Lanskap Arktik dan Paradoks Isolasi: Konteks Geografis Nome 1925
Pada awal abad ke-20, Alaska bukanlah wilayah yang mudah ditaklukkan. Nome, sebuah kota pelabuhan yang terletak di ujung barat Semenanjung Seward, merupakan pemukiman yang lahir dari demam emas namun bertahan karena posisinya yang strategis sebagai pusat administrasi dan perdagangan regional. Namun, letak geografisnya yang hanya dua derajat di bawah Lingkaran Arktik menjadikannya salah satu tempat paling terisolasi di muka bumi selama bulan-bulan musim dingin. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai paradoks isolasi: kota yang kaya akan sejarah dan sumber daya, namun secara logistik lumpuh total ketika alam mulai menunjukkan taringnya.
Antara bulan November hingga Juli, Laut Bering membeku total, mengubah pelabuhan Nome menjadi hamparan es yang tidak bisa ditembus oleh kapal uap mana pun. Satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Nome dengan peradaban luar adalah Jalur Iditarod, sebuah rute kuno sepanjang 938 mil yang melintasi pegunungan berbahaya dan pedalaman Alaska yang luas menuju pelabuhan Seward di selatan. Namun, jalur ini bukanlah jalan raya dalam pengertian modern; ia adalah untaian jejak salju yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang memiliki ketahanan fisik luar biasa dan pengetahuan mendalam tentang perilaku alam Arktik.
Pada Januari 1925, suhu di Alaska pedalaman anjlok ke titik terendah dalam 20 tahun akibat sistem tekanan tinggi dari kutub utara. Di Fairbanks, suhu tercatat mencapai −50∘F (−46∘C), sementara angin kencang berkecepatan 25 mph menyebabkan terbentuknya tumpukan salju setinggi 10 kaki di seluruh wilayah tersebut. Di tengah kekejaman iklim inilah, sebuah krisis medis mulai membayangi penduduk Nome, menciptakan urgensi yang akan menguji batas kemampuan manusia dan hewan dalam sebuah misi penyelamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.
Biologi Kematian: Ancaman Epidemi Diftaria dan Keterbatasan Medis
Krisis di Nome bermula dengan gejala yang tampak biasa. Dr. Curtis Welch, satu-satunya dokter di kota tersebut, mulai menangani pasien anak-anak dengan keluhan sakit tenggorokan yang awalnya ia diagnosis sebagai tonsilitis. Namun, keraguan mulai muncul ketika kasus-kasus tersebut tidak merespons pengobatan standar dan anak-anak mulai meninggal dunia dalam waktu singkat. Pada pertengahan Januari 1925, Welch menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Corynebacterium diphtheriae, bakteri penyebab difteri yang sangat menular dan mematikan.
Difteri, yang dikenal secara historis sebagai “Malaikat Pencekik Anak-Anak,” bekerja dengan melepaskan toksin kuat yang membunuh jaringan sehat di sistem pernapasan manusia. Sel-sel yang mati ini membentuk membran tebal berwarna abu-abu yang menutupi tonsil dan tenggorokan, secara bertahap menutup jalan napas pasien hingga mereka mati lemas. Bagi sebuah komunitas yang terisolasi seperti Nome, wabah ini bukan sekadar ancaman kesehatan, melainkan potensi kepunahan massal, terutama bagi penduduk asli Alaska (Inuit dan Athabaskan) yang tidak memiliki kekebalan turun-temurun terhadap penyakit yang dibawa oleh pemukim Eropa ini.
| Parameter Medis Wabah Nome 1925 | Detail Teknis dan Statistik |
| Agen Patogen | Corynebacterium diphtheriae (Gram-positif bacillus) |
| Mekanisme Fatalitas | Pembentukan pseudomembran dan asfiksia (sesak napas) |
| Populasi Berisiko | ~1.400 di Nome; ~10.000 di wilayah sekitarnya |
| Tingkat Kematian Tanpa Serum | Diperkirakan mendekati 100% pada kelompok rentan |
| Status Pasokan Antitoksin | Kedaluwarsa; pesanan baru gagal tiba sebelum pelabuhan beku |
Dr. Welch segera melakukan inventarisasi dan menemukan kenyataan yang mengerikan: seluruh pasokan antitoksin di rumah sakitnya telah kedaluwarsa. Meskipun ia mencoba memberikan serum lama tersebut kepada seorang gadis berusia tujuh tahun yang terinfeksi, pasien tersebut meninggal hanya dalam beberapa jam. Tanpa serum segar, Welch memproyeksikan bahwa epidemi ini tidak terelakkan dan akan menyapu bersih ribuan nyawa di seluruh Alaska Barat. Dengan dukungan walikota dan dewan kota, karantina ketat diberlakukan, namun semua pihak tahu bahwa tanpa intervensi medis yang cepat, karantina hanyalah penundaan terhadap eksekusi mati massal.
Gagalnya Sayap: Batasan Aviasi dan Penolakan Teknologi Modern
Segera setelah Dr. Welch mengirimkan telegraf radio darurat ke Dinas Kesehatan Masyarakat di Washington, D.C., dan kota-kota besar di Alaska, pencarian antitoksin dimulai dengan intensitas tinggi. Sebuah kejutan muncul ketika dr. John Bradley Beeson di Anchorage menemukan 300.000 unit antitoksin yang tersimpan di gudang rumah sakit kereta api. Meskipun jumlah ini jauh dari satu juta unit yang diminta Welch, 300.000 unit tersebut cukup untuk menahan gelombang awal kematian jika bisa mencapai Nome tepat waktu.
Tantangan berikutnya adalah transportasi. Jarak antara Anchorage dan Nome adalah sekitar 1.000 kilometer melalui daratan yang tertutup salju dan es. Opsi penerbangan segera menjadi topik diskusi hangat. Namun, pada tahun 1925, aviasi masih berada dalam tahap embrionik. Pesawat yang tersedia di Alaska hanyalah tiga buah biplan sisa Perang Dunia I yang telah dibongkar untuk penyimpanan musim dingin. Mesin pesawat tersebut masih menggunakan pendingin air yang akan membeku seketika dalam suhu sub-nol, dan kokpit terbukanya akan membunuh pilot dalam hitungan menit akibat paparan angin Arktik yang mematikan.
Setelah mempertimbangkan risiko kegagalan teknis dan kemungkinan hilangnya serum dalam kecelakaan pesawat, Dewan Kesehatan Nome dan Gubernur Scott C. Bone mengambil keputusan yang krusial. Mereka menolak penggunaan pesawat dan memilih untuk mengandalkan sistem estafet kereta seluncur anjing. Keputusan ini didasarkan pada keandalan tradisional; anjing seluncur telah menjadi tulang punggung transportasi Alaska selama berabad-abad dan terbukti mampu beroperasi dalam kondisi yang akan melumpuhkan mesin mana pun. Rencana logistik disusun: serum akan dibawa dengan kereta api dari Anchorage ke Nenana, dan dari sana, estafet anjing akan mengambil alih perjalanan sejauh 674 mil (1.085 km) menuju Nome.
Strategi Estafet: Logistika dan Koordinasi Antar Wilayah
Rencana awal yang diusulkan oleh Mark Summers, inspektur dari Hammon Consolidated Gold Fields, melibatkan hanya dua tim anjing yang sangat cepat. Satu tim akan berangkat dari Nenana ke barat, sementara tim lainnya, yang dipimpin oleh musher legendaris Leonhard Seppala, akan berangkat dari Nome ke timur untuk bertemu di Nulato, titik tengah perjalanan. Namun, seiring meningkatnya jumlah kasus difteri di Nome, Gubernur Bone menyadari bahwa rencana tersebut terlalu berisiko. Jika satu tim mengalami kecelakaan, seluruh misi akan gagal.
Gubernur akhirnya memutuskan untuk memperluas estafet menjadi sebuah operasi yang melibatkan 20 musher dan sekitar 150 anjing. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap tim hanya perlu menempuh jarak pendek (antara 18 hingga 52 mil) dengan kecepatan maksimal, sementara tim berikutnya selalu siap menunggu di pos pemberhentian atau roadhouse untuk mengambil alih tanpa kehilangan waktu sedetik pun. Koordinasi ini dimungkinkan berkat jaringan telegraf dan telepon yang menghubungkan pos-pos di sepanjang Jalur Iditarod, memungkinkan para musher untuk mengetahui posisi paket secara real-time.
| Segmentasi Logistik Estafet | Detail Operasional |
| Titik Start | Stasiun Kereta Api Nenana, 27 Januari pukul 21:00 |
| Titik Finis | Front Street, Nome, 2 Februari pukul 05:30 |
| Total Jarak | 674 mil (1.085 km) |
| Durasi Rekor | 5,5 hari (127,5 jam) |
| Komposisi Tim | 20 Musher (Mayoritas Penduduk Asli Alaska) |
Serum tersebut dikemas dengan sangat hati-hati oleh Dr. Beeson di Anchorage. Vial kaca dibungkus dengan kain berlapis, ditempatkan di dalam silinder logam, dan kemudian dibungkus lagi dengan selimut empuk seberat 20 pon untuk mencegah pecahnya kaca akibat suhu dingin yang ekstrem. Kemasan ini harus cukup kuat untuk bertahan dari guncangan seluncur yang sering kali terbalik di medan yang kasar, namun cukup portabel untuk dipindahkan dengan cepat di antara para musher.
Garis Start di Nenana: Perjuangan Awal “Wild Bill” Shannon
Misi yang kemudian dikenal sebagai “Great Race of Mercy” dimulai pada Selasa malam, 27 Januari 1925. Ketika kereta api tiba di Nenana, suhu udara telah turun menjadi −50∘F. William “Wild Bill” Shannon, seorang musher berpengalaman, menerima paket serum tersebut dari agen pos dan segera memacu timnya yang terdiri dari sembilan anjing malamute menuju kegelapan malam Arktik.
Perjalanan Shannon adalah gambaran nyata dari kekejaman fisik yang dihadapi para peserta. Karena jalur darat telah rusak oleh jejak kuda, ia terpaksa membawa timnya melintasi es sungai Tanana yang sangat dingin. Dalam upaya putus asa untuk menjaga suhu tubuhnya agar tidak membeku, Shannon sering kali berlari di samping seluncurnya, sebuah tindakan fisik yang sangat melelahkan di tengah badai. Namun, suhu terus turun hingga mencapai −62∘F (−52∘C) saat ia mendekati Minto.
Ketika Shannon tiba di Minto pada pukul 03:00 pagi, ia berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagian wajahnya telah membeku dan menghitam akibat frostbite, dan tiga anjingnya menderita luka internal yang parah akibat menghirup udara yang terlalu dingin, yang akhirnya menyebabkan kematian mereka tak lama setelah misi selesai. Meskipun menderita secara fisik, Shannon hanya beristirahat selama empat jam, menghangatkan serum di dekat perapian, dan melanjutkan perjalanan ke Tolovana untuk menyerahkan paket tersebut kepada musher berikutnya, Dan Green. Keberanian Shannon menetapkan standar moral bagi para musher lainnya: kegagalan bukanlah pilihan, apa pun harga fisik yang harus dibayar.
Arteri Yukon: Estafet Melalui Wilayah Pedalaman
Setelah melalui tangan Dan Green dan Johnny Folger (seorang musher Athabaskan yang dikenal karena kecepatannya), serum memasuki wilayah pedalaman Alaska yang dihuni oleh banyak desa asli. Di sini, estafet bergerak dengan efisiensi yang luar biasa. Para musher penduduk asli Alaska menunjukkan keahlian mereka dalam menavigasi medan yang paling sulit. Sam Joseph, dari suku Tanana, membawa serum sejauh 26 mil dengan kecepatan rata-rata lebih dari 9 mil per jam, sebuah prestasi yang luar biasa mengingat kondisi es yang tidak stabil.
Titus Nickolai dan Dave Corning melanjutkan estafet ini melalui hutan-hutan yang beku dan jalan setapak yang sempit. Salah satu momen paling mengerikan terjadi pada Edgar Kalland, yang membawa serum dari Nine Mile Cabin ke Kokrines. Suhu udara sangat rendah sehingga tangan Kalland membeku pada setang seluncur kayunya. Ketika ia tiba di pos pemberhentian Manley Hot Springs, pemilik roadhouse harus menyiramkan air panas pada tangan Kalland untuk melepaskan genggamannya dari seluncur. Meskipun mengalami cedera, Kalland tidak menghentikan misinya hingga serum berpindah ke tangan berikutnya.
Estafet berlanjut melalui Harry Pitka, Bill McCarty, dan saudara-saudara Nollner. Edgar Nollner, yang baru berusia 21 tahun, membawa serum sejauh 24 mil melalui badai salju yang membutakan sebelum menyerahkannya kepada saudaranya, George Nollner. George, yang baru saja menikah, meninggalkan kenyamanan rumahnya di tengah malam untuk memastikan serum tetap bergerak menuju Galena. Di bagian jalur ini, tantangan terbesar bukan hanya suhu, tetapi juga kelelahan mental akibat navigasi dalam kegelapan total Arktik yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya bintang pada salju.
Puncak Ketegangan di Norton Sound: Epik Leonhard Seppala dan Togo
Saat serum mendekati pantai barat Alaska, tanggung jawab berpindah ke tangan Leonhard Seppala. Seppala bukanlah musher biasa; ia adalah legenda hidup di Alaska, seorang pria yang dikenal karena hubungan spiritualnya dengan anjing-anjing Siberian Husky miliknya. Ia telah berangkat dari Nome beberapa hari sebelumnya dengan niat menjemput serum di Nulato, tanpa mengetahui bahwa jumlah musher telah ditambah untuk mempercepat estafet.
Seppala dan anjing pemimpinnya, Togo, telah menempuh perjalanan yang melelahkan sejauh 170 mil (273 km) dari Nome menuju arah timur ketika mereka secara tidak sengaja berpapasan dengan Henry Ivanoff di tengah jalur dekat Shaktoolik. Ivanoff, yang sedang berjuang menenangkan anjingnya yang mengejar rusa kutub, segera menyerahkan paket serum kepada Seppala. Seppala segera memutar balik timnya. Sekarang, ia harus membawa serum tersebut kembali ke arah Nome melintasi rute yang paling berbahaya: penyeberangan es Norton Sound.
Navigasi di Atas Es yang Bergerak
Penyeberangan Norton Sound adalah jalan pintas yang bisa memangkas waktu satu hari perjalanan, namun ia adalah pertaruhan nyawa. Es di teluk ini tidak stabil dan sering kali pecah menjadi bongkahan yang hanyut ke laut terbuka akibat angin kencang. Seppala membuat keputusan berani untuk menyeberang meskipun badai salju besar sedang mendekat. Di sini, peran Togo menjadi sangat krusial. Togo, meskipun sudah berusia 12 tahun (usia yang sangat tua untuk anjing pemimpin), memiliki insting navigasi yang tak tertandingi.
Dalam kegelapan total dan suara angin yang memekakkan telinga, Seppala tidak bisa melihat jalur di depannya. Ia menyerahkan sepenuhnya keselamatan tim kepada Togo. Togo berhasil menuntun tim melintasi retakan-retakan es yang mematikan dan menghindari lubang-lubang air terbuka yang tersembunyi di bawah salju tipis. Pada satu titik, tim tersebut sempat terjebak di atas floe es yang terlepas dari daratan. Seppala melemparkan Togo menyeberangi celah air untuk menarik floe tersebut kembali ke daratan, sebuah aksi heroik yang menyelamatkan seluruh tim dan paket serum dari hanyut ke Laut Bering. Berkat Togo, Seppala berhasil menempuh 91 mil dalam satu hari melalui medan paling berbahaya, mencatatkan jarak tempuh total 261 mil (420 km) selama misi tersebut—jarak terjauh yang ditempuh oleh satu tim mana pun dalam estafet ini.
Garis Finis: Gunnar Kaasen, Balto, dan Badai Terakhir
Setelah melalui perjalanan epik Seppala, serum diserahkan kepada Charlie Olson di Golovin, yang kemudian membawanya sejauh 25 mil ke Bluff dalam kondisi angin yang sangat kencang, mengakibatkan dua anjingnya menderita luka beku yang parah. Di Bluff, musher terakhir, Gunnar Kaasen, telah menunggu dengan timnya yang dipimpin oleh Balto.
Kaasen berangkat pada tengah malam 1 Februari 1925, tepat saat badai mencapai puncaknya. Angin berhembus hingga 80 mph, menciptakan kondisi whiteout di mana Kaasen tidak bisa melihat tangannya sendiri. Balto, yang sebelumnya tidak dianggap sebagai anjing pemimpin yang hebat oleh Seppala, membuktikan kemampuannya dengan menjaga tim tetap pada jalur meskipun jalur tersebut telah tertimbun salju setinggi beberapa kaki.
Sebuah insiden hampir menggagalkan segalanya ketika embusan angin kencang membalikkan seluncur Kaasen, menyebabkan paket serum terlempar dan terkubur di dalam salju yang dalam. Dalam kepanikan, Kaasen meraba-raba di dalam kegelapan dan salju dengan tangan telanjang hingga akhirnya ia merasakan permukaan dingin tabung logam tersebut. Setelah berhasil menemukannya, ia melanjutkan perjalanan menuju pos Solomon. Namun, karena visibilitas nol, ia melewati pos tersebut tanpa menyadarinya. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia memutuskan untuk terus melaju ke Nome daripada berbalik arah mencari musher cadangan, Ed Rohn, yang sedang tidur di pos tersebut.
Pada pukul 05:30 pagi, Senin, 2 Februari 1925, Kaasen dan timnya tiba di Nome. Dr. Welch segera mengambil serum yang telah membeku padat tersebut, menghangatkannya dengan hati-hati, dan mulai memberikannya kepada anak-anak yang sekarat. Serum tersebut tiba dalam waktu rekor 127,5 jam, menyelamatkan ribuan nyawa dan mengakhiri ancaman epidemi yang hampir melenyapkan sebuah kota.
Analisis Kerja Sama Interspesies: Fisiologi dan Psikologi Sled Dog
Keberhasilan Ekspedisi Balto bukanlah hasil dari kekuatan fisik semata, melainkan manifestasi dari simbiosis antara manusia dan hewan yang telah diasah selama ribuan tahun di lingkungan Arktik. Siberian Husky, ras anjing yang mendominasi estafet ini, memiliki adaptasi fisiologis yang unik untuk bertahan dalam suhu −45∘C hingga −60∘C.
Fisiologi dan Ketahanan
Berbeda dengan anjing domestik lainnya, anjing seluncur Arktik memiliki sistem sirkulasi darah yang unik di kaki mereka (pertukaran panas lawan arus) yang mencegah kaki mereka membeku saat bersentuhan dengan es. Selain itu, mereka memiliki lapisan bulu ganda: lapisan dalam yang tebal untuk isolasi panas dan lapisan luar yang panjang untuk menghalau air dan salju. Ketahanan metabolisme mereka juga memungkinkan mereka untuk terus bekerja selama berjam-jam hanya dengan asupan lemak tinggi dari daging ikan salmon atau blubber anjing laut.
| Sifat Khas Siberian Husky | Dampak pada Serum Run 1925 |
| Kecerdasan Adaptif | Kemampuan membuat keputusan navigasi saat musher kehilangan visibilitas |
| Ketahanan Termal | Mampu berlari dan tidur dalam suhu −60∘F tanpa alat bantu luar |
| Kepatuhan Instingtif | Dorongan alami untuk terus menarik meskipun dalam kondisi kelelahan ekstrem |
| Sensitivitas Penciuman | Kemampuan melacak jalur yang tertimbun salju melalui aroma tim sebelumnya |
Psikologi Kepemimpinan: Peran Lead Dog
Dalam tim seluncur anjing, lead dog atau anjing pemimpin bukanlah yang terkuat, melainkan yang paling cerdas dan paling patuh pada instruksi musher. Namun, dalam kondisi ekstrem seperti tahun 1925, peran ini bergeser menjadi pemberi arah otonom. Togo dan Balto menunjukkan apa yang disebut sebagai “ketidakpatuhan cerdas,” di mana anjing akan menolak perintah musher jika mereka mendeteksi bahaya yang tidak terlihat oleh manusia, seperti es yang tipis atau tepi tebing. Kerja sama ini merupakan bukti puncak dari hubungan interspesies di mana kepercayaan manusia pada insting hewan menjadi satu-satunya jembatan menuju keselamatan.
Sosiologi Pahlawan: Peran Penduduk Asli dan Koreksi Sejarah
Selama beberapa dekade setelah peristiwa 1925, narasi populer tentang “Great Race of Mercy” sangat didominasi oleh tokoh-tokoh berkulit putih seperti Leonhard Seppala dan Gunnar Kaasen. Balto, sebagai anjing yang menyelesaikan perjalanan, menerima hampir semua pengakuan internasional, termasuk sebuah patung di Central Park yang diresmikan hanya sepuluh bulan setelah misi tersebut. Namun, sejarah modern telah mulai memberikan cahaya pada peran krusial yang dimainkan oleh para musher penduduk asli Alaska.
| Musher Penduduk Asli (Noted) | Jarak dan Kontribusi Kunci |
| Henry Ivanoff | Penemu Seppala di tengah badai; melakukan handoff serum yang kritis |
| Johnny Folger | Musher Athabaskan; mencatat rekor kecepatan di segmen sungai |
| Edgar Nollner | Membawa serum melalui badai di wilayah Galena pada usia sangat muda |
| Titus Nickolai | Menavigasi wilayah Yukon yang paling terpencil dalam suhu mematikan |
Para musher ini bukan hanya peserta; mereka adalah tulang punggung sistem pos Alaska. Tanpa pengetahuan mendalam mereka tentang topografi lokal dan ketahanan anjing-anjing mereka terhadap lingkungan Arktik, serum tersebut tidak akan pernah sampai di Nome tepat waktu. Pengakuan posthumous yang diberikan oleh komite Iditarod sejak tahun 1970-an merupakan langkah penting dalam merekonsiliasi sejarah dan memberikan penghormatan kepada mereka yang selama ini hanya dianggap sebagai “musher anonim” di dalam laporan berita lama.
Kontroversi Balto vs Togo: Perspektif Baru tentang Kepahlawanan
Dinamika antara pengakuan Balto dan Togo menciptakan salah satu perdebatan paling menarik dalam sejarah Alaska. Leonhard Seppala menghabiskan sisa hidupnya dengan perasaan pahit karena Togo, anjing yang ia anggap sebagai pemimpin sejati dan yang menanggung beban terberat dari misi tersebut, diabaikan oleh publik demi Balto, yang ia anggap hanya sebagai anjing cadangan yang beruntung berada di segmen terakhir.
Balto memang memimpin tim sejauh 53 mil terakhir menuju Nome, sebuah tugas yang tidak bisa diremehkan mengingat kekuatan badai saat itu. Namun, Togo memimpin timnya menempuh 261 mil, termasuk penyeberangan Norton Sound yang legendaris, pada usia 12 tahun. Analisis historis modern menunjukkan bahwa Balto menjadi simbol karena waktu kedatangannya yang dramatis saat fajar, menjadikannya subjek foto yang sempurna untuk pers surat kabar di seluruh dunia. Di sisi lain, Togo adalah pahlawan teknis yang memungkinkan estafet tersebut tetap pada jadwalnya. Saat ini, kedua anjing tersebut dihormati secara setara di Alaska, dengan Togo mendapatkan patung di Seward Park dan diakui sebagai salah satu hewan paling heroik dalam sejarah oleh berbagai institusi.
Warisan Abadi: Iditarod dan Kesadaran Kesehatan Publik
Ekspedisi Balto tahun 1925 meninggalkan warisan yang masih hidup hingga hari ini. Secara olahraga, peristiwa ini menginspirasi pembentukan perlombaan kereta seluncur anjing Iditarod yang dimulai pada tahun 1973. Perlombaan tahunan ini bukan sekadar kompetisi atletik, melainkan peringatan terhadap tradisi musher dan pengakuan atas pentingnya Jalur Iditarod dalam sejarah Alaska.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, misi ini tetap menjadi contoh utama tentang bagaimana koordinasi darurat dan keteguhan hati dapat mengalahkan hambatan infrastruktur. Keberhasilan pengiriman serum ini mempercepat pengembangan sistem distribusi vaksin yang lebih baik untuk wilayah terpencil di Amerika Utara dan menggarisbawahi perlunya stok medis darurat yang terdesentralisasi.
Hingga hari ini, setiap tahun di bulan Maret, suara gonggongan anjing di sepanjang jalur dari Anchorage ke Nome menjadi pengingat akan 5,5 hari di tahun 1925 ketika nyawa anak-anak sebuah kota bergantung pada napas hangat anjing-anjing Arktik di tengah badai yang membeku. Satu botol serum dan 20 tim anjing telah menulis salah satu babak paling mengharukan dalam sejarah kerja sama manusia dan hewan demi kelangsungan hidup spesies.
