Fenomena eko-fasisme muncul sebagai salah satu paradoks paling tajam dalam diskursus politik dan lingkungan kontemporer. Di satu sisi, dunia sedang menghadapi krisis eksistensial berupa perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan menipisnya sumber daya alam yang menuntut tindakan segera. Namun, di sisi lain, keprihatinan yang sah ini mulai dipasung oleh ideologi ultra-nasionalis dan supremasi kulit putih yang menggunakan retorika pelestarian alam untuk membenarkan kebencian, eksklusi, dan kekerasan terhadap kelompok marginal. Eko-fasisme bukan sekadar varian ekstrem dari environmentalisme, melainkan sebuah sintesis berbahaya yang menggabungkan kepedulian ekologis dengan fasisme otoriter, sering kali berakar pada sejarah panjang rasisme ilmiah dan nasionalisme romantis.

Analisis terhadap eko-fasisme memerlukan pemahaman mendalam tentang bagaimana narasi “bumi sedang penuh” atau “kelebihan populasi” digunakan sebagai senjata politik. Ideologi ini menggeser fokus dari penyebab sistemik kerusakan lingkungan—seperti kapitalisme ekstraktif dan konsumsi berlebihan di belahan bumi utara—menjadi serangan terhadap tubuh-tubuh imigran dan komunitas non-kulit putih yang dianggap sebagai “invasi” yang mengancam keseimbangan ekologi suatu negara. Dengan menanggalkan landasan kemanusiaan universal, niat untuk menjaga lingkungan berubah menjadi instrumen penindasan yang melihat sebagian manusia sebagai “hama” yang harus dieliminasi demi kelangsungan hidup kelompok yang dianggap superior.

Genealogi Historis dan Akar Ideologi Hijau dalam Fasisme

Akar intelektual eko-fasisme dapat ditelusuri kembali ke gerakan völkisch di Jerman pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh romantisisme Jerman yang memandang alam bukan sebagai objek sumber daya semata, melainkan sebagai esensi dari identitas nasional. Tokoh-tokoh seperti Ernst Moritz Arndt dan Wilhelm Heinrich Riehl mulai mengaitkan kesehatan ekosistem Jerman secara langsung dengan kemurnian rakyatnya. Arndt, misalnya, mengecam penggundulan hutan bukan hanya karena alasan ekologis, tetapi karena ia percaya bahwa karakter bangsa Jerman terkait erat dengan hutan-hutannya yang rimbun.

Konsep ini kemudian dikristalisasi oleh rezim Nasional Sosialis (Nazi) melalui doktrin Blut und Boden atau “Darah dan Tanah”. Doktrin ini menyatakan adanya hubungan mistis dan tak terpisahkan antara ras Arya dengan tanah air mereka. Richard Walther Darré, Menteri Pangan dan Pertanian Reich, adalah arsitek utama di balik ideologi ini. Darré memandang petani sebagai sumber kehidupan ras Jerman dan mengusulkan kembali ke cara-cara pertanian tradisional yang “organik” untuk melawan pengaruh urbanisasi dan industrialisasi yang dianggap sebagai produk dari “materialisme Yahudi”.

Periode Perkembangan Ideologis Tokoh/Konsep Utama Dampak Terhadap Lingkungan & Sosial
Abad ke-19 Nasionalisme Romantis (Völkisch) Ernst Moritz Arndt, Wilhelm Riehl Mengikat identitas rasial dengan lanskap alam tertentu; xenofobia awal.
1930-an Nazi Ecology / Blut und Boden Richard Walther Darré, Walther Schoenichen Integrasi konservasi alam dengan eugenika; pengusiran populasi non-Arya.
1940-an Lebensraum (Ruang Hidup) Adolf Hitler, Heinrich Himmler Ekspansi teritorial untuk mengamankan sumber daya bagi “ras unggul”.
1960-an Neo-Malthusianisme Modern Paul Ehrlich (The Population Bomb) Mempopulerkan ketakutan akan ledakan populasi di belahan bumi selatan.
2010-an Eko-fasisme Digital Manifestos Tarrant & Crusius Terorisme massal yang dipicu oleh paranoia “The Great Replacement”.

Nazi Jerman sering kali disebut sebagai salah satu pemerintahan pertama yang memberlakukan undang-undang perlindungan alam yang komprehensif, seperti Reichsnaturschutzgesetz tahun 1935. Namun, penting untuk dicatat bahwa kebijakan lingkungan ini tidak didasarkan pada altruisme ekologis universal. Sebaliknya, konservasi alam digunakan untuk memperkuat rasa superioritas rasial dan sebagai alat kontrol sosial. Bagi Nazi, melindungi alam Jerman berarti melindungi ruang hidup (Lebensraum) bagi ras Arya, yang sering kali melibatkan penghancuran ekosistem di wilayah pendudukan dan genosida terhadap penduduk asli yang dianggap sebagai “elemen yang tidak diinginkan”.

Narasi Overpopulasi: Senjata Neo-Malthusianisme

Inti dari argumen eko-fasis kontemporer adalah pemanfaatan narasi overpopulasi yang berakar pada teori Thomas Malthus. Malthus berpendapat bahwa populasi manusia tumbuh secara geometris sementara produksi pangan hanya tumbuh secara aritmetika, yang pada akhirnya akan menyebabkan keruntuhan sosial jika populasi tidak dikendalikan. Pada abad ke-20, narasi ini diperbarui oleh Paul Ehrlich melalui bukunya The Population Bomb, yang secara spesifik menyoroti tingkat pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang seperti India sebagai ancaman bagi kelangsungan planet.

Kelompok eko-fasis mengadopsi logika ini dan memberinya warna rasis yang kental. Mereka berargumen bahwa bumi memiliki “kapasitas tampung” (carrying capacity) yang telah terlampaui, dan cara paling efektif untuk menyelamatkan lingkungan adalah dengan mengurangi jumlah manusia, khususnya mereka yang dianggap sebagai beban bagi ekosistem Barat. Dalam pandangan ini, imigrasi dipandang sebagai “invasi ekologis” yang meningkatkan tekanan pada sumber daya alam negara-negara maju.

Data empiris menunjukkan bahwa narasi ini tidak hanya rasis, tetapi juga secara ilmiah cacat. Sebagian besar kerusakan lingkungan global tidak didorong oleh jumlah orang, melainkan oleh pola konsumsi yang ekstrem. Misalnya, laporan dari Oxfam dan World Bank menunjukkan kesenjangan yang luar biasa dalam kontribusi emisi karbon global berdasarkan kekayaan.

Kelompok Populasi Kontribusi Emisi Karbon Global Tingkat Konsumsi & Dampak
1% Terkaya di Dunia ~16-17% Sangat tinggi; gaya hidup mewah, jet pribadi, investasi fosil.
10% Terkaya di Dunia ~50% Bertanggung jawab atas separuh emisi individu dunia.
50% Termiskin di Dunia ~7-10% Dampak minimal; sering kali hidup dalam kemiskinan energi.
Populasi di Sub-Sahara Afrika Sangat Rendah Memiliki emisi per kapita terendah meskipun pertumbuhan populasi tinggi.

Ketidakseimbangan ini membuktikan bahwa pengurangan populasi di negara-negara miskin—yang menjadi sasaran retorika eko-fasis—tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap mitigasi perubahan iklim. Sebaliknya, gaya hidup kelas atas di negara-negara maju yang memiliki angka kelahiran rendah justru merupakan pendorong utama degradasi lingkungan global. Eko-fasisme dengan sengaja mengaburkan fakta ini untuk mengalihkan tanggung jawab dari sistem ekonomi global yang eksploitatif ke pundak para pengungsi dan imigran.

Etika Sekoci dan Dehumanisasi Kelompok Marginal

Salah satu konsep filosofis yang sering dikutip dalam literatur eko-fasis adalah “Etika Sekoci” (Lifeboat Ethics) yang dikembangkan oleh Garrett Hardin. Hardin berpendapat bahwa negara-negara kaya adalah sekoci yang terapung di laut, sementara negara-negara miskin adalah orang-orang yang tenggelam di sekitarnya. Menurut Hardin, jika sekoci tersebut mencoba menyelamatkan semua orang, ia akan kelebihan beban dan akhirnya semua akan tenggelam. Oleh karena itu, tindakan yang paling “bermoral” bagi kelangsungan hidup spesies adalah dengan menutup perbatasan dan membiarkan mereka yang berada di luar binasa.

Logika ini memberikan landasan bagi dehumanisasi yang ekstrem. Dalam kerangka eko-fasis, manusia tidak lagi dipandang sebagai individu yang memiliki hak asasi, melainkan sebagai unit biologis dalam perhitungan ketersediaan sumber daya. Imigran sering kali disamakan dengan “spesies invasif” yang merusak habitat asli. Metafora ini sangat berbahaya karena jika seseorang dianggap sebagai hama atau spesies pengganggu, maka “solusi” yang dianggap wajar adalah pembasmian atau eliminasi.

Penerapan etika sekoci ini terlihat jelas dalam kebijakan yang mendukung penutupan perbatasan dengan alasan “ketahanan lingkungan”. Kelompok sayap kanan sering kali berargumen bahwa membiarkan pengungsi iklim masuk ke negara mereka akan menghancurkan standar hidup ekologis yang telah dicapai. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana negara-negara maju, yang paling bertanggung jawab atas perubahan iklim yang menghancurkan negara-negara berkembang, kemudian menggunakan kerusakan lingkungan tersebut sebagai alasan untuk menolak memberikan perlindungan bagi korban yang mereka ciptakan sendiri.

Manifestasi Kekerasan: Analisis Manifesto Christchurch dan El Paso

Puncak dari retorika eko-fasis adalah tindakan terorisme yang dilakukan oleh individu-individu yang telah teradikalisasi secara daring. Dua insiden yang paling mencolok dalam sejarah modern adalah penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, dan El Paso, Texas, yang keduanya terjadi pada tahun 2019. Kedua pelaku meninggalkan manifesto yang secara eksplisit menghubungkan ideologi rasis mereka dengan kepedulian lingkungan.

Brenton Tarrant, pelaku serangan di Christchurch, mendefinisikan dirinya sebagai seorang “eko-fasis” dalam manifestonya yang berjudul “The Great Replacement”. Ia berargumen bahwa tingkat kelahiran yang tinggi di kalangan populasi non-Eropa merupakan bentuk “genosida kulit putih” dan ancaman bagi lingkungan hidup di Barat. Tarrant menyatakan bahwa pelestarian alam tidak dapat dipisahkan dari pelestarian identitas rasial, sebuah pengulangan modern dari doktrin Blut und Boden.

Beberapa bulan kemudian, Patrick Crusius melakukan serangan di sebuah toko Walmart di El Paso, Texas, yang menargetkan warga keturunan Hispanik. Dalam manifestonya yang berjudul “The Inconvenient Truth” (judul yang dipinjam dari dokumenter Al Gore tentang perubahan iklim), ia menyatakan bahwa serangan tersebut adalah respons terhadap “invasi Hispanik di Texas”. Crusius secara rinci membahas degradasi lingkungan di Amerika Serikat dan mengklaim bahwa gaya hidup Amerika tidak berkelanjutan. Alih-alih mengusulkan perubahan gaya hidup atau sistem ekonomi, ia menyimpulkan bahwa satu-satunya solusi adalah dengan “menyingkirkan cukup banyak orang” untuk melindungi sumber daya yang tersisa bagi warga kulit putih.

Analisis terhadap kedua manifesto ini menunjukkan beberapa tema kunci:

  1. Malthusianisme yang Senjata-kan: Keyakinan bahwa ada terlalu banyak manusia dan bahwa proses seleksi harus didasarkan pada ras.
  2. Paranoia Penggantian Rasial: Teori konspirasi bahwa elite global sengaja mengganti populasi kulit putih dengan imigran yang “lebih mudah dikendalikan”.
  3. Akselerasionisme Hijau: Gagasan bahwa sistem saat ini sudah terlalu rusak untuk diperbaiki, sehingga kekerasan diperlukan untuk mempercepat keruntuhan masyarakat dan membangun kembali tatanan baru yang berbasis ekologi-rasial.

Kejadian-kejadian ini membuktikan bahwa eko-fasisme bukan sekadar teori pinggiran di forum internet, melainkan ancaman keamanan nyata yang dapat memicu kekerasan massal terhadap kelompok etnis tertentu atas nama penyelamatan bumi.

Estetika Digital dan Strategi Rekrutmen di Media Sosial

Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari eko-fasisme modern adalah cara mereka menyebarkan ideologi melalui estetika yang tampak tenang dan menarik di media sosial. Platform seperti Telegram dan Pinterest sering digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang menampilkan pemandangan alam yang murni, hutan yang berkabut, dan pegunungan Nordik yang megah. Estetika ini sering kali digabungkan dengan kutipan tentang spiritualitas alam, kearifan leluhur, dan kritik terhadap kehidupan perkotaan yang dianggap dekaden.

Peneliti Maria Darwish mengidentifikasi tren gambar “pria kontemplatif di alam” sebagai strategi rekrutmen yang halus. Gambar-gambar ini menampilkan laki-laki kulit putih yang tampak tenang, sedang memasak di atas api unggun atau memandang lanskap yang luas, tanpa senjata atau simbol kebencian yang terang-terangan. Namun, gambar-gambar ini sering kali diberi label (hashtag) eko-fasisme dan menyisipkan simbol-simbol seperti rune othala atau matahari hitam (schwarze sonne).

Strategi ini bertujuan untuk:

  • Normalisasi Ideologi: Membuat ideologi ekstremis tampak lebih dapat diterima dengan menghubungkannya dengan hobi populer seperti mendaki gunung, berkemah, dan gaya hidup berkelanjutan.
  • Menarik Kaum Muda: Menawarkan rasa memiliki, identitas, dan tujuan hidup bagi pemuda laki-laki yang merasa teralienasi oleh modernitas dan krisis iklim.
  • Membangun Komunitas: Menciptakan ruang daring di mana kebencian terhadap “pihak luar” dipupuk di bawah kedok “cinta” terhadap tanah air dan alam.

Selain itu, muncul fenomena “schizoposting” dan pemujaan terhadap tokoh-tokoh seperti Ted Kaczynski (Unabomber). Kaczynski dipuja karena penolakannya yang keras terhadap masyarakat industri dan teknologis. Meskipun Kaczynski sendiri membenci kelompok sayap kanan, tulisan-tulisannya tentang kerusakan lingkungan akibat teknologi modern diadopsi oleh eko-fasis sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan radikal guna menghancurkan sistem industri saat ini.

Kritik Terhadap Tropus “Manusia Adalah Virus”

Selama pandemi COVID-19, frasa “manusia adalah virus, bumi sedang menyembuhkan diri” menjadi sangat populer di media sosial. Foto-foto lumba-lumba yang diklaim kembali ke kanal Venesia atau hewan liar yang berkeliaran di jalanan kota yang kosong dianggap sebagai bukti bahwa alam akan berkembang pesat jika manusia tidak ada. Meskipun banyak dari cerita ini ternyata hoaks, sentimen yang mendasarinya mencerminkan misantropi (kebencian terhadap manusia) yang merupakan pintu masuk menuju pemikiran eko-fasis.

Tropus “manusia adalah virus” secara fundamental cacat karena beberapa alasan:

  1. Generalisasi yang Berbahaya: Ia menempatkan semua manusia dalam satu kategori yang sama, tanpa membedakan antara masyarakat adat yang telah menjaga keseimbangan ekosistem selama ribuan tahun dengan perusahaan multinasional yang melakukan ekstraksi besar-besaran.
  2. Membuka Pintu untuk Eugenika: Jika manusia adalah penyakit, maka kematian manusia dalam skala besar—baik melalui pandemi, kelaparan, atau kekerasan—dapat dipandang sebagai hal yang positif bagi planet. Logika ini membenarkan pembiaran terhadap kematian kelompok rentan.
  3. Mengabaikan Penyebab Sistemik: Dengan menyalahkan “kemanusiaan” secara abstrak, narasi ini mengalihkan perhatian dari kebijakan politik, model ekonomi kapitalis, dan kegagalan tata kelola yang merupakan penyebab sebenarnya dari krisis iklim.

Analisis sosiologis menunjukkan bahwa mereka yang menyuarakan sentimen “manusia adalah virus” biasanya tidak menganggap diri mereka sendiri atau kelompok mereka sebagai bagian dari virus tersebut. Yang mereka maksud dengan “manusia yang harus dikurangi” hampir selalu adalah “orang lain”—biasanya mereka yang dianggap kurang berharga secara sosial, rasial, atau ekonomi.

Eko-Bordering: Senjata Baru Politik Sayap Kanan

Dalam ranah politik formal, eko-fasisme bermanifestasi dalam bentuk “eko-bordering” atau pengamanan perbatasan atas nama lingkungan. Partai-partai sayap kanan di Eropa, seperti Front Nasional di Prancis atau AfD di Jerman, mulai mengadopsi bahasa environmentalisme dalam kampanye anti-imigrasi mereka. Mereka berargumen bahwa perlindungan terhadap lanskap nasional dan sumber daya lokal mengharuskan pembatasan ketat terhadap masuknya orang asing.

Fenomena ini sering kali disebut sebagai “fasisme bahan bakar fosil” (fossil fascism). Terdapat kontradiksi internal di mana banyak dari kelompok ini sebenarnya skeptis terhadap perubahan iklim atau merupakan pendukung kuat industri minyak dan batu bara nasional. Namun, mereka menggunakan isu lingkungan secara oportunistik. Bagi mereka, “lingkungan” adalah properti teritorial nasional yang harus dipertahankan dari “penyerbu”, bukan masalah global yang membutuhkan kerja sama internasional.

Strategi Politik Deskripsi Mekanisme Dampak Terhadap Kebijakan
Ecobordering Mengaitkan kelestarian alam nasional dengan pembatasan imigrasi. Pengetatan perbatasan; pengurangan bantuan untuk pengungsi iklim.
Fossil Fascism Melindungi kepentingan industri fosil dalam kerangka nasionalisme otoriter. Penolakan terhadap perjanjian iklim internasional (Paris Agreement).
Greenwashing Sayap Kanan Menggunakan retorika “hijau” untuk menutupi agenda rasisme dan xenofobia. Normalisasi ideologi ekstremis dalam debat lingkungan arus utama.
Securitization of Climate Memandang perubahan iklim semata-mata sebagai ancaman keamanan nasional. Peningkatan militerisasi perbatasan dan kontrol populasi.

Politik eko-bordering menciptakan sebuah visi dunia yang terfragmentasi, di mana negara-negara kaya membangun tembok ekologis untuk melindungi sisa-sisa sumber daya mereka, sementara membiarkan sebagian besar populasi dunia di belahan bumi selatan menderita akibat konsekuensi lingkungan yang mereka ciptakan. Ini adalah bentuk apartheid iklim yang dilegitimasi oleh bahasa konservasi.

Menuju Environmentalisme Interseksional: Melawan Narasi Kebencian

Untuk menangkal kebangkitan eko-fasisme, gerakan lingkungan global harus kembali ke landasan kemanusiaan dan keadilan sosial. Environmentalisme yang sehat adalah environmentalisme yang interseksional, yang memahami bahwa penindasan terhadap alam dan penindasan terhadap manusia—khususnya kelompok marginal—berasal dari akar yang sama: sistem yang memprioritaskan keuntungan dan kekuasaan di atas kehidupan.

Keadilan lingkungan (environmental justice) menawarkan alternatif yang kuat. Berbeda dengan eko-fasisme yang menyalahkan orang miskin atas kerusakan alam, keadilan lingkungan menyoroti fakta bahwa komunitas marginal sering kali menjadi korban pertama dari polusi dan bencana iklim, meskipun mereka berkontribusi paling sedikit terhadap masalah tersebut. Gerakan ini menekankan bahwa perlindungan terhadap planet tidak boleh dipisahkan dari perjuangan untuk hak asasi manusia, kedaulatan masyarakat adat, dan kesetaraan ekonomi.

Beberapa langkah kunci untuk melawan infiltrasi eko-fasis dalam gerakan lingkungan meliputi:

  • Dekonstruksi Mitos Overpopulasi: Menjelaskan secara terus-menerus melalui data bahwa masalah utamanya adalah konsumsi berlebih oleh elit global, bukan jumlah penduduk di negara berkembang.
  • Memperkuat Kepemimpinan Masyarakat Adat: Mengakui bahwa masyarakat adat adalah penjaga keanekaragaman hayati yang paling efektif dan bahwa hak-hak mereka atas tanah harus dihormati.
  • Pendidikan Iklim yang Kritis: Mengajarkan akar sejarah ketidakadilan lingkungan, termasuk bagaimana konservasi awal di AS sering kali melibatkan pengusiran paksa masyarakat adat (seperti pembentukan taman-taman nasional).
  • Solidaritas Transnasional: Menolak narasi nasionalistik tentang alam dan membangun kerja sama global untuk menghadapi krisis yang tidak mengenal batas negara ini.

Kesimpulan: Pentingnya Menjaga Kompas Kemanusiaan

Eko-fasisme adalah peringatan keras bahwa bahkan niat yang tampak mulia, seperti menyelamatkan planet, dapat diputarbalikkan menjadi ideologi kebencian yang mematikan jika kehilangan landasan kemanusiaannya. Krisis iklim adalah tantangan terbesar bagi spesies manusia, namun solusi yang ditawarkan tidak boleh mengorbankan martabat dan nyawa sesama manusia. Narasi “bumi sedang penuh” yang digunakan untuk menargetkan imigran dan kelompok marginal hanyalah bentuk modern dari rasisme ilmiah yang bertujuan untuk mempertahankan hierarki kekuasaan yang ada.

Penyelamatan bumi yang sejati membutuhkan perombakan sistemik terhadap cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan berinteraksi satu sama lain. Hal ini tidak akan tercapai melalui tembok perbatasan atau kebencian rasial, melainkan melalui keadilan, empati, dan pengakuan bahwa kita semua berbagi satu rumah yang sama. Kita harus waspada terhadap “hijau yang gelap”—ideologi yang menawarkan perlindungan bagi alam namun dengan harga kehancuran kemanusiaan. Pada akhirnya, tidak ada lingkungan yang lestari di atas tanah yang dipenuhi dengan ketidakadilan.

Dunia yang hijau haruslah dunia yang adil bagi semua, di mana hak untuk menghirup udara bersih, meminum air murni, dan hidup dengan aman tidak ditentukan oleh warna kulit atau tempat kelahiran. Mempertahankan kompas kemanusiaan dalam setiap tindakan lingkungan adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa dalam upaya kita menyelamatkan bumi, kita tidak kehilangan jiwa kita sebagai manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1
Powered by MathCaptcha