Hubungan antara India dan Tiongkok sering kali dipahami melalui lensa modern sebagai persaingan geopolitik yang intens di sepanjang perbatasan Himalaya yang panjang dan sengketa. Namun, sejarah panjang kedua peradaban ini menawarkan narasi yang jauh lebih mendalam dan subtil, di mana pegunungan tertinggi di dunia bukan hanya berfungsi sebagai penghalang fisik, melainkan sebagai ruang transmisi bagi salah satu pertukaran ide paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Ribuan tahun sebelum konsep soft power didefinisikan secara akademis oleh Joseph Nye, para biksu penjelajah dari kedua belah pihak telah mempraktikkan bentuk diplomasi yang murni berbasis pada daya tarik budaya, filsafat, dan spiritualitas. Mereka bertindak sebagai diplomat de facto, membawa surat dari raja-raja, mentransmisikan teknologi medis, dan menjembatani jurang bahasa melalui proyek penerjemahan raksasa yang tidak melibatkan kekuatan militer sama sekali.
Fenomena ini dapat disebut sebagai “perdagangan ide,” sebuah mekanisme di mana Buddhisme menjadi komoditas utama yang mengalir dari tepi sungai Gangga ke jantung kekaisaran Tiongkok. Para biarawan seperti Xuanzang, Bodhidharma, dan Faxian bukan sekadar peziarah yang mencari pencerahan pribadi; mereka adalah agen perubahan budaya yang mendefinisikan ulang identitas Asia. Melalui perjalanan yang mempertaruhkan nyawa melintasi gurun Gobi yang gersang dan celah-celah Himalaya yang membeku, mereka menciptakan jaringan konektivitas yang melampaui kepentingan material singkat, membangun apa yang oleh para sarjana disebut sebagai “jembatan pemahaman” yang bertahan lebih dari satu milenium.
Genealogi Diplomasi Spiritual: Buddhisme sebagai Perekat Peradaban
Akar dari hubungan diplomasi spiritual ini bermula pada abad-abad awal milenium pertama, ketika Buddhisme mulai menyebar dari India utara melalui Jalur Sutra. Penyebaran ini unik karena tidak didorong oleh penaklukan wilayah atau dominasi politik. Sebaliknya, ia menyebar melalui daya tarik intrinsik dari ajarannya tentang penderitaan, pembebasan, dan etika universal yang mampu menembus batas-batas etnis dan linguistik. Raja-raja India, dimulai dari era Kaisar Ashoka pada abad ke-3 SM, menyadari bahwa pengiriman misionaris Buddhis adalah alat yang efektif untuk membangun hubungan kordial dengan bangsa-bangsa jauh di Asia dan Eropa.
Dalam konteks Tiongkok, Buddhisme tiba di masa Dinasti Han Timur dan secara bertahap berasimilasi dengan tradisi lokal seperti Taoisme dan Konfusianisme. Proses asimilasi ini difasilitasi oleh kebutuhan akan teks-teks suci yang akurat, yang mendorong gelombang “pencari Dharma” dari Tiongkok ke India. Interaksi ini menciptakan pola diplomasi di mana otoritas spiritual memberikan legitimasi kepada otoritas politik. Kaisar Tiongkok sering kali mengirim utusan ke India bukan untuk negosiasi wilayah, tetapi untuk mengundang sarjana-sarjana Buddhis terkemuka atau untuk memperoleh relik suci yang dianggap mampu membawa keberuntungan bagi kekaisaran.
| Karakteristik | Diplomasi Tradisional | Diplomasi Spiritual (Biksu) |
| Aktor Utama | Duta besar resmi, jenderal, raja. | Biksu, sarjana-monastik, peziarah. |
| Media Pertukaran | Wilayah, pajak, komoditas fisik. | Teks suci (sutra), relik, ide filosofis. |
| Tujuan Strategis | Ekspansi wilayah, pakta militer. | Pencerahan, legitimasi budaya, aliansi nilai. |
| Sifat Pengaruh | Hard power (koersif). | Soft power (atraktif/sukarela). |
| Ketahanan | Tergantung pada kekuatan militer. | Bertahan berabad-abad melalui tradisi. |
Perintis Jalur Maritim dan Darat: Faxian dan Visi Awal
Faxian (337–422 M) menonjol sebagai salah satu biarawan Tiongkok pertama yang mendokumentasikan secara rinci realitas sosiopolitik India di abad ke-5. Motivasinya murni bersifat intelektual dan disipliner: ia merasa bahwa terjemahan teks-teks Vinaya (aturan biara) di Tiongkok sangat tidak memadai dan penuh kesalahan. Perjalanannya yang memakan waktu 15 tahun melintasi 30 negara memberikan wawasan pertama bagi istana Tiongkok bahwa di barat terdapat peradaban yang sangat maju dan beradab, yang menantang pandangan Tiongkok sentris yang menganggap bangsa di luar perbatasan mereka sebagai “barbar”.
Laporan Faxian, Record of the Buddhist Kingdoms, tidak hanya berisi masalah agama tetapi juga deskripsi tentang sistem kesejahteraan sosial di India, rumah sakit gratis, dan kemakmuran ekonomi di bawah perlindungan raja-raja yang toleran. Hal ini secara tidak langsung berfungsi sebagai bentuk kritik sosial sekaligus inspirasi bagi tata kelola di Tiongkok. Keputusannya untuk kembali melalui jalur laut, melewati Sri Lanka dan Asia Tenggara, membuka pemahaman baru tentang rute perdagangan maritim yang nantinya akan menjadi sangat vital bagi diplomasi Asia. Faxian membuktikan bahwa seorang biksu soliter tanpa perlindungan militer dapat menavigasi kompleksitas geopolitik Asia melalui statusnya sebagai “pencari kebenaran,” yang memberinya perlindungan universal dari berbagai penguasa lokal.
Bodhidharma: Diplomasi Batin dan Transformasi Budaya Tiongkok
Sosok Bodhidharma (sekitar abad ke-5 atau ke-6 M) mewakili puncak dari pengaruh spiritual India yang mengubah struktur kesadaran masyarakat Tiongkok secara permanen. Berbeda dengan peziarah yang membawa buku, Bodhidharma membawa teknik meditasi langsung yang dikenal sebagai Chan (kemudian menjadi Zen di Jepang). Menurut tradisi, ia adalah pangeran ketiga dari kerajaan Pallava di India Selatan, yang meninggalkan kemewahan istana demi misi menyebarkan “Dharma sejati” ke Timur atas instruksi gurunya, Prajnatara.
Kedatangan Bodhidharma di Guangzhou melalui jalur laut sekitar tahun 520 M menandai momen penting dalam diplomasi budaya. Pertemuannya dengan Kaisar Wu dari Dinasti Liang—seorang pelindung Buddhisme yang sangat antusias—sering dikutip sebagai contoh di mana kebenaran spiritual berdiri di atas kekuasaan politik. Ketika kaisar bertanya berapa banyak pahala yang ia dapatkan dari membangun kuil, Bodhidharma menjawab, “Tidak ada pahala sama sekali”. Meskipun tanggapan ini membuatnya diusir dari istana, dampaknya justru lebih luas di tingkat masyarakat bawah dan biara.
Bodhidharma menetap di Biara Shaolin di Gunung Song, di mana ia melakukan meditasi menghadap dinding selama sembilan tahun. Selain filsafat, ia diyakini memperkenalkan serangkaian latihan fisik yang menjadi cikal bakal Kung Fu Shaolin. Ini adalah bentuk transfer pengetahuan yang unik: integrasi antara tradisi yoga India dan seni bela diri Tiongkok yang menciptakan hibrida budaya yang kini menjadi simbol identitas nasional Tiongkok. Melalui Bodhidharma, India mengekspor “disiplin tubuh dan pikiran” yang menjadi perekat diplomasi lintas batas paling tahan lama, karena ia menyentuh aspek-aspek kehidupan sehari-hari masyarakat di luar teks-teks akademis.
Xuanzang dan Era Keemasan Diplomasi Tang-Harsha
Xuanzang (602–664 M) adalah tokoh yang paling melambangkan peran biksu sebagai duta besar de facto antara dua peradaban besar. Hidup di masa Dinasti Tang yang ekspansif, ia melakukan perjalanan ke India pada tahun 629 M untuk menyelesaikan keraguan filosofisnya tentang sifat kesadaran manusia. Perjalanannya sangat epik sehingga menginspirasi novel klasik Journey to the West, namun realitas sejarahnya jauh lebih politis dan strategis daripada mitosnya.
Jaringan Surat Diplomatik dan Dukungan Raja
Keberhasilan perjalanan Xuanzang sangat bergantung pada jaringan penguasa regional yang mengakui nilai intelektualnya. Raja Gaochang di Turfan sangat terkesan dengan ceramahnya sehingga ia memberikan 24 surat pengantar kepada kerajaan-kerajaan yang akan dilalui Xuanzang, meminta mereka untuk melindungi dan memfasilitasi perjalanan sang biksu. Surat-surat ini berfungsi mirip dengan visa diplomatik modern, memberikan Xuanzang akses ke sumber daya, perlindungan militer, dan sambutan di istana-istana asing.
Di India, Xuanzang menjalin hubungan pribadi yang mendalam dengan Raja Harsha Vardhana, penguasa India Utara yang paling kuat saat itu. Pertemuan mereka bukan hanya tentang diskusi teologi; Harsha menggunakan kehadiran Xuanzang untuk mengirim pesan kepada Kaisar Taizong dari Tiongkok, menyatakan keinginannya untuk membangun hubungan resmi. Ini memicu serangkaian misi diplomatik formal antara kedua kekaisaran, yang melibatkan pertukaran utusan, hadiah, dan pengetahuan administratif.
| Misi Diplomatik (Abad ke-7) | Tujuan Utama | Dampak |
| Misi Harsha ke Tiongkok (641 M) | Pembukaan hubungan resmi. | Pengakuan India sebagai mitra setara oleh Tang. |
| Misi Taizong ke India (643 M) | Menanggapi kiriman Harsha. | Pertukaran teknik pembuatan gula dan astronomi. |
| Misi Kedua Wang Xuance (647 M) | Pengiriman diplomat resmi Tiongkok. | Intervensi militer Tiongkok-Tibet pasca kematian Harsha. |
| Kembalinya Xuanzang (645 M) | Membawa 657 teks Sanskerta. | Pembangunan Pagoda Angsa Liar dan pusat terjemahan. |
Xuanzang sebagai Intelijen Budaya
Kaisar Taizong, meskipun awalnya melarang Xuanzang pergi, menyambutnya kembali sebagai pahlawan nasional. Kaisar menyadari bahwa catatan Xuanzang, Great Tang Records on the Western Regions, adalah harta karun informasi strategis mengenai topografi, kekuatan militer, adat istiadat, dan rute perdagangan di Asia Tengah dan India. Xuanzang bertindak sebagai analis risiko dan diplomat budaya; ia menjelaskan cara berpikir para raja India kepada kaisar Tiongkok, membantu kaisar memformulasikan kebijakan luar negeri terhadap wilayah Barat. Pengetahuannya tentang politik internal India membantu Dinasti Tang memahami pergeseran kekuasaan di Asia Selatan tanpa perlu melakukan invasi fisik.
Nalanda: Universitas Dunia dan Kedutaan Intelektual
Pusat dari seluruh aktivitas diplomasi spiritual ini adalah Mahavihara Nalanda di Bihar, India. Beroperasi dari abad ke-5 hingga ke-12 M, Nalanda bukan sekadar biara, melainkan universitas asrama pertama di dunia yang menampung ribuan mahasiswa dari seluruh Asia. Nalanda berfungsi sebagai “kedutaan besar intelektual” di mana kurikulum yang diajarkan mencakup sains, logika, kedokteran, dan filsafat.
Para biksu Tiongkok seperti Xuanzang dan Yijing menghabiskan waktu bertahun-tahun di Nalanda untuk belajar di bawah asuhan guru-guru seperti Silabhadra. Biaya operasional Nalanda sering kali didukung oleh hibah dari raja-raja luar negeri, termasuk dari penguasa di Sumatera (Kerajaan Sriwijaya), menunjukkan bahwa institusi ini adalah proyek bersama peradaban Buddhis. Diplomasi ini menciptakan komunitas sarjana transnasional yang memiliki bahasa intelektual yang sama (Sanskerta dan Pali), yang memungkinkan komunikasi lintas budaya yang sangat efektif di masa ketika transportasi sangat terbatas.
Perdagangan Ide: Transfer Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Diplomasi spiritual para biksu menjadi kanal utama bagi transfer pengetahuan praktis yang jauh melampaui masalah metafisika. Dalam banyak hal, penyebaran Buddhisme identik dengan penyebaran “sains India” ke Asia Timur.
Astronomi dan Matematika India di Tiongkok
Selama Dinasti Tang, astronomi Tiongkok mengalami revolusi berkat kontribusi keluarga Gautama (Qutan) dari India yang menetap di Chang’an. Gautama Siddha (Qutan Xida) menjabat sebagai presiden Biro Astronomi Tiongkok dan mengompilasi Kaiyuan Zhanjing, sebuah karya monumental yang memperkenalkan sistem penomoran India (termasuk konsep nol), perhitungan gerhana, dan data astronomi dari teks-teks India kuno.
Sistem kalender India juga diperkenalkan melalui teks-teks Buddhis seperti Modengjia jing dan Xiuyao jing. Pengetahuan tentang nakṣatra (stasiun bulan) dan pembagian orbit bumi menjadi 360 derajat mulai merembes ke dalam praktik navigasi dan penanggalan Tiongkok. Ini menunjukkan bahwa diplomasi para biksu memiliki dimensi teknis yang sangat berharga bagi negara-penerima, memberikan alasan kuat bagi kaisar-kaisar Tiongkok untuk terus mendukung misi-misi spiritual ini.
Kedokteran dan Tradisi Penyembuhan
Para biksu Buddhis sering kali adalah tabib karena ajaran Buddha sangat menekankan pada penghapusan penderitaan fisik sebagai prasyarat bagi kemajuan spiritual. Melalui para penjelajah ini, prinsip-prinsip Ayurveda India berinteraksi dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM).
- Integrasi Herbal: Banyak tanaman obat India diperkenalkan ke dalam farmakope Tiongkok. Biksu Yijing mencatat secara rinci penggunaan herbal India untuk berbagai penyakit, yang kemudian diadopsi oleh praktisi medis Tiongkok.
- Teori Elemen: Konsep Ayurveda tentang tiga dosha (Vata, Pitta, Kapha) memberikan perspektif tambahan bagi teori Yin-Yang dan Lima Unsur di Tiongkok dalam mendiagnosis keseimbangan tubuh.
- Teknik Bedah dan Anatomi: Pengetahuan anatomi India, yang relatif maju berkat tradisi bedah Sushruta, dibawa oleh para biksu dan tercermin dalam beberapa teks medis Tiongkok abad pertengahan yang membahas tentang organ internal.
| Bidang Pengetahuan | Kontribusi India ke Tiongkok | Aktor Transmisi |
| Matematika | Konsep nol, sistem desimal, trigonometri (sinus). | Gautama Siddha, sarjana Nalanda. |
| Astronomi | Perhitungan gerhana, kalender mingguan 7 hari. | Keluarga Gautama, teks Navagraha. |
| Kedokteran | Ayurveda, herbalisme, terapi fisik. | Xuanzang, Yijing, teks Vinaya. |
| Teknologi | Teknik pembuatan gula dari tebu, seni pahat. | Utusan Harsha ke Tiongkok. |
Analisis Soft Power Pertama di Dunia
Konsep soft power menekankan pada daya tarik sebagai instrumen pengaruh. Sejarah hubungan India-Tiongkok melalui para biksu penjelajah adalah manifestasi paling murni dari konsep ini karena beberapa alasan fundamental:
Penaklukan Budaya Tanpa Penaklukan Militer
Cendekiawan dan diplomat Tiongkok terkenal, Hu Shih, pernah menyatakan bahwa India telah menaklukkan dan mendominasi Tiongkok secara budaya selama 20 abad tanpa pernah mengirim satu pun tentara melewati perbatasan. Pernyataan ini merangkum esensi dari diplomasi spiritual: keberhasilan sebuah ideologi dalam mengubah orientasi sebuah bangsa lain secara sukarela. Buddhisme menjadi bahasa universal di Tiongkok bukan karena paksaan, tetapi karena ia menjawab kebutuhan eksistensial dan intelektual yang tidak sepenuhnya dipenuhi oleh sistem lokal saat itu.
Diplomasi Publik dan Adaptasi Lokal
Para biksu mempraktikkan apa yang kini kita sebut sebagai “diplomasi publik”. Mereka tidak hanya berinteraksi dengan elit di istana, tetapi juga tinggal di biara-biara di pedesaan, memberikan layanan kesehatan, dan terlibat dalam kehidupan masyarakat luas. Mereka secara aktif mengadaptasi ajaran India ke dalam idiom budaya Tiongkok, sebuah proses lokalisasi yang membuat ide-ide asing tersebut terasa akrab dan dapat diterima. Sebagai contoh, konsep kebaktian kepada orang tua (filial piety) dalam Konfusianisme diintegrasikan ke dalam ajaran Buddhis agar tidak terlihat bertentangan dengan struktur sosial Tiongkok.
Jembatan Budaya yang Tahan Lama
Berbeda dengan aliansi politik yang sering kali hancur setelah kematian seorang raja atau pergantian dinasti, diplomasi spiritual membangun infrastruktur budaya yang permanen. Kuil-kuil, pagoda, dan teks-teks terjemahan menjadi monumen fisik dari hubungan ini yang melampaui waktu. Bahkan ketika Buddhisme mulai menurun di India setelah abad ke-13, ia tetap hidup di Tiongkok sebagai bagian integral dari identitas bangsa tersebut, terus menjadi jembatan memori yang menghubungkan kedua wilayah hingga hari ini.
Manuskrip Dunhuang: Arsip Diplomasi Jalur Sutra
Penemuan Gua Perpustakaan di Dunhuang pada tahun 1900 memberikan bukti material yang sangat berharga mengenai intensitas pertukaran ini. Koleksi ribuan manuskrip dari abad ke-5 hingga ke-11 M mencakup teks-teks dalam berbagai bahasa yang menunjukkan betapa kosmopolitnya jaringan diplomasi spiritual ini.
Dunhuang bukan hanya tempat penyimpanan teks agama, tetapi juga pusat administrasi di mana surat-surat diplomatik, kontrak dagang, dan catatan perjalanan para biksu disimpan. Manuskrip-manuskrip ini menunjukkan bahwa biara-biara di sepanjang Jalur Sutra berfungsi sebagai “stasiun pemancar” ide, tempat para biksu dari India, Tiongkok, Tibet, dan Asia Tengah bertemu dan berkolaborasi dalam proyek penerjemahan raksasa. Keberadaan teks-teks sekuler seperti resep medis dan masalah matematika di antara gulungan sutra membuktikan bahwa diplomasi spiritual adalah payung besar bagi pertukaran peradaban yang menyeluruh.
Geopolitik Modern dan Kebangkitan Diplomasi Buddhis
Warisan dari para biksu penjelajah ini kini dipanggil kembali oleh pembuat kebijakan modern di New Delhi dan Beijing sebagai instrumen dalam kompetisi geopolitik abad ke-21. Kedua negara menyadari bahwa Buddhisme tetap memiliki daya tarik yang kuat di Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Timur, dan menggunakannya untuk memperkuat pengaruh mereka.
Strategi India: Menjadi “Vishwa Guru” Spiritual
India, sebagai tempat lahir Buddhisme, mencoba memposisikan dirinya kembali sebagai pusat spiritual Asia melalui inisiatif “Act East”. Perdana Menteri Narendra Modi telah menjadikan Buddhisme sebagai inti dari diplomasi budayanya, dengan mempromosikan sirkuit ziarah Buddhis dan mendanai pemugaran situs-situs bersejarah seperti Universitas Nalanda yang baru. India menggunakan statusnya sebagai “rumah spiritual” bagi komunitas Tibet dan tuan rumah bagi Dalai Lama ke-14 untuk mempertahankan legitimasi moralnya di mata dunia Buddhis.
Strategi Tiongkok: Buddhisme dalam Belt and Road Initiative
Di sisi lain, Tiongkok, meskipun dipimpin oleh partai ateis, telah merangkul Buddhisme sebagai “agama kuno Tiongkok” untuk menenangkan ketegangan domestik di Tibet sekaligus sebagai jembatan diplomatik dengan negara-negara tetangga. Tiongkok secara aktif mensponsori konferensi Buddhis internasional dan melakukan “diplomasi relik” dengan meminjamkan relik gigi Buddha ke negara-negara seperti Vietnam, Myanmar, dan Sri Lanka untuk membangun “koneksi psikologis”. Beijing berusaha untuk menggeser pusat gravitasi dunia Buddhis ke Tiongkok dengan mengklaim hak tunggal untuk menyetujui reinkarnasi pemimpin spiritual masa depan.
| Negara | Fokus Diplomasi Buddhis Modern | Instrumen Utama |
| India | Menekankan sebagai tempat kelahiran (Origin). | Sirkuit ziarah, warisan Nalanda, International Buddhist Confederation (IBC). |
| Tiongkok | Menekankan sebagai pusat pelestarian dan penyebaran. | Pinjaman relik, pendanaan kuil di luar negeri (Lumbini), diplomasi BRI. |
| Isu Utama | Perebutan kepemimpinan spiritual Asia. | Status Dalai Lama ke-14 dan reinkarnasinya. |
Tantangan dan Kontradiksi dalam Diplomasi Spiritual
Meskipun diplomasi spiritual sering kali digambarkan sebagai jembatan perdamaian, sejarah juga menunjukkan adanya kompleksitas dan ketegangan:
- Instrumentalisasi Agama: Ada risiko di mana tradisi spiritual yang murni dikoptasi untuk kepentingan politik sempit atau persaingan hegemonik. Penggunaan Buddhisme sebagai alat “manajemen citra” oleh negara-negara non-Buddhis sering kali dianggap tidak tulus oleh komunitas praktisi.
- Konflik Identitas: Di wilayah perbatasan seperti Ladakh, Tawang, dan Bhutan, budaya Buddhis kini berada di garis depan permainan kekuasaan nasional. Klaim Tiongkok atas wilayah-wilayah tertentu di Himalaya sering kali didasarkan pada logika sejarah kehadiran Buddhis Tibet, yang ditentang keras oleh India.
- Hambatan Sejarah Modern: Memori tentang perang India-Tiongkok tahun 1962 dan sengketa perbatasan yang belum terselesaikan di wilayah Galwan sering kali menutupi narasi persaudaraan “Hindi-Chini Bhai-Bhai” yang diupayakan melalui jalur spiritual.
Kesimpulan: Mereklamasi Jembatan yang Hilang
Sejarah para biksu penjelajah memberikan pelajaran berharga bagi diplomasi kontemporer: bahwa hubungan antar-bangsa yang paling tahan lama adalah yang dibangun di atas fondasi pertukaran ide dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam. Xuanzang, Bodhidharma, dan Faxian menunjukkan bahwa seorang diplomat tidak harus memiliki mandat militer untuk mengubah dunia; mereka hanya membutuhkan integritas spiritual dan keberanian untuk menjembatani perbedaan.
Himalaya, yang kini sering dilihat sebagai garis pertempuran, dulunya adalah laboratorium bagi “globalisasi awal” yang didorong oleh pencarian pencerahan. Dengan mereklamasi semangat diplomasi spiritual ini—yang mengutamakan kolaborasi ilmu pengetahuan, penghormatan terhadap keragaman filosofis, dan non-kekerasan—India dan Tiongkok memiliki potensi untuk mentransformasi hubungan mereka dari persaingan strategis menjadi kemitraan peradaban kembali. Warisan para biksu penjelajah tetap menjadi kompas yang relevan, menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian abadi tidak terletak pada penimbunan senjata, melainkan pada penguatan “perdagangan ide” yang pernah menjadikan Asia sebagai pusat gravitasi intelektual dunia. Konsep soft power yang mereka rintis adalah pengingat bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kemampuannya untuk menginspirasi orang lain melalui kebijaksanaan dan budaya, bukan melalui ketakutan.
