Fenomena kepatuhan massal terhadap rezim otoriter merupakan salah satu teka-teki paling mendalam dalam sejarah manusia dan psikologi sosial. Pada bulan April 1967, di Cubberley High School, Palo Alto, California, seorang guru sejarah bernama Ron Jones melakukan sebuah eksperimen yang secara radikal mengubah pemahaman kita tentang bagaimana struktur fasis dapat terbentuk dalam waktu yang sangat singkat, bahkan di dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Eksperimen ini, yang kemudian dikenal sebagai “The Third Wave,” berawal dari ketidakmampuan Jones untuk menjelaskan kepada siswa kelas sepuluhnya tentang bagaimana penduduk Jerman bisa mengklaim ketidaktahuan atas kekejaman Holocaust selama Perang Dunia II. Apa yang dimulai sebagai simulasi satu hari berkembang menjadi gerakan sekolah yang hampir lepas kendali, melibatkan ratusan siswa, sistem informan rahasia, dan penghancuran individualitas demi kekuatan kolektif.
Konteks Sosiopolitik dan Pedagogis Palo Alto 1967
Untuk memahami keberhasilan instan dari “The Third Wave,” sangat penting untuk membedah iklim sosial di California Utara pada akhir 1960-an. Tahun 1967 adalah masa di mana Amerika Serikat berada dalam ketegangan besar akibat Perang Vietnam, gerakan hak-hak sipil, dan kebangkitan kontra-budaya. Ron Jones sendiri bukanlah pendidik konvensional; ia adalah lulusan Universitas Stanford yang karismatik, anggota organisasi sayap kiri Students for a Democratic Society (SDS), dan pendukung aktif gerakan radikal seperti Black Panthers. Jones dikenal karena metode pengajarannya yang provokatif, seringkali membawa pembicara dari spektrum politik ekstrem, seperti penganut supremasi kulit putih dan komunis, ke dalam ruang kelasnya untuk menantang pemikiran kritis siswanya.
Cubberley High School pada saat itu dianggap sebagai institusi pendidikan paling inovatif di Palo Alto, sebuah lingkungan kelas menengah yang relatif makmur dan intelektual. Namun, di balik fasad kebebasan akademis ini, para siswa merasa jenuh dengan rutinitas pendidikan tradisional. Ketika Jones menyajikan unit sejarah tentang Nazi Jerman, para siswa yang berusia sekitar 15 tahun tersebut menunjukkan ketidakpercayaan yang mendalam. Mereka bertanya-tanya bagaimana masyarakat yang beradab bisa menyerahkan diri pada kepemimpinan Adolf Hitler dan mengizinkan pembantaian massal terjadi tanpa perlawanan yang berarti. Pertanyaan inti mereka adalah: “Mengapa tidak ada yang menghentikan hal itu?”. Ketidakmampuan Jones untuk memberikan jawaban teoritis yang memuaskan mendorongnya untuk menciptakan sebuah pengalaman langsung yang menunjukkan bahwa benih otoritarianisme ada dalam diri setiap individu.
Hari Pertama: Rekayasa Disiplin dan Penjinakan Fisik
Eksperimen dimulai pada hari Senin, 3 April 1967. Jones memutuskan untuk memperkenalkan elemen pertama dari fasisme: Disiplin. Ia memulai kelas dengan mengubah postur fisik para siswanya, dengan alasan bahwa disiplin tubuh adalah prasyarat bagi disiplin pikiran. Jones menulis slogan pertama di papan tulis: “STRENGTH THROUGH DISCIPLINE”. Ia menginstruksikan para siswa untuk duduk dalam posisi tertentu: kaki rata di lantai, punggung tegak lurus, dan tangan diletakkan di belakang punggung.
Dalam sesi latihan yang intens, Jones memaksa siswa untuk keluar dan masuk ke tempat duduk mereka berulang kali hingga mereka dapat melakukannya dalam keheningan total dan kecepatan maksimum. Ia juga memberlakukan aturan komunikasi yang sangat kaku:
- Siswa harus berdiri di samping meja mereka sebelum berbicara.
- Setiap komentar atau pertanyaan harus diawali dengan sapaan formal “Mr. Jones”.
- Jawaban atau pertanyaan dibatasi tidak lebih dari tiga kata.
Efek dari perubahan ini sangat mengejutkan. Alih-alih melakukan perlawanan terhadap aturan yang mengekang, para siswa justru merespons dengan efisiensi yang luar biasa. Tingkat partisipasi dalam kelas meningkat secara drastis, dan bahkan siswa yang biasanya pasif mulai menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat, meskipun dalam format tiga kata yang dibatasi. Jones mengamati bahwa siswa tampak menikmati kepastian dan struktur yang diberikan oleh otoritasnya yang baru ditemukan.
Hari Kedua: Pembentukan Identitas Komunal dan Simbolisme
Pada hari Selasa, Jones melihat bahwa disiplin yang diterapkan pada hari sebelumnya tidak memudar; sebaliknya, para siswa sudah berada di posisi duduk yang sempurna bahkan sebelum bel berbunyi. Ia memutuskan untuk memperluas eksperimen dengan memperkenalkan elemen kedua: Komunitas. Ia menulis slogan baru: “STRENGTH THROUGH COMMUNITY”.
Jones memberikan nama pada gerakan ini: “The Third Wave” (Gelombang Ketiga). Nama ini didasarkan pada kepercayaan pelaut bahwa gelombang ketiga dalam serangkaian gelombang adalah yang paling kuat dan merusak. Untuk memperkuat rasa identitas kelompok, Jones memperkenalkan sebuah penghormatan atau salam (salute) yang menyerupai hormat Nazi: tangan kanan diangkat melengkung ke arah bahu kiri. Ia memerintahkan agar semua anggota Third Wave saling memberi hormat baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Yang menarik adalah bagaimana simbolisme ini menciptakan rasa eksklusivitas. Siswa mulai merasa bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Jones memberikan tugas-tugas khusus kepada setiap siswa untuk memperkuat keterlibatan mereka, seperti merancang spanduk gerakan, melarang non-anggota memasuki ruang kelas, atau merekrut teman-teman mereka dari kelas lain. Gerakan ini mulai menyebar melampaui kelas sejarah Jones, menciptakan gelombang rasa ingin tahu dan keinginan untuk bergabung di antara seluruh populasi sekolah.
Hari Ketiga: Eskalasi Aksi dan Institusionalisasi Pengawasan
Pada hari Rabu, eksperimen tersebut mengambil dinamika organik yang jauh melampaui rencana awal Jones. Jumlah siswa di kelas membengkak dari 30 menjadi 43 orang karena siswa dari kelas lain membolos demi mengikuti gerakan ini. Jones menambahkan slogan ketiga: “STRENGTH THROUGH ACTION”. Fokus hari ini adalah pada ekspansi dan perlindungan terhadap kemurnian gerakan.
Jones mengeluarkan kartu keanggotaan resmi kepada para siswa. Ia secara rahasia menandai tiga kartu dengan tanda “X” merah dan menunjuk pemegangnya sebagai informan rahasia atau “Gestapo”. Tugas mereka adalah melaporkan anggota lain yang tidak mematuhi aturan gerakan, seperti tidak memberi hormat di koridor atau berbicara secara kritis tentang Third Wave.
Konsekuensi psikologis dari sistem informan ini sangat merusak:
- Kehancuran Kepercayaan: Siswa yang telah berteman selama sepuluh tahun mulai saling mencurigai. Mereka tidak lagi merasa bebas untuk berbicara jujur bahkan kepada sahabat mereka sendiri.
- Hiper-Kepatuhan: Meskipun hanya tiga informan resmi yang ditunjuk, lebih dari dua puluh siswa datang kepada Jones secara sukarela untuk melaporkan pelanggaran teman mereka, menunjukkan dorongan naluriah untuk mendapatkan persetujuan dari pemimpin otoriter.
- Pengadilan Kelas: Jones mulai mengadakan sesi di mana siswa yang dituduh melakukan pelanggaran diadili di depan kelas. Hukuman standar bagi mereka yang dianggap tidak setia atau skeptis adalah pengusiran ke perpustakaan sekolah, yang berfungsi sebagai bentuk pengasingan sosial.
Pada akhir hari ketiga, gerakan ini telah memiliki lebih dari 200 peserta aktif. Seorang siswa, yang sebelumnya dianggap sebagai “jiwa yang tersesat” secara akademis, menjadi sangat terobsesi dengan gerakan tersebut sehingga ia menawarkan diri untuk menjadi pengawal pribadi Jones, mengikutinya ke mana pun ia pergi di lingkungan sekolah.
Hari Keempat: Kebanggaan dan Manipulasi Ideologis
Memasuki hari Kamis, Jones menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali atas eksperimen tersebut. Kekerasan fisik mulai terjadi di koridor sekolah antara anggota Third Wave dan siswa yang menentangnya. Jones merasa harus mengakhiri eksperimen, tetapi ia ingin melakukannya dengan cara yang memberikan pelajaran pedagogis yang tak terlupakan. Ia menambahkan slogan terakhir: “STRENGTH THROUGH PRIDE”.
Jones melakukan kebohongan besar (the big lie) dengan mengumumkan kepada kelas bahwa “The Third Wave” bukanlah sekadar eksperimen kelas, melainkan bagian dari gerakan politik nasional yang rahasia. Ia mengklaim bahwa demokrasi telah gagal karena ketidakmampuan politisi untuk menyelesaikan masalah negara, terutama terkait Perang Vietnam, dan bahwa Third Wave akan menjadi kekuatan yang memulihkan ketertiban di Amerika Serikat.
Ia menginstruksikan para siswa untuk menghadiri rapat umum pada hari Jumat siang, di mana pemimpin nasional gerakan tersebut akan mengumumkan keberadaan Third Wave di televisi nasional. Untuk menjamin keamanan rapat umum tersebut, Jones memerintahkan empat siswa untuk menangkap tiga siswa yang paling vokal dalam menentang gerakan dan mengurung mereka di perpustakaan agar tidak dapat mengganggu acara esok hari. Para siswa menerima perintah ini tanpa pertanyaan, benar-benar yakin bahwa mereka adalah bagian dari revolusi sejarah.
Hari Kelima: Klimaks, Dekonstruksi, dan Realitas Pahit
Pada hari Jumat, 7 April 1967, suasana di aula Cubberley High School digambarkan seperti “panci presto” (pressure cooker). Lebih dari 200 siswa berkumpul dengan kedisiplinan militer. Jones masuk ke ruangan dengan pengawalnya dan memerintahkan para siswa untuk menunjukkan kekuatan mereka. Secara serempak, ratusan siswa meneriakkan slogan-slogan gerakan dengan penuh semangat: “Strength through discipline! Strength through community! Strength through action!”.
Jones menyalakan sebuah televisi di depan ruangan. Namun, layar tersebut hanya menampilkan statis (semut putih) tanpa suara. Keheningan yang sangat lama terjadi. Para siswa mulai merasa cemas dan bingung ketika tidak ada pemimpin nasional yang muncul di layar. Setelah ketegangan mencapai puncaknya, Jones akhirnya berbicara dan mengungkapkan kebenaran yang menghancurkan: tidak ada gerakan nasional, tidak ada pemimpin rahasia, dan mereka semua hanyalah subjek dari sebuah eksperimen fasisme.
Jones kemudian memutar sebuah film dokumenter tentang Reich Ketiga, kamp konsentrasi, dan pengadilan Nuremberg. Ia menarik perbandingan langsung antara perilaku para siswa selama seminggu tersebut dengan perilaku masyarakat Jerman di bawah Nazi. Ia menyatakan bahwa mereka telah bersedia menukar kebebasan mereka demi rasa superioritas dan rasa memiliki terhadap kelompok. Sesi tersebut berakhir dengan banyak siswa yang menangis dan meninggalkan aula dalam keadaan syok emosional yang mendalam.
| Hari | Slogan | Elemen Fasisme | Dampak Psikologis pada Siswa |
| 1 | Strength Through Discipline | Kontrol Fisik & Aturan | Peningkatan efisiensi, kepatuhan buta pada aturan komunikasi |
| 2 | Strength Through Community | Identitas Kelompok | Munculnya rasa bangga, penggunaan simbol (hormat) sebagai filter sosial |
| 3 | Strength Through Action | Institusionalisasi | Munculnya sistem informan, kehancuran kepercayaan antar teman |
| 4 | Strength Through Pride | Ideologi & Kebohongan | Keyakinan pada gerakan nasional, agresi terhadap oposisi |
| 5 | (The Realization) | Dekonstruksi | Rasa malu yang mendalam, kesadaran akan kerentanan diri terhadap otoritas |
Analisis Psikoanalitik: Transferensi dan “Emansipasi Gelap”
Eksperimen “The Third Wave” memberikan laboratorium yang kaya untuk analisis psikologis tentang dinamika kekuasaan dalam pendidikan. Antti Saari mengeksplorasi fenomena ini melalui lensa psikoanalisis, khususnya konsep transference (transferensi) dan countertransference.
Mekanisme Transferensi
Dalam konteks kelas, siswa seringkali memproyeksikan kebutuhan mereka akan figur otoritas kepada guru. Mereka ingin dianggap sebagai “murid yang baik” dan mencari validasi dari guru untuk merasa lengkap. Jones, dengan karismanya, memfasilitasi ikatan ini di mana ia dianggap sebagai pemegang segala jawaban. Namun, Jones juga terjebak dalam countertransference, di mana ia mulai menikmati kekuasaan dan pemujaan yang diberikan oleh siswanya, sebuah pengakuan yang ia akui dalam tulisan-tulisannya kemudian sebagai sesuatu yang menakutkan sekaligus memabukkan.
Konsep Dark Emancipation
Saari berargumen bahwa Jones menggunakan tradisi Lacanian dengan cara “menunjukkan daripada memberitahu”. Dengan membiarkan siswa mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi bagian dari mesin otoriter, Jones melakukan apa yang disebut sebagai “dark emancipation” (emansipasi gelap). Ini adalah proses di mana individu dipaksa untuk meninggalkan fantasi mereka tentang diri mereka sendiri sebagai makhluk yang secara moral murni. Kebenaran bahwa mereka bisa menjadi penindas jika kondisinya tepat adalah sebuah bentuk pembebasan yang menyakitkan dari delusi kebaikan moral yang absolut.
Anatomi Perlawanan: Sherry Tousley dan “The Breakers”
Meskipun narasi Third Wave seringkali berfokus pada kepatuhan massa, sangat penting untuk menyoroti mereka yang menolak untuk tunduk. Sherry Tousley menjadi simbol perlawanan utama dalam eksperimen ini. Tousley adalah salah satu siswa cerdas yang sejak awal merasa ada yang salah dengan perubahan perilaku Jones. Setelah ia diusir ke perpustakaan karena terus mempertanyakan aturan gerakan, ia bertemu dengan pustakawan sekolah yang memiliki pengalaman hidup di bawah rezim Nazi.
Atas dorongan pustakawan tersebut, Tousley membentuk kelompok perlawanan bawah tanah yang dinamai “The Breakers”. Dengan bantuan ayahnya, ia menyelinap ke sekolah pada malam hari untuk memasang poster-poster anti-Wave di lokasi yang sulit dijangkau. Namun, kekuatan gerakan Third Wave begitu besar sehingga dalam hitungan jam setelah sekolah dibuka, poster-poster tersebut sudah dirobek oleh anggota gerakan yang fanatik.
Pengalaman Tousley menunjukkan betapa sulitnya melakukan perlawanan individu di hadapan konsensus kelompok yang didukung oleh otoritas formal. Bahkan setelah eksperimen berakhir, Tousley melaporkan bahwa Jones tetap bersikap dingin dan defensif terhadapnya, menunjukkan bahwa sang guru pun masih berada di bawah pengaruh peran diktatornya ketika berhadapan dengan disiden nyata.
Konsekuensi Profesional: Penolakan Tenure Ron Jones (1969)
Keberhasilan eksperimen ini sebagai alat pengajaran tidak menjamin keselamatan karier Jones. Dua tahun setelah eksperimen, pada tahun 1969, Jones menghadapi sidang untuk mendapatkan tenure (status guru tetap) di Cubberley High School. Meskipun ia adalah guru yang sangat populer dan inspiratif, dewan sekolah memutuskan untuk menolak permohonan tenure-nya.
Meskipun alasan resmi seringkali dikaitkan dengan aktivitas politik radikalnya di luar sekolah, banyak yang percaya bahwa metode “The Third Wave” yang kontroversial memainkan peran besar dalam keputusan tersebut. Orang tua siswa dan sesama pengajar merasa bahwa Jones telah melampaui batas etika dengan memanipulasi emosi siswa secara ekstrem. Penolakan ini memicu protes besar-besaran dari para siswa, namun Jones akhirnya meninggalkan Cubberley dan menghabiskan sisa kariernya bekerja di bidang pendidikan luar biasa dan menulis buku.
Kritik Etika dan Pelajaran Pedagogis
Dari perspektif etika penelitian modern, eksperimen Jones adalah bencana. Ia melanggar hampir setiap prinsip perlindungan subjek manusia:
- Penipuan Total: Jones berbohong tentang tujuan dan sifat eksperimen tersebut.
- Ketiadaan Informed Consent: Siswa tidak pernah diberi tahu bahwa mereka adalah bagian dari eksperimen, apalagi menyetujuinya.
- Paksaan (Coercion): Siswa yang tidak ikut serta diancam dengan hukuman nilai (F) atau pengucilan sosial.
- Kurangnya Perlindungan dari Bahaya Psikologis: Tidak ada sistem pendukung atau debriefing formal yang memadai setelah trauma yang dialami siswa pada hari Jumat.
Namun, terlepas dari cacat etikanya, nilai pendidikan dari Third Wave tetap tidak tertandingi dalam menunjukkan kerentanan demokrasi. Eksperimen ini membuktikan bahwa fasisme bukan hanya fenomena sejarah unik di Jerman tahun 1930-an, melainkan sebuah potensi psikologis yang selalu ada dalam setiap masyarakat jika kebutuhan dasar akan ketertiban, komunitas, dan kebanggaan dimanipulasi dengan benar.
Transformasi Media dan Legasi Global
Kisah “The Third Wave” tidak berakhir di Cubberley. Selama beberapa dekade berikutnya, peristiwa lima hari tersebut berubah menjadi fenomena budaya global melalui berbagai adaptasi.
Evolusi Adaptasi
Adaptasi ini dimulai dengan artikel Jones sendiri pada tahun 1976 berjudul “Take as Directed,” yang kemudian dikembangkan menjadi buku No Substitute for Madness. Puncak popularitasnya terjadi pada tahun 1981 dengan film televisi ABC The Wave dan novelisasi oleh Todd Strasser. Di Jerman, buku ini menjadi teks wajib di sekolah-sekolah untuk memastikan generasi baru memahami mekanisme di balik sejarah kelam negara mereka.
Perbandingan Adaptasi Utama
| Karya | Format | Tahun | Fokus Utama |
| The Wave (ABC Special) | Film TV | 1981 | Dramatisasi untuk audiens remaja Amerika |
| The Wave (Todd Strasser) | Novel | 1981 | Eksplorasi internal karakter siswa, menjadi standar pendidikan global |
| Die Welle (Dennis Gansel) | Film Layar Lebar | 2008 | Transposisi ke Jerman modern, mengeksplorasi kebosanan generasi muda terhadap sejarah |
| Lesson Plan | Dokumenter | 2010 | Kesaksian asli dari siswa dan Ron Jones, mengoreksi fiksi dalam film |
| We Are the Wave | Seri Netflix | 2019 | Interpretasi modern tentang ekstremisme sayap kiri dan aktivisme pemuda |
Film Jerman tahun 2008, Die Welle, memberikan perspektif yang sangat tajam dengan menunjukkan bahwa di tengah masyarakat yang merasa “sudah belajar dari sejarah,” pola-pola otoritarianisme tetap bisa muncul kembali melalui dorongan untuk memberontak terhadap kekosongan makna di era modern.
Kesimpulan: Demokrasi dan Kewaspadaan Abadi
Analisis mendalam terhadap eksperimen “The Third Wave” membawa kita pada satu kesimpulan utama: otoritarianisme bukanlah sistem yang dipaksakan hanya dari atas ke bawah oleh seorang diktator, melainkan sebuah kolaborasi antara pemimpin karismatik dan massa yang haus akan kepastian dan rasa memiliki. Ron Jones berhasil menunjukkan bahwa dalam waktu kurang dari satu minggu, nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan berbicara, hak untuk berbeda pendapat, dan empati individu dapat dengan mudah dikorbankan demi efisiensi dan kekuatan kelompok.
Meskipun Jones kemudian mengakui bahwa ia telah membahayakan siswanya dan tidak menyarankan guru lain untuk mereplikasi eksperimen ini, warisan Third Wave tetap menjadi alat peringatan yang krusial. Di era polarisasi politik dan kebangkitan gerakan ekstremis di seluruh dunia saat ini, pelajaran dari Cubberley High School tahun 1967 mengingatkan kita bahwa pertahanan terbaik melawan fasisme bukanlah sekadar pengetahuan sejarah di atas kertas, melainkan kemampuan individu untuk tetap mempertahankan kemandirian berpikir dan keberanian untuk menjadi “pembangkang” di tengah arus keseragaman. Kesuksesan eksperimen ini adalah kegagalan kolektif manusia, dan hanya dengan menyadari kerentanan inilah kita dapat menjaga demokrasi tetap hidup.
