Krisis kesehatan masyarakat global yang dipicu oleh obesitas dan penyakit tidak menular (NCD) telah memaksa otoritas regulasi di seluruh dunia untuk mempertimbangkan intervensi yang semakin radikal. Inti dari perdebatan ini adalah pergeseran paradigma dari sekadar memberikan informasi nutrisi pasif menuju strategi “deterensi visual” yang agresif, yang secara eksplisit meminjam mekanisme kontrol dari industri tembakau. Kebijakan yang sedang dipertimbangkan di Uni Eropa dan telah mulai diterapkan secara parsial di Inggris melibatkan label peringatan hitam yang mencolok, larangan iklan total, dan usulan kemasan polos (plain packaging) bagi produk yang diklasifikasikan sebagai makanan olahan sangat tinggi atau Ultra-Processed Foods (UPF). Pendekatan ini tidak hanya menargetkan kandungan nutrisi, tetapi juga menyerang aspek fundamental dari pemasaran modern: identitas merek dan daya tarik visual produk.

enomena ini mencerminkan pengakuan bahwa lingkungan pangan saat ini—yang didominasi oleh produk-produk yang dirancang secara industri untuk menjadi hiper-palatabel—merupakan faktor pendorong utama epidemi penyakit metabolik. Namun, usulan untuk menutup  kemasan sereal, biskuit, atau soda dengan gambaran grafis tentang kerusakan organ tubuh manusia memicu kontroversi mendalam. Di satu sisi, aktivis kesehatan publik berpendapat bahwa ini adalah langkah darurat yang diperlukan untuk melindungi populasi yang rentan, terutama anak-anak. Di sisi lain, kritikus dan pemangku kepentingan industri memandangnya sebagai manifestasi ekstrem dari “Negara Pengasuh” (Nanny State) yang merampas otonomi individu, menghancurkan nilai ekonomi merek, dan mengaburkan batas antara produk makanan legal dengan komoditas berbahaya seperti rokok.

Paradigma Baru: Mengklasifikasikan Bahaya melalui Lensa Pemrosesan

Landasan teoretis dari gerakan regulasi ini adalah sistem klasifikasi NOVA, yang mengalihkan fokus dari profil nutrisi tradisional—seperti total lemak atau gula—menuju tingkat dan tujuan pemrosesan industri yang dialami oleh suatu produk makanan. Dikembangkan oleh para peneliti di Universitas São Paulo, NOVA memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana transformasi fisik dan kimiawi makanan mempengaruhi kesehatan masyarakat secara sistemik.

Analisis Struktural Klasifikasi NOVA

Kelompok Nama Kategori Karakteristik Utama Contoh Produk Utama
Grup 1 Makanan tidak diproses atau diproses minimal Bagian yang dapat dimakan dari tanaman atau hewan tanpa penambahan zat luar. Buah segar, sayuran, biji-bijian, daging tanpa bumbu, susu pasteurisasi.
Grup 2 Bahan kuliner olahan Zat yang diekstraksi dari Grup 1 untuk digunakan dalam memasak. Minyak nabati, mentega, garam, gula meja, madu.
Grup 3 Makanan olahan Produk sederhana yang dibuat dengan menambahkan Grup 2 ke Grup 1. Roti segar, keju artisan, sayuran kaleng dalam garam, ikan asap.
Grup 4 Makanan Ultra-Proses (UPF) Formulasi industri dengan 5 atau lebih bahan, seringkali mengandung aditif kosmetik. Sereal sarapan, minuman ringan, mi instan, burger siap saji, camilan kemasan.

UPF didefinisikan bukan oleh apa yang dikandungnya, melainkan oleh apa yang telah hilang dan apa yang ditambahkan selama proses manufaktur. Produk-produk ini sering kali mengandung substansi yang jarang ditemukan di dapur rumah tangga, seperti lemak terhidrogenasi, pati termodifikasi, isolat protein, serta koktail aditif yang mencakup pewarna, pengemulsi, dan penambah rasa yang dirancang untuk merangsang jalur penghargaan di otak dan mendorong konsumsi berlebihan. Dampak biologis dari produk ini melampaui sekadar kepadatan kalori; proses ekstrusi dan modifikasi matriks makanan diduga mengganggu sinyal kenyang dan mengubah mikrobiota usus, yang pada gilirannya meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Namun, penerapan NOVA sebagai dasar hukum memicu perdebatan ilmiah yang sengit. Kritikus berpendapat bahwa definisi UPF terlalu luas dan seringkali tidak konsisten. Misalnya, sereal gandum utuh yang diperkaya dengan vitamin esensial dapat diklasifikasikan sebagai UPF hanya karena melalui proses industri, sementara masakan rumah tangga yang sangat tinggi lemak dan gula tetap dikategorikan sebagai makanan sehat. Ketidakpastian ini menciptakan tantangan bagi regulator yang harus menentukan ambang batas yang objektif untuk pelabelan peringatan dan pembatasan iklan.

Strategi Deterensi: Belajar dari Keberhasilan Industri Tembakau

Usulan untuk menerapkan kemasan polos dan peringatan penyakit grafis pada makanan berakar langsung pada keberhasilan Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selama tiga dekade terakhir, industri tembakau telah dipaksa untuk meninggalkan identitas merek mereka demi pesan kesehatan publik. Di banyak yurisdiksi, rokok kini dijual dalam kemasan standar dengan warna hijau atau coklat yang tidak menarik, disertai gambar peringatan kanker paru-paru atau stroke yang menutupi sebagian besar luas permukaan kemasan.

 

Keberhasilan hukum dalam mempertahankan regulasi ini, seperti dalam kasus Philip Morris v. Uruguay, di mana pengadilan internasional mendukung hak Uruguay untuk menerapkan peringatan grafis seluas , memberikan dasar bagi para aktivis kesehatan untuk menuntut hal yang sama bagi industri makanan. Argumen intinya adalah bahwa produk makanan ultra-proses, seperti halnya tembakau, adalah komoditas yang “berbahaya jika digunakan sesuai petunjuk produsen” dalam jangka panjang, dan oleh karena itu, hak negara untuk melindungi kesehatan publik harus diutamakan di atas hak kekayaan intelektual perusahaan untuk menampilkan merek mereka.

Penerapan konsep ini pada makanan akan berarti bahwa kotak sereal sarapan yang biasanya menampilkan karakter kartun berwarna-warni akan digantikan dengan kemasan polos yang didominasi oleh peringatan grafis tentang penyakit hati berlemak atau amputasi akibat diabetes. Tujuannya adalah untuk “mendenormalisasi” konsumsi UPF, mengubah persepsi konsumen dari melihat produk tersebut sebagai camilan yang menyenangkan menjadi melihatnya sebagai risiko kesehatan yang nyata.

Mekanisme Sensor: Larangan Iklan dan Efek “Watershed” di Inggris

Inggris telah menjadi garda terdepan dalam menerapkan “sensor pemasaran” melalui pembatasan iklan yang ketat yang dijadwalkan mulai berlaku secara penuh pada Januari 2026. Regulasi ini mencakup larangan penayangan iklan makanan tinggi lemak, garam, dan gula (HFSS) di televisi sebelum jam 9 malam—yang dikenal sebagai jam watershed—serta larangan total terhadap iklan online berbayar untuk produk tersebut.

Klasifikasi Produk dalam Jangkauan Regulasi Periklanan Inggris

Otoritas kesehatan Inggris telah mengidentifikasi 13 kategori produk yang menjadi target pembatasan iklan berdasarkan skor Model Profil Nutrisi (NPM). Produk yang mendapatkan skor 4 atau lebih untuk makanan, atau 1 atau lebih untuk minuman, dilarang untuk dipasarkan kepada anak-anak.

Nomor Kategori Jenis Produk Detail Spesifik yang Tercakup
Kategori 1 Minuman Ringan Soda, minuman jus dengan gula tambahan, minuman berbasis susu manis.
Kategori 2 Camilan Gurih Keripik kentang, kacang asin, popcorn, biskuit asin (pretzels).
Kategori 3 Sereal Sarapan Sereal siap saji, muesli, dan oat dengan tambahan gula atau madu.
Kategori 11 Pizza dan Roti Bawang Semua jenis pizza beku atau siap saji serta produk roti bawang.
Kategori 12 Produk Kentang Kentang goreng, keripik (fries), kentang panggang industri, kroket.
Kategori 13 Makanan Siap Saji Burger, nugget ayam, sandwich siap saji, dan hidangan utama lengkap.

Implikasi dari regulasi ini sangat luas. Misalnya, iklan untuk sandwich siap saji atau sereal muesli yang sering dianggap sehat bisa dilarang jika kandungan gula atau garamnya melebihi ambang batas yang sangat ketat. Bahkan selama musim perayaan Natal 2025 di Inggris, perusahaan ritel besar seperti Waitrose dan Marks & Spencer telah mulai “menidietkan” iklan mereka dengan menghilangkan gambar puding Natal dan makanan manis dari slot iklan utama sebelum jam 9 malam, menggantinya dengan pesan merek yang lebih umum atau fokus pada sayuran segar.

Namun, regulasi ini masih memiliki celah yang dieksploitasi oleh industri. “Iklan merek” (brand advertising) tetap diperbolehkan selama tidak menampilkan produk spesifik yang dilarang. Sebagai contoh, Cadbury dapat menayangkan iklan yang menampilkan logonya atau elemen merek ikonik lainnya, selama tidak ada gambar batang cokelat yang terlihat. Selain itu, ada pergeseran besar dalam anggaran pemasaran menuju media luar ruang (outdoor), dengan belanja iklan pada billboard dan poster naik sebesar  antara tahun 2021 dan 2024, karena format ini hanya dilarang jika berada dalam radius 100 meter dari sekolah.

Dampak Ekonomi: Risiko terhadap Nilai Merek Senilai $300 Miliar

Usulan kemasan polos dan larangan iklan total bukan sekadar masalah kesehatan publik, tetapi juga merupakan ancaman eksistensial bagi industri pemasaran dan makanan global. Nilai ekonomi dari sebuah merek terletak pada kemampuannya untuk membedakan produk melalui identitas visual, loyalitas konsumen, dan asosiasi emosional. Menghilangkan elemen-elemen ini melalui kemasan polos secara efektif mengubah produk bermerek menjadi komoditas generik.

Analisis Kerugian Nilai Merek Global akibat “Brand Censorship”

Menurut laporan dari Brand Finance, potensi kerugian finansial yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia jika kemasan polos diterapkan secara luas sangatlah mengejutkan. Estimasi kerugian global mencapai angka  untuk industri minuman saja.

Perusahaan Potensi Kerugian Nilai Merek (Miliar USD) Dampak terhadap Nilai Perusahaan
The Coca-Cola Company Penurunan  dari nilai perusahaan.
PepsiCo Penurunan  dari nilai perusahaan.
AB InBev Portofolio Penuh Terpapar Risiko terhadap seluruh aset merek alkohol.
Heineken Portofolio Penuh Terpapar Risiko tinggi pada keberlanjutan pendapatan masa depan.
Total 8 Perusahaan Utama Termasuk Nestlé, Danone, Mondelēz, dan Pernod Ricard.

Angka-angka ini mencerminkan hilangnya kontribusi merek terhadap pendapatan perusahaan, namun tidak memperhitungkan potensi penurunan volume penjualan atau peningkatan perdagangan ilegal. Industri berargumen bahwa kemasan polos akan menghancurkan inovasi dan persaingan, karena produsen tidak lagi memiliki insentif untuk menginvestasikan dana dalam pengembangan produk atau desain kemasan yang unik. Selain itu, sektor kreatif—termasuk agensi periklanan dan desain—yang sangat bergantung pada kontrak dari sektor barang konsumen bergerak cepat (FMCG) akan menghadapi krisis lapangan kerja yang masif.

Perdebatan “Negara Pengasuh” (Nanny State): Otonomi vs. Perlindungan Publik

Kontroversi paling mendasar dari kebijakan “sensor piring” ini adalah ketegangan filosofis antara kebebasan individu dan tanggung jawab negara untuk melindungi kesehatan warganya. Penentang regulasi ini sering menggunakan istilah “Nanny State” untuk menggambarkan pemerintah yang dianggap memperlakukan warga dewasa seperti anak-anak yang tidak mampu membuat keputusan sendiri tentang diet mereka.

Argumen Libertarian dan Vested Interests

Kritikus berpendapat bahwa konsumsi makanan adalah masalah pilihan pribadi dan tanggung jawab individu. Slogan seperti “makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak” sering digunakan untuk menegaskan bahwa solusinya terletak pada pendidikan dan moderasi, bukan pada paksaan atau pelabelan yang menakut-nakuti. Mereka khawatir bahwa setelah tembakau dan makanan ultra-proses, pemerintah akan terus memperluas jangkauan sensor mereka ke produk lain seperti alkohol atau daging merah, menciptakan “kemerosotan moral” (slippery slope) di mana kebebasan memilih secara bertahap hilang.

Argumen Kesehatan Publik dan Paternalisme Baru

Sebaliknya, para ahli kesehatan masyarakat berpendapat bahwa “pilihan bebas” dalam sistem pangan saat ini adalah sebuah ilusi. Konsumen dikelilingi oleh lingkungan yang “obesogenik,” di mana produk UPF yang murah, nyaman, dan dipasarkan secara agresif menjadi pilihan yang paling mudah diakses. Strategi pemasaran industri seringkali mengaitkan produk-produk yang membahayakan kesehatan dengan emosi positif, kebahagiaan keluarga, dan keceriaan, yang secara efektif menutupi risiko jangka panjangnya.

Regulasi yang kuat dipandang sebagai mekanisme untuk “menyeimbangkan medan permainan.” Dengan membatasi pemasaran UPF, pemerintah bertujuan untuk memberikan ruang bagi makanan segar dan minim proses untuk bersaing. Dalam pandangan ini, intervensi negara bukanlah tindakan yang membatasi kebebasan, melainkan prasyarat untuk memungkinkan pilihan yang benar-benar sehat dan terinformasi bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi.

Bukti dari Lapangan: Kisah Sukses Chili dan Meksiko

Meskipun Eropa masih memperdebatkan langkah-langkah ekstrem seperti kemasan polos, model label peringatan hitam (nutrient warnings) telah memberikan data yang meyakinkan tentang efektivitasnya di Amerika Latin. Chili, sebagai pionir, memperkenalkan undang-undang pelabelan dan pemasaran makanan pada tahun 2016 yang mencakup label peringatan hitam oktagonal dan larangan karakter kartun pada produk tidak sehat.

Dampak Kebijakan Pelabelan di Chili (Fase 2)

Parameter Kesehatan/Ekonomi Hasil Pasca-Implementasi Keterangan
Pembelian Gula Penurunan Pada produk dengan label peringatan.
Pembelian Natrium Penurunan Menunjukkan pergeseran perilaku belanja rumah tangga.
Pembelian Kalori Total Penurunan Penurunan signifikan pada produk berlabel.
Kepatuhan Industri Tingkat kepatuhan terhadap regulasi pelabelan mandatori.
Reformulasi Produk Penurunan Proporsi makanan tidak sehat di pasar berkurang.

Meksiko mengikuti jejak Chili dengan meluncurkan sistem serupa pada tahun 2020, yang memproyeksikan pengurangan prevalensi obesitas sebesar  dalam lima tahun ke depan, yang setara dengan  kasus obesitas yang dicegah. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa label yang sederhana, jelas, dan “interpretatif”—artinya label yang langsung memberikan penilaian tentang kesehatan produk—jauh lebih efektif daripada label informasi numerik tradisional yang membosankan dan sulit dipahami oleh konsumen dengan tingkat pendidikan rendah.

Data dari Chili juga menunjukkan dampak yang adil di berbagai kelompok sosial ekonomi, yang mematahkan argumen bahwa kebijakan semacam itu hanya akan membebani kelompok miskin tanpa mengubah kebiasaan mereka. Sebaliknya, informasi yang mudah dicerna di depan kemasan memberikan pemberdayaan kepada semua konsumen untuk mengambil kendali atas kesehatan mereka di lingkungan yang didominasi oleh taktik pemasaran korporat.

Tantangan Hukum dan Masa Depan Regulasi Global

Upaya untuk menerapkan kemasan polos pada makanan menghadapi rintangan hukum yang signifikan, terutama terkait dengan Perjanjian tentang Aspek-Aspek Hak Kekayaan Intelektual yang Terkait dengan Perdagangan (TRIPS) di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Industri makanan berargumen bahwa pelarangan penggunaan merek dagang secara sah melanggar hak eksklusif pemilik merek.

Namun, preseden dari kasus tembakau menunjukkan bahwa hak merek dagang tidak memberikan “hak positif” untuk menggunakan merek tersebut di pasar jika pemerintah memutuskan bahwa pembatasan tersebut diperlukan untuk melindungi kesehatan publik. Pemilik merek dagang hanya memiliki “hak negatif” untuk mencegah pihak ketiga menggunakan merek yang sama. Tantangan bagi pemerintah di masa depan adalah membuktikan secara ilmiah bahwa kemasan polos pada makanan benar-benar berkontribusi pada penurunan konsumsi UPF dan perbaikan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Dinamika Regulasi 2025-2026: Menuju Standar Baru

Di Amerika Serikat, momentum untuk meregulasi UPF meningkat setelah laporan “Make Our Children Healthy Again” (MAHA) diterbitkan pada Mei 2025. FDA telah mulai mencari masukan publik untuk mengembangkan definisi seragam bagi UPF guna memfasilitasi riset dan kebijakan masa depan. Sementara itu, negara-negara seperti India juga mulai mempertimbangkan larangan iklan UPF dari pagi hingga malam hari (jam 06:00 hingga 23:00) sebagai respons atas lonjakan penjualan UPF sebesar  antara tahun 2009 dan 2023.

Eropa sendiri sedang memproses Regulasi Kemasan dan Limbah Kemasan (PPWR) yang baru, yang meskipun fokus utamanya adalah keberlanjutan, akan memperkenalkan standardisasi pelabelan pada kemasan mulai Agustus 2026. Ini bisa menjadi pintu masuk bagi persyaratan pelabelan nutrisi yang lebih harmonis dan agresif di seluruh blok tersebut.

Kesimpulan: Menuju Meja Makan yang Lebih Jujur atau Lebih Tertekan?

Usulan untuk menakut-nakuti konsumen sebelum mereka memakan sereal sarapan melalui “piring yang disensor” mencerminkan titik balik yang drastis dalam kebijakan kesehatan global. Kita sedang bergerak menjauh dari era pemasaran bebas tanpa hambatan menuju era di mana risiko kesehatan dari konsumsi pangan industri mulai diperlakukan dengan tingkat keseriusan yang sama seperti kecanduan nikotin.

Meskipun kontroversi mengenai “Negara Pengasuh” dan dampak ekonomi senilai miliaran dolar tetap ada, data dari negara-negara pionir menunjukkan bahwa label peringatan yang berani dan pembatasan iklan memiliki kekuatan nyata untuk mengubah perilaku konsumen dan mendorong industri untuk melakukan reformulasi produk mereka. Pilihan bagi produsen makanan di masa depan menjadi sangat jelas: beradaptasi dengan profil nutrisi yang lebih sehat, atau melihat identitas visual merek mereka hilang di balik peringatan kesehatan yang menutupi  dari kemasan produk mereka. Pada akhirnya, “sensor” ini bukan hanya tentang membatasi pemasaran, tetapi tentang memaksa masyarakat global untuk menghadapi realitas biologis dari apa yang kita makan, sebelum krisis penyakit metabolik melampaui kemampuan sistem kesehatan dunia untuk mengatasinya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

63 − = 61
Powered by MathCaptcha