Transformasi media dalam menyebarkan ide-ide subversif dan budaya alternatif menandai pergeseran mendalam dalam struktur ruang publik politik serta kondisi di mana ekspresi bebas dapat berfungsi sebagai alat demokrasi. Evolusi ini mencerminkan transisi dari materialitas fisik yang sulit ditemukan namun memiliki ketahanan ideologis yang kuat, menuju ekosistem digital yang melimpah namun fana, di mana suara-suara perlawanan (dissent) mudah ditemukan tetapi sangat sulit untuk dipertahankan akibat percepatan siklus tren yang didorong oleh algoritma. Perubahan ini bukan sekadar pergantian teknologi komunikasi, melainkan rekonfigurasi fundamental atas cara kekuasaan dijalankan dan ditentang dalam masyarakat modern.

Arkeologi Perlawanan: Pamflet dan Demokratisasi Informasi Awal

Munculnya pamflet pada abad ke-16 hingga ke-18 di Eropa menandai tonggak pertama media massa yang dikomodifikasi secara luas untuk tujuan politik dan keagamaan. Sebelum era cetak, penyebaran ide-ide subversif sangat terbatas pada komunikasi lisan atau naskah tulisan tangan yang mahal dan lambat. Penemuan mesin cetak mengubah paradigma ini, memungkinkan produksi massal literatur yang relatif murah dan mudah disembunyikan.

Mekanisme Produksi dan Perang Pamflet

Secara teknis, pamflet didefinisikan sebagai buku kecil yang tidak dijilid, biasanya terdiri dari satu hingga dua belas lembar kertas yang dilipat. Format ini memberikan fleksibilitas luar biasa bagi para penulis subversif. Proses produksinya melibatkan ekosistem yang kompleks, mulai dari penulis, pencetak, pemasok kertas, hingga distributor klandestin yang menjualnya di pasar-pasar gelap seharga satu atau dua sen. Kecepatan produksi ini memungkinkan terjadinya apa yang disebut sebagai “perang pamflet”, sebuah diskusi berkepanjangan melalui media cetak di mana berbagai faksi saling menyerang dan mempertahankan perspektif ideologis mereka.

Di Inggris, Henry VIII adalah salah satu penguasa pertama yang menyadari kekuatan media ini, menggunakannya untuk membenarkan pemisahan dari Gereja Katolik. Namun, senjata yang sama segera berbalik melawan otoritas. Selama Perang Saudara Inggris (1642-1651) dan Revolusi Agung 1688, pamflet menjadi instrumen utama untuk menggalang dukungan publik bagi gerakan perlawanan. Di koloni Amerika, pamflet mengisi celah informasi yang ditinggalkan oleh surat kabar resmi yang cenderung hanya meliput tindakan pemerintah.

Tabel 1: Karakteristik Pamflet sebagai Media Dissent Tradisional

Atribut Deskripsi Teknis dan Sosiologis Implikasi terhadap Perlawanan
Materialitas Kertas lipat (folio, quarto, octavo) yang tidak dijilid. Mudah disembunyikan di pakaian dan didistribusikan secara sembunyi-sembunyi.
Biaya Sangat rendah (1-2 penny); sering kali diproduksi secara anonim. Memungkinkan individu tanpa modal besar untuk menyuarakan kritik terhadap penguasa.
Sirkulasi Viralitas fisik; dipindahkan dari tangan ke tangan atau dibagikan di tempat umum. Menciptakan komunitas lokal yang solid dengan pemahaman ideologis yang seragam.
Sensor Represi melalui pembredelan mesin cetak dan hukuman fisik bagi penulis. Mendorong kreativitas dalam penggunaan metafora, nama samaran, dan jaringan distribusi bawah tanah.

Kekuatan pamflet mencapai puncaknya dengan diterbitkannya Common Sense karya Thomas Paine pada tahun 1776. Meskipun diterbitkan secara anonim, pamflet ini terjual sebanyak 120.000 salinan dalam waktu tiga bulan di tengah populasi koloni yang hanya berjumlah 2,5 juta jiwa. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dalam kondisi kelangkaan media, sebuah pesan yang resonan dapat menyebar dengan intensitas yang sangat tinggi, bahkan tanpa bantuan teknologi digital. Dissent pada era ini sulit ditemukan oleh pihak berwenang, namun sekali ia beredar, ia menjadi fondasi bagi revolusi yang nyata.

Era Zine: Revolusi Fotokopi dan Estetika DIY

Memasuki pertengahan abad ke-20, media alternatif mengalami pergeseran dari ambisi politik formal menuju ekspresi identitas subkultural yang lebih personal melalui fenomena zine. Zine, kependekan dari fanzine, berakar dari majalah amatir yang dibuat oleh penggemar fiksi ilmiah pada tahun 1930-an. Namun, ledakan zine yang sesungguhnya terjadi pada tahun 1970-an, didorong oleh ketersediaan mesin fotokopi yang meluas dan munculnya budaya punk.

Estetika Ketidaksempurnaan dan Politik Identitas

Zine dicirikan oleh etos Do-It-Yourself (DIY). Alih-alih mengejar kualitas cetak profesional, zine merayakan ketidaksempurnaan: tulisan tangan, tata letak potong-dan-tempel (cut-and-paste), dan grafis fotokopi hitam putih yang kasar. Penggunaan mesin fotokopi, khususnya melalui jaringan seperti Kinko’s di Amerika Serikat pada 1980-an, memungkinkan produksi media yang cepat dan murah di luar jalur distribusi komersial.

Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, zine menjadi alat utama bagi gerakan marginal seperti Riot Grrrl dan komunitas Queer. Zine seperti Bikini Kill dan Fertile La Toyah Jackson Magazine tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi sebagai alat pembangunan dunia (world-making) bagi mereka yang merasa tidak terwakili oleh media arus utama yang homogen. Synergi antara komentar politik yang vokal, kritikus musik rock, dan eksperimentasi visual menciptakan dokumen budaya yang sangat intim dan autentik.

Tabel 2: Transformasi dari Pamflet Politik ke Zine Subkultural

Fitur Era Pamflet (Abad 17-18) Era Zine (1970-an – 1990-an)
Teknologi Utama Mesin cetak manual (manual press). Mesin fotokopi (Xerox), potong-dan-tempel manual.
Motivasi Utama Perubahan kebijakan negara dan doktrin agama. Ekspresi identitas, komunitas niche, dan subkultur musik.
Metode Distribusi Pasar, stall buku, dan distribusi klandestin. Jaringan pos (mail art), toko musik indie, dan distro komunitas.
Hubungan dengan Massa Berusaha meyakinkan mayoritas. Berusaha membangun solidaritas di antara minoritas (niche).

Zine menciptakan loyalitas yang mendalam karena proses memperolehnya membutuhkan upaya fisik—menulis surat, mengirimkan uang dalam amplop, atau mendatangi konser bawah tanah. Kesulitan dalam menemukan zine ini justru menjamin bahwa audiensnya adalah mereka yang benar-benar berkomitmen pada nilai-nilai subkultur tersebut. Inilah periode di mana dissent sulit ditemukan bagi orang luar, tetapi menjadi identitas permanen bagi mereka yang berada di dalam lingkaran tersebut.

Kasus Indonesia: Perlawanan Bawah Tanah Terhadap Orde Baru

Evolusi dissent di Indonesia memberikan gambaran unik tentang bagaimana teknologi media digunakan untuk menantang rezim otoriter. Selama era Orde Baru (1966-1998), kontrol terhadap media sangat ketat, dengan ancaman pembredelan yang menghantui setiap publikasi kritis.

Dari Pembredelan 1994 ke Deklarasi Sirnagalih

Titik balik perlawanan pers di Indonesia terjadi pada 21 Juni 1994, ketika pemerintah mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) untuk tiga media utama: majalah Tempo, Editor, dan tabloid Detik. Alasan resmi pemerintah sering kali bersifat administratif, namun secara substansial, pembredelan ini adalah upaya represif untuk membungkam laporan kritis mengenai pembelian kapal perang bekas dari Jerman Timur oleh B.J. Habibie.

Respon terhadap pembredelan ini tidak hanya berupa demonstrasi di jalanan, tetapi juga lahirnya organisasi perlawanan baru. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dibentuk pada 7 Agustus 1994 sebagai antitesis terhadap organisasi wartawan resmi pemerintah (PWI) yang dianggap tunduk pada penguasa. Karena AJI dilarang oleh negara, operasinya dilakukan secara bawah tanah. Mereka menerbitkan media alternatif yang didistribusikan secara klandestin, sering kali melalui sistem fotokopi yang dilakukan di tempat-tempat tersembunyi.

Masuknya Zine dan Musik Bawah Tanah

Bersamaan dengan pergolakan politik, budaya perlawanan juga masuk melalui jalur musik. Zine mulai menjamur di kota-kota seperti Bandung dan Jakarta pada awal 1990-an, dibawa oleh mahasiswa yang pulang dari luar negeri atau melalui majalah seperti Aktuil yang mengusung semangat kontra-budaya. Zine seperti Revograms (1995) dan Rottrevore menjadi medium informasi vital bagi komunitas musik metal dan punk yang sadar secara sosial.

Para zinester ini adalah “generasi rahasia” yang melek media dan mahir dalam memanfaatkan teknologi yang tersedia, mulai dari mesin fotokopi hingga komunikasi awal melalui internet. Zine di Indonesia berhasil mematahkan stigma bahwa komunitas bawah tanah hanya berisi orang-orang yang gemar membuat kerusuhan; sebaliknya, mereka adalah kekuatan intelektual alternatif yang mampu mengimbangi arus informasi arus utama yang dikuasai oleh status quo.

Perbatasan Digital: BBS dan Fajar Internet sebagai Media Alternatif

Sebelum munculnya World Wide Web yang kita kenal sekarang, ruang perlawanan digital terbentuk melalui sistem papan buletin (Bulletin Board Systems – BBS). BBS memungkinkan pengguna untuk terhubung menggunakan modem telepon ke server lokal yang menawarkan papan pesan, obrolan, dan berbagi file.

FidoNet dan Milis “Apakabar”

Karena biaya panggilan jarak jauh yang mahal, BBS awal cenderung bersifat lokal, yang secara tidak sengaja memperkuat ikatan komunitas di wilayah tertentu. Namun, munculnya jaringan seperti FidoNet pada tahun 1984 memungkinkan sistem-sistem ini untuk bertukar pesan secara otomatis di malam hari saat tarif telepon rendah, menciptakan jaringan komunikasi global yang pertama bagi warga sipil.

Dalam konteks Indonesia, peran internet menjadi sangat krusial menjelang Reformasi 1998. Milis (mailing list) “Apakabar” yang dikelola oleh John A. MacDougall sejak 1990 menjadi satu-satunya ruang publik yang benar-benar bebas dari sensor Orde Baru. Melalui milis ini dan jaringan internet awal, informasi mengenai pergerakan mahasiswa, kekerasan aparat, dan ajakan unjuk rasa dapat menyebar dalam hitungan detik, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan melalui pamflet fisik.

Tabel 3: Peran Internet dalam Reformasi 1998 di Indonesia

Mekanisme Perlawanan Dampak Sosiologis dan Politik
Ruang Diskusi Bebas Menyediakan tempat bagi ide-ide radikal (seperti “Gantung Soeharto”) yang mustahil muncul di media cetak.
Kecepatan Informasi Diseminasi berita pergerakan mahasiswa dari jam ke jam tanpa bisa dihentikan oleh sensor pemerintah.
Koordinasi Aksi Penggunaan email dan papan buletin untuk mengatur strategi unjuk rasa di berbagai kota secara simultan.
Penembusan Blokade Menjadi alternatif ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan “televisian pool” untuk menyeragamkan berita TV.

Internet pada masa ini adalah “alat yang sangat kuat” (powerful tool) yang tidak tersedia dalam pemberontakan sebelumnya. Meskipun penggunanya masih terbatas pada kalangan terpelajar dan aktivis (elitis digital), dampaknya terhadap keruntuhan rezim Soeharto sangat signifikan karena kemampuannya menghubungkan aktor-aktor perlawanan secara real-time melintasi batas geografis.

Rezim Algoritma: Paradoks Visibilitas dan Ekonomi Perhatian

Memasuki abad ke-21, media perlawanan mengalami transformasi dari “ruang terbuka” menjadi “ekosistem yang dikurasi secara algoritma”. Jika dulu dissent sulit ditemukan, kini algoritma rekomendasi di platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook membuat ide-ide subversif sangat mudah ditemukan oleh siapa saja. Namun, kemudahan ini membawa konsekuensi yang merusak: dissent tidak lagi menjadi gerakan yang berkelanjutan, melainkan sekadar “konten” yang fana.

Mekanisme Outrage dan Filter Bubbles

Algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan partisipasi pengguna dengan cara memprioritaskan konten yang memicu respons emosional yang kuat. Konten yang mengandung kemarahan, polarisasi, dan toksisitas secara matematis terbukti mendapatkan engagement yang jauh lebih tinggi daripada konten yang bernuansa atau reflektif. Sebuah studi pada 2024 menunjukkan bahwa video politik di TikTok yang mengandung bahasa toksik menerima interaksi 2,3% lebih banyak, dan konten partisan menarik keterlibatan hampir dua kali lipat dibanding konten non-partisan.

Kondisi ini menciptakan “filter bubbles” atau ruang gema, di mana individu hanya terpapar pada informasi yang memperkuat bias mereka sendiri. Dissent dalam konteks ini sering kali tidak bertujuan untuk dialog atau perubahan sistemik, melainkan untuk memperkuat status sosial di dalam kelompoknya sendiri melalui sinyal-sinyal kesalehan politik atau kemarahan performatif.

Shadowbanning: Sensor yang Tidak Terlihat

Salah satu bentuk kontrol paling canggih di era algoritma adalah “shadowbanning” atau moderasi konten yang buram (opaque content moderation). Berbeda dengan pembredelan fisik yang jelas, shadowbanning bekerja dengan cara menurunkan peringkat konten atau menyembunyikan profil pengguna dari hasil pencarian tanpa pemberitahuan kepada pemilik akun.

Teknik ini memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap kelompok marginal dan suara-suara aktivis. Pengguna sering kali melaporkan bahwa handle mereka menghilang dari pencarian atau komentar mereka disembunyikan dari orang lain. Ketidakpastian ini menciptakan “efek mendingin” (chilling effect), di mana individu mulai menyensor diri mereka sendiri untuk menghindari hukuman algoritma yang tidak kasat mata.

Tabel 4: Dampak Sosiologis Shadowbanning terhadap Suara Marginal

Jenis Dampak Penjelasan Mekanisme Konsekuensi terhadap Dissent
Inhibisi Politik Pengguna takut memposting kritik politik karena khawatir kehilangan jangkauan (reach). Melemahkan aktivisme akar rumput yang bergantung pada visibilitas media sosial.
Harm Psikologis Ketidakpastian mengenai penurunan engagement menyebabkan frustrasi dan perasaan terisolasi. Menciptakan rasa tidak berdaya (helplessness) di kalangan kreator subversif.
Ketidaksetaraan Ekonomi Pengurangan reach berdampak langsung pada kemampuan monetisasi bagi aktivis/kreator niche. Menjadikan perlawanan sebagai aktivitas yang mahal dan berisiko secara finansial.
Manipulasi Opini Platform dapat membentuk distribusi opini secara halus tanpa terdeteksi. Memungkinkan kontrol sosial yang lebih efektif daripada sensor tradisional.

Benteng Baru: Discord, Enkripsi, dan Ruang Digital yang Terfragmentasi

Sebagai reaksi terhadap toksisitas dan manipulasi di platform arus utama, budaya alternatif mulai bermigrasi ke “ruang-ruang gelap” digital (dark social) yang menawarkan privasi dan kendali komunitas yang lebih besar, seperti Discord dan aplikasi pesan terenkripsi.

Discord sebagai Zine Digital Modern

Discord, yang awalnya merupakan platform obrolan bagi para pemain game, telah bertransformasi menjadi “ruang ketiga” digital—tempat di antara rumah dan kantor yang berfungsi sebagai lounge komunitas. Keunggulan utama Discord adalah ketiadaan algoritma yang mendikte konten yang dilihat pengguna. Di server Discord, fokusnya adalah pada komunitas dan koneksi langsung dengan orang-orang yang memiliki minat serupa.

Sama seperti zine masa lalu, Discord memungkinkan pembentukan saluran (channels) niche yang sangat spesifik. Hal ini memberikan rasa aman bagi kelompok-kelompok subversif untuk berdiskusi tanpa takut dipantau oleh publik luas atau dipengaruhi oleh insentif engagement. Namun, sifat tertutup ini juga berarti bahwa ide-ide tersebut lebih sulit untuk menjangkau audiens di luar “tembok” server, menciptakan fragmentasi yang semakin dalam di masyarakat.

Enkripsi dan Aktivisme Global

Aplikasi pesan terenkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption) seperti Signal dan Telegram telah menjadi infrastruktur vital bagi gerakan protes di seluruh dunia, mulai dari Hong Kong hingga Myanmar. Telegram, dengan kemampuannya menampung grup berukuran sangat besar, memungkinkan desentralisasi protes dan penyebaran berita dengan cepat bahkan ketika internet dibatasi oleh negara.

Namun, dualitas teknologi ini tetap ada. Sementara ia melindungi aktivis hak asasi manusia, ia juga memberikan ruang bagi aktor-aktor ekstremis untuk berorganisasi tanpa pengawasan. Telegram, misalnya, telah menjadi medan pertempuran antara para pencari kebebasan dan kelompok-kelompok radikal, dengan moderator yang sering kali kesulitan menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan keamanan publik.

Krisis Efemeritas: Kecepatan Tren dan Komodifikasi Identitas

Poin paling krusial dalam evolusi dissent saat ini adalah “krisis efemeritas”. Budaya alternatif yang dulunya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk matang di lingkungan fisik, kini dapat muncul, menjadi viral, dan mati dalam hitungan minggu di TikTok.

Akselerasionisme Tren dan Estetika “-core”

Munculnya berbagai mikro-tren dengan akhiran “-core” (seperti Indie Sleaze, balletcore, atau office siren) menunjukkan bagaimana identitas subkultural telah menjadi fragmen-fragmen estetik yang mudah dikonsumsi. Algoritma memprioritaskan kebaruan, yang memaksa siklus tren berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengguna media sosial sering kali tidak lagi berpartisipasi dalam subkultur yang sesungguhnya; mereka hanya “memuntahkan” kode sartorial atau visual yang mereka anggap menarik berdasarkan kurasi algoritma.

Fenomena ini disebut sebagai “discretization diri” (self-discretization), di mana pengguna memecah gaya hidup mereka menjadi penanda estetik yang terstandarisasi agar “mudah dipahami” oleh algoritma. Proses ini menghilangkan potensi kritis dari budaya alternatif. Dissent tidak lagi menantang status quo secara ideologis, melainkan hanya menjadi satu lagi produk yang dioptimalkan untuk klik dan waktu tonton.

Tabel 5: Perbandingan Durabilitas Ideologi: Dulu vs Sekarang

Dimensi Perbandingan Era Dissent Analog (1970s-90s) Era Dissent Algoritmik (2020s)
Kecepatan Adopsi Lambat; melalui pertemuan fisik dan surat-menyurat. Instan; melalui viralitas di FYP (For You Page).
Ketahanan Tren Tahunan; identitas sering kali bersifat seumur hidup. Mingguan atau bulanan; identitas berganti sesuai tren viral.
Basis Komunitas Pengalaman bersama dan lingkungan fisik. Persamaan estetik dan interaksi digital yang dangkal.
Hubungan dengan Pasar Sering kali anti-komersial dan klandestin. Cepat dikomodifikasi oleh brand melalui influencer marketing.

Ketika dissent menjadi sangat mudah ditemukan, ia kehilangan “aura” autentisitasnya. Seseorang dapat membeli estetika punk di toko retail besar segera setelah tren tersebut meledak di media sosial, menghancurkan nilai perlawanan yang awalnya terkandung di dalamnya.

Masa Depan Perlawanan: Ekonomi Friksi dan “Dark Data”

Menanggapi kepalsuan dan kefanaan dunia digital, pada tahun 2026 mulai terlihat pergeseran kembali ke materialitas sebagai bentuk perlawanan tingkat lanjut. Teori “Ekonomi Friksi” menyatakan bahwa dalam dunia yang dibanjiri oleh konten AI yang instan dan mulus, kebenaran dan nilai justru bermigrasi kembali ke hal-hal yang memiliki “tekstur” dan hambatan fisik.

Zine Luar Jaringan (Offline Zines) sebagai Benteng Terakhir

Salah satu tren paling radikal adalah kemunculan kembali zine fisik yang sengaja tidak pernah diunggah ke internet. “Offline Zines” ini digunakan untuk mendistribusikan pengetahuan teknis sensitif atau karya seni orisinal agar tidak dapat dikikis oleh bot kecerdasan buatan (AI scraping). Zine ini dianggap sebagai “Dark Data”—informasi yang tetap berada di luar jangkauan pengindeksan korporasi teknologi.

Tindakan mendistribusikan media secara fisik kini dipandang sebagai tindakan politik untuk menjaga kedaulatan data. Ini adalah bentuk “enkripsi analog”, di mana materialitas objek menjadi penghalang bagi otomatisasi dan pengawasan massal. Selain itu, gerakan “Dumb Phone” (ponsel fitur tanpa internet) menjadi simbol status baru yang menunjukkan bahwa waktu dan perhatian seseorang terlalu berharga untuk ditambang oleh algoritma.

Blockchain dan Ketahanan Informasi Permanen

Di sisi lain spektrum teknologi, desentralisasi melalui blockchain menawarkan cara untuk mempertahankan dissent agar tidak dapat dihapus oleh otoritas negara. Kasus aktivis Hong Kong yang menyimpan arsip media di blockchain menunjukkan potensi teknologi ini sebagai media perlawanan yang permanen dan transparan. Blockchain memberikan “ketahanan sensor” yang tidak dimiliki oleh platform media sosial terpusat.

Namun, tantangan tetap ada di lapisan settlement. Riset pada jaringan Ethereum menunjukkan bahwa bahkan sistem terdesentralisasi pun dapat mengalami tekanan eksternal untuk melakukan penyaringan transaksi, yang menunjukkan bahwa perjuangan untuk mempertahankan dissent digital adalah proses yang berkelanjutan dan penuh kompromi.

Kesimpulan: Merebut Kembali Kedalaman dalam Kedangkalan Digital

Perjalanan dari pamflet manual yang dijahit dengan tangan hingga algoritma yang memproses miliaran data per detik menunjukkan bahwa cara kita menyuarakan perlawanan telah berubah secara drastis dalam hal kecepatan dan jangkauan, namun sering kali mengorbankan kedalaman dan daya tahan. Masalah utama saat ini bukan lagi bagaimana membuat suara alternatif didengar, melainkan bagaimana menjaga agar suara tersebut tetap bermakna di tengah banjir informasi dan siklus tren yang mematikan.

Dulu, budaya alternatif sulit ditemukan tetapi memberikan landasan yang solid bagi identitas dan perubahan sosial. Sekarang, ia sangat mudah ditemukan, namun kemudahan itu sering kali merupakan hasil dari manipulasi algoritma yang bertujuan untuk profit, bukan pembebasan. Masa depan dissent tampaknya akan bergantung pada kemampuan kita untuk menyeimbangkan antara visibilitas digital dan ketahanan analog—membangun komunitas di ruang-ruang terenkripsi, memanfaatkan blockchain untuk keabadian arsip, dan sesekali kembali ke fisik melalui zine dan pertemuan langsung untuk menjaga “api” perlawanan tetap menyala di luar jangkauan algoritma yang mendinginkan. Dissent di masa depan bukan hanya tentang apa yang dikatakan, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk menyebarkannya di dunia yang terus berusaha mengotomatisasi pemikiran kita.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 62 = 67
Powered by MathCaptcha