Perkembangan teknologi informasi yang sangat masif pada dekade terakhir telah menempatkan bahasa pada persimpangan jalan yang krusial. Sebagai instrumen utama komunikasi manusia, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat pertukaran informasi, tetapi juga sebagai wadah identitas, sejarah, dan memori kolektif suatu bangsa atau kelompok etnis. Namun, di era digital yang didominasi oleh kecepatan, efisiensi, dan konektivitas global, struktur serta vitalitas bahasa—terutama bahasa lokal atau dialek—menghadapi tantangan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena penggunaan emoji, singkatan, dan integrasi kata serapan global telah menciptakan ekosistem linguistik baru yang sering kali mengabaikan norma-norma tradisional demi ekspresi emosional yang instan. Laporan ini akan menganalisis secara mendalam bagaimana digitalisasi memengaruhi struktur bahasa, mengevaluasi risiko penurunan vitalitas bahasa daerah, serta mengulas berbagai upaya strategis dalam melakukan digitalisasi literatur lokal sebagai benteng pertahanan budaya.

Transformasi Struktural Bahasa dalam Ruang Digital

Ruang digital, yang mencakup media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform berbagi konten, telah memicu evolusi bahasa yang sangat cepat. Transformasi ini tidak hanya bersifat leksikal dengan munculnya kosakata baru, tetapi juga merambah ke dalam dimensi morfologis, sintaksis, dan pragmatis. Pengguna internet, khususnya generasi muda yang merupakan aktor utama dalam perubahan ini, cenderung mengadopsi pola komunikasi yang lebih santai, sederhana, dan ringkas.

Reduksi Morfologis dan Sintaksis

Dalam komunikasi digital, terdapat kecenderungan kuat untuk melakukan pemendekan kata atau reduksi morfologis untuk menyesuaikan dengan keterbatasan karakter platform atau sekadar meningkatkan efisiensi pengetikan. Penggunaan singkatan seperti “yg” untuk “yang”, “dmn” untuk “dimana”, atau akronim seperti “mager” (malas gerak) dan “baper” (bawa perasaan) telah menjadi standar de facto dalam interaksi daring. Perubahan ini sering kali mengabaikan aturan afiksasi yang benar, di mana prefiks atau sufiks asli sering kali dihilangkan atau dimodifikasi secara ekstrem.

Secara sintaksis, struktur kalimat dalam ruang digital sering kali berbentuk fragmen atau kalimat pendek yang tidak mengikuti aturan subjek-predikat secara ketat. Fenomena ini mencerminkan pergeseran dari literasi tradisional menuju apa yang disebut sebagai “orali-digital”, di mana teks tertulis berfungsi lebih sebagai representasi suara lisan daripada karya tulis formal. Ketidakformalan ini menciptakan variasi bahasa yang sering kali tidak ditemukan dalam kamus tradisional, namun memiliki fungsi komunikatif yang kuat di dalam komunitas digital tertentu.

Perubahan Tata Bahasa pada Dialek Lokal: Kasus Bahasa Batak Toba

Interferensi bahasa digital terhadap dialek lokal dapat diamati secara spesifik pada perubahan struktur morfologis bahasa daerah yang digunakan di platform seperti WhatsApp. Sebagai contoh, dalam bahasa Batak Toba, terdapat perubahan pada penggunaan prefiks /maN-/ yang sering kali mengalami penyesuaian saat bersinggungan dengan struktur bahasa Indonesia atau pola komunikasi digital. Prefiks /maN-/ dalam bahasa Batak Toba yang seharusnya berubah menjadi /manga-/ saat bertemu fonem /l/ atau /r/ sering kali mengalami penyederhanaan atau luluh dalam percakapan daring yang cepat.

Tabel berikut menunjukkan perbandingan antara prefiks formal bahasa Indonesia dengan padanannya dalam bahasa Batak Toba serta perubahan yang terjadi dalam konteks penggunaan digital informal:

Prefiks Formal (Indo) Prefiks Asli (Batak Toba) Contoh Penggunaan Asli Perubahan/Interferensi Digital
meN- maN- mangaloppa (memasak) Pengulangan karakter atau penghilangan prefiks demi kecepatan.
ber- mar- marmeam (bermain) Penggunaan campuran “ber-” dan kata dasar daerah.
di- di- dilean (diberi) Struktur pasif tetap kuat namun sering disingkat penulisan kapitalnya.
pa- pa- paturehon (memperbaiki) Sering digabungkan dengan slang Indonesia.

Ketidakteraturan dalam penggunaan huruf kapital, tanda baca yang berlebihan, dan struktur kalimat yang menyimpang dari aturan baku dalam aplikasi pesan singkat tidak hanya terjadi pada bahasa nasional, tetapi juga mengancam kelestarian tata bahasa daerah yang memiliki kompleksitas tersendiri. Hal ini menimbulkan risiko jangka panjang di mana generasi muda kehilangan pemahaman terhadap logika internal bahasa ibu mereka.

Semiotika Emoji: Menuju Sintaksis Visual Global

Salah satu fenomena paling mencolok dalam era digital adalah penggunaan emoji sebagai unit semiotik yang berpartisipasi aktif dalam pembentukan makna. Emoji tidak lagi sekadar ikon dekoratif; mereka telah berevolusi menjadi komponen dinamis yang memiliki fungsi sintaksis dan pragmatis yang menyerupai item leksikal dalam bahasa alami. Dalam banyak interaksi, emoji mampu menggantikan verba, adjektiva, bahkan tanda baca secara keseluruhan, menciptakan apa yang disebut sebagai “gramatika visual”.

Fungsi Emoji sebagai Substitusi Leksikal

Penelitian linguistik digital menunjukkan bahwa pengguna media sosial sering kali menempatkan emoji dalam posisi yang secara tradisional ditempati oleh kata-kata. Misalnya, emoji “hati” sering kali berfungsi sebagai pengganti kata kerja “mencintai”, atau emoji “wajah menangis” menggantikan kata sifat “sedih”. Kemampuan emoji untuk melintasi batas-batas bahasa nasional menjadikannya semacam lingua franca visual di ruang digital, meskipun interpretasinya tetap dipengaruhi oleh konteks budaya lokal.

Di Indonesia, penggunaan emoji dalam aplikasi seperti WhatsApp sering kali bersifat translingual, di mana makna tidak bersifat tetap melainkan muncul dari zona kontak antara pengirim dan penerima. Alasan penggunaan emoji di kalangan mahasiswa, misalnya, mencakup kebutuhan untuk memperlembut nada bicara (mitigasi), menunjukkan keakraban (solidaritas), atau memberikan konteks emosional yang sulit diekspresikan hanya melalui teks. Evolusi ini menandakan bahwa bahasa digital adalah sistem yang sangat adaptif, mampu mengintegrasikan elemen multimodal untuk memperkaya makna pesan.

Interaksi Bahasa Global dan Lokal: Loan Words dan Hibridisasi

Globalisasi digital telah memfasilitasi masuknya kata serapan (loan words) dari bahasa global, terutama bahasa Inggris, ke dalam percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia. Remaja sebagai pengguna aktif media sosial merupakan kelompok yang paling rentan sekaligus kreatif dalam mengadopsi kosakata asing ini, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Dinamika Kata Serapan Asing pada Remaja

Penggunaan istilah seperti “literally”, “cringe”, “vibes”, “ghosting”, dan “FYI” (For Your Information) bukan sekadar bentuk adaptasi teknis, melainkan juga berfungsi sebagai penanda identitas sosial. Bagi generasi muda, penggunaan kata serapan ini memberikan kesan modern, inklusif, dan terkoneksi dengan tren global. Namun, penetrasi yang terlalu masif tanpa filter pendidikan bahasa yang kuat dapat mengancam kemurnian kosakata bahasa Indonesia dan bahasa daerah, karena masyarakat mulai terbiasa menggunakan istilah asing untuk konsep-konsep yang sebenarnya sudah memiliki padanan dalam bahasa lokal.

Tabel berikut mengidentifikasi beberapa kategori kata serapan dan slang digital yang dominan di Indonesia beserta fungsinya dalam komunikasi:

Kategori Contoh Istilah Fungsi Sosiolinguistik
Serapan Global (Inggris) Literally, Cringe, Vibes, GWS Penanda identitas kelompok modern dan gaya hidup digital.
Akronim Slang Lokal Mager, Baper, Salfok, Ngabrut Efisiensi komunikasi dan penguatan solidaritas in-group.
Istilah Teknis Platform Viral, Trending, Banned, FYP Adaptasi terhadap ekosistem fungsional media sosial.
Penyerapan Fonetik Oghey (Okay), Avv (Aww), Njir Ekspresi kreatif dan permainan bunyi untuk suasana santai.

Hibriditas bahasa ini menciptakan variasi bahasa baru yang sering kali mencampurkan kode (code-mixing) antara bahasa daerah, Indonesia, dan Inggris dalam satu kalimat. Fenomena ini mencerminkan identitas ganda masyarakat digital yang harus menavigasi antara belonging lokal dan keterlibatan global.

Analisis Vitalitas Bahasa Daerah di Era Digital

Vitalitas bahasa mengacu pada kemampuan suatu bahasa untuk tetap hidup dan digunakan secara aktif di dalam komunitas penuturnya. Di Indonesia, yang memiliki keragaman bahasa daerah terbesar kedua di dunia, status vitalitas bahasa-bahasa ini berada dalam kondisi yang bervariasi, dari aman hingga punah. Digitalisasi bertindak sebagai pedang bermata dua: ia mempercepat erosi bahasa melalui dominasi bahasa global, namun juga menyediakan alat untuk dokumentasi dan revitalisasi.

Kategori Keterancaman Bahasa Menurut UNESCO dan Kemendikbudristek

Berdasarkan data dari Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kondisi bahasa daerah di Indonesia dapat dipetakan ke dalam beberapa kategori keterancaman. Ancaman kepunahan bahasa daerah diperburuk oleh faktor globalisasi yang menyentuh bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial, yang menyebabkan bahasa ibu mulai ditinggalkan oleh penuturnya.

Tingkat Keterancaman Status Penutur dan Transmisi Antargenerasi Contoh/Lokasi
Aman (Safe) Digunakan oleh semua usia; transmisi tidak terganggu. Jawa, Sunda, Bali.
Rawan (Vulnerable) Dituturkan oleh anak-anak tetapi terbatas pada ranah tertentu (misal di rumah). Beberapa bahasa di Sumatera Utara.
Stabil tapi Terancam Jumlah penutur masih ada tetapi mulai berkurang di kalangan muda. 19 bahasa di 9 provinsi (Data 2019).
Kritis (Critically Endangered) Hanya dituturkan oleh generasi kakek-nenek; orang tua tidak mewariskan ke anak. 5 bahasa di NTT, Maluku, dan Papua.
Punah (Extinct) Tidak ada lagi penutur yang tersisa. 11 bahasa di Maluku dan Papua.

Penyebab utama kepunahan bahasa, selain tekanan global, adalah terputusnya transmisi antargenerasi. Di Sumatera Utara, misalnya, banyak orang tua di kelas ekonomi menengah lebih memilih membesarkan anak-anak mereka dalam bahasa Indonesia demi alasan prestise sosial dan akses ekonomi, meskipun hal itu berarti “mengorbankan” bahasa daerah mereka.

Erosi Linguistik Digital vs. Revitalisasi Online

Digitalisasi sering kali dianggap bertanggung jawab atas marginalisasi bahasa minoritas karena infrastruktur internet yang sangat berorientasi pada bahasa Inggris dan skrip Latin. Kurangnya konten dalam bahasa lokal di televisi atau internet membuat anak-anak enggan mempelajarinya karena merasa bahasa tersebut tidak relevan dengan dunia modern yang mereka hadapi. Namun, komunitas yang aktif menggunakan media sosial untuk revitalisasi, seperti Louisiana Creole Virtual Classroom di Facebook, membuktikan bahwa ruang digital dapat menjadi domain yang multifaset bagi penggunaan bahasa minoritas secara berani.

Di Indonesia, keberhasilan revitalisasi sangat bergantung pada integrasi bahasa daerah ke dalam kehidupan digital sehari-hari. Jika sebuah bahasa tidak memiliki representasi digital (misalnya tidak ada keyboard aksara daerah, tidak ada konten video, tidak ada aplikasi), maka bahasa tersebut berisiko mengalami “kematian bahasa digital” (Digital Language Death), di mana meskipun masih ada penutur di dunia nyata, bahasa tersebut tidak lagi memiliki kapasitas untuk naik ke panggung digital.

Digitalisasi Kamus dan Literatur Lokal: Upaya Preservasi

Upaya untuk menjaga eksistensi bahasa daerah di era digital dilakukan melalui berbagai strategi alih media dan standardisasi teknis. Digitalisasi bahasa daerah bukan hanya soal pemindaian dokumen, tetapi juga memastikan bahasa tersebut dapat “dibaca” dan “diproses” oleh perangkat teknologi modern.

Standardisasi Aksara Nusantara dalam Unicode

Salah satu langkah paling fundamental dalam digitalisasi bahasa daerah adalah pendaftaran aksara tradisional ke dalam standar Unicode. Tanpa pendaftaran ini, karakter aksara daerah tidak akan muncul secara benar di peramban web, aplikasi pesan, atau nama domain internet. PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) telah bekerja keras mendaftarkan tujuh aksara daerah, termasuk Jawa, Sunda, Bugis, dan Batak, agar dapat digunakan secara universal di platform digital.

Tabel berikut merinci dukungan teknis untuk aksara Batak sebagai contoh keberhasilan standardisasi digital:

Aspek Teknis Detail Implementasi Dampak pada Penggunaan
Rentang Unicode 1BC0–1BFF. Karakter dapat dikenali secara global oleh semua sistem operasi modern.
Varian Dialek Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing. Mendukung penulisan otentik untuk berbagai sub-etnis Batak.
Dukungan Keyboard Tersedia untuk Windows, macOS, Android, iOS (Aplikasi Keyman/Lontar). Penutur dapat mengetik dalam aksara asli di media sosial.
Punctuation (Bindu) Bindu Na Metek, Pinarboras, Judul, Pangolat. Mempertahankan kaidah penulisan literatur kuno dalam format digital.

Pengembangan Aplikasi dan Platform Revitalisasi

Selain standardisasi aksara, pembuatan aplikasi pembelajaran dan kamus daring menjadi kunci untuk menjangkau generasi muda. Contoh sukses di Indonesia meliputi aplikasi kamus bahasa Sunda yang telah diunduh lebih dari 10.000 kali, serta platform BASAbali yang menggunakan pendekatan berbasis komunitas untuk menciptakan kamus wiki dan perpustakaan digital. Di Sulawesi Barat, aplikasi “Ribuan Mandar” menggunakan sistem sociopreneurship untuk melestarikan budaya Mandar melalui media digital.

Digitalisasi literatur juga mencakup konversi naskah-naskah kuno menjadi e-book atau naskah digital yang dapat diakses melalui situs web seperti lopian.unpad.ac.id. Langkah ini tidak hanya melindungi fisik naskah dari kerusakan, tetapi juga memfasilitasi penelitian linguistik yang lebih mendalam mengenai evolusi bahasa dari waktu ke waktu.

Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pelindungan Bahasa

Teknologi kecerdasan buatan dan pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP) menawarkan peluang revolusioner untuk revitalisasi bahasa daerah. Badan Bahasa di bawah Kemendikbudristek telah menginisiasi program yang mengintegrasikan AI untuk menekan laju kepunahan bahasa daerah di Indonesia.

Inisiatif VIBA dan KODA

Dua inisiatif utama yang dikembangkan adalah Vitalitas Bahasa (VIBA) dan Korpus Daerah (KODA). VIBA memanfaatkan teknologi speech recognition dan chatbot untuk melakukan penjaringan data bahasa tanpa harus mengirim banyak petugas ke lapangan. Teknologi pengenalan suara ini mampu mendokumentasikan percakapan dalam bahasa daerah dan mengolahnya menjadi data linguistik yang kaya akan informasi fonetik dan sintaksis.

KODA berfungsi sebagai platform penghimpun korpus linguistik yang komprehensif untuk berbagai bahasa daerah. Korpus ini menjadi dasar bagi pengembangan alat penerjemahan lintas bahasa daerah yang sangat penting untuk memperkuat komunikasi antarkomunitas yang berbeda latar belakang. Dengan adanya alat terjemahan otomatis yang akurat secara linguistik dan relevan secara budaya, penggunaan bahasa daerah dapat diperluas ke dalam konteks layanan publik, media, dan pendidikan.

Terjemahan Mesin dan Model Pembelajaran

Pemanfaatan model pembelajaran mesin seperti Neural Machine Translation (NMT) dengan arsitektur Encoder-Decoder telah diterapkan dalam membangun mesin penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa Sunda, dengan tingkat akurasi yang mencapai 99,94%. Selain itu, teknik Zero-Shot Learning yang diadopsi oleh Google Translate memungkinkan AI untuk mempelajari bahasa dengan sedikit data, yang membuka jalan bagi bahasa-bahasa minoritas untuk mendapatkan tempat dalam layanan terjemahan global.

Berikut adalah beberapa teknologi AI yang telah diimplementasikan untuk preservasi bahasa:

Nama Teknologi/Proyek Fungsi Utama Lokasi/Bahasa Sasaran
VIBA (Vitalitas Bahasa) Penjaringan data via Speech Recognition & Chatbot. Seluruh wilayah Indonesia.
KODA (Korpus Daerah) Penghimpun data korpus untuk alat terjemahan. Bahasa-bahasa daerah Indonesia.
Algoritma Bastal Stemming teks untuk aplikasi penerjemah. Bahasa Bali.
Reobot Chatbot pembelajaran bahasa melalui Facebook Messenger. Bahasa Māori (Selandia Baru).
Opie Robot pengajar cerita dan permainan bahasa asli. Anak-anak di Australia.

Studi Kasus: Eksistensi Dialek dan Identitas di Sumatera Utara

Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah dengan dinamika sosiolinguistik yang sangat menarik dalam konteks digitalisasi. Penggunaan bahasa Melayu Deli dan berbagai dialek Batak di ruang digital mencerminkan bagaimana bahasa tetap menjadi instrumen konstruksi identitas lokal di tengah arus modernitas.

Dialek Labuhanbatu dan Konstruksi Identitas Digital

Di Labuhanbatu, dialek Melayu yang memiliki ciri fonologis unik seperti artikulasi nasal /r/ menjadi [gh] digunakan secara aktif dalam materi daring, blog komunitas, dan glosarium digital. Penggunaan dialek ini di media sosial bukan sekadar kebiasaan, melainkan pilihan identitas yang sadar untuk menandakan kebanggaan terhadap warisan lokal dan memperkuat kohesi kelompok (solidaritas in-group). Integrasi fitur-fitur ekspresif seperti perpanjangan vokal (contoh: “bosarnyoooo”) ke dalam teks digital mengilustrasikan bagaimana praktik tradisional lisan beradaptasi dengan konteks teknologi baru.

Pengaruh Bahasa Gaul pada Mahasiswa di Medan

Di sisi lain, terdapat tantangan besar dari penggunaan bahasa gaul atau slang yang sangat intensif di kalangan mahasiswa di Medan. Data menunjukkan bahwa sekitar 96% responden mahasiswa di Universitas Negeri Medan (UNIMED) mengenal istilah slang dan 84% menggunakannya secara intensif di media sosial. Slang ini berfungsi sebagai bentuk identitas sosial bagi Generasi Z, namun di sisi lain diakui oleh 72% responden telah memengaruhi kebiasaan mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meskipun penelitian ini fokus pada bahasa Indonesia, dampaknya terhadap bahasa daerah sangat terasa, di mana penggunaan bahasa daerah di kalangan keluarga hanya mencapai 12%, jauh lebih rendah dibandingkan interaksi dengan teman yang didominasi slang.

Tantangan dan Masa Depan Literasi Digital Bahasa Lokal

Transisi menuju era digital membawa tantangan besar bagi literasi masyarakat. Munculnya pola komunikasi yang mengabaikan norma tata bahasa tradisional dapat menyebabkan penurunan kemampuan komunikasi formal di kalangan generasi muda. Namun, tantangan ini juga membuka peluang untuk merumuskan kembali standar literasi yang lebih inklusif terhadap elemen multimodal seperti video, audio, dan simbol visual.

Strategi Revitalisasi Berbasis Komunitas dan Sekolah

Kemendikbudristek telah merancang model revitalisasi bahasa daerah yang disesuaikan dengan kondisi wilayah tutur. Untuk wilayah di mana bahasa daerahnya masih aman (seperti Jawa dan Sunda), pewarisan dilakukan secara terstruktur melalui sekolah. Namun, untuk wilayah dengan penutur yang sedikit, pendekatan berbasis komunitas dan keluarga menjadi kunci utama. Integrasi teknologi dalam model-model ini, seperti penyediaan konten digital interaktif, diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda untuk tetap menggunakan bahasa ibu mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Kedaulatan Data dan Partisipasi Aktif

Penting untuk dicatat bahwa digitalisasi yang efektif harus mempertimbangkan kedaulatan data komunitas asli. Pembangunan aplikasi atau gim digital untuk pembelajaran bahasa sering kali tidak seefektif berada dalam situasi di mana orang benar-benar menggunakan bahasa tersebut secara aktif dalam interaksi dua arah. Oleh karena itu, membangun komunitas digital yang dinamis—di mana penutur dapat berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan memproduksi konten dalam bahasa daerah—adalah langkah yang lebih krusial daripada sekadar menyimpan data di gudang digital statis.

Masa depan bahasa daerah di dunia digital akan sangat ditentukan oleh sejauh mana teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan, bukan alat asimilasi. Jika platform digital terus memprioritaskan bahasa global, maka risiko erosi linguistik akan semakin besar. Namun, dengan adanya inisiatif seperti standardisasi Unicode, pengembangan AI lokal, dan keterlibatan aktif generasi muda dalam memproduksi konten kreatif, bahasa-bahasa lokal di Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari identitas digital global yang majemuk.

Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

Menjaga bahasa di era digital menuntut pendekatan yang holistik dan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, pengembang teknologi, dan komunitas tutur. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan utama mengenai upaya preservasi bahasa lokal di tengah gempuran emoji dan singkatan global:

Pertama, perubahan struktural bahasa di ruang digital adalah keniscayaan evolusi komunikasi yang didorong oleh kebutuhan akan kecepatan dan ekspresi emosional. Penggunaan emoji dan singkatan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk adaptasi linguistik baru yang memiliki tata bahasa visual dan pragmatis tersendiri. Namun, edukasi bahasa yang seimbang tetap diperlukan agar kemampuan komunikasi formal tidak terdegradasi.

Kedua, digitalisasi bahasa daerah melalui standardisasi Unicode dan pengembangan korpus digital merupakan infrastruktur wajib yang harus diselesaikan untuk mencegah “kematian bahasa digital”. Tanpa representasi teknis yang memadai, bahasa daerah akan tetap terisolasi dari ekosistem digital yang digunakan oleh generasi muda sehari-hari.

Ketiga, peran teknologi cerdas seperti AI dan NLP harus dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pendokumentasian dan penyediaan layanan bahasa (seperti terjemahan dan chatbot pembelajaran). Inisiatif seperti VIBA dan KODA dari Badan Bahasa adalah langkah strategis yang harus terus didukung dengan pengayaan data yang representatif terhadap keragaman dialek di seluruh nusantara.

Keempat, revitalisasi bahasa tidak akan berhasil tanpa adanya kemauan politik dari pemerintah daerah untuk menerbitkan regulasi pelindungan bahasa dan dukungan aktif dari lingkungan keluarga sebagai unit terkecil pewarisan bahasa. Penggunaan bahasa daerah dalam media massa dan platform digital lokal harus terus didorong agar bahasa tersebut tetap memiliki nilai fungsional dan prestise sosial di mata penutur muda.

Dengan mengintegrasikan teknologi modern tanpa menanggalkan nilai-nilai tradisional, bahasa lokal dapat terus menjadi benteng ketahanan budaya yang kokoh di era globalisasi. Keberhasilan dalam menjaga bahasa bukan hanya soal menjaga kata-kata, tetapi soal menjaga cara kita memandang dunia dan merayakan keberagaman kemanusiaan yang terwujud dalam ribuan dialek dan aksara..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − 8 =
Powered by MathCaptcha