Fenomena “Doomsday Prepping” atau persiapan menghadapi hari kiamat telah mengalami transformasi struktural yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Apa yang dulunya merupakan subkultur marjinal yang didorong oleh ketakutan paranoid individu, kini telah beralih menjadi industri komersial bernilai miliaran dolar yang melayani kelas ultra-kaya atau kaum elit global. Pergeseran ini menandai lahirnya ekonomi eskapisme, di mana keamanan fisik, kedaulatan hukum, dan kelangsungan hidup biologis diubah menjadi produk mewah yang dapat dibeli oleh mereka yang memiliki modal tanpa batas. Laporan ini mengeksplorasi ekosistem industri ini secara mendalam, mulai dari rekayasa bunker bawah tanah dengan fasilitas bintang lima hingga penyediaan tentara bayaran swasta dan komodifikasi kewarganegaraan sebagai polis asuransi terhadap keruntuhan sistemik global.

Evolusi Bunker: Dari Shelter Utilitarian ke Kediaman Subterranean Mewah

Konsep bunker telah berkembang jauh dari sekadar ruang beton sempit peninggalan era Perang Dingin. Saat ini, bunker untuk kaum elit dirancang sebagai redout mewah yang mampu mempertahankan standar hidup kelas atas di tengah kekacauan eksternal. Industri ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan seperti Oppidum, Vivos, Rising S Company, dan Atlas Survival Shelters, yang masing-masing menawarkan visi berbeda mengenai perlindungan subterranean.

Pembangunan bunker modern bukan sekadar masalah penggalian lubang di tanah. Proses ini melibatkan rekayasa geoteknik yang kompleks untuk memastikan struktur dapat menahan tekanan tanah, pergeseran seismik, dan gelombang kejut dari ledakan nuklir. Perusahaan seperti Atlas Survival Shelters, yang dipimpin oleh Ron Hubbard, memproduksi bunker baja modular yang dapat dikubur hingga kedalaman yang signifikan, sering kali dilapisi beton untuk kekuatan tambahan dan perlindungan radiasi. Di sisi lain, proyek-proyek seperti Oppidum di Republik Ceko memanfaatkan fasilitas nuklir era Soviet yang sudah ada, mengubahnya menjadi kompleks bawah tanah seluas ratusan ribu kaki persegi yang dilengkapi dengan helipad dan sistem pertahanan otomatis.

Fasilitas yang disediakan di dalam bunker-bunker ini sering kali menandingi hotel paling mewah di dunia. Di Oppidum L’Heritage, misalnya, interiornya dirancang oleh arsitek ternama seperti Marc Prigent, menampilkan langit-langit tinggi, lantai kayu berkualitas halus, dan lampu gantung kristal. Tantangan utama dalam desain bawah tanah—yaitu kurangnya cahaya alami—diatasi dengan sistem pencahayaan canggih yang mensimulasikan siklus cahaya matahari alami untuk menjaga keseimbangan psikologis penghuni Jendela virtual yang menampilkan pemandangan alam secara real-time atau rekaman definisi tinggi juga digunakan untuk mengurangi perasaan klaustrofobia.

Tabel 1: Spesifikasi dan Kapasitas Bunker Mewah Global

Entitas Pengembang Model/Proyek Utama Lokasi Utama Estimasi Harga Per Unit/Entri Fitur Keamanan & Mewah Utama
Oppidum (Swiss) L’Heritage Global (Custom) $60.000.000+ Galeri seni vault-style, kolam renang, taman dalam ruangan dengan skylight buatan, perlindungan CBRN tingkat tinggi.
Vivos (AS) Europa One Rothenstein, Jerman €2.000.000+ per unit Bekas gudang amunisi Soviet di bawah gunung, apartemen yacht-style, bioskop, pusat medis, kebun hidroponik.
Survival Condo (AS) Missile Silo Kansas, AS $1.500.000 – $4.500.000 Bekas silo rudal Atlas F, dinding beton 9 kaki, toko kelontong, ruang kelas, taman anjing, sistem filtrasi udara militer.
Rising S Co. (AS) Luxury Series Texas, AS $1.000.000+ Pintu anti-ledakan baja, ruang operasi medis, gudang senjata, gym, sauna, bowling alley.
Atlas Survival Shelters Modular Steel Global $20.000 – $2.000.000+ Desain modular baja, instalasi cepat, shelter nuklir pribadi, sering disamarkan di bawah garasi atau dapur.

Pertumbuhan industri ini didorong oleh apa yang disebut sebagai “paranoia yang dikomersialkan.” Setiap krisis global, mulai dari pandemi virus hingga pemadaman listrik massal atau ketegangan geopolitik, memicu lonjakan permintaan. Vivos, misalnya, melaporkan peningkatan inkuiri hingga 2.000% dalam periode tertentu, menunjukkan betapa sensitifnya pasar elit terhadap stabilitas dunia. Bagi kaum elit, memiliki bunker bukan sekadar tentang kelangsungan hidup; ini adalah simbol status dan perpanjangan dari keinginan mereka untuk mengontrol hasil dalam situasi yang paling tidak pasti sekalipun.

Geografi Isolasi: Selandia Baru sebagai Destinasi “Lifeboat” Terakhir

Dalam peta strategi kelangsungan hidup elit, lokasi geografis merupakan variabel paling krusial. Selandia Baru telah muncul sebagai destinasi utama bagi miliarder teknologi Silicon Valley dan investor global lainnya. Fenomena ini didorong oleh kombinasi unik antara isolasi geografis, kemandirian sumber daya, dan stabilitas politik yang luar biasa tinggi.

Analisis ketahanan nasional menempatkan Selandia Baru di posisi teratas sebagai negara yang paling mampu bertahan dari keruntuhan masyarakat global (societal collapse). Faktor-faktor penentu mencakup kemampuan negara tersebut untuk memproduksi makanan bagi populasinya sendiri tanpa tergantung pada impor, ketersediaan energi terbarukan yang melimpah (geotermal dan hidroelektrik), serta jarak yang jauh dari pusat-pusat konflik nuklir dan rute migrasi massa yang dipicu oleh bencana.Sejumlah besar pengusaha teknologi, termasuk Peter Thiel dan Mark Zuckerberg, dilaporkan telah membeli lahan luas di Selandia Baru atau pulau-pulau terpencil lainnya untuk membangun kompleks perlindungan.

Di wilayah seperti Queenstown, rumor mengenai bunker yang disembunyikan di bawah padang rumput domba telah menjadi bagian dari legenda lokal. Namun, bagi investor global, daya tarik Selandia Baru lebih dari sekadar perlindungan fisik; ini adalah tentang “Rule of Law” dan transparansi pemerintahan. Dengan sistem hukum yang berasal dari Inggris dan perlindungan hak milik yang sangat kuat, Selandia Baru berfungsi sebagai benteng hukum bagi aset dan keluarga mereka saat tatanan dunia lainnya mungkin sedang dalam keadaan anarki.

Tabel 2: Indikator Ketahanan Strategis Selandia Baru (2021-2025)

Faktor Ketahanan Peringkat/Status Implikasi bagi Kelangsungan Hidup Elit
Ketahanan Pangan Surplus (Kapasitas 50 Juta Orang) Jaminan nutrisi mandiri meskipun rantai pasok global terputus.
Kemandirian Energi Tinggi (Geotermal & Hidro) Operasionalitas bunker dan infrastruktur tanpa ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Stabilitas Politik Top 5 Dunia (Global Peace Index) Risiko rendah terhadap kudeta, kerusuhan sipil, atau penyitaan aset secara ilegal.
Isolasi Geografis Pulau Terpencil (Belahan Bumi Selatan) Perlindungan alami dari dampak langsung perang nuklir di belahan bumi utara.
Kapasitas Manufaktur Menengah-Tinggi Kemampuan untuk mempertahankan kompleksitas teknologi internal pasca-collapse.

Meskipun Selandia Baru dianggap sebagai “sekoci penyelamat” (lifeboat) terbaik, tantangan sosial muncul di mana masyarakat lokal mulai merasa terganggu dengan kehadiran miliarder asing yang membangun benteng isolasi. Hal ini menciptakan dinamika etis di mana kekayaan digunakan bukan untuk memperkuat komunitas lokal agar lebih tangguh, melainkan untuk menciptakan kantong-kantong eksklusivitas yang terpisah dari realitas sosial di sekitarnya.

Layanan Keamanan Swasta: Dilema Loyalitas dalam Skenario Pasca-Collapse

Bunker fisik hanyalah salah satu elemen dari strategi pelarian. Tanpa perlindungan manusia, fasilitas tersebut hanyalah target bagi pihak lain yang mencari sumber daya dalam situasi krisis. Oleh karena itu, industri keamanan swasta atau jasa tentara bayaran telah menjadi komponen integral dari ekosistem kelangsungan hidup elit. Perusahaan seperti Allied Universal dan Special Response Corporation menawarkan tim perlindungan eksekutif yang terdiri dari mantan operator unit elit militer seperti Navy SEALs, Delta Force, dan SAS.

Layanan yang ditawarkan mencakup lebih dari sekadar penjagaan pintu. Ini melibatkan “Protective Intelligence”—pemantauan ancaman secara proaktif dan penilaian risiko berkelanjutan untuk memprediksi kapan “The Event” (istilah elit untuk kiamat sosial) akan terjadi. Tim keamanan ini dilatih untuk mengelola evakuasi udara, pertahanan perimeter terhadap massa, dan operasi medis darurat dalam lingkungan yang bermusuhan.

Namun, muncul satu masalah mendasar yang sangat ditakuti oleh para miliarder: bagaimana menjamin loyalitas pasukan bersenjata ini ketika uang atau mata uang digital tidak lagi memiliki nilai?. Dalam pertemuan tertutup dengan Douglas Rushkoff, para elit ini mengungkapkan kekhawatiran bahwa penjaga mereka sendiri akan menjadi pemimpin baru di dalam bunker dan mereka akan menjadi tawanan. Diskusi mengenai solusi untuk masalah ini mencakup penggunaan teknologi kontrol yang ekstrem, seperti kunci biometrik pada persediaan makanan yang hanya merespons pemiliknya, atau ide-ide dystopian seperti kerah kejutan (shock collars) untuk memastikan kepatuhan.

Tabel 3: Profil Layanan Keamanan Elit untuk Skenario Krisis

Perusahaan Latar Belakang Personel Jenis Layanan Utama Teknologi Pertahanan
Special Response Corp. SEALs, Delta, SAS, SWAT Perlindungan HNWI (High Net Worth Individual) 24/7, manajemen evakuasi krisis. Pengawasan tingkat lanjut, tim respon taktis seluler.
Allied Universal Penegak hukum khusus & Militer Keamanan residensial mewah, intelijen protektif global, keamanan perjalanan. AI surveillance, sistem deteksi intrusi canggih.
Trojan Securities Pasukan Khusus Inggris & AS Operasi di lingkungan berisiko tinggi (hostile environments), pelatihan PSD. Senjata taktis canggih, taktik pertempuran jarak dekat (CQC).
Silver Star Protection Mantan agen federal Perlindungan rahasia (discreet), manajemen acara elit, keamanan siber. Gunshot detection, drone infrastructure, emergency response.

Masalah loyalitas ini menyingkapkan kerapuhan dari pola pikir eskapis. Seperti yang dikemukakan oleh para kritikus, membangun hubungan manusia yang tulus dan menjadi pemimpin yang dicintai oleh staf mungkin merupakan satu-satunya cara yang benar-benar efektif untuk memastikan keamanan di dunia tanpa hukum. Namun, bagi kaum elit yang terbiasa dengan transaksi kontraktual, gagasan untuk mengandalkan kemurahan hati manusia sering kali dianggap sebagai risiko yang tidak dapat diterima.

Kedaulatan sebagai Komoditas: Paspor Emas dan Kewarganegaraan Kedua

Selain bunker dan keamanan fisik, kaum elit mengamankan mobilitas mereka melalui instrumen hukum yang dikenal sebagai “Paspor Emas” atau Kewarganegaraan melalui Investasi (Citizenship by Investment/CBI). Program-program ini memungkinkan individu kaya untuk membeli kewarganegaraan atau hak tinggal permanen di negara lain, memberikan mereka “Plan B” hukum jika negara asal mereka mengalami keruntuhan politik atau ekonomi.

Negara-negara seperti Malta, Portugal, dan beberapa negara Karibia telah menjadi pemain utama dalam industri ini. Bagi seorang prepper elit, paspor kedua adalah polis asuransi terhadap tirani, ketidakstabilan sosial, atau bencana iklim di wilayah asal mereka. Malta, misalnya, menawarkan salah satu program paling prestisius dengan memberikan akses penuh ke Uni Eropa, yang mencakup hak untuk tinggal dan bekerja di salah satu wilayah paling stabil di dunia. Di sisi lain, negara-negara Karibia seperti St. Kitts & Nevis menawarkan kecepatan proses yang luar biasa, sering kali hanya memakan waktu 4 hingga 6 bulan untuk mendapatkan kewarganegaraan penuh.

Tabel 4: Perbandingan Program Investasi Kewarganegaraan dan Residensi (2025-2026)

Negara Jenis Program Investasi Minimum Keuntungan Utama untuk Prepper Waktu Proses
Malta Kewarganegaraan €600.000 (Donasi) Akses EU penuh, standar keamanan tinggi, stabilitas zona Euro. 12 – 36 Bulan
Portugal Residensi (Golden Visa) €500.000 (Dana) Jalur menuju kewarganegaraan EU dengan kehadiran fisik minimal (7 hari/tahun). 4 – 15 Bulan
St. Kitts & Nevis Kewarganegaraan $250.000 Program tertua, tanpa persyaratan tinggal, akses visa-free ke 147+ negara. 4 – 6 Bulan
Vanuatu Kewarganegaraan $130.000 Tercepat di dunia, lokasi di Oseania yang terisolasi dari konflik global utama. 1 – 2 Bulan
Antigua & Barbuda Kewarganegaraan $230.000 Efektif untuk keluarga besar, visa 10 tahun ke AS, tanpa pajak pendapatan global. 6+ Bulan

Industri Paspor Emas mencerminkan bagaimana kedaulatan negara kini dapat ditransaksikan. Bagi miliarder, mengumpulkan paspor adalah bentuk diversifikasi aset. Jika krisis pecah di Amerika Utara, mereka bisa terbang ke Selandia Baru atau Eropa menggunakan identitas hukum yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Namun, praktik ini juga memicu kritik mengenai ketidakadilan sistemik, di mana hak atas keselamatan dan mobilitas menjadi hak istimewa yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kekayaan luar biasa, sementara penduduk biasa terperangkap di wilayah konflik atau bencana.

Kasus Mark Zuckerberg: Pembangunan Kompleks Koolau Ranch di Hawaii

Salah satu contoh paling konkret dan terdokumentasi dengan baik dari persiapan hari kiamat oleh elit teknologi adalah proyek Koolau Ranch milik CEO Meta, Mark Zuckerberg, di pulau Kauai, Hawaii. Proyek seluas 1.400 hektar ini diperkirakan menelan biaya total lebih dari $270 juta dan mencakup fasilitas yang sangat luas baik di atas maupun di bawah tanah.

Detail konstruksi yang bocor menunjukkan bahwa kompleks ini dirancang untuk kemandirian total. Selain dua bangunan utama dengan puluhan kamar tidur, terdapat fasilitas bawah tanah seluas 5.000 kaki persegi yang dilengkapi dengan pintu anti-ledakan baja dan beton. Terdapat pula jaringan terowongan yang menghubungkan berbagai bangunan, serta persediaan energi dan makanan yang mandiri. Untuk rekreasi, kompleks ini mencakup 11 rumah pohon yang dihubungkan dengan jembatan tali, gym, kolam renang, dan lapangan tenis.

Namun, kerahasiaan di sekitar proyek ini sangat ekstrem. Pekerja konstruksi diharuskan menandatangani perjanjian non-disclosure (NDA) yang ketat, dan ada laporan tentang pekerja yang dipecat hanya karena membagikan foto lokasi di media sosial. Kritikus mempertanyakan paradoks dari seseorang yang membangun kekayaan dari konektivitas sosial global tetapi secara pribadi membangun benteng yang sangat terisolasi dan tertutup dari masyarakat sekitarnya. Tindakan Zuckerberg dipandang oleh banyak pihak sebagai mosi tidak percaya terhadap masa depan masyarakat sipil yang ia bantu bentuk melalui platform digitalnya.

Tekno-Utopianisme dan “The Mindset”: Etika di Balik Rencana Pelarian

Perilaku elit dalam membangun bunker dan mencari pulau pribadi berakar pada apa yang oleh Douglas Rushkoff disebut sebagai “The Mindset” (Pola Pikir). Ini adalah sistem kepercayaan yang lazim di Silicon Valley yang menyatakan bahwa dengan teknologi dan modal yang cukup, seseorang dapat “mematahkan hukum fisika, ekonomi, dan moralitas” untuk melarikan diri dari konsekuensi tindakan mereka sendiri.

Alih-alih berinvestasi pada solusi kolektif untuk masalah global seperti perubahan iklim atau ketimpangan sosial, pengikut pola pikir ini lebih memilih strategi “exit”. Mereka memandang masa depan bukan sebagai tempat untuk berkembang bersama, melainkan sebagai video game yang dapat mereka menangkan dengan membangun benteng yang cukup kuat atau dengan mengunggah kesadaran mereka ke komputer. Pola pikir ini sangat individualistis dan transhumanis, sering kali memprioritaskan kelangsungan hidup pribadi di atas kemaslahatan umat manusia.

Tabel 5: Elemen Utama “The Mindset” Elit Teknologi

Komponen Deskripsi Filosofis Manifestasi Praktis
Techno-Utopianism Keyakinan bahwa setiap masalah (termasuk kiamat) memiliki solusi teknis. Investasi pada AI, kolonisasi Mars,an bunker nuklir canggih.
Datafication Memandang interaksi manusia hanya sebagai data yang dapat dimanipulasi. Penggunaan algoritma untuk mengontrol populasi sambil menyiapkan pelarian pribadi.
Exit Strategy Keyakinan bahwa melarikan diri lebih efisien daripada memperbaiki sistem. Pembelian pulau, bunker, dan kewarganegaraan kedua secara rahasia.
Insulated Capitalism Keinginan untuk mempertahankan keuntungan kapitalisme tanpa konsekuensi eksternalnya. Membangun komunitas elit yang tertutup dari kemiskinan dan polusi dunia luar.

Kritik etis terhadap rencana pelarian ini adalah bahwa hal tersebut menciptakan “insentif negatif” bagi para pemimpin industri. Jika mereka tahu mereka memiliki tempat berlindung yang aman, mereka mungkin kurang termotivasi untuk mencegah bencana global yang dapat menghancurkan sisa populasi dunia. Selain itu, ada argumen bahwa keberhasilan persiapan kiamat bagi miliarder justru bergantung pada tenaga kerja dari orang-orang yang mereka coba tinggalkan—seperti petani, teknisi, dan penjaga keamanan—yang menciptakan kontradiksi logis dalam rencana isolasi mereka.

Aspek Teknis Kelangsungan Hidup: Filtrasi dan Kemandirian Jangka Panjang

Untuk benar-benar berfungsi dalam skenario pasca-bencana, bunker elit harus mampu mempertahankan lingkungan hidup yang aman tanpa dukungan eksternal selama bertahun-tahun. Elemen teknis yang paling krusial adalah sistem filtrasi udara CBRN (Chemical, Biological, Radiological, and Nuclear). Filter ini dirancang untuk menyaring kontaminan mulai dari debu radioaktif hingga agen saraf dan virus hasil rekayasa genetika.

Filter modern seperti model NBC-77 SOF memiliki masa simpan yang sangat lama—hingga 20 tahun—yang memungkinkan pemilik bunker untuk menyimpan stok tanpa harus sering menggantinya. Namun, operasionalitas sistem ini bergantung pada pasokan energi yang stabil. Bunker elit biasanya menggunakan kombinasi generator diesel redundan, sistem baterai skala besar (seperti Tesla Powerwall), dan dalam beberapa kasus, akses ke sumur panas bumi (geotermal) untuk memastikan listrik tetap menyala.

Tabel 6: Parameter Teknis Sistem Pendukung Kehidupan Bawah Tanah

Sistem Komponen Utama Standar/Masa Simpan Kapasitas Operasional
Filtrasi Udara Filter NBC/CBRN (EN 14387) 20 Tahun (Factory Sealed) Penyaringan terus-menerus terhadap semua agen perang kimia/biologi.
Manajemen Gas Air Scrubbers (SodaSorb) 12 – 96 Jam (Battery Backup) Menjaga konsentrasi CO2 di bawah 1% di ruang tertutup rapat.
Produksi Pangan Kebun Hidroponik & Akuaponik Berkelanjutan Produksi sayuran segar dan ikan secara internal tanpa sinar matahari alami.
Energi Generator Diesel & Solar Redundansi 2-Tier Menyediakan daya untuk pencahayaan, ventilasi, dan sistem pemurnian air.
Kemandirian Air Sumur Dalam & Filtrasi UV Tak Terbatas (Sumber Tanah) Pemurnian air tanah secara mandiri untuk konsumsi dan kebersihan.

Tantangan teknis lainnya adalah psikologi lingkungan. Berada di bawah tanah dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan mental yang serius. Oleh karena itu, rekayasa bunker elit tidak hanya berfokus pada kelangsungan hidup fisik tetapi juga pada kesejahteraan emosional. Penggunaan taman dalam ruangan dengan skylight buatan, simulasi suara alam, dan ruang komunal yang luas bertujuan untuk menciptakan ilusi kehidupan normal di atas permukaan.

Strategi Pemasaran: Menjual Keamanan di Dunia yang Tak Pasti

Industri bunker dan persiapan elit juga merupakan studi kasus yang menarik dalam pemasaran berbasis ketakutan (fear-based marketing). Perusahaan-perusahaan ini mengidentifikasi kecemasan yang sudah ada dalam pikiran audiens mereka—seperti ketakutan akan serangan siber, ketidakstabilan ekonomi, atau perang nuklir—dan menyajikan produk mereka sebagai solusi satu-satunya untuk mendapatkan kembali rasa kendali.

Pemasaran ini bekerja karena manusia secara alami memiliki “bias negativitas,” di mana kita bereaksi lebih kuat terhadap potensi kerugian daripada potensi keuntungan. Iklan bunker sering kali menampilkan statistik tentang kerentanan jaringan listrik nasional atau cuplikan berita tentang kerusuhan sosial untuk memicu respons emosional yang cepat. Namun, untuk mempertahankan kelas elit, pesan ini harus disampaikan dengan sangat hati-hati: tidak boleh terlalu melodramatis sehingga tampak tidak jujur, tetapi harus cukup kuat untuk membuat ketidakpastian masa depan terasa mendesak.

Industri ini juga memanfaatkan “status elitisme”. Memiliki bunker di lokasi eksklusif seperti Vivos Europa One dipasarkan sebagai cara untuk bergabung dengan komunitas individu yang “berpikiran sama” dan memiliki visi masa depan yang sama—sebuah bentuk jejaring sosial tingkat lanjut di mana tiket masuknya adalah kekayaan miliaran dolar. Dengan demikian, bunker bukan lagi sekadar alat pertahanan, melainkan aset gaya hidup dan simbol keanggotaan dalam kasta elit yang akan “membangun kembali dunia”.

Kesimpulan: Masa Depan Ekonomi Eskapisme

Bisnis kelangsungan hidup elit mencerminkan persilangan antara ketakutan eksistensial, kemajuan teknologi, dan ketimpangan ekonomi yang ekstrem. Dari bunker bawah tanah yang dilengkapi galeri seni hingga tentara bayaran swasta dan kewarganegaraan yang bisa dibeli, kaum elit global sedang membangun infrastruktur paralel yang dirancang untuk bertahan dari keruntuhan sistemik yang mungkin tidak dapat dihindari oleh masyarakat umum.

Namun, di balik kemewahan dan kecanggihan teknis ini, terdapat pertanyaan filosofis yang menghantui: apakah keselamatan benar-benar bisa dibeli dengan isolasi? Sejarah dan sosiologi menyarankan bahwa kelangsungan hidup manusia adalah usaha kolektif, bukan individu. Rencana pelarian para pemimpin industri mungkin memberikan rasa aman sementara, tetapi tanpa stabilitas sosial global, benteng-benteng ini mungkin pada akhirnya menjadi makam yang sangat mahal. Industri “Doomsday” akan terus berkembang selama ketidakpastian dunia meningkat, tetapi tantangan sebenarnya bagi kemanusiaan tetap ada di atas permukaan tanah—dalam memperbaiki sistem yang kita semua huni bersama, daripada mencari cara paling mewah untuk meninggalkannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 3 = 4
Powered by MathCaptcha