Eksistensi diaspora Yahudi di Asia Tenggara merupakan fenomena sejarah yang kompleks, mencakup periode berabad-abad dan melibatkan berbagai kelompok etnis serta kepentingan ekonomi global. Dari para pedagang di jalur sutra maritim hingga pengungsi dari kekejaman Nazi, komunitas Yahudi di kawasan ini telah memainkan peran yang jauh melampaui jumlah populasi mereka yang relatif kecil. Sejarah mereka tidak dapat dipisahkan dari dinamika kolonialisme Eropa, kebangkitan imperium dagang, dan transformasi geopolitik di abad ke-20 dan ke-21. Laporan ini memberikan ulasan mendalam mengenai struktur etnis, pola migrasi, kontribusi ekonomi, serta tantangan kontemporer yang dihadapi oleh komunitas Yahudi di Singapura, Indonesia, Filipina, Myanmar, dan Thailand.

Klasifikasi Etnis dan Definisi Diaspora Yahudi

Dalam konteks Asia Tenggara, identitas Yahudi bersifat beragam dan tidak monolitik. Pemahaman terhadap diaspora ini memerlukan pembedaan yang jelas antara berbagai kelompok etnis yang membawa tradisi liturgi, bahasa, dan jaringan komersial yang berbeda. Secara historis, terdapat tiga kategori utama yang membentuk lanskap Yahudi di kawasan ini: Sephardim, Ashkenazim, dan Mizrahi.

Yahudi Sephardim: Warisan Semenanjung Iberia

Istilah “Sephardic” secara etimologis berasal dari Sepharad, kata Ibrani untuk Iberia atau Spanyol. Kelompok ini merupakan keturunan dari komunitas Yahudi yang diusir dari Spanyol pada tahun 1492 melalui Dekrit Alhambra dan dari Portugal pada tahun 1496 atas perintah Raja Manuel I. Pengusiran massal ini memicu gelombang pengungsian ke seluruh Mediterania, Kekaisaran Ottoman, Afrika Utara, dan akhirnya ke Asia melalui rute perdagangan Portugis dan Spanyol.

Dalam definisi yang lebih luas, “Sephardic” sering kali digunakan di Israel modern untuk merujuk pada penganut agama Yahudi yang mengikuti tradisi hukum dan liturgi Sephardi, meskipun mereka mungkin secara etnis berasal dari Timur Tengah atau Afrika Utara (Mizrahim). Di Asia Tenggara, pengaruh Sephardim awal terlihat pada kedatangan Yahudi Marranos—Yahudi yang dipaksa berpindah ke Katolik namun secara rahasia tetap menjalankan Yudaisme—yang menyertai penjelajah Portugis di Kepulauan Rempah-rempah.

Yahudi Ashkenazi: Migrasi dari Eropa Tengah dan Timur

Yahudi Ashkenazi berasal dari wilayah Jerman (Ashkenaz) dan Eropa Timur. Mereka membawa bahasa Yiddish dan tradisi religius yang berbeda dari kelompok Sephardim. Kehadiran Ashkenazim di Asia Tenggara mulai signifikan pada paruh kedua abad ke-19, terutama dipicu oleh pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 yang memfasilitasi perjalanan antara Eropa dan Timur Jauh secara lebih efisien. Selain faktor tarikan ekonomi, faktor dorongan berupa persekusi di Polandia dan Rusia juga memaksa banyak keluarga Ashkenazi mencari perlindungan di koloni-koloni Inggris dan Belanda di Asia.

Yahudi Baghdadi dan Mizrahi: Jaringan Perdagangan Mesopotamia

Kelompok yang paling dominan dalam membentuk institusi Yahudi di Asia Tenggara adalah Yahudi Baghdadi. Mereka adalah bagian dari Yahudi Mizrahi yang berasal dari Mesopotamia (Irak), Persia (Iran), dan wilayah Arab lainnya. Dimulai pada abad ke-18, mereka menetap di India (Mumbai, Kalkuta) sebelum memperluas jaringan mereka ke arah timur menuju Singapura, Yangon, dan Shanghai. Yahudi Baghdadi dikenal karena kemampuan mereka mempertahankan identitas melalui dialek Judeo-Arab dan sistem korespondensi bisnis yang menggunakan karakter Ibrani, yang berfungsi sebagai kode rahasia dalam perdagangan internasional.

Kategori Etnis Wilayah Asal Bahasa Utama Karakteristik Utama di Asia Tenggara
Sephardim Spanyol, Portugal, Ottoman Ladino, Portugis Pengaruh awal (Marranos), tradisi liturgi dominan
Ashkenazim Jerman, Polandia, Rusia Yiddish, Jerman Migrasi pasca-Terusan Suez, profil pengungsi 1930-an
Baghdadi Irak, Aden, Persia Judeo-Arab Elit pedagang, pendiri institusi komunal besar
Mizrahi Lainnya Yaman, Mesir, India Arab, India Sering berasimilasi dengan komunitas Baghdadi

Gelombang Migrasi dan Evolusi Historis di Nusantara

Sejarah kehadiran Yahudi di Indonesia (Nusantara) dapat dibagi menjadi beberapa fase krusial yang menunjukkan bagaimana kawasan ini selalu terhubung dengan jaringan perdagangan global.

Fase Awal: Jejak Barus dan Jalur Sutra Maritim

Interaksi awal antara Yudaisme dan Nusantara diduga terjadi jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Bukti arkeologis dan linguistik menunjukkan adanya pedagang dari Timur Tengah dan India yang mengunjungi pelabuhan Barus di Sumatera Utara antara abad ke-7 hingga ke-10. Barus merupakan pusat perdagangan komoditas bernilai tinggi seperti kapur barus dan kemenyan. Penemuan mantra pengobatan tradisional yang mengandung kosakata Ibrani di wilayah ini memperkuat hipotesis adanya pemukiman atau setidaknya interaksi intensif dengan pedagang Yahudi dari Yaman atau Teluk Persia yang menggunakan Jalur Sutra Maritim.

Era Kolonial Belanda dan Penyamaran Identitas

Kedatangan VOC (Vereniging Oost-Indische Compagnie) membawa gelombang baru orang Yahudi, baik yang datang secara terbuka sebagai pedagang dari Belanda maupun yang datang dalam penyamaran. Banyak Yahudi Marranos dari Portugal yang menyamar sebagai penganut Katolik atau Kristen Protestan untuk menghindari Inkuisisi yang juga beroperasi di wilayah jajahan Spanyol dan Portugis.

Pada masa Hindia Belanda, posisi orang Yahudi cukup unik. Secara hukum, mereka dikategorikan sebagai “Eropa” jika mereka berasal dari Belanda atau negara Eropa lainnya, yang memberikan mereka akses terhadap hak-hak istimewa kolonial. Namun, mereka tetap mempertahankan identitas komunal yang terpisah. Salah satu contoh menarik adalah Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, yang oleh beberapa sejarawan diidentifikasi memiliki akar keturunan dari marga Cohen, meskipun ia secara resmi menjalankan agama Kristen.

Surabaya: Pusat Yahudi Baghdadi di Indonesia

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, Surabaya berkembang menjadi pusat populasi Yahudi terbesar di Nusantara. Hal ini didorong oleh masuknya imigran Mizrahi dan Baghdadi dari Irak, Aden, dan Mesir. Surabaya menjadi lokasi strategis karena perannya sebagai pelabuhan utama untuk ekspor komoditas pertanian Jawa. Komunitas ini mendirikan Sinagoga di Jalan Coklat yang berfungsi sebagai pusat gravitasi spiritual dan sosial bagi ratusan keluarga Yahudi sebelum pecahnya Perang Dunia II.

Singapura: Episentrum Kehidupan Yahudi di Asia Tenggara

Singapura memegang predikat sebagai satu-satunya lokasi di Asia Tenggara di mana komunitas Yahudi asli tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara institusional hingga masa modern.

Pertumbuhan Demografis dan Institusional

Sejarah Yahudi di Singapura dimulai segera setelah Sir Stamford Raffles mendirikan pos perdagangan pada tahun 1819. Sensus awal menunjukkan pertumbuhan yang konsisten namun lambat pada awalnya, sebelum melonjak di akhir abad ke-19.

Tahun Jumlah Populasi Yahudi Catatan Perkembangan
1830 9 Terdaftar sebagai pedagang aktif di wilayah Boat Quay
1841 22 Terdiri dari 18 laki-laki dan 4 perempuan
1870 172 Mayoritas berasal dari Baghdadi dan mulai membangun sinagoga
1910 ~500 Peningkatan akibat diversifikasi ekonomi kolonial
1941 844 Populasi puncak sebelum invasi Jepang

Pembangunan Sinagoga Maghain Aboth pada tahun 1878 menandai kematangan komunitas Yahudi Singapura. Terletak di Waterloo Street, sinagoga ini merupakan yang tertua di Asia Tenggara dan kedua terbesar di Asia setelah Israel. Dana pembangunannya sebagian besar berasal dari Sir Manasseh Meyer, seorang tokoh visioner yang membangun kerajaan bisnis properti dan perdagangan di Singapura. Meyer tidak hanya membangun sinagoga, tetapi juga mendirikan sekolah dan fasilitas sosial lainnya, memastikan bahwa identitas Yahudi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

David Marshall dan Warisan Politik

Salah satu pencapaian paling signifikan dari diaspora Yahudi di Singapura adalah peran David Saul Marshall dalam proses dekolonisasi. Marshall, seorang pengacara brilian keturunan Baghdadi, terpilih sebagai Kepala Menteri (Chief Minister) pertama Singapura pada tahun 1955. Meskipun masa jabatannya singkat, ia meletakkan dasar bagi sistem hukum Singapura dan memperjuangkan pemerintahan sendiri dari Inggris. Marshall menjadi simbol asimilasi sukses di mana identitas Yahudi tidak menghalangi pengabdian nasional dalam konteks negara mayoritas non-Yahudi.

Filipina dan “Mindanao Plan”: Diplomasi Kemanusiaan

Sejarah Yahudi di Filipina menonjol karena upaya penyelamatan yang terorganisir di tengah krisis pengungsi global tahun 1930-an.

Kebijakan Pintu Terbuka Manuel Quezon

Di saat banyak negara di dunia menutup pintu bagi pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari rezim Nazi, Presiden Filipina Manuel L. Quezon mengambil langkah berani dengan menawarkan perlindungan. Antara tahun 1937 dan 1941, sekitar 1.200 Yahudi Jerman dan Austria diterima di Filipina. Program ini difasilitasi oleh kerja sama antara Quezon, Komisioner Tinggi AS Paul McNutt, dan Frieder bersaudara, pengusaha cerutu Yahudi-Amerika yang telah lama menetap di Manila.

Upaya ini bukan sekadar tindakan amal spontan, melainkan program terencana yang disebut sebagai “Mindanao Plan”. Pemerintah Filipina setuju untuk menempatkan hingga 10.000 pengungsi Yahudi di pulau Mindanao untuk membantu pengembangan sektor pertanian. Para pengungsi diharapkan menjadi pemukim yang produktif, membawa keahlian medis dan teknis yang sangat dibutuhkan oleh negara yang saat itu masih berstatus persemakmuran Amerika Serikat.

Kendala dan Pengaruh Perang

Meskipun Mindanao Plan memiliki visi yang luar biasa, implementasinya menghadapi tantangan besar. Terdapat oposisi lokal terkait kepemilikan lahan dan kekhawatiran dari Departemen Luar Negeri AS mengenai loyalitas pengungsi yang memegang paspor Jerman. Namun, faktor penentu kegagalan rencana pemukiman besar-besaran ini adalah serangan Jepang pada Desember 1941. Meskipun demikian, 1.200 jiwa yang berhasil diselamatkan tetap menjadi bukti keberhasilan diplomasi kemanusiaan Filipina.

Myanmar: Kemilau dan Kehancuran Komunitas Yangon

Myanmar (dahulu Burma) pernah memiliki salah satu komunitas Yahudi paling makmur di Asia Tenggara, yang berpusat di Yangon (Rangoon).

Era Kejayaan Baghdadi di Rangoon

Komunitas Yahudi di Burma mencapai puncaknya pada tahun 1940 dengan populasi sekitar 2.500 jiwa. Sebagian besar adalah Yahudi Baghdadi yang mendominasi perdagangan kayu jati, tekstil, dan berperan dalam administrasi kolonial Inggris. Musmeah Yeshua Synagogue, yang selesai dibangun pada tahun 1896, merupakan simbol kemegahan komunitas ini dengan koleksi 126 gulungan Torah.

Eksistensi Yahudi di Burma sangat bergantung pada stabilitas yang diberikan oleh kekuasaan Inggris. Mereka terintegrasi dengan baik dalam struktur sosial kota yang kosmopolitan, hidup berdampingan dengan komunitas India dan Muslim di pusat kota Yangon.

Eksodus dan Kondisi Kontemporer

Perang Dunia II menandai awal berakhirnya kejayaan ini. Ketika Jepang menginvasi Burma pada tahun 1942, mayoritas Yahudi melarikan diri ke India karena mereka dianggap sebagai sekutu Inggris. Setelah perang, meskipun beberapa keluarga kembali, kudeta militer tahun 1962 dan kebijakan nasionalisasi industri oleh Jenderal Ne Win memicu eksodus kedua yang lebih permanen.

Saat ini, jumlah Yahudi asli di Myanmar kurang dari 50 orang. Tanggung jawab untuk memelihara Musmeah Yeshua Synagogue berada di pundak Sammy Samuels, yang melanjutkan dedikasi ayahnya, Moses Samuels. Di tengah perang saudara yang berkecamuk di Myanmar saat ini, sinagoga tersebut tetap menjadi mercusuar kecil identitas Yahudi, meskipun aktivitasnya sangat terbatas dan berada di bawah ancaman keamanan.

Thailand: Dari Pedagang Ayutthaya ke Pusat Chabad Modern

Berbeda dengan negara tetangganya, Thailand memiliki sejarah Yahudi yang ditandai dengan toleransi agama yang tinggi dan perkembangan yang didorong oleh pariwisata.

Sejarah Awal dan Keluarga Rosenberg

Laporan tertua mengenai kehadiran Yahudi di Siam berasal dari tahun 1601, di mana misionaris Spanyol mencatat adanya pedagang Yahudi yang taat di Kerajaan Ayutthaya. Pada abad ke-19, pengusaha Yahudi Eropa mulai menetap di Bangkok. Keluarga Rosenberg, misalnya, dikenal sebagai perintis industri perhotelan modern dengan mendirikan Europe Hotel yang legendaris.

Selama Perang Dunia II, Thailand yang bersekutu dengan kekuatan Axis memberikan perlindungan terbatas bagi pengungsi Yahudi Jerman, meskipun terdapat tekanan dari kedutaan Jerman untuk melakukan diskriminasi. Sebuah fakta sejarah yang unik adalah adanya rabbi di antara tawanan perang Sekutu di kamp Kanchanaburi yang menjalankan ibadah di sinagoga darurat.

Dinamika Modern dan Chabad of Thailand

Pasca-1970-an, populasi Yahudi di Thailand tumbuh pesat karena kedatangan pebisnis Israel yang bergerak di bidang permata dan perhiasan, serta ribuan turis Israel. Chabad of Thailand, di bawah pimpinan Rabi Yosef Kantor, telah membangun jaringan pusat komunitas di seluruh negeri.

Lokasi Chabad Fokus Layanan Signifikansi
Bangkok Bisnis & Ekspatriat Pusat administratif, Sinagoga Beth Elisheva
Chiang Mai Turis & Backpackers Melayani ribuan pengunjung saat hari raya besar
Phuket Resor & Liburan Destinasi populer bagi turis internasional
Koh Samui Pariwisata Pusat dukungan bagi pelancong di kepulauan selatan

Imperium Dagang Keluarga Sassoon dan Kadoorie

Daya tahan diaspora Yahudi di Asia tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga-keluarga elit yang menguasai koridor komersial antara Timur Tengah dan Timur Jauh.

Dinasti Sassoon: “Rothschild dari Timur”

Keluarga Sassoon, yang melarikan diri dari Baghdad ke Mumbai pada tahun 1832, membangun kerajaan bisnis yang membentang dari Inggris hingga Jepang. Di bawah kepemimpinan David Sassoon, perusahaan mereka memonopoli perdagangan opium antara India dan China, sebuah komoditas yang menjadi penggerak utama ekonomi kolonial pada abad ke-19.

Keberhasilan Sassoon didasarkan pada model “diaspora perdagangan” di mana mereka menempatkan anggota keluarga atau komunitas Baghdadi di pelabuhan-pelabuhan kunci seperti Singapura, Hong Kong, dan Shanghai. Mereka mengombinasikan ketajaman bisnis dengan filantropi yang luar biasa, membangun sekolah dan rumah sakit yang memperkuat posisi sosial mereka di mata pemerintah kolonial maupun masyarakat lokal.

Dinasti Kadoorie: Infrastruktur dan Diversifikasi

Keluarga Kadoorie, yang awalnya merupakan bawahan keluarga Sassoon, berhasil membangun kemandirian finansial dan menjadi salah satu keluarga terkaya di Asia. Sir Elly Kadoorie memusatkan operasinya di Shanghai dan Hong Kong, berinvestasi pada sektor-sektor strategis seperti ketenagalistrikan melalui China Light & Power (CLP) dan perhotelan melalui The Hongkong and Shanghai Hotels.

Strategi Kadoorie berbeda dari Sassoon dalam hal diversifikasi. Ketika perdagangan opium menurun, Kadoorie dengan cepat beralih ke investasi perbankan, real estate, dan infrastruktur publik yang lebih berkelanjutan. Warisan mereka tetap kuat hingga hari ini melalui kepemimpinan Sir Michael Kadoorie di Hong Kong.

Perang Dunia II dan Dampak Pendudukan Jepang

Pengalaman diaspora Yahudi di Asia Tenggara selama Perang Dunia II sangat kontras dengan tragedi Holocaust di Eropa. Meskipun mereka menghadapi penderitaan besar, motif penindasan Jepang bukanlah antisemitisme ideologis.

Kebijakan Internment Berdasarkan Kewarganegaraan

Di wilayah pendudukan Jepang seperti Singapura, Indonesia, dan Burma, perlakuan terhadap Yahudi ditentukan oleh paspor yang mereka pegang. Yahudi yang berkewarganegaraan Inggris (seperti di Singapura) atau Belanda (seperti di Surabaya) dimasukkan ke kamp tawanan perang atau kamp internir sipil bersama warga Barat lainnya. Namun, Yahudi yang dianggap sebagai warga negara non-musuh atau memegang paspor dari negara netral terkadang dibiarkan bebas, meskipun dengan pengawasan ketat.

Absensi Genosida Sistematis

Penelitian sejarah menunjukkan bahwa Jepang tidak mengadopsi kebijakan “Solusi Akhir” Nazi. Jepang tidak membangun kamp pemusnahan atau kamar gas di Asia Tenggara. Kekejaman yang dialami oleh orang Yahudi, seperti kelaparan dan kerja paksa di jalur kereta api maut, adalah bentuk kebrutalan militer umum Jepang terhadap semua tawanan perang dan warga sipil di wilayah jajahan, bukan serangan spesifik terhadap ras atau agama Yahudi. Bahkan, di beberapa tempat seperti Shanghai dan Manila, Jepang menunjukkan sikap acuh tak acuh yang memungkinkan ribuan pengungsi Yahudi bertahan hidup.

Analisis Komparatif: Ekonomi Komoditas Historis vs Modern

Jika kita membandingkan jaringan perdagangan Yahudi di masa lalu dengan dinamika pasar global saat ini, terdapat pola yang paralel dalam hal penguasaan komoditas strategis.

Evolusi dari Opium ke Energi dan Mineral

Pada abad ke-19, keluarga Sassoon memanfaatkan dominasi mereka dalam komoditas “lunak” seperti opium dan tekstil untuk membangun pengaruh politik. Saat ini, volatilitas pasar global digerakkan oleh komoditas “keras” seperti minyak, gas, dan gandum—yang keuntungannya melonjak drastis bagi perusahaan perdagangan modern seperti Vitol, Glencore, dan Trafigura akibat konflik seperti perang Rusia-Ukraina.

Era Komoditas Kunci Aktor Dominan Faktor Penggerak Keuntungan
1850-1910 Opium, Kapas, Kayu Jati Sassoon, Kadoorie, Jardine Matheson Monopoli kolonial, jaringan etnis
2022-2025 Minyak, Gas, Gandum, Litium Vitol, Glencore, Bunge, Cargill Volatilitas geopolitik, spekulasi pasar

Perebutan Mineral Kritis dan Stabilitas Kawasan

Di abad ke-21, fokus persaingan bergeser ke mineral kritis seperti litium dan kobalt yang esensial bagi transisi energi dan teknologi AI. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar, kini berada di pusat “perang sumber daya” baru antara China dan Amerika Serikat. Sebagaimana perdagangan opium memengaruhi stabilitas Asia di masa lalu, perebutan kontrol atas rantai pasok mineral ini akan menentukan masa depan geopolitik kawasan tempat diaspora Yahudi masih eksis.

Realitas Kontemporer: Toleransi, Identitas, dan Hukum

Kondisi komunitas Yahudi di Asia Tenggara saat ini mencerminkan dinamika hubungan antara agama minoritas dan negara bangsa yang sedang berkembang.

Tantangan Legal di Indonesia

Di Indonesia, Yudaisme tidak termasuk dalam daftar enam agama yang diakui secara resmi oleh negara untuk administrasi kependudukan. Hal ini memaksa banyak anggota komunitas untuk mengosongkan kolom agama pada KTP atau mendaftar sebagai penganut “Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Meskipun demikian, konstitusi Indonesia secara teori tetap menjamin kebebasan beragama, yang memungkinkan komunitas Yahudi di Sulawesi Utara untuk mempraktikkan iman mereka secara terbuka.

Konservasi Memori di Tondano dan Singapura

Upaya pelestarian sejarah terus dilakukan. Di Tondano, Sinagoga Sha’ar Hashamayim tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi Museum Holocaust pertama di kawasan ini, yang bertujuan memberikan edukasi mengenai bahaya intoleransi. Sementara itu, di Singapura, Jacob Ballas Centre yang dibuka pada tahun 2007 menyediakan fasilitas modern bagi jemaat lokal, termasuk restoran kosher dan mikvah, yang memastikan keberlangsungan hidup Yahudi ortodoks di tengah modernitas perkotaan.

Kesimpulan: Diaspora sebagai Jembatan Antar Zaman

Diaspora Yahudi di Asia Tenggara adalah kisah tentang adaptasi yang luar biasa. Dari para pedagang Baghdadi yang membangun fondasi perdagangan modern di Singapura dan Yangon, hingga pengungsi Eropa yang menemukan keselamatan di Manila, komunitas ini telah membuktikan ketahanan mereka menghadapi perubahan kekuasaan dan ideologi.

Warisan keluarga Sassoon dan Kadoorie menunjukkan bagaimana jaringan transnasional dapat membentuk infrastruktur ekonomi suatu kawasan. Di sisi lain, perjuangan individu seperti Sammy Samuels di Myanmar atau Rabi Yaakov Baruch di Indonesia menggambarkan upaya gigih untuk menjaga nyala lilin tradisi di tengah lingkungan yang terkadang menantang secara politik.

Meskipun secara numerik kecil, keberadaan Yahudi di Asia Tenggara tetap signifikan sebagai barometer toleransi dan keterbukaan masyarakat di kawasan ini. Di masa depan, kelangsungan diaspora ini akan bergantung pada kemampuan mereka untuk terus berintegrasi dalam narasi nasional negara masing-masing sambil tetap memelihara ikatan spiritual dan historis dengan warisan leluhur mereka. Sebagaimana sejarah telah membuktikan, diaspora Yahudi bukan sekadar penumpang dalam sejarah Asia Tenggara, melainkan arsitek aktif yang membantu membentuk wajah modern kawasan ini..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 15 = 19
Powered by MathCaptcha