Wabah Menari tahun 1518, atau yang secara historis dikenal sebagai Straßburger Tanzwut, merupakan salah satu peristiwa paling terdokumentasi dan membingungkan dalam catatan medis serta sosial Eropa era Renaisans. Terjadi di kota Strasbourg, yang saat itu merupakan kota merdeka di bawah Kekaisaran Romawi Suci (sekarang di Prancis), fenomena ini melibatkan ratusan warga yang menari secara kompulsif selama berhari-hari hingga berminggu-minggu tanpa henti. Kejadian ini bukan sekadar ledakan kegembiraan publik, melainkan sebuah krisis kesehatan masyarakat yang mematikan, di mana para partisipan sering kali menari hingga mengalami cedera fisik yang parah, kelelahan total, atau bahkan kematian akibat stroke dan serangan jantung. Analisis ini akan mengevaluasi secara mendalam apakah peristiwa ini dipicu oleh keracunan biologis, sistem kepercayaan supernatural, atau konsekuensi dari stres psikologis massal yang ekstrem.
Konteks Sosio-Ekonomi dan Lingkungan di Strasbourg Awal Abad ke-16
Untuk memahami predisposisi masyarakat Strasbourg terhadap fenomena koreomania, sangat penting untuk meninjau lanskap sosio-ekonomi yang mendahului tahun 1518. Periode ini ditandai dengan ketidakstabilan yang luar biasa, di mana faktor lingkungan, ekonomi, dan kesehatan saling berinteraksi untuk menciptakan kondisi stres yang akut bagi penduduknya.
Tekanan Lingkungan dan Kegagalan Panen
Tahun-tahun menjelang 1518 merupakan masa penderitaan yang tak henti-hentinya bagi wilayah Alsace. Strasbourg mengalami serangkaian kegagalan panen yang disebabkan oleh fluktuasi iklim yang ekstrem, mulai dari musim dingin yang membeku hingga musim panas yang sangat panas dan kering. Ketidakstabilan cuaca ini menghancurkan produksi pertanian lokal, yang pada gilirannya menyebabkan kelaparan massal. Harga biji-bijian, yang merupakan makanan pokok utama, melonjak drastis, membuat banyak petani dan penduduk kota tidak mampu membeli roti dasar.
Selain itu, peristiwa-peristiwa alam yang dianggap sebagai pertanda buruk oleh masyarakat takhayul pada masa itu menambah beban psikologis. Munculnya komet pada tahun 1492 serta berbagai banjir bandang di sepanjang sungai Rhine dipandang sebagai sinyal apokaliptik yang menunjukkan kemarahan ilahi. Harapan akan akhir zaman (apokaliptik) menciptakan suasana kegelisahan yang menyelimuti seluruh lapisan masyarakat.
Epidemi dan Krisis Kesehatan Masyarakat
Beban penderitaan fisik semakin diperparah dengan kehadiran berbagai penyakit menular yang menghancurkan moral penduduk. Selain ancaman endemik dari wabah pes (Black Death) yang terus muncul kembali secara berkala, Strasbourg juga harus menghadapi ancaman penyakit baru dan menakutkan: sifilis. Dikenal sebagai “Pox Besar”, sifilis menyebar dengan cepat dan menyebabkan penderitaan fisik yang sangat menyakitkan serta cacat tubuh yang mengerikan, yang pada saat itu sering diinterpretasikan sebagai hukuman langsung atas dosa-dosa moral. Penyakit lain seperti cacar (smallpox) dan kusta juga tetap menjadi ancaman yang nyata, menciptakan rasa ketidakberdayaan kolektif terhadap nasib biologis mereka.
| Kategori Stressor | Deskripsi Fenomena dan Dampak Sosial |
| Ekonomi | Kelaparan beruntun selama tiga tahun; lonjakan harga gandum; utang tinggi kepada gereja. |
| Lingkungan | Suhu ekstrem; banjir sungai Rhine; penampakan komet 1492 sebagai pertanda buruk. |
| Kesehatan | Epidemi sifilis (“Great Pox”); wabah pes; kusta; malnutrisi kronis. |
| Politik/Sosial | Sistem feodal yang menindas; pemberontakan petani; ketegangan antara rakyat dan otoritas gereja. |
Kronologi Kejadian: Dari Insiden Soliter ke Epidemi Massa
Wabah Menari tahun 1518 tidak dimulai secara serempak, melainkan melalui eskalasi yang cepat dari satu individu. Dokumentasi sejarah, termasuk catatan dokter, khotbah katedral, dan catatan dewan kota, memberikan gambaran yang cukup rinci tentang bagaimana fenomena ini berkembang.
Kasus Indeks: Frau Troffea
Pada pertengahan Juli 1518 (laporan bervariasi antara 14 Juli hingga 22 Juli), seorang wanita yang diidentifikasi sebagai Frau Troffea mulai menari secara sendirian di jalanan sempit Strasbourg di luar rumahnya yang berkerangka kayu. Tindakannya tidak memiliki iringan musik dan tampaknya tidak memiliki tujuan perayaan. Troffea menari dengan intensitas yang mengerikan; wajahnya digambarkan kosong, matanya tidak fokus, dan tubuhnya bergerak secara spasmodik dan konvulsif.
Meskipun suaminya dan para penonton mencoba membujuknya untuk berhenti, Troffea terus menari sampai ia jatuh pingsan karena kelelahan total. Setelah istirahat sejenak, ia akan bangkit kembali dan melanjutkan tarian maratonnya, bahkan ketika kakinya mulai membengkak dan berdarah di dalam sepatunya. Perilaku soliter ini berlangsung selama empat hingga enam hari sebelum otoritas kota akhirnya turun tangan.
Eskalasi dan Penularan Sosial
Fenomena ini dengan cepat menunjukkan sifat “menular” secara psikis. Dalam waktu satu minggu setelah Troffea mulai menari, sekitar 34 orang lainnya telah bergabung dalam gerakan yang sama. Pada akhir Agustus, jumlah tersebut telah membengkak menjadi sekitar 400 orang. Para penari ini tidak hanya terdiri dari wanita, tetapi juga pria dan anak-anak dari berbagai kelas sosial, meskipun laporan menunjukkan dominasi perempuan pada tahap awal.
Karakteristik gerakan para penari digambarkan sebagai trans disosiatif. Mereka tampak tidak merasakan sakit, tidak menunjukkan tanda-tanda kenikmatan, dan banyak yang secara aktif memohon bantuan atau berdoa kepada Tuhan untuk menghentikan gerakan kaki mereka yang seolah-olah digerakkan oleh kekuatan eksternal.
Angka Kematian dan Penderitaan Fisik
Kebrutalan fisik dari wabah ini tidak dapat diremehkan. Para penari melakukan aktivitas fisik yang sangat intens di bawah terik matahari musim panas Alsace. Laporan kontemporer yang dikutip oleh sejarawan modern seperti John Waller menyatakan bahwa pada puncak epidemi, sebanyak 15 orang meninggal setiap hari. Meskipun angka kematian total masih menjadi subjek perdebatan akademik, diperkirakan puluhan hingga seratus orang mungkin telah kehilangan nyawa mereka selama dua bulan wabah berlangsung.
| Metrik Epidemi | Estimasi dan Data Historis |
| Tanggal Mulai | 14 Juli 1518 (menurut sebagian besar kronik). |
| Kasus Indeks | Frau Troffea (perempuan, warga Strasbourg). |
| Jumlah Korban Maksimal | Sekitar 400 orang. |
| Laju Kematian Puncak | Hingga 15 orang per hari. |
| Durasi Wabah | Juli hingga September 1518. |
Respons Otoritas: Antara Medis dan Supernatural
Menghadapi krisis yang semakin memburuk, dewan kota Strasbourg (Council of Twenty-One) berkonsultasi dengan para tabib terkemuka dan otoritas keagamaan untuk mencari solusi. Respons yang diambil mencerminkan transisi pemikiran antara teologi abad pertengahan dan proto-sains Renaisans.
Teori “Darah Panas” dan Penanganan Medis Awal
Para dokter di Strasbourg menolak penjelasan tentang kepemilikan setan atau astrologi, dan sebaliknya mendiagnosis para penari menderita “darah panas” (hot blood). Berdasarkan teori humoral Galen yang mendominasi kedokteran saat itu, kondisi ini dianggap sebagai ketidakseimbangan fisiologis di mana darah mengalami pemanasan berlebih, yang kemudian mengganggu otak dan memicu mania.
Ironisnya, rekomendasi medis yang diberikan adalah agar para penderita terus menari. Para dokter percaya bahwa tarian tersebut adalah cara alami tubuh untuk “mengeluarkan” atau “berkeringat” demi menyingkirkan cairan empedu yang buruk atau panas yang terperangkap. Untuk memfasilitasi “penyembuhan” ini, dewan kota mengambil langkah-langkah drastis:
- Membangun panggung kayu besar di pasar kuda dan pasar biji-bijian.
- Membersihkan dua aula serikat pekerja (guild halls) untuk dijadikan tempat menari.
- Menyewa musisi profesional (pemain seruling dan drum) untuk memberikan iringan ritmis.
- Membayar penari sehat untuk menopang dan memotivasi para korban agar tetap bergerak.
Namun, strategi ini terbukti menjadi bencana. Bukannya mereda, tarian yang difasilitasi secara publik justru memperluas jangkauan penularan psikis, menarik lebih banyak orang ke dalam mania tersebut.
Perubahan Kebijakan: Larangan dan Penindasan
Setelah menyadari bahwa dukungan terhadap tarian hanya memperburuk situasi, otoritas kota berbalik arah 180 derajat. Mereka mulai memandang fenomena tersebut bukan sebagai penyakit fisik belaka, melainkan sebagai hukuman ilahi atas dosa-dosa penduduk kota. Dewan kota kemudian memberlakukan serangkaian larangan:
- Melarang semua tarian publik dan permainan musik di kota.
- Menutup rumah judi dan rumah bordil (brothels).
- Mengusir orang-orang yang dianggap sebagai pendosa atau orang asing yang tidak diinginkan dari kota.
- Menetapkan denda bagi siapa pun yang tertangkap melakukan tarian atau musik di ruang publik.
Analisis Teori Penyebab: Keracunan, Kutukan, atau Psikosis?
Selama berabad-abad, para peneliti telah mencoba menguraikan penyebab sebenarnya dari peristiwa di Strasbourg. Terdapat tiga kategori besar teori: biologis (keracunan), supernatural (agama), dan psikologis (stres massal).
Hipotesis Ergotisme (Keracunan Jamur)
Salah satu penjelasan paling populer di abad ke-20 adalah keracunan ergot, sebuah kondisi yang disebabkan oleh mengonsumsi roti yang terbuat dari gandum hitam (rye) yang terkontaminasi oleh jamur Claviceps purpurea. Jamur ini menghasilkan alkaloid psikoaktif yang secara kimiawi mirip dengan LSD.
Ergotisme dapat menyebabkan dua jenis gejala utama:
- Ergotisme Konvulsif:Menyebabkan kejang-kejang hebat, tremor, halusinasi, dan delusi.
- Ergotisme Gangren:Menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang parah, yang mengakibatkan pembusukan jaringan pada ekstremitas dan rasa sakit yang membakar (dikenal sebagai “Api Santo Antonius”).
Namun, banyak sejarawan medis, terutama John Waller, membantah teori ini untuk kasus Strasbourg 1518. Argumen penentangnya meliputi:
- Fisika Gerakan:Penderita ergotisme mengalami vasokonstriksi yang membatasi aliran darah ke kaki, sehingga mustahil bagi mereka untuk menari secara intens selama berhari-hari.
- Sifat Gejala:Gerakan para penari digambarkan sebagai tarian yang terkoordinasi dan berirama, bukan kejang-kejang acak atau tremor tak terkendali yang khas dari keracunan jamur.
- Penyebaran Epidemi:Ergotisme biasanya tidak menyerang ratusan orang dengan cara yang meniru perilaku satu orang secara berurutan dalam pola epidemi sosial.
Penjelasan Supernatural: Kutukan Santo Vitus
Bagi penduduk Strasbourg abad ke-16, penjelasan yang paling masuk akal adalah religius. Terdapat legenda kuat di wilayah Rhine tentang Santo Vitus, seorang martir Kristen yang diyakini memiliki kekuatan untuk mengutuk orang-orang berdosa dengan penyakit tarian yang tak terkendali.
Masyarakat Alsace pada saat itu hidup dalam ketakutan yang mendalam akan penghakiman ilahi. Karena tarian tersebut sering terjadi di sekitar hari raya Santo Vitus (15 Juni), banyak yang menyimpulkan bahwa tarian kompulsif tersebut adalah manifestasi fisik dari kutukan sang santo. Keyakinan ini sangat kuat sehingga menciptakan apa yang disebut sebagai “efek nocebo,” di mana individu mulai merasakan gejala hanya karena mereka berekspektasi akan terkena kutukan tersebut setelah melihat orang lain menderita.
Gangguan Psikogenik Massal (Histeria Massa)
Teori yang paling diterima secara luas oleh para sarjana modern adalah bahwa Wabah Menari merupakan contoh ekstrem dari gangguan psikogenik massal atau mass psychogenic illness (MPI). Menurut analisis John Waller, fenomena ini terjadi karena konvergensi unik dari stres psikologis yang luar biasa dan lingkungan kepercayaan yang sangat sugestif.
Masyarakat Strasbourg pada tahun 1518 berada dalam kondisi “siap” untuk epidemi psikogenik karena:
- Stres Kronis:Kelaparan, penyakit baru (sifilis), dan ketidakstabilan sosial menciptakan tingkat kecemasan yang melampaui batas ketahanan mental manusia.
- Keadaan Trans Disosiatif:Stres yang ekstrem dapat memicu keadaan disosiasi, di mana pikiran terpisah dari kesadaran normal dan kontrol motorik tubuh diambil alih oleh dorongan bawah sadar.
- Naskah Budaya:Karena masyarakat percaya pada kutukan Santo Vitus yang berupa tarian, stres kolektif mereka mewujudkan dirinya dalam bentuk gejala tersebut. Ini menjelaskan mengapa mereka menari, bukannya tertawa atau pingsan secara massal.
| Teori | Mekanisme Utama | Kekuatan Argumen | Kelemahan Utama |
| Ergotisme | Toksin jamur pada roti gandum hitam. | Memberikan dasar biologis untuk halusinasi. | Vasokonstriksi membuat tarian intens mustahil. |
| Kutukan Agama | Intervensi supernatural Santo Vitus. | Sesuai dengan pandangan dunia korban saat itu. | Tidak menjelaskan mekanisme fisiologis kematian. |
| Histeria Massa | Stres ekstrem + sugesti budaya. | Menjelaskan sifat menular dan durasi tarian. | Sulit dibuktikan secara klinis setelah 500 tahun. |
Resolusi dan Ritual Penyembuhan di Saverne
Wabah ini akhirnya mulai mereda pada September 1518 setelah intervensi keagamaan yang lebih terorganisir dilakukan. Para penari yang paling parah terkena dampaknya tidak lagi didorong untuk menari di aula kota, melainkan dibawa pergi dari lingkungan perkotaan yang penuh stres.
Ziarah ke Shrine Santo Vitus
Atas perintah dewan kota, para penderita dimasukkan ke dalam wagon dan dibawa ke kapel Santo Vitus di dekat Saverne (Zabern), sebuah perjalanan sekitar tiga hari dari Strasbourg. Di sana, mereka menjalani ritual penyembuhan yang menggabungkan elemen religius dan simbolis:
- Sepatu Merah:Para penari diberikan sepasang sepatu merah yang telah diurapi dengan minyak suci. Pada bagian atas dan sol sepatu, digambar tanda salib dengan minyak konsekrasi.
- Penyucian:Mereka diperciki air suci atas nama Santo Vitus dan diminta untuk memegang salib kecil.
- Prosesi:Para penderita dipandu dalam kelompok kecil mengelilingi altar atau diletakkan di bawah ukiran kayu Santo Vitus sambil mendengarkan doa-doa dalam bahasa Latin dan aroma kemenyan.
Ritual ini terbukti sangat efektif secara psikologis. Dengan memberikan “obat” yang sesuai dengan keyakinan mereka tentang penyebab penyakit (yaitu, pengampunan dari santo yang mengutuk), para penderita mampu keluar dari keadaan trans mereka. Sepatu merah, yang dalam budaya saat itu memiliki konotasi dengan darah Kristus sekaligus perlindungan terhadap sihir, bertindak sebagai jangkar psikologis untuk memulihkan kontrol motorik.
Klasifikasi Paracelsus dan Warisan Medis
Beberapa tahun setelah wabah berakhir, fisikawan dan alkemis terkenal Paracelsus mengunjungi Strasbourg. Meskipun ia sering kali skeptis terhadap otoritas medis tradisional, ia menjadi sangat tertarik pada fenomena koreomania dan mencoba mengklasifikasikannya secara ilmiah dalam karyanya, Opus Paramirum.
Paracelsus menolak gagasan bahwa santo atau setan menyebabkan tarian tersebut, sebaliknya ia menempatkan penyebabnya di dalam pikiran penderita. Ia membagi mania menari menjadi tiga kategori utama berdasarkan motivasi psikologis yang ia amati atau bayangkan :
- Chorea Lasciva:Disebabkan oleh keinginan sensual atau niat untuk mempermalukan orang lain (ia secara khusus menuduh Frau Troffea memulai tarian hanya untuk mengesalkan suaminya).
- Chorea Imaginativa:Disebabkan oleh imajinasi yang kuat, kemarahan, atau sumpah serapah.
- Chorea Naturalis:Bentuk yang lebih ringan yang disebabkan oleh penyebab fisik atau korporeal, yang sekarang mungkin kita kaitkan dengan gangguan neurologis organik.
Meskipun klasifikasi Paracelsus mengandung banyak bias (terutama misogini terhadap penderita perempuan), kontribusinya sangat penting karena ia mulai memandang fenomena ini sebagai gangguan mental atau psikologis daripada sekadar kutukan supernatural.
Analisis Komparatif: Wabah Menari di Tempat Lain
Strasbourg 1518 adalah kasus yang paling terdokumentasi, tetapi bukan satu-satunya dalam sejarah Eropa. Fenomena serupa telah terjadi secara berkala antara abad ke-11 dan ke-17, terutama di sepanjang sungai Rhine dan Moselle.
- Aachen 1374:Salah satu wabah terbesar sebelumnya di mana ribuan orang di Rhineland menari secara histeris, sering kali meneriakkan penglihatan tentang setan atau memohon air.
- Maastricht:Terdapat laporan tentang sekitar 200 orang yang menari di atas sebuah jembatan sampai jembatan tersebut runtuh, menyebabkan banyak orang tenggelam.
- Flanders 1564:Diabadikan dalam karya seni oleh Pieter Brueghel, yang menunjukkan bahwa tarian mania terus muncul kembali dalam konteks budaya yang sama selama beberapa dekade setelah peristiwa Strasbourg.
Kesamaan geografis ini memperkuat teori John Waller tentang “penularan budaya.” Keberadaan memori kolektif tentang wabah menari sebelumnya di wilayah tersebut membuat penduduknya lebih rentan untuk mengekspresikan stres mereka melalui gejala yang sama.
Tinjauan Fisiologis: Bagaimana Tubuh Bertahan?
Salah satu pertanyaan paling mendesak bagi para peneliti modern adalah bagaimana individu dapat melakukan aktivitas fisik yang begitu intens tanpa henti selama berminggu-minggu tanpa asupan nutrisi yang cukup. Penjelasan ilmiah modern merujuk pada beberapa mekanisme:
Peran Hormonal dan Neurotransmiter
Dalam keadaan stres ekstrem atau trans, tubuh manusia dapat melepaskan dopamin dan endorfin dalam jumlah besar. Hormon-hormon ini bertindak sebagai pereda nyeri alami dan stimulan, memungkinkan individu untuk melampaui batas kelelahan fisik normal mereka. Hal ini didukung oleh pengamatan bahwa para penari tampak tidak menyadari cedera parah pada kaki mereka sampai mereka benar-benar pingsan.
Disosiasi dan Kontrol Motorik
Keadaan disosiatif atau trans yang dialami para penari menyebabkan “pemutusan” antara pusat sensorik rasa sakit dan kesadaran motorik. Dalam kondisi ini, gerakan menjadi otomatis dan ritmis, yang membutuhkan usaha kognitif yang lebih sedikit daripada gerakan yang disengaja. Namun, tuntutan pada sistem kardiovaskular tetap ekstrem, yang menjelaskan mengapa banyak korban meninggal akibat kegagalan jantung atau stroke daripada kelelahan otot murni.
Implikasi Sosiopolitik: Tubuh sebagai Bahasa Protes
Beberapa sejarawan sosiologi menyarankan bahwa Wabah Menari mungkin merupakan bentuk “protes bisu” dari kelas bawah yang tertindas. Di bawah sistem feodal yang kaku dan otoritas gereja yang menimbun kekayaan sementara rakyat kelaparan, individu kehilangan kontrol atas nasib ekonomi dan politik mereka.
Dalam konteks ini, kehilangan kontrol atas tubuh sendiri melalui tarian kompulsif dapat dilihat sebagai manifestasi fisik dari hilangnya kontrol atas kehidupan mereka secara keseluruhan. Tarian tersebut menjadi panggung di mana penderitaan yang tak terucapkan diwujudkan dalam bentuk visual yang mengerikan, memaksa otoritas kota untuk memperhatikan keputusasaan rakyatnya.
Kesimpulan: Sintesis Penyebab Wabah Menari 1518
Berdasarkan analisis menyeluruh terhadap bukti sejarah, medis, dan sosiologis, dapat disimpulkan bahwa Wabah Menari tahun 1518 bukanlah hasil dari satu penyebab tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis, lingkungan, dan psikososial.
Meskipun teori keracunan ergot memberikan dasar kimia yang menarik, ketidakkonsistenannya dengan deskripsi gerakan tarian dan pola penyebaran epidemi membuatnya menjadi penjelasan yang kurang memadai dibandingkan dengan model gangguan psikogenik massal. Stres yang ekstrem akibat kelaparan kronis dan epidemi penyakit baru menciptakan populasi yang sangat rentan secara psikologis. Dalam lingkungan yang dipenuhi oleh kepercayaan mendalam pada kutukan Santo Vitus, stres kolektif ini menemukan saluran ekspresi melalui tarian kompulsif.
Wabah tersebut akhirnya berakhir bukan melalui intervensi medis, melainkan melalui intervensi simbolis dan religius yang memberikan jalan keluar psikologis bagi para penderita untuk mengakhiri trans mereka. Peristiwa di Strasbourg tetap menjadi salah satu contoh paling kuat dalam sejarah tentang bagaimana pikiran manusia dapat secara dramatis memengaruhi kesehatan fisik secara massal, membuktikan bahwa batas antara keyakinan, stres, dan biologi jauh lebih tipis daripada yang sering kita bayangkan. Pelajaran dari tahun 1518 terus bergema dalam pemahaman modern tentang bagaimana komunitas merespons trauma kolektif dan bagaimana narasi budaya membentuk manifestasi fisik dari penderitaan manusia.
