Selat Malaka berdiri sebagai salah satu koridor maritim paling strategis dan vital dalam arsitektur ekonomi global abad ke-21. Sebagai jalur pelayaran sepanjang 800 kilometer yang memisahkan Semenanjung Melayu dari Pulau Sumatra, selat ini berfungsi sebagai penghubung utama antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, mengintegrasikan ekonomi produsen energi di Timur Tengah dan Afrika dengan pusat-pusat konsumsi serta manufaktur raksasa di Asia Timur. Signifikansi selat ini tidak hanya terbatas pada volume kargo yang melintas, tetapi lebih mendalam pada peranannya sebagai penentu stabilitas energi nasional bagi negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Dinamika keamanan di wilayah ini secara langsung memengaruhi ketahanan sistem tenaga listrik di kota-kota besar seperti Tokyo dan Beijing, di mana gangguan sekecil apa pun pada arus pasokan energi dapat memicu krisis ekonomi sistemik.

Arsitektur Ekonomi dan Aliran Energi di Selat Malaka

Selat Malaka adalah titik sempit (chokepoint) maritim terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan minyak, melampaui Selat Hormuz dalam hal tonase tahunan yang melintas. Pada tahun 2023, total aliran minyak melalui Selat Malaka mencapai puncaknya pada angka 23,7 juta barel per hari (bpd), sebuah peningkatan yang konsisten dari 22,9 juta bpd pada tahun 2022 dan 21,9 juta bpd pada tahun 2021. Tren pertumbuhan ini mencerminkan pemulihan aktivitas industri pasca-pandemi dan ekspansi kapasitas pemurnian di Asia Timur yang terus meningkat. Jalur ini menangani sekitar sepertiga dari seluruh perdagangan global dan sekitar 40% dari seluruh pengiriman produk minyak dunia.

Perbandingan Aliran Minyak pada Titik Sempit Global (2018–2023)

Lokasi Chokepoint 2018 2019 2020 2021 2022 2023
Selat Malaka 23,0 23,1 22,8 21,9 22,9 23,7
Selat Hormuz 21,4 20,0 18,4 19,0 21,1 20,9
Terusan Suez & Pipa SUMED 6,4 6,2 5,3 5,1 7,3 8,8
Bab el-Mandeb 6,4 6,0 5,2 5,4 7,5 8,6
Tanjung Harapan 7,6 7,5 7,7 7,0 5,9 6,0
Selat Denmark 3,3 3,4 3,1 3,1 4,2 4,9
Selat Turki 3,4 3,5 3,3 3,4 3,2 3,4
Terusan Panama 1,4 1,5 1,7 1,8 2,1 2,1

Data di atas menunjukkan bahwa Selat Malaka tetap menjadi prioritas utama dalam logistik energi global. Kenaikan volume di Terusan Suez dan Bab el-Mandeb pada tahun 2022–2023 sebagian besar didorong oleh restrukturisasi pasar minyak global akibat konflik di Ukraina, namun volume di Malaka tetap mendominasi karena integrasi mendalam antara produsen Timur Tengah dengan pasar Asia.

Selain minyak mentah dan kondensat yang mencapai 16,6 juta bpd pada tahun 2023, Selat Malaka juga merupakan jalur kritis bagi Gas Alam Cair (LNG). Aliran LNG melalui selat ini tercatat sebesar 9,0 miliar kaki kubik per hari (Bcfd) pada tahun 2023, meningkat dari 8,0 Bcfd pada tahun 2022. Gas alam cair ini sangat penting bagi sektor pembangkit listrik di Jepang dan China yang sedang berupaya mengurangi ketergantungan pada batu bara demi target emisi karbon.

Komposisi Arus Energi di Selat Malaka (2021–2023)

Komoditas Energi 2021 2022 2023
Minyak Mentah & Kondensat (juta bpd) 15,1 16,1 16,6
Produk Minyak Bumi (juta bpd) 6,8 6,8 7,0
Gas Alam Cair (Bcfd) 8,6 8,0 9,0

Pertumbuhan arus energi ini menempatkan tekanan luar biasa pada kapasitas navigasi selat. Dengan lebar hanya 2,7 kilometer pada titik tersempitnya di Phillip Channel dekat Singapura, kepadatan lalu lintas kapal mencapai lebih dari 90.000 kapal per tahun. Risiko tabrakan, kandas, dan gangguan keamanan menjadi ancaman konstan yang dapat memicu kenaikan harga energi global secara instan.

Dilema Malaka: Kerentanan Geostrategis Republik Rakyat China

Bagi Beijing, ketergantungan pada Selat Malaka bukan sekadar masalah logistik, melainkan kerentanan eksistensial yang dikenal sebagai “Dilema Malaka”. Istilah ini, yang dipopulerkan oleh mantan Presiden Hu Jintao pada tahun 2003, merujuk pada ketakutan bahwa dalam skenario konflik, kekuatan asing—terutama Amerika Serikat dan sekutunya—dapat melakukan blokade laut di selat tersebut, secara efektif memutus jalur pasokan energi yang menghidupi ekonomi China.

Hingga tahun 2025, sekitar 80% hingga 83% impor minyak mentah China masih harus melewati Selat Malaka. China mengonsumsi sekitar 15 juta barel minyak per hari, dan sekitar 11,45 juta barel di antaranya berasal dari impor. Ketergantungan yang sangat tinggi ini menjadikan keamanan jalur maritim sebagai prioritas tertinggi dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan Beijing.

Statistik Ketergantungan Energi China (Proyeksi 2025)

Kategori Data Statistik
Konsumsi Minyak Harian ~15 juta barel per hari
Ketergantungan Impor Minyak ~80%
Pangsa Impor Minyak via Malaka 80% – 83%
Konsumsi LNG (Pangsa Global) 16%
Impor Gas via Malaka 41% dari total impor gas
Kontribusi Energi via Pipa Darat ~3,7 juta barel per hari

Meskipun China telah berinvestasi secara masif dalam infrastruktur energi darat untuk mengurangi ketergantungan maritim, pipa-pipa dari Rusia dan Asia Tengah saat ini hanya mampu mencakup sebagian kecil dari total kebutuhan nasional. Strategi diversifikasi pasokan melalui pipa darat dirancang untuk mencapai kapasitas 9 juta bpd di masa depan, namun pada tahun 2025, angka tersebut masih jauh di bawah target konsumsi harian yang terus meningkat.

Koridor Energi Alternatif: CMEC dan CPEC

Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) adalah instrumen utama China untuk mengatasi Dilema Malaka melalui pembangunan koridor alternatif. Koridor Ekonomi China-Myanmar (CMEC) menjadi proyek paling krusial karena menyediakan akses langsung ke Samudra Hindia, melewati rute Malaka sepenuhnya. Pipa minyak Myanmar-Yunnan, yang telah beroperasi, memiliki kapasitas untuk mengirimkan 22 juta ton minyak mentah (sekitar 440.000 bpd) dan 13 miliar meter kubik gas alam per tahun. Namun, ketidakstabilan politik akibat perang saudara di Myanmar sejak 2021 telah mengganggu keandalan jalur ini sebagai alternatif yang aman.

Selain CMEC, China juga mengembangkan Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) yang menghubungkan pelabuhan Gwadar ke wilayah Xinjiang. Meskipun proyek ini menawarkan potensi rute darat yang signifikan, tantangan geografis berupa pegunungan tinggi, biaya konstruksi yang membengkak, dan ancaman militansi di Pakistan terus menghambat realisasi penuh koridor ini sebagai jalur energi utama.

Kerentanan Energi Jepang: Kedaulatan di Balik Jalur Maritim

Jika China menghadapi ancaman blokade karena persaingan kekuasaan, Jepang menghadapi kerentanan energi karena keterbatasan sumber daya alam yang ekstrem dan posisi geografisnya sebagai negara kepulauan. Jepang mengimpor sekitar 87% hingga 90% dari total kebutuhan energinya, menjadikannya salah satu importir energi terbesar di dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% minyak mentah dan sebagian besar gas alam cair (LNG) yang dikonsumsi Jepang harus melewati Selat Malaka setelah menempuh perjalanan dari Timur Tengah.

Keamanan Selat Malaka bagi Jepang bukan sekadar masalah harga, melainkan kelangsungan operasional fungsi pertahanan dan industri nasional. Strategi Keamanan Nasional (NSS) Jepang tahun 2025–2026 mulai memberikan penekanan lebih besar pada integrasi keamanan energi dengan kesiapan militer. Gangguan pada aliran minyak dan gas di Malaka akan secara langsung membatasi kemampuan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) untuk mempertahankan operasi logistik, komando, dan kontrol.

Ketahanan Sistem Tenaga Listrik dan Jaringan Terfragmentasi

Salah satu risiko terbesar bagi Jepang adalah stabilitas jaringan listriknya yang unik namun rentan. Jepang terbagi menjadi dua zona frekuensi yang berbeda secara historis: 50 Hz di bagian timur (termasuk Tokyo) dan 60 Hz di bagian barat. Fragmentasi ini membatasi kemampuan untuk membagi beban daya antar wilayah selama krisis besar. Jika pasokan LNG yang melewati Malaka terhenti, pembangkit listrik termal yang menggunakan gas—yang menyumbang sebagian besar bauran energi Jepang pasca-Fukushima—akan segera mengalami kegagalan pasokan.

Infrastruktur Energi Jepang (2025) Detail Teknis
Frekuensi Jaringan Listrik Dual (50 Hz Timur / 60 Hz Barat)
Kapasitas Interkoneksi Timur-Barat Direncanakan 3 GW pada 2027
Ketergantungan LNG untuk Listrik Bahan bakar utama pembangkitan
Cadangan Strategis Minyak ~217 hari cakupan impor
Durasi Cadangan LNG Domestik ~36 hari konsumsi

Upaya Jepang untuk meningkatkan ketahanan energi melibatkan percepatan penggunaan energi terbarukan dan pengaktifan kembali reaktor nuklir yang telah memenuhi standar keamanan baru. Namun, transisi ini berjalan lambat karena tantangan geografis (medan pegunungan untuk panel surya dan rak pantai yang curam untuk turbin angin lepas pantai) serta resistensi publik terhadap energi nuklir.

Bentang Ancaman: Dari Perompakan Tradisional hingga Terorisme Digital

Keamanan di Selat Malaka dipengaruhi oleh kombinasi ancaman tradisional dan non-tradisional yang terus berevolusi. Sebagai jalur pelayaran tersibuk di dunia, kepadatan kapal menciptakan risiko navigasi yang luar biasa. Survei hidrografi terbaru menunjukkan bahwa sekitar 27% jalur pelayaran utama memiliki tantangan kedalaman di bawah 23 meter, yang sangat berisiko bagi kapal tangki berukuran besar yang melintas dengan muatan penuh.

Perompakan dan Perampokan Bersenjata

Meskipun terdapat penurunan insiden sebesar 50% pada paruh pertama tahun 2024 berkat patroli yang lebih ketat, Selat Malaka tetap menjadi wilayah aktif bagi aktivitas perompakan. Pada tahun 2023, tercatat 18 insiden perompakan dan perampokan bersenjata di selat tersebut. Karakteristik perompakan di wilayah ini telah bergeser dari sekadar pencurian suku cadang kapal menjadi serangan yang lebih terorganisir.

Para pelaku kejahatan maritim saat ini menggunakan metode hibrida yang melibatkan dukungan cyber. Dalam beberapa kasus, perompak mampu menonaktifkan sistem komunikasi kapal dan menggunakan alat GPS spoofing untuk menyembunyikan lokasi kapal dari otoritas selama puluhan jam. Penculikan awak kapal untuk tebusan juga tetap menjadi ancaman operasional yang serius, dengan permintaan tebusan yang seringkali melebihi USD 1,5 juta per insiden.

Terorisme Maritim dan Sabotase Infrastruktur

Ancaman terorisme maritim telah menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan lonjakan 35% dalam peristiwa terorisme laut antara tahun 2018 dan 2022. Kelompok-kelompok non-negara seperti Abu Sayyaf (ASG) dan Jemaah Islamiyah (JI) telah berevolusi dari taktik kekerasan fisik ke serangan digital canggih terhadap fasilitas maritim. Skenario di mana sebuah kapal tangki besar disabotase untuk meledak di Phillip Channel bukan lagi sekadar teori, melainkan risiko nyata yang dipantau ketat oleh badan intelijen regional.

Selain itu, Selat Malaka merupakan koridor kritis bagi kabel data bawah laut yang menghubungkan infrastruktur digital dunia. Kabel seperti sistem SABRE dan MIST membawa 99% data trans-oseanik di kawasan ini. Sabotase terhadap kabel-kabel ini, yang seringkali dilakukan secara terselubung menggunakan kendaraan bawah air tak berawak (AUV), dapat melumpuhkan pasar keuangan dan sistem komunikasi di seluruh Asia Timur.

Arsitektur Keamanan Regional: Kolaborasi di Tengah Ketegangan

Untuk menghadapi ancaman yang kompleks di Selat Malaka, negara-negara pantai—Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan dukungan Thailand—telah membentuk kerangka kerja sama keamanan yang kokoh. Mekanisme utama yang telah teruji selama dua dekade adalah Malacca Straits Patrol (MSP).

Komponen Malacca Straits Patrol (MSP)

MSP terdiri dari tiga elemen operasional yang saling melengkapi:

  1. Malacca Straits Sea Patrol (MSSP): Navigasi patroli laut yang terkoordinasi oleh kapal-kapal angkatan laut negara peserta. Pada tahun 2025, patroli ini melibatkan kapal patroli cepat seperti KRI Torani-860 milik Indonesia dan KD Laksamana Muhammad Amin-136 milik Malaysia.
  2. Eyes-in-the-Sky (EiS): Patroli udara maritim gabungan yang menggunakan pesawat patroli maritim (MPA) dari keempat negara peserta. Setiap pesawat membawa Tim Patroli Misi Gabungan yang terdiri dari perwira dari semua negara peserta untuk memastikan koordinasi lintas batas yang efektif.
  3. MSP Intelligence Exchange Group (IEG): Platform pertukaran informasi yang didukung oleh Information Fusion Centre (IFC) di Singapura. IEG menggunakan sistem informasi seperti Open and Analysed Shipping Information System (OASIS) untuk memantau aktivitas mencurigakan secara real-time.

Meskipun kerja sama ini berhasil menurunkan status risiko perang di selat tersebut sejak 2006, tantangan kedaulatan tetap menjadi isu yang sensitif. Indonesia dan Malaysia seringkali bersikap waspada terhadap keterlibatan langsung kekuatan militer asing di selat tersebut, memegang teguh prinsip bahwa tanggung jawab utama keamanan berada di tangan negara pantai. Namun, Singapura cenderung lebih mendukung keterlibatan internasional untuk menjamin kebebasan navigasi sebagai barang publik global.

Peran Kekuatan Besar dan Inisiatif Internasional

Amerika Serikat, China, India, dan Jepang terus berupaya memperluas pengaruh mereka melalui bantuan teknis, latihan bersama, dan diplomasi maritim. Inisiatif MAHASAGAR milik Angkatan Laut India, misalnya, telah berkembang menjadi mekanisme penting untuk melawan perluasan pengaruh China (String of Pearls) di pintu masuk barat Selat Malaka. Sementara itu, latihan multilateral SEACAT 2025 di Singapura menunjukkan komitmen 12 negara, termasuk Amerika Serikat, untuk memperkuat interoperabilitas dalam menghadapi krisis maritim hibrida.

Strategi Mitigasi dan Diversifikasi Jalur Energi

Menghadapi risiko “Dilema Malaka,” negara-negara konsumen energi telah mengeksplorasi berbagai alternatif logistik, mulai dari pembangunan infrastruktur baru hingga pemanfaatan rute maritim yang lebih jauh namun lebih aman.

Proyek Kra Land Bridge: Shortcut atau Gamble?

Salah satu proyek paling ambisius yang dihidupkan kembali adalah Kra Land Bridge di Thailand Selatan. Proyek senilai USD 30 miliar ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan laut dalam di Ranong (Andaman) dan Chumphon (Teluk Thailand) melalui jaringan jalan tol, kereta api ganda, dan pipa minyak sepanjang 90 kilometer.

Perbandingan Kra Land Bridge vs. Selat Malaka (Estimasi 2025–2030)

Metrik Perbandingan Selat Malaka (Existing) Kra Land Bridge (Proyeksi)
Jarak Tempuh Jalur langsung via laut Transit darat (90 km)
Waktu Perjalanan Standar Hemat 4 hari
Biaya Operasional Efisien (skala ekonomi) Tambahan biaya bongkar muat
Risiko Keamanan Tinggi (Chokepoint) Rendah (Kedaulatan Tunggal)
Kapasitas Kontainer Tidak terbatas (fisik) 40 juta TEU (full build)

Meskipun menawarkan penghematan waktu hingga empat hari, keberhasilan komersial jembatan darat ini sangat bergantung pada kemampuan Thailand untuk menarik minat operator kapal kontainer besar yang saat ini sudah sangat terintegrasi dengan hub Singapura. Namun, bagi China, proyek ini menawarkan redundansi strategis yang sangat berharga untuk pasokan energi mentah yang tidak terlalu sensitif terhadap biaya bongkar muat dibandingkan kargo kontainer.

Rute Laut Dalam Indonesia: Selat Lombok dan Makassar

Sebagai alternatif maritim alami, Selat Lombok dan Makassar di Indonesia menawarkan jalur yang jauh lebih dalam dan lebar dibandingkan Malaka. Jalur ini sangat penting bagi kapal pengangkut minyak mentah sangat besar (VLCC) dan pengangkut curah yang memiliki sarat air lebih dari 20 meter.

Namun, penggunaan rute Lombok menambah jarak tempuh sekitar 1.000 hingga 1.500 mil laut untuk perjalanan dari Timur Tengah ke Jepang, yang berarti tambahan 3 hingga 5 hari pelayaran. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa pengalihan arus lalu lintas dari Malaka ke rute alternatif ini akan menambah biaya operasional global sebesar USD 84 miliar hingga USD 250 miliar per tahun.

Northern Sea Route (NSR): Arktik sebagai Alternatif Masa Depan

Dengan percepatan pencairan es di kutub utara, Northern Sea Route (NSR) di sepanjang pantai Rusia mulai dianggap sebagai alternatif potensial untuk menghubungkan Asia Timur dan Eropa Utara. NSR dapat memangkas waktu perjalanan hingga 40% dibandingkan rute via Terusan Suez dan Malaka. Meski demikian, tantangan infrastruktur pemecah es, biaya asuransi yang tinggi, dan isolasi politik Rusia pasca-2022 menjadikan rute ini sebagai opsi jangka panjang yang masih diliputi ketidakpastian.

Memperkuat Ketahanan Domestik: Cadangan Strategis dan Transisi Energi

Menyadari bahwa jalur pelayaran tidak akan pernah 100% aman, China dan Jepang telah memperkuat sistem ketahanan energi domestik mereka melalui akumulasi cadangan strategis dan diversifikasi sumber daya.

Pembangunan Cadangan Minyak Strategis (SPR) China

China telah meluncurkan kampanye penimbunan minyak mentah secara besar-besaran sejak akhir 2023. Perusahaan negara diperintahkan untuk mengisi tangki penyimpanan selagi harga minyak global berada di bawah USD 70–80 per barel. Pada tahun 2025, China memimpin dunia dalam inventaris onshore, menyumbang 31% dari total cadangan minyak komersial dan strategis global.

Hukum cadangan nasional yang disahkan pada Januari 2025 secara formal mengintegrasikan stok pemerintah (SPR) dengan cadangan komersial di bawah kerangka pengawasan tunggal. Target jangka panjang China adalah memiliki cadangan yang setara dengan 90 hingga 180 hari impor neto, atau sekitar 1 miliar hingga 2 miliar barel minyak. Hal ini dirancang untuk memberikan “napas” bagi ekonomi China jika terjadi gangguan mendadak di Selat Malaka.

Transisi ke Energi Terbarukan dan Nuklir

Dekarbonisasi di Asia Timur bukan hanya tentang iklim, tetapi juga tentang kemandirian energi. China telah memasang kapasitas energi terbarukan yang lebih besar daripada gabungan seluruh dunia. Pada paruh pertama tahun 2025, pembangkitan listrik dari tenaga angin dan surya di China tumbuh 27% year-on-year, cukup untuk mulai mengurangi pangsa pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil sebesar 2%.

Di Jepang, kebijakan energi (GX) bertujuan untuk meningkatkan rasio energi terbarukan menjadi 36–38% pada tahun 2030. Selain itu, investasi besar dilakukan pada infrastruktur baterai skala utilitas untuk menstabilkan jaringan listrik yang terfragmentasi. Upaya ini, bersama dengan pengaktifan kembali nuklir, dirancang untuk mengurangi kebutuhan impor LNG dan batu bara yang sangat bergantung pada keamanan Selat Malaka.

Simulasi Ekonomi: Dampak Blokade dan Gangguan Pasokan

Dampak penutupan atau gangguan signifikan di Selat Malaka dapat dihitung melalui model simulasi ekonomi. Analisis risiko sering menggunakan rumus durabilitas cadangan ($D$) untuk mengukur berapa lama sebuah negara dapat bertahan tanpa impor maritim.

Dampak Sistemik pada Jaringan Listrik Jepang

Bagi Jepang, gangguan di Malaka akan segera memicu krisis listrik di wilayah Kanto (Tokyo). Karena utilitas listrik utama Jepang biasanya hanya menyimpan stok LNG untuk kebutuhan sekitar 36 hari operasional, pemadaman bergilir (rolling blackouts) kemungkinan besar akan diberlakukan dalam dua minggu pertama gangguan. Simulasi menunjukkan bahwa pemutusan aliran listrik di Tokyo selama satu minggu saja dapat menyebabkan kerugian ekonomi sebesar miliaran dolar dan melumpuhkan pusat data yang mendukung pasar keuangan global.

Dinamika Baru: Digitalisasi dan Keamanan Kabel Bawah Laut

Era digital menambahkan dimensi baru pada signifikansi Selat Malaka. Selat ini bukan hanya koridor bagi molekul energi (minyak dan gas), tetapi juga bagi elektron data.

Kabel bawah laut yang melintasi dasar selat membawa lalu lintas internet masif antara Eropa, Afrika, dan Asia Pasifik. Keamanan kabel-kabel ini kini menjadi bagian integral dari strategi pertahanan nasional. Munculnya fenomena “Dark Fleets” (kapal tanpa identitas yang mematikan transponder AIS) di Selat Malaka menimbulkan kekhawatiran bahwa kapal-kapal tersebut dapat digunakan untuk melakukan sabotase bawah air terhadap kabel komunikasi atau pipa energi tanpa bisa dilacak.

Navalitas regional kini mengintegrasikan kemampuan sonar canggih dan kendaraan bawah air tak berawak (AUV) untuk memantau “kedaulatan dasar laut”. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan Selat Malaka di masa depan akan sangat bergantung pada penguasaan teknologi sensor dan intelijen hibrida, bukan hanya jumlah kapal patroli di permukaan.

Ringkasan Strategis dan Pandangan Masa Depan

Selat Malaka akan tetap menjadi sumbu utama geopolitik Asia selama beberapa dekade mendatang. Meskipun terdapat upaya masif untuk mencari rute alternatif dan melakukan transisi ke energi hijau, realitas infrastruktur saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada selat ini belum akan berkurang secara signifikan dalam waktu dekat.

Bagi Beijing, penyelesaian Dilema Malaka melalui BRI dan peningkatan SPR adalah langkah defensif untuk menjamin kelangsungan ekonomi di tengah persaingan dengan Amerika Serikat. Bagi Tokyo, penguatan jaringan listrik domestik dan diversifikasi pasokan adalah kunci untuk menghindari kelumpuhan nasional. Sementara itu, bagi negara-negara pantai seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura, menjaga keamanan dan kelestarian selat adalah tugas suci yang memerlukan keseimbangan antara kedaulatan nasional dan tanggung jawab internasional.

Stabilitas di Selat Malaka bukan hanya tentang kapal yang melintas dengan aman, tetapi tentang kepastian bahwa sistem energi di Asia Timur tetap berjalan. Penurunan keamanan di wilayah ini akan segera dirasakan oleh warga di Tokyo atau Beijing melalui kegagalan jaringan listrik dan kenaikan harga yang tak terkendali, membuktikan bahwa selat ini adalah jantung yang memompa denyut nadi ekonomi Asia. Pengelolaan kolektif terhadap chokepoint ini akan menjadi ujian terbesar bagi diplomasi dan kerja sama keamanan maritim di abad ke-21.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − 13 =
Powered by MathCaptcha