Sejarah industrialisasi modern sering kali dihiasi oleh ambisi besar yang melampaui batas kewajaran, namun tidak ada yang menyamai skala dan kompleksitas kegagalan Fordlândia di Brasil. Proyek ini bukan sekadar upaya Henry Ford untuk mengamankan pasokan bahan baku bagi imperium otomotifnya, melainkan sebuah percobaan sosiologis yang mencoba memindahkan etos kerja Midwest Amerika Serikat ke tengah hutan hujan tropis yang paling kompleks di planet ini. Pada akhir 1920-an, Fordlândia berdiri sebagai monumen bagi keyakinan Henry Ford bahwa teknologi, disiplin, dan moralitas puritan dapat menaklukkan alam liar dan mengubah budaya lokal menjadi replika masyarakat industri Dearborn, Michigan. Analisis ini mengeksplorasi secara mendalam bagaimana konvergensi antara arogansi teknologi, ketidaktahuan biologis, dan ketidaksensitifan budaya menyebabkan keruntuhan total dari apa yang seharusnya menjadi utopia industri Ford di Amazon.

Geopolitik Karet dan Ambisi Integrasi Vertikal

Latar belakang berdirinya Fordlândia berakar pada tantangan ekonomi global yang dihadapi Ford Motor Company setelah Perang Dunia I. Pada masa itu, karet merupakan komponen vital yang tidak tergantikan bagi industri otomotif, digunakan mulai dari ban, selang, hingga gasket mesin. Meskipun pohon karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman asli lembah Amazon, dominasi pasar global telah berpindah ke Asia Tenggara akibat tindakan Henry Wickham yang menyelundupkan 70.000 biji karet dari Brasil ke Inggris pada tahun 1876. Di bawah kekuasaan kolonial Inggris dan Belanda, perkebunan monokultur di Malaysia dan Indonesia berproduksi dengan efisiensi yang menghancurkan ekonomi karet tradisional Brasil yang masih mengandalkan penyadapan liar di hutan belantara.

Kekhawatiran Henry Ford memuncak ketika Sir Winston Churchill menginisiasi Rencana Stevenson pada tahun 1922, sebuah kebijakan kartel yang bertujuan membatasi produksi karet untuk menaikkan harga pasar dunia secara artifisial. Sebagai seorang penganut fanatik integrasi vertikal, Ford merasa tidak nyaman bergantung pada pemasok luar negeri, terutama yang dikendalikan oleh kepentingan kolonial Eropa. Ia telah menguasai tambang besi, hutan kayu, dan pabrik kaca; karet adalah satu-satunya mata rantai utama yang hilang dari kendalinya. Didorong oleh semangat kemandirian korporasi dan ketertarikannya pada Amazon setelah berdiskusi dengan Theodore Roosevelt, Ford memutuskan untuk memproduksi karetnya sendiri di tanah asal tanaman tersebut.

Tabel 1: Dinamika Pasar Karet Global dan Perbandingan Strategi Produksi (1920-an)

Karakteristik Perkebunan Kolonial Asia Tenggara Penyadapan Tradisional Amazon Visi Fordlândia (Henry Ford)
Model Kepemilikan Perusahaan Kolonial (Inggris/Belanda) Tuan Tanah Lokal (Rubber Barons) Korporasi Terintegrasi Vertikal
Metode Penanaman Monokultur Padat (Efisien) Pohon Tersebar Alami (Ekologis) Monokultur Industrial (Eksperimental)
Struktur Upah Sangat Rendah (Buruh Kontrak) Sistem Utang (Penyadapan Liar) Upah Tinggi dengan Standar Ford
Risiko Biologis Rendah (Hama tertinggal di Amazon) Tidak Ada (Keseimbangan Hutan) Sangat Tinggi (Serangan Patogen Lokal)
Kendali Harga Kartel (Rencana Stevenson) Marginal (Penerima Harga) Mandiri (Internal Transfer Pricing)

Pada tahun 1927, negosiasi dengan pemerintah negara bagian Pará menghasilkan konsesi lahan seluas 10.000 kilometer persegi di sepanjang Sungai Tapajós. Perjanjian tersebut memberikan hak eksploitasi besar kepada Companhia Ford Industrial do Brasil, termasuk pembebasan pajak ekspor dan hak untuk membangun infrastruktur sipil seperti sekolah dan polisi pribadi, sebagai imbalan atas sembilan persen keuntungan yang dihasilkan. Lahan yang diberikan hampir dua kali lipat luas negara bagian Delaware, menandakan dimulainya salah satu proyek swasta terbesar di dunia pada masa itu.

Pembangunan Infrastruktur: Memindahkan Michigan ke Amazon

Proses pembangunan Fordlândia dimulai pada tahun 1928 dengan logistik yang mencengangkan. Ford mengirimkan dua kapal uap, Lake Ormoc dan Lake Farge, yang membawa muatan mesin pemindah tanah, traktor, lokomotif, hingga bangunan prefabrikasi lengkap. Ambisi Ford bukan sekadar membangun perkebunan, melainkan menciptakan kota fungsional yang mencerminkan kemajuan Amerika. Namun, sejak awal, proyek ini terhambat oleh pemilihan lokasi yang buruk di Boa Vista, yang kemudian dinamai Fordlândia. Area tersebut berbukit-bukit dan sulit diakses oleh kapal besar selama musim kemarau karena pasang surut sungai yang ekstrem.

Arsitektur kota ini dirancang oleh para insinyur dari Michigan tanpa mempertimbangkan kondisi tropis. Rumah-rumah bergaya Cape Cod dengan atap seng dan ventilasi yang dirancang untuk iklim dingin justru memerangkap panas Amazon yang menyengat, membuat penghuninya menderita akibat suhu tinggi yang tidak tertahankan. Meski demikian, fasilitas yang dibangun sangat luar biasa untuk standar wilayah Amazon pada waktu itu. Terdapat rumah sakit modern yang dirancang oleh Albert Kahn, yang dilengkapi dengan peralatan rontgen tercanggih, laboratorium, dan layanan gigi gratis bagi seluruh pekerja. Sebuah menara air setinggi 50 meter dengan logo Ford menjadi landmark yang mendominasi pemandangan, berfungsi sebagai simbol modernitas sekaligus kontrol industrial.

Unsur-Unsur Utama Tata Kota Fordlândia

  1. Vila Americana: Area pemukiman eksklusif bagi manajer Amerika yang terletak di dataran tinggi untuk mendapatkan pemandangan sungai dan udara yang lebih segar, menciptakan segregasi sosial yang jelas dengan pekerja lokal.
  2. Sektor Industri: Terdiri dari pabrik pengolahan karet, penggergajian kayu (sawmill) bertenaga uap, dan gudang penyimpanan besar yang menggunakan teknologi ban berjalan khas Ford.
  3. Fasilitas Sosial: Bioskop yang memutar film-film terbaru dari Hollywood, ruang dansa untuk tarian baris (square dancing), lapangan golf, dan kolam renang umum untuk memastikan pekerja menghabiskan waktu luang mereka dalam aktivitas yang “bermanfaat” menurut standar Ford.
  4. Sistem Sanitasi: Jaringan pipa air bersih, hidran kebakaran dari Michigan Valve & Foundry, dan sistem pembuangan limbah yang jauh lebih maju daripada kota-kota besar di Brasil pada masa itu.

Kekakuan dalam desain infrastruktur ini mencerminkan filosofi Ford yang meremehkan nasihat para ahli. Ford secara sadar tidak mempekerjakan ahli botani atau sosiolog, melainkan mengandalkan manajer pabrik dan insinyur mekanik untuk mengelola ekosistem hutan hujan yang kompleks. Hal ini menyebabkan kesalahan mendasar dalam pembersihan lahan; metode “tabula rasa” yang membabat habis hutan primer justru menghilangkan lapisan humus yang subur, menyebabkan erosi tanah yang parah saat musim hujan tiba.

Rekayasa Sosial dan Pemaksaan Gaya Hidup Amerika

Keunikan Fordlândia yang paling mencolok—dan paling mematikan bagi keberlangsungan proyek—adalah upaya Henry Ford untuk melakukan rekayasa sosial terhadap tenaga kerjanya. Ford percaya bahwa dengan memberikan upah tinggi dan fasilitas modern, ia memiliki hak moral untuk mengatur perilaku pribadi para pekerjanya. Ia ingin menciptakan “manusia baru” yang efisien, sehat, dan bermoral tinggi di tengah rimba Amazon.

Pekerja lokal, yang sebagian besar adalah keturunan masyarakat adat dan imigran regional, dipaksa untuk mematuhi aturan kaku yang sangat asing bagi budaya mereka. Ford melarang konsumsi alkohol, perjudian, dan tembakau di dalam wilayah konsesi. Penjaga keamanan melakukan razia rutin ke rumah-rumah pekerja untuk mencari selundupan “cachaça” (minuman keras lokal). Selain itu, Ford mewajibkan diet makanan Amerika yang menurutnya sehat, seperti roti gandum, nasi merah, dan hamburger, menggantikan makanan pokok lokal seperti ikan dan tepung singkong. Ketegangan kuliner ini bukan sekadar masalah selera, tetapi juga masalah kesehatan fisik karena sistem pencernaan pekerja yang tidak terbiasa dengan diet tersebut.

Tabel 2: Konflik Budaya dan Perubahan Pola Hidup di Fordlândia

Dimensi Kehidupan Praktik Tradisional Amazon Standar Wajib Fordlândia Dampak Sosiologis
Waktu Kerja Subuh dan Senja (Menghindari Panas) 09.00 – 17.00 (Sistem Absensi) Kelelahan Kronis dan Heatstroke
Konsumsi Ikan, Farinha, Cachaça Hamburger, Roti Gandum, Tanpa Alkohol Penolakan Budaya dan Malnutrisi
Hiburan Sepak Bola, Musik Lokal, Pesta Rakyat Square Dancing, Puisi, Film AS Hilangnya Identitas Kolektif
Perumahan Rumah Panggung dengan Hammock Bungalo Tertutup dengan Tempat Tidur Gangguan Tidur dan Serangan Malaria
Identitas Hubungan Informal (Keluarga/Klan) Nomor ID dan Lencana Identitas Perasaan Terdegradasi menjadi Komoditas

Manajemen Ford juga memaksakan kedisiplinan waktu industrial melalui penggunaan jam absensi yang kaku. Pekerja dipaksa bekerja di bawah terik matahari siang hari yang panasnya dapat mencapai 40 derajat Celcius dengan kelembapan ekstrem, berbeda dengan kebiasaan tradisional mereka yang bekerja saat udara masih sejuk dan beristirahat selama siang hari. Ketidakmampuan manajemen untuk memahami adaptasi manusia terhadap lingkungan tropis ini menciptakan rasa kebencian yang mendalam, yang diperparah dengan kewajiban bagi pekerja untuk mengenakan lencana bernomor setiap saat sebagai bagian dari sistem pengawasan Ford.

“Quebra-Panela”: Pemberontakan Panci Tahun 1930

Ketidakpuasan yang terpendam selama bertahun-tahun mencapai titik didih pada bulan Desember 1930 dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Quebra-Panela” atau Revolt of the Pans. Meskipun Ford membayar upah yang jauh lebih tinggi—sekitar 35 sen per hari dibandingkan 20 sen di perkebunan Asia—uang tersebut tidak dapat membeli kepatuhan total terhadap gaya hidup yang dianggap menindas. Pemicu langsung dari kerusuhan tersebut adalah keputusan manajemen untuk mengganti layanan makanan di kafetaria menjadi sistem layanan mandiri (self-service) yang dianggap lebih efisien secara industrial namun dianggap sangat menghina oleh pekerja lokal yang merasa diperlakukan seperti hewan ternak.

Kerusuhan bermula di ruang makan ketika seorang pekerja Brasil menantang manajer kafetaria. Suasana dengan cepat berubah menjadi anarki ketika ratusan pekerja mulai menghancurkan peralatan dapur, memecahkan kaca jendela, dan merusak mesin absensi yang menjadi simbol penindasan waktu. Menggunakan panci dan wajan untuk menciptakan bunyi-bunyian yang memekakkan telinga, para pekerja mengejar manajer Amerika keluar dari kota. Manajer dan keluarganya harus melarikan diri ke hutan atau naik ke kapal di tengah sungai untuk menghindari amarah massa yang bersenjatakan parang.

Selama tiga hari, Fordlândia berada di bawah kendali para pemberontak yang merusak infrastruktur komunikasi dan menggulingkan truk-truk perusahaan. Pemberontakan ini baru dapat dipadamkan setelah tentara Brasil turun tangan untuk memulihkan ketertiban. Meskipun pekerjaan dilanjutkan kembali, peristiwa ini secara permanen merusak moral manajemen dan membuktikan bahwa model sosial “Fordisme” tidak dapat ditanamkan secara paksa di lingkungan yang memiliki akar budaya berbeda tanpa negosiasi dan adaptasi yang tulus.

Kegagalan Biologis: Musuh Tak Kasat Mata di Perkebunan Monokultur

Sementara konflik sosial mengguncang fondasi kota, musuh yang lebih mematikan menyerang dari dalam tanah dan udara: kegagalan biologis. Henry Ford, dengan rasa percaya dirinya yang berlebihan, menolak untuk berkonsultasi dengan ahli botani yang berpengalaman dalam pertanian tropis. Para insinyur Ford menanam sekitar 200 pohon karet per hektar, menciptakan kepadatan monokultur yang sangat tinggi. Di hutan Amazon yang liar, pohon karet tumbuh secara terpisah—sering kali hanya satu pohon per hektar—sebagai mekanisme pertahanan alami untuk mencegah penyebaran patogen.

Kepadatan yang dipaksakan di Fordlândia menciptakan inkubator yang sempurna bagi Microcyclus ulei, sejenis jamur yang menyebabkan penyakit embun tepung daun Amerika Selatan (South American Leaf Blight). Tanpa adanya pemangsa alami atau penghalang fisik di antara pohon-pohon, jamur ini menyebar dengan kecepatan yang mengerikan, menyebabkan daun-daun pohon karet layu, mengering, dan akhirnya membunuh pohon tersebut sebelum mencapai usia produktif.

Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Agronomi

  • Penyebaran Jamur Patogen: Microcyclus ulei tidak ada di Asia, itulah sebabnya perkebunan di sana sukses. Namun di Amazon, jamur ini endemik dan menyerang segera setelah tajuk pohon saling bersentuhan.
  • Serangan Hama Serangga: Selain jamur, ribuan ulat dan serangga penggerek kayu menyerang tanaman yang sudah lemah, sering kali menghabiskan seluruh daun dalam semalam.
  • Masalah Topografi dan Erosi: Lokasi berbukit menyebabkan semua lapisan tanah subur hanyut saat hujan deras, menyisakan tanah berbatu yang tidak mampu menyediakan nutrisi bagi pertumbuhan pohon karet yang sehat.
  • Kesehatan Tenaga Kerja: Tanah yang tidak rata menyebabkan terbentuknya genangan air permanen yang menjadi sarang nyamuk, memicu wabah malaria dan demam kuning yang melumpuhkan sebagian besar pekerja dan staf manajerial.

Pada tahun 1933, ketika Ford akhirnya mempekerjakan seorang ahli botani profesional, ia hanya bisa menyimpulkan bahwa Fordlândia adalah “bencana agronomi” yang tidak dapat diperbaiki. Proyek tersebut telah menanam jutaan pohon, namun hampir tidak ada yang menghasilkan lateks dalam jumlah komersial.

Transisi ke Belterra dan Upaya Perbaikan Teknis

Menyadari kegagalan di Fordlândia, manajemen Ford mencoba melakukan manuver penyelamatan dengan mendirikan lokasi baru pada tahun 1934 di Belterra, sekitar 50 mil ke arah hilir sungai dari lokasi asli. Belterra dipilih karena memiliki topografi dataran tinggi yang rata, yang memfasilitasi penggunaan mesin pertanian dan drainase yang lebih baik. Di Belterra, manajemen mencoba menerapkan pelajaran yang sangat mahal dari Fordlândia.

Mereka mulai menggunakan teknik okulasi (grafting) yang lebih canggih, menggabungkan batang bawah yang kuat dari varietas liar lokal dengan tajuk dari varietas Asia yang telah dibiakkan untuk produktivitas tinggi. Selain itu, pendekatan sosiologis di Belterra sedikit melunak. Perusahaan membangun lebih banyak sekolah, rumah sakit yang lebih besar, dan bahkan mengizinkan lapangan sepak bola—sebuah pengakuan diam-diam bahwa moral pekerja tidak dapat diatur hanya dengan square dancing.

Tabel 3: Perbandingan Fitur dan Kinerja Fordlândia vs. Belterra

Kriteria Fordlândia (1928-1934) Belterra (1934-1945)
Topografi Berbukit dan Berbatu (Erosif) Dataran Tinggi Rata (Ideal)
Metode Agronomi Penanaman Biji Langsung (Gagal) Okulasi/Grafting Varietas Unggul
Drainase Buruk (Sarang Malaria) Baik (Kesehatan Pekerja Meningkat)
Infrastruktur Sosial Kaku (Gaya Michigan) Lebih Adaptif (Fasilitas Olahraga)
Output Lateks Hampir Nol Mencapai 750 Ton (1942)
Nasib Akhir Ditinggalkan dan Menjadi Reruntuhan Diserahkan ke Pemerintah Brasil

Meskipun Belterra menunjukkan kemajuan teknis dan sempat menghasilkan sekitar 750 ton lateks pada tahun 1942, angka ini tetap merupakan kegagalan dibandingkan dengan target awal Ford yang mengharapkan produksi 38.000 ton per tahun untuk memasok jutaan mobil di Detroit. Penemuan karet sintetis selama Perang Dunia II dan biaya operasional yang terus membengkak akhirnya membuat proyek ini tidak lagi layak secara ekonomi.

Likuidasi dan Penutupan Proyek Tahun 1945

Kematian Edsel Ford pada tahun 1943 dan kesehatan Henry Ford yang semakin menurun menandai akhir dari petualangan Amazon mereka. Cucu Henry, Henry Ford II, yang mengambil alih kepemimpinan perusahaan, melihat proyek Brasil sebagai beban finansial yang tidak rasional. Pada tanggal 24 Desember 1945, Companhia Ford Industrial do Brasil secara resmi melikuidasi seluruh asetnya dan menjual tanah seluas jutaan hektar kembali ke pemerintah federal Brasil.

Harga penjualannya hanya sebesar $244.200—jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan total investasi yang mencapai $20 juta (setara dengan lebih dari $300 juta dalam nilai mata uang hari ini). Penjualan ini mencakup seluruh kota, pabrik, rumah sakit, dan jutaan pohon karet yang sedang berjuang untuk hidup. Keputusan ini diambil secara mendadak, membuat ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka dalam semalam dan meninggalkan infrastruktur bernilai jutaan dolar untuk dikonsumsi kembali oleh hutan tropis.

Henry Ford sendiri tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota yang menyandang namanya tersebut. Ketidakhadirannya secara fisik melambangkan sifat proyek itu sendiri: sebuah visi yang dipaksakan dari jauh, yang buta terhadap realitas fisik dan manusiawi di lapangan. Fordlândia bukan hanya kegagalan bisnis; itu adalah bukti batas kekuatan modal dan teknologi ketika berhadapan dengan kompleksitas ekologi dan kebebasan budaya.

Fordlândia Saat Ini: Kota Hantu dan Warisan Melankolis

Setelah ditinggalkan oleh Amerika, Fordlândia memasuki periode pembusukan yang panjang namun tidak pernah benar-benar mati. Kota ini menjadi apa yang disebut oleh para pengamat sebagai “museum terbuka” kegagalan industri. Bangunan-bangunan kayu yang pernah menjadi simbol kemajuan Amerika kini berdiri sebagai kerangka yang keropos, dengan akar pohon beringin yang menembus fondasi beton dan tanaman merambat yang menyelimuti mesin-mesin penggergajian yang berkarat.

Meskipun sering disebut sebagai “kota hantu”, Fordlândia saat ini masih dihuni oleh sekitar 2.000 hingga 3.000 penduduk. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan pekerja asli atau pendatang baru yang memanfaatkan perumahan gratis di bangunan-bangunan yang masih layak huni. Kehidupan di Fordlândia sekarang sangat kontras dengan masa jayanya; ekonomi lokal beralih ke pertanian subsisten, penangkapan ikan, dan sedikit pariwisata sejarah.

Status Pelestarian dan Tantangan Modern

  1. Reruntuhan Rumah Sakit: Salah satu aspek paling tragis adalah kehancuran rumah sakit Albert Kahn. Setelah ditinggalkan, bangunan ini dijarah secara masif. Pada akhir 2000-an, peralatan medis berharga, termasuk mesin rontgen, dicuri atau dirusak, bahkan sempat memicu ketakutan akan kontaminasi radioaktif karena adanya bahan berbahaya yang ditinggalkan tanpa pengawasan.
  2. Menara Air: Struktur ikonik ini tetap menjadi landmark paling stabil. Meskipun logo Ford telah memudar, menara air tersebut masih berdiri sebagai bukti kualitas rekayasa Michigan yang mampu bertahan melawan korosi hutan selama hampir seabad.
  3. Proses Hukum IPHAN: Sejak tahun 1980-an, terdapat upaya untuk menjadikan Fordlândia sebagai situs warisan nasional Brasil. Namun, birokrasi dan pergantian kepemimpinan politik menyebabkan proses ini terhenti selama lebih dari 30 tahun. Baru-baru ini, Kementerian Publik Federal (MPF) memberikan tekanan hukum kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan proses penetapan cagar budaya guna melindungi sisa-sisa sejarah ini dari kerusakan total.
  4. Dampak Ekologis Jangka Panjang: Fordlândia menjadi preseden bagi model pembukaan lahan skala besar di Amazon. Teknik “babat dan bakar” yang diperkenalkan Ford untuk industri karet kini menjadi metode standar bagi ekspansi kedelai dan peternakan sapi yang mengancam keanekaragaman hayati Amazon secara global.

Analisis Kegagalan: Pelajaran dari “Fordian Slip”

Kegagalan Fordlândia menawarkan wawasan mendalam tentang keterbatasan model pembangunan top-down. Proyek ini sering dikutip sebagai contoh “Fordian Slip”—sebuah kesalahan sistemik yang lahir dari pengulangan logika pabrik ke dalam domain yang membutuhkan fleksibilitas biologis dan budaya. Kegagalan ini dapat dirangkum dalam tiga dimensi utama yang saling berkaitan.

Pertama, dimensi arogansi teknokrasi. Henry Ford percaya bahwa keahliannya dalam merakit mobil secara otomatis memberinya kompetensi untuk mengelola hutan hujan. Keengganannya untuk mendengarkan para ahli—baik itu ahli botani, entomolog, maupun antropolog—adalah cacat desain yang paling fundamental. Ia mencoba memecahkan masalah biologis (hama tanaman) dengan solusi mekanis dan disiplin kerja, sebuah kategori kesalahan logika yang fatal dalam manajemen proyek global.

Kedua, dimensi kolonialisme budaya. Meskipun Ford membayar upah tinggi dan menyediakan layanan kesehatan gratis, ia melakukannya dengan syarat pekerjanya harus melepaskan identitas budaya mereka. Fordlândia adalah upaya untuk menghapus sejarah lokal dan menggantinya dengan “Americanism” yang steril. Pemberontakan “Quebra-Panela” membuktikan bahwa kesejahteraan material tidak pernah cukup untuk mengkompensasi hilangnya martabat dan otonomi budaya.

Ketiga, dimensi ketidaktahuan ekologis. Amazon bukanlah kanvas kosong (tabula rasa) yang dapat dibentuk sesuka hati. Ekosistem tersebut memiliki aturan mainnya sendiri, di mana keanekaragaman adalah kunci kelangsungan hidup. Dengan mencoba memaksakan monokultur yang kaku, Ford justru memberikan undangan terbuka bagi patogen dan hama untuk menghancurkan investasinya.

Kesimpulan: Utopia yang Terhempas

Fordlândia tetap berdiri hari ini bukan sebagai bukti kesuksesan industri, melainkan sebagai peringatan melankolis tentang batas-batasan keinginan manusia. Henry Ford mencoba membangun masa depan di tengah masa lalu yang tidak ia pahami, dan dalam prosesnya, ia menciptakan sebuah monumen bagi kebangkrutan visi industrial yang murni mekanistik.

Meskipun kota ini telah menjadi reruntuhan, bayang-bayang Fordlândia terus menghantui diskusi modern tentang pembangunan Amazon. Warisannya terlihat dalam peternakan sapi yang luas dan ladang kedelai yang kini menggantikan hutan primer, menggunakan logika ekstraktif yang sama yang pernah diperkenalkan oleh Ford satu abad yang lalu. Fordlândia adalah kisah tentang seorang pria yang ingin menjinakkan rimba dan kapitalisme secara bersamaan, namun akhirnya menemukan bahwa alam memiliki cara yang kejam untuk menuntut kembali apa yang telah diambil darinya. Bagi para pelancong dan peneliti yang mengunjungi situs ini hari ini, Fordlândia menawarkan lebih dari sekadar pemandangan bangunan tua; ia menawarkan refleksi tentang bagaimana kemajuan, jika dipisahkan dari empati budaya dan rasa hormat terhadap alam, akan selalu berakhir sebagai puing-puing di tengah hutan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 58 = 63
Powered by MathCaptcha