Fenomena rasialisasi estetika dalam ruang digital kontemporer telah berkembang melampaui sekadar preferensi gaya hidup menjadi situs kontestasi identitas, kekuasaan, dan ekonomi yang sangat kompleks. Di platform media sosial global, muncul kecenderungan di mana individu dari satu kelompok ras secara sengaja memanipulasi penampilan fisik mereka melalui berbagai intervensi teknis—termasuk riasan wajah, penyamakan kulit secara ekstrem, penggunaan filter berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga prosedur bedah kosmetik—untuk mengadopsi fitur fisik ras lain. Motif di balik transformasi ini sering kali bersifat multidimensional, mencakup upaya pencarian modal sosial berupa pengikut dan pengaruh, hingga perolehan keuntungan komersial melalui kemitraan merek. Namun, di balik daya tarik visualnya, praktik ini menyimpan paradoks yang tajam: fitur fisik yang secara historis menjadi situs diskriminasi bagi kelompok marginal kini diambil alih sebagai “kostum” atau “estetika” oleh kelompok dominan tanpa harus menanggung beban stigmatisasi yang melekat pada identitas asli tersebut.

Laporan ini mengeksplorasi secara mendalam dinamika sosiopolitik dari tren “digital blackface”, “blackfishing”, dan “asian fishing”. Analisis ini akan membedah apakah fenomena ini mencerminkan kemajuan menuju masyarakat pasca-rasial yang inklusif di mana identitas bersifat cair, atau justru merupakan manifestasi baru dari eksploitasi identitas yang berakar pada logika kolonial. Dengan mengintegrasikan perspektif sosiologi, ekonomi digital, psikologi, dan teori media, ulasan ini akan memaparkan bagaimana teknologi mengubah ras menjadi komoditas yang dapat dikonsumsi dan dibuang sesuka hati dalam ekonomi perhatian global.

Genealogi Rasialisasi: Dari Panggung Minstrel ke Algoritma Digital

Memahami fenomena digital blackface dan blackfishing tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang rasisme pertunjukan di Barat. Praktik penggunaan riasan untuk meniru atau mengejek identitas rasial lain memiliki akar yang dalam pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 melalui pertunjukan minstrelsy.

Transformasi Blackface dalam Medium Digital

Istilah “digital blackface” dipopulerkan oleh peneliti seperti Lauren Michele Jackson untuk menggambarkan praktik di mana orang kulit putih dan non-hitam menggunakan medium teknologi kontemporer untuk mengklaim identitas atau ekspresi orang kulit hitam. Namun, akar teknisnya telah diidentifikasi sejak tahun 1999 oleh Adam Clayton Powell III, yang menggunakan istilah “high-tech blackface” untuk merujuk pada stereotip rasial karakter kulit hitam dalam permainan komputer. Dalam ekosistem media sosial saat ini, praktik ini termanifestasi dalam penggunaan GIF reaksi, meme, dan klip audio yang menampilkan selebritas atau individu kulit hitam untuk mengekspresikan emosi yang dianggap “berlebihan” atau “dramatis”.

Secara historis, minstrel blackface berfungsi untuk memperkuat supremasi kulit putih dengan memotret orang kulit hitam sebagai sosok yang tidak kompeten, hiper-seksual, atau sekadar penghibur bagi audiens kulit putih. Di dunia digital, penggunaan gambar atau suara orang kulit hitam oleh pengguna non-kulit hitam sering kali mengulangi dinamika ini dengan mereduksi kompleksitas manusia kulit hitam menjadi alat untuk jocularity atau komedi internet. Pengguna non-kulit hitam dapat “mengenakan” persona hitam saat merasa nyaman dan menyenangkan, namun mereka dapat segera kembali ke identitas non-hitam mereka untuk menghindari stigma, bahaya, dan beban sosial yang dialami oleh orang kulit hitam asli setiap harinya.

Tabel 1: Perbandingan Karakteristik Performa Rasial Tradisional dan Digital

Dimensi Minstrelsy Tradisional (Abad ke-19/20) Digital Blackface & Blackfishing (Abad ke-21)
Medium Utama Panggung teater, film, radio Media sosial, GIF, Meme, Filter AI
Metode Fisik Riasan wajah hitam pekat (burnt cork) Penyamakan kulit ekstrem, filler bibir, wig tekstur kinky
Target Ekspresi Karikatur “lazy mother” atau “predatory male” Trope “sassy Black woman” atau “cool/gangster”
Status Hukum Legal dan didukung secara institusional Secara umum legal, namun tunduk pada sanksi sosial/pembatalan
Dinamika Ekonomi Hiburan massa untuk keuntungan teater Monetisasi pengaruh, kemitraan merek kecantikan

Analisis sosiologis menunjukkan bahwa kegagalan untuk bermaksud menyakiti tidak mengurangi dampak dari proliferasi rasisme di ruang online. Praktik mendiami persona kulit hitam melalui teknologi digital merupakan tindakan mendiami “cache” atau “coolness” yang dirasakan dari budaya hitam tanpa mengakui kemanusiaan asli dari subjek tersebut.

Blackfishing: Konstruksi Estetika dan Komodifikasi Melanin

Fenomena blackfishing mewakili evolusi material dari digital blackface. Jika digital blackface sering kali bersifat sementara (seperti mengirim GIF), blackfishing melibatkan transformasi penampilan fisik yang lebih permanen atau berkelanjutan oleh influencer non-kulit hitam—terutama perempuan kulit putih—agar terlihat memiliki ras campuran atau kulit hitam.

Mekanisme Transformasi Fisik

Influencer yang terlibat dalam blackfishing menggunakan kombinasi teknik untuk mencapai ambiguitas rasial. Ini termasuk penggunaan produk penyamak kulit yang sangat gelap, teknik riasan yang menonjolkan fitur wajah tertentu (seperti filler bibir untuk menciptakan tampilan yang lebih penuh), dan adopsi gaya rambut pelindung tradisional kulit hitam seperti braids, cornrows, atau penggunaan wig bertekstur kinky/coily. Contoh yang paling sering dikutip adalah model Swedia Emma Hallberg, yang akun Instagram-nya dipenuhi dengan foto-foto di mana ia tampak memiliki kulit gelap dan rambut keriting, memicu asumsi luas di kalangan pengikutnya bahwa ia adalah orang kulit hitam atau ras campuran.

Pembelaan diri yang sering dikemukakan oleh pelaku blackfishing, seperti klaim Hallberg bahwa ia hanya mendapatkan “tan alami” dari matahari, sering kali dianggap mengabaikan sejarah panjang colorism. Secara tradisional, fitur seperti kulit gelap dan rambut kinky digunakan untuk memperkuat gagasan bahwa perempuan kulit hitam inferior. Oleh karena itu, ketika penyamakan kulit “cokelat gelap” menjadi tren di kalangan kulit putih, hal tersebut dipandang sebagai ejekan terhadap perjuangan perempuan kulit hitam yang baru saja mulai merayakan fitur alami mereka dalam masyarakat yang sering menganggapnya buruk.

Motivasi Ekonomi dalam Ekonomi Perhatian

Terdapat insentif finansial yang kuat bagi influencer kulit putih untuk melakukan blackfishing. Dalam industri kecantikan dan mode saat ini, “estetika kulit hitam” dianggap sebagai aset yang sangat laku secara komersial. Influencer yang tampak memiliki identitas rasial yang ambigu sering kali mendapatkan lebih banyak perhatian dari pengikut dan merek yang mencari citra “urban” atau “beragam” tanpa harus berurusan dengan realitas politik keberagaman yang sesungguhnya.

Penelitian menunjukkan bahwa merek-merek sering kali menggunakan inspirasi dari budaya hitam—termasuk gaya rambut bersejarah, bahasa gaul (AAVE), dan gaya—namun lebih memilih mempekerjakan model yang melakukan blackfishing daripada influencer kulit hitam yang asli. Ini menciptakan situasi di mana peluang ekonomi yang seharusnya tersedia bagi kreator kulit hitam justru diambil alih oleh mereka yang melakukan “kostum rasial”.

Tabel 2: Kesenjangan Pendapatan Influencer Berdasarkan Ras (Data MSL & SevenSix)

Kategori Influencer Kesenjangan Bayaran vs Kulit Putih Catatan Temuan Utama
Influencer Kulit Hitam (Global) $35\%$ lebih rendah $77\%$ berada di tier nano/micro; menghadapi hambatan mobilitas atas
Influencer Asia Selatan $31\%$ lebih rendah Bayaran rata-rata per post jauh di bawah rekan kulit putih
Influencer Asia Timur $38\%$ lebih rendah Terpengaruh oleh stereotip kecantikan tertentu
Influencer Kulit Putih $0\%$ (Basis) Memiliki akses lebih besar ke tier makro ($50K+$ followers)

Ketimpangan ini diperparah oleh algoritma media sosial yang sering kali gagal memperkuat konten dari kreator kulit hitam asli, sehingga membatasi jangkauan dan visibilitas mereka dibandingkan dengan rekan non-hitam yang mengadopsi estetika yang sama.

Asian Fishing dan Tren “Fox Eye”: Dari Karikatur ke Bedah Estetika

Tren “Asian fishing” memiliki dinamika yang serupa namun beroperasi melalui kumpulan stereotip dan teknik transformasi yang berbeda, sering kali berfokus pada fitur mata dan struktur wajah yang dianggap khas Asia Timur atau Tenggara.

Fenomena Fox Eye dan Sejarah Ejekan Rasial

Salah satu manifestasi paling kontroversial dari asian fishing adalah tren “fox eye”. Tren ini melibatkan penggunaan riasan wajah, selotip, atau prosedur bedah seperti PDO thread lift untuk menarik sudut mata dan alis ke arah pelipis, menciptakan tampilan mata yang memanjang dan miring ke atas. Bagi banyak individu dalam komunitas Asia, pose foto yang menyertai tren ini—di mana seseorang menarik pelipisnya dengan tangan—secara instan memicu ingatan traumatis akan ejekan rasial “chink-eye” yang digunakan untuk merendahkan orang Asia selama beberapa dekade.

Ironisnya, fitur mata yang secara historis membuat orang Asia dianggap “barbar,” “subhuman,” atau “tidak dapat dipercaya” dalam karikatur Barat kini diadopsi oleh model-model kulit putih seperti Bella Hadid dan Kendall Jenner sebagai standar kecantikan baru yang dianggap “snatched” atau “exotic”. Praktik ini merupakan bentuk apropriasi budaya yang tidak menyesal, di mana fitur inborn yang menyebabkan perundungan bagi pemilik aslinya menjadi tren mode yang hanya dianggap cantik ketika ditampilkan pada wajah kulit putih.

Tabel 3: Perbandingan Prosedur Estetika: Blepharoplasty vs Thread Lift

Fitur Asian Blepharoplasty (Tradisional) PDO Thread Lift / Fox Eye (Tren Baru)
Tujuan Menciptakan kelopak mata ganda agar mata tampak lebih lebar dan “Barat” Menarik sudut mata ke atas agar tampak lebih miring dan “eksotis”
Konteks Sejarah Tekanan untuk asimilasi dan agar terlihat lebih ramah bagi masyarakat Barat Apropriasi fitur etnis sebagai tren kecantikan temporer
Kelompok Pengguna Mayoritas individu keturunan Asia Timur Mayoritas individu Kaukasia dan non-Asian
Implikasi Sosiologis Penyesuaian diri terhadap hegemoni kecantikan kulit putih Eksploitasi fitur fisik minoritas tanpa menanggung beban rasisme

Bedah blefaroplasty sering kali dilakukan oleh orang Asia karena tekanan sistemik untuk menghindari stereotip negatif dan untuk mencapai kesuksesan karier—seperti yang dialami oleh tokoh televisi Julie Chen yang merasa ditekan oleh atasannya karena matanya yang dianggap membuatnya terlihat “bosan” atau “tidak relatable”. Sebaliknya, tren fox eye memungkinkan orang kulit putih untuk bermain dengan identitas “Asia” tanpa pernah harus menghadapi hambatan sistemik yang menyertainya.

Studi Kasus Oli London: Batas-Batas “Transracialism”

Kasus influencer Inggris Oli London mewakili titik ekstrem dalam diskursus asian fishing dan rasialisasi estetika. London menghabiskan lebih dari $\$200.000$ untuk menjalani lebih dari $30$ prosedur bedah plastik guna menyerupai Jimin dari grup K-pop BTS.

Klaim Identitas dan Eksploitasi Komunitas Marginal

Pada tahun 2021, London mengumumkan bahwa ia mengidentifikasi diri sebagai orang Korea dan “transracial,” menggunakan kata ganti they/them/Korean/Jimin. London berargumen bahwa identitas rasial harus diperlakukan sama cairnya dengan identitas gender dalam komunitas LGBTQIA+, sebuah klaim yang ditolak keras oleh mayoritas akademisi dan komunitas Asia karena dianggap sebagai penghinaan terhadap pengalaman hidup orang Korea yang sebenarnya.

London melakukan komodifikasi terhadap identitas Korea melalui video musik dan aktivitas media sosial yang mengeksploitasi status “trans” untuk mendapatkan perhatian publik. Tindakannya, seperti mengubah warna bendera nasional Korea Selatan menjadi pelangi untuk melambangkan identitas barunya, dipandang sebagai tindakan kriminal yang merusak simbol nasional dan budaya. Kasus ini menyoroti bagaimana teknologi bedah dan media sosial memungkinkan individu dengan privilese ekonomi untuk melakukan “racial plagiarism” atau pencurian rasial secara total, sambil mengabaikan struktur kekuasaan sejarah yang membentuk ras sebagai kategori sosial.

Dampak Psikologis dan Sosiologis pada Komunitas Terpinggirkan

Eksploitasi fitur fisik melalui media sosial bukan sekadar masalah estetika; ia memiliki dampak kesehatan mental yang mendalam dan nyata pada individu dari komunitas yang ditiru.

Kesehatan Mental dan Harga Diri

Penelitian sosiologis menunjukkan bahwa remaja perempuan kulit hitam mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi akibat persinggungan antara rasisme dan seksisme. Ketika standar kecantikan Eurosentris tetap dominan namun secara selektif mengadopsi fitur kulit hitam (seperti bibir penuh atau bokong besar) hanya pada tubuh kulit putih, hal ini menciptakan disonansi kognitif yang merusak harga diri perempuan kulit hitam asli.

Data survei menunjukkan bahwa $78\%$ perempuan kulit hitam pernah merasa tidak nyaman dengan tekstur rambut mereka, dan $64\%$ merasa tidak nyaman dengan warna kulit mereka akibat tekanan standar kecantikan. Munculnya gerakan seperti #BlackGirlMagic merupakan respon untuk membangun kembali harga diri dan resiliensi, namun gerakan ini pun sering kali dikomodifikasi oleh pihak luar melalui praktik digital blackface.

Tabel 4: Dampak Psikososial Rasialisasi Estetika

Indikator Dampak pada Komunitas yang Ditiru Dampak pada Pelaku (Kelompok Dominan)
Konsep Diri Perasaan dehumanisasi; identitas direduksi menjadi “kostum” Peningkatan modal sosial; rasa “unik” atau “eksotis”
Kesehatan Mental Peningkatan stres psikologis, depresi, dan ketidakpuasan tubuh Umumnya tidak terdampak secara negatif kecuali adanya sanksi sosial
Keamanan Sosial Tetap menghadapi diskriminasi sistemik dan kekerasan rasial Dapat “melepas” identitas rasial kapan saja untuk keamanan
Akses Ekonomi Kesenjangan bayaran; kehilangan peluang kontrak merek Keuntungan finansial dari tren; akses ke pasar “beragam”

Praktik blackfishing dan asian fishing memperkuat tatanan di mana fitur fisik minoritas hanya dianggap berharga dan indah jika dikendalikan dan ditampilkan oleh tubuh kulit putih. Ini adalah bentuk “kolonialisme digital” di mana tradisi dan identitas yang hidup dikemas ulang dan dijual kembali kepada pemilik aslinya oleh mereka yang berada pada jarak privilese yang aman.

Identitas Digital sebagai Simulasi: Paralel dengan “Digital Drugs”

Fenomena rasialisasi estetika dapat dianalisis lebih lanjut dengan membandingkannya dengan tren konsumsi pengalaman digital lainnya, seperti “digital drugs” atau binaural beats. Keduanya mencerminkan keinginan individu di era digital untuk memanipulasi keadaan internal dan eksternal mereka melalui simulasi teknologi.

Teknologi Entrainment dan Alterasi Diri

Binaural beats adalah ilusi pendengaran yang terjadi ketika dua nada dengan frekuensi yang sedikit berbeda dikirimkan ke masing-masing telinga, memicu otak untuk menghasilkan frekuensi ketiga yang sinkron. Fenomena ini digunakan dalam produk digital yang menjanjikan peningkatan fokus, relaksasi, atau bahkan simulasi keadaan euforia yang mirip dengan penggunaan narkoba fisik—sehingga melahirkan istilah “I-Dosing” atau “digital drugs”.

Sama seperti digital blackface yang menggunakan teknologi untuk “mendiami” persona rasial lain, pendengar binaural beats menggunakan audio untuk “mendiami” keadaan mental yang berbeda secara instan. Kedua praktik ini mencerminkan mentalitas bahwa identitas dan pengalaman manusia adalah sesuatu yang dapat diunduh, disimulasikan, dan dikonsumsi secara dangkal tanpa harus melalui proses pertumbuhan atau penderitaan yang nyata.

Tabel 5: Paralel Simulasi Identitas dan Pengalaman Digital

Fitur Simulasi Rasialisasi Estetika (Blackfishing/Asian Fishing) Digital Drugs (Binaural Beats/VR)
Mekanisme Filter AI, riasan, bedah, penyamakan kulit Sinkronisasi gelombang otak via audio/cahaya
Janji Utama Akses ke “coolness” atau estetika eksotis Akses ke ketenangan atau euforia instan
Risiko Utama Penghapusan kemanusiaan subjek; rasisme sistemik Ketidakpastian dampak neurologis; ketergantungan digital
Status Etika Dianggap sebagai eksploitasi identitas Masih dalam perdebatan regulasi kesehatan/hukum

Penggunaan stimulasi cahaya stroboskopik seperti Lucia $N^o 03$ untuk menginduksi keadaan psikedelik digital menunjukkan bahwa batas antara kenyataan fisik dan simulasi digital semakin kabur. Dalam konteks ras, kaburnya batas ini memungkinkan individu untuk merasa seolah-olah mereka telah “mengalami” menjadi bagian dari ras lain hanya melalui penampilan luar, yang pada gilirannya mendiskreditkan pengalaman hidup yang mendalam dan sering kali menyakitkan dari anggota ras asli tersebut.

Tantangan Hukum dan Kebijakan di Ruang Digital

Regulasi terhadap rasialisasi estetika menghadapi hambatan besar karena hukum di banyak negara belum memiliki kerangka kerja untuk menangani “pencurian identitas rasial” yang tidak melibatkan penipuan hukum tradisional.

Status Hukum Digital Drugs vs Digital Racism

Dalam kasus “digital drugs”, beberapa negara seperti Yordania, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi telah mulai mempertimbangkan kriminalisasi terhadap penggunaan audio yang adiktif karena kekhawatiran akan dampak kesehatan pada pemuda. Namun, pembuktian materiil dalam kasus ini sangat sulit karena “narkoba digital” secara teknis hanyalah getaran musik.

setali tiga uang, dalam kasus rasialisasi estetika, hukum sering kali bungkam. Meskipun tindakan seperti digital blackface dan blackfishing dapat merusak kohesi sosial dan kesehatan mental, tindakan tersebut jarang memenuhi kriteria kejahatan kebencian dalam definisi hukum saat ini. Peneliti merekomendasikan adanya pemutakhiran pada Undang-Undang Kejahatan Elektronik untuk mengatur platform yang mempromosikan narasi rasis atau eksploitatif, namun tantangan utamanya tetap pada definisi “kerugian materiil”.

Tanggung Jawab Platform dan Algoritma

Ketimpangan digital atau “digital apartheid” terjadi ketika teknologi memperkuat ketidaksetaraan ras, kelas, dan gender. Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang memicu keterlibatan tinggi, yang sering kali berarti konten yang kontroversial atau yang mengikuti standar kecantikan yang “diinginkan” oleh pasar kulit putih. Tanpa adanya intervensi regulasi yang mewajibkan transparansi algoritma dan moderasi konten yang peka terhadap sejarah rasial, platform digital akan terus menjadi instrumen yang memfasilitasi eksploitasi identitas demi profit.

Kesimpulan: Inklusi Semu atau Eksploitasi Baru?

Fenomena rasialisasi estetika melalui tren “digital blackface”, “blackfishing”, dan “asian fishing” tidak dapat dipandang sebagai bentuk kemajuan inklusi atau bukti bahwa dunia digital telah menjadi ruang tanpa ras. Sebaliknya, bukti-bukti menunjukkan bahwa fenomena ini merupakan bentuk eksploitasi identitas baru yang memungkinkan kelompok dominan untuk memanen nilai budaya dan estetika dari komunitas marginal sambil tetap mempertahankan struktur kekuasaan yang menindas mereka.

Ketika fitur fisik yang merupakan warisan inborn dari sebuah etnis diambil sebagai “kostum” oleh orang lain, hal itu mengikis kemanusiaan dari pemilik aslinya. Inklusi yang sebenarnya membutuhkan pengakuan terhadap martabat manusia secara utuh, bukan sekadar adopsi ciri fisik sebagai tren kecantikan yang dapat dibuang. Masa depan digital yang lebih adil menuntut kita untuk menantang penggunaan ras sebagai komoditas, memperbaiki kesenjangan bayaran yang rasis dalam ekonomi influencer, dan memaksa platform teknologi untuk bertanggung jawab atas bias sistemik yang mereka sebarkan.

Keseriusan dalam menangani isu ini akan menentukan apakah media sosial akan menjadi alat untuk pemahaman lintas budaya yang tulus, atau tetap menjadi panggung bagi bentuk-bentuk baru kolonialisme digital yang merampas hak komunitas terpinggirkan untuk memiliki dan mengendalikan narasi mereka sendiri.

Rekomendasi Aksi untuk Pemangku Kepentingan

  1. Untuk Perusahaan Media Sosial: Mengaudit algoritma rekomendasi untuk memastikan bahwa kreator dari komunitas marginal mendapatkan visibilitas yang setara dan tidak tertutup oleh influencer yang melakukan masking rasial. Implementasi filter kecantikan juga harus ditinjau kembali agar tidak mempromosikan karikatur etnis.
  2. Untuk Merek dan Agensi Pemasaran: Mengadopsi standar transparansi gaji influencer untuk menghilangkan kesenjangan pendapatan rasial. Merek harus memprioritaskan kemitraan dengan individu yang memiliki hubungan autentik dengan budaya atau estetika yang mereka tampilkan dalam kampanye.
  3. Untuk Pengguna Digital: Meningkatkan literasi media untuk mengenali praktik apropriasi budaya dan memberikan dukungan aktif kepada kreator asli dari komunitas yang terpinggirkan melalui keterlibatan yang sadar dan kritis.
  4. Untuk Pembuat Kebijakan: Memperluas definisi kerugian dalam undang-undang ruang siber untuk mencakup dampak kesehatan mental kolektif dari rasisme digital dan eksploitasi identitas rasial secara komersial.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 3 =
Powered by MathCaptcha