Fenomena genosida budaya atau kulturisida, sebuah konsep yang pertama kali didefinisikan oleh pengacara Polandia Raphael Lemkin pada tahun 1944, kini tengah mengalami metamorfosis radikal dalam ruang siber. Jika pada awalnya Lemkin merumuskan genosida budaya sebagai penghancuran sistematis terhadap elemen-elemen kebudayaan suatu kelompok sebagai bagian dari upaya penghapusan eksistensi mereka, maka di abad ke-21, kekerasan ini tidak lagi bersifat fisik atau bersifat kebijakan negara yang kasar, melainkan bersifat algoritmik dan sistemik. Era Revolusi Industri 4.0 yang didorong oleh jaringan global internet telah menciptakan keterhubungan tanpa batas, namun secara bersamaan memunculkan ancaman terhadap keberlangsungan identitas lokal melalui homogenitas budaya global yang didominasi oleh standar estetika Barat dan budaya populer.

Transformasi ini ditandai dengan pergeseran dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun menjadi “kumpulan budaya” (cultural confluences) yang bersifat cair dan bercampur. Dalam ekosistem ini, batas-batas geografis dan etnis tradisional mulai memudar, digantikan oleh identitas virtual yang dibentuk oleh platform media sosial. Sebagai contoh, seorang pemuda dari suku Sunda kini dapat lebih mengidentifikasi dirinya dengan subkultur pop Korea daripada dengan tarian Bedhoyo Ketawang atau tradisi lokalnya sendiri. Namun, di balik kebebasan identitas ini, terdapat mekanisme algoritma yang secara aktif menyaring, memprioritaskan, dan mempromosikan bentuk-bentuk budaya tertentu sambil memarginalkan tradisi yang dianggap tidak relevan secara komersial atau tidak sesuai dengan estetika dominan.

Mekanisme Algoritmik dan Konstruksi FilterWorld

Kekuatan utama yang mendorong proses homogenisasi budaya ini adalah apa yang disebut sebagai “Estetika Algoritmik”. Algoritma pada platform seperti TikTok dan Instagram tidak sekadar menyarankan konten, tetapi secara aktif membentuk selera, persepsi kecantikan, dan standar desain pengguna melalui lingkaran umpan balik data yang kompleks. Ketika pengguna berinteraksi dengan konten tertentu, algoritma belajar untuk mempromosikan preferensi serupa, yang pada akhirnya menciptakan “homogenisasi selera” di mana tren yang repetitif menenggelamkan kreativitas yang beragam. Hal ini menyebabkan munculnya kondisi yang disebut sebagai “FilterWorld,” sebuah keadaan di mana budaya disaring secara massal hingga menjadi datar, hambar, dan seragam.

Dalam FilterWorld, individualitas sering kali hanya menjadi ilusi. Pengguna dikelompokkan ke dalam segmen-segmen minat yang sempit oleh algoritma, yang kemudian membombardir mereka dengan tren busana, musik, dan gaya hidup yang sudah ditentukan sebelumnya. Fenomena ini terlihat jelas dalam bagaimana industri musik kontemporer beroperasi; musisi kini sering kali menciptakan karya bukan berdasarkan kualitas artistik murni, melainkan berdasarkan seberapa efektif karya tersebut dapat dijadikan bahan video pendek atau “lip-sync” di TikTok. Akibatnya, elemen-elemen musik tradisional yang memiliki struktur kompleks atau narasi panjang sering kali tersingkir dari perhatian publik karena tidak memenuhi kriteria keterlibatan (engagement) yang diinginkan algoritma.

Karakteristik Budaya Tradisi Lokal Pra-Digital Budaya FilterWorld (Algoritmik)
Transmisi Turun-temurun, berbasis komunitas fisik Berbasis algoritma, lintas batas virtual
Estetika Beragam, simbolik, dan filosofis Homogen, minimalis, dan “Instagrammable”
Bahasa Dialek spesifik, kosa kata kaya Flattening linguistic, slang internet, AI-driven
Konsumsi Ritualistik, partisipasi langsung Transaksional, video pendek, “scrolling” cepat
Otonomi Dibentuk oleh sejarah dan lingkungan lokal Dibentuk oleh prediksi data dan umpan balik

Algoritma ini juga menciptakan bias sistematis yang merugikan kelompok marginal. Penelitian menunjukkan bahwa mesin pencari TikTok cenderung mengasosiasikan istilah-istilah yang menghina dan rasis dengan profil individu dari komunitas marginal, menciptakan “jalur kebencian” yang mengekspos para kreator tradisional pada risiko pelecehan. Ketidakterbukaan parameter algoritma dan penggunaan metadata internal yang tidak terlihat oleh publik membuat mekanisme marginalisasi ini sangat sulit untuk diintervensi, sehingga memperkuat hierarki sosial yang ada dalam bentuk penindasan digital yang baru.

Kolonialisme Digital dan Ekstraksi Data Budaya

Ancaman terhadap tradisi lokal diperburuk oleh fenomena “kolonialisme digital,” di mana perusahaan teknologi raksasa dari Global North mengekstraksi data, tenaga kerja, dan infrastruktur dari Global South tanpa memberikan manfaat ekonomi atau budaya yang adil. Praktik ini merupakan kelanjutan dari pola kolonial masa lalu, namun kali ini yang dijajah bukan tanah fisik, melainkan kedaulatan data dan narasi budaya. Data yang dihasilkan dari pengetahuan tradisional, praktik kebudayaan, dan wilayah adat sering kali diambil dan dikomodifikasi melalui platform digital tanpa persetujuan yang jelas dari komunitas pemiliknya.

Ketergantungan infrastruktur menjadi instrumen utama dalam kontrol ini. Sebagian besar lalu lintas internet di benua seperti Afrika masih harus melewati titik pertukaran di Eropa, yang menciptakan kerentanan terhadap pengawasan eksternal dan ketergantungan ekonomi. Dalam konteks budaya, hal ini berarti bahwa “kedaulatan digital”—kemampuan suatu bangsa untuk mengelola dan memproduksi konten budayanya sendiri—menjadi sangat terbatas. Perusahaan teknologi besar sering kali menyebarkan praktik budaya dan cara pandang dunia yang bersifat rasial dan bias, mencerminkan perspektif sempit dari kelompok pengembang perangkat lunak yang didominasi oleh pria kulit putih dari Amerika Serikat.

Dampak dari kolonialisme ini terhadap identitas budaya sangat menghancurkan. Individu yang terus-menerus terpapar pada nilai-nilai dan norma-norma budaya dominan melalui algoritma mulai menginternalisasi nilai-nilai tersebut, yang mengakibatkan perasaan terputus dari warisan budaya mereka sendiri. Budaya lokal sering kali dipandang sebagai hambatan bagi “kemajuan” atau “modernitas” yang didefinisikan secara sepihak oleh narasi digital global.

Dimensi Kolonialisme Mekanisme Eksploitasi Dampak Budaya dan Sosial
Ekstraksi Data Pengumpulan data perilaku dan budaya dari Global South Komodifikasi pengalaman hidup menjadi aset digital
Infrastruktur Kepemilikan kabel bawah laut dan pusat data oleh entitas asing Hilangnya kendali atas privasi dan keamanan data nasional
Linguistik Dominasi bahasa Inggris dalam asisten virtual (Siri, Alexa) Marginalisasi 2.000+ bahasa lokal yang tidak terlayani
Tenaga Kerja Eksploitasi moderator konten berupah rendah di Global South Paparan terhadap konten traumatis tanpa perlindungan memadai
Algoritma Prioritas konten global daripada narasi lokal Erosi nilai tradisional dan homogenisasi identitas

Linguisida Digital: Kematian Bahasa Daerah di Tangan Gawai

Salah satu manifestasi paling nyata dari genosida budaya digital adalah pergeseran bahasa daerah atau linguisida. Di Indonesia, data dari Badan Bahasa menunjukkan bahwa banyak bahasa daerah berada dalam kondisi terancam atau bahkan sudah punah. Faktor utama yang mempercepat proses ini di era digital adalah kurangnya representasi bahasa daerah di platform media sosial seperti YouTube dan Instagram. Anak-anak dari keluarga etnis tertentu, seperti suku Batak Toba di Medan, kini lebih banyak terpapar pada Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, yang dianggap sebagai bahasa kemajuan dan modernitas.

Stigma sosial terhadap bahasa daerah sebagai bahasa yang “kampungan” atau “kuno” diperkuat oleh interaksi digital yang didominasi oleh bahasa populer. Generasi muda cenderung menggunakan “bahasa gaul” internet yang terus berkembang mengikuti tren, yang sering kali mengabaikan aturan tata bahasa dan kosa kata kaya dari bahasa ibu mereka.Proses ini tidak hanya menghilangkan alat komunikasi, tetapi juga mematikan pemahaman terhadap warisan budaya lisan seperti umpasa (pantun Batak) atau narasi tradisional yang maknanya hanya dapat dipahami sepenuhnya dalam konteks linguistik aslinya.

Penelitian mengenai penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja menunjukkan bahwa fenomena ini telah merambah ke berbagai aspek komunikasi formal. Penggunaan singkatan, adaptasi bahasa asing, dan modifikasi ejaan yang masif di media sosial menyebabkan penurunan kualitas kemampuan berbahasa daerah dan nasional secara bersamaan. Hal ini menciptakan kesenjangan transmisi antargenerasi, di mana orang tua tidak lagi merasa perlu mewariskan bahasa ibu karena dianggap tidak praktis dalam lingkungan digital yang serba cepat.

Bentuk Pergeseran Bahasa Karakteristik Komunikasi Digital Dampak Terhadap Kompetensi
Abstraksi Slang Singkatan dan akronim (42%) Penurunan kosa kata spesifik dan formal
Adaptasi Asing Penggunaan istilah Inggris/Pop (28%) Erosi dialek dan logat asli daerah
Modifikasi Ejaan Penulisan kata tidak baku (18%) Hilangnya nuansa fonetik dan gramatikal
Code-Mixing Campur kode bahasa daerah dan nasional Degradasi kemurnian ekspresi budaya tradisional

Distorsi Tradisi Lisan dan Fenomena TikTok-isasi

Tradisi lisan yang merupakan fondasi identitas masyarakat adat di Nusantara kini menghadapi tantangan berupa “TikTok-isasi” kebudayaan.8 Meskipun platform video pendek menawarkan peluang visibilitas bagi budaya lokal, sering kali terjadi distorsi elemen budaya demi memenuhi selera pasar global yang dangkal. Banyak kreator konten menggunakan elemen budaya tradisional seperti pakaian adat atau tarian sakral hanya sebagai estetika visual, tanpa memahami atau menghargai makna filosofis di baliknya.

Sebagai contoh, tarian tradisional yang seharusnya dilakukan dalam konteks ritual tertentu kini sering kali dimodifikasi gerakannya agar sesuai dengan musik pop yang sedang viral. Pakaian adat seperti kebaya sering kali diubah bentuknya menjadi busana modern yang mengabaikan aturan kesopanan dan kehormatan yang terkandung dalam desain aslinya.Proses ini menciptakan homogenisasi budaya di mana identitas lokal kehilangan ruang sakralnya dan digantikan oleh tren global yang dianggap lebih “modern” dan menarik secara visual.

Transformasi dari budaya lisan ke media digital juga sering kali menghilangkan elemen spontanitas, improvisasi, dan interaksi langsung antara penutur dan pendengar.5Meskipun digitalisasi memungkinkan dokumentasi dalam skala besar, nuansa emosional dan spiritual yang hanya hadir dalam pertemuan fisik sering kali gagal diabadikan dalam format video 15 detik. Hal ini menciptakan risiko bahwa tradisi lisan akan berubah menjadi sekadar artefak digital yang mati, bukan tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.

Studi Kasus: Kearifan Lokal Sumatera Utara dalam Kepungan Digital

Sumatera Utara memiliki kekayaan kearifan lokal yang beragam, mulai dari tradisi Fahombo (Lompat Batu) di Nias hingga upacara Mangongkal Holi pada suku Batak Toba. Namun, modernisasi dan digitalisasi telah mengubah cara masyarakat memandang dan melaksanakan tradisi-tradisi ini. Tradisi Marsialapari (gotong royong di sawah) dalam masyarakat Mandailing, misalnya, mulai sulit ditemukan bukan hanya karena perubahan gaya hidup, tetapi juga karena kemajuan teknologi pertanian yang menggantikan tenaga manusia kolektif dengan mesin.

Tradisi Mangongkal Holi, yang merupakan ritual penggalian tulang belulang leluhur untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak, tetap dijaga sebagai bentuk penghormatan sakral. Namun, di wilayah urban, pelaksanaan upacara ini sering kali mulai beralih menggunakan Bahasa Indonesia agar dapat dipahami oleh generasi muda yang sudah tidak lagi menguasai bahasa daerah secara aktif. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ritual fisiknya masih ada, esensi linguistik dan nilai filosofis yang terkandung dalam doa-doa tradisional mulai memudar.

Kearifan Lokal Asal Suku Fungsi dan Makna Tradisional Status di Era Modern/Digital
Fahombo Nias Ritual pendewasaan laki-laki Menjadi atraksi wisata dan simbol budaya nasional
Mangongkal Holi Batak Toba Penghormatan leluhur, pemersatu keluarga Tetap dilaksanakan namun dengan biaya besar dan pergeseran bahasa
Sigale-Gale Samosir Ritual duka bagi raja yang tidak memiliki keturunan Menjadi pertunjukan seni untuk wisatawan
Gundala-Gundala Karo Ritual pemanggil hujan (Ndilo Wari Udan) Jarang dipentaskan, lebih bersifat teatrikal festival
Marsialapari Mandailing Gotong royong dalam pertanian Tergerus oleh teknologi traktor dan mekanisasi

Kearifan lokal lainnya seperti tarian Gundala-Gundala dari suku Karo, yang awalnya merupakan ritual pemanggil hujan, kini lebih banyak dikenal sebagai hiburan estetis di media sosial. Meskipun viralnya video-video tarian tradisional dapat meningkatkan kesadaran publik, terdapat kekhawatiran bahwa generasi muda hanya akan melihat tradisi tersebut sebagai gaya hiburan semata, bukan sebagai bagian dari identitas spiritual mereka.

Peran Digital Humanities dan Kecerdasan Buatan dalam Revitalisasi

Di tengah ancaman kepunahan, teknologi digital juga menawarkan solusi inovatif melalui bidang Digital Humanities. Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) menjadi keharusan dalam upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah yang terancam punah. Teknologi AI dapat mengotomatisasi proses dokumentasi bahasa melalui pengenalan suara yang mampu merekam dan mentranskripsikan percakapan penutur asli ke dalam format digital yang dapat dianalisis.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan model subtitle video otomatis berbasis Large Language Model (LLM) untuk mendukung upaya pelestarian bahasa di era digital. Teknologi ini memungkinkan video dalam bahasa Indonesia secara otomatis diterjemahkan ke bahasa daerah, atau sebaliknya, sehingga memudahkan generasi muda untuk mempelajari bahasa ibu mereka melalui media yang mereka gunakan setiap hari. Selain itu, AI juga digunakan untuk menciptakan asisten virtual yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah, memberikan dukungan latihan percakapan secara real-time kepada pengguna.

Inovasi Teknologi Instrumen/Platform Fungsi dalam Pelestarian Budaya
LLM & Neural Networks Model Subtitle Otomatis BRIN 32 Transkripsi dan terjemahan otomatis bahasa daerah
Augmented Reality (AR) Portal Belajar Tarian Sumbawa Interaksi visual interaktif dengan seni tradisional
Digital Libraries Perpustakaan Digital Budaya Indonesia Dokumentasi partisipatif dan pengawasan data budaya
WikiLatih Wikipedia Bahasa Daerah Penyediaan informasi budaya terbuka dalam bahasa lokal
Gamifikasi Game Tema Budaya Lokal Edukasi nilai tradisi kepada anak-anak secara menarik

Penggunaan teknologi Augmented Reality (AR) juga memberikan dimensi baru dalam pelestarian seni budaya. Melalui AR, seniman dapat memperkenalkan keindahan tari-tarian tradisional dengan cara yang lebih interaktif dan menarik bagi generasi milenial. Pendekatan ini membuktikan bahwa teknologi tidak harus menghilangkan budaya; justru, manusia sebagai penentu kebijakan harus menjadikan teknologi sebagai fasilitas untuk memperkuat eksistensi budaya lokal.

Strategi Membangun Kedaulatan Budaya di Era Digital

Untuk melawan arus genosida budaya, diperlukan strategi pembangunan kedaulatan digital yang komprehensif. Kedaulatan budaya digital didefinisikan sebagai kemampuan sebuah bangsa untuk mengelola, memproduksi, dan menyebarluaskan konten budayanya sendiri tanpa harus tunduk pada dominasi algoritma asing. Pemerintah memegang peran penting sebagai fasilitator dan regulator dalam menyusun kebijakan budaya digital yang inklusif, serta memberikan dukungan nyata terhadap digitalisasi kekayaan budaya sebagai bentuk pelestarian.

Integrasi literasi budaya digital ke dalam sistem pendidikan merupakan langkah krusial lainnya. Pendidikan karakter harus mencakup pemahaman tentang nilai-nilai luhur Pancasila dan kearifan lokal agar generasi muda mampu memfilter pengaruh negatif budaya luar. Literasi ini tidak hanya sebatas kemampuan teknis, tetapi juga harus menanamkan rasa bangga terhadap identitas nasional di tengah interaksi global di ruang digital.

Keterlibatan komunitas melalui inisiatif partisipatif seperti Perpustakaan Digital Budaya Indonesia sangat penting untuk memastikan bahwa dokumentasi budaya dilakukan secara akurat dan berkelanjutan. Dengan melihat budaya sebagai informasi yang dapat disimpan dan dibagikan secara digital, masyarakat dapat bersama-sama membangun ekosistem pelestarian yang tangguh menghadapi tantangan zaman. Upaya kolektif dari pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif menjadi kunci utama untuk menjaga agar warisan leluhur Indonesia tetap hidup dan relevan di masa depan.

Kesimpulan

Genosida budaya di era digital bukan lagi sekadar ancaman teoritis, melainkan proses nyata yang didorong oleh hegemoni algoritma dan praktik kolonialisme data. Dominasi budaya global yang seragam secara perlahan menghapus keberagaman linguistik, mendistorsi tradisi lisan, dan memarginalkan kearifan lokal yang tidak memiliki nilai komersial dalam ekosistem FilterWorld. Di wilayah seperti Sumatera Utara, pergeseran bahasa dan nilai budaya pada generasi muda menunjukkan betapa mendesaknya intervensi strategis untuk melindungi identitas nasional.

Namun, teknologi yang sama yang digunakan untuk menghomogenkan budaya juga menyimpan potensi untuk merevitalisasinya. Melalui pemanfaatan AI, dokumentasi digital yang partisipatif, dan pembangunan kedaulatan digital nasional, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah tantangan menjadi fasilitas pelestarian. Masa depan tradisi lokal bergantung pada kemampuan kita untuk mengintegrasikan nilai-nilai kuno ke dalam format modern yang inklusif, memastikan bahwa algoritma di masa depan tidak hanya menghitung keterlibatan, tetapi juga menghargai keberagaman budaya manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

83 − = 76
Powered by MathCaptcha