Penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam domain sains telah menandai pergeseran paradigma yang paling signifikan dalam sejarah penemuan manusia sejak revolusi industri. Di episentrum transformasi ini berdiri Sir Demis Hassabis, salah satu pendiri dan CEO Google DeepMind, yang visinya melampaui penggunaan AI sebagai sekadar alat pemrosesan teks atau generatif menuju statusnya sebagai katalisator utama bagi terobosan ilmiah yang revolusioner. Hassabis mengonseptualisasikan kecerdasan buatan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai “meta-solusi”—sebuah mekanisme cerdas yang mampu memahami kompleksitas alam semesta dan mempercepat pemecahan masalah yang selama ini dianggap mustahil oleh kapasitas kognitif manusia secara mandiri. Perjalanan profesional Hassabis, yang mencakup karier sebagai pemain catur jenius, pengembang video game perintis, dan peneliti neurosains kognitif, memberikan fondasi interdisipliner yang unik bagi pengembangan algoritma yang kini mendefinisikan batas-batas biologi struktural, ilmu material, dan meteorologi modern. Dengan keberhasilan AlphaFold dalam memecahkan masalah pelipatan protein yang telah berusia 50 tahun, visi Hassabis telah mencapai validasi tertinggi melalui penganugerahan Hadiah Nobel Kimia tahun 2024, menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi instrumen esensial dalam kotak peralatan sains global.

Akar Intelektual: Catur, Komputasi Awal, dan Logika Strategis

Latar belakang Demis Hassabis merupakan perpaduan antara ketangkasan strategis dan penguasaan teknologi sejak usia dini. Lahir di London dari ayah keturunan Siprus Yunani dan ibu keturunan Singapura, Hassabis menunjukkan bakat luar biasa dalam permainan logika dan strategi sejak usia empat tahun. Pada usia 13 tahun, ia telah mencapai status Master dalam catur dan menduduki peringkat kedua dunia untuk pemain di bawah usia 14 tahun, sebuah pencapaian yang hanya bisa dilampaui oleh legenda catur Judit Polgár pada masa itu. Bagi Hassabis, catur bukan sekadar hobi atau kompetisi, melainkan jendela untuk memahami proses kognisi, perencanaan masa depan, dan strategi tingkat tinggi. Pengalaman ini membentuk intuisinya bahwa masalah kompleks dapat didekati melalui pemodelan sistematis dan pencarian solusi di dalam ruang kemungkinan yang sangat luas.

Minatnya pada teknologi dipicu pada tahun 1984 ketika ia membeli komputer pertamanya, ZX Spectrum 48K, menggunakan uang hasil kemenangan turnamen catur. Ia belajar pemrograman secara otodidak melalui buku dan mulai menulis program AI pertamanya di Commodore Amiga untuk memainkan permainan papan Othello. Pendidikan formalnya juga berlangsung sangat cepat; ia menyelesaikan ujian A-level dua tahun lebih awal pada usia 16 tahun. Sebelum melanjutkan ke pendidikan tinggi, Hassabis memulai karier profesional di industri video game di Bullfrog Productions. Di sana, pada usia 17 tahun, ia menjadi pemrogram utama dan desainer pendamping untuk permainan simulasi Theme Park, sebuah judul yang sangat berpengaruh karena mengharuskan pemain mengelola sistem ekonomi dan operasional yang rumit dalam waktu nyata. Keberhasilan Theme Park, yang terjual jutaan kopi, memberikan pelajaran berharga bagi Hassabis bahwa simulasi dunia nyata dapat dimodelkan secara matematis melalui algoritma cerdas.

Setelah lulus dengan gelar ganda kelas satu dalam ilmu komputer dari Queens’ College, University of Cambridge, pada tahun 1997, Hassabis mendirikan Elixir Studios. Melalui perusahaan ini, ia mengeksplorasi penggunaan AI dalam simulasi politik dan sosial melalui permainan seperti Republic: The Revolution dan Evil Genius. Meskipun proyek-proyek ini secara teknis sangat ambisius, mereka juga memberikan pelajaran pragmatis tentang tantangan bisnis dalam inovasi teknologi. Penutupan Elixir Studios pada tahun 2005 menjadi titik balik penting; Hassabis menyadari bahwa untuk membangun kecerdasan buatan yang sesungguhnya, ia harus memahami mesin paling kompleks di alam semesta: otak manusia.

Pencapaian Awal Demis Hassabis Deskripsi dan Signifikansi
Master Catur (Usia 13) Peringkat 2 dunia kategori U-14; membentuk fondasi pemikiran strategis.
Pemrogram Theme Park (Usia 17) Memimpin pengembangan simulasi bisnis kompleks yang sukses secara komersial.
Gelar Ganda Cambridge Lulus dengan predikat Double First dalam Ilmu Komputer pada tahun 1997.
Pentamind World Champion Memenangkan Mind Sports Olympiad lima kali berturut-turut (1998–2003).
Pendiri Elixir Studios Mengeksplorasi AI dalam simulasi politik dan manajemen super-villain.

Jembatan Neurosains: Memodelkan Memori dan Imajinasi

Keputusan Hassabis untuk kembali ke akademisi dan mengambil PhD dalam neurosains kognitif di University College London (UCL) didorong oleh keyakinan bahwa prinsip-prinsip fungsi saraf dapat memberikan cetak biru bagi arsitektur AI tingkat lanjut. Penelitian doktoralnya berfokus pada hipokampus, bagian otak yang krusial untuk memori dan navigasi spasial. Salah satu temuan ilmiahnya yang paling terkenal, yang dipublikasikan di jurnal PNAS dan diakui sebagai salah satu terobosan top sepuluh tahun 2007 oleh jurnal Science, adalah demonstrasi hubungan antara memori episodik dan imajinasi.

Melalui studi terhadap pasien amnesia yang mengalami kerusakan pada hipokampus, Hassabis menunjukkan bahwa individu yang tidak dapat mengingat masa lalu juga kehilangan kemampuan untuk membayangkan diri mereka dalam skenario masa depan yang baru. Penelitian ini secara sistematis menetapkan bahwa proses konstruktif imajinasi dan proses rekonstruktif pemanggilan memori menggunakan sirkuit saraf yang sama. Implikasi bagi kecerdasan buatan sangat mendalam: sebuah sistem cerdas tidak hanya membutuhkan basis data pengalaman (memori), tetapi juga kemampuan untuk mensimulasikan berbagai kemungkinan masa depan (imajinasi) untuk merencanakan tindakan yang optimal.

Integrasi antara neurosains dan pembelajaran mesin ini menjadi ciri khas pendekatan DeepMind. Konsep seperti “Experience Replay” dalam algoritma Deep Q-Network (DQN) secara langsung terinspirasi oleh bagaimana hipokampus memutar ulang lintasan pengalaman yang dialami sebelumnya untuk memperkuat pembelajaran selama waktu istirahat atau tidur. Dengan menggabungkan wawasan dari neurosains sistem dengan perkembangan terbaru dalam pembelajaran mendalam (deep learning) dan komputasi, Hassabis mulai membangun fondasi untuk Kecerdasan Umum Buatan (AGI).

Pendirian DeepMind: Misi “Menyelesaikan Kecerdasan”

DeepMind Technologies didirikan pada tahun 2010 di London oleh Hassabis bersama Shane Legg dan Mustafa Suleyman. Misi perusahaan ini sangat berani dan terfokus secara tunggal: “menyelesaikan kecerdasan, dan kemudian menggunakan kecerdasan itu untuk menyelesaikan segala hal lainnya”. Filosofi ini mencerminkan pandangan Hassabis bahwa kecerdasan adalah sebuah mekanisme universal yang, jika dipahami dan direplikasi, dapat diterapkan pada tantangan apa pun, mulai dari perubahan iklim hingga penyembuhan penyakit.

Strategi awal DeepMind adalah menciptakan agen AI yang mampu belajar secara mandiri di berbagai lingkungan permainan tanpa instruksi khusus, menggunakan metode Deep Reinforcement Learning. Pada tahun 2013, mereka memperkenalkan algoritma DQN yang mampu memainkan video game Atari pada tingkat manusia super hanya dengan melihat piksel di layar dan diberitahu untuk memaksimalkan skor. Keberhasilan ini menarik perhatian global dan menyebabkan akuisisi DeepMind oleh Google pada tahun 2014 senilai lebih dari $650 juta. Dalam proses negosiasi, Hassabis menunjukkan prioritasnya yang tidak konvensional; ia lebih mengutamakan percepatan garis waktu penelitian melalui infrastruktur komputasi Google daripada nilai valuasi finansial semata. Ia menghitung bahwa akses ke sumber daya Google akan mempercepat misinya selama lima tahun.

AlphaGo dan Pembuktian Konsep Strategis

Langkah besar berikutnya dalam visi Hassabis adalah menaklukkan permainan Go, sebuah permainan papan kuno dari Tiongkok yang dianggap jauh lebih kompleks daripada catur karena jumlah posisi yang mungkin melebihi jumlah atom di alam semesta teramati. Pada Maret 2016, di Seoul, program AlphaGo mengalahkan juara dunia Lee Sedol dalam pertandingan yang disaksikan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Kemenangan ini bukan sekadar tentang memenangkan permainan, melainkan sebuah demonstrasi bahwa AI mampu menangani ambiguitas, menggunakan intuisi buatan, dan menemukan strategi yang orisinal dan kreatif.

Bagi Hassabis, AlphaGo adalah “bukti konsep” yang krusial. Jika sebuah mesin dapat belajar untuk mengungguli manusia dalam permainan strategi yang paling dalam, maka teknik yang sama—pencarian pohon Monte Carlo yang dipandu oleh jaringan saraf—dapat diadaptasi untuk menavigasi ruang pencarian yang luas dalam sains, seperti struktur molekul atau kombinasi material baru.

Evolusi Sistem AI DeepMind Fokus Utama Signifikansi Ilmiah/Teknis
Deep Q-Network (DQN) Game Atari 2600 Membuktikan pembelajaran mandiri dari input sensorik mentah (piksel).
AlphaGo Permainan Go Menunjukkan kemampuan strategi dan intuisi buatan dalam ruang pencarian masif.
AlphaZero Catur, Shogi, Go Mencapai tingkat manusia super tanpa data manusia, murni melalui self-play.
AlphaFold Biologi Struktural Memecahkan masalah pelipatan protein yang berusia 50 tahun.
MuZero Game dan Optimasi Belajar tanpa mengetahui aturan permainan, memodelkan dinamika lingkungan.

Revolusi AlphaFold: Menyelesaikan Tantangan Besar Biologi

Visi Hassabis untuk membawa AI menuju penemuan sains mencapai puncaknya dengan proyek AlphaFold. Selama setengah abad, salah satu tantangan terbesar dalam biologi adalah memprediksi bentuk tiga dimensi sebuah protein hanya berdasarkan urutan asam aminonya. Bentuk protein sangat krusial karena menentukan fungsinya dalam tubuh manusia, mulai dari mengangkut oksigen hingga melawan virus. Jika sebuah protein salah melipat (misfold), hal itu dapat menyebabkan penyakit seperti Alzheimer atau Parkinson.

Secara tradisional, menentukan struktur protein membutuhkan waktu bertahun-tahun melalui metode eksperimental yang mahal seperti kristalografi sinar-X atau mikroskopi elektron kriogenik. Masalah ini juga memiliki dimensi komputasi yang mustahil; menurut Paradoks Levinthal, sebuah protein secara teoretis bisa memiliki $10^{47}$ konfigurasi berbeda, dan akan memakan waktu lebih lama dari usia alam semesta untuk mencoba semuanya secara acak.7

Arsitektur AlphaFold 2 dan Dampak Global

Pada tahun 2020, sistem AlphaFold 2 mencapai terobosan luar biasa dalam kompetisi CASP14, memprediksi struktur protein dengan akurasi yang sebanding dengan metode eksperimental. Keberhasilan ini didasarkan pada arsitektur jaringan saraf baru yang disebut Transformer, yang memungkinkan model untuk fokus pada bagian-bagian spesifik dari urutan asam amino yang saling berinteraksi secara spasial meskipun berjauhan secara linier.

Hassabis mengambil keputusan strategis untuk merilis kode sumber AlphaFold dan membuat basis data struktur protein yang dapat diakses secara gratis oleh komunitas ilmiah di seluruh dunia melalui kemitraan dengan EMBL-EBI. Langkah ini, yang disebut sebagai “hadiah untuk kemanusiaan,” telah mengubah cara biologi dilakukan di seluruh planet ini.

Signifikansi AlphaFold mencakup berbagai bidang:

  • Akselerasi Riset Penyakit: Lebih dari 30% makalah yang mengutip AlphaFold berkaitan dengan studi penyakit, termasuk penelitian malaria dan kesehatan jantung.
  • Keberlanjutan Lingkungan: Peneliti menggunakan AlphaFold untuk merancang enzim baru yang mampu menguraikan plastik secara efisien.
  • Ketahanan Pangan: AI ini membantu merancang tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan penyakit.
  • Efisiensi Waktu: Tugas yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit atau bahkan akhir pekan.

Puncak dari pencapaian ini adalah penganugerahan Hadiah Nobel Kimia tahun 2024 kepada Demis Hassabis dan John Jumper atas kontribusi mereka dalam prediksi struktur protein. Penghargaan ini menegaskan posisi Hassabis bukan hanya sebagai pengusaha teknologi, melainkan sebagai ilmuwan pionir yang mengubah arah riset biologi modern.

Perluasan Portofolio Sains: Material, Meteorologi, dan Genetika

Keberhasilan AlphaFold hanyalah awal dari penerapan visi Hassabis yang lebih luas. Di bawah kepemimpinannya, Google DeepMind telah meluncurkan serangkaian proyek yang menerapkan teknik pembelajaran mesin serupa pada berbagai domain ilmiah lainnya.

GNoME dan Penemuan Material Baru

Dalam bidang ilmu material, DeepMind memperkenalkan Graph Networks for Materials Exploration (GNoME), sebuah alat pembelajaran mendalam yang secara drastis meningkatkan kecepatan penemuan material baru dengan memprediksi stabilitas struktur kristal.21 GNoME berhasil mengidentifikasi 2,2 juta kristal baru yang stabil menurut standar ilmiah saat ini, setara dengan hampir 800 tahun akumulasi pengetahuan manusia jika dilakukan secara manual.

Dari jutaan kandidat tersebut, 380.000 diidentifikasi sebagai kandidat paling menjanjikan untuk sintesis laboratorium. Penemuan ini mencakup material untuk baterai generasi baru, superkonduktor untuk superkomputer, dan konduktor ion litium yang dapat meningkatkan efisiensi kendaraan listrik. Bekerja sama dengan Lawrence Berkeley National Laboratory, DeepMind mendemonstrasikan bagaimana prediksi ini dapat digunakan untuk mengarahkan sintesis material secara otonom melalui laboratorium robotik (A-Lab).

Prediksi Cuaca: GraphCast dan GenCast

Dalam meteorologi, Hassabis mendorong pengembangan GraphCast dan GenCast sebagai alternatif untuk pemodelan cuaca numerik tradisional yang memakan waktu dan biaya komputasi yang besar. GraphCast mampu memberikan prediksi cuaca global 10 hari ke depan dengan akurasi yang melampaui standar industri HRES milik ECMWF, namun menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu menit menggunakan satu unit Google Cloud TPU.

Sistem ini sangat efektif dalam memberikan peringatan dini untuk peristiwa cuaca ekstrem, seperti melacak jalur siklon tropis dengan lebih presisi dan mengidentifikasi fenomena “sungai atmosfer” yang berkaitan dengan risiko banjir. Proyek GenCast melangkah lebih jauh dengan menggunakan model difusi untuk menghasilkan prediksi ansambel probabilistik, yang memberikan gambaran lebih lengkap tentang berbagai skenario cuaca yang mungkin terjadi, membantu pengambil kebijakan dalam manajemen bencana dan perencanaan energi terbarukan.

AlphaMissense: Menavigasi Genom Manusia

Proyek AlphaMissense merupakan adaptasi dari AlphaFold untuk mengklasifikasikan varian genetik “missense”—mutasi di mana satu huruf dalam kode DNA berubah, menyebabkan penggantian asam amino dalam protein. Sebagian besar dari 71 juta kemungkinan mutasi missense pada manusia dikategorikan sebagai “varian dengan signifikansi yang tidak diketahui” karena kurangnya data klinis.

AlphaMissense berhasil mengklasifikasikan 89% dari mutasi tersebut, memprediksi bahwa 32% kemungkinan bersifat patogenik (penyebab penyakit) dan 57% kemungkinan jinak. Alat ini memberikan peta jalan baru bagi para peneliti medis dan dokter untuk mengidentifikasi penyebab genetik dari penyakit langka dan mengembangkan terapi yang ditargetkan.

Ringkasan Dampak AI DeepMind dalam Sains Bidang Utama Skala Pencapaian
AlphaFold Biologi Struktural Memprediksi struktur >200 juta protein (hampir semua yang dikenal).
GNoME Ilmu Material Menemukan 2,2 juta kristal baru; 380.000 stabil secara teknis.
GraphCast Meteorologi Prediksi cuaca 10 hari < 1 menit dengan akurasi melampaui HRES.
AlphaMissense Genetika Klasifikasi 89% dari 71 juta mutasi genetik missense.
AlphaGeometry Matematika Memecahkan masalah geometri tingkat Olimpiade Matematika Internasional.

Isomorphic Labs: Menuju Era Digital Biology

Untuk mewujudkan janji AI dalam pengobatan praktis, Hassabis mendirikan Isomorphic Labs pada tahun 2021. Perusahaan ini berfungsi sebagai entitas komersial di bawah Alphabet yang didedikasikan sepenuhnya untuk menerapkan AI dalam proses desain obat (drug discovery). Filosofi Isomorphic adalah memperlakukan biologi sebagai sistem pemrosesan informasi yang dapat dipetakan dan dimodelkan secara digital, sebuah konsep yang disebut Hassabis sebagai “digital biology”.

Isomorphic memanfaatkan AlphaFold 3, generasi terbaru dari model tersebut yang mampu memprediksi interaksi antara protein, molekul kecil (ligan), DNA, dan RNA dengan akurasi tingkat atom. Hal ini memungkinkan desainer obat untuk melakukan pengujian “in silico” (di dalam komputer) secara masif, mengeksplorasi ruang kimia yang luas untuk menemukan kandidat obat yang paling efektif sebelum masuk ke laboratorium basah yang mahal dan lambat.

Pada tahun 2024 dan 2025, Isomorphic Labs telah menjalin kemitraan strategis bernilai miliaran dolar dengan perusahaan farmasi besar seperti Eli Lilly dan Novartis untuk mengembangkan terapi baru bagi kanker dan penyakit imunologi. Hassabis meramalkan bahwa dalam dekade mendatang, kita mungkin akan melihat transisi penuh menuju desain obat berbasis simulasi, di mana “sel virtual” dapat digunakan untuk memodelkan efek obat secara keseluruhan, secara drastis mengurangi waktu dan biaya untuk membawa obat baru ke pasien.

Etika, Keamanan, dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

Seiring dengan meningkatnya kekuatan kecerdasan buatan, Demis Hassabis telah menjadi salah satu suara yang paling menonjol dalam menekankan pentingnya keamanan dan etika AI. Ia secara konsisten menganjurkan pendekatan yang hati-hati dan berbasis sains dalam pengembangan AGI, menentang budaya “bergerak cepat dan merusak segalanya” (move fast and break things) yang sering diasosiasikan dengan perusahaan teknologi Silicon Valley lainnya.

Hassabis percaya bahwa AI memiliki potensi untuk menjadi teknologi paling bermanfaat yang pernah diciptakan manusia, namun ia juga mengakui adanya risiko eksistensial dan risiko penyalahgunaan yang signifikan. Ia memperingatkan bahwa AI generasi mendatang dapat digunakan oleh aktor jahat untuk merancang patogen atau meluncurkan serangan siber skala besar jika tidak dikawal dengan protokol keamanan yang ketat. Hassabis adalah salah satu penandatangan pernyataan tahun 2023 yang menegaskan bahwa memitigasi risiko kepunahan akibat AI harus menjadi prioritas global setara dengan pencegahan pandemi dan perang nuklir.

Untuk mengatasi tantangan ini, ia mengusulkan beberapa langkah konkret:

  • Otoritas Internasional: Pembentukan badan serupa IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) untuk AI, yang bertugas menyusun laporan konsensus ilmiah mengenai kemampuan dan risiko model AI terbaru.
  • Sistem Kitemark: Implementasi sistem sertifikasi atau tanda keamanan (seperti Kitemark) untuk memastikan bahwa model AI telah diuji dan memenuhi standar keamanan tertentu sebelum dirilis ke publik.
  • Garis Merah Etis: DeepMind mempertahankan struktur etika internal yang meninjau proyek untuk memastikan mereka tidak melanggar batas penggunaan teknologi untuk senjata atau pengawasan massal.
  • Riset Keamanan: Hassabis mendorong peningkatan alokasi sumber daya untuk riset keselarasan AI (AI alignment), memastikan bahwa sistem cerdas tetap berada di bawah kendali manusia dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Hassabis menggambarkan dirinya sebagai seorang “optimis yang berhati-hati,” percaya bahwa dengan metodologi ilmiah yang tepat dan kerja sama internasional, tantangan keamanan ini dapat diatasi untuk membuka jalan bagi kemajuan masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Filosofi Kerja dan Rutinitas Kreatif

Di balik pencapaian teknisnya, Hassabis memiliki disiplin pribadi yang sangat ketat yang mencerminkan obsesinya terhadap efisiensi kognitif. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai orang yang nokturnal, sering bekerja dalam “hari kerja kedua” mulai pukul 22.00 hingga dini hari setelah menyelesaikan tugas administratifnya di siang hari. Waktu sunyi di pagi hari (sekitar pukul 03.00 atau 04.00) ia gunakan untuk aktivitas paling kreatif, seperti membaca makalah penelitian, menulis algoritma, dan memikirkan “pertanyaan besar” tentang masa depan teknologi.

Musik memainkan peran penting dalam proses kerjanya; ia mendengarkan musik klasik seperti Vivaldi atau Mozart saat membaca atau berpikir, namun beralih ke musik yang berirama cepat seperti “drum and bass” saat menulis kode pemrograman untuk menjaga fokus dan energi. Ia juga sering menggunakan film sebagai pemicu suasana hati kreatif, menonton klip pendek dari film favoritnya di YouTube untuk membangkitkan emosi atau inspirasi tertentu.

Hassabis menekankan pentingnya bagi kaum muda untuk memahami bagaimana cara kerja diri mereka sendiri—mengidentifikasi pemicu kreativitas dan ritme biologis mereka untuk memaksimalkan potensi intelektual. Bagi Hassabis, kunci kesuksesannya adalah kemampuan untuk mengikuti berbagai hasratnya—catur, pemrograman, sains, dan bisnis—dan membangun karier yang memanfaatkan semuanya secara sinergis.

Kesimpulan: Warisan Hassabis dan Masa Depan Sains

Visi Demis Hassabis telah membawa kecerdasan buatan melampaui batasan pengolahan bahasa alami menuju peran baru sebagai mesin penemuan universal. Dengan mengintegrasikan neurosains, teori permainan, dan pembelajaran mesin, ia telah menciptakan paradigma baru di mana AI bertindak sebagai “teleskop kognitif,” memungkinkan para ilmuwan untuk melihat dan memahami pola-pola alam yang sebelumnya tertutup bagi mata manusia.

Kontribusinya melalui AlphaFold, GNoME, dan inisiatif lainnya telah membuktikan bahwa AI bukan hanya tentang otomasi atau hiburan, melainkan instrumen paling kuat yang kita miliki untuk mengatasi krisis global. Hadiah Nobel Kimia yang ia terima pada tahun 2024 bukan hanya penghargaan untuk sebuah algoritma, melainkan pengakuan terhadap ide bahwa kecerdasan dapat didekonstruksi, dipahami, dan kemudian digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kondisi manusia secara fundamental.

Di bawah kepemimpinan Sir Demis Hassabis, Google DeepMind terus mengejar ambisi AGI, namun dengan kesadaran yang tajam akan tanggung jawab besar yang menyertainya. Warisannya akan diukur bukan hanya dari jumlah protein yang berhasil dilipat atau material yang ditemukan, tetapi dari keberhasilannya memandu umat manusia melalui transisi menuju era di mana penemuan ilmiah terbesar kita dilakukan dengan bantuan kecerdasan yang kita bangun sendiri. Masa depan yang ia bayangkan adalah dunia di mana batas-batas pengetahuan terus meluas, didorong oleh kolaborasi harmonis antara kecerdasan manusia yang kreatif dan kecerdasan buatan yang analitis.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

45 + = 46
Powered by MathCaptcha