Proyek Biosphere 2 yang dijalankan di Oracle, Arizona, pada awal dekade 1990-an tetap menjadi salah satu eksperimen paling ambisius sekaligus kontroversial dalam sejarah sains sistem Bumi dan simulasi pemukiman ruang angkasa. Dengan luas mencapai 3,14 hektar, fasilitas ini dirancang sebagai sistem ekologi tertutup material namun terbuka secara energi, sebuah replika mikrokosmos dari Biosphere 1 (Bumi) yang bertujuan untuk menguji viabilitas kehidupan manusia dalam isolasi total. Sebagai sebuah prototipe pemukiman Mars, Biosphere 2 menggabungkan teknologi mutakhir pada zamannya dengan prinsip-prinsip ekologi sistem untuk menciptakan “dunia baru” yang mampu mendukung kehidupan delapan individu selama dua tahun tanpa input materi dari luar. Namun, perjalanan eksperimen ini segera dibayangi oleh krisis atmosferik, kegagalan produksi pangan, dan disintegrasi sosial yang mendalam, yang pada akhirnya memicu perdebatan panjang mengenai batas-batas kontrol manusia atas alam serta validitas metodologi ilmiah yang bercampur dengan aspek pertunjukan media.
Genealogi Proyek: Dari Teater Kontra-Budaya Menuju Ecopreneurship Global
Akar dari Biosphere 2 tidak ditemukan di laboratorium universitas tradisional, melainkan dalam gerakan kontra-budaya tahun 1960-an. John P. Allen, seorang lulusan Harvard MBA dan metalurgis, mendirikan sebuah kelompok teater eksperimental bernama Theatre of All Possibilities di San Francisco. Kelompok ini beroperasi dengan filosofi “synergy,” sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Buckminster Fuller, di mana keseluruhan sistem lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Pada tahun 1969, Allen dan pengikutnya pindah ke New Mexico untuk mendirikan Synergia Ranch, sebuah komune yang mempraktikkan pertanian berkelanjutan dan integrasi seni dengan ekologi.
Transisi dari komune idealis menuju proyek bernilai jutaan dolar terjadi melalui pertemuan Allen dengan Edward P. Bass, seorang miliarder minyak asal Texas yang tertarik pada visi keberlanjutan global. Melalui perusahaan Space Biospheres Ventures (SBV), Bass menyuntikkan dana yang diperkirakan mencapai 150 juta hingga 300 juta dolar AS untuk membangun Biosphere 2. Aliansi ini menciptakan dinamika unik: para ilmuwan “jalanan” dan seniman teater mendadak memimpin proyek sains paling kompleks di dunia, sebuah fakta yang nantinya memicu kritik tajam mengenai kredibilitas akademik manajemen proyek tersebut.
Tabel 1: Profil Organisasi dan Pemangku Kepentingan Utama
| Entitas/Individu | Peran dalam Proyek Biosphere 2 | Latar Belakang dan Kontribusi |
| John P. Allen | Pencetus, Direktur Eksekutif | Metalurgis (Mines), MBA Harvard, visioner sistem ekologi. |
| Edward P. Bass | Penyandang Dana Utama | Filantropis, “ecopreneur,” pendiri Decisions Investments Corp. |
| Space Biospheres Ventures (SBV) | Perusahaan Pengelola | Usaha patungan untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas. |
| Margaret Augustine | CEO SBV | Bertanggung jawab atas desain arsitektur dan manajemen operasional. |
| Institute for Ecotechnics | Konsultan Ilmiah | Organisasi yang didirikan Allen untuk riset ekologi global. |
Visi proyek ini sangat luas: melampaui sekadar simulasi ruang angkasa, ia dimaksudkan sebagai “Bahtera Nuh” modern untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati Bumi dari ancaman bencana ekologis global. Arsitektur bangunan yang menggabungkan bentuk piramida Maya dengan kubah geodesik putih mencerminkan ambisi untuk menyatukan masa lalu manusia dengan masa depan teknologi.
Arsitektur Teknis dan Rekayasa Sistem Pendukung Kehidupan
Biosphere 2 dirancang untuk menjadi struktur yang paling kedap udara di dunia, dengan tingkat kebocoran yang ditargetkan kurang dari 1 persen per tahun. Untuk mencapai tingkat penutupan ini, seluruh bagian bawah struktur dilapisi dengan bak baja antikarat seberat 454 metrik ton yang dilas rapat untuk mencegah pertukaran gas atau mikroba dengan tanah di sekitarnya. Bagian atasnya terdiri dari 6.500 panel kaca laminasi yang dipasang pada kerangka ruang baja antikarat.
Struktur Biome dan Zonasi Ekologis
Fasilitas ini dibagi menjadi tujuh biome yang saling terhubung, masing-masing dirancang untuk mewakili ekosistem Bumi yang berbeda. Strategi “species-packing” diterapkan dengan memasukkan ribuan spesies tanaman dan hewan, dengan asumsi bahwa proses seleksi alam di dalam sistem tertutup akan menentukan spesies mana yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Tabel 2: Deskripsi dan Spesifikasi Biome Biosphere 2
| Biome | Fitur Utama dan Mekanisme | Luas Area () |
| Hutan Hujan (Rainforest) | Model Amazon dengan gunung 50 kaki, air terjun, dan awan buatan. | 1.900 |
| Samudra (Ocean) | Terumbu karang Karibia dengan ombak mekanis dan sistem pasang surut. | 850 (1 Juta Galon) |
| Rawa Bakau (Mangrove) | Replika Everglades dengan zonasi air tawar ke air asin. | 450 |
| Sabana (Savannah) | Padang rumput sebagai zona transisi hidrologis antara gurun dan hutan. | 1.300 |
| Gurun (Desert) | Gurun kabut pesisir (Baja California) dengan rezim hujan musim dingin. | 1.400 |
| Pertanian Intensif (IAB) | Area produksi pangan organik dengan daur ulang limbah manusia. | Bagian dari Anthropogenic Biome |
| Habitat Manusia | Kamar pribadi, laboratorium, dan fasilitas rekreasi untuk 8 orang. | Terintegrasi dengan IAB |
Infrastruktur pendukung yang berada di bawah tanah, yang disebut “technosphere,” terdiri dari 26 unit penanganan udara (air handlers) yang berfungsi untuk mendinginkan, memanaskan, dan mengontrol kelembapan udara di setiap biome. Namun, inovasi rekayasa yang paling mencolok adalah dua struktur eksternal yang dikenal sebagai “paru-paru” (lungs). Karena udara di dalam fasilitas memuai saat terkena panas matahari di siang hari dan menyusut di malam hari, paru-paru ini—yang berupa cakram aluminium raksasa yang mengambang di atas kantong udara—berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan internal tanpa membiarkan udara keluar atau masuk dari lingkungan luar.
Dinamika Misi Pertama (1991-1993): Paradoks Swasembada dan Krisis Atmosfer
Pada tanggal 26 September 1991, delapan orang—empat pria dan empat wanita—yang dikenal sebagai “biospherians” memasuki fasilitas ini untuk memulai misi penutupan selama dua tahun. Mereka mengenakan seragam biru gaya Star Trek, sebuah pilihan estetika yang mempertegas narasi proyek sebagai prototipe koloni luar angkasa.
Tabel 3: Kru Biospherians Misi Pertama (1991-1993)
| Nama Kru | Peran dan Spesialisasi | Dampak Fisiologis Utama |
| Roy Walford | Dokter Medis, Riset Kesehatan | Penurunan berat badan drastis, hipoksia kognitif. |
| Jane Poynter | Manajemen Pertanian (IAB) | Kehilangan ujung jari dalam kecelakaan mesin giling. |
| Taber MacCallum | Manajemen Lingkungan | Penyesuaian metabolisme terhadap diet rendah kalori. |
| Mark Nelson | Riset Ruang Angkasa, Komunikasi | Pengamatan terhadap siklus nutrien tanah. |
| Sally Silverstone | Pertanian Tropis, Logistik | Pengelolaan krisis pangan melalui rotasi tanaman. |
| Abigail Alling | Biologi Laut | Pemeliharaan sistem terumbu karang di bawah stres CO2. |
| Mark Van Thillo | Kontrol Kualitas, Teknik | Pemeliharaan infrastruktur “technosphere”. |
| Linda Leigh | Botani, Manajemen Biome | Pengelolaan keanekaragaman hayati dan spesies invasif. |
Segera setelah penutupan, sistem mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan. Masalah yang paling mendesak adalah penurunan kadar oksigen yang tidak terduga, yang turun dari 20,9 persen menjadi 14,5 persen dalam waktu 16 bulan. Penurunan ini setara dengan hidup di ketinggian 17.000 kaki, menyebabkan kru menderita kelelahan kronis, apnea tidur, dan kesulitan dalam melakukan tugas-tugas intelektual dasar.
Misteri Oksigen dan Reaksi Kimia Beton
Penyebab penurunan oksigen ini awalnya membingungkan para peneliti internal. Secara teoritis, tanaman di dalam fasilitas seharusnya mampu memproduksi oksigen yang cukup melalui fotosintesis. Namun, dua faktor utama menyebabkan kegagalan siklus ini:
- Respirasi Mikroba Tanah: Tanah di Biosphere 2 telah diperkaya secara berlebihan dengan bahan organik (kompos dan gambut) untuk mendorong pertumbuhan tanaman yang cepat. Mikroba di dalam tanah mengonsumsi oksigen dalam jumlah besar untuk memetabolisme bahan organik ini, melepaskan secara masif.
- Karbonasi Beton: Alih-alih diserap kembali oleh tanaman, sebagian besar hasil respirasi bereaksi dengan permukaan beton bangunan yang belum sepenuhnya mengeras. Kalsium hidroksida dalam beton bereaksi dengan membentuk kalsium karbonat () dan air (), secara efektif menjebak oksigen dalam bentuk padat di dinding bangunan.
Fenomena ini adalah kesalahan perhitungan rekayasa yang fatal. Karena beton di Biosphere 2 masih dalam proses pengerasan (curing), ia bertindak sebagai “penyerap” karbon yang sangat efisien, mengganggu keseimbangan gas yang diperlukan untuk pernapasan manusia. Masalah ini memaksa manajemen untuk melakukan intervensi eksternal dengan menyuntikkan oksigen cair ke dalam fasilitas pada Januari 1993, sebuah tindakan yang merusak integritas ilmiah eksperimen sebagai “sistem tertutup” di mata publik dan media.
Kegagalan Ekologis: Keanekaragaman Hayati dan Spesies Invasif
Strategi “species-packing” yang awalnya dianggap sebagai cara untuk menjamin ketahanan ekosistem justru berbalik menjadi bencana. Sebagian besar spesies vertebrata yang dimasukkan ke dalam sistem mati dalam waktu singkat. Lebih parah lagi, semua serangga penyerbuk (seperti lebah dan burung kolibri) punah, yang mengakibatkan kegagalan reproduksi pada banyak jenis tanaman.
Sebagai gantinya, spesies yang tidak diinginkan justru berkembang biak secara eksponensial. Kecoa dan spesies semut invasif (Paratrechina longicornis) mendominasi fasilitas, menghancurkan komunitas serangga lainnya. Di biome hutan hujan, tanaman merambat tumbuh liar dan menutupi kanopi pohon, sementara pohon-pohon besar di area sabana menjadi lemah dan tumbang karena ketiadaan angin alami yang seharusnya merangsang pembentukan “kayu stres” untuk menopang beban mereka. Samudra di dalam kubah juga mengalami asidifikasi karena penyerapan atmosfer yang tinggi, yang mengancam kesehatan terumbu karang.
Ketahanan Pangan dan Diet Walford
Area pertanian intensif, meskipun menghadapi serangan hama dan kurangnya cahaya matahari akibat musim dingin yang sangat berawan (El Niño), mampu memproduksi sekitar 83 persen dari total kalori yang dibutuhkan kru. Namun, kru tetap mengalami kelaparan kronis. Mereka mengadopsi diet rendah kalori dan padat nutrisi yang dirancang oleh Dr. Roy Walford, yang didasarkan pada risetnya mengenai pembatasan kalori untuk memperpanjang usia.
Meskipun secara fisik lemah, data medis menunjukkan bahwa kesehatan biospherians secara keseluruhan meningkat: kadar kolesterol darah menurun, tekanan darah stabil, dan sistem kekebalan tubuh mereka menjadi lebih efisien. Namun, tekanan fisiologis akibat kelaparan dan kekurangan oksigen menjadi katalisator bagi konflik sosial yang lebih besar.
Disintegrasi Sosial: Psikologi Isolasi dan Fraksionalisme
Salah satu temuan paling signifikan dari Biosphere 2 adalah bahwa manusia merupakan elemen yang paling tidak stabil dalam sebuah sistem tertutup. Hanya dalam waktu enam bulan, kru terbagi menjadi dua faksi yang berselisih tajam mengenai tujuan dan manajemen proyek.
- Faksi Pro-Sains (Fraksi Poynter): Kelompok ini menginginkan pendekatan yang lebih transparan dan berbasis data. Mereka berpendapat bahwa jika sistem gagal mendukung kehidupan, maka integritas kru harus diutamakan melalui bantuan luar. Mereka juga mendorong pengawasan yang lebih besar dari komite penasihat ilmiah eksternal.
- Faksi Ideologis (Fraksi Alling/Allen): Kelompok ini tetap setia pada visi John Allen tentang swasembada total. Mereka memandang intervensi luar (seperti suntikan oksigen atau impor makanan) sebagai pengkhianatan terhadap tujuan murni eksperimen dan definisi kegagalan proyek.
Ketegangan ini mencapai tingkat di mana anggota kru dari faksi yang berbeda menolak untuk makan bersama atau berkomunikasi kecuali melalui catatan tertulis, meskipun mereka tinggal di ruang yang sangat terbatas. Konflik eksternal antara manajemen SBV dan penyandang dana Ed Bass juga memperkeruh suasana, karena masing-masing pihak mencoba memengaruhi kru di dalam kubah untuk kepentingan posisi hukum dan bisnis mereka.
Krisis 1994: Steve Bannon, Sabotase, dan Akhir Era Tertutup
Misi pertama berakhir pada 26 September 1993, dan meskipun penuh kontroversi, para biospherians berhasil bertahan selama dua tahun. Misi kedua dimulai pada Maret 1994 dengan tujuh orang kru baru. Namun, misi ini hanya bertahan selama enam bulan akibat perubahan mendasar dalam struktur kekuasaan di luar kubah.
Intervensi Steve Bannon
Pada April 1994, Ed Bass yang tidak puas dengan manajemen finansial dan reputasi ilmiah proyek tersebut, melakukan pengambilalihan paksa melalui perintah pengadilan. Ia memecat John Allen dan Margaret Augustine, serta mendatangkan Steve Bannon sebagai CEO baru untuk melakukan restrukturisasi. Bannon, yang saat itu merupakan bankir investasi, bertugas untuk memangkas biaya dan mencoba memulihkan kredibilitas proyek dengan menjadikannya pusat riset universitas.
Insiden Sabotase 4 April
Pengambilalihan manajemen ini memicu reaksi keras dari para pendiri asli. Pada pagi hari tanggal 4 April 1994, Abigail Alling dan Mark Van Thillo—kru dari misi pertama—kembali ke lokasi dan membuka lima pintu darurat serta merusak segel kaca Biosphere 2. Tindakan ini dilakukan sebagai protes terhadap manajemen baru yang dianggap tidak kompeten dan membahayakan keselamatan kru di dalam. Alling menyatakan bahwa keputusannya adalah untuk memberi tahu kru misi kedua tentang perubahan kepemimpinan yang drastis dan memberi mereka pilihan untuk keluar.
Insiden ini menyebabkan pertukaran udara sekitar 10 persen dengan lingkungan luar dan berujung pada tuntutan hukum yang panjang. Meskipun kru misi kedua memilih untuk tetap tinggal selama beberapa bulan lagi, semangat eksperimen sistem tertutup telah hancur. Pada bulan September 1994, misi kedua dihentikan secara prematur, menandai berakhirnya ambisi Biosphere 2 sebagai koloni manusia yang terisolasi.
Tabel 4: Kronologi Konflik Hukum dan Manajemen (1994-1996)
| Tanggal | Peristiwa Utama | Konsekuensi Hukum/Operasional |
| 1 April 1994 | Ed Bass mengambil alih SBV secara paksa. | Pemecatan John Allen; Steve Bannon jadi CEO. |
| 4 April 1994 | Sabotase oleh Alling dan Van Thillo. | Pelanggaran segel udara; penahanan pelaku. |
| September 1994 | Misi Kedua dihentikan lebih awal. | Penghentian permanen eksperimen manusia tertutup. |
| 31 Mei 1996 | Putusan juri Pinal County. | SBV diperintahkan membayar $600.000 kepada Alling/Van Thillo. |
| 1996 | Columbia University mengambil alih. | Transisi menuju riset iklim sistem terbuka. |
Evaluasi Ilmiah: “Kegagalan Termahal” atau “Laboratorium Masa Depan”?
Kritik terhadap Biosphere 2 sering kali berfokus pada kurangnya metodologi ilmiah yang ketat selama tahun-tahun awal. Banyak ilmuwan arus utama menyebutnya sebagai “teater New Age yang menyamar sebagai sains” karena kerahasiaan manajemen mengenai suntikan oksigen dan pasokan makanan tambahan yang diselundupkan. Namun, dari perspektif ekologi sistem, Biosphere 2 memberikan data unik yang tidak mungkin didapatkan di tempat lain.
Kontribusi terhadap Pemahaman Siklus Karbon
Misteri hilangnya oksigen memberikan pelajaran berharga bagi perancangan habitat luar angkasa di masa depan. Kita sekarang memahami bahwa dalam sistem tertutup yang kecil, siklus biogeokimia berlangsung jauh lebih cepat dan fluktuatif dibandingkan di Bumi. Pelajaran kritis untuk tidak mengekspos beton telanjang dalam sistem tertutup menjadi standar dalam desain teknis simulasi koloni planet saat ini.
Biosphere 2 juga menunjukkan keterbatasan fotosintesis dalam mengimbangi respirasi tanah yang terlalu subur. Hal ini memicu penelitian lebih lanjut tentang “Critical Zone” Bumi—lapisan tipis di mana air, batuan, udara, dan kehidupan berinteraksi.
Era Baru: University of Arizona dan Riset Perubahan Iklim
Setelah satu dekade pengelolaan oleh Columbia University yang mengubah sistem menjadi “flow-through” (tidak lagi tertutup rapat), University of Arizona mengambil alih kepemilikan penuh pada tahun 2011. Fasilitas ini kini menjadi laboratorium terbuka terbesar di dunia untuk mempelajari dampak pemanasan global terhadap berbagai ekosistem.
Landscape Evolution Observatory (LEO)
Proyek utama saat ini adalah LEO, yang terdiri dari tiga lereng buatan masing-masing sepanjang 30 meter yang diisi dengan batuan basalt hancur seberat 500 ton. Dilengkapi dengan lebih dari 1.800 sensor, LEO memungkinkan ilmuwan untuk mengamati secara real-time bagaimana kehidupan mikroba dan tanaman mulai mengolonisasi permukaan batuan yang steril, sebuah proses yang menyerupai evolusi awal daratan di Bumi atau potensi terraforming di Mars.
Tabel 5: Inisiatif Riset Modern di Biosphere 2 (University of Arizona)
| Proyek/Inisiatif | Fokus Penelitian | Temuan Utama/Tujuan |
| LEO | Evolusi lanskap dan siklus air. | Interaksi antara pelapukan batuan dan kehidupan mikroba. |
| Ocean Revitalization | Restorasi terumbu karang. | Menguji ketahanan karang terhadap asidifikasi dan panas. |
| Rainforest Drought | Ketahanan hutan tropis. | Tanaman berhenti menyerap CO2 pada ambang batas 600 ppm. |
| SAM (Space Analog) | Kolonisasi Bulan dan Mars. | Simulasi habitat tertutup dengan teknologi modern. |
| Agrivoltaics | Integrasi energi surya dan tani. | Mengoptimalkan penggunaan lahan gersang untuk pangan dan energi. |
SAM: Kembali ke Akar Penjelajahan Luar Angkasa
Salah satu perkembangan terbaru yang paling menarik adalah kembalinya fungsi simulasi ruang angkasa melalui proyek SAM (Space Analog for the Moon and Mars). Dipimpin oleh Kai Staats, SAM menggunakan modul uji asli tahun 1987 yang kedap udara untuk menjalankan misi simulasi jangka pendek. Berbeda dengan eksperimen asli yang mencoba melakukan semuanya sekaligus, SAM berfokus pada komponen spesifik seperti transisi dari pendukung kehidupan mekanis ke biologis, psikologi kru dalam ruang sempit, dan pengujian baju luar angkasa di “Mars yard” yang menyertainya.
SAM menunjukkan bahwa warisan Biosphere 2 belum mati. Dengan menggunakan teknologi pemantauan modern dan kecerdasan buatan, tantangan atmosferik yang dulu menghancurkan misi pertama kini dapat dikelola dengan lebih presisi.
Kesimpulan: Refleksi atas Biosfer Buatan dan Masa Depan Manusia
Biosphere 2 adalah sebuah pengingat yang kuat akan kompleksitas alam semesta yang tidak dapat disederhanakan oleh rekayasa manusia semata. “Kegagalan” eksperimen aslinya sebenarnya adalah kesuksesan dalam mengidentifikasi titik-titik kritis di mana teknologi dan ekologi saling bertentangan. Kita belajar bahwa swasembada total memerlukan pemahaman yang lebih dalam tentang mikroba tanah, dinamika gas dalam ruang terbatas, dan yang paling penting, manajemen konflik manusia dalam kondisi stres ekstrem.
Sebagai sebuah ulasan lengkap, eksperimen Biosphere 2 (1991) harus dilihat bukan sebagai akhir dari ambisi manusia di luar angkasa, melainkan sebagai bab awal yang krusial. Biaya ratusan juta dolar yang dikeluarkan telah membayar “uang sekolah” yang mahal bagi umat manusia untuk memahami betapa berharganya Biosphere 1 (Bumi) dan betapa sulitnya mereplikasi “dunia baru” di planet lain. Fasilitas yang dulunya terisolasi ini sekarang berdiri sebagai jembatan antara aspirasi kolonisasi planet dan kebutuhan mendesak untuk memahami perubahan iklim di planet kita sendiri.
