Transformasi radikal aset digital dari sekadar inovasi teknologi menjadi instrumen finansial dengan dampak sistemik telah mengekspos kerentanan fundamental dalam arsitektur keuangan global. Periode tahun 2020 hingga 2022 sering kali diidentifikasi oleh para analis sebagai “Minsky Moment” bagi industri mata uang kripto, sebuah fase di mana pertumbuhan yang didorong oleh spekulasi liar dan leverage tersembunyi akhirnya mencapai titik jenuh dan berujung pada dekomposisi pasar secara masif. Kejadian ini bukan sekadar kegagalan pasar biasa, melainkan manifestasi dari bagaimana absennya kerangka regulasi yang koheren menciptakan ruang hampa hukum yang dieksploitasi oleh pelaku kejahatan ekonomi baru untuk melakukan manipulasi, penipuan, dan penyalahgunaan dana dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dua peristiwa paling monumental dalam periode ini—keruntuhan ekosistem Terra-LUNA dan kejatuhan bursa FTX—menjadi bukti nyata mengenai bahaya dari apa yang disebut sebagai “kesalahan kategori” (category error) dalam pengawasan sektor digital.

Dalam ulasan komprehensif ini, analisis akan difokuskan pada bagaimana ketiadaan mekanisme kontrol tradisional, seperti pemisahan aset, persyaratan cadangan modal, dan pengawasan operasional yang ketat, memungkinkan para aktor seperti Sam Bankman-Fried dan Do Kwon untuk membangun imperium finansial yang tampak kokoh namun sebenarnya rapuh secara struktural. Kompleksitas teknologi blockchain sering kali digunakan sebagai tabir untuk menyembunyikan skema penipuan klasik yang dimodernisasi, mulai dari manipulasi algoritma hingga penggunaan pintu belakang (backdoor) perangkat lunak yang canggih. Laporan ini akan menelusuri secara mendalam mekanisme kegagalan sistemik tersebut, efek penularan (contagion) yang menghancurkan entitas lain seperti Three Arrows Capital (3AC), Celsius, dan Voyager Digital, serta evolusi respons regulatori global melalui MiCA di Uni Eropa dan GENIUS Act di Amerika Serikat yang berupaya menutup celah kejahatan tersebut.

Anatomi Keruntuhan Terra-LUNA: Eksperimen Algoritmik dan Spiral Kematian

Kasus Terra-LUNA mewakili salah satu kegagalan paling dramatis dalam sejarah keuangan digital, di mana nilai pasar sebesar $40 miliar hingga $60 miliar menguap hanya dalam hitungan hari pada Mei 2022. Inti dari ekosistem ini adalah desain stablecoin algoritmik TerraUSD (UST), yang secara fundamental berbeda dari stablecoin berbasis kolateral fisik seperti Tether (USDT) atau USD Coin (USDC).UST dirancang untuk mempertahankan paritas $1 berbanding 1 dengan dolar AS melalui algoritma “mint-and-burn” yang melibatkan token saudaranya, LUNA. Mekanisme ini beroperasi pada premis ekonomi bahwa arbitrase pasar akan selalu mengoreksi deviasi harga; jika UST turun di bawah $1, pedagang dapat membeli UST yang murah dan menukarnya dengan LUNA senilai $1, sehingga mengurangi pasokan UST dan mendorong harganya kembali naik.

Namun, stabilitas sistem ini sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap nilai intrinsik LUNA sebagai aset penyerap volatilitas. Masalah muncul ketika mekanisme ini diuji dalam kondisi tekanan pasar yang ekstrem. Ketika terjadi penarikan besar-besaran, sistem dipaksa untuk mencetak LUNA secara masif guna menyerap pasokan UST yang dijual, yang pada gilirannya menyebabkan hiperinflasi pada LUNA dan menekan harganya ke bawah. Dinamika ini menciptakan apa yang secara teknis disebut sebagai “spiral kematian” (death spiral). Data menunjukkan bahwa antara tanggal 10 Mei hingga 12 Mei 2022, pasokan LUNA melonjak dari 0,4 miliar menjadi 32 miliar token, sementara harganya jatuh dari $80 menjadi hampir nol.

Metrik Kritis Keruntuhan Ekosistem Terra-LUNA Data Sebelum Krisis (April 2022) Data Puncak Krisis (Mei 2022) Implikasi Ekonomi
Harga Token LUNA $119,18 < $0,0001 Kehilangan nilai total 100%.
Harga Stablecoin UST $1,00 $0,10 Kegagalan total mekanisme pasak (depegging).
Kapitalisasi Pasar LUNA ~$40 Miliar ~$0 Kerugian sistemik bagi investor ritel dan institusi.
Pasokan Beredar LUNA ~400 Juta ~6 Triliun Hiperinflasi akibat mekanisme minting paksa.
Yield Anchor Protocol 19,5% (Fixed) Ditangguhkan Bukti skema subsidi yang tidak berkelanjutan.

Kegagalan teknis ini diperparah oleh kebijakan tata kelola yang tidak transparan dan manipulatif. Terraform Labs (TFL), entitas di balik proyek ini, secara agresif memasarkan UST melalui Protokol Anchor, sebuah platform simpan pinjam yang menawarkan bunga tetap sebesar 19,5% bagi penyimpan UST. Imbal hasil yang sangat tinggi ini tidak didasarkan pada aktivitas ekonomi organik, melainkan disubsidi secara besar-besaran untuk menciptakan permintaan buatan terhadap UST. Pada puncaknya, lebih dari 70% dari seluruh pasokan UST yang beredar terkonsentrasi di dalam Anchor, menciptakan risiko konsentrasi yang sangat berbahaya. Analisis forensik menunjukkan bahwa kompleksitas sistem ini membuat investor, bahkan yang canggih sekalipun, kesulitan untuk menilai penumpukan risiko secara akurat. Do Kwon, pendiri Terra, dituduh secara sengaja menyesatkan investor mengenai stabilitas algoritma tersebut, bahkan ketika tanda-tanda keretakan mulai muncul di permukaan.

Dinamika Matematika dan Kegagalan Orakel Harga

Secara matematis, keseimbangan sistem Terra-LUNA dapat direpresentasikan melalui hubungan antara nilai kapitalisasi pasar LUNA (VL) dan total pasokan UST (S_U}). Agar pasak UST tetap stabil pada $1, maka secara teoritis harus dipenuhi kondisi:

Namun, ketika sentimen pasar berubah negatif, nilaiV_L dapat turun secara drastis di bawah S_{U}, menciptakan defisit kolateral algoritmik yang tidak dapat dipulihkan. Dalam kondisi ini, setiap upaya untuk menstabilkan UST melalui pencetakan LUNA justru akan mempercepat penurunan harga LUNA karena dilusi pasokan.

Ketidakstabilan ini semakin diperburuk oleh kegagalan infrastruktur teknis seperti “Price Oracle,” sebuah mekanisme yang menyuplai data harga dari bursa eksternal ke dalam blockchain Terra. Selama hari-hari terakhir keruntuhan, tercatat adanya diskrepansi harga hingga 70% antara harga pasar riil LUNA di bursa terpusat dengan harga yang terbaca oleh protokol Terra. Hal ini menghalangi para pelaku arbitrase untuk melakukan tindakan yang diperlukan guna menyeimbangkan pasak, yang pada akhirnya memicu kepanikan total di kalangan pemegang aset.Kurangnya regulasi yang mewajibkan audit independen terhadap orakel harga dan mekanisme darurat (circuit breaker) membuat sistem ini beroperasi tanpa rem pengaman saat terjun bebas.

Skandal FTX: Penipuan Korporasi dalam Selubung Teknologi Canggih

Jika Terra-LUNA adalah kegagalan desain ekonomi, maka kasus FTX adalah manifestasi dari penipuan korporasi yang disengaja dalam skala global. FTX, yang pada puncaknya bernilai $32 miliar, runtuh pada November 2022 setelah terungkapnya mismanagement masif dan penyalahgunaan dana nasabah Sam Bankman-Fried (SBF), CEO dan pendiri FTX, menggunakan reputasinya sebagai tokoh yang “terpercaya” dan “patuh regulasi” untuk menutupi skema pengalihan dana ke perusahaan saudaranya, Alameda Research.

Investigasi pasca-bangkrut mengungkapkan bahwa FTX tidak beroperasi sebagai bursa yang netral, melainkan sebagai sumber pendanaan pribadi bagi Alameda Research. Melalui instruksi rahasia, SBF memerintahkan para eksekutifnya untuk memodifikasi kode komputer bursa FTX guna memberikan “pintu belakang” (backdoor) bagi Alameda. Fitur ini memungkinkan Alameda untuk menarik dana mata uang kripto dalam jumlah yang hampir tidak terbatas dari saldo nasabah FTX, bahkan ketika Alameda tidak memiliki kolateral yang mencukupi atau mengalami kerugian perdagangan yang besar. Dana yang dialihkan ini, yang jumlahnya mencapai lebih dari $8 miliar, digunakan untuk berbagai tujuan ilegal, termasuk investasi modal ventura yang berisiko, pembelian properti mewah di Bahama, dan kontribusi politik senilai puluhan juta dolar.

Peran Token FTT dan Manipulasi Neraca Keuangan

Token FTT, yang diterbitkan oleh FTX sendiri, memainkan peran sentral dalam skema ini. SBF menciptakan ekonomi sirkular di mana FTX menerbitkan FTT, memompa harganya secara artifisial melalui aktivitas pasar internal, dan kemudian menggunakan FTT tersebut sebagai kolateral utama dalam neraca keuangan Alameda Research. Dengan menggunakan aset yang nilainya mereka kontrol sendiri, Alameda dapat meminjam dana nyata (fiat dan kripto populer seperti Bitcoin) dari kreditur eksternal dan dari dana nasabah FTX.

Komponen Penipuan FTX-Alameda Mekanisme Eksekusi Dampak Terhadap Nasabah
Pintu Belakang Kode (Software Backdoor) Modifikasi kode bursa untuk mengizinkan penarikan tanpa batas oleh Alameda. Hilangnya akses nasabah terhadap dana simpanan mereka saat krisis.
Penggelembungan Nilai FTT Manipulasi harga token internal untuk menciptakan ilusi kekayaan kolateral. Penurunan nilai kolateral secara drastis saat kepercayaan pasar hilang.
Pemalsuan Laporan Keuangan Pembuatan laporan laba rugi palsu dan backdating kontrak hukum. Investor dan pemberi pinjaman tertipu mengenai kesehatan finansial perusahaan.
Commingling (Pencampuran Dana) Tidak adanya pemisahan rekening antara operasional perusahaan dan dana pihak ketiga. Kesulitan hukum dalam mengidentifikasi kepemilikan aset saat proses bangkrut.

Ketiadaan regulasi yang mewajibkan audit publik yang transparan oleh firma akuntansi terdaftar (seperti standar Sarbanes-Oxley dalam keuangan tradisional) memungkinkan FTX beroperasi tanpa kontrol internal dasar. John J. Ray III, yang ditunjuk menjadi CEO FTX pasca-bangkrut, menyatakan bahwa ia belum pernah melihat kegagalan kontrol korporasi yang begitu total, mulai dari tidak adanya departemen akuntansi yang fungsional hingga penggunaan aplikasi pesan singkat yang menghapus data secara otomatis untuk menyetujui pengeluaran perusahaan. Manipulasi ini tidak hanya merugikan investor besar, tetapi juga jutaan investor ritel kecil yang menganggap FTX sebagai “pelabuhan aman” di dunia kripto.

Efek Penularan (Contagion): Keruntuhan Sistemik dan Domino Finansial

Salah satu karakteristik paling berbahaya dari era kripto 2020-2022 adalah interkonektivitas yang sangat dalam antar entitas besar tanpa adanya pengawasan risiko sistemik. Keruntuhan Terra-LUNA pada Mei 2022 bertindak sebagai pemicu awal (trigger) yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh ekosistem. Dana lindung nilai (hedge fund) kripto terkemuka, Three Arrows Capital (3AC), mengalami kerugian fatal karena eksposur besar mereka terhadap LUNA dan UST. Kegagalan 3AC untuk memenuhi panggilan margin (margin calls) menyebabkan default pada pinjaman bernilai miliaran dolar dari berbagai platform pemberi pinjaman (lenders)

Penularan ini dengan cepat menyebar ke platform seperti Voyager Digital dan Celsius Network. Voyager terpaksa mengajukan bangkrut setelah 3AC gagal membayar pinjaman sekitar $670 juta. Sementara itu, Celsius Network, yang sebelumnya mengklaim sebagai institusi yang lebih aman daripada bank tradisional, terungkap telah melakukan praktik yang menyerupai skema Ponzi, menggunakan dana nasabah baru untuk menutupi penarikan dan melakukan investasi berisiko tinggi guna mengejar imbal hasil yang dijanjikan. Kebangkrutan entitas-entitas ini membekukan miliaran dolar dana nasabah ritel, yang banyak di antaranya kehilangan seluruh tabungan hidup mereka.7

Dinamika Krisis “Crosstagion”

Fenomena ini sering disebut sebagai “Crosstagion,” di mana risiko berpindah secara cair antara protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan platform terpusat (CeFi). Dalam sistem keuangan tradisional, bank sentral bertindak sebagai “lender of last resort” untuk meredam kepanikan pasar. Namun, dalam dunia kripto yang tidak teregulasi, tidak ada mekanisme penahan yang dapat menghentikan penularan tersebut. Kejatuhan FTX pada November 2022 adalah babak terakhir dari siklus penularan ini, yang kemudian menyeret jatuh perusahaan lain seperti BlockFi dan menyebabkan krisis likuiditas pada entitas seperti Gemini dan Digital Currency Group (DCG).

Entitas yang Terdampak Penularan (2022) Penyebab Utama Kegagalan Status Hukum / Dampak
Three Arrows Capital (3AC) Eksposur besar pada Terra-LUNA dan leverage tinggi. Likuidasi paksa di British Virgin Islands.
Voyager Digital Gagal bayar pinjaman dari 3AC sebesar ~$670 juta. Kebangkrutan Bab 11 (Chapter 11).
Celsius Network Krisis likuiditas, manajemen risiko buruk, dan tuduhan skema Ponzi. Kebangkrutan Bab 11; CEO menghadapi tuntutan hukum.
BlockFi Eksposur terhadap FTX dan kerugian dari default 3AC. Kebangkrutan Bab 11 pasca kejatuhan FTX.
FTX / Alameda Penyelewengan dana nasabah dan manipulasi pasar internal. Kebangkrutan total; vonis kriminal bagi pendiri.

Penularan ini menunjukkan bahwa transparansi yang dijanjikan oleh teknologi blockchain sering kali bersifat semu jika transaksi terjadi “di luar rantai” (off-chain) atau melalui perantara terpusat yang tidak diawasi. Meskipun semua transaksi di Terra terlihat di blockchain, hubungan utang-piutang yang kompleks antara Alameda, 3AC, dan Celsius terjadi di balik pintu tertutup, menciptakan bom waktu finansial yang meledak begitu kepercayaan pasar goyah

Vakum Regulasi dan “Category Error”: Akar Masalah Kejahatan Ekonomi

Kegagalan masif di era kripto ini tidak lepas dari ketidaksiapan regulator global dalam mengklasifikasikan dan mengawasi aset digital. Selama bertahun-tahun, platform seperti FTX dan Terra diperlakukan sebagai “perusahaan rintisan teknologi” (tech startups) daripada sebagai “institusi finansial” yang memegang mandat kepercayaan nasabah. Hal ini menciptakan apa yang disebut para ahli hukum sebagai “kesalahan kategori” (category error). Karena dianggap sebagai entitas teknologi, mereka terhindar dari kewajiban pengawasan yang ketat seperti persyaratan modal minimum, audit operasional rutin, dan asuransi simpanan nasabah.

Kurangnya regulasi yang harmonis juga mendorong terjadinya “arbitrase regulatori.” Perusahaan kripto sering kali memilih untuk berkantor pusat di yurisdiksi dengan pengawasan longgar (seperti Bahama, Seychelles, atau Montenegro) namun tetap menawarkan layanan mereka kepada konsumen di seluruh dunia melalui internet. Di Amerika Serikat, ketidakjelasan mengenai apakah token tertentu merupakan “sekuritas” (di bawah yurisdiksi SEC) atau “komoditas” (di bawah yurisdiksi CFTC) menciptakan ruang abu-abu yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menghindari pendaftaran resmi yang mengharuskan keterbukaan informasi publik.

Perbandingan Risiko: TradFi vs. DeFi/CeFi

Dalam keuangan tradisional (TradFi), risiko teknologi sering kali dimitigasi oleh redundansi institusional dan pengawasan manusia. Sebaliknya, dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi) atau platform kripto, otomatisasi melalui smart contract memang memberikan efisiensi, namun juga menghilangkan kontrol diskresioner yang dapat mencegah eskalasi krisis Tanpa adanya regulator yang bertindak sebagai stabilisator, krisis di dunia kripto berkembang dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan sistem untuk merespons.

Analisis statistik mengenai aktivitas ilegal menunjukkan bahwa meskipun industri kripto sering mengeklaim diri lebih aman daripada sistem perbankan tradisional, data menunjukkan realitas yang berbeda. Jika dibandingkan dengan basis volume transaksi, aktivitas ilegal dalam mata uang kripto tercatat lima kali lebih tinggi daripada dalam sistem fiat. Hal ini terjadi karena blockchain memungkinkan pengiriman dana tanpa batas antara akun-akun tanpa verifikasi Identitas (KYC) yang memadai, kecuali saat dana tersebut ditarik melalui platform terdaftar Penggunaan “mixer” dan platform tanpa-KYC memberikan alat yang sangat efektif bagi aktor jahat untuk mencuci hasil kejahatan ekonomi mereka.

Manipulasi Persepsi: Peran Media Sosial dan Influencer Finansial

Salah satu alat paling ampuh yang digunakan dalam kejahatan ekonomi era kripto adalah manipulasi opini publik melalui media sosial. Platform seperti Twitter, Reddit, dan Telegram menjadi pusat diseminasi informasi di mana “finfluencers” (influencer finansial) mempromosikan proyek-proyek kripto tanpa transparansi mengenai kompensasi yang mereka terima. Dalam kasus Terra-LUNA, Do Kwon membangun citra sebagai visioner yang tidak terkalahkan, sering kali secara agresif menyerang para kritikus di media sosial untuk membungkam skeptisisme yang sah mengenai stabilitas UST.

Teknik manipulasi yang digunakan sering kali melibatkan penggunaan jaringan akun palsu (burner accounts), bot, dan amplifikasi sintetis untuk menciptakan ilusi dukungan pasar yang masif. Hal ini memicu fenomena psikologis FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan investor ritel, yang kemudian mendorong harga aset ke tingkat yang tidak realistis sebelum akhirnya para pelaku dalam melakukan “dumping” atau penjualan massal aset mereka. Galaxy Digital, sebuah firma investasi kripto, dituduh melakukan manipulasi pasar melalui promosi token LUNA di media sosial sambil secara diam-diam menjual jutaan token senilai ratusan juta dolar tepat sebelum keruntuhan terjadi.

Taktik Manipulasi Media Sosial Deskripsi Operasional Dampak Terhadap Pasar
Penggunaan Bot & Burner Accounts Menciptakan ribuan identitas palsu untuk memberikan kesan dukungan luas. Menciptakan tren artifisial yang memicu algoritma trading otomatis.
Undisclosed Promotions Influencer dibayar untuk mempromosikan token tanpa memberikan disclaimer. Investor ritel menganggap promosi berbayar sebagai nasihat investasi jujur.
Serangan Terkoordinasi Menyerang kritikus atau menyebarkan FUD (Fear, Uncertainty, Doubt) pada kompetitor. Membungkam peringatan risiko dan menjaga narasi positif palsu.
Sentiment Manipulation Menggunakan kata kunci seperti “bullish” untuk memicu FOMO. Mendorong kenaikan harga yang tidak didukung oleh fundamental ekonomi.

Ketiadaan regulasi terhadap konten promosi keuangan di media sosial membuat para pelaku kejahatan dapat beroperasi dengan impunitas. Berbeda dengan pialang saham tradisional yang tunduk pada aturan ketat mengenai iklan dan nasihat investasi, para influencer kripto beroperasi dalam “Wild West” digital di mana keaslian informasi sering kali tidak dapat diverifikasi oleh pengguna biasa. Kecepatan penyebaran rumor di platform ini juga meningkatkan volatilitas pasar, yang sering kali menguntungkan para trader dengan frekuensi tinggi (high-frequency traders) namun merugikan investor jangka panjang.

Pertanggungjawaban Hukum: Vonis SBF dan Do Kwon serta Tantangan Ekstradisi

Setelah krisis yang menghancurkan pada tahun 2022, tahun 2024 dan 2025 menjadi saksi bagi dimulainya era pertanggungjawaban hukum bagi para pelaku utama. Sam Bankman-Fried (SBF) menghadapi pengadilan yang sangat dipublikasikan di Amerika Serikat. Pada Maret 2024, SBF dijatuhi hukuman 25 tahun penjara atas tujuh dakwaan termasuk penipuan kawat, pencucian uang, dan konspirasi untuk melakukan penipuan sekuritas. Hakim menyatakan bahwa SBF secara sadar mencuri lebih dari $8 miliar dana nasabah dan melakukan pembohongan sistemik kepada investor dan regulator.

Kasus Do Kwon jauh lebih kompleks karena melibatkan sengketa yurisdiksi antara Amerika Serikat dan Korea Selatan. Setelah menjadi buronan internasional selama beberapa bulan, Kwon ditangkap di Montenegro pada Maret 2023 saat mencoba menggunakan paspor palsu untuk terbang ke Dubai. Setelah proses ekstradisi yang panjang dan penuh drama hukum, Kwon akhirnya diekstradisi ke Amerika Serikat pada akhir 2024. Pada Desember 2025, Hakim Paul Engelmaier menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada Kwon, menyebut tindakannya sebagai “penipuan berskala epik dan generasional”.

Perbandingan Dakwaan dan Status Hukum

Pelaku Utama Lokasi Vonis Durasi Hukuman Status Hukum Terkini (2025-2026)
Sam Bankman-Fried New York, AS 25 Tahun Penjara Menjalani masa tahanan; dalam proses banding.
Do Kwon New York, AS 15 Tahun Penjara Menjalani masa tahanan; potensi transfer ke Korsel.
Caroline Ellison New York, AS Variatif (Plea Deal) Menjalani hukuman setelah kesaksian kooperatif.
Gary Wang New York, AS Variatif (Plea Deal) Menjalani hukuman; kooperatif dengan otoritas.

Menariknya, meskipun Kwon telah divonis di AS, ia masih menghadapi tuntutan hukum yang berat di negara asalnya, Korea Selatan, atas tuduhan pelanggaran Undang-Undang Pasar Modal. Di Korea Selatan, ia berpotensi menerima hukuman lebih dari 30 tahun penjara. Berdasarkan kesepakatan pembelaan (plea agreement) di AS, jaksa tidak akan menentang permintaan transfer Kwon ke Korea Selatan setelah ia menjalani setengah dari masa hukumannya di Amerika Serikat. Hal ini mencerminkan kerja sama lintas batas yang semakin meningkat dalam menangani kejahatan ekonomi digital yang tidak mengenal batas negara.

Fajar Baru Regulasi: MiCA di Eropa dan GENIUS Act di Amerika Serikat

Menanggapi bencana finansial yang diakibatkan oleh vakum regulasi, otoritas global mulai mengimplementasikan kerangka hukum yang jauh lebih ketat antara tahun 2024 hingga 2026. Fokus utama dari regulasi baru ini adalah untuk menutup celah yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan dana seperti di FTX dan kegagalan algoritma seperti di Terra-LUNA.

Regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA) – Uni Eropa

MiCA adalah kerangka regulasi kripto komprehensif pertama di dunia yang mulai berlaku secara penuh pada awal tahun 2025. Regulasi ini memperkenalkan aturan ketat bagi penyedia layanan aset kripto (CASPs), termasuk kewajiban untuk memisahkan aset nasabah secara hukum dari aset perusahaan, transparansi mengenai cadangan, dan standar cyber-security yang tinggi melalui Digital Operational Resilience Act (DORA). MiCA secara khusus mengatur stablecoin dengan mengklasifikasikannya menjadi Asset-Referenced Tokens (ART) dan E-Money Tokens (EMT), mewajibkan penerbitnya untuk memiliki kehadiran fisik di UE dan memegang cadangan likuid 1:1.

GENIUS Act – Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, setelah bertahun-tahun ketidakpastian, Presiden Donald Trump menandatangani GENIUS Act (Guaranteeing Essential National Infrastructure in US-Stablecoins) menjadi undang-undang pada 18 Juli 2025. Ini adalah legislasi federal pertama yang memberikan kerangka kerja jelas bagi “Payment Stablecoins.”

Ketentuan utama GENIUS Act meliputi:

  • Persyaratan Cadangan 1:1: Penerbit stablecoin wajib memegang cadangan penuh dalam bentuk tunai atau Treasury AS jangka pendek.
  • Pengawasan Perbankan: Penerbit non-bank harus mendapatkan persetujuan dari Office of the Comptroller of the Currency (OCC) atau Federal Reserve.
  • Perlindungan Kebangkrutan: Memberikan hak prioritas klaim bagi pemegang stablecoin atas aset cadangan jika penerbit mengalami insolvensi.
  • Batas Ambang Pengawasan: Penerbit dengan sirkulasi lebih dari $10 miliar akan secara otomatis berada di bawah pengawasan federal langsung.
Perbandingan Fokus Regulasi Uni Eropa (MiCA) Amerika Serikat (GENIUS Act)
Pendekatan Klasifikasi Berdasarkan fungsi teknis token (EMT vs ART). Berdasarkan aktivitas (“Payment Stablecoins”).
Otoritas Pengawas ESMA dan otoritas nasional (NCA). Federal (OCC/Fed) dan regulator Negara Bagian.
Hak Penebusan Wajib pada nilai pari setiap saat. Wajib pada nilai pari; dilindungi dalam kebangkrutan.
Inovasi vs Keamanan Penekanan pada pengawasan preventif (ex ante). Penekanan pada kepastian hukum dan hak korporasi.

Selain itu, inisiatif seperti “Project Crypto” oleh SEC dan “Crypto Sprint” oleh CFTC pada tahun 2025 bertujuan untuk memodernisasi aturan perdagangan spot kripto agar dapat dilakukan di bursa terdaftar yang memiliki mekanisme pengawasan pasar yang kuat. Tujuannya adalah untuk menarik kembali bisnis kripto ke Amerika Serikat dengan memberikan kepastian hukum dan mengurangi hambatan bagi perusahaan rintisan yang ingin patuh.

Kontroversi Pemulihan Aset: Realitas Pahit Bagi Korban Kejahatan

Meskipun proses hukum dan regulasi menunjukkan kemajuan, realitas pemulihan dana bagi para korban tetap penuh dengan kontroversi. Dalam proses kebangkrutan FTX, tim manajemen baru yang dipimpin oleh John J. Ray III mengeklaim bahwa mereka telah berhasil memulihkan aset yang cukup untuk mengembalikan “100% lebih” dari nilai klaim nasabah. Namun, klaim ini mengandung jebakan hukum yang signifikan: nilai pengembalian dihitung berdasarkan harga aset kripto pada saat petisi bangkrut diajukan (November 2022), bukan harga pasar saat ini.

Sebagai contoh, seorang nasabah yang memiliki 1 Bitcoin di FTX pada November 2022 akan menerima pengembalian uang tunai sekitar $16.000 (harga saat itu). Namun, pada akhir 2024 atau awal 2025 saat distribusi dilakukan, harga 1 Bitcoin telah melonjak jauh melampaui $60.000. Secara teknis, perusahaan mengembalikan 100% dari nilai dolar tahun 2022, namun secara ekonomi nasabah tersebut kehilangan lebih dari 70% dari nilai aset yang seharusnya mereka miliki jika tidak terjadi penipuan. Ketimpangan ini memicu gelombang keberatan di pengadilan kebangkrutan, di mana nasabah berargumen bahwa mereka adalah pemilik sah aset digital tersebut dan berhak menerima pengembalian “dalam bentuk barang” (in-kind) daripada uang tunai yang telah terdepresiasi nilainya terhadap aset kripto.

Status Pemulihan Dana Nasabah Estimasi Total Klaim Estimasi Total Pemulihan Persentase Pemulihan Riil (vs Harga 2025)
FTX (Dotcom Customers) ~$9,2 Miliar ~$14 – $16 Miliar ~30% – 40% dari nilai pasar aset saat ini.
Genesis Global Variatif In-Kind (Crypto) > 100% karena pengembalian dalam bentuk koin.
Celsius Network Variatif Campuran (Crypto + Saham) Tergantung pada nilai saham entitas baru.
Terra-LUNA ~$40 Miliar Minimal Hampir 0% karena hancurnya nilai token fundamental.

Proses distribusi dana juga memakan waktu yang sangat lama. Jadwal distribusi untuk nasabah FTX baru dimulai secara bertahap pada September 2025 dan diprediksi akan berlanjut hingga 2026 melalui penyedia layanan pihak ketiga seperti BitGo dan Kraken. Keterlambatan ini bukan hanya masalah administratif, tetapi juga kerugian biaya peluang (opportunity cost) yang sangat besar bagi para investor ritel yang dananya membeku selama lebih dari tiga tahun sementara pasar mengalami pemulihan.

Sintesis: Pelajaran dari Dekade Kegelapan Kripto

Ulasan lengkap terhadap peristiwa kejahatan di era kripto antara tahun 2020 hingga 2026 mengungkapkan sebuah pola sistemis mengenai bagaimana inovasi finansial tanpa batas dapat berubah menjadi patologi ekonomi jika dibiarkan tanpa pengawasan. Kasus Terra-LUNA menunjukkan bahwa algoritma yang paling canggih sekalipun tidak dapat melawan hukum dasar ekonomi mengenai stabilitas dan kepercayaan; ketika sebuah sistem dibangun di atas subsidi buatan dan mekanisme melingkar, keruntuhan hanyalah masalah waktu. Di sisi lain, kasus FTX memberikan peringatan keras bahwa kecanggihan teknologi blockchain tidak mampu menggantikan integritas manusia dan tata kelola korporasi yang sehat. Manipulasi kode untuk menciptakan pintu belakang akses dana adalah pengkhianatan terhadap nilai dasar kriptografi yang seharusnya mempromosikan transparansi dan desentralisasi.

Vakum regulasi yang terjadi selama periode ini adalah katalis utama yang memperbesar dampak dari setiap kegagalan individu menjadi krisis sistemik global. Kurangnya klasifikasi aset yang jelas dan fragmentasi pengawasan lintas batas memungkinkan para aktor jahat untuk melakukan arbitrase regulatori dan menyembunyikan risiko dalam struktur perusahaan yang kompleks dan tidak transparan. Kehadiran regulasi baru seperti MiCA dan GENIUS Act adalah langkah korektif yang sangat dibutuhkan untuk membawa industri ini ke tingkat kedewasaan yang lebih tinggi, dengan menekankan pada perlindungan konsumen, pemisahan aset, dan akuntabilitas hukum yang setara dengan sektor perbankan tradisional.

Masa depan aset digital kini bergantung pada keseimbangan antara menjaga semangat inovasi teknologi dan menegakkan standar keamanan finansial yang ketat. Meskipun hukuman berat telah dijatuhkan kepada para pelaku utama, trauma ekonomi yang dialami jutaan investor ritel akan tetap menjadi pengingat bahwa dalam dunia keuangan, tidak ada pengganti bagi transparansi yang dapat diverifikasi secara independen. Penegakan hukum yang kuat, regulasi yang harmonis secara global, dan peningkatan literasi investor adalah tiga pilar utama yang harus diperkuat guna memastikan bahwa celah bagi kejahatan ekonomi masif di era digital tidak akan pernah terbuka lebar kembali.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

82 − = 75
Powered by MathCaptcha