Sengketa atas kepemilikan dan hak eksklusif nama “Pisco” antara Peru dan Chile bukan sekadar perselisihan mengenai pelabelan minuman keras, melainkan manifestasi kompleks dari kedaulatan nasional, memori sejarah, dan strategi perdagangan global. Sebagai brendi anggur yang dihasilkan melalui distilasi sari anggur yang difermentasi, Pisco telah menjadi pilar identitas budaya di kedua negara Amerika Selatan tersebut. Namun, di balik aroma dan rasanya yang unik, terdapat konflik diplomatik yang melibatkan organisasi perdagangan internasional, pengadilan tinggi di berbagai benua, dan regulasi domestik yang sangat ketat. Analisis ini mengevaluasi bagaimana sebuah produk fermentasi dapat memicu ketegangan geopolitik yang bertahan selama lebih dari satu abad, dengan fokus pada perbedaan filosofi produksi, kerangka hukum internasional, dan dinamika ekonomi pasar global.

Akar Sejarah dan Konstruksi Identitas Nasional

Konflik identitas ini berakar pada periode kolonial Spanyol, di mana wilayah yang sekarang dikenal sebagai Peru dan Chile berada di bawah administrasi yang saling terhubung. Namun, narasi sejarah yang dibangun oleh masing-masing negara sangat berbeda, menciptakan kebuntuan yang sulit didamaikan.

Etimologi Quechua dan Pelabuhan Pisco di Peru

Bagi Peru, klaim atas Pisco bersifat ontologis dan geografis. Kata “Pisco” berasal dari istilah Quechua pisqu, yang berarti “burung”, dan secara historis dikaitkan dengan lembah Ica serta pelabuhan Pisco yang terletak di pesisir selatan Peru. Catatan kartografi sejak tahun 1574 telah menyebutkan pelabuhan Pisco sebagai pusat perdagangan penting. Produksi minuman ini di wilayah tersebut didokumentasikan telah berlangsung selama berabad-abad sebelum Chile meresmikan denominasi asalnya.

Argumen Peru menekankan pada hubungan mutlak antara nama produk dan lokus geografisnya. Dalam pandangan hukum Peru, Pisco adalah sebuah Indikasi Geografis (GI) yang secara eksklusif merujuk pada distrik dan teknik tertentu di wilayah Peru. Oleh karena itu, Peru melarang keras penggunaan label “Pisco” untuk produk apa pun yang dibuat di luar lima departemen resmi mereka: Lima, Ica, Arequipa, Moquegua, dan Tacna.

Transformasi Toponimik dan Klaim Sejarah Chile

Chile mengakui bahwa Pisco adalah warisan bersama dari masa kolonial, namun mereka berpendapat bahwa industri Pisco berkembang secara unik di wilayah mereka, khususnya di Lembah Elqui. Salah satu titik balik paling kontroversial dalam sejarah sengketa ini adalah keputusan pemerintah Chile pada tahun 1936 untuk mengubah nama kota La Unión menjadi Pisco Elqui.

Langkah politik ini, yang diprakarsai oleh anggota parlemen Gabriel González Videla, bertujuan untuk menciptakan keterkaitan geografis yang sah agar produk Chile dapat diterima di pasar internasional seperti Amerika Serikat, yang mensyaratkan adanya hubungan antara nama produk dan tempat asalnya. Pihak Peru memandang tindakan ini sebagai fabrikasi identitas atau “pencurian nama” untuk kepentingan komersial. Namun, Chile mempertahankan bahwa dokumen internal mereka menunjukkan penggunaan istilah Pisco untuk merujuk pada brendi anggur sudah ada di wilayah mereka sejak abad ke-18, termasuk inventaris peternakan Latorre pada tahun 1733.

Perbedaan Filosofi dan Standar Produksi

Meskipun berbagi nama yang sama, Pisco dari Peru dan Chile merupakan dua entitas yang berbeda secara teknis dan organoleptik. Perbedaan ini mencerminkan filosofi masing-masing negara: Peru mengutamakan purisme tradisional, sementara Chile mengadopsi fleksibilitas industri.

Rigiditas Tradisional: Standar Pisco Peru

Regulasi Peru melalui Indecopi menetapkan aturan yang sangat kaku untuk menjaga apa yang mereka sebut sebagai “kemurnian” produk. Pisco Peru harus merupakan ekspresi murni dari anggur tanpa intervensi zat tambahan apa pun.

Parameter Produksi Standar Pisco Peru
Varietas Anggur Terbatas pada 8 varietas (Aromatik & Non-Aromatik)
Distilasi Harus distilasi tunggal dalam pot tembaga (pot still)
Penyesuaian Alkohol Dilarang menambahkan air; kadar alkohol harus hasil alami (38%-48% ABV)
Maturasi Minimal 3 bulan dalam wadah inert (baja, kaca, keramik); kayu dilarang
Bahan Tambahan Dilarang keras menggunakan gula atau pewarna

Filosofi ini menghasilkan minuman yang jernih, sangat aromatik, dan mencerminkan terroir dari anggur yang digunakan. Bagi produsen Peru, setiap botol Pisco adalah karya seni artisanal yang tidak boleh dimodifikasi demi volume produksi.

Inovasi dan Eksperimentasi: Standar Pisco Chile

Sebaliknya, regulasi Chile di bawah Servicio Agrícola y Ganadero (SAG) memberikan ruang lebih luas bagi produsen untuk melakukan eksperimen dan standarisasi rasa yang lebih konsisten untuk pasar massal.

Parameter Produksi Standar Pisco Chile
Varietas Anggur Secara teori mengizinkan 13 varietas (dominan Muscat)
Distilasi Dapat didistilasi berkali-kali untuk mencapai kemurnian alkohol tinggi
Penyesuaian Alkohol Diizinkan menambahkan air untuk menurunkan kadar alkohol sebelum pembotolan
Maturasi Diizinkan menggunakan tong kayu (ek Prancis/Amerika), menghasilkan warna amber
Klasifikasi Berdasarkan ABV: Corriente (30°), Especial (35°), Reservado (40°), Gran Pisco (43°+)

Fleksibilitas ini memungkinkan Chile memproduksi Pisco dalam volume yang jauh lebih besar dan dengan harga yang lebih kompetitif di panggung global. Penggunaan kayu dalam proses penuaan (aging) juga membuat Pisco Chile memiliki profil rasa yang lebih dekat dengan brendi tradisional Eropa atau wiski, yang terkadang lebih mudah diterima oleh selera konsumen internasional yang belum terbiasa dengan Pisco murni.

Dimensi Ekonomi dan Struktur Industri

Persaingan identitas ini memiliki implikasi ekonomi yang nyata, di mana volume produksi Chile yang masif berhadapan dengan strategi premiumisasi Peru yang agresif.

Dominasi Volume vs. Nilai Premium

Chile secara historis memimpin dalam hal volume produksi, dengan perusahaan besar seperti koperasi CAPEL yang mendominasi pasar domestik dan ekspor. Industri Chile terorganisir secara industrial, memungkinkan penetrasi pasar global yang luas melalui efisiensi biaya.

Di sisi lain, industri Peru terdiri dari ratusan produsen kecil yang bersifat artisanal. Meskipun volume produksinya lebih rendah, Peru telah berhasil memposisikan Pisco-nya sebagai produk mewah atau premium.

Data Ekonomi (Estimasi 2024/2025) Peru Chile
Produksi Tahunan (Liters) ~8 Juta Liter (2024) >30 Juta Liter (Estimasi kumulatif)
Nilai Ekspor (USD) ~8,5 Juta USD (2024) Terintegrasi dalam ekspor wine senilai >1,2 Miliar USD
Pertumbuhan Ekspor +4,8% (Jan-Jul 2025) Menghadapi kontraksi produksi wine -15,6% (2024)
Konsentrasi Pasar 85% usaha kecil Didominasi koperasi besar (CAPEL >54% pangsa)

Pergeseran kepemimpinan ekspor pertanian secara umum antara kedua negara memberikan konteks tambahan. Peru baru-baru ini melampaui Chile dalam total ekspor produk pertanian, didorong oleh lonjakan produksi anggur meja, blueberry, dan alpukat. Dinamika ini memberikan momentum bagi Peru untuk lebih agresif dalam mempromosikan Pisco sebagai “Spirit of Peru” di pasar internasional.

Dampak Perubahan Iklim pada Produksi

Kedua negara menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim yang memengaruhi siklus fenologi anggur. Di Chile, terjadi penurunan produksi wine sebesar 15,6% pada tahun 2024 akibat kondisi iklim ekstrem. Hal ini mendorong perdebatan mengenai keberlanjutan praktik irigasi, di mana Chile lebih banyak menggunakan irigasi tetes (drip irrigation) di gurun yang kering, sementara Peru masih sering menggunakan irigasi banjir (flood irrigation) di daerah pesisir yang lebih lembap. Kelangkaan air menjadi faktor risiko strategis yang dapat membatasi ambisi pertumbuhan kedua negara di masa depan.

Sengketa di Panggung Perdagangan Global dan WTO

Perselisihan antara Peru dan Chile mengenai nama Pisco telah menjadi salah satu studi kasus paling menarik dalam hukum perdagangan internasional, khususnya terkait dengan interpretasi Indikasi Geografis (GI).

Peran Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)

Sengketa ini masuk ke radar WTO bukan sebagai persidangan langsung mengenai nama, melainkan melalui isu diskriminasi pajak. Kasus WT/DS87 melibatkan keluhan dari Uni Eropa terhadap Chile, di mana Chile memberlakukan pajak yang lebih rendah untuk Pisco domestik dibandingkan dengan spirit impor seperti wiski. Peru bergabung sebagai pihak ketiga dalam konsultasi ini untuk memastikan bahwa kepentingan mereka terhadap nama Pisco terlindungi di tengah negosiasi tarif tersebut.

Secara lebih luas, sengketa ini beroperasi di bawah Perjanjian TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights). Artikel 22 hingga 24 TRIPS memberikan kerangka kerja untuk perlindungan Indikasi Geografis. Peru berpendapat bahwa Pisco adalah GI eksklusif miliknya, sementara Chile mengklaim hak yang sama berdasarkan penggunaan historis yang sah. Kebuntuan di WTO memaksa kedua negara untuk mencari pengakuan secara bilateral melalui Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan negara-negara mitra.

Strategi Pengakuan Internasional

Peru telah menunjukkan agresivitas luar biasa dalam mendaftarkan Pisco sebagai Appellation of Origin di bawah Sistem Lisbon (WIPO). Hingga saat ini, lebih dari 71 negara mengakui Pisco sebagai produk eksklusif Peru, termasuk India, Thailand, dan sebagian besar negara Amerika Latin.

Chile, sementara itu, memanfaatkan jaringan FTA-nya yang luas untuk mendapatkan pengakuan bersama. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, dan Korea Selatan mengakui hak kedua negara untuk menggunakan nama Pisco, asalkan disertai dengan kualifikasi geografis (misalnya, “Pisco Chileno” atau “Pisco Perú”).

Wilayah/Negara Status Pengakuan Dasar Hukum
Uni Eropa Mengakui Keduanya (Peru: GI; Chile: PDO) Regulasi 1065/2013
Amerika Serikat Mengakui Keduanya (Produk Khas) FTA US-Peru & US-Chile
India Mengakui Keduanya (GI Homonim) Putusan High Court 2025
Australia Mengakui Eksklusif Chile FTA Australia-Chile
Thailand Mengakui Eksklusif Peru Pendaftaran GI

Landmark Legal: Kasus India 2025 dan Konsep GI Homonim

Perkembangan terbaru di India memberikan preseden penting dalam hukum kekayaan intelektual internasional. Sengketa yang berlangsung selama hampir dua dekade ini berakhir dengan putusan Pengadilan Tinggi Delhi pada Juli 2025, yang memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana konflik “dua negara, satu nama” dapat diselesaikan.

Evolusi Konflik di India

Perselisihan dimulai pada tahun 2005 ketika Peru mendaftarkan Pisco sebagai GI eksklusif di India. Chile mengajukan oposisi, menyatakan bahwa pendaftaran tersebut akan menyesatkan konsumen dan mengabaikan hak historis produsen Chile. Setelah serangkaian banding, Pengadilan Tinggi Delhi memutuskan bahwa Pisco adalah contoh klasik dari “Indikasi Geografis Homonim” (Homonymous GI).

Pengadilan berpendapat bahwa meskipun nama “Pisco” berasal dari sebuah kota di Peru, penggunaan nama tersebut di Chile telah berlangsung selama berabad-abad dan memiliki reputasi yang mapan secara internasional. Oleh karena itu, memberikan hak eksklusif kepada satu pihak akan melanggar prinsip keadilan bagi produsen lain yang memiliki klaim historis yang sama sahnya.

Implikasi Yuridis Putusan India

Putusan ini mewajibkan penggunaan deskriptor geografis: “Peruvian Pisco” dan “Chilean Pisco”. Pengadilan menekankan bahwa tujuan utama hukum GI adalah untuk melindungi konsumen dari penyesatan dan memastikan perlakuan adil bagi produsen. Kasus ini juga menolak argumen Peru mengenai “misappropriation” (penyalahgunaan), dengan menyatakan bahwa konsep-konsep hukum merek dagang seperti prior use atau bad faith tidak dapat diterapkan secara mentah-mentah dalam rezim GI yang lebih berfokus pada hubungan produk dengan wilayah geografis.

Keputusan India ini sering dibandingkan dengan kasus domestik India lainnya, seperti “Banglar Rasogolla” dan “Odisha Rasagola”, di mana dua wilayah yang berbeda mendapatkan pengakuan atas variasi produk yang sama. Hal ini menunjukkan tren global menuju koeksistensi daripada eksklusivitas absolut dalam sengketa GI lintas batas.

Diplomasi Budaya dan Gastropolitics

Pisco bukan sekadar komoditas; ia adalah instrumen diplomasi budaya atau gastro-diplomacy. Persaingan ini sering kali merembat ke ranah yang tidak terduga, menciptakan apa yang disebut sebagai “Perang Pisco” di meja makan dan panggung internasional.

Pisco Sour sebagai Medan Perang Budaya

Kedua negara mengklaim Pisco Sour sebagai minuman nasional mereka dan memiliki hari libur nasional untuk merayakannya. Di Peru, hari Sabtu pertama di bulan Februari adalah Día del Pisco Sour, sebuah perayaan yang penuh dengan festival dan kebanggaan nasional.

Meskipun resep aslinya sering dikaitkan dengan Victor Morris, seorang ekspatriat Amerika di Lima pada awal abad ke-20, Chile juga memiliki tradisi kuat dalam penyajian Pisco Sour, meskipun biasanya tanpa penggunaan putih telur. Perbedaan ini menjadi bahan debat tak berujung tentang orisinalitas dan rasa, yang pada akhirnya justru meningkatkan popularitas minuman tersebut secara global karena rasa penasaran konsumen.

Kampanye Branding: “Spirit of Peru” vs “Chilean Pisco”

Pemerintah Peru meluncurkan merek “Pisco, Spirit of Peru” pada Maret 2019 sebagai upaya terkoordinasi untuk memposisikan produk mereka di pasar mewah dunia. Kampanye ini menekankan pada keanekaragaman hayati (8 jenis anggur), sejarah empat abad, dan kualitas distilasi tunggal.

Chile, sementara itu, fokus pada riset pasar dan keterlibatan bartender internasional. Laporan Brands Report 2025 dari majalah Drinks International menempatkan beberapa merek Chile dalam posisi teratas sebagai merek yang paling banyak terjual dan sedang tren di bar-bar terbaik dunia. Ini menunjukkan bahwa meskipun Peru memenangkan pertempuran hukum di lebih banyak negara, Chile masih memiliki cengkeraman kuat dalam hal distribusi dan kehadiran di industri perhotelan global.

Masa Depan Sengketa: Stalemate atau Kolaborasi?

Setelah lebih dari satu abad persaingan, muncul pertanyaan apakah ada jalan tengah yang dapat mengakhiri “perang” ini.

Peluang Perlindungan Lintas Batas

Beberapa ahli mengusulkan konsep perlindungan GI lintas batas atau bersama (binational GI). Argumennya adalah bahwa alih-alih menghabiskan sumber daya diplomatik dan finansial yang besar untuk litigasi internasional, kedua negara dapat berkolaborasi untuk mempromosikan kategori “Pisco” secara keseluruhan, mirip dengan bagaimana negara-negara produsen wine di Eropa mengelola merek regional mereka.

Perjanjian Lisbon (Akta Jenewa 2015) sebenarnya memungkinkan aplikasi bersama untuk GI yang mencakup wilayah lintas perbatasan. Namun, mengingat sejarah politik yang bermuatan emosional dan perbedaan standar teknis yang sangat tajam, kemungkinan kolaborasi formal tetap rendah dalam jangka pendek.

Tren Premiumisasi dan Konsumen Global

Dunia mixologi modern sedang bergerak ke arah penghargaan terhadap terroir dan keaslian. Hal ini menguntungkan Peru yang secara konsisten mempertahankan metode produksi tradisionalnya. Namun, pasar juga membutuhkan volume dan konsistensi harga, yang merupakan kekuatan utama Chile.

Masa depan Pisco kemungkinan besar akan melihat penguatan kedua identitas tersebut secara berdampingan. Konsumen di pasar maju seperti London, Tokyo, atau New York mulai belajar untuk membedakan antara Pisco Peru yang aromatik dan Pisco Chile yang matang di kayu, memperlakukan mereka sebagai dua jenis minuman yang berbeda namun berada dalam satu kategori besar.

Kesimpulan: Pisco sebagai Cermin Kedaulatan

Perang identitas Pisco antara Peru dan Chile menunjukkan bahwa dalam sistem perdagangan modern, sebuah nama bisa menjadi aset strategis yang lebih berharga daripada produk itu sendiri. Perselisihan ini telah memaksa hukum internasional untuk berevolusi, menciptakan konsep koeksistensi seperti GI homonim untuk mengakomodasi realitas sejarah yang tumpang tindih.

Bagi Peru, Pisco adalah simbol perlawanan budaya dan pelestarian tradisi yang tak tergoyahkan. Bagi Chile, Pisco adalah bukti inovasi industri dan keberhasilan adaptasi ekonomi. Meskipun meja negosiasi di WTO atau WIPO mungkin tidak akan pernah menghasilkan satu pemenang mutlak, kompetisi ini secara tidak langsung telah memaksa kedua negara untuk terus meningkatkan standar kualitas mereka, yang pada akhirnya menguntungkan konsumen global dan memperkaya warisan kuliner dunia. Pisco, dengan segala kontroversinya, tetap menjadi salah satu minuman paling menarik di dunia—bukan hanya karena rasanya, tetapi karena setiap tegukannya membawa beban sejarah, hukum, dan kebanggaan dua negara yang bersaing.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

84 + = 86
Powered by MathCaptcha