Lanskap sosiokultural kontemporer tengah menyaksikan pergeseran paradigma yang fundamental dalam persepsi manusia terhadap tubuh dan penderitaan. Fenomena yang diidentifikasi sebagai budaya ekstasi fisik mencerminkan suatu kondisi di mana rasa sakit tidak lagi dipandang sebagai sekadar malafungsi biologis yang harus dieliminasi, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah instrumen untuk mencapai intensitas eksistensial dan, yang lebih signifikan, sebuah komoditas dalam pasar pengalaman global. Dalam era kapitalisme lanjut, di mana kenyamanan material telah mencapai titik jenuh di negara-negara Barat yang makmur, pencarian akan “yang nyata” (the real) sering kali bermuara pada pengujian batas-batas fisik melalui rasa sakit.
Evolusi ini berakar pada transformasi struktur sosial pada kuartal terakhir abad kedua puluh, di mana terjadi peralihan kekuasaan dari lembaga-lembaga kesejahteraan kolektif menuju mekanisme tanggung jawab individu yang terfragmentasi. Dalam konteks ini, tubuh muncul sebagai proyek identitas utama. Ketika institusi sosial lama tidak lagi mampu memberikan rasa aman atau makna, individu berpaling pada tubuh mereka sendiri sebagai situs kedaulatan terakhir. Rasa sakit, dalam kapasitasnya yang paling ekstrem, memberikan bukti tak terbantahkan tentang keberadaan diri (selfhood) di tengah dunia yang semakin termediasi secara digital dan abstrak.
Ontologi Tubuh dan Sosiologi Rasa Sakit
Memahami rasa sakit sebagai komoditas memerlukan dekonstruksi terhadap pemahaman medis tradisional. Secara klinis, rasa sakit sering kali dibedakan dari penyakit; seseorang mungkin merasakan sakit tanpa adanya patologi organik yang mengganggu fungsi dasar seperti makan atau tidur.2 Namun, sosiologi tubuh, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti David Le Breton, memandang tubuh bukan sebagai entitas statis, melainkan sebagai proses yang terus-menerus dikonstruksi melalui interaksi budaya.
Pergeseran dari Tubuh Patuh ke Tubuh Provokatif
Dalam modernitas awal, tubuh dipandang sebagai instrumen produktivitas yang harus didisiplinkan. Namun, dalam masyarakat konsumen saat ini, tubuh menjadi “malleable” atau lentur, sebuah objek yang dapat dibentuk dan dimanipulasi untuk proyek identitas. Ketika tubuh gagal—baik melalui penyakit, penuaan, atau rasa sakit—ia sering kali dianggap sebagai hambatan bagi identitas konsumen. Namun, muncul sebuah paradoks: rasa sakit yang disengaja justru digunakan untuk menantang “abjeksi” atau penolakan sosial terhadap tubuh yang rentan.
Budaya ekstasi fisik memanfaatkan “recalcitrance” atau ketegaran tubuh ini. Dengan memaksa tubuh masuk ke dalam kondisi rasa sakit yang ekstrem, individu merasa mereka sedang melakukan “grounding” atau penjangkaran diri terhadap realitas material yang mentah. Efek dari intensitas fisik ini sering kali memberikan kelegaan emosional yang bertahan selama beberapa jam hingga beberapa hari, berfungsi sebagai strategi regulasi emosi bagi mereka yang mengalami disosiasi dalam kehidupan sehari-hari.
Tabel 1: Evolusi Paradigma Tubuh dan Rasa Sakit
| Era | Status Tubuh | Fungsi Rasa Sakit | Orientasi Ekonomi |
| Pre-Modern | Wadah Jiwa / Takdir | Cobaan Ilahi / Penebusan | Non-komoditas (Religius) |
| Modernitas Awal | Mesin Produktif | Sinyal Kerusakan Mekanis | Biaya Produksi (Kerugian) |
| Modernitas Lanjut | Proyek Identitas | Instrumen Ekstasi dan Kebenaran | Komoditas Pengalaman |
| Era Neoliberal | Modal Eksistensial | Bukti Ketangguhan (Edgework) | Aset Branding Pribadi |
Edgework: Sosiologi Risiko dan Pencarian Batas
Konsep edgework menjadi pilar teoretis dalam menjelaskan mengapa rasa sakit menjadi diinginkan. Edgework merujuk pada aktivitas sukarela yang melibatkan risiko fisik, mental, atau sosial yang ekstrem, di mana individu sengaja mendekati “tepi” (edge) antara hidup dan mati, atau antara integrasi dan disintegrasi mental. Dalam masyarakat yang sangat teratur, edgework menawarkan semacam “pembebasan” dari rutinitas yang membosankan.
Mekanisme Psikososial dalam Edgework
Individu yang terlibat dalam edgework sering kali melaporkan perasaan kontrol yang luar biasa tepat pada saat mereka berada dalam situasi yang paling tidak terkendali. Rasa sakit fisik yang muncul dalam aktivitas seperti olahraga ekstrem atau modifikasi tubuh yang intens tidak dirasakan sebagai penderitaan negatif, melainkan sebagai “ekstasi”. Ini adalah bentuk pengetahuan transendental yang diperoleh melalui tubuh; sebuah kebenaran yang tidak dapat diakses melalui rasionalitas murni.
Kapitalisme kontemporer telah dengan cepat menangkap fenomena ini. Risiko dan rasa sakit tidak lagi menjadi wilayah eksklusif bagi para pemberontak sosial, melainkan telah diintegrasikan ke dalam ekonomi pasar sebagai produk gaya hidup. Keanggotaan di gimnasium elit yang menawarkan pelatihan gaya militer, partisipasi dalam perlombaan ketahanan yang menyiksa, hingga prosedur kosmetik yang menyakitkan, semuanya adalah bentuk konsumsi rasa sakit yang dilembagakan.
Ekonomi Trauma: Penderitaan sebagai Produk Global
Salah satu manifestasi paling kompleks dari rasa sakit sebagai komoditas adalah apa yang disebut sebagai “ekonomi trauma”. Dalam konteks ini, memori penderitaan kolektif dan tragedi kemanusiaan dikemas ulang untuk konsumsi global melalui media dan industri hiburan.
Komodifikasi Memori dan Tragedi
Kasus Medellín di Kolombia memberikan ilustrasi yang tajam. Narasi tentang kekerasan narco-terorisme yang menyebabkan penderitaan bagi ribuan orang telah diubah menjadi komoditas fiksional melalui industri narco-shows. Terdapat kontras yang menyakitkan antara dampak sensorik dan emosional yang nyata pada para korban dengan nada hiburan yang ringan yang disajikan kepada audiens global. Hal ini menciptakan hierarki korban global, di mana penderitaan di Global South sering kali hanya dianggap berharga jika ia dapat menghibur audiens di Global North.
Komodifikasi ini juga terlihat dalam “pariwisata gelap” (dark tourism). Lokasi-lokasi yang terkait dengan kematian, penderitaan, atau peristiwa kelam menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari sensasi emosional yang intens. Di sini, etika penderitaan sering kali dikalahkan oleh logika pasar, di mana rasa sakit orang lain menjadi objek konsumsi yang sah.
Tabel 2: Struktur Ekonomi Trauma Global
| Komponen | Deskripsi Mekanisme | Dampak Sosial |
| Produk | Memori traumatis, narasi kekerasan, situs tragedi. | Fiksionalisasi penderitaan nyata. |
| Saluran Distribusi | Platform streaming global, media sosial, pariwisata. | Globalisasi narasi trauma lokal. |
| Nilai Tambah | Otentisitas, intensitas emosional, voyeurisme. | Re-viktimisasi korban asli. |
| Konsumen | Audiens global yang mencari “ekstasi” sensorik. | Erosi empati melalui konsumsi berulang. |
Estetika Rasa Sakit dan Ekstasi dalam Seni dan Sastra
Budaya ekstasi fisik memiliki akar yang dalam pada estetika dan sastra, di mana penderitaan sering kali disublimasikan menjadi keindahan atau kebenaran. Dalam evolusi estetisisme, rasa sakit dipandang sebagai cara untuk melampaui kondisi alamiah manusia dan mencapai “evolusi apotheosis”.
Perspektif Sastra: Dari Woolf hingga Walker
Virginia Woolf dalam refleksinya tentang sakit menekankan bagaimana kondisi fisik yang lemah justru dapat memperluas persepsi seseorang terhadap dunia, sesuatu yang sering kali diabaikan oleh sastra yang terlalu fokus pada pikiran. Namun, pengalaman ekstasi fisik ini sering kali dibatasi oleh konstruksi gender; bagi laki-laki, ekstasi fisik sering digambarkan sebagai penguasaan atas elemen alam, sementara bagi perempuan, ia sering kali menjadi ruang untuk mengeksplorasi batas-batas tubuh yang selama ini ditekan oleh norma sosial.
Dalam karya Alice Walker, seperti Meridian, rasa sakit fisik dikaitkan dengan perjuangan rasial dan spiritual. Karakter seperti Feather Mae menemukan ekstasi fisik melalui pemujaan alam yang tidak konvensional, yang pada dasarnya merupakan bentuk penolakan terhadap agama yang terinstitusi dan opresif. Di sini, rasa sakit dan ekstasi fisik menjadi alat perlawanan politik dan cara untuk merebut kembali kepemilikan atas tubuh dan tanah yang telah dirampas oleh rasisme struktural.
Komodifikasi Rasa Sakit dalam Seni Rupa
Dunia seni rupa menunjukkan bagaimana penderitaan pribadi seniman dapat meningkatkan nilai pasar karya mereka. Fenomena Jean-Michel Basquiat adalah contoh nyata di mana karya yang berbicara tentang rasisme dan penderitaan dikomodifikasi oleh komunitas seni yang sering kali memiliki prasangka yang sama dengan yang dikritik oleh karya tersebut. Rasa sakit dalam seni menjadi bentuk “artivisme” yang, meskipun memiliki potensi subversif, tetap terperangkap dalam logika kapitalis yang menghargai trauma sebagai nilai jual unik.
Dimensi Biopolitik: Kontrol, Label, dan Resistensi
Rasa sakit sebagai komoditas tidak dapat dipisahkan dari mekanisme kekuasaan atau biopolitik. Sejarah menunjukkan bagaimana otoritas menggunakan persepsi terhadap rasa sakit untuk mengkategorikan dan mengontrol populasi.
Legasi Lombroso dan Patologisasi
Pada akhir abad ke-19, Cesare Lombroso mengajukan teori bahwa kriminalitas bersifat naluriah dan dapat diidentifikasi melalui karakteristik fisik, termasuk “ketidakpekaan terhadap rasa sakit”. Meskipun teori ini telah lama didiskreditkan, esensinya tetap ada dalam cara masyarakat modern melabeli individu. Pelabelan seperti “insomniac” atau penderita gangguan mental sering kali membawa beban tanggung jawab individu, di mana seseorang dianggap bersalah atas kondisi fisiknya sendiri.
Perlawanan melalui Pengetahuan Tubuh: Proyek Icarus
Sebagai bentuk perlawanan terhadap paradigma psikiatri dominan, gerakan seperti Proyek Icarus mencoba mendefinisikan ulang penderitaan mental bukan sebagai “penyakit”, melainkan sebagai ruang di antara “kecerdasan dan kegilaan”. Mereka berargumen bahwa penderitaan emosional sering kali berakar pada ketidakadilan sosial. Dengan menggunakan analisis wacana Foucaultian, mereka mencoba merebut kembali narasi tentang rasa sakit dari tangan institusi medis dan menjadikannya sumber inspirasi dan harapan bagi komunitas.
Dalam masyarakat ekstasi fisik, nilai \alpha cenderung sangat tinggi, terutama jika pengalaman tersebut dapat didokumentasikan dan dibagikan dalam jejaring sosial, yang merupakan kunci utama dari gerakan sosial dan identitas baru.
Tabel 3: Perbandingan Biaya dan Manfaat dalam Komodifikasi Rasa Sakit
| Aspek | Manfaat bagi Konsumen | Risiko/Biaya bagi Individu | Dampak Sistemik |
| Psikologis | Perasaan “hidup” dan otentik. | Trauma psikis, adiksi terhadap risiko. | Normalisasi penderitaan. |
| Fisik | Peningkatan ambang batas rasa sakit. | Cedera kronis, penuaan dini. | Beban pada sistem kesehatan. |
| Sosial | Status sebagai “penyintas” atau “ahli”. | Isolasi dari mereka yang “lemah”. | Erosi solidaritas sosial. |
| Ekonomi | Akses ke komunitas elit. | Biaya partisipasi yang tinggi. | Konsentrasi kekayaan di industri hiburan/kesehatan. |
Sosiologi Sensorik dan Masa Depan Tubuh
Munculnya “revolusi indrawi” dalam ilmu sosial menandai pengakuan bahwa budaya memediasi sensasi kita.David Le Breton menekankan bahwa kita sedang berada di “waktu indra”, di mana penelitian kualitatif harus mempertimbangkan bagaimana manusia merasakan dunia melalui tubuh mereka secara langsung.
Dystoposthesia dan Sensitivitas Lingkungan
Masa depan budaya ekstasi fisik mungkin akan sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Konsep “dystoposthesia” mengeksplorasi bagaimana sensitivitas lingkungan yang meningkat—seperti dalam kasus Long Covid atau alergi lingkungan—menciptakan bentuk penderitaan baru yang tidak terlihat namun meluas. Dalam konteks ini, rasa sakit bukan lagi pilihan sukarela dalam edgework, melainkan kondisi permanen yang harus dikelola.
Kapitalisme akan terus beradaptasi dengan menciptakan produk-produk yang menjanjikan “penghilang rasa sakit” yang diproduksi secara internal oleh otak (seperti endorfin) melalui aktivitas atau zat tertentu, menjadikan mekanisme biologis penyembuhan itu sendiri sebagai komoditas mencari keuntungan.
Kesimpulan: Paradoks Rasa Sakit dalam Masyarakat Modern
Budaya ekstasi fisik adalah manifestasi dari krisis makna dalam modernitas lanjut. Ketika dunia eksternal terasa semakin tidak pasti dan tidak terkendali, individu mencari kepastian dalam intensitas rasa sakit fisik mereka sendiri. Transformasi rasa sakit menjadi komoditas baru mencerminkan kemampuan kapitalisme untuk mengintegrasikan pengalaman manusia yang paling intim dan menyakitkan ke dalam siklus produksi dan konsumsi.
Meskipun bagi sebagian orang, pencarian ekstasi melalui rasa sakit menawarkan jalan menuju transendensi dan pembebasan dari norma sosial yang kaku, bagi masyarakat secara luas, hal ini membawa risiko devaluasi penderitaan yang nyata. Komodifikasi trauma global dan pemujaan terhadap risiko dapat mengaburkan penyebab struktural dari penderitaan manusia—seperti rasisme, ketidakadilan ekonomi, dan pengabaian negara—dan menggantinya dengan narasi ketangguhan individu yang dapat dipasarkan.
Pada akhirnya, memahami mengapa rasa sakit menjadi komoditas baru menuntut kita untuk mempertanyakan kembali apa artinya menjadi manusia di dunia yang menghargai intensitas di atas kedalaman, dan tontonan di atas empati. Tubuh yang menderita, baik dalam ekstasi maupun dalam kesengsaraan, tetap menjadi situs perjuangan politik yang paling dasar; sebuah arena di mana batas-batas antara kebebasan individu dan eksploitasi pasar terus-menerus diuji. Navigasi masa depan kita akan sangat bergantung pada kemampuan kita untuk mengklaim kembali rasa sakit sebagai pengalaman manusia yang sah yang menuntut kepedulian kolektif, bukan sekadar nilai tukar di pasar pengalaman.
