Eksistensi masyarakat Mosuo di wilayah pegunungan yang melintasi perbatasan provinsi Yunnan dan Sichuan, Tiongkok Barat Daya, telah menjadi subjek kajian yang mendalam dalam literatur antropologi global. Dikenal sebagai salah satu masyarakat matrilineal terakhir yang masih bertahan di dunia, suku ini menawarkan model organisasi sosial yang menantang paradigma universal mengenai pernikahan, paternitas, dan struktur kekuasaan. Dengan populasi berkisar antara 40.000 hingga 60.000 jiwa yang berpusat di sekitar Danau Lugu, masyarakat Mosuo telah mempertahankan tradisi unik mereka selama berabad-abad di tengah arus modernitas yang semakin kuat. Analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara menyeluruh mekanisme internal masyarakat Mosuo, mulai dari struktur keluarga matrilineal, praktik “pernikahan berjalan” (tisese), hingga tantangan kontemporer yang dihadapi akibat pariwisata massal dan kebijakan pemerintah.
Latar Belakang Geografis dan Identitas Etnis
Suku Mosuo mendiami wilayah yang terisolasi secara geografis di kaki pegunungan Himalaya, sebuah area yang mereka anggap suci dan diatur oleh dewi gunung Ganmu. Danau Lugu, yang merupakan pusat kehidupan mereka, tidak hanya menjadi sumber air dan pangan, tetapi juga menjadi jangkar identitas budaya yang sangat kuat. Secara historis, Mosuo diyakini sebagai keturunan dari pengembara Tibet kuno dari budaya Qiang, dengan catatan tertulis yang dapat ditelusuri kembali lebih dari 2.000 tahun.
Terdapat kompleksitas dalam klasifikasi etnis Mosuo oleh pemerintah Tiongkok. Secara resmi, mereka dikategorikan sebagai sub-kelompok dari etnis Naxi, namun masyarakat Mosuo secara tegas menolak klasifikasi ini. Alasan penolakan tersebut berakar pada perbedaan fundamental dalam struktur sosial; sementara Naxi telah lama mengadopsi sistem patriarki akibat pengaruh kebudayaan Han, Mosuo tetap teguh pada akar matrilineal mereka. Identitas Mosuo didefinisikan oleh bahasa mereka, Na, yang tidak memiliki bentuk tulisan tradisional, sehingga transmisi budaya dilakukan secara lisan melalui ritual dan cerita turun-temurun.
| Parameter Identitas | Deskripsi Detail |
| Wilayah Pemukiman | Sekitar Danau Lugu, Kabupaten Ninglang (Yunnan) dan Kabupaten Yanyuan (Sichuan) |
| Afiliasi Bahasa | Bahasa Na (rumpun Tibeto-Burman) tanpa aksara tradisional |
| Klasifikasi Negara | Secara administratif dianggap bagian dari etnis Naxi |
| Dasar Kekerabatan | Matrilineal dan Matrilokal (berpusat pada garis ibu) |
| Mata Pencaharian | Pertanian subsisten, peternakan, dan jasa pariwisata |
Struktur Kekerabatan Matrilineal: Fondasi Kehidupan Sosial
Dalam masyarakat Mosuo, keluarga didefinisikan bukan melalui ikatan pernikahan, melainkan melalui hubungan darah di garis ibu. Unit rumah tangga dasar, yang dikenal sebagai yidu, biasanya terdiri dari nenek, saudara perempuan dan laki-laki nenek, ibu dan saudara-saudaranya, serta anak-anak dari anggota perempuan keluarga tersebut Tidak ada konsep keluarga nuklir konvensional di mana suami, istri, dan anak-anak tinggal di bawah satu atap. Sebaliknya, setiap individu tetap tinggal di rumah ibu mereka sepanjang hayat.
Stabilitas sosial dalam sistem ini sangat tinggi karena tidak adanya konflik kepemilikan harta antara suami dan istri. Semua properti, termasuk rumah, tanah, dan hewan ternak, dimiliki secara kolektif oleh garis keturunan perempuan dan diwariskan dari ibu ke anak perempuan.1Anak-anak yang lahir dari hubungan apa pun secara otomatis menjadi anggota rumah tangga ibu mereka, mengambil nama belakang ibu, dan mendapatkan hak waris dari garis keturunan tersebut. Hal ini menciptakan jaring pengaman sosial yang luar biasa bagi anak-anak; meskipun hubungan romantis orang tua mereka berakhir, stabilitas tempat tinggal dan dukungan ekonomi anak tersebut tidak pernah terancam.
Peran dan Otoritas Dabu
Pimpinan tertinggi dalam setiap rumah tangga Mosuo adalah seorang perempuan senior yang disebut Dabu. Pemilihan Dabu tidak semata-mata didasarkan pada senioritas usia, tetapi lebih pada kecerdasan, kemampuan manajerial, dan dedikasinya terhadap kesejahteraan keluarga besar. Dabu memegang kunci gudang penyimpanan makanan, yang merupakan simbol kekuasaan ekonomi dan tanggung jawab untuk mendistribusikan sumber daya secara adil kepada seluruh anggota keluarga.
Meskipun Dabu memiliki otoritas yang besar, kepemimpinannya bersifat konsultatif dan demokratis. Keputusan-keputusan besar, seperti pembangunan rumah baru atau investasi dalam pendidikan anggota keluarga, biasanya dibuat setelah berdiskusi dengan anggota keluarga dewasa lainnya. Dabu bertanggung jawab untuk mengoordinasikan pekerjaan di ladang, mengelola keuangan keluarga yang diperoleh dari pariwisata atau penjualan hasil bumi, serta memastikan pelaksanaan ritual keagamaan di dalam rumah berjalan dengan lancar.
| Peran dalam Rumah Tangga | Tanggung Jawab Utama |
| Dabu (Matriark) | Manajemen keuangan, alokasi makanan, koordinasi ritual, pengambilan keputusan kolektif |
| Paman Maternal | Pendidikan keponakan, disiplin keluarga, pekerjaan fisik berat, mewakili keluarga dalam urusan desa |
| Ibu | Pengasuhan anak biologis, pengerjaan ladang, transmisi tradisi lisan |
| Anggota Laki-laki | Pemeliharaan ternak, transportasi, partisipasi dalam karavan kuda dan teh |
Tisese: Mekanisme Pernikahan Berjalan
Fenomena yang paling menarik perhatian dunia internasional terhadap suku Mosuo adalah praktik tisese atau “pernikahan berjalan” (dalam bahasa Mandarin disebut zouhun). Istilah tisese secara harfiah berarti “berjalan bolak-balik,” yang merefleksikan dinamika hubungan di mana pria mengunjungi pasangannya di malam hari dan kembali ke rumah ibunya sendiri pada saat fajar menyingsing.
Penting untuk ditegaskan bahwa dalam kebudayaan Mosuo, tidak ada konsep pernikahan formal yang melibatkan kontrak hukum atau perpindahan domisili pasangan. Hubungan romantis didasarkan sepenuhnya pada kasih sayang timbal balik, tanpa adanya tekanan ekonomi atau kewajiban material. Seorang perempuan Mosuo memiliki otonomi penuh atas kehidupan seksualnya; ia bebas memilih pasangannya dan berhak mengakhiri hubungan tersebut kapan pun ia merasa kasih sayang di antara mereka telah memudar. Jika hubungan berakhir, tidak ada proses perceraian yang rumit karena tidak ada harta bersama yang harus dibagi.
Etiket dan Prosedur Tisese
Hubungan tisese biasanya dimulai setelah seorang pemuda dan pemudi mencapai usia dewasa melalui upacara inisiasi. Meskipun diperbolehkan sejak usia 13 tahun, praktik ini umumnya baru dimulai pada usia 16 hingga 20 tahun. Hubungan ini sering diawali dengan pertemuan di acara-acara sosial seperti tarian api unggun, di mana pria dan wanita dapat saling mengekspresikan ketertarikan melalui isyarat-isyarat halus.
Secara tradisional, kunjungan malam dilakukan secara diam-diam. Pria akan memanjat jendela kamar wanita pilihannya, yang dikenal sebagai “ruang berbunga” atau flower room, untuk menghindari gangguan terhadap anggota keluarga lainnya. Meskipun bersifat informal, banyak hubungan tisese yang bersifat jangka panjang dan monogami secara serial; pasangan tetap setia satu sama lain selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup, meskipun mereka tidak pernah tinggal bersama secara permanen.
Sistem ini memberikan fleksibilitas yang luar biasa. Karena pria dan wanita tetap menjadi bagian dari unit ekonomi keluarga asli mereka, tidak ada kecemburuan yang didasarkan pada kepemilikan atau ketergantungan finansial. Logika di balik sistem ini adalah bahwa cinta adalah satu-satunya perekat hubungan, dan jika cinta hilang, pasangan tidak perlu dipaksa untuk tetap bersama hanya karena alasan ekonomi atau sosial.
Redefinisi Peran Pria: Antara Paman dan Ayah
Dalam masyarakat Mosuo, peran laki-laki sering kali disalahpahami sebagai tidak signifikan. Namun, kenyataannya adalah laki-laki memegang posisi kunci sebagai pilar tenaga kerja dan otoritas dalam keluarga matrilineal mereka sendiri. Peran laki-laki yang paling krusial bukan sebagai suami atau ayah biologis, melainkan sebagai paman maternal (abu).
Seorang laki-laki Mosuo bertanggung jawab penuh untuk membantu membesarkan, mendidik, dan mendisiplinkan anak-anak dari saudara perempuannya. Hubungan paman-keponakan ini dianggap lebih penting dan stabil daripada hubungan ayah-anak biologis. Dalam perspektif evolusioner, sistem ini memastikan bahwa investasi sumber daya pria diarahkan kepada kerabat yang secara genetik pasti berbagi darah dengannya melalui garis ibu, mengingat dalam sistem tisese, paternitas biologis mungkin tidak selalu menjadi prioritas utama.
Hubungan dengan Ayah Biologis
Meskipun ayah biologis sering dianggap sebagai “orang luar” dalam rumah tangga ibu sang anak, hal ini tidak berarti identitas mereka tidak diketahui atau mereka tidak memiliki hubungan sama sekali dengan anak mereka. Banyak anak Mosuo mengetahui siapa ayah biologis mereka dan memelihara hubungan yang penuh rasa hormat dengan mereka. Seorang ayah dapat menunjukkan perhatian kepada anaknya dengan membawakan hadiah pada hari raya, yang memberinya status kehormatan di rumah keluarga sang ibu tanpa harus memiliki otoritas hukum atas anak tersebut.
Namun, secara adat, ayah biologis tidak memiliki kewajiban untuk memberikan dukungan finansial atau terlibat dalam pengasuhan harian. Fokus utama seorang laki-laki adalah memastikan kesejahteraan keponakan-keponakannya di rumah ibunya sendiri. Hal ini menciptakan pembagian kerja dan tanggung jawab yang sangat berbeda dari masyarakat patriarki, di mana identitas pria tidak terikat pada perannya sebagai “kepala keluarga” dalam keluarga nuklir, melainkan sebagai pendukung stabilitas keluarga besar matrilineal.
Sistem Kepercayaan: Sinkretisme Daba dan Buddhisme Tibet
Kehidupan spiritual masyarakat Mosuo ditandai oleh koeksistensi harmonis antara agama pribumi mereka, Daba, dan pengaruh kuat dari Buddhisme Tibet. Agama Daba adalah sistem kepercayaan animistik yang berpusat pada pemujaan nenek moyang dan roh-roh alam. Tokoh kuncinya adalah daba, seorang dukun atau pendeta yang bertindak sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia roh.
Menariknya, meskipun masyarakat Mosuo sangat menonjolkan peran perempuan dalam urusan domestik, posisi pendeta Daba hampir secara eksklusif dipegang oleh laki-laki. Pengetahuan Daba, termasuk puluhan sutra yang dihafalkan, ditransmisikan secara lisan dari paman ke keponakan laki-laki atau melalui magang yang ketat. Instrumen ritual seperti drum, simbal yang dihiasi gigi hewan liar, dan tongkat kayu berukir simbol roh merupakan elemen penting dalam upacara Daba.
Peran Buddhisme Tibet
Buddhisme Tibet mulai merambah wilayah Danau Lugu sekitar abad ke-13 dan sejak itu terintegrasi secara mendalam ke dalam struktur sosial Mosuo. Hampir setiap keluarga Mosuo yang memiliki lebih dari dua anak laki-laki akan mendedikasikan salah satunya untuk menjadi biksu atau lama. Para lama ini sering kali tetap tinggal di rumah keluarga mereka, melakukan meditasi di ruang khusus yang disebut ruang kitab (scripture hall), dan hanya pergi ke kuil untuk acara-acara tertentu.
Sinkretisme ini terlihat paling jelas dalam ritual pemakaman. Masyarakat Mosuo percaya bahwa kedua sistem kepercayaan tersebut saling melengkapi; pendeta Daba bertugas untuk memandu roh kembali ke tanah leluhur yang disebut Sibuanawa, sementara para lama membacakan doa-doa untuk membersihkan dosa dan mendoakan reinkarnasi yang baik. Penghormatan yang tinggi terhadap alam, yang merupakan inti dari kepercayaan Daba, juga sejalan dengan prinsip-prinsip Buddhis, menciptakan kesadaran ekologis yang kuat bagi masyarakat Mosuo untuk menjaga kesucian Danau Lugu.
| Elemen Kepercayaan | Agama Daba | Buddhisme Tibet |
| Fokus Utama | Pemujaan nenek moyang, roh alam, dewi Ganmu | Reinkarnasi, pembebasan jiwa, moralitas universal |
| Praktisi Utama | Pendeta Daba (Laki-laki, turun-temurun) | Lama atau Biksu (Anggota keluarga yang didedikasikan) |
| Metode Transmisi | Lisan, pembacaan mantra, ritual shamanistik | Pembelajaran teks suci, pendidikan biara |
| Ritual Kematian | Memandu roh melintasi rute mitologis ke tanah asal | Doa pemurnian jiwa selama 49 hari setelah kematian |
Arsitektur Tradisional dan Makna Ruang
Rumah tradisional Mosuo bukan sekadar tempat berlindung, melainkan representasi fisik dari struktur sosial dan kosmologi mereka. Bangunan utama dalam kompleks rumah adalah “Rumah Nenek” atau Yimi. Di tengah ruangan ini terdapat tungku api yang tidak pernah padam, yang melambangkan keberlanjutan garis keturunan keluarga. Yimi berfungsi sebagai ruang komunal untuk makan, pertemuan keluarga, dan pelaksanaan ritual penting.
Pembagian ruang di dalam rumah mencerminkan status individu dalam keluarga matrilineal. Anggota keluarga yang paling senior, biasanya nenek, memiliki tempat tidur tetap di dekat tungku api. Sementara itu, perempuan muda yang telah mencapai usia dewasa akan diberikan “ruang berbunga” di lantai atas atau bangunan terpisah, yang memberikan mereka privasi untuk menerima kunjungan pasangan tisese. Arsitektur ini juga mencakup ruang kitab untuk biksu keluarga dan area untuk ternak, menciptakan ekosistem rumah tangga yang mandiri.
Dalam satu dekade terakhir, ruang domestik ini mengalami perubahan akibat pariwisata. Banyak keluarga mulai memodifikasi rumah mereka untuk dijadikan guesthouse, memisahkan area hunian pribadi dengan area untuk tamu. Namun, inti dari rumah tersebut—ruang nenek dan tungku api—sering kali dipertahankan sebagai pusat identitas budaya yang tidak boleh diganggu gugat oleh pengaruh luar.
Upacara Inisiasi: Transis Menuju Kedewasaan
Momen paling krusial dalam siklus hidup seorang anak Mosuo adalah upacara inisiasi yang dilakukan pada usia 13 tahun. Upacara ini menandai berakhirnya masa kanak-kanak dan diterimanya mereka sebagai anggota dewasa dalam keluarga besar. Ritual ini biasanya diadakan pada hari pertama Tahun Baru Imlek dengan tata cara yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan.
Bagi anak perempuan, ritual ini disebut Li-gie atau “upacara mengenakan rok.” Dalam upacara ini, sang gadis berdiri di depan pilar suci rumahnya, melangkah di atas karung gandum dan lemak babi kering—simbol kemakmuran dan harapan akan kecukupan pangan sepanjang hidupnya. Ibunya kemudian akan memakaikan pakaian tradisional dewasa yang terdiri dari rok panjang lipit dan ikat pinggang berwarna-warni. Setelah upacara ini, ia diperbolehkan memanjangkan rambutnya menjadi kepangan dan memiliki akses ke “ruang berbunga”.
Bagi anak laki-laki, ritual ini disebut Ta-gie atau “upacara mengenakan celana.” Dipimpin oleh paman maternalnya, sang anak akan menerima celana panjang dan ikat pinggang dewasa sebagai pengganti baju panjang masa kecilnya. Paman juga akan memberikan alat kerja atau senjata tradisional sebagai simbol tanggung jawab barunya untuk membantu urusan fisik dan eksternal keluarga. Kedua upacara ini diakhiri dengan pesta besar yang mengundang kerabat dan tetangga, memperkuat ikatan komunitas dan pengakuan sosial atas status baru anak tersebut.
Ekonomi Mosuo: Dari Agrikultur ke Industri Pariwisata
Secara tradisional, ekonomi Mosuo sangat bergantung pada pertanian subsisten dan peternakan. Namun, sejak wilayah Danau Lugu mulai dibuka untuk pariwisata massal pada era 1990-an, struktur ekonomi mereka mengalami pergeseran paradigma. Pariwisata telah menjadi motor penggerak utama yang membawa kemakmuran material, namun sekaligus membawa tantangan bagi pelestarian budaya.
Pendapatan per kapita masyarakat di sekitar Danau Lugu telah meningkat secara eksponensial. Sebagai contoh, di desa Luoshui, pendapatan per kapita meningkat dari hanya 829 yuan pada tahun 2003 menjadi 34.500 yuan pada tahun 2023.6 Sumber pendapatan utama saat ini meliputi pengelolaan penginapan, restoran, jasa transportasi perahu, serta pertunjukan seni budaya untuk wisatawan. Meskipun demikian, Dabu tetap memegang peran sentral dalam mengelola pendapatan keluarga ini, memastikan bahwa kekayaan yang diperoleh secara kolektif didistribusikan untuk kepentingan seluruh anggota keluarga.
| Statistik Pariwisata Lugu (2023) | Nilai |
| Jumlah Kunjungan Wisatawan | 1,58 Juta orang (+176% dari 2022) |
| Total Pendapatan Pariwisata | 92 Juta Yuan (+232% dari 2022) |
| Jumlah Penginapan (Guesthouse) | 378 unit dengan 7.560 kamar |
| Kenaikan Pendapatan Per Kapita | >40 kali lipat sejak 2003 |
Dampak Lingkungan dan Intervensi Pemerintah
Lonjakan aktivitas manusia di sekitar Danau Lugu sempat menyebabkan degradasi kualitas air dan kerusakan ekosistem tepi danau pada tahun 1990-an. Menanggapi hal ini, pemerintah provinsi Yunnan dan Sichuan melakukan kolaborasi untuk menerapkan kebijakan perlindungan ekologis yang ketat. Sejak tahun 2024, langkah-langkah drastis telah diambil, termasuk pembongkaran dermaga ilegal dan relokasi 160 penginapan yang berada dalam zona merah ekologis (80 meter dari bibir pantai).
Upaya restorasi ini berhasil meningkatkan kualitas air Danau Lugu hingga mencapai standar Kelas 1, menjadikannya salah satu danau air tawar terbersih di Tiongkok dengan jarak pandang bawah air mencapai 12 meter. Pemerintah juga mulai memperkenalkan “pariwisata hijau” yang mengutamakan kelestarian alam dan keaslian budaya daripada eksploitasi massal, dengan harapan dapat menciptakan model pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat Mosuo.
Debat Antropologis: Antara Fakta dan Stereotip
Masyarakat Mosuo telah menjadi subjek perdebatan akademis yang intens, terutama terkait klasifikasi mereka sebagai “masyarakat tanpa ayah atau suami.” Salah satu karya paling berpengaruh sekaligus kontroversial adalah buku Cai Hua yang berjudul A Society without Fathers or Husbands: The Na of China. Cai Hua berargumen bahwa Mosuo merupakan kasus unik di dunia di mana lembaga pernikahan dan konsep paternitas benar-benar absen, yang menurutnya menantang asumsi universalitas keluarga nuklir.
Namun, pandangan Cai Hua mendapatkan kritik tajam dari akademisi lain, seperti Chuan-kang Shih. Para pengkritik berargumen bahwa deskripsi Cai Hua terlalu menyederhanakan realitas dan mengabaikan keberagaman praktik di berbagai wilayah pemukiman Mosuo. Shih menekankan bahwa meskipun matrilinealitas adalah ideologi inti, masyarakat Mosuo memiliki istilah-istilah kekerabatan untuk ayah biologis dan bahwa hubungan tersebut tetap memiliki signifikansi sosial, meskipun tidak bersifat kontraktual.
Ketidaksepakatan ini juga menyoroti masalah representasi budaya. Seringkali, media dan industri pariwisata mengeksploitasi konsep “masyarakat matriarkal” dan “kebebasan seksual” Mosuo untuk menciptakan citra eksotis yang menarik wisatawan. Stereotip ini terkadang merendahkan nilai-nilai luhur di balik sistem tisese, yang sebenarnya dibangun di atas dasar rasa hormat, otonomi, dan tanggung jawab keluarga besar, bukan sekadar pergaulan bebas tanpa aturan.
Transformasi Sosial di Abad ke-21
Modernitas membawa pengaruh yang tidak terelakkan bagi generasi muda Mosuo. Pendidikan formal di sekolah-sekolah yang didominasi budaya Han, paparan internet, dan migrasi untuk mencari pekerjaan di kota-kota besar telah mulai mengubah persepsi mereka tentang hubungan dan keluarga. Beberapa pemuda Mosuo kini mulai memilih untuk melakukan pendaftaran pernikahan formal dan membentuk keluarga nuklir, terutama mereka yang tinggal di luar wilayah Danau Lugu.
Data menunjukkan bahwa saat ini terdapat pembelahan dalam praktik rumah tangga; sekitar setengah dari populasi Mosuo masih mempertahankan tradisi matrilineal murni dengan sistem tisese, sementara setengah lainnya telah mengadopsi struktur keluarga nuklir atau campuran. Namun, menariknya, ada tren di mana pemuda Mosuo yang telah bekerja di kota besar justru merindukan stabilitas dan kehangatan keluarga matrilineal mereka, dan banyak yang secara sadar memilih untuk kembali ke tradisi tersebut karena dianggap lebih memberikan kebebasan emosional.
Inovasi Budaya dan Digitalisasi
Di era digital, masyarakat Mosuo mulai menggunakan teknologi untuk menceritakan kisah mereka sendiri, melawan narasi eksploitatif dari luar. Melalui media sosial dan pembuatan video pendek, generasi muda Mosuo mempromosikan nilai-nilai matrilini, kerajinan tangan tradisional seperti tenun, dan keindahan alam Danau Lugu dengan cara yang lebih autentik.
Pemerintah juga mulai mendukung pelestarian budaya melalui pengakuan “warisan budaya takbenda.” Program-program untuk mendokumentasikan bahasa Na yang terancam punah dan mendukung para pembuat kostum tradisional Mosuo telah diluncurkan. Dengan adanya keseimbangan antara modernisasi ekonomi dan pelestarian akar budaya, masyarakat Mosuo berusaha untuk tetap menjadi “Negeri Perempuan” yang relevan di tengah perubahan zaman yang cepat.
Kesimpulan: Ketahanan Identitas di Tengah Arus Globalisasi
Masyarakat Mosuo di Danau Lugu merupakan fenomena sosiologis yang membuktikan bahwa struktur keluarga patriarki dan pernikahan formal bukanlah satu-satunya jalan menuju stabilitas sosial. Sistem matrilineal mereka telah teruji selama ribuan tahun sebagai mekanisme yang efektif dalam meminimalkan konflik, menjamin hak asuh dan kesejahteraan anak, serta memberikan otonomi yang unik bagi perempuan.
Meskipun tantangan dari pariwisata massal dan asimilasi budaya sangat nyata, ketahanan budaya Mosuo terlihat pada kemampuan mereka untuk beradaptasi tanpa harus sepenuhnya melepaskan nilai-nilai inti mereka. Transformasi ekonomi dari pertanian ke pariwisata telah dikelola dalam kerangka kepemimpinan Dabu, memastikan bahwa kemakmuran dinikmati secara kolektif. Upaya pemulihan ekologis yang dilakukan pada tahun 2024-2025 menunjukkan bahwa masyarakat ini, dengan dukungan kebijakan yang tepat, dapat menjaga kesucian “danau ibu” mereka dari dampak buruk industrialisasi.
Pada akhirnya, keberlangsungan suku Mosuo bukan hanya penting bagi mereka sendiri, tetapi juga bagi kemanusiaan sebagai pengingat akan keragaman luar biasa dalam cara manusia mengorganisir cinta, keluarga, dan kekuasaan. Sebagai salah satu “masyarakat matriarkal” terakhir, Mosuo menawarkan perspektif alternatif yang berharga bagi dunia modern dalam mencari keharmonisan antara individu, keluarga, dan alam semesta.
