Eksperimen Penjara Stanford (SPE) yang dilaksanakan pada bulan Agustus 1971 tetap berdiri sebagai monumen paling gelap sekaligus paling instruktif dalam sejarah psikologi sosial kontemporer. Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Philip G. Zimbardo ini awalnya dirancang sebagai penyelidikan ilmiah yang terkontrol untuk memahami dinamika kekuasaan dan ketidakberdayaan dalam institusi total, namun dengan cepat meluruh menjadi manifestasi kekerasan psikologis yang tidak terkendali. Melalui simulasi yang dibangun di ruang bawah tanah Departemen Psikologi Universitas Stanford, studi ini berusaha menjawab pertanyaan fundamental mengenai sifat manusia: apakah kejahatan merupakan produk dari karakter individu yang cacat, ataukah ia merupakan konsekuensi tak terelakkan dari struktur situasional yang patologis?. Namun, seiring berjalannya waktu, narasi klasik mengenai “orang baik yang berubah menjadi jahat” mulai menghadapi tantangan serius dari temuan-temuan arsip yang menunjukkan adanya manipulasi eksperimental, pelatihan terhadap subjek, dan keruntuhan integritas ilmiah demi mengejar kesimpulan yang dramatis.
Arsitektur Simulasi dan Fondasi Metodologis
Penyusunan eksperimen ini didasarkan pada premis situasionalisme, sebuah teori yang menyatakan bahwa lingkungan sosial memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dalam menentukan perilaku individu dibandingkan dengan sifat kepribadian internal. Untuk menguji premis ini, Zimbardo dan timnya menciptakan lingkungan penjara tiruan yang dirancang untuk meniru kondisi psikologis penjara asli Amerika Serikat pada masa itu, dengan fokus khusus pada penghancuran identitas dan penegasan otoritas absolut.
Rekrutmen dan Prosedur Seleksi Partisipan
Proses rekrutmen dimulai dengan penempatan iklan di surat kabar lokal, Palo Alto Times dan The Stanford Daily, yang mencari sukarelawan laki-laki untuk berpartisipasi dalam “studi psikologis tentang kehidupan penjara”. Kompensasi yang ditawarkan adalah $15 per hari, angka yang cukup signifikan pada tahun 1971, setara dengan sekitar $116 pada nilai mata uang saat ini. Dari 75 pelamar yang merespons, tim peneliti melakukan serangkaian evaluasi klinis yang ketat untuk memastikan bahwa sampel penelitian terdiri dari individu-individu yang paling stabil secara psikologis.
Prosedur penyaringan mencakup wawancara mendalam dan tes kepribadian untuk mengeksklusi individu yang memiliki latar belakang kriminal, riwayat gangguan mental, atau masalah medis yang signifikan. Tujuannya adalah untuk memulai eksperimen dengan sekelompok individu yang homogen, “normal”, dan sehat secara emosional, sehingga perubahan perilaku apa pun yang terjadi selama simulasi dapat diatribusikan secara eksklusif pada variabel situasional. Akhirnya, 24 mahasiswa laki-laki terpilih dan secara acak dibagi menjadi dua kelompok melalui lemparan koin: sembilan penjaga dan sembilan tahanan, dengan partisipan lainnya berada dalam status cadangan.
| Komponen Eksperimen | Spesifikasi Teknis dan Prosedur |
| Lokasi | Ruang bawah tanah Jordan Hall, Universitas Stanford (35 kaki panjang) |
| Durasi Rencana | 14 Hari |
| Durasi Aktual | 6 Hari (Dihentikan prematur pada 21 Agustus 1971) |
| Partisipan | 24 Mahasiswa Laki-laki (Kelas menengah, sehat secara psikis) |
| Alokasi Peran | Randomisasi murni melalui lemparan koin (Heads/Tails) |
| Kompensasi | $15 per hari (setara ~$116 tahun 2025) |
| Pendanaan | Grant dari U.S. Office of Naval Research |
Rekayasa Lingkungan Fisik dan Psikologis
Penjara simulasi dibangun dengan memodifikasi koridor ruang bawah tanah menggunakan dinding kayu buatan untuk menciptakan tiga sel kecil berukuran 6 x 9 kaki. Setiap sel dirancang untuk menampung tiga tahanan, dilengkapi dengan ranjang lipat dan kasur tipis. Selain sel tahanan, terdapat ruang kecil untuk “halaman penjara”, ruang istirahat bagi penjaga yang bekerja dalam shift delapan jam, dan sebuah lemari gelap yang sangat sempit yang dinamakan “The Hole” untuk isolasi mandiri.
Untuk memperkuat realisme dan mempercepat proses deindividuasi—suatu keadaan di mana individu kehilangan rasa identitas pribadi dan tanggung jawab moral—Zimbardo menerapkan serangkaian simbol otoritas dan penundukan. Para penjaga mengenakan seragam khaki militer, membawa peluit, dan tongkat kayu (billy club) yang dipinjam dari kepolisian. Elemen yang paling krusial adalah penggunaan kacamata hitam reflektif (mirrored sunglasses), yang bertujuan untuk menghilangkan kontak mata dan menciptakan dinding anonimitas antara penjaga dan tahanan.
Sebaliknya, para tahanan dipaksa menjalani proses induksi yang dirancang untuk merendahkan martabat mereka sejak awal. Tanpa peringatan, mereka “ditangkap” di kediaman masing-masing oleh polisi asli dari Departemen Kepolisian Palo Alto, diborgol, dan dibawa ke kantor polisi untuk pengambilan sidik jari. Setelah tiba di penjara Stanford, mereka ditelanjangi, disemprot cairan pembasmi kutu, dan diberikan seragam berupa gaun smock tanpa pakaian dalam untuk menciptakan rasa malu dan kebiri psikologis. Nama-nama mereka dihapus dan digantikan oleh nomor identitas unik yang dijahit pada seragam mereka; mereka juga dipaksa memakai rantai berat di kaki kanan dan topi nilon untuk menyembunyikan rambut, memperkuat persepsi diri sebagai objek yang tidak beridentitas.
Dinamika Konflik: Kronologi Enam Hari Mimpi Buruk
Eksperimen yang direncanakan berlangsung selama dua minggu ini segera menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan sistemik. Transformasi perilaku subjek terjadi dengan kecepatan yang mengejutkan, melampaui prediksi awal tim peneliti.
Hari Pertama: Fase Penyesuaian dan Ketegangan Awal
Hari pertama dimulai dengan suasana yang relatif tenang namun penuh kecanggungan. Para penjaga belum sepenuhnya menyatu dengan peran otoritarian mereka, sementara para tahanan cenderung menganggap simulasi ini sebagai permainan yang tidak serius. Namun, ketenangan ini berakhir ketika penjaga mulai melakukan “penghitungan” (counts) pada pukul 2:30 pagi, membangunkan tahanan dengan peluit keras dan memaksa mereka menyebutkan nomor identitas berulang kali. Prosedur ini digunakan sebagai alat untuk menguji kepatuhan dan menegaskan kontrol atas waktu tidur para tahanan.
Hari Kedua: Pemberontakan dan Strategi “Divide and Conquer”
Pada pagi hari kedua, para tahanan memulai pemberontakan terbuka. Mereka melepaskan nomor identitas, membarikade pintu sel dengan tempat tidur, dan mengejek para penjaga. Respon penjaga sangat brutal: mereka menggunakan alat pemadam api karbon dioksida untuk menyemprot para tahanan, memaksa mereka menjauh dari pintu, lalu masuk ke sel untuk menelanjangi para pemberontak dan menyita tempat tidur mereka.
Setelah memadamkan pemberontakan, para penjaga mulai menerapkan taktik manipulasi psikologis yang canggih. Mereka menciptakan “sel istimewa” (privilege cell) bagi tiga tahanan yang dianggap paling tidak terlibat dalam pemberontakan. Tahanan di sel ini diberikan pakaian bersih, tempat tidur kembali, dan makanan yang lebih baik di depan mata rekan-rekan mereka yang kelaparan. Tujuannya adalah untuk menghancurkan solidaritas tahanan dengan menciptakan kecurigaan bahwa para tahanan di sel istimewa adalah informan penjaga.
Hari Ketiga: Keruntuhan Mental dan Delusi Pelarian
Ketegangan psikologis mulai memakan korban jiwa secara mental. Tahanan nomor #8612 (Douglas Korpi) mulai menunjukkan tanda-tanda depresi akut, kemarahan yang tidak terkendali, dan tangisan histeris. Awalnya, Zimbardo—yang telah terperangkap dalam perannya sebagai Superintendent—mencoba meyakinkan Korpi untuk tetap tinggal, namun setelah melihat keparahan kondisinya, Korpi dibebaskan pada malam itu.
Pada hari yang sama, muncul rumor tentang rencana pelarian massal yang dipimpin oleh Korpi setelah pembebasannya. Para peneliti, bukannya bertindak sebagai psikolog yang objektif, justru bereaksi dengan paranoid. Mereka mencoba memindahkan penjara ke lantai lain gedung tersebut, namun ketika rencana itu gagal, mereka memaksa para tahanan duduk dengan kantong nilon di kepala selama berjam-jam sebagai tindakan pencegahan. Penjaga juga mulai meningkatkan hukuman fisik seperti push-up, seringkali dengan menginjak punggung tahanan yang sedang melakukannya.
Hari Keempat: Kunjungan Orang Tua dan Evaluasi Imam
Untuk menjaga ilusi normalitas, Zimbardo mengadakan hari kunjungan bagi keluarga. Para penjaga memaksa tahanan membersihkan sel, mandi, dan memakai seragam bersih sebelum orang tua datang. Beberapa orang tua merasa khawatir melihat kondisi fisik anak mereka yang memburuk, namun Zimbardo berhasil meredam keberatan mereka dengan bersikap defensif dan otoriter.
Kejadian lain yang menunjukkan dalamnya imersi partisipan adalah kunjungan seorang mantan kapelan penjara asli. Sang imam mewawancarai para tahanan, yang sebagian besar merespons dengan menyebutkan nomor identitas mereka daripada nama asli, menunjukkan bahwa identitas sipil mereka telah terkikis. Salah satu tahanan, #819, mengalami kegagalan mental setelah mendengar rekan-rekannya dipaksa berteriak, “Tahanan #819 adalah tahanan yang buruk!”. Zimbardo harus turun tangan langsung untuk menyadarkan #819 bahwa ini hanyalah sebuah eksperimen dan dia bukan seorang kriminal.
Hari Kelima: Puncak Sadisme dan Intervensi Maslach
Pada hari kelima, perilaku penjaga menjadi semakin patologis. Mereka memaksa tahanan untuk melakukan tugas-tugas yang menghina secara seksual, seperti mensimulasikan sodomi atau membersihkan toilet dengan tangan kosong. Zimbardo sendiri mengakui bahwa dia telah kehilangan perspektif ilmiahnya, berjalan dengan tangan di belakang punggung seperti seorang komandan militer yang sedang memeriksa pasukan.
Intervensi yang mengakhiri eksperimen ini datang dari Christina Maslach, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Stanford yang baru saja mendapatkan gelar PhD dan memiliki hubungan romantis dengan Zimbardo. Ketika Maslach melihat para tahanan digiring ke toilet dengan kantong nilon di kepala dan kaki yang dirantai, dia merasa ngeri dan menantang Zimbardo secara moral. Maslach adalah satu-satunya dari sekitar 50 pengamat luar yang secara eksplisit menyatakan bahwa apa yang dilakukan di sana adalah penyiksaan terhadap manusia dan harus dihentikan.
Hari Keenam: Penghentian Eksperimen dan Debriefing
Menyadari kebenaran dari protes Maslach dan melihat bahwa realitas simulasi telah benar-benar mengalahkan kontrol eksperimental, Zimbardo secara resmi mengakhiri studi pada 21 Agustus 1971. Proses debriefing dilakukan secara ekstensif, mempertemukan para penjaga dan tahanan untuk mengekspresikan emosi mereka dan mencoba mengintegrasikan kembali identitas asli mereka. Meskipun lima partisipan harus dilepaskan lebih awal karena trauma psikologis, tes tindak lanjut jangka panjang menunjukkan bahwa tidak ada partisipan yang menderita trauma permanen setelah studi berakhir.
Analisis Teoretis: Mekanisme Transformasi Karakter
Zimbardo menggunakan hasil eksperimen ini untuk merumuskan teori-teori tentang kejahatan sistemik yang kemudian ia rangkum dalam bukunya, The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil. Fokus utamanya adalah bagaimana individu yang “baik” dapat melakukan tindakan kejam jika ditempatkan dalam “keranjang yang buruk” (situasi yang buruk).
Deindividuasi dan Anonimitas
Deindividuasi adalah proses psikologis di mana seseorang kehilangan kesadaran diri dan kontrol internal saat berada dalam kelompok atau menggunakan simbol-simbol anonimitas. Dalam SPE, kacamata hitam reflektif dan seragam seragam penjaga memberikan perisai anonimitas yang membebaskan mereka dari rasa malu sosial. Di sisi lain, seragam smock dan penghapusan nama bagi tahanan memicu deindividuasi pasif, di mana mereka merasa bukan lagi manusia yang unik melainkan hanya objek dalam sistem.
Dehumanisasi dan Keterlepasan Moral
Dehumanisasi adalah mekanisme di mana pelaku kekerasan memandang korbannya sebagai kurang dari manusia, sehingga menghilangkan hambatan moral untuk menyakiti mereka. Penggunaan nomor identitas, perlakuan kasar saat induksi, dan pemaksaan tindakan memalukan menciptakan persepsi bahwa para tahanan adalah “hewan” atau “objek berbahaya” yang pantas diperlakukan secara kasar. Keterlepasan moral (moral disengagement) memungkinkan penjaga untuk membenarkan tindakan kejam mereka sebagai kebutuhan untuk menjaga ketertiban atau “tugas” eksperimental.
Ketidakberdayaan yang Dipelajari (Learned Helplessness)
Bagi para tahanan, kegagalan pemberontakan pada hari kedua dan arbitraritas hukuman penjaga memicu learned helplessness. Mereka menyadari bahwa tidak ada tindakan yang mereka ambil—baik menjadi “tahanan baik” maupun pemberontak—yang dapat secara konsisten menjamin keselamatan atau pelepasan mereka. Akibatnya, mereka berhenti melawan, menjadi apatis, dan bahkan mulai membela penjaga terhadap rekan-rekan mereka yang mencoba memprotes.
| Fenomena Psikologis | Deskripsi dalam Konteks SPE | Dampak Perilaku |
| Deindividuasi | Kehilangan identitas pribadi karena seragam dan peran. | Penjaga bertindak tanpa rasa tanggung jawab individu. |
| Dehumanisasi | Memandang orang lain sebagai sub-manusia atau angka. | Memudahkan agresi tanpa rasa bersalah. |
| Kepatuhan Otoritas | Menuruti perintah peneliti/superintendent secara buta. | Penjaga melanjutkan penyiksaan demi tujuan “sains”. |
| Ketidakberdayaan | Persepsi bahwa tindakan individu tidak mengubah hasil. | Tahanan menjadi pasif, depresi, dan submisif. |
| Anonimitas | Penggunaan kacamata hitam dan ruang isolasi. | Meningkatkan intensitas perilaku sadis. |
Dekonstruksi Narasi: Kritik Kontemporer dan Skandal “History of a Lie”
Meskipun selama dekade-dekade awal SPE dianggap sebagai studi klasik yang tak terbantahkan, penyelidikan terbaru pada tahun 2018 oleh Thibault Le Texier dan Ben Blum telah mengguncang fondasi ilmiah eksperimen ini. Mereka berargumen bahwa hasil eksperimen tersebut bukanlah hasil alami dari situasi, melainkan hasil dari manipulasi yang disengaja.
Tuduhan Pelatihan dan Instruksi kepada Penjaga
Temuan paling merusak dari arsip Stanford adalah bukti bahwa penjaga tidak secara spontan menjadi kejam. Thibault Le Texier menemukan rekaman di mana asisten Zimbardo, David Jaffe (Warden), secara aktif melatih para penjaga untuk bersikap “tangguh” dan menciptakan suasana ketidakberdayaan pada tahanan. Dalam satu pertemuan, Jaffe menegur seorang penjaga yang bersikap terlalu ramah, menyatakan bahwa perilaku lunak tersebut akan menggagalkan eksperimen yang bertujuan untuk menunjukkan keburukan penjara demi agenda reformasi sosial.
Jaffe menggunakan bahasa “kami” untuk menciptakan identitas kelompok antara peneliti dan penjaga, membujuk mereka bahwa kekejaman adalah “keharusan demi ilmu pengetahuan”. Temuan ini mengubah kesimpulan dari “situasi mengubah orang” menjadi “orang menuruti instruksi peneliti untuk mendapatkan hasil tertentu” (karakteristik tuntutan/demand characteristics).
Skandal Akting Partisipan
Beberapa partisipan kunci kemudian mengaku bahwa mereka hanya berakting untuk menyenangkan para peneliti atau untuk keluar dari eksperimen lebih cepat. Dave Eshelman, penjaga yang paling ikonik dengan perilaku sadisnya, menyatakan dalam wawancara bahwa dia sengaja menciptakan persona sipir rasis dari film Cool Hand Luke untuk membantu Zimbardo mendapatkan data yang dramatis.
Douglas Korpi, tahanan yang mengalami kegagalan mental pertama, juga mengungkapkan bahwa teriakan histerisnya adalah tipuan murni karena dia khawatir akan gagal dalam ujian kuliahnya jika tidak segera keluar. Korpi menyatakan bahwa “semua orang klinis akan tahu saya hanya berakting,” namun Zimbardo tetap menggunakan kasusnya sebagai bukti utama dari kegagalan mental akibat situasi penjara.
Masalah Metodologis dan Bias Peneliti
Kritikus berpendapat bahwa SPE gagal memenuhi kriteria eksperimen ilmiah yang ketat karena tidak adanya variabel kontrol dan banyaknya variabel pengganggu. Selain itu, keterlibatan emosional Zimbardo sebagai Superintendent menciptakan bias peneliti yang masif, di mana ia mengabaikan kesejahteraan subjek demi memvalidasi hipotesisnya sendiri.
Sebuah studi tindak lanjut oleh Carnahan dan McFarland (2007) menunjukkan adanya bias seleksi mandiri (self-selection bias). Mereka menemukan bahwa orang-orang yang merespons iklan untuk “studi kehidupan penjara” memiliki skor yang secara signifikan lebih tinggi dalam agresivitas, otoritarianisme, dan narsisme, serta skor yang lebih rendah dalam empati dan altruisme dibandingkan dengan mereka yang merespons iklan studi psikologi umum. Ini menunjukkan bahwa sampel Zimbardo mungkin memang sudah memiliki disposisi untuk kekerasan sebelum eksperimen dimulai.
Perspektif Alternatif: Studi Penjara BBC (2002)
Sebagai tanggapan terhadap keraguan atas SPE, psikolog Alex Haslam dan Stephen Reicher melakukan eksperimen serupa yang ditayangkan oleh BBC pada tahun 2002. Namun, hasil yang mereka dapatkan sangat kontras dengan temuan Zimbardo, menantang gagasan bahwa tirani adalah konsekuensi otomatis dari peran sosial.
Temuan Utama Studi BBC
Dalam studi BBC, para penjaga tidak secara otomatis menjadi kejam. Sebaliknya, mereka sering merasa tidak nyaman dengan kekuasaan mereka dan gagal membentuk identitas kelompok yang kohesif. Sementara itu, para tahanan justru bersatu, membentuk identitas kelompok yang kuat, dan berhasil menantang otoritas penjaga, yang akhirnya menyebabkan sistem simulasi tersebut runtuh dan digantikan oleh sistem komunal.
Haslam dan Reicher berargumen bahwa tirani tidak muncul secara alami dari peran, melainkan dari “kepemimpinan identitas” (identity leadership). Penindasan terjadi hanya ketika pemegang kekuasaan secara aktif didorong untuk mengidentifikasi diri dengan tujuan kelompok yang menindas dan percaya bahwa tindakan kejam mereka adalah moral atau perlu. Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa agensi manusia—kemampuan untuk memilih dan menolak peran—tetap ada bahkan dalam situasi yang paling menekan sekalipun.
| Fitur Perbandingan | Stanford Prison Experiment (1971) | BBC Prison Study (2002) |
| Instruksi Penjaga | Diberikan instruksi untuk bersikap “tangguh” oleh peneliti. | Tidak diberikan instruksi untuk bertindak sebagai pemimpin atau menindas. |
| Perilaku Penjaga | Agresif, sadis, dan otoriter secara konsisten. | Enggan menggunakan kekuasaan, tidak kohesif sebagai grup. |
| Respon Tahanan | Hancur secara mental, submisif, learned helplessness. | Bersatu, melawan, dan menggulingkan otoritas. |
| Hasil Akhir | Tirani dan kekerasan psikologis. | Runtuhnya otoritas dan percobaan sistem komunal. |
| Kesimpulan Teoritis | Situasi mengalahkan karakter (Situasionalisme). | Identitas sosial dan kepemimpinan menentukan perilaku. |
Keruntuhan Etika: Harga dari Pengetahuan
Stanford Prison Experiment sering dianggap sebagai titik balik dalam etika penelitian manusia. Pelanggaran yang terjadi dalam studi ini sangat mendasar, memicu kemarahan publik dan komunitas ilmiah yang berujung pada reformasi besar-besaran.
Kegagalan Informed Consent dan Hak untuk Mundur
Meskipun para partisipan menandatangani formulir persetujuan, mereka tidak diberitahu tentang potensi penghinaan, deprivasi, dan trauma psikologis ekstrem yang akan mereka alami. Lebih buruk lagi, hak untuk menarik diri secara efektif ditiadakan. Meskipun Zimbardo mengklaim partisipan bisa pergi kapan saja, kenyataannya banyak tahanan yang permintaannya untuk berhenti ditolak atau dimanipulasi secara psikologis untuk tetap tinggal. Salah satu tahanan bahkan merasa “dipenjara secara hukum” oleh Zimbardo dan asistennya.
Pelanggaran Prinsip Beneficence dan Non-maleficence
Prinsip dasar etika penelitian adalah kewajiban untuk meminimalkan kerugian (non-maleficence) dan memaksimalkan manfaat (beneficence). Zimbardo secara sadar membiarkan agresi meningkat selama berhari-hari, mengabaikan tanda-tanda kerusakan mental yang jelas pada subjeknya demi mendapatkan “data” yang lebih banyak. Kelalaiannya untuk bertindak sebagai pelindung subjek adalah salah satu pelanggaran etika paling serius dalam sejarah sains modern.
Pengawasan Institusional dan Kelahiran IRB
Sebagai respon langsung terhadap eksperimen seperti SPE dan Milgram, standar etika penelitian diperketat secara dramatis. Hal ini mengarah pada pembentukan dan penguatan Institutional Review Boards (IRB) di seluruh Amerika Serikat. Di bawah pedoman saat ini, eksperimen seperti SPE tidak akan pernah diizinkan karena risiko bahaya psikologis yang tidak sebanding dengan manfaat ilmiahnya. APA (American Psychological Association) juga memperbarui kode etik mereka untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi subjek penelitian.
Warisan di Luar Laboratorium: Abu Ghraib dan Kebijakan Publik
Dampak dari Stanford Prison Experiment meluas jauh melampaui dinding departemen psikologi. Zimbardo menggunakan temuannya untuk menjelaskan berbagai fenomena kekerasan di dunia nyata, yang paling terkenal adalah skandal penyiksaan tahanan di Abu Ghraib, Irak, pada tahun 2004.
Analisis Kasus Abu Ghraib
Zimbardo bertindak sebagai saksi ahli bagi Sersan Ivan “Chip” Frederick, salah satu penjaga di Abu Ghraib. Ia berargumen bahwa Frederick, yang sebelumnya memiliki catatan disiplin yang baik dan kepribadian yang normal, menjadi sadis bukan karena sifat bawaannya, melainkan karena ia ditempatkan dalam sistem yang mendorong dehumanisasi, anonimitas, dan kurangnya pengawasan—sama seperti para penjaga dalam SPE. Ia menyebut fenomena ini sebagai “apel yang menjadi busuk karena berada dalam tong yang busuk,” di mana “pembuat tong” (pembuat kebijakan dan atasan militer) memikul tanggung jawab atas perilaku anak buah mereka.
Pengaruh pada Sistem Pemasyarakatan
Secara ironis, SPE memiliki pengaruh ganda pada kebijakan penjara. Di satu sisi, ia menyoroti keburukan institusi total dan mendorong upaya reformasi untuk membuat penjara lebih manusiawi. Namun, di sisi lain, penekanan Zimbardo pada “kekuasaan situasi yang tak terhindarkan” justru memberikan alasan bagi beberapa pihak untuk meninggalkan model rehabilitasi. Jika situasi penjara memang secara inheren menciptakan kekerasan, maka upaya untuk memperbaiki individu dianggap sia-sia, yang berkontribusi pada lonjakan populasi penjara di Amerika Serikat melalui kebijakan penahanan massal yang lebih keras.
Kesimpulan: Sains, Moralitas, dan Batas Tipis Kekuasaan
Stanford Prison Experiment tetap menjadi salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Sebagai sebuah eksperimen, ia cacat secara metodologis; sebagai sebuah karya sains, ia dicemari oleh tuduhan manipulasi; namun sebagai sebuah drama manusia, ia memberikan wawasan yang mendalam dan mengerikan tentang betapa mudahnya martabat manusia dikorbankan di bawah tekanan kekuasaan.
Pelajaran utama dari SPE bukanlah bahwa manusia secara alami jahat, melainkan betapa rapuhnya integritas moral kita ketika sistem sosial memberikan kita izin untuk melakukan kekerasan atas nama otoritas atau tujuan yang “lebih besar”. Eksperimen ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa akuntabilitas, anonimitas tanpa tanggung jawab, dan dehumanisasi tanpa empati adalah resep universal bagi tirani.
Di era modern, di mana sistem kontrol dan deindividuasi digital semakin merajalela, peringatan dari ruang bawah tanah Stanford tetap relevan. Kita harus terus waspada terhadap godaan untuk melepaskan tanggung jawab moral individu kepada sistem, dan menyadari bahwa batas antara warga sipil yang baik dan pelaku kekerasan tidak hanya ditentukan oleh siapa kita, tetapi oleh struktur sosial yang kita izinkan untuk mengatur hidup kita. Akhirnya, sains harus belajar bahwa haus akan pengetahuan tidak pernah bisa melegalkan penyiksaan, karena ketika sains kehilangan etikanya, ia berhenti menjadi alat pencerahan dan berubah menjadi instrumen penindasan.
