Pusat gravitasi peradaban manusia sering kali bergeser mengikuti arus pengetahuan, dan dalam sejarah intelektual global, kota Timbuktu di Mali menempati posisi yang setara dengan Athena, Baghdad, atau Cordoba. Sebelum universitas-universitas besar di Eropa mencapai kemapanan institusionalnya, Timbuktu telah berdiri sebagai mercusuar ilmu pengetahuan yang menarik para sarjana dari seluruh penjuru dunia Islam. Di tengah gemerlapnya tradisi literasi dan sains ini, muncul seorang raksasa intelektual bernama Abu al-Abbas Ahmad ibn Ahmad al-Takruri Al-Massufi al-Timbukti, atau yang secara luas dihormati sebagai Ahmed Baba. Sebagai Chancellor terakhir dari Universitas Sankore, Ahmed Baba bukan sekadar seorang pendidik, melainkan simbol kedaulatan intelektual Afrika yang membuktikan bahwa sains adalah alat pembebasan, sebuah warisan yang tetap bercahaya meskipun diterjang oleh badai invasi dan pengasingan.

Konteks Geopolitik dan Kebangkitan Timbuktu sebagai Episentrum Pengetahuan

Timbuktu tidak muncul dalam kehampaan sejarah. Kota ini berkembang di persimpangan strategis antara padang pasir Sahara yang gersang dan lembah subur Sungai Niger, yang berfungsi sebagai arteri utama transportasi barang dari wilayah tropis Afrika Barat. Sejarah kota ini terikat erat dengan kebangkitan tiga kekaisaran besar: Ghana, Mali, dan Songhai. Timbuktu didirikan sekitar tahun 1100 oleh pengembara Sanhaja sebagai tempat perkemahan musim panas, namun dengan cepat berevolusi menjadi pusat ekonomi dan magnet bagi para pencari ilmu. Lokasinya yang unik memungkinkan terjadinya pertukaran emas dari selatan dan garam dari Sahara, yang pada abad ke-14 menjadikan wilayah ini sebagai sumber dari hampir dua pertiga cadangan emas dunia.

Kesejahteraan ekonomi ini meletakkan dasar bagi industri buku yang masif. Membeli buku dianggap sebagai cara paling bergengsi untuk menunjukkan kekayaan dan status sosial di Timbuktu. Dalam ekosistem ini, pengetahuan menjadi komoditas yang paling berharga, bahkan melampaui nilai emas dan garam dalam persepsi masyarakat kelas atas. Intelektualisme di Timbuktu mencapai puncaknya di bawah Askia Muhammad dari Kekaisaran Songhai pada awal abad ke-16, di mana kualitas pendidikan di universitas-universitasnya dikatakan melampaui banyak pusat Islam lainnya di dunia.

Fase Sejarah Timbuktu Karakteristik Utama Kontribusi Intelektual
Pendirian (c. 1100) Perkemahan nomaden Sanhaja di dekat Sungai Niger. Awal pemukiman permanen dan perdagangan lokal.
Era Kekaisaran Mali (Abad 13-14) Konsolidasi perdagangan emas dan garam; kedatangan Mansa Musa. Pendirian masjid-masjid besar yang berfungsi sebagai madrasah.
Era Kekaisaran Songhai (Abad 15-16) Ekspansi wilayah dan stabilitas politik di bawah Dinasti Askia. Universitas Sankore mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat global.
Invasi Maroko (1591) Pertempuran Tondibi dan penghancuran kedaulatan Songhai. Penangkapan massal ulama dan penjarahan perpustakaan.
Era Modern (1960-Sekarang) Kemerdekaan Mali dan upaya pelestarian internasional. Pendirian Ahmed Baba Institute untuk digitalisasi manuskrip.

Genealogi Intelektual: Keluarga Aqit dan Kelahiran Sang Mujaddid

Ahmed Baba lahir pada 26 Oktober 1556 di Araouane, sebuah pemukiman gersang sekitar 250 kilometer di utara Timbuktu. Ia berasal dari keluarga Aqit, sebuah klan terpelajar dari suku Sanhaja Berber yang telah menetap di Timbuktu sejak awal abad ke-15. Keluarga Aqit bukan sekadar penduduk biasa; mereka adalah aristokrasi intelektual yang memegang posisi qadi (hakim kepala) di Timbuktu selama lebih dari satu abad. Ayahnya, Ahmad ibn al-Hajj Ahmad ibn Umar ibn Muhammad Aqit, adalah seorang guru dan ulama terpandang yang menjadi mentor pertama bagi Ahmed Baba.

Pertumbuhan Ahmed Baba dalam lingkungan yang sangat menghargai teks-teks hukum dan teologi membentuk landasan berpikirnya yang kritis. Meskipun secara etnis ia adalah Berber, identitas budayanya menyatu sepenuhnya dengan masyarakat Sudanic di Afrika Barat, menjadikannya suara yang paling otoritatif bagi komunitas Muslim kulit hitam di wilayah tersebut. Di masa mudanya, ia pindah ke Timbuktu untuk memperdalam studinya di bawah bimbingan sarjana paling termasyhur saat itu, Mohammed Bagayogo.

Bagayogo, seorang sarjana Mande Dyula yang bermigrasi dari Jenne, memberikan pengaruh yang sangat dalam pada metodologi berpikir Ahmed Baba. Bagayogo digambarkan sebagai sosok yang sangat rendah hati, penuh pengabdian pada pengajaran, dan pemilik perpustakaan yang luar biasa luas. Salah satu anekdot yang paling mencerminkan hubungan mereka adalah ketika Ahmed Baba meminta untuk meminjam buku tata bahasa yang langka; Bagayogo dengan senang hati memberikan seluruh koleksi tata bahasa miliknya tanpa ragu, bahkan kepada murid yang tidak ia kenal dengan baik sekalipun. Kemurahan hati intelektual ini menanamkan keyakinan pada Ahmed Baba bahwa ilmu pengetahuan harus mengalir bebas untuk kemaslahatan umat, sebuah prinsip yang nantinya akan ia pertahankan di hadapan para penakluk.

Universitas Sankore: Struktur Pendidikan Tinggi yang Futuristik

Puncak karier Ahmed Baba ditandai dengan pengangkatannya sebagai Chancellor di Universitas Sankore. Universitas ini bukanlah sebuah institusi tunggal dengan administrasi terpusat seperti model Eropa modern, melainkan sebuah jaringan madrasah independen yang masing-masing dipimpin oleh seorang master atau imam. Terletak di distrik timur laut Timbuktu, di dalam kompleks Masjid Sankore yang dibangun dengan dimensi Ka’bah di Mekkah, universitas ini menjadi jantung dari ekosistem akademik yang dinamis.

Sistem pendidikan di Sankore didasarkan pada model magang atau mentorship, di mana seorang profesor secara pribadi memilih mahasiswanya berdasarkan devosi religius, pengetahuan awal, dan dedikasi terhadap pembelajaran. Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil di pelataran masjid atau di rumah pribadi pengajar, menciptakan ikatan pribadi yang kuat antara guru dan murid. Bahasa Arab berfungsi sebagai lingua franca untuk instruksi akademik dan perdagangan, sehingga penguasaan bahasa ini dan penghafalan Al-Qur’an menjadi syarat wajib bagi setiap mahasiswa.

Kurikulum yang ditawarkan oleh Sankore mencerminkan pendekatan holistik terhadap pendidikan yang menggabungkan studi agama dengan ilmu sains dan vokasional. Pada puncaknya, universitas ini menampung sekitar 25.000 mahasiswa dari berbagai penjuru Afrika Barat dan dunia Islam.

Tingkatan dan Komponen Kurikulum Detail dan Mata Pelajaran
Struktur Gelar Empat tingkatan derajat; Gelar Superior (setara PhD) membutuhkan waktu studi minimal 10 tahun.
Studi Wajib Al-Qur’an, Hadits, Fiqh (Hukum Islam), Tafsir, Filsafat, dan Tata Bahasa Arab tingkat lanjut.
Sains Terapan Astronomi, matematika (termasuk aljabar), fisika, kimia, kedokteran, bedah, dan botani.
Ilmu Humaniora Sejarah, geografi, linguistik, puisi, sastra, dan seni.
Pendidikan Vokasional Bisnis dan etika perdagangan, pertukangan, pertanian, navigasi, penjahitan, dan pembuatan sepatu.
Simbol Kelulusan Pemberian sorban tradisional yang melambangkan cahaya ilahi, kebijaksanaan, dan integritas moral.

Kualitas lulusan Sankore diakui secara internasional. Banyak profesor dari Timbuktu yang kemudian menduduki jabatan akademik penting di pusat-pusat pembelajaran di Maroko, Mesir, dan Hijaz. Ahmed Baba sendiri mengelola universitas ini dengan standar moral yang tinggi, mensyaratkan bahwa lulusan tidak hanya harus unggul secara intelektual tetapi juga memiliki karakter yang mulia sebelum menerima undangan kelulusan.

Industri Buku dan Kekuatan Manuskrip Timbuktu

Salah satu warisan paling nyata dari era Ahmed Baba adalah koleksi manuskrip yang luar biasa banyak. Timbuktu bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat produksi buku yang mempekerjakan ribuan orang dalam bidang pembuatan tinta, penyalinan naskah, penjilidan, dan ilustrasi. Industri ini memberikan martabat ekonomi bagi masyarakat setempat dan memastikan penyebaran pengetahuan secara luas.

Perpustakaan pribadi Ahmed Baba sendiri terdiri dari lebih dari 1.600 volume, yang ia catat sebagai koleksi terkecil dibandingkan dengan kerabat keluarganya yang lain. Manuskrip-manuskrip ini mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari risalah hukum yang kompleks hingga teks astronomi yang merinci pergerakan benda-benda langit. Menariknya, naskah-naskah ini tidak hanya ditulis dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa lokal seperti Songhai, Tamashek, dan Bamanankan menggunakan skrip Ajami, membuktikan bahwa tradisi literasi di Afrika Barat sangat berakar secara lokal dan orisinal.

Pelestarian naskah-naskah ini dilakukan dengan penuh dedikasi oleh keluarga-keluarga di Timbuktu, yang menyimpan koleksi berharga mereka di bawah tanah atau di loteng tersembunyi selama berabad-abad untuk melindunginya dari kerusakan cuaca dan penjarahan. Koleksi ini sekarang menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa Afrika memiliki tradisi sains dan hukum yang mapan jauh sebelum kedatangan kolonialisme Eropa.

Invasi Maroko 1591: Titik Balik dan Tragedi Songhai

Kejayaan intelektual Timbuktu mengalami guncangan hebat pada akhir abad ke-16. Sultan Maroko, Ahmad al-Mansur, termotivasi oleh keinginan untuk menguasai tambang emas dan rute perdagangan Trans-Sahara, mengirim pasukan elitnya melintasi gurun untuk menginvasi Kekaisaran Songhai. Pasukan Maroko, yang dibantu oleh tentara bayaran Spanyol dan dipersenjatai dengan senapan musket dan meriam—teknologi yang saat itu belum dimiliki oleh Songhai—memenangkan Pertempuran Tondibi pada tahun 1591.

Pendudukan Maroko di Timbuktu segera diikuti oleh penindasan terhadap para elit intelektualnya. Para penjajah menuntut kesetiaan mutlak dari para ulama, namun Ahmed Baba menjadi pemimpin oposisi yang menolak untuk tunduk. Ia berargumen bahwa penaklukan Maroko terhadap sesama Muslim tidak memiliki dasar legal dalam hukum Islam dan merupakan tindakan kezaliman politik.

Ketegangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1593. Khawatir bahwa pengaruh Ahmed Baba akan memicu pemberontakan besar, Komandan Maroko di Timbuktu, Mahmud Zarqun, memerintahkan penangkapan Ahmed Baba beserta keluarganya. Perpustakaan besarnya dijarah, dan Ahmed Baba dipaksa melakukan perjalanan panjang melintasi Sahara menuju Marrakesh dalam keadaan terantai. Peristiwa ini sering disebut dalam tradisi lisan sebagai “Tragedi Songhai,” yang menandai berakhirnya masa keemasan kedaulatan intelektual di Afrika Barat.

Masa Pengasingan: Intelektualitas di Bawah Belenggu

Setibanya di Marrakesh, Ahmed Baba dipenjarakan selama dua tahun. Namun, otoritas intelektualnya begitu besar sehingga ia segera menarik perhatian para sarjana Maroko sendiri. Mereka yang mengagumi kedalaman ilmunya mengajukan petisi kepada Sultan al-Mansur untuk membebaskannya. Sultan akhirnya mengabulkan permintaan tersebut dengan syarat Ahmed Baba tetap berada di bawah tahanan terbuka di Marrakesh dan tidak diizinkan kembali ke Timbuktu.

Selama masa pembuangannya, Ahmed Baba tidak membiarkan kemalangannya memadamkan semangat keilmuannya. Ia mulai mengajar di Masjid al-Shurafa (atau Masjid para Syarif), di mana kuliah-kuliahnya tentang retorika, hukum, dan teologi menarik ribuan pendengar. Bahkan para hakim dan pejabat tinggi Maroko sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan hukum yang paling sulit kepadanya, di mana keputusan Ahmed Baba selalu dianggap sebagai otoritas final.

Resiliensi mental Ahmed Baba selama periode ini sangat menonjol. Dalam sebuah audiensi dengan Sultan al-Mansur, ia dengan berani memprotes perlakuan buruk yang diterimanya dan penghancuran perpustakaannya. Ia menyatakan kepada Sultan dengan nada yang tajam namun bermartabat: “Aku memiliki perpustakaan terkecil di antara teman-temanku, dan prajuritmu mengambil dariku 1.600 volume buku”. Keberanian ini menunjukkan bahwa baginya, ilmu pengetahuan adalah sumber kekuatan moral yang melampaui kekuasaan temporal seorang raja.

Diskursus Ras, Perbudakan, dan Kemanusiaan: Mi’raj al-Su’ud

Kontribusi Ahmed Baba yang paling berdampak secara global dalam bidang hukum adalah risalahnya yang berjudul Mi’raj al-Su’ud ila nayl hukm mujallab al-Sud (Tangga Kenaikan Menuju Pemahaman Hukum mengenai Budak-budak dari Negeri Sudan), yang ditulis pada tahun 1615. Karya ini lahir sebagai respons atas maraknya perbudakan terhadap Muslim Afrika Barat oleh para pedagang dan penguasa dari Afrika Utara yang sering kali membenarkan tindakan tersebut berdasarkan warna kulit.

Ahmed Baba melakukan kritik sistematis terhadap rasialisasi perbudakan. Ia membantah secara teologis penafsiran sesat mengenai “Kutukan Ham” dari Kitab Kejadian yang sering digunakan untuk menjustifikasi perbudakan orang kulit hitam. Argumen-argumen utamanya meliputi:

  • Kesetaraan dalam Islam: Ia menegaskan bahwa dalam hukum Islam, status kemerdekaan adalah keadaan alami manusia, dan tidak ada hubungannya dengan warna kulit atau asal etnis.
  • Kriteria Perbudakan: Satu-satunya alasan yang sah untuk perbudakan dalam kerangka hukum saat itu adalah kekafiran asli, dan karena banyak penduduk Afrika Barat telah memeluk Islam, memperbudak mereka adalah haram secara mutlak.
  • Etnografi sebagai Perlindungan: Ia menyusun daftar kelompok etnis Muslim di Afrika Barat (seperti Songhai, Fulani, dan lainnya) untuk memastikan bahwa identitas mereka diakui sebagai komunitas yang bebas dan berdaulat.

Meskipun Ahmed Baba tidak menyerukan penghapusan perbudakan secara universal—posisi yang sangat langka pada abad ke-17—upayanya untuk mengakhiri perbudakan berbasis ras adalah terobosan intelektual yang sangat maju pada masanya. Karyanya menjadi landasan bagi pemikiran anti-rasis di dunia Islam dan membuktikan bahwa intelektual Afrika mampu melawan hegemoni ideologis dari luar.

Karya Monumental dan Dokumentasi Sejarah Maliki

Selama hidupnya, Ahmed Baba menulis antara 40 hingga 70 buku dalam berbagai disiplin ilmu. Salah satu pencapaian sastra terbesarnya adalah Nayl al-ibtihaj bi-tatriz al-Dibaj, sebuah kamus biografi yang berfungsi sebagai suplemen untuk karya Ibn Farhun tentang para sarjana madzhab Maliki. Ditulis sebagian besar di Marrakesh pada tahun 1596, buku ini merupakan ensiklopedia yang mendokumentasikan kehidupan dan pemikiran para ulama dari Afrika Utara dan Sudan Barat dari abad ke-13 hingga ke-17.

Signifikansi Nayl al-ibtihaj terletak pada upayanya untuk memvalidasi pencapaian intelektual para sarjana Afrika Barat di hadapan komunitas Muslim global. Dengan mencatat detail guru, karya, dan karakter para sarjana Timbuktu berdampingan dengan sarjana besar dari Maghreb, Ahmed Baba membuktikan bahwa pusat intelektual di pedalaman Afrika tidak kalah cemerlang dibandingkan pusat-pusat tradisional lainnya. Karya ini tetap menjadi sumber referensi utama bagi sejarawan modern yang ingin memahami dinamika sosial dan intelektual Afrika pra-kolonial.

Judul Karya Utama Ahmed Baba Bidang Studi Deskripsi Singkat
Nayl al-ibtihaj bi-tatriz al-Dibaj Biografi & Sejarah Kamus biografi ulama Maliki dari Maghreb dan Afrika Barat.
Mi’raj al-Su’ud ila nayl hukm mujallab al-Sud Hukum & Sosiologi Kritik teologis terhadap perbudakan berbasis ras dan pembelaan hak Muslim Afrika.
Kifayat al-muhtaj Yurisprudensi (Fiqh) Pelengkap biografi ulama Maliki dengan analisis hukum yang mendalam.
Al-Kashf wa’l-Bayan Biografi Kamus biografi yang merinci budaya intelektual Sudan Barat.
On the Lawfulness of Tobacco Usage Hukum Kontemporer Risalah hukum yang menyatakan bahwa penggunaan tembakau bukan narkotik.
Jalb al-niʻmah wa-dafʻ al-niqmah Etika Politik Pembahasan mengenai hubungan antara ulama dan penguasa yang zalim.

Astronomi dan Sains: Kontribusi Afrika terhadap Kosmologi

Ketertarikan Ahmed Baba tidak terbatas pada hukum dan agama. Ia juga seorang astronom yang terampil, bagian dari tradisi panjang di Timbuktu yang mempelajari langit untuk navigasi dan penentuan kalender religius. Naskah-naskah astronomi dari zamannya menunjukkan pemahaman yang maju tentang konsep-konsep geosentris, perhitungan posisi bintang, dan penggunaan instrumen astronomi.

Salah satu pengakuan internasional paling unik terhadap warisan ilmiahnya adalah penamaan sebuah kawah di planet Merkurius dengan nama “Ahmad Baba” oleh International Astronomical Union (IAU) pada tahun 1979. Kawah berdiameter 127 kilometer ini menjadi pengingat abadi bahwa pengetahuan yang dipelajari di tepian Sungai Niger ratusan tahun lalu memiliki relevansi kosmik. Penelitian kontemporer seperti Timbuktu Astronomy Project terus menggali naskah-naskahnya untuk menunjukkan bagaimana astronomi Afrika memberikan kontribusi pada perkembangan sains global sebelum era modern.

Kepulangan ke Timbuktu: Restorasi Cahaya di Senja Usia

Pada tahun 1603, setelah kematian Sultan Ahmad al-Mansur, Sultan Zaydan An-Nasser naik tahta di Maroko. Sebagai bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan dengan para elit agama di selatan, Sultan Zaydan akhirnya mengizinkan para eksul Timbuktu untuk kembali ke tanah air mereka. Setelah 14 tahun berada dalam pembuangan, Ahmed Baba kembali ke Timbuktu pada 22 April 1608.

Meskipun ia disambut dengan sukacita besar oleh komunitasnya, ia menemukan kotanya telah banyak berubah akibat pendudukan yang berkepanjangan. Kekuasaan politik Songhai telah hancur, dan stabilitas ekonomi telah memudar. Namun, Ahmed Baba menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dengan tetap mengajar dan menulis, berupaya memulihkan tradisi pengajaran Maliki di Timbuktu dan merehabilitasi fondasi metodologis pemikiran Sahelian.

Ia meninggal pada 22 April 1627 di usia 70 tahun. Hingga nafas terakhirnya, ia tetap menjadi sosok yang dihormati sebagai Mujjadid (pembaharu agama) pada abad tersebut, seorang penjaga cahaya yang memastikan bahwa api pengetahuan di Timbuktu tidak sepenuhnya padam oleh angin penaklukan.

Warisan Modern: Ahmed Baba Institute dan Tantangan Pelestarian

Saat ini, nama Ahmed Baba diabadikan melalui Ahmed Baba Institute of Higher Learning and Islamic Research di Timbuktu. Didirikan pada tahun 1973 dengan dukungan dari Kuwait, lembaga ini berfungsi sebagai perpustakaan publik tunggal dan pusat penelitian utama yang menampung lebih dari 20.000 hingga 30.000 manuskrip sejarah.

Lembaga ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga pusat inovasi modern dalam pelestarian warisan budaya. Dengan dukungan internasional, termasuk dari Afrika Selatan, gedung baru yang dilengkapi dengan fasilitas restorasi, book-binding, dan peralatan digitalisasi dibangun pada tahun 2009 untuk memastikan naskah-naskah rapuh tersebut dapat diakses oleh dunia melalui internet.

Namun, tantangan bagi warisan ini terus berlanjut. Pada awal tahun 2013, selama konflik di Mali utara, militan Islam dilaporkan membakar sebagian perpustakaan ini saat mereka mundur dari Timbuktu. Untungnya, berkat keberanian para staf dan penduduk lokal, sekitar 28.000 manuskrip berhasil dipindahkan secara rahasia ke ibukota Bamako dalam operasi penyelamatan yang heroik. Meskipun sekitar 2.000 naskah diperkirakan hilang, esensi dari cahaya Timbuktu tetap terselamatkan.

Status Ahmed Baba Institute dan Koleksi Manuskrip Detail Kapasitas dan Kondisi
Koleksi Total Sekitar 30.000 manuskrip; mencakup sejarah Mali, hukum, kedokteran, dan astronomi.
Rentang Waktu Naskah Mayoritas berasal dari abad ke-14 hingga ke-16.
Fasilitas Modern Air conditioning, sistem pemadam api otomatis, laboratorium digitalisasi, dan buku-binding.
Lokasi Penyimpanan Saat Ini Sebagian besar naskah diamankan di Bamako setelah krisis 2013; upaya pengembalian bertahap.
Peran Peneliti Mengidentifikasi skrip lokal (Sudani, Maghribi, Suqi) dan membuktikan sejarah tertulis kuno Afrika.

Kesimpulan: Ilmu Pengetahuan sebagai Alat Pembebasan

Ahmed Baba al-Massufi berdiri tegak dalam sejarah sebagai monumen hidup dari kecerdasan dan martabat manusia. Melalui hidupnya, kita melihat bahwa Timbuktu bukan sekadar mitos kota yang terisolasi di gurun, tetapi sebuah kosmotropolis intelektual yang menjadi puncak pencapaian manusia pada masanya. Ahmed Baba membuktikan bahwa Afrika memiliki tradisi literasi, sains, dan hukum yang canggih yang mampu menghadapi dan menantang narasi kolonial mana pun.

Keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan adalah alat pembebasan tercermin dalam setiap risalah hukum yang ia tulis untuk membela hak-hak Muslim Afrika, dan dalam setiap kelas yang ia ajar di bawah ancaman penangkapan. Ia menunjukkan bahwa seorang intelektual sejati tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki integritas moral untuk berdiri melawan ketidakadilan. Warisannya, yang kini tersimpan dalam ribuan naskah yang terancam namun tetap bertahan, terus memberikan inspirasi bagi dunia tentang pentingnya melestarikan memori kolektif manusia. Ahmed Baba adalah penjaga cahaya yang cahayanya, meski sempat redup oleh awan invasi, kini kembali menyinari dunia sebagai bukti bahwa peradaban Islam di Afrika Barat adalah salah satu babak paling gemilang dalam sejarah pengetahuan universal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 + = 16
Powered by MathCaptcha