Perdebatan mengenai hubungan antara modernisasi dan sekularisasi merupakan salah satu diskursus paling fundamental dalam sejarah sosiologi. Sejak fajar era Pencerahan, para pemikir besar telah mencoba membedah bagaimana kemajuan rasionalitas, birokrasi, dan teknologi mempengaruhi kedalaman kehidupan spiritual manusia serta kekuatan ikatan komunitas. Selama lebih dari satu abad, narasi dominan yang berkembang dalam ilmu sosial adalah tesis sekularisasi, yang menyatakan bahwa seiring dengan kemajuan masyarakat menuju modernitas, pengaruh agama dan spiritualitas akan memudar secara tak terelakkan. Namun, dinamika sosiopolitik global pada abad ke-21 memberikan bukti-bukti empiris yang justru menantang linearitas asumsi tersebut, memunculkan fenomena yang kini dikenal sebagai desekularisasi atau kebangkitan kembali kesadaran religius dalam bentuk-bentuk yang lebih kompleks dan adaptif.

Tesis Klasik: Disenchantment dan Rasionalisasi Dunia

Akar intelektual dari prediksi penurunan agama dapat ditelusuri kembali ke pemikiran para perintis sosiologi seperti Max Weber, Karl Marx, Sigmund Freud, dan Émile Durkheim. Mereka berargumen bahwa modernisasi masyarakat secara inheren mencakup penurunan tingkat religiositas formal. Max Weber, dalam kerangka pemikiran yang sangat berpengaruh, merumuskan konsep disenchantment of the world atau de-magifikasi dunia. Menurut Weber, proses rasionalisasi yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghapus elemen misteri dan supranatural dari kehidupan sehari-hari, menggantikannya dengan perhitungan teknokratis dan efisiensi birokrasi. Dalam dunia yang “terpesona kembali” oleh rasionalitas, penjelasan ilmiah dianggap sebagai pengganti yang lebih unggul bagi takhayul dan doktrin agama.

Rasionalisasi ini tidak hanya terjadi pada tingkat kognitif, tetapi juga pada struktur institusional. Peter Berger, dalam fase awal karir akademiknya, berargumen melalui konsep the sacred canopy bahwa agama secara tradisional berfungsi sebagai payung makna yang menyatukan masyarakat. Namun, modernisasi membawa diferensiasi institusional yang memisahkan otoritas agama dari fungsi negara, hukum, dan pendidikan. Ketika institusi-institusi ini menjadi otonom, agama kehilangan monopoli narasinya dan terdorong ke ranah privat, sebuah proses yang sering disebut sebagai privatisasi agama. Dampak lanjutannya adalah pluralisasi pandangan dunia, di mana kehadiran berbagai sistem makna yang saling bersaing di ruang publik menciptakan krisis plausibilitas; keyakinan agama tidak lagi dianggap sebagai kebenaran objektif yang absolut, melainkan sekadar pilihan subjektif individu.

Mekanisme Sekularisasi Klasik Penjelasan Sosiologis Konsekuensi terhadap Spiritualitas
Diferensiasi Fungsional Pemisahan agama dari institusi publik seperti politik dan ekonomi. Agama menjadi pilihan privat daripada kewajiban publik.
Rasionalisasi Penekanan pada efisiensi, sains, dan kontrol teknis atas alam. Erosi terhadap kepercayaan pada mukjizat dan intervensi ilahi.
Pluralisasi Munculnya berbagai agama dan ideologi dalam satu ruang sosial. Melemahnya struktur pendukung keyakinan (plausibility structures).
Birokratisasi Pengorganisasian hidup melalui aturan impersonal dan efisiensi. Alienasi individu dari nilai-nilai transenden dan komunal.

Analisis sosiologis klasik ini menyimpulkan bahwa modernitas adalah “kandang besi” (iron cage) yang membelenggu jiwa manusia dalam efisiensi yang dingin, yang pada gilirannya menyebabkan hilangnya ikatan komunitas yang dulu didasarkan pada iman bersama. Namun, kegagalan teori ini untuk menjelaskan fenomena religiositas yang tetap kuat di Amerika Serikat dan kebangkitan agama di Global South memicu evaluasi ulang yang mendalam terhadap validitas universal tesis sekularisasi tersebut.

Paradigma Desekularisasi: Evaluasi Ulang Peter Berger

Salah satu momen paling dramatis dalam sosiologi agama kontemporer adalah pernyataan Peter Berger pada tahun 1999 yang mengakui bahwa tesis sekularisasi adalah sebuah kesalahan. Berger mengamati bahwa dunia modern bukan saja tidak mengalami penurunan religiositas, tetapi justru menunjukkan vitalitas keagamaan yang luar biasa di banyak tempat. Ia memperkenalkan istilah desekularisasi untuk merujuk pada kebangkitan kembali agama sebagai kekuatan sosial dan politik utama setelah periode yang dianggap sebagai sekularisasi. Contoh yang paling mencolok adalah kebangkitan Islam sejak tahun 1970-an, yang dimanifestasikan melalui Revolusi Iran, serta pertumbuhan pesat Kekristenan di Afrika, Amerika Latin, dan Asia.

Berger menyadari bahwa hubungannya antara modernitas dan agama tidak bersifat terbalik secara linear. Sebaliknya, pluralisme yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman bagi iman, justru dapat berfungsi sebagai katalis bagi vitalitas keagamaan. Dalam lingkungan plural, organisasi agama dipaksa untuk menjadi lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan umatnya agar dapat bertahan dalam persaingan. Pergeseran perspektif ini menunjukkan bahwa sekularisasi mungkin hanya terjadi di konteks tertentu, terutama di Eropa Barat, namun bukan merupakan hukum universal sejarah manusia. Munculnya gerakan revivalis di Georgia, Hongaria, Polandia, dan Amerika Serikat memberikan bukti bahwa krisis ekonomi atau identitas nasional sering kali mendorong masyarakat kembali ke akar agama mereka sebagai sumber stabilitas dan kepemimpinan moral.

Teori Pasar Agama: Vitalitas dalam Kompetisi

Melengkapi kritik terhadap sekularisasi, Rodney Stark dan rekan-rekannya mengembangkan Religious Market Theory (Teori Pasar Agama) yang memandang religiositas melalui lensa ekonomi mikro. Berbeda dengan teori klasik yang melihat penurunan agama sebagai hal yang tak terelakkan, Stark berargumen bahwa tingkat religiositas di suatu masyarakat sangat bergantung pada pasokan (supply) daripada permintaan (demand). Menurut teori ini, kebutuhan manusia akan kompensator spiritual (seperti janji kehidupan setelah kematian atau makna hidup) cenderung stabil sepanjang sejarah.

Masalah penurunan agama di Eropa, menurut Stark, bukan disebabkan oleh modernisasi per se, melainkan karena adanya monopoli agama oleh negara. Di negara-negara dengan “agama negara” resmi, para klerus sering kali menjadi tidak aktif dan tidak inovatif karena posisi mereka telah dijamin oleh anggaran pemerintah, yang menyebabkan penurunan minat masyarakat. Sebaliknya, di Amerika Serikat, di mana pasar agama sangat bebas dan kompetitif, berbagai denominasi bersaing secara agresif untuk menarik jemaat, yang menghasilkan tingkat religiositas yang jauh lebih tinggi daripada di negara-negara Eropa yang maju secara ekonomi.

Indikator Perbandingan Amerika Serikat (Pasar Kompetitif) Britania Raya (Monopoli Negara)
Afiliasi Keagamaan Tinggi; 70.6% mengidentifikasi diri sebagai Kristen (2014). Rendah; 55% menyatakan tidak memiliki agama.
Praktik Harian 68% penganut Kristen berdoa setiap hari. Hanya 6% penganut Kristen berdoa setiap hari.
Dinamika Institusi Pertumbuhan pesat megachurch dan Evangelikalisme. Penurunan drastis kehadiran di gereja negara.
Kebijakan Negara Pemisahan gereja dan negara mendorong pluralitas. Agama negara sering kali menyebabkan klerus menjadi inersia.

Bukti dari Global South, seperti pertumbuhan gereja Pentakosta di Brasil dan kebangkitan Budhisme serta Kekristenan di Tiongkok di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat, semakin memperkuat argumen bahwa agama dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan. Di Tiongkok, agama sering kali memenuhi kebutuhan psikologis yang muncul akibat tekanan ekonomi yang ekstrem, membuktikan bahwa pertumbuhan materi tidak secara otomatis memuaskan kebutuhan spiritual manusia.

Krisis Makna di Era Modernitas Likuid

Meskipun agama tetap kuat di banyak wilayah, sosiolog lain menyoroti tantangan baru yang unik bagi masyarakat modern: krisis makna yang mendalam. Zygmunt Bauman menggambarkan kondisi ini melalui konsep liquid modernity atau modernitas likuid. Dalam masyarakat likuid, struktur sosial tradisional yang dulunya stabil—seperti tradisi agama, norma komunitas, dan peran sosial yang jelas—telah larut, meninggalkan individu dalam keadaan cair tanpa jangkar identitas yang kuat.

Krisis makna ini sering kali muncul sebagai akibat dari “paradoks pilihan”. Manusia modern memiliki kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menentukan tujuan hidup mereka sendiri, namun tanpa kerangka narasi bersama yang diberikan oleh institusi tradisional, tanggung jawab untuk menciptakan makna menjadi beban psikologis yang sangat berat. John Vervaeke mendefinisikan krisis makna ini sebagai disintegrasi tiga tatanan utama: tatanan nomologis (keteraturan kosmis), tatanan naratif (cerita tentang tujuan), dan tatanan normatif (standar moral). Modernitas yang didorong oleh reduksionisme ilmiah dan demitologisasi telah menyebabkan “kebutaan ontologis”, di mana individu merasa terputus dari realitas yang baik, benar, dan indah.

Kondisi ini diperparah oleh fragmentasi perhatian di era digital. Penggunaan perangkat seluler yang intensif (rata-rata 96 kali pengecekan ponsel per hari) dan gangguan tugas setiap 11 menit telah menciptakan masyarakat yang kelelahan (burnout society). Hilangnya waktu tenang dan kontemplasi (kebosanan yang turun dari 2 jam sehari pada tahun 1950-an menjadi kurang dari 10 menit saat ini) menghambat kemampuan otak untuk mengintegrasikan pengalaman ke dalam narasi hidup yang bermakna. Akibatnya, banyak orang beralih ke terminologi terapeutik seperti “wellness” dan “self-care” sebagai pengganti bahasa sakral yang telah hilang, menempatkan beban penciptaan tujuan sepenuhnya pada kondisi psikologis individu.

Viktor Frankl dan Pencarian Psikologis akan Tuhan

Dalam menghadapi krisis makna ini, pemikiran Viktor Frankl menjadi sangat relevan. Frankl, seorang psikiater penyintas Holocaust, berargumen melalui logoterapi bahwa dorongan utama manusia bukanlah kesenangan (Freud) atau kekuasaan (Adler), melainkan pencarian akan makna. Frankl menekankan bahwa kehidupan memiliki makna tanpa syarat, bahkan dalam penderitaan yang paling ekstrem sekalipun.

Di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, di mana banyak peran manusia digantikan oleh algoritma, pertanyaan eksistensial tentang keunikan tujuan hidup manusia menjadi semakin akut. Frankl menyarankan bahwa makna ditemukan melalui tindakan kreatif, pengalaman cinta, atau sikap heroik terhadap penderitaan yang tak terhindarkan. Menariknya, Frankl juga mencatat bahwa pencarian makna pada akhirnya akan menunjuk pada sesuatu—atau Seseorang—di luar batas kemanusiaan, yang menunjukkan bahwa krisis psikologis modern sering kali merupakan pintu masuk kembali menuju perjalanan spiritual. Generasi saat ini mungkin tidak lagi menemukan Tuhan melalui argumen moral atau ilmiah tradisional, melainkan melalui wacana terapeutik dan pencarian penyembuhan emosional.

Spiritualitas New Age dan Rezim Pasar Global

Transformasi spiritualitas di masyarakat modern juga terlihat jelas dalam munculnya gerakan New Age atau yang oleh beberapa sosiolog disebut sebagai “Neo-Nebula”. Karakteristik utama dari bentuk religiositas baru ini adalah eklektisitas yang radikal dan individualisme yang tidak dimediasi. Dalam rezim pasar global saat ini, individu bertindak sebagai konsumen spiritual yang memilih dan mencampur elemen-elemen dari berbagai tradisi—seperti meditasi Budha, yoga Hindu, astrologi, hingga penyembuhan kristal—untuk menciptakan sistem kepercayaan pribadi yang unik.

Fenomena Neo-Nebula ini merupakan tanda dari pergeseran rezim keagamaan dari model Negara-Bangsa ke model Pasar-Global. Di Amerika Latin, transisi ini ditandai dengan diversifikasi populasi yang sebelumnya homogen Katolik menjadi mosaik kepercayaan yang mencakup neo-shamanisme dan neo-paganisme. Spirtualitas ini sering kali menekankan kesuksesan, kesehatan, dan realisasi diri sebagai indikator keselamatan imanen, yang sangat selaras dengan nilai-nilai neoliberalisme tentang tanggung jawab pribadi dan otonomi diri.

Dimensi Perbandingan Rezim Agama Negara-Bangsa Rezim Agama Pasar-Global (Neo-Nebula)
Model Organisasi Institusional, teritorial, eksklusif. Retikular (jaringan), volunter, cair.
Fokus Utama Dogma, kepercayaan, skripturalisme. Pengalaman pribadi, emosi, mistisisme.
Tujuan Akhir Keselamatan di akhirat, moralitas publik. Realisasi diri, kesehatan, kesuksesan duniawi.
Sifat Keanggotaan Seumur hidup, terikat komunitas fisik. Transien, “berpindah-pindah”, berbasis minat.
Otoritas Hirarkis (Imam, Pendeta, Paus). Subjektif (Diri sendiri sebagai otoritas tertinggi).

Meskipun sering dikritik sebagai “spiritualitas supermarket”, gerakan ini menunjukkan bahwa modernitas tidak menghapus keinginan untuk terhubung dengan kosmos, melainkan mengubah cara koneksi tersebut dikelola dan dikonsumsi. mNamun, individualisme ekstrem dalam New Age juga membawa risiko isolasi sosial dan kerentanan terhadap teori konspirasi, sebagaimana terlihat selama pandemi Covid-19 di mana kelompok spiritualitas tertentu dan nasionalis religius berbagi narasi penolakan sains yang serupa.

Neo-Tribalisme dan Munculnya Komunitas Perasaan

Modernisasi yang cenderung mengatomisasi individu juga memicu reaksi balik berupa pencarian komunitas baru. Michel Maffesoli merumuskan konsep neo-tribalism (neo-tribalisme) untuk menggambarkan kemunculan kelompok-kelompok kecil yang terikat oleh “perasaan bersama” daripada ideologi atau kelas sosial. Berbeda dengan suku tradisional yang stabil, neo-tribe bersifat cair dan sementara, di mana individu berkumpul untuk alasan tertentu—seperti hobi, gaya hidup, atau pengalaman estetika—dan kemudian membubarkan diri.

Maffesoli berargumen bahwa masyarakat postmodern sedang mengalami pergeseran dari rasionalitas “sosial” yang teratur ke arah “sosialitas” yang empatik, di mana emosi dan atmosfer menjadi perekat utama hubungan manusia. Contoh paling nyata dari neo-tribalisme adalah festival seperti Burning Man, di mana ribuan orang yang sebelumnya asing satu sama lain membentuk komunitas intensif selama satu minggu untuk merayakan kreativitas dan ekspresi diri. Meskipun ikatan ini bersifat episodik, mereka menyediakan kehangatan emosional dan rasa memiliki yang gagal diberikan oleh institusi birokrasi modern.

Agama Digital: Adaptasi Ritual di Ruang Siber

Salah satu bukti terkuat bahwa agama terus berevolusi di masyarakat modern adalah integrasi mendalam antara teknologi digital dan praktik keagamaan. Bidang studi Digital Religion mengeksplorasi bagaimana batas antara konteks online dan offline semakin kabur dalam kehidupan beriman. Sejak era 1980-an, agama telah merambah dunia siber melalui buletin komunitas hingga penciptaan “cyber-churches” dan aplikasi doa modern.

Teknologi digital tidak hanya memindahkan ritual yang ada ke layar, tetapi juga mengubah sifat pengalaman keagamaan itu sendiri. Fenomena “believing without belonging” (percaya tanpa memiliki afiliasi institusional) menjadi lebih mudah dengan adanya akses ke komunitas iman online di mana individu dapat berpartisipasi dalam doa bersama atau mendengarkan khotbah tanpa harus hadir secara fisik di gereja atau masjid. Data Pew Research menunjukkan bahwa 52% orang dewasa Amerika yang sangat religius menggunakan aplikasi kitab suci secara rutin, membuktikan bahwa teknologi menjadi alat pendukung utama bagi komitmen spiritual tradisional daripada penghalangnya.

Jenis Inovasi Digital Deskripsi Fungsi Keagamaan Dampak pada Praktik
Aplikasi Doa/Ibadah Pengingat waktu doa, teks liturgi, panduan meditasi. Meningkatkan frekuensi interaksi harian dengan teks suci.
Streaming Layanan Ibadah langsung melalui YouTube, Facebook, atau Zoom. Menjangkau umat yang terisolasi atau berada jauh dari pusat fisik.
Komunitas Iman Virtual Grup diskusi di media sosial atau platform khusus. Menciptakan ikatan sosial baru melintasi batas geografis.
Ziarah Digital Eksplorasi situs suci melalui virtual reality atau video. Memberikan pengalaman sakral bagi mereka yang tidak mampu bepergian.

Evolusi ini menunjukkan bahwa agama mampu memanfaatkan infrastruktur modernitas (internet, AI, media sosial) untuk memperluas pengaruhnya dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup jemaat yang semakin mobile dan terfragmentasi.

Strategi Pelestarian Budaya: Kasus Digitalisasi Bahasa Daerah

Di Indonesia dan berbagai wilayah di Global South, modernisasi sering kali dipandang sebagai ancaman bagi warisan budaya dan bahasa lokal yang mengandung nilai-nilai spiritual dan adat. Namun, teknologi digital justru digunakan sebagai alat untuk menyelamatkan warisan tersebut. Digitalisasi naskah lontar di Lampung dan aksara Jawa merupakan langkah inovatif untuk memastikan bahwa nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal tetap dapat diakses oleh generasi muda yang lebih akrab dengan layar daripada kertas kuno.

Pengembangan aplikasi kamus bahasa daerah berbasis Android menjadi strategi krusial untuk mencegah kepunahan bahasa. Misalnya, kamus Lampung-Indonesia yang menggunakan algoritma Binary Search memungkinkan pencarian kata yang efisien bagi penutur muda, sementara platform seperti BASAbali Wiki melibatkan partisipasi komunitas dalam mendokumentasikan bahasa Bali. Di Afrika, proyek seperti Masakhane dan kemitraan AI lokal berupaya menciptakan model bahasa untuk dialek yang kurang terwakili guna memastikan inklusivitas digital dan pelestarian identitas budaya di era kecerdasan buatan.

Inisiatif Digitalisasi Lokal Media/Teknologi yang Digunakan Target dan Tujuan
Digitalisasi Aksara Jawa E-book, aplikasi pembelajaran, video tutorial. Meningkatkan literasi aksara di kalangan siswa sekolah.
Kamus Lampung Android Aplikasi Java dengan database SQLite. Mempermudah akses bahasa bagi generasi milenial dan Gen Z.
BASAbali Wiki Platform partisipasi komunitas berbasis web. Dokumentasi kolaboratif bahasa dan budaya Bali.
“Nusantara in Your Hand” Aplikasi mobile untuk bahasa Jawa dan Madura. Edukasi dan konservasi bahasa regional di Indonesia.
AI Hub for Development Large Language Models (LLM) untuk bahasa Afrika. Integrasi bahasa lokal dalam layanan kesehatan dan pertanian.

Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus mengarah pada homogenitas budaya global yang sekuler. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi benteng untuk mempertahankan kekayaan spiritual dan linguistik yang memberikan makna unik bagi setiap komunitas di tengah arus globalisasi.

Analisis Demografis: Kebangkitan Agama Global 2010-2025

Bukti empiris yang paling kuat melawan tesis sekularisasi adalah data pertumbuhan populasi agama di seluruh dunia. Berdasarkan analisis Pew Research Center, populasi dunia tumbuh secara signifikan antara tahun 2010 dan 2020, dan hampir semua kelompok agama besar juga mengalami peningkatan jumlah absolut. Islam muncul sebagai kelompok dengan pertumbuhan tercepat, meningkat sebanyak 347 juta orang dalam satu dekade, sehingga mencakup 25.6% dari populasi global pada tahun 2020.

Meskipun Kekristenan tetap menjadi kelompok terbesar di dunia dengan 2.3 miliar penganut, pertumbuhannya mulai tertinggal dari pertumbuhan populasi dunia secara keseluruhan di beberapa wilayah, terutama karena sekularisasi di Eropa Barat. Namun, sub-Sahara Afrika menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Kekristenan, di mana jumlah penganutnya melonjak dari 517 juta menjadi 1.1 miliar dalam perkiraan hingga 2050. Fenomena ini didorong oleh usia median yang sangat muda dan tingkat kesuburan yang tinggi di kawasan tersebut.

Kelompok Agama Populasi (2010) Populasi (2020) Perubahan Pangsa Global
Muslim ~1.6 Miliar ~1.9 Miliar +1.8 Persen
Kristen ~2.2 Miliar ~2.3 Miliar -1.8 Persen
Hindu ~1.0 Miliar ~1.2 Miliar Stabil (14.9%)
Buddha ~343 Juta ~324 Juta -0.8 Persen
Tanpa Afiliasi ~1.6 Miliar ~1.9 Miliar +0.9 Persen

Data ini menunjukkan dinamika yang kontradiktif: di satu sisi, jumlah orang yang tidak terafiliasi dengan agama (nones) meningkat di Barat, namun di sisi lain, religiositas formal tumbuh secara masif di wilayah-wilayah yang sedang mengalami proses modernisasi dan urbanisasi cepat di Afrika dan Asia. Hal ini membuktikan bahwa modernisasi tidak membunuh agama, melainkan memindahkannya ke pusat-pusat pertumbuhan baru di dunia.

Sintesis: Spiritualitas sebagai Respons terhadap Modernitas

Melalui penelusuran berbagai perspektif sosiologis dan bukti empiris terbaru, menjadi jelas bahwa pandangan bahwa modernisasi secara otomatis menyebabkan penurunan spiritualitas adalah pandangan yang terlalu menyederhanakan realitas. Meskipun proses rasionalisasi dan birokratisasi telah mengubah struktur kehidupan manusia, hal tersebut justru sering kali menciptakan kekosongan makna yang kemudian mendorong manusia untuk mencari kembali bentuk-bentuk spiritualitas baru.

Penurunan agama yang terjadi di beberapa bagian dunia, seperti Eropa Barat, lebih tepat dipahami sebagai pergeseran otoritas dan model organisasi daripada hilangnya iman itu sendiri. Fenomena “believing without belonging” dan pertumbuhan spiritualitas “New Age” menunjukkan bahwa kebutuhan manusia akan koneksi transenden tetap ada, meskipun kini dikelola melalui cara-cara yang lebih individualistis dan berorientasi pasar. Di saat yang sama, pertumbuhan agama yang eksplosif di Global South memberikan tantangan langsung terhadap asumsi bahwa kemajuan ekonomi akan melenyapkan peran agama dalam ruang publik.

Teknologi digital, yang sering dianggap sebagai simbol puncak rasionalitas, terbukti menjadi alat yang ampuh untuk memperkuat ritual keagamaan dan melestarikan warisan budaya lokal. Dari aplikasi doa hingga digitalisasi bahasa daerah, teknologi berfungsi sebagai jembatan yang memungkinkan tradisi untuk bertahan dan berevolusi di era informasi.

Sebagai kesimpulan, modernitas tidak harus menjadi musuh bagi spiritualitas. Sebaliknya, modernitas sering kali berfungsi sebagai katalisator bagi transformasi keagamaan. Krisis makna yang muncul di tengah modernitas likuid bukanlah akhir dari pencarian spiritual manusia, melainkan awal dari babak baru di mana individu dan komunitas terus berupaya menemukan “payung sakral” yang mampu melindungi mereka dari kedinginan rasionalitas murni, baik melalui struktur agama tradisional yang telah direvitalisasi maupun melalui bentuk-bentuk komunitas perasaan yang baru lahir. Spiritualitas, dalam segala keragamannya, tetap menjadi elemen esensial yang memberikan warna, arah, dan makna bagi perjalanan manusia di tengah kemajuan zaman yang tak henti-hentinya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

84 − 83 =
Powered by MathCaptcha