memerlukan analisis kritis untuk perumusan kebijakan gizi yang adaptif dan berbasis bukti.

Mekanisme Algoritma dan Struktur Konten: Mendorong Disregulasi Makan

Peran Algoritma Personalisasi TikTok (FYP)

Algoritma TikTok, yang mengkurasi halaman “For You Page” (FYP), bekerja berdasarkan interaksi cepat pengguna (menonton, suka, komentar), memprioritaskan keterlibatan tinggi. Mekanisme umpan balik cepat ini memastikan bahwa ketika sebuah tren kuliner atau diet muncul, penyebarannya dapat terjadi secara eksponensial. Namun, kemampuan personalisasi yang luar biasa ini membawa risiko kesehatan yang spesifik.

Kerentanan Algoritmik dan Gangguan Makan (Studi Kasus Malaysia)

Bagi individu yang rentan, terutama remaja, algoritma dapat dengan cepat memaparkan mereka pada konten yang memicu atau memperburuk gangguan makan (EDs). Konten ini sering kali mengidealisi bentuk tubuh tertentu, mempromosikan pembatasan diet yang ketat, atau menampilkan rutinitas olahraga ekstrem, dikenal sebagai pos fitspiration. Meskipun TikTok telah berupaya memoderasi konten yang secara langsung mempromosikan anoreksia atau bulimia (thinspiration), pengguna kerap mengakali sistem dengan menggunakan tagar yang dimodifikasi atau ambigu, sehingga konten berbahaya tetap meresap ke dalam FYP.

Fenomena ini mengarah pada apa yang dapat dijelaskan sebagai Jalur Normalisasi Digital Risiko. Algoritma, yang secara inheren mengutamakan keterlibatan pengguna, secara tidak sengaja memberikan insentif pada konten yang provokatif atau ekstrem. Konten yang memicu risiko (seperti glorifikasi diet restriktif atau bentuk tubuh spesifik) seringkali sulit dimoderasi karena menggunakan tagar yang dimodifikasi. Sebagai hasilnya, algoritma mempromosikan normalisasi perilaku berisiko tinggi (disordered eating), mengubahnya dari topik yang memerlukan perhatian klinis menjadi bagian dari budaya umum remaja. Ini menyulitkan upaya pencegahan, karena perilaku yang berpotensi merusak kesehatan dipandang sebagai norma sosial yang didukung oleh jutaan tontonan.

Analisis Kualitas Konten Makanan Utama (FoodTok)

“What I Eat in A Day” (WIED) – Defisit Kredibilitas

Konten terkait makanan, khususnya video “What I Eat in A Day” (#WhatIEatInADay), sangat populer di TikTok. Video-video ini cenderung terbagi menjadi dua kategori utama: video Lifestyle (yang mencakup elemen estetika, presentasi makanan bersih (clean eating), promosi penurunan berat badan, idealisasi kekurusan, atau konten yang menampilkan perilaku makan tidak teratur) dan video Eating Only (yang berfokus pada makanan highly palatable atau konsumsi berlebihan, seringkali diiringi musik ceria). Kedua jenis konten ini berpotensi merugikan remaja yang rentan.

Sebuah studi yang menganalisis WIED di Indonesia menyoroti kesenjangan gizi yang mengkhawatirkan. Analisis menunjukkan bahwa kurang dari 70% pembuat konten memasukkan buah dalam diet mereka, dan hanya setengah dari mereka yang mengonsumsi sayuran. Temuan yang paling kritis adalah bahwa Nol persen (0%) dari video WIED yang dianalisis mematuhi pedoman gizi nasional “Isi Piringku”.

Kesenjangan ini merupakan manifestasi dari Persaingan Kebijakan Kesehatan Nasional melalui Bukti Sosial Digital. Ketika narasi konten gizi paling populer dan berinteraksi tinggi di kalangan remaja secara sistematis mengabaikan atau menyimpang dari standar gizi resmi negara (seperti Isi Piringku), platform digital ini secara efektif menantang dan mengurangi efektivitas kampanye kesehatan publik yang didanai pemerintah. Kredibilitas yang diberikan kepada peer influencer seringkali melampaui otoritas ahli gizi atau pejabat kesehatan, menciptakan lingkungan di mana risiko gizi populasi meningkat karena informasi yang salah diperkuat oleh popularitas.

Konten Konsumsi Berlebihan (Mukbang dan Tantangan Makanan)

Selain konten yang berfokus pada pembatasan diet, TikTok juga menjadi tempat penyebaran konten konsumsi berlebihan. Tren seperti mukbang atau tantangan makanan viral, yang seringkali melibatkan konsumsi makanan dalam jumlah ekstrem atau makanan dengan kombinasi rasa yang aneh (misalnya, mukbang acar kemasan yang memicu mual), menormalisasi perilaku makan yang ekstrem dan tidak sehat. Meskipun tujuannya adalah hiburan, normalisasi konsumsi berlebihan dapat mengaburkan pemahaman tentang porsi yang sehat dan berkontribusi pada disregulasi sinyal lapar dan kenyang, khususnya pada pengguna muda.

Dampak Negatif Kritis Terhadap Kesehatan Publik dan Gizi

Budaya Diet Toksik dan Promosi Ideal Tubuh (Malaysia, Thailand, Filipina)

TikTok secara global dikenal sebagai mesin yang memperkuat narasi diet culture yang toksik. Sebagian besar konten terkait penurunan berat badan mempromosikan pembatasan makanan, idealisasi kekurusan (thin ideal), dan obsesi terhadap penampilan atau berat badan sebagai indikator utama kesehatan dan harga diri. Sebuah studi menegaskan bahwa narasi di platform ini didominasi oleh pandangan weight-normative (kesehatan sama dengan berat badan rendah), dengan kurang dari 3% konten yang mengadopsi pandangan weight-inclusive atau “Kesehatan di Setiap Ukuran”.

Konsekuensi Psikologis dan Klinis

Di Malaysia, konten yang menampilkan pembatasan diet, rutinitas olahraga ketat, atau idealisasi bentuk tubuh spesifik membuat remaja lebih rentan mengembangkan gangguan makan. Paparan terus-menerus terhadap narasi ini—baik thinspiration maupun fitspiration—berkorelasi dengan ketidakpuasan tubuh yang lebih tinggi dan peningkatan risiko perilaku makan tidak teratur.

Dampak klinis dari paparan ini sangat nyata. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa TikTok adalah platform media sosial yang paling sering digunakan oleh 62.8% remaja yang menjalani perawatan untuk gangguan makan. Lebih lanjut, 59% dari pasien ini melaporkan bahwa paparan konten di TikTok mengurangi harga diri mereka, yang merupakan fondasi mendasar bagi perilaku makan tidak teratur, berpotensi mempersulit proses pemulihan mereka. Di Filipina, meskipun remaja dapat mengambil tindakan reflektif terhadap diet, paparan terhadap narasi penurunan berat badan yang merusak citra tubuh tetap menjadi risiko signifikan.

Korelasi Antara Penggunaan Intensif dan Defisit Nutrisi Berat (Indonesia)

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dalam konteks Indonesia adalah hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dan kualitas diet yang buruk, bahkan di antara pengguna yang memiliki pengetahuan gizi yang memadai.

Bukti Kuantitatif Kebiasaan Makan Buruk dan Malnutrisi Tersembunyi

Studi di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar subjek remaja adalah pengguna intensif (heavy users) aplikasi TikTok (54.8%), dan lebih dari separuh kelompok ini (51.6%) memiliki kebiasaan makan yang dikategorikan kurang baik. Kebiasaan makan yang kurang baik ini tidak hanya bersifat anekdot; hasil pengukuran asupan pangan menunjukkan adanya defisit nutrisi yang parah di tingkat populasi:

  1. Defisit Makronutrien: Sebagian besar subjek mengalami defisit energi berat (45.2%) dan defisit karbohidrat berat (56.4%).
  2. Defisit Mikronutrien: Defisit Kalsium dan Vitamin C mencapai tingkat yang sangat tinggi (95.2%).

Korelasi antara penggunaan intensif dan pola asupan ini menggarisbawahi fenomena Malnutrisi Tersembunyi di Era Digital. Meskipun anak muda mungkin tidak didiagnosis dengan gangguan makan klinis, paparan terus-menerus terhadap diet restriktif yang tidak lengkap (dari WIED yang buruk) dan pengalihan fokus ke makanan viral tinggi kalori, tetapi miskin nutrisi (dari tren kuliner), secara kolektif menghasilkan defisit mikronutrien yang serius pada tingkat populasi. Penggunaan TikTok yang intensif dapat secara sistematis merusak kualitas diet remaja, terlepas dari pengetahuan gizi mereka.

Dorongan Ekonomi untuk Makanan Viral “Highly Palatable”

TikTok telah menjadi mesin penggerak ekonomi kuliner yang efektif. Ketika sebuah hidangan, bahan makanan, atau teknik memasak menjadi viral di platform ini, permintaan bisa melonjak drastis, seringkali melebihi ekspektasi atau kapasitas produksi. Fenomena ini, yang dikenal sebagai viralitas, menghasilkan peningkatan penjualan drastis dan omzet yang meroket bagi bisnis kuliner. Contoh tren yang berhasil meliputi Dalgona Coffee, Croffle, Nasi Mentai, dan Spaghetti Brulee.

Namun, motivasi di balik makanan viral ini didasarkan pada estetika visual (eye-catching) dan daya tarik hedonis (highly palatable), bukan nilai gizi. Makanan viral yang dominan cenderung tinggi gula, lemak, atau garam, berkontribusi pada peningkatan asupan kalori kosong di kalangan konsumen muda. Dorongan ekonomi untuk menciptakan sensasi visual dan rasa yang ekstrem secara intrinsik berbenturan dengan promosi diet yang seimbang dan bernutrisi.

Pengaruh Positif: Literasi Gizi, Keterampilan Memasak, dan Dukungan Komunitas

Meskipun risiko yang ada memerlukan perhatian mendesak, penting untuk mengakui potensi TikTok sebagai alat kesehatan publik yang positif, terutama dalam konteks pendidikan gizi dan pemberdayaan sosial.

Pembelajaran Gizi dan Peningkatan Keterampilan Hidup

TikTok memiliki kemampuan unik untuk menyalurkan “pengetahuan cepat” melalui format video pendek yang dapat dengan mudah dicerna. Remaja menggunakan platform ini untuk belajar tentang kebiasaan makan sehat seperti pengontrolan porsi, mindful snacking, dan konsumsi makanan utuh.

Pembentukan Kebiasaan Sehat Jangka Panjang (Filipina)

Penelitian menunjukkan bahwa bagi remaja, konten makanan di TikTok dapat memicu perubahan jangka panjang dari kebiasaan daring ke tindakan offline yang nyata. Remaja tidak hanya bereaksi instan terhadap tren, tetapi juga terlibat dalam tiga tindakan berbeda:

  1. Respon Segera: Reaksi cepat terhadap konten (misalnya, mencoba resep baru).
  2. Tindakan Perencanaan: Keputusan jangka panjang dan reflektif mengenai diet mereka.
  3. Tindakan Reflektif: Mengamati video yang telah mereka simpan atau sukai dari waktu ke waktu untuk memahami bagaimana kebiasaan makan sehat mereka telah berkembang.

Mekanisme ini menciptakan Pengembangan Agen Gizi melalui Refleksi. Dengan mendorong tindakan reflektif dan perencanaan, platform ini memungkinkan remaja mengembangkan agency atau kemampuan bertindak atas pilihan makanan mereka sendiri. Mereka melihat perubahan kebiasaan bukan sekadar reaksi impulsif terhadap tren, tetapi sebagai proses yang terkontrol dan berkembang, yang pada akhirnya membantu mereka menemukan strategi makan sehat yang cocok dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Promosi Kuliner Lokal, Tradisional, dan Pemberdayaan Ekonomi

Di Asia Tenggara, yang kaya akan warisan kuliner, TikTok menjadi instrumen penting untuk mempromosikan tradisi dan mendukung ekonomi lokal.

Preservasi Budaya dan Pemberdayaan Wirausaha

Influencer lokal dan kreator konten menggunakan platform ini untuk berbagi hidangan regional, resep fusi, dan teknik memasak. Di Indonesia, misalnya, video etiket makan Nasi Padang oleh chef lokal menggabungkan makanan dengan budaya, menjangkau jutaan orang. Di Thailand dan Vietnam, tantangan kuliner mendorong pengguna untuk menciptakan kembali hidangan klasik dengan sentuhan modern.

Keberhasilan promosi kuliner lokal ini berakar pada Menjembatani Tradisi dan Keterlibatan Modern. Konten kuliner tradisional berhasil tetap relevan bagi Generasi Z karena ia dipadukan dengan elemen budaya pemuda—visualisasi estetik, tantangan interaktif, dan format video pendek.

Lebih lanjut, TikTok memberdayakan wirausaha muda. Di Vietnam, platform ini bertindak sebagai landasan peluncuran bagi wirausaha untuk mengidentifikasi dan beradaptasi dengan tren makanan (misalnya, trà sữa khoai môn tươi atau custard-apple tea), mengubah ide kreatif menjadi bisnis nyata, dan mendorong permintaan bahan baku spesifik.

Potensi Intervensi Gizi Berbasis Sosial Media

Peninjauan sistematis menunjukkan bahwa intervensi kesehatan melalui media sosial, termasuk untuk mempromosikan pola makan sehat, efektif dalam meningkatkan pengetahuan gizi dan memotivasi perubahan perilaku. Kunci keberhasilan intervensi sangat bergantung pada konten yang relevan, menarik, dan interaktif. Selain itu, norma sosial yang dipromosikan oleh kelompok sebaya (peer group) terbukti lebih efektif dalam memengaruhi pilihan makanan sehat dibandingkan dengan norma yang berasal dari otoritas eksternal. Format TikTok, yang berpusat pada tantangan, interaktivitas, dan peer influence, sangat cocok untuk menerapkan model intervensi kesehatan yang terbukti berhasil ini.

Analisis Lintas-Negara Asia Tenggara: Perbandingan Risiko dan Peluang

Dampak TikTok bervariasi antar negara di Asia Tenggara, mencerminkan prioritas dan tantangan gizi lokal.

Indonesia: Intensitas dan Kesenjangan Pengetahuan-Praktik

Di Indonesia, masalah utamanya adalah disonansi antara pengetahuan gizi yang relatif baik di kalangan remaja pengguna TikTok, dan kebiasaan makan yang sangat buruk. Data menunjukkan tingginya jumlah heavy users yang menderita defisit nutrisi parah (energi, karbohidrat, dan mikronutrien seperti Kalsium dan Vitamin C mencapai 95.2%). Kualitas konten WIED yang sepenuhnya mengabaikan pedoman Isi Piringku memperburuk defisit ini.

Implikasi kebijakan di Indonesia harus berfokus pada behavioural modification yang dipengaruhi digital, menjembatani jurang antara pemahaman kognitif (pengetahuan gizi) dan tindakan sehari-hari yang didorong oleh tren TikTok.

Malaysia: Fokus Psikologis dan Klinis

Analisis di Malaysia menunjukkan fokus yang jelas pada peningkatan kerentanan terhadap gangguan makan (EDs). Paparan terhadap konten fitspiration dan ideal tubuh yang ketat menjadi pemicu utama, yang secara klinis dilaporkan mengurangi harga diri individu yang sedang menjalani perawatan ED.

Implikasi di Malaysia menuntut kebutuhan mendesak untuk program pencegahan ED digital yang terintegrasi dengan layanan klinis, serta regulasi konten yang menargetkan mekanisme algoritmik yang memperkuat perilaku diet restriktif yang merugikan.

Filipina & Thailand: Dinamika Citra Tubuh dan Kredibilitas Informasi

Remaja di Filipina menunjukkan dinamika yang kontradiktif: mereka mampu terlibat dalam tindakan reflektif dan perencanaan diet jangka panjang yang positif, namun tetap rentan terhadap paparan narasi penurunan berat badan yang merusak citra tubuh, yang dapat memicu reaksi instan yang merugikan.

Di Thailand, masalah utama terletak pada dominasi konten weight-normative yang glorifikasi penurunan berat badan, diperparah oleh minimnya representasi suara ahli gizi profesional. Hal ini menimbulkan masalah kredibilitas informasi kesehatan yang akut. Intervensi di Thailand perlu memprioritaskan edukasi kritis media dan meningkatkan representasi ahli gizi yang mempromosikan pandangan weight-inclusive.

Vietnam: Digitalisasi Ngemil dan Faktor Pembelian

Vietnam mengalami Snackvolution, di mana platform seperti TikTok sangat memengaruhi kebiasaan ngemil dan pembelian. Keputusan pembelian makanan ringan tidak hanya didasarkan pada harga atau kegunaan, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor sosial seperti minat dan kelompok referensi.

Implikasi kebijakan harus ditujukan untuk menggeser interest dan pengaruh reference group dari makanan ringan olahan menuju makanan utuh atau camilan lokal yang lebih sehat. Di sisi positif, platform ini adalah alat yang efektif untuk pemberdayaan UMKM kuliner lokal.

Ringkasan perbandingan risiko dan peluang di kelima negara Asia Tenggara disajikan dalam tabel berikut:

Tabel V.A: Ringkasan Dualitas Pengaruh TikTok di Lima Negara Asia Tenggara

Negara Indikator Gizi/Psikologis Negatif Kritis Indikator Sosial/Perilaku Positif Kunci Kebutuhan Intervensi Mendesak
Indonesia Defisit mikronutrien berat (Ca, Vit C) pada heavy users; Kualitas WIED di bawah standar nasional Pengetahuan Gizi Baik; Promosi Kuliner Tradisional (Nasi Padang) Intervensi untuk menjembatani gap pengetahuan-praktik; pengawasan konten gizi.
Malaysia Kerentanan ED; Paparan Fitspiration/Thinspiration; Pengurangan Harga Diri Dukungan Komunitas (Umum) Strategi pencegahan ED yang menargetkan mekanisme algoritmik pemicu.
Filipina Body Dissatisfaction; Reaksi Instan terhadap Tren Diet Pembentukan Kebiasaan Reflektif Jangka Panjang; Peningkatan Keterampilan Memasak Pendidikan literasi media kritis untuk memilah tren diet toksik.
Thailand Dominasi Konten Weight-Normative; Minimnya Suara Ahli Gizi Partisipasi dalam Tantangan Kuliner Kreatif Peningkatan konten gizi weight-inclusive yang dikurasi oleh profesional.
Vietnam Normalisasi Konsumsi Snack Berbasis Sosial (Snackvolution) Pemberdayaan UMKM Kuliner Lokal; Tren Minuman Kreatif Menggeser interest dan reference group dari makanan ringan olahan ke makanan utuh.

Kesimpulan, Implikasi Kebijakan, dan Rekomendasi Strategis

Sintesis Dualitas dan Kesimpulan Kritis

TikTok telah memfasilitasi percepatan disrupsi gizi di Asia Tenggara. Platform ini secara bersamaan adalah sumber pengetahuan dan katalisator perilaku berisiko. Secara keseluruhan, tren gizi yang didorong oleh TikTok didominasi oleh estetika, viralitas, dan ketakutan akan berat badan, yang secara statistik berkorelasi dengan kebiasaan makan yang buruk dan defisit gizi yang parah di kalangan pengguna intensif. Potensi edukasi yang kuat, meskipun ada, saat ini dikalahkan oleh mekanisme algoritmik yang menguntungkan konten yang sensasional, hiper-palatable, dan seringkali tidak sehat.

Implikasi Kebijakan Regional

Berdasarkan analisis ini, kebijakan kesehatan publik harus mengambil dua langkah transformatif:

  1. Pengakuan TikTok sebagai Lingkungan Gizi Formal: Mengingat pengaruhnya yang sangat besar terhadap pilihan makanan, TikTok (dan media sosial lainnya) harus diperlakukan sebagai lingkungan pembentuk kebiasaan yang memiliki dampak kesehatan setara dengan lingkungan tradisional seperti sekolah atau rumah. Intervensi harus dirancang untuk beroperasi dalam ekosistem digital ini.
  2. Kebutuhan Regulasi Konten Gizi yang Kredibel: Mengingat kegagalan konten populer (WIED) untuk mematuhi pedoman gizi nasional , perlu dikembangkan kerangka kerja regional atau nasional untuk sertifikasi, pelabelan, atau pengawasan konten gizi yang diklaim bersifat edukatif. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan representasi suara ahli gizi dan mengurangi dominasi narasi peer influencer yang menyesatkan.

Rekomendasi Strategis Berbasis Bukti untuk Intervensi (Actionable Recommendations)

Strategi Intervensi Berbasis Peer Group dan Interaktivitas

Program intervensi gizi digital harus memanfaatkan model peer influence dan format yang disukai TikTok, seperti challenges. Temuan menunjukkan bahwa norma sosial yang dipromosikan oleh kelompok sebaya lebih efektif dalam memengaruhi perilaku sehat dibandingkan norma yang berasal dari otoritas luar. Oleh karena itu, kampanye harus menggunakan influencer mikro yang kredibel dan fokus pada gamification kebiasaan sehat, seperti tantangan “Isi Piringku Challenge” yang viral, yang menekankan validasi porsi buah dan sayur, bukan sekadar teori gizi.

Mengubah Algoritma dan Moderasi

Kolaborasi dengan platform sangat penting. Direkomendasikan agar TikTok didorong untuk menerapkan filter yang secara eksplisit memprioritaskan konten weight-inclusive (yang berfokus pada kesehatan dan energi, bukan penampilan) dan membatasi penyebaran konten weight-normative yang tidak didukung secara ilmiah. Upaya moderasi harus ditingkatkan untuk mendeteksi tagar dan tantangan yang mempromosikan disordered eating yang disamarkan, yang seringkali lolos dari pengawasan karena perubahan ejaan.

Pendidikan Literasi Media Kritis

Remaja harus diajarkan bagaimana menggunakan TikTok secara reflektif, memperkuat kemampuan mereka untuk membedakan antara konten yang mempromosikan kesehatan yang berkelanjutan dan konten yang hanya berfokus pada penampilan. Pendidikan ini harus mendorong planning actions (membuat keputusan diet jangka panjang) alih-alih immediate responses (reaksi impulsif terhadap tren). Program literasi media kritis ini sangat penting untuk mengurangi kerentanan terhadap isu citra tubuh dan diet toksik, terutama di Filipina dan Thailand.

Memanfaatkan Kekuatan Ekonomi Lokal

TikTok harus dimanfaatkan sebagai jembatan untuk meningkatkan aksesibilitas makanan berkualitas tinggi. Inisiatif dapat diluncurkan untuk secara eksplisit menghubungkan tren kuliner viral dengan produsen makanan sehat dan lokal (misalnya, pasar petani lokal atau produsen makanan tradisional), memanfaatkan daya sebar TikTok untuk meningkatkan permintaan makanan utuh yang sehat.

Tabel VI.A: Strategi Intervensi Media Sosial yang Diusulkan untuk Kesehatan Gizi Remaja SEA

Tantangan Gizi Spesifik Tujuan Intervensi Metode Intervensi Basis Ilmiah/Data
Defisit Nutrisi (Indonesia) Mendorong kepatuhan Isi Piringku. Challenge visual yang membutuhkan validasi porsi buah dan sayur (gamification) melalui peer influence. WIED gagal Isi Piringku ; Interaktivitas dan peer influence efektif.
Risiko ED dan Diet Toksik (Regional) Mendorong penerimaan tubuh dan pola makan intuitif. Program edukasi yang dipimpin peer tentang bahaya fitspiration dan mempromosikan narasi weight-inclusive. Konten weight-normative dominan ; Peer norms lebih efektif.
Perilaku Konsumsi Impulsif (Snacks/Viral Food) Memperkuat tindakan reflektif dan perencanaan diet. Alat digital (template TikTok) yang mendorong pengguna menilai nutrisi video sebelum menyukai/menyimpan. Remaja mampu tindakan reflektif ; Makanan viral tinggi kalori.
Kualitas Informasi Gizi yang Rendah Meningkatkan kredibilitas sumber informasi. Sistem verifikasi “Ahli Gizi Terdaftar” atau “Gizi Publik Kredibel” pada profil konten kesehatan. Kurangnya suara ahli gizi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1
Powered by MathCaptcha