Transformasi sosiokultural yang terjadi dalam dua dekade terakhir telah mengubah secara fundamental cara manusia memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi kebudayaan. Fenomena yang sering disebut sebagai “Kematian Budaya Underground” bukanlah sekadar pergeseran selera estetika, melainkan erosi sistematis terhadap infrastruktur kerahasiaan dan eksklusivitas yang dulunya menjadi fondasi bagi inovasi kreatif. Pada era sebelum dominasi platform digital, sebuah subkultur seperti punk, hip-hop, atau indie membutuhkan proses inkubasi fisik selama bertahun-tahun untuk dapat merembes dari ceruk-ceruk marginal menuju kesadaran publik. Namun, kehadiran algoritma rekomendasi pada platform seperti TikTok dan Instagram telah menciptakan mekanisme distribusi yang bersifat instan, di mana tren yang lahir di sudut terkecil internet dapat menjadi konsumsi global dalam hitungan jam. Laporan ini menganalisis bagaimana arsitektur teknis platform digital telah melenyapkan konsep eksklusivitas, menciptakan “penyeragaman algoritma” (algorithmic flattening), dan mengevaluasi apakah hilangnya ruang-ruang underground ini pada akhirnya menjadikan kreativitas manusia sebagai produk yang seragam dan repetitif.
Genealogi Ruang Underground dan Mekanisme Eksklusivitas Tradisional
Secara historis, istilah “underground” merujuk pada jaringan kebudayaan yang beroperasi di luar pengawasan media arus utama dan kontrol korporasi. Konsep ini bukan hanya tentang kerahasiaan demi kerahasiaan itu sendiri, melainkan tentang perlindungan terhadap integritas artistik dan ideologis. Eksklusivitas dalam subkultur tradisional berfungsi sebagai mekanisme penyaring (gatekeeping) yang memastikan bahwa setiap anggota baru memahami konteks, sejarah, dan nilai-nilai komunitas sebelum diizinkan untuk berkontribusi atau mengonsumsi simbol-simbol budaya tersebut.
Akar Historis dan Transformasi Identitas
Subkultur pada pertengahan hingga akhir abad ke-20 didefinisikan oleh batas-batas geografis dan keterbatasan akses informasi. Seorang penggemar musik indie di tahun 1980-an harus secara aktif mencari informasi melalui fanzine yang diproduksi secara mandiri, mengunjungi toko kaset independen, atau menjalin hubungan personal di ruang-ruang fisik seperti klub musik. Proses pencarian ini menciptakan investasi emosional dan intelektual yang mendalam, yang disebut sebagai “biaya masuk” ke dalam underground.
Salah satu contoh transformasi underground yang signifikan dapat dilihat pada evolusi budaya hacker. Pada tahun 1980-an dan awal 1990-an, hacker beroperasi dalam asosiasi eksklusif yang sangat tertutup, memperlakukan infiltrasi komputer sebagai olahraga intelektual dan berbagi informasi hanya dalam lingkaran terbatas atau “the scene”. Namun, proses profesionalisasi dan eksposur media pada akhir 1990-an mulai menggeser identitas ini dari subkultur marginal menjadi status profesional yang dihormati. Transformasi ini menunjukkan bahwa ketika sebuah elemen underground ditarik ke permukaan—baik melalui profesionalisasi maupun viralitas digital—karakteristik pemberontakan dan eksklusivitasnya sering kali memudar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang lebih luas.
Tabel 1: Garis Waktu Perkembangan Subkultur dan Media Distribusi
| Era | Subkultur Dominan | Media Distribusi Utama | Karakteristik Utama |
| 1950s – 1960s | Beatniks, Hippies, Mods | Radio bajakan, majalah underground fisik | Transmisi lisan, komunitas fisik terlokalisasi |
| 1970s – 1980s | Punk, Skinheads, Goth | Fanzine DIY, kaset bajakan, toko rekaman | Penolakan terhadap mainstream, identitas kelas |
| 1990s – 2000s | Grunge, Rave, Early Hacker Culture | Bulletin Board Systems (BBS), CD indie, MTV | Awal transisi digital, globalisasi komunitas fisik |
| 2010s – 2020s | Internet Aesthetics (Vaporwave, E-girls, Cottagecore) | TikTok, Instagram, Pinterest | Viralitas instan, identitas berbasis visual digital |
Mekanisme Algoritma: Pembunuh Eksklusivitas dan Penjaga Gerbang Digital
Di era pasca-internet, fungsi “penjaga gerbang” telah bergeser dari individu atau komunitas lokal kepada sistem rekomendasi yang didorong oleh kecerdasan buatan. Algoritma pada platform seperti TikTok dirancang untuk memaksimalkan retensi pengguna dengan cara menyajikan konten yang kemungkinan besar akan disukai oleh audiens luas, tanpa memperhatikan integritas subkultural dari konten tersebut.
Algoritma Rekomendasi dan Fragmentasi Identitas
Algoritma TikTok tidak bekerja berdasarkan jaringan sosial (siapa yang Anda ikuti), melainkan berdasarkan minat yang dihitung secara matematis melalui interaksi seperti waktu tonton, suka, dan bagikan. Sistem ini mampu mengidentifikasi elemen visual yang menarik dari sebuah subkultur yang sangat ceruk (niche) dan secara otomatis menyajikannya kepada jutaan pengguna di seluruh dunia melalui halaman “For You Page” (FYP).
Proses ini menciptakan apa yang disebut sebagai “nano-identitas” atau identitas fraktal. Kebudayaan tidak lagi dipahami sebagai sebuah paket ideologi yang utuh, melainkan sebagai serangkaian estetika visual yang dapat diadopsi secara fragmentaris. Seseorang dapat mengadopsi estetika “cottagecore” atau “gorpcore” hanya untuk satu video tanpa perlu memahami filosofi keberlanjutan atau penolakan terhadap urbanisme yang mendasarinya. Hal ini menyebabkan subkultur mengalami komodifikasi instan dan siklus hidup yang jauh lebih pendek dibandingkan masa lalu.
Tabel 2: Bobot Sinyal Algoritma TikTok terhadap Distribusi Konten (Estimasi 2025-2026)
| Jenis Sinyal | Contoh Interaksi | Pengaruh terhadap Viralitas |
| Interaksi Pengguna | Waktu tonton (completion rate), bagikan, simpan | Sangat Tinggi |
| Informasi Video | Captions, hashtags populer, suara trending | Tinggi |
| Informasi Akun | Pengaturan bahasa, lokasi geografis | Sedang |
| Otoritas Kreator | Jumlah pengikut, performa video sebelumnya | Rendah (Sering diabaikan oleh FYP) |
Data ini menunjukkan bahwa sistem distribusi digital saat ini sangat memihak pada konten yang mampu menarik perhatian dalam hitungan detik (hooking), yang secara inheren bertentangan dengan sifat budaya underground yang sering kali bersifat eksperimental, lambat, dan sulit dicerna bagi audiens umum.
Fenomena Skena di Indonesia: Antara Otentisitas dan Parodi
Dalam konteks lokal Indonesia, perdebatan mengenai matinya underground termanifestasi dalam popularitas istilah “skena.” Kata yang awalnya merujuk pada ekosistem musik independen (seperti skena Bandung yang dikenal dengan etos DIY-nya) kini telah mengalami perluasan makna dan sering kali digunakan sebagai label merendahkan di media sosial.
Polisi Skena dan Konflik Penjagaan Ruang
Kebangkitan istilah “Polisi Skena” menunjukkan adanya resistensi dari kelompok yang mencoba mempertahankan nilai-nilai tradisional underground di tengah gempuran viralitas TikTok. Polisi skena biasanya bertindak sebagai kritikus informal yang menilai keaslian (authenticity) seseorang berdasarkan pengetahuan musik atau cara berpakaian mereka. Mereka sering kali menguji apakah seseorang yang mengenakan kaos band tertentu benar-benar mendengarkan musiknya atau hanya mengikuti tren estetika yang sedang populer di FYP.
Namun, tindakan penjagaan gerbang ini sering kali dicap sebagai elitisme yang menghambat inklusivitas. Di sisi lain, para musisi dan seniman melihat bahwa viralitas di TikTok telah mengaburkan batas antara apresiasi tulus dan konsumsi dangkal. Sir Dandy, seorang seniman musik, bahkan merilis lagu “Polisi Skena” sebagai sindiran terhadap stereotip yang berkembang di komunitas musik indie, di mana fashion dan tempat nongkrong (kopi dan senja) sering kali dianggap lebih penting daripada substansi musik itu sendiri.
Komodifikasi dan “Beigification” Budaya
Pergeseran ini membawa dampak pada keberlanjutan ekonomi dan kreatif industri musik lokal. Musisi indie Indonesia kini menghadapi dilema: mempertahankan kebebasan kreatif yang lambat atau mengejar strategi viralitas agar tetap relevan dalam ekonomi perhatian. Banyak label rekaman kini berkolaborasi dengan influencer untuk menyebarkan lagu melalui tantangan (challenges) atau tarian, yang sering kali memaksa lagu untuk memiliki struktur yang sangat sederhana agar mudah digunakan sebagai latar belakang video pendek.
Algorithmic Flattening: Apakah Kreativitas Menjadi Membosankan?
Kritik utama terhadap dominasi algoritma adalah terciptanya “penyeragaman” (flattening) di berbagai bidang kreatif, mulai dari desain interior hingga produksi musik. Penulis Kyle Chayka memperkenalkan konsep “Filterworld” untuk menggambarkan bagaimana platform digital menyaring kebudayaan menjadi bentuk yang paling aman dan paling mudah disukai.
Estetika AirSpace dan Globalisasi yang Identik
Salah satu bukti nyata dari penyeragaman ini adalah estetika “AirSpace” yang menyebar di kafe-kafe dan akomodasi Airbnb di seluruh dunia. Dari New York, Bali, hingga Mumbai, banyak ruang fisik kini didesain dengan template yang sama: dinding putih minimalis, perabotan kayu ringan, tanaman gantung, dan pencahayaan yang dioptimalkan untuk kamera smartphone. Ruang-ruang ini tidak lagi mencerminkan sejarah lokal, melainkan didesain untuk mendapatkan keterlibatan tinggi di Instagram.
Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sebagai “beigification” (pemucatan) budaya, di mana keberagaman dan keunikan dikorbankan demi keseragaman yang menenangkan algoritma. Ketika semua orang melihat rekomendasi yang sama berdasarkan data perilaku massal, preferensi manusia mulai mengumpul pada titik-titik yang identik, yang pada akhirnya mematikan rasa ingin tahu dan eksplorasi terhadap hal-hal yang benar-benar berbeda.
Dampak pada Produksi Musik: TikTok-ification
Dalam industri musik, penyeragaman ini terlihat pada tren lagu yang semakin pendek dan struktur lagu yang menghilangkan bagian-bagian eksploratif seperti solo instrumen atau jembatan (bridge) yang kompleks. Lagu-lagu masa kini sering kali dibangun di sekitar bagian 15-30 detik yang dianggap “viral-friendly”. Hal ini menciptakan kondisi di mana inovasi musik melambat, dan para artis terjebak dalam siklus mereproduksi suara-suara yang sudah terbukti sukses di platform digital.
Penelitian mengenai penggunaan AI dalam musik juga menunjukkan tren serupa, di mana algoritma generatif cenderung menciptakan karya yang “terdengar familiar” karena dilatih pada arsip masa lalu yang masif. Hal ini memperkuat teori Simon Reynolds tentang “Retromania,” sebuah kondisi di mana kebudayaan populer terjebak dalam obsesi terhadap masa lalunya sendiri karena kemudahan akses digital terhadap arsip sejarah.
Tabel 3: Perbandingan Kualitas Kreatif dalam Ruang Underground vs. Ruang Algoritmik
| Parameter | Budaya Underground (Tradisional) | Budaya Algoritmik (Modern) |
| Tujuan Produksi | Ekspresi diri, perlawanan, inovasi radikal | Keterlibatan (engagement), viralitas, retensi |
| Struktur Karya | Kompleks, eksperimental, berdurasi panjang | Sederhana, “snackable”, fokus pada hook |
| Keberagaman | Tinggi (berdasarkan lokalitas dan ideologi) | Rendah (cenderung homogen secara global) |
| Siklus Hidup | Panjang (tumbuh secara organik selama bertahun-tahun) | Sangat Pendek (meledak lalu hilang dalam hitungan hari) |
Dampak Psikologis dan Kognitif: Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis
Hilangnya budaya underground tidak hanya berdampak pada produk budaya, tetapi juga pada kemampuan kognitif manusia dalam mengapresiasi seni dan informasi. Kecepatan internet dan konsumsi konten yang serba instan telah diidentifikasi sebagai pemicu merosotnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Dislokasi Waktu dan “Question Deficit”
Kemudahan akses terhadap jawaban instan melalui AI dan mesin pencari telah mengurangi kebutuhan manusia untuk melakukan eksplorasi mendalam. Dalam konteks sosial, platform media sosial menciptakan apa yang disebut sebagai “Question Deficit” (defisit pertanyaan), di mana individu kehilangan rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam tentang sesuatu karena segala sesuatunya sudah disajikan secara dangkal oleh algoritma.
Selain itu, “algorithmic anxiety” atau kecemasan algoritmik menghantui para kreator yang merasa tertekan untuk terus memproduksi konten demi memuaskan sistem yang tidak dapat diprediksi. Tekanan untuk selalu “online” dan relevan ini menyebabkan “time displacement,” di mana waktu yang dulunya digunakan untuk merenung dan menciptakan karya yang mendalam kini dihabiskan untuk aktivitas pasif seperti menggulir feed (scrolling).
Hilangnya Ambang Batas Kegagalan
Dalam ekosistem underground tradisional, seorang seniman memiliki ruang untuk gagal secara privat sebelum karyanya benar-benar matang. Namun, di era digital, setiap tahap proses kreatif sering kali terekspos ke publik demi konten “behind-the-scenes”. Tanpa adanya ruang privat untuk bereksperimen dan gagal tanpa konsekuensi reputasi global, banyak kreator memilih jalan aman dengan mengikuti tren yang sudah ada, yang pada akhirnya memiskinkan spektrum inovasi manusia.
Kebangkitan Strategi Baru: Hutan Gelap dan Web yang Nyaman
Meskipun laporan ini menyajikan gambaran yang menantang bagi masa depan underground, ada indikasi bahwa kebudayaan manusia sedang menyesuaikan diri. Muncul sebuah konsep yang disebut sebagai “Dark Forest Theory” (Teori Hutan Gelap) dari internet, di mana para pengguna mulai menarik diri dari platform publik yang bising dan beralih ke ruang-ruang digital yang lebih tertutup dan aman.
Pelarian ke Ruang Privat (Cozy Web)
Karena web publik telah menjadi ruang yang penuh dengan iklan, bot, dan pengawasan algoritma, manusia mulai menciptakan “burrow” atau lubang perlindungan digital. Komunitas-komunitas baru ini berkembang di platform seperti Discord, Telegram, atau newsletter berbayar yang tidak dapat diindeks oleh mesin pencari. Di ruang-ruang ini, eksklusivitas kembali hadir bukan sebagai bentuk elitisme, melainkan sebagai cara untuk menjaga keintiman, konteks, dan kepercayaan antaranggota.
Ruang-ruang privat ini memungkinkan kembalinya “percakapan yang didepresurisasi,” di mana individu dapat berekspresi secara bebas tanpa takut akan penghakiman massa atau manipulasi algoritma. Di sinilah benih-benih underground masa depan kemungkinan sedang tumbuh, jauh dari jangkauan sistem rekomendasi TikTok dan Instagram.
Algorithm Dropouts dan Ekonomi Desentralisasi
Muncul pula kelompok yang disebut “Algorithm Dropouts,” yaitu para kreator dan pengguna yang secara sadar memutus hubungan dengan algoritma arus utama untuk mencari komunitas yang lebih manusiawi. Mereka sering kali beralih ke model ekonomi baru, seperti koleksi digital terbatas (NFT yang berorientasi komunitas) atau platform patronase langsung, yang memungkinkan seniman untuk bertahan hidup tanpa harus mengejar viralitas massal.
Strategi ini menunjukkan bahwa meskipun “underground” dalam bentuk fisiknya di abad ke-20 mungkin telah mati, semangatnya untuk mencari otonomi tetap hidup dalam bentuk-bentuk digital yang terdesentralisasi. Masa depan kreativitas mungkin tidak akan ditemukan di halaman FYP, melainkan di dalam “hutan gelap” digital yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar-benar mencari.
Masa Depan Kreativitas dalam Cengkeraman Algoritma
Pertanyaan fundamental mengenai apakah hilangnya budaya underground membuat kreativitas menjadi seragam dan membosankan memiliki jawaban yang berlapis. Secara statistik dan fenomenologis, memang terjadi penyeragaman besar-besaran di permukaan budaya populer. Namun, dinamika kebudayaan selalu bersifat dialektis: setiap aksi penyeragaman akan memicu reaksi keberagaman di tempat lain.
Dialektika Popularitas dan Signifikansi
Kita sedang menyaksikan perpisahan antara popularitas dan signifikansi budaya. Sesuatu yang viral mungkin memiliki jangkauan yang luas, tetapi sering kali memiliki dampak yang dangkal dan cepat terlupakan. Di sisi lain, karya-karya yang memiliki kedalaman intelektual dan artistik kini semakin bergerak ke ruang-ruang ceruk yang sulit diakses oleh massa.
Kreativitas manusia tidak sedang mati, melainkan sedang mengalami polarisasi. Di satu kutub, terdapat produksi konten massal yang dioptimalkan oleh AI dan algoritma untuk konsumsi cepat. Di kutub lain, terdapat kantong-kantong perlawanan yang sangat spesifik dan eksklusif yang memprioritaskan kualitas, sejarah, dan hubungan manusia di atas metrik digital.
Rekomendasi untuk Ekosistem Kreatif
Untuk menjaga agar kreativitas manusia tidak menjadi sepenuhnya seragam, diperlukan beberapa langkah strategis dari berbagai pemangku kepentingan:
- Bagi Kreator: Penting untuk mengembangkan “kemandirian algoritmik” dengan cara membangun kanal distribusi mandiri (seperti mailing list atau komunitas privat) agar tidak sepenuhnya bergantung pada perubahan kebijakan platform besar.
- Bagi Konsumen: Diperlukan literasi digital yang lebih tinggi untuk menyadari cara kerja algoritma dan secara aktif mencari konten di luar zona nyaman rekomendasi otomatis untuk menghindari “filter bubble”.
- Bagi Institusi Budaya: Museum, galeri, dan kurator harus kembali mengambil peran mereka sebagai pemandu yang memberikan konteks sejarah dan analisis mendalam, alih-alih hanya mengikuti tren yang sedang populer di media sosial.
Kesimpulan
Kematian budaya underground tradisional adalah realitas tak terelakkan di era hegemoni algoritma. Konsep eksklusivitas yang dulunya didasarkan pada keterbatasan fisik dan informasi kini telah diruntuhkan oleh sistem rekomendasi TikTok dan Instagram yang mampu mendemokrasikan sekaligus mendevaluasi akses budaya. Meskipun hal ini menyebabkan fenomena penyeragaman budaya (algorithmic flattening) dan dominasi estetika yang dangkal, manusia tetap memiliki dorongan fundamental untuk mencari keaslian dan ruang-ruang privat.
Kreativitas manusia akan menjadi membosankan hanya jika kita membiarkan algoritma menjadi satu-satunya arbiter selera kita. Namun, dengan munculnya strategi baru seperti “Dark Forest” dan komunitas terdesentralisasi, ada harapan bahwa underground sedang berevolusi menjadi bentuk yang lebih tangguh. Perlawanan terhadap keseragaman di masa depan tidak akan dilakukan melalui pemberontakan publik yang keras, melainkan melalui kerahasiaan digital yang tenang, hubungan yang tulus, dan komitmen untuk tetap tidak terbaca oleh algoritma. Pada akhirnya, kebudayaan yang paling berharga selalu merupakan sesuatu yang harus dicari dengan upaya, bukan sesuatu yang secara pasif muncul di layar kita.
