Fenomena Festival Yulin, yang secara resmi dikenal sebagai Festival Leci dan Daging Anjing Yulin di wilayah otonom Guangxi Zhuang, Tiongkok, telah menjadi salah satu titik api paling kontroversial dalam wacana hak asasi hewan dan kedaulatan budaya global pada abad ke-21. Acara tahunan yang secara rutin dimulai pada titik balik matahari musim panas atau summer solstice ini tidak hanya menarik perhatian karena skala pemotongannya, tetapi juga karena ia menjadi cermin bagi ketegangan yang lebih dalam antara tradisi lokal, ambisi komersial, dan pergeseran nilai-nilai etika universal di tengah masyarakat Tiongkok yang sedang mengalami urbanisasi pesat. Laporan ini mengeksplorasi secara mendalam anatomi Festival Yulin, mulai dari asal-usulnya yang sering disalahpahami sebagai tradisi kuno hingga realitasnya sebagai konstruksi ekonomi modern, serta menganalisis perdebatan moral yang membagi opini dunia melalui kacamata sosiologi, psikologi, dan hukum internasional.
Genealogi Festival Yulin: Antara Tradisi Folklor dan Strategi Komersial
Kesalahpahaman yang paling sering muncul dalam narasi populer mengenai Festival Yulin adalah anggapan bahwa acara ini merupakan warisan budaya kuno yang telah dipraktikkan selama berabad-abad. Namun, bukti sosiologis dan sejarah menunjukkan sebaliknya. Meskipun praktik mengonsumsi daging anjing memang memiliki catatan sejarah di beberapa wilayah Tiongkok dan Asia Timur, Festival Yulin sendiri adalah fenomena yang relatif sangat baru. Penyelidikan lapangan menunjukkan bahwa festival ini baru diluncurkan pada tahun 2009 atau 2010 oleh sekelompok pedagang daging anjing di kota Yulin. Motif utama di balik pembentukan festival ini bukan untuk melestarikan warisan leluhur, melainkan murni merupakan inisiatif komersial untuk meningkatkan penjualan daging anjing yang saat itu mulai mengalami stagnasi.
Para pedagang ini secara cerdas memanfaatkan elemen folklor lokal untuk memberikan legitimasi budaya pada acara tersebut. Mereka menggabungkan konsumsi daging anjing dengan buah leci dan minuman keras lokal, serta mengklaim bahwa kombinasi ini, jika dikonsumsi pada hari terpanas dalam setahun, akan menstimulasi “panas internal” tubuh, menangkal penyakit musim dingin, dan membawa keberuntungan kesehatan bagi pelakunya. Dengan menciptakan narasi “tradisi,” para pedagang berhasil menarik minat konsumen regional dan membangun infrastruktur ekonomi baru di sekitar industri daging anjing di Yulin. Namun, klaim tradisional ini telah dibantah oleh banyak ahli dan penduduk lokal yang menyatakan bahwa sebelum tahun 2010, tidak pernah ada perayaan formal berskala besar seperti yang terlihat saat ini.
| Parameter Historis | Detail dan Konteks Sosiopolitik |
| Tahun Inagurasi | 21 Juni 2009/2010 |
| Penggagas | Konsorsium pedagang daging anjing lokal |
| Pembenaran Budaya | Kepercayaan pada stimulasi panas internal tubuh (Yang) |
| Komoditas Utama | Daging anjing, leci, dan minuman keras gandum |
| Respons Pemerintah | Pengakuan awal untuk pariwisata, diikuti oleh disosiasi resmi sejak 2014 |
Perubahan Status Hukum dan Kebijakan Nasional Tiongkok
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap hukum di Tiongkok mengenai perlindungan hewan telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan, yang secara langsung berdampak pada operasionalitas Festival Yulin. Meskipun Tiongkok belum memiliki undang-undang perlindungan hewan nasional yang komprehensif seperti di banyak negara Barat, otoritas pusat mulai merespons tekanan domestik dan risiko kesehatan publik dengan kebijakan yang lebih progresif.
Reklasifikasi Anjing: Dari Ternak ke Sahabat
Momen krusial terjadi pada tahun 2020, di tengah pandemi COVID-19, ketika Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok secara resmi mengeluarkan anjing dari daftar “Katalog Sumber Daya Genetik Ternak dan Unggas Nasional”. Dalam pernyataan resminya, pemerintah Tiongkok menekankan bahwa seiring dengan kemajuan peradaban dan kepedulian publik terhadap perlindungan hewan, anjing telah bertransformasi dari hewan ternak tradisional menjadi “hewan pendamping” (companion animals) yang tidak lagi dikategorikan sebagai komoditas pangan. Kebijakan ini merupakan pengakuan hukum tingkat nasional pertama yang secara implisit mendelegitimidasi perdagangan daging anjing dalam skala industri.
Selain kebijakan pusat, beberapa kota metropolitan di Tiongkok telah mengambil langkah lebih radikal. Shenzhen, diikuti oleh Zhuhai, menjadi kota pertama di daratan Tiongkok yang secara eksplisit melarang konsumsi daging anjing dan kucing pada Mei 2020. Larangan ini didasarkan pada argumen bahwa anjing memiliki hubungan emosional yang jauh lebih dekat dengan manusia sebagai hewan peliharaan dibandingkan dengan hewan ternak seperti sapi atau babi, dan bahwa larangan tersebut sejalan dengan praktik internasional di negara-negara maju.
Ketimpangan antara Regulasi dan Penegakan Hukum
Meskipun terdapat kemajuan dalam kebijakan nasional, penegakan hukum di tingkat lokal di tempat-tempat seperti Yulin tetap menjadi tantangan. Para ahli hukum berpendapat bahwa operasionalitas Festival Yulin sering kali berada dalam wilayah abu-abu atau bahkan melanggar hukum yang sudah ada. Sebagai contoh, regulasi Kementerian Pertanian tahun 2013 mewajibkan adanya sertifikat karantina laboratorium untuk setiap hewan yang ditransportasikan antar-wilayah. Namun, investigasi oleh organisasi non-pemerintah mengungkapkan bahwa mayoritas anjing yang dibawa ke Yulin tidak memiliki dokumentasi kesehatan yang sah, berasal dari sumber yang tidak jelas, dan sering kali merupakan hasil pencurian hewan peliharaan.
Investigasi Rantai Pasokan: Isu Pencurian dan Kekejaman Hewan
Salah satu poin paling krusial dalam perdebatan mengenai Yulin adalah sumber dari hewan-hewan tersebut. Industri daging anjing di Tiongkok sangat berbeda dengan industri daging sapi atau babi yang memiliki peternakan berskala besar dengan standar pembiakan yang diatur. Penelitian lapangan menunjukkan bahwa konsep “peternakan anjing daging” di Tiongkok sebagian besar adalah mitos yang dipromosikan oleh para pedagang untuk menutupi praktik ilegal.
Fenomena Pencurian Hewan Peliharaan
Laporan dari berbagai organisasi perlindungan hewan, termasuk Animals Asia dan Humane Society International, menunjukkan bahwa sebagian besar anjing yang dipotong di Yulin adalah anjing peliharaan yang dicuri dari rumah-rumah warga di pedesaan atau anjing liar yang ditangkap di jalanan. Para pencuri hewan sering kali menggunakan metode yang brutal, seperti jerat kawat, alat kejut listrik, atau umpan makanan yang dicampur dengan racun sianida. Hal ini tidak hanya merupakan isu kesejahteraan hewan, tetapi juga masalah kriminalitas serius yang merugikan pemilik hewan secara emosional dan finansial. Di Vietnam, yang memiliki dinamika serupa dengan Tiongkok, data menunjukkan bahwa hingga 87% penduduk pernah mengalami hewan peliharaan mereka dicuri atau mengenal seseorang yang mengalaminya, yang sering kali memicu aksi main hakim sendiri terhadap para pencuri anjing.
Kondisi Transportasi dan Pemotongan
Anjing-anjing yang ditangkap kemudian dijejalkan ke dalam kandang kawat kecil dalam jumlah ratusan, bahkan ribuan dalam satu truk. Selama perjalanan yang bisa memakan waktu berhari-hari melintasi provinsi, hewan-hewan ini tidak diberikan makanan atau air, menyebabkan banyak yang mati karena dehidrasi, kelelahan, atau cedera fisik akibat berdesakan. Di lokasi festival, praktik pemotongan sering kali dilakukan dengan cara yang sangat kejam. Meskipun penyelenggara mengklaim metode yang manusiawi, terdapat laporan konsisten mengenai hewan yang dipukul, dikuliti, atau bahkan direbus dalam keadaan masih sadar. Ada kepercayaan pseudosains di antara beberapa pedagang bahwa tingkat adrenalin yang tinggi dalam darah hewan saat mati akan membuat dagingnya terasa lebih nikmat dan memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar bagi konsumen.
| Tahapan Rantai Pasok | Kondisi dan Temuan Lapangan |
| Pengadaan | Pencurian hewan peliharaan menggunakan racun/kejut listrik |
| Transportasi | Kepadatan ekstrem tanpa nutrisi; pelanggaran aturan karantina |
| Pra-Pemotongan | Penahanan di gudang yang tidak higienis; stres psikologis tinggi |
| Metode Eksekusi | Bludgeoning (pemukulan), penyembelihan di depan anjing lain |
| Keamanan Pangan | Residu racun kimia (sianida) pada jaringan daging |
Analisis Sosiologis: Pergeseran Sikap Masyarakat Tiongkok
Festival Yulin sering kali disalahpahami sebagai representasi dari keinginan seluruh rakyat Tiongkok. Kenyataannya, terdapat pembelahan internal yang tajam di dalam masyarakat Tiongkok sendiri mengenai isu ini. Data survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas warga Tiongkok, terutama generasi muda dan penduduk kota besar, sangat menentang konsumsi daging anjing.
Data Survei Penduduk Yulin (2025)
Sebuah survei yang dilakukan oleh Vshine (mitra lokal Humane World for Animals) pada Maret 2025 memberikan gambaran yang mengejutkan tentang sentimen lokal di Yulin. Meskipun kota ini memiliki reputasi sebagai pusat konsumsi daging anjing, data menunjukkan bahwa perdagangan ini sebenarnya tidak mewakili mayoritas penduduknya.
- Frekuensi Konsumsi: Sebanyak 87,5% penduduk Yulin menyatakan bahwa mereka tidak pernah atau sangat jarang mengonsumsi daging anjing atau kucing (kurang dari beberapa kali dalam setahun). Hanya 12,5% yang memakannya secara teratur.
- Tren Penurunan: Sekitar 88% responden mengakui bahwa konsumsi mereka telah menurun dalam beberapa tahun terakhir.
- Indiferensi terhadap Larangan: Yang paling signifikan, 88% responden menyatakan bahwa jika pemerintah memberlakukan larangan total terhadap perdagangan daging anjing dan kucing di Yulin, hal itu tidak akan memberikan dampak negatif sama sekali terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Data ini menghancurkan argumen para pedagang bahwa festival tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi atau identitas warga Yulin. Sebaliknya, survei ini menunjukkan bahwa festival tersebut adalah anomali komersial yang dipaksakan oleh kelompok kepentingan kecil yang merusak citra kota di mata dunia.
Peran Media Sosial dan Aktivisme Domestik
Aktivisme anti-daging anjing di Tiongkok bukan hanya didorong oleh organisasi internasional, tetapi juga oleh gerakan akar rumput yang sangat vokal di platform media sosial seperti Weibo. Para selebriti Tiongkok dan “influencer” telah memimpin kampanye besar-besaran dengan slogan-slogan seperti “Anjing adalah Teman, Bukan Makanan”. Pada tahun 2014, kemarahan publik di media sosial mencapai puncaknya, memaksa pemerintah Yulin untuk secara resmi menyatakan bahwa mereka tidak mendukung festival tersebut dan melarang pegawai negeri memakan daging anjing di depan publik selama periode festival.
Aktivis Tiongkok juga melakukan tindakan langsung, seperti mengadang truk-truk pengangkut anjing di jalan tol dan menuntut dokumen karantina yang sah. Dalam beberapa kasus, mereka berhasil menyelamatkan ribuan anjing dengan membayar sejumlah uang kepada para pedagang atau melalui kerja sama dengan polisi untuk menyita hewan yang diangkut secara ilegal. Pergeseran ini mencerminkan transisi Tiongkok menjadi masyarakat modern di mana kepemilikan hewan peliharaan telah menjadi bagian dari gaya hidup kelas menengah yang berkembang pesat.
Dilema Etika dan Bias Budaya: Mengapa Anjing Berbeda dari Sapi atau Babi?
Pertanyaan paling mendasar yang sering diajukan dalam perdebatan Yulin adalah mengenai konsistensi moral: Mengapa masyarakat dunia merasa ngeri dengan konsumsi anjing namun tetap memaklumi pemotongan massal babi, sapi, dan ayam? Eksplorasi terhadap pertanyaan ini memerlukan pemahaman tentang konsep Carnism dan Spesiesisme.
Psikologi Carnism: Sistem Kepercayaan yang Tidak Terlihat
Psikolog sosial Melanie Joy mengembangkan konsep “Carnism” untuk menjelaskan sistem kepercayaan yang mengondisikan manusia untuk memakan spesies hewan tertentu sambil merasa jijik dengan ide memakan spesies lain. Dalam budaya Barat, terdapat kategorisasi yang sangat ketat antara “hewan peliharaan” (anjing, kucing, kuda) dan “hewan ternak” (babi, sapi, domba).
Manusia menggunakan mekanisme pertahanan psikologis untuk mempertahankan kebiasaan makan daging tanpa harus menghadapi konflik moral. Mekanisme ini meliputi:
- Deindividualisasi: Kita melihat anjing sebagai individu dengan nama dan kepribadian, tetapi kita melihat babi sebagai massa anonim tanpa identitas.
- Linguistik Eufemistik: Kita menggunakan kata-kata yang berbeda untuk hewan yang kita makan guna mengaburkan asalnya. Sapi menjadi “beef” (daging sapi), babi menjadi “pork” (daging babi), dan anak sapi menjadi “veal”. Penggunaan bahasa ini berfungsi sebagai perisai mental untuk melindungi nurani kita dari kenyataan bahwa kita sedang mengonsumsi makhluk yang pernah hidup.
- Justifikasi Normalitas: Konsumsi daging ternak dianggap sebagai sesuatu yang “Normal, Natural, dan Necessary” (Normal, Alami, dan Perlu), sehingga tidak lagi dipertanyakan secara etis.
Spesiesisme dan Hierarki Kesadaran
Spesiesisme adalah prasangka atau bias yang mendukung kepentingan satu spesies di atas spesies lain, sering kali tanpa dasar rasional yang kuat. Dari sudut pandang kognisi dan kemampuan merasakan nyeri (sentience), sains telah membuktikan bahwa babi memiliki tingkat kecerdasan yang sebanding dengan anjing, dan dalam beberapa tes kognitif, babi bahkan melampaui kemampuan anak manusia berusia tiga tahun. Sapi dikenal memiliki “teman terbaik” dalam kelompoknya dan menunjukkan tanda-tanda stres yang mendalam jika dipisahkan.
Namun, status sosial anjing sebagai “sahabat manusia” telah menempatkan mereka pada hierarki moral yang lebih tinggi di banyak budaya. Antropolog Samson Tang menjelaskan bahwa anjing telah mengalami proses “humanisasi” selama 15.000 tahun domestikasi, di mana mereka telah berpindah kategori dari “mereka” (spesies lain) menjadi “kita” (bagian dari keluarga manusia). Oleh karena itu, ketika anjing dipotong untuk dimakan, banyak orang merasakannya sebagai serangan terhadap kelompok mereka sendiri atau “kejahatan terhadap kemanusiaan” dalam skala kecil.
| Perbandingan Atribut | Anjing | Babi | Sapi |
| Kecerdasan Kognitif | Tinggi (Mampu mengenali emosi manusia) | Sangat Tinggi (Mampu bermain video game sederhana) | Sedang-Tinggi (Memiliki memori jangka panjang) |
| Kapasitas Emosional | Sangat Tinggi (Keterikatan mendalam pada pemilik) | Sangat Tinggi (Menunjukkan empati pada sesama) | Tinggi (Membentuk ikatan sosial yang kompleks) |
| Status Hukum (Global) | Umumnya dilindungi sebagai hewan pendamping | Umumnya diperlakukan sebagai komoditas industri | Umumnya diperlakukan sebagai komoditas industri |
| Prevalensi Tabu Makan | Sangat Tinggi di Barat; Meningkat di Asia | Rendah (Kecuali dalam Islam/Yudaisme) | Rendah (Kecuali dalam Hinduisme) |
Kritik terhadap Standar Ganda Barat
Para filsuf seperti Bob Fischer berpendapat bahwa kemarahan masyarakat Barat terhadap Festival Yulin sering kali dibumbui dengan dosis kemunafikan atau xenofobia yang tidak disadari. Fischer menunjukkan bahwa jika alasan utama untuk menolak konsumsi daging anjing adalah penderitaan hewan, maka secara logis masyarakat juga harus menolak festival-festival daging di Barat, seperti Maine Lobster Fest di Amerika Serikat, di mana ribuan lobster direbus hidup-hidup.
Kritik ini tidak bermaksud untuk membenarkan Festival Yulin, melainkan untuk mengajak konsistensi etika. Jika pembantaian anjing dianggap biadab karena metode transportasinya yang kejam, maka pembantaian babi di rumah potong industri yang tertutup juga harus dievaluasi dengan standar moral yang sama. Pandangan ini mendorong agenda “Egalitarianisme Hewan,” di mana semua makhluk hidup yang mampu merasakan sakit harus diberikan pertimbangan moral yang setara, tanpa memandang peran yang kita berikan kepada mereka sebagai “teman” atau “makanan”.
Dimensi Kesehatan Publik: Rabies dan Zoonosis
Selain masalah etika, Festival Yulin merupakan ancaman nyata terhadap kesehatan masyarakat. Perdagangan daging anjing di Tiongkok sebagian besar tidak diatur, yang menciptakan risiko transmisi penyakit yang sangat tinggi.
- Rabies: Yulin secara historis merupakan salah satu kota dengan tingkat kematian akibat rabies tertinggi di Tiongkok. Proses pengumpulan anjing liar dan hewan curian dari berbagai wilayah tanpa vaksinasi menciptakan “titik kumpul” virus rabies yang sangat berbahaya. Para pekerja yang menangani anjing-anjing ini berisiko tertular melalui gigitan atau kontak dengan jaringan yang terinfeksi.
- Kontaminasi Kimia: Penggunaan racun seperti sianida untuk membunuh anjing di jalanan meninggalkan residu kimia berbahaya pada daging yang kemudian dikonsumsi oleh manusia. Hal ini dapat menyebabkan keracunan akut atau masalah kesehatan jangka panjang bagi konsumen.
- Sanitasi: Pasar daging di Yulin sering kali tidak memiliki fasilitas pendingin yang memadai dan limbah dari pemotongan dibuang secara sembarangan di jalanan. Kondisi ini memfasilitasi penyebaran bakteri seperti E. coli dan penyakit menular lainnya seperti kolera dan trichinellosis.
Perkembangan Terkini: Menuju Masa Depan Tanpa Festival Yulin
Memasuki tahun 2024 dan 2025, terlihat adanya perubahan strategi dari pemerintah lokal Yulin untuk meredam kontroversi internasional tanpa harus secara langsung berkonfrontasi dengan para pedagang daging yang masih memiliki pengaruh ekonomi lokal.
Transformasi Budaya: Peragaan Busana dan Tarian Singa
Laporan terbaru dari Global Anti-Dog Meat Coalition pada Juni 2024 menunjukkan bahwa otoritas Yulin mulai mempromosikan acara-acara alternatif yang sangat berbeda dari citra festival daging anjing. Pada tanggal 20 dan 21 Juni 2024, bertepatan dengan titik balik matahari, pemerintah Yulin mendukung penyelenggaraan peragaan busana modern skala besar dan kompetisi tarian singa tradisional. Kampanye promosi resmi untuk acara-acara ini menggunakan bahasa seperti “Ekspresi budaya tradisional di era baru, memperbarui hati sebuah kota urban”.
Upaya ini dianalisis sebagai strategi “diversi budaya.” Dengan membanjiri ruang publik dan media dengan gambar-gambar keindahan busana dan tarian tradisional, pemerintah berharap dapat mengalihkan fokus media internasional dari praktik pemotongan anjing yang memalukan. Selain itu, laporan lapangan mencatat penurunan jumlah kedai daging anjing sementara yang biasanya muncul selama festival, serta peningkatan kehadiran polisi untuk mencegah konfrontasi antara aktivis dan pedagang.
Peta Jalan Global Menuju Pengakhiran Perdagangan
Pergeseran di Yulin tidak terjadi dalam ruang hampa. Hal ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas di seluruh Asia yang menunjukkan bahwa industri daging anjing sedang berada di ambang kepunahan.
| Negara/Wilayah | Status Hukum Terkini | Target Pengakhiran |
| Korea Selatan | Larangan total disahkan Januari 2024 | Full Ban per 2027 |
| Taiwan | Larangan perdagangan daging anjing dan kucing sejak 2017 | Sudah berlaku |
| Filipina | Ilegal sejak 1998; diperkuat pada 2007 | Penegakan sedang ditingkatkan |
| Thailand | Perdagangan diakhiri lebih dari satu dekade lalu | Sudah berlaku |
| Indonesia | Lebih dari 80 kota/wilayah telah melarang perdagangan | Progresif regional |
| Vietnam (Hanoi) | Rencana penghapusan konsumsi bertahap | Target 2030 (Bebas Rabies) |
Upaya-upaya internasional terus berlanjut melalui petisi masif—seperti yang dilakukan oleh Humane World for Animals yang mengumpulkan lebih dari 183.000 tanda tangan untuk diserahkan kepada presiden Tiongkok—guna menuntut undang-undang perlindungan hewan nasional yang tegas.
Analisis Mendalam: Kaitan Sosiokultural Yanji dan Dalian dalam Konteks Tiongkok
Untuk memahami mengapa konsumsi daging anjing tetap bertahan di beberapa wilayah Tiongkok namun menghilang di wilayah lain, kita harus melihat data komparatif sosiologis. Sebuah studi akademis yang membandingkan kota Yanji dan Dalian memberikan wawasan penting tentang bagaimana subbudaya lokal mempengaruhi perilaku makan.
- Kasus Yanji: Di Yanji, yang memiliki populasi etnis Korea yang signifikan, konsumsi daging anjing masih dianggap dapat diterima secara sosial oleh sebagian besar responden. Hal ini menunjukkan bahwa identitas etnis dan kedekatan dengan tradisi lintas batas dapat menjadi faktor pelindung bagi praktik kuliner tertentu, bahkan di tengah urbanisasi yang pesat.
- Kasus Dalian: Sebaliknya, di Dalian, yang lebih terintegrasi dengan standar kosmopolitan internasional, konsumsi daging anjing dipandang sangat negatif oleh mayoritas penduduk.
Faktor-faktor yang berkontribusi pada penurunan konsumsi meliputi:
- Pendidikan: Responden dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki sikap humanistik yang lebih besar terhadap hewan.
- Usia: Generasi yang lahir setelah tahun 1980-an dan 1990-an secara konsisten menunjukkan tingkat penolakan yang paling tinggi.
- Kepemilikan Hewan Peliharaan: Memiliki anjing di rumah merupakan katalisator utama bagi perubahan persepsi dari “hewan ternak” menjadi “individu dengan perasaan”.
Implikasi Geopolitik dan Citra Internasional
Bagi pemerintah Tiongkok, Festival Yulin telah menjadi beban diplomatik dan “bencana hubungan masyarakat” (PR disaster) yang merusak citra negara sebagai bangsa yang maju dan beradab. Kecaman internasional yang terus-menerus memberikan tekanan pada para pemimpin nasional untuk menunjukkan bahwa Tiongkok sejalan dengan norma-norma global mengenai kesejahteraan hewan.
Langkah-langkah seperti pelarangan daging anjing selama Olimpiade Beijing 2008 menunjukkan betapa sensitifnya pemerintah Tiongkok terhadap persepsi asing selama acara-acara besar internasional. Keberhasilan penghapusan perdagangan bulu gading domestik dan impor daging anjing laut Kanada di masa lalu menunjukkan bahwa tekanan publik internasional yang dipadukan dengan advokasi domestik dapat membuahkan hasil kebijakan yang nyata di Tiongkok.
Kesimpulan: Refleksi Etika dan Masa Depan Hubungan Manusia-Hewan
Festival Yulin bukan sekadar tentang konsumsi daging, melainkan sebuah medan tempur ideologis yang memaksa kita untuk mengevaluasi kembali standar moral kita. Dari perspektif domain ahli, analisis ini menyimpulkan bahwa pengakhiran Festival Yulin bukan hanya masalah waktu, tetapi merupakan konsekuensi tak terelakkan dari evolusi sosiokultural Tiongkok menuju masyarakat yang lebih empatik dan peduli terhadap hak-hak makhluk hidup.
Namun, pengakhiran Yulin hanyalah satu langkah awal. Tantangan yang lebih besar bagi masyarakat global adalah untuk menghadapi “bias budaya” dan “spesiesisme” yang masih mendarah daging dalam standar kuliner kita. Jika kita menuntut pengakhiran penderitaan anjing karena mereka adalah “teman kita,” maka konsistensi etis menuntut kita untuk juga mulai mempertanyakan penderitaan miliaran hewan ternak lain yang memiliki kesadaran dan kapasitas rasa sakit yang serupa.
Laporan ini menunjukkan bahwa perubahan di Yulin kini didorong oleh tiga kekuatan utama yang saling memperkuat:
- Regulasi Hukum: Perubahan status anjing dari ternak menjadi hewan pendamping yang memberikan kerangka kerja bagi otoritas untuk menindak perdagangan ilegal.
- Kesadaran Kesehatan: Pemahaman bahwa perdagangan hewan yang tidak diatur adalah bom waktu bagi pandemi zoonosis dan masalah keamanan pangan.
- Pergeseran Empati: Kebangkitan generasi baru di Tiongkok yang melihat hewan bukan sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan sebagai sesama makhluk hidup yang berhak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang.
Masa depan Yulin tampaknya tidak lagi terletak pada daging anjing, melainkan pada transformasi citranya menjadi pusat budaya tradisional yang selaras dengan kemajuan peradaban modern. Dengan terus memperluas “lingkaran kasih sayang” kita, Festival Yulin suatu hari nanti mungkin hanya akan diingat sebagai bab gelap dalam sejarah kuliner yang akhirnya berhasil dilampaui oleh kemajuan moral kolektif manusia.
