Eksistensi sistem tribut Tiongkok selama lebih dari dua milenium tidak dapat dipahami sekadar sebagai manifestasi dari kesombongan budaya atau keinginan akan pengabdian seremonial belaka. Secara fundamental, sistem ini merupakan sebuah infrastruktur hubungan internasional yang sangat canggih, yang mengintegrasikan legitimasi politik, stabilitas keamanan, dan, yang paling utama, mekanisme perdagangan global yang sangat menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Dalam kosmologi Tiongkok kuno, konsep Zhongguo atau “Kerajaan Tengah” menempatkan Tiongkok bukan hanya sebagai pusat geografis, tetapi juga sebagai puncak peradaban moral dan material. Namun, bagi entitas eksternal seperti Majapahit di Jawa, Kerajaan Ryukyu di Okinawa, atau Champa di pesisir Vietnam, partisipasi dalam sistem ini adalah sebuah keputusan strategis yang dingin dan kalkulatif—sebuah bentuk investasi “pay-to-play” di mana pengakuan kedaulatan Tiongkok melalui ritual Kowtow merupakan biaya lisensi untuk mengakses pasar ekonomi terbesar di dunia pada abad pertengahan.

Landasan Filosofis dan Arsitektur Geopolitik Zhongguo

Sistem tribut beroperasi di bawah payung ideologi Konfusianisme yang menekankan pada hierarki alamiah dan tatanan moral. Kaisar Tiongkok dipandang sebagai “Putra Langit” (Tianzi) yang memegang “Mandat Langit” (Tianming) untuk memerintah tidak hanya rakyat Tiongkok, tetapi seluruh umat manusia di bawah kolong langit (Tianxia). Dalam pandangan dunia ini, hubungan antara Tiongkok dan negara-negara tetangga dipersonifikasikan seperti hubungan antara ayah dan anak, atau kakak dan adik, di mana pihak yang lebih superior memiliki kewajiban untuk membimbing dan memberikan perlindungan, sementara pihak yang inferior memberikan penghormatan dan pengabdian.

Pembedaan antara bangsa Tiongkok (Hua) dan bangsa asing (Yi) tidak didasarkan pada esensi rasial yang kaku, melainkan pada tingkat adopsi budaya Sinitik. Bangsa asing dianggap sebagai “barbar” yang memerlukan transformasi budaya (lai hua) untuk mencapai tingkat peradaban yang lebih tinggi. Sistem tribut menyediakan kerangka kerja prosedural untuk transformasi ini. Dengan mengirimkan utusan, memberikan upeti berupa produk lokal, dan melakukan ritual Kowtow—sujud tiga kali dan menyentuhkan dahi ke lantai sebanyak sembilan kali—penguasa asing secara simbolis mengakui superioritas kaisar dan secara resmi diterima ke dalam tatanan peradaban Tiongkok.

Meskipun terlihat sebagai penyerahan kedaulatan, dalam praktiknya negara-negara tribut tetap memiliki otonomi internal yang hampir penuh. Tiongkok umumnya menjalankan kebijakan non-intervensi terhadap urusan domestik para vasalnya, selama mereka tetap patuh pada aturan main diplomatik yang ditetapkan oleh Beijing atau Nanjing. Bagi kaisar, sistem ini berfungsi sebagai alat stabilitas perbatasan dan validasi domestik atas mandat ilahinya; kedatangan utusan dari negeri jauh yang bersujud di hadapannya adalah bukti konkret bahwa kebajikannya telah menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Elemen Kunci Sistem Tribut Deskripsi dan Signifikansi Geopolitik
Zhongguo (Kerajaan Tengah) Posisi Tiongkok sebagai pusat peradaban dan ekonomi universal.
Kowtow (Ritual Sujud) Simbol pengakuan hierarki politik dan kepatuhan terhadap tatanan Tiongkok.
Cefeng (Investitur) Proses pengesahan penguasa asing sebagai raja sah oleh Kaisar Tiongkok.
Gong (Upeti) Pemberian produk asli daerah sebagai tanda penghormatan dan “biaya” akses dagang.
Tianxia (Semua di Bawah Langit) Konsep ruang politik universal yang dipimpin oleh Putra Langit.

Sistem ini mencapai kematangannya pada masa Dinasti Ming (1368–1644). Setelah mengusir bangsa Mongol dari Tiongkok, Kaisar Hongwu berupaya membangun kembali otoritas Tiongkok di mata dunia melalui restrukturisasi sistem tribut sebagai satu-satunya saluran legal untuk interaksi luar negeri. Dengan memberlakukan larangan perdagangan maritim swasta (Haijin), kaisar secara efektif menciptakan monopoli negara atas perdagangan luar negeri, memaksa semua negara yang ingin berdagang dengan Tiongkok untuk masuk melalui jalur tribut resmi.

Logika Ekonomi: Perdagangan sebagai Insentif Partisipasi

Partisipasi dalam sistem tribut bukanlah beban finansial bagi negara-negara pengirim upeti; sebaliknya, ini adalah peluang arbitrase komersial yang luar biasa. Ada tiga lapisan keuntungan ekonomi yang didapatkan oleh negara tribut. Pertama adalah pertukaran hadiah langsung. Kaisar Tiongkok, dalam upayanya untuk menunjukkan kekayaan dan kemurahan hati Kerajaan Tengah, selalu memberikan hadiah balasan yang nilainya jauh melampaui nilai upeti yang dibawa oleh para utusan. Jika seorang raja mengirimkan rempah-rempah atau kayu harum yang berharga, ia mungkin akan menerima sutra berkualitas tinggi, emas, perak, dan koin tembaga dalam jumlah yang lebih besar.

Kedua adalah hak untuk melakukan perdagangan tambahan. Di samping misi diplomatik resmi, para utusan diizinkan membawa rombongan pedagang yang membawa barang dagangan dalam jumlah besar untuk dijual di pasar-pasar yang telah ditentukan di Tiongkok. Perdagangan ini dibebaskan dari pajak atau dikenakan tarif yang sangat rendah, memberikan keuntungan margin yang besar bagi para pedagang yang memiliki lisensi tribut tersebut. Ketiga adalah akses eksklusif ke komoditas Tiongkok yang sangat diminati di pasar global, seperti porselen, sutra, dan teh, yang hanya bisa didapatkan melalui jalur resmi selama periode pelarangan perdagangan swasta.

Perbandingan Ekonomi Nilai Bagi Tiongkok Nilai Bagi Negara Tribut
Tujuan Utama Legitimasi politik dan keamanan perbatasan. Profitabilitas komersial dan legitimasi kekuasaan.
Komoditas Keluar Barang manufaktur mewah (sutra, porselen), koin. Bahan mentah, rempah, hewan eksotis.
Neraca Perdagangan Seringkali defisit (sebagai “biaya perdamaian”). Surplus besar melalui hadiah dan perdagangan bebas pajak.
Status Hukum Pemberian dari atasan ke bawahan. Lisensi bisnis internasional yang sangat berharga.

Sistem ini berfungsi sebagai bentuk awal dari integrasi ekonomi regional. Penggunaan koin tembaga Tiongkok dan perak sebagai alat tukar dalam transaksi tribut membantu menstabilkan moneter di banyak negara Asia Tenggara. Di Jawa, koin tembaga Tiongkok yang dikenal sebagai picis menjadi mata uang yang begitu dominan sehingga digunakan secara luas dalam transaksi pasar sehari-hari, mendorong monetisasi ekonomi pedesaan di bawah kekuasaan Majapahit.

Majapahit dan Dinasti Ming: Diplomasi Koin dan Kedaulatan

Hubungan antara Majapahit dan Dinasti Ming merupakan studi kasus yang menarik tentang bagaimana sebuah kekuatan regional di Nusantara memanfaatkan sistem tribut untuk menyeimbangkan tekanan politik dan mengamankan dominasi ekonomi di kawasan tersebut. Sejak awal berdirinya Dinasti Ming pada 1368, kaisar pertama, Hongwu, segera mengirimkan utusan ke Jawa untuk mengumumkan naiknya dinasti baru dan mengundang Majapahit ke dalam tatanan tribut. Majapahit, yang saat itu berada di puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, menyambut ajakan ini dengan mengirimkan misi tribut pertama mereka.

Bagi Majapahit, pengakuan dari Ming bukan sekadar formalitas. Itu adalah alat branding politik untuk menunjukkan kepada kerajaan-kerajaan bawahan di Nusantara bahwa otoritas Majapahit didukung oleh kekuatan militer dan ekonomi terbesar di dunia. Namun, hubungan ini tidak selalu harmonis. Ming memiliki kebijakan untuk mengakui beberapa pusat kekuasaan di Jawa secara bersamaan, sebuah strategi “pecah belah” halus untuk memastikan tidak ada satu hegemoni tunggal yang terlalu kuat di Asia Tenggara yang dapat mengancam stabilitas maritim. Misalnya, selama Perang Regreg (perang saudara antara istana barat dan timur Majapahit), Ming mengirimkan pengakuan kepada kedua belah pihak, yang memicu ketegangan diplomatik yang signifikan.

Dinamika Misi Tribut Majapahit Data dan Signifikansi
Frekuensi (1368–1402) 11 misi tercatat pada masa Kaisar Hongwu.
Puncak Hubungan (1403–1435) 34 misi selama era Yongle dan ekspedisi Zheng He.
Komoditas Utama Rempah-rempah (lada), kayu harum, burung eksotis.
Imbal Hasil Ekonomi Sutra, porselen, dan koin tembaga (picis) dalam jumlah masif.
Legitimasi Politik Penggunaan segel perak dan gelar “Raja” dari Kaisar Ming.

Salah satu warisan paling nyata dari hubungan tribut ini adalah adopsi koin tembaga Tiongkok sebagai mata uang standar di Jawa. Dalam laporan Ma Huan, penerjemah yang mendampingi Laksamana Zheng He, dicatat bahwa penduduk Jawa menggunakan koin tembaga dari berbagai periode dinasti Tiongkok dalam semua transaksi komersial mereka. Koin picis ini menjadi pelumas utama bagi mesin ekonomi Majapahit, memungkinkan kerajaan tersebut untuk membiayai militer dan birokrasinya dengan lebih efisien melalui sistem perpajakan berbasis uang. Perdagangan tribut memberikan akses stabil ke pasokan koin ini, yang pada gilirannya memperkuat kontrol pusat Majapahit atas pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Kerajaan Ryukyu: Sang Perantara yang Jenius

Jika Majapahit menggunakan sistem tribut untuk legitimasi regional, Kerajaan Ryukyu menggunakannya sebagai inti dari strategi kelangsungan hidup nasional mereka. Terletak di gugusan pulau kecil antara Jepang dan Tiongkok, Ryukyu memiliki sumber daya alam yang sangat terbatas. Namun, mereka memiliki lokasi geografis yang strategis. Di bawah naungan sistem tribut Ming, Ryukyu bertransformasi menjadi “Jembatan Sepuluh Ribu Negara” (Bankoku Shinryo), sebuah pusat transit perdagangan yang menghubungkan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Ryukyu adalah negara tribut yang paling aktif dan patuh. Mereka mengirimkan misi hampir setiap tahun, jauh melebihi aturan standar “sekali dalam tiga tahun” yang biasanya ditetapkan untuk negara lain. Kaisar Tiongkok memberikan perlakuan khusus kepada Ryukyu, termasuk pemberian kapal-kapal besar secara cuma-cuma dan izin bagi pelajar Ryukyu untuk belajar di akademi kekaisaran di Beijing. Kebijakan ini merupakan bentuk subsidi ekonomi langsung yang memungkinkan Ryukyu membangun armada maritim yang kuat tanpa harus memiliki basis industri sendiri.

Strategi Ryukyu adalah melakukan arbitrase perdagangan internasional. Mereka membeli lada dan kayu sapan dari Siam, Malaka, dan Jawa (yang mereka peroleh melalui jalur perdagangan maritim mereka sendiri), kemudian membawanya ke Tiongkok sebagai upeti resmi. Di Tiongkok, mereka menukarnya dengan sutra, porselen, dan kertas yang sangat diminati di Jepang dan Korea. Melalui mekanisme ini, Ryukyu berhasil mengakumulasi kekayaan yang luar biasa dan mengembangkan budaya yang sangat halus yang memadukan unsur-unsur Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara.

Statistik Misi Tribut Ryukyu (Ming) Jumlah Misi Signifikansi Strategis
Periode 1368–1402 54 Misi. Pembentukan fondasi sebagai perantara utama.
Periode 1403–1435 105 Misi. Puncak keemasan selama ekspedisi laut besar Ming.
Periode 1436–1464 63 Misi. Mempertahankan dominasi saat Ming menutup diri.
Total (1368–1566) 295 Misi. Frekuensi tertinggi di antara semua negara tribut.

Keberhasilan Ryukyu menunjukkan bahwa sistem tribut adalah sebuah ekosistem ekonomi yang memungkinkan negara kecil untuk bersaing secara global dengan memanfaatkan “payung” politik kekuatan besar. Meskipun secara formal mereka bersujud kepada kaisar, secara praktis mereka adalah penguasa pasar perantara di Asia Timur, membuktikan bahwa “sujud” politik adalah investasi bisnis paling menguntungkan yang pernah ada dalam sejarah maritim.

Champa: Batas Keamanan dan Kegagalan Polis Asuransi

Berbeda dengan Ryukyu yang fokus pada perdagangan, bagi Kerajaan Champa di pesisir Vietnam, sistem tribut dipandang sebagai sebuah polis asuransi keamanan terhadap agresi tetangga mereka yang ekspansionis, Dai Viet. Champa secara konsisten mempertahankan hubungan tribut yang erat dengan Tiongkok, seringkali mengirimkan upeti lebih sering daripada yang diwajibkan hanya untuk menjaga kehadiran diplomatik Tiongkok di kawasan tersebut.

Raja-raja Champa secara rutin mengirimkan laporan ke pengadilan Ming tentang serangan-serangan Vietnam dan memohon intervensi militer dari kaisar. Tiongkok, pada beberapa kesempatan, memang bertindak sebagai penengah. Kaisar Ming sering mengeluarkan dekrit yang menegur raja Vietnam dan memerintahkan mereka untuk mengembalikan wilayah Champa yang dicaplok. Dalam pandangan Tiongkok, stabilitas perbatasan dan kepatuhan kedua belah pihak pada aturan sistem tribut adalah prioritas utama untuk mencegah pecahnya konflik besar yang dapat mengganggu aliran perdagangan.

Namun, tragedi Champa menunjukkan limitasi dari sistem tribut sebagai sistem pertahanan kolektif. Tiongkok hanya akan melakukan intervensi militer jika kepentingannya sendiri terancam secara langsung atau jika biaya intervensi dianggap sebanding dengan keuntungan strategisnya. Ketika pada tahun 1471, tentara Dai Viet yang dipimpin oleh Raja Le Thanh Tong meluncurkan invasi total ke ibu kota Champa, Vijaya, sistem tribut gagal melindungi Champa. Meskipun Champa telah memohon bantuan berkali-kali ke Beijing, pengadilan Ming yang saat itu sedang menghadapi masalah domestik dan ancaman dari utara, hanya memberikan respons berupa kecaman verbal tanpa mengirimkan satu pun kapal perang.

Kronologi Kehancuran Champa Peran Sistem Tribut Tiongkok
1441–1470 Perang saudara dan serangan Vietnam yang terus-menerus; Champa melapor ke Ming.
1470 (Nov) Vietnam memobilisasi 250.000 pasukan dengan senjata api model Ming.
1471 (Feb) Jatuhnya ibu kota Vijaya; pembantaian keluarga kerajaan Champa.
Pasca-1471 Utusan Champa memohon bantuan militer di Beijing; Ming menolak karena lelah militer.
Hasil Akhir Champa dianeksasi oleh Vietnam; sisa-sisa kerajaan menjadi pengungsi di seluruh Asia.

Kasus Champa memberikan pelajaran keras bagi para pemain dalam sistem tribut: bahwa pengakuan kedaulatan dari Tiongkok adalah jaminan hukum, tetapi bukan jaminan keamanan fisik yang otomatis. Ketika “asuransi” politik ini gagal dieksekusi, biaya yang harus dibayar adalah kepunahan sebuah peradaban. Hal ini menggarisbawahi bahwa sistem tribut lebih merupakan kerangka kerja manajemen konflik daripada aliansi militer defensif yang kaku.

Simbolisme Kekuasaan: Segel Imperial dan Kalender sebagai Properti Intelektual

Kekuatan sistem tribut tidak hanya terletak pada kapal dagang atau tentara, tetapi pada kekuatan simbolis yang diberikan oleh kaisar kepada para vasalnya. Ada tiga instrumen simbolis utama yang menjadi dambaan setiap penguasa di Asia Tenggara: Investitur resmi (Cefeng), Segel Jabatan (Yin), dan Kalender Kekaisaran (Da Tong Li).

Proses investitur melibatkan pengiriman utusan khusus dari kaisar ke negara tribut untuk menobatkan raja baru. Utusan kaisar akan membacakan proklamasi yang menyatakan bahwa raja tersebut telah menerima “Mandat Langit” melalui restu kaisar Tiongkok. Di kerajaan seperti Majapahit atau Champa, upacara ini dilakukan dengan kemegahan luar biasa di depan rakyat dan para bangsawan saingan untuk menunjukkan bahwa posisi raja tersebut “tak tersentuh” karena didukung oleh kekuatan langit yang diwakili oleh kaisar.

Segel jabatan adalah properti fisik yang paling berharga. Terbuat dari perak atau emas (tergantung pada peringkat kerajaan), segel ini digunakan untuk mensahkan semua dokumen resmi raja. Dalam birokrasi Tiongkok, jika sebuah surat dari luar negeri tidak dibubuhi segel resmi yang telah diberikan oleh kaisar, surat tersebut akan dianggap palsu dan utusannya tidak akan diizinkan masuk ke pelabuhan. Bagi penguasa lokal, segel ini adalah “kunci” menuju pasar Tiongkok sekaligus simbol status yang membedakan mereka dari para pemberontak atau raja-raja kecil lainnya.

Kalender kekaisaran, di sisi lain, adalah alat standarisasi waktu. Dengan menerima kalender kaisar, seorang raja secara simbolis setuju untuk menyelaraskan ritme kehidupan negaranya dengan Tiongkok. Ini adalah bentuk awal dari harmonisasi administratif internasional. Menggunakan kalender kaisar memungkinkan koordinasi jadwal pengiriman upeti dan pertemuan diplomatik di seluruh Asia, menciptakan keteraturan dalam sistem yang mencakup ribuan kilometer wilayah laut dan darat.

Arteri Finansial: Perak, Tembaga, dan Integrasi Ekonomi Asia

Secara makro, sistem tribut berfungsi sebagai pompa jantung yang menggerakkan sirkulasi logam mulia di seluruh Asia. Tiongkok, sebagai ekonomi manufaktur terbesar, merupakan magnet bagi perak dunia. Melalui jalur tribut, Tiongkok mengimpor bahan mentah dalam jumlah masif dan mengekspor barang jadi berkualitas tinggi. Namun, yang sering terabaikan adalah peran koin tembaga Tiongkok sebagai mata uang internasional.

Koin tembaga Tiongkok atau picis bukan hanya alat tukar, tetapi juga instrumen stabilitas ekonomi bagi negara-negara tribut. Di banyak kerajaan Asia Tenggara, otoritas pusat seringkali kesulitan memproduksi mata uang yang stabil dan terstandarisasi dalam jumlah besar. Dengan mengimpor koin Tiongkok melalui jalur tribut, kerajaan seperti Majapahit dapat langsung mengadopsi sistem moneter yang sudah mapan. Koin-koin ini memudahkan perdagangan di pasar lokal, memungkinkan petani untuk menjual surplus padi mereka untuk mendapatkan uang tunai yang dapat digunakan untuk membayar pajak atau membeli barang impor.

Peran Logam Mulia dalam Sistem Dampak pada Tiongkok Dampak pada Asia Tenggara
Perak Menjadi standar dasar sistem perpajakan Ming/Qing. Alat arbitrase untuk mendapatkan barang manufaktur Tiongkok.
Tembaga (Picis) Komoditas ekspor yang dikendalikan negara. Mata uang standar untuk monetisasi ekonomi domestik.
Emas Simbol kemewahan dan hadiah diplomatik tingkat tinggi. Digunakan untuk membayar upeti dalam situasi krisis atau prestise.

Integrasi ekonomi ini menciptakan saling ketergantungan yang mendalam. Ketika pasokan koin dari Tiongkok terhenti karena kebijakan penutupan pelabuhan (Haijin) atau krisis internal dinasti, ekonomi di Nusantara seringkali mengalami deflasi dan kelesuan perdagangan. Ini membuktikan bahwa sistem tribut bukanlah sekadar teater politik, melainkan infrastruktur ekonomi riil yang mengikat nasib jutaan orang dari Beijing hingga Trowulan.

Perubahan Paradigma: Menuju Perdagangan Swasta dan Runtuhnya Sistem

Sepanjang sejarahnya, sistem tribut terus mengalami metamorfosis. Meskipun idealnya adalah kontrol negara secara total, dalam praktiknya, garis antara misi diplomatik dan perdagangan swasta seringkali kabur. Pada pertengahan abad ke-15, biaya untuk memelihara sistem tribut—termasuk menjamu ribuan utusan selama berbulan-bulan dan memberikan hadiah balasan yang boros—mulai membebani anggaran kekaisaran Ming.

Akibatnya, secara bertahap muncul toleransi terhadap perdagangan swasta yang lebih luas. Pedagang-pedagang Tiongkok mulai berlayar ke Asia Tenggara secara ilegal, menetap di sana, dan menjadi perantara bagi misi-misi tribut di masa depan. Di pelabuhan-pelabuhan seperti Melaka dan pelabuhan pesisir Jawa, komunitas Tionghoa perantauan ini memainkan peran ganda sebagai subjek kaisar sekaligus agen komersial lokal.

Transisi terbesar terjadi saat Dinasti Qing berkuasa. Kaisar-kaisar Qing, terutama Kangxi dan Qianlong, menyadari bahwa perdagangan swasta memberikan pendapatan pajak yang lebih stabil melalui bea cukai pelabuhan dibandingkan dengan perdagangan tribut yang mahal. Pada tahun 1684, pelarangan maritim dicabut sepenuhnya, dan Tiongkok membuka diri terhadap perdagangan dunia dengan cara yang lebih konvensional. Meskipun ritual tribut tetap dipertahankan untuk tujuan prestise dan hubungan diplomatik formal, secara fungsional, “pay-to-play” politik mulai digantikan oleh sistem perdagangan pasar yang lebih terbuka.

Kehancuran total sistem ini datang dari luar. Pertemuan dengan kekuatan Barat di abad ke-19 membawa paradigma baru tentang hubungan internasional yang berbasis pada kesetaraan hukum antarnegara berdaulat—sebuah konsep yang asing bagi tatanan Tianxia. Kegagalan misi Lord Macartney dari Inggris pada 1793, yang menolak bersujud di hadapan Kaisar Qianlong, menjadi simbol benturan dua peradaban ini. Perang Candu yang menyusul kemudian menghancurkan superioritas militer Tiongkok dan memaksa mereka masuk ke dalam sistem perjanjian internasional Barat, yang secara efektif mengakhiri ribuan tahun dominasi sistem tribut di Asia.

Kesimpulan: Warisan Pragmatisme dalam Orde Dunia Tradisional

Analisis mendalam terhadap sistem tribut Tiongkok mengungkapkan sebuah realitas yang jauh lebih kompleks daripada sekadar dominasi dan ketundukan. Bagi Tiongkok, sistem ini adalah mekanisme biaya rendah untuk menjaga keamanan perbatasan dan memvalidasi legitimasi politik internal melalui teater diplomatik. Bagi negara-negara seperti Majapahit, Ryukyu, dan Champa, “sujud” secara fisik dan politik adalah pengorbanan kecil yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan keuntungan besar dalam bentuk akses pasar, stabilitas moneter, dan pengakuan kekuasaan domestik.

Sistem ini adalah bukti nyata bahwa dalam sejarah Asia, ekonomi dan politik tidak pernah benar-benar terpisahkan. Perdagangan internasional abad pertengahan tidak digerakkan oleh “pasar bebas” yang abstrak, melainkan oleh jaringan kepercayaan dan pengakuan formal yang dikelola oleh negara. Meskipun secara formal berakhir pada abad ke-19, logika dasar dari sistem ini—di mana kemakmuran ekonomi digunakan sebagai insentif untuk stabilitas politik regional—tetap menjadi tema yang relevan dalam dinamika geopolitik Asia hingga hari ini. Pada akhirnya, sistem tribut adalah sebuah mahakarya pragmatisme, di mana ritual dan retorika digunakan untuk menyembunyikan salah satu jaringan bisnis paling luas dan paling menguntungkan dalam sejarah manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

68 − 65 =
Powered by MathCaptcha