Pembangunan The Line di dalam kawasan megacity Neom mewakili salah satu eksperimen urbanisme paling radikal dan ambisius dalam sejarah modern manusia. Secara fundamental, proyek ini merupakan manifestasi fisik dari strategi nasional Arab Saudi, Vision 2030, yang dirancang oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendiversifikasi ekonomi kerajaan agar tidak lagi bergantung secara eksklusif pada komoditas minyak bumi. Dengan visi membangun kota vertikal sepanjang 170 kilometer yang melintasi gurun dari pegunungan hingga pesisir Laut Merah, The Line dijanjikan sebagai revolusi peradaban yang memprioritaskan manusia di atas infrastruktur tradisional. Namun, hingga awal tahun 2026, realitas di lapangan menunjukkan pergeseran dari utopia teknis menuju rekalibrasi pragmatis yang dipicu oleh kompleksitas finansial, tantangan rekayasa, serta tekanan internasional terkait isu hak asasi manusia dan keberlanjutan ekologis.

Paradigma Zero Gravity Urbanism dan Visi Arsitektural

Konsep inti yang melandasi desain The Line adalah “Zero Gravity Urbanism” atau urbanisme tanpa gravitasi. Pendekatan ini secara filosofis berupaya untuk melepaskan diri dari pola pembangunan kota tradisional yang bersifat horizontal dan menyebar, yang sering kali menyebabkan degradasi lingkungan dan inefisiensi mobilitas. Dalam model ini, fungsi-fungsi perkotaan seperti tempat tinggal, tempat kerja, taman publik, dan fasilitas pendidikan tidak lagi diletakkan berdampingan secara mendatar, melainkan ditumpuk secara vertikal dalam satu koridor sempit dengan lebar hanya 200 meter namun menjulang setinggi 500 meter di atas permukaan laut.

Struktur ini dirancang untuk menampung hingga 9 juta penduduk pada penyelesaian akhirnya, namun dengan jejak fisik yang sangat minimal, yakni hanya mencakup area seluas 34 kilometer persegi. Melalui kepadatan vertikal yang ekstrem ini, pengembang Neom mengklaim bahwa 95% lahan di dalam kawasan Neom akan tetap terjaga sebagai cagar alam yang tidak tersentuh oleh pembangunan manusia. Secara intelektual, desain ini dipengaruhi oleh pergeseran dari paradigma Cartesian yang kaku menuju teori relativitas dalam perencanaan ruang, di mana keterkaitan antara manusia dan alam diatur dalam struktur tiga dimensi yang memungkinkan aksesibilitas universal ke ruang terbuka dan sinar matahari.

Spesifikasi Teknis Orisinal Detail Dimensi dan Kapasitas
Panjang Total 170 Kilometer (105 Mil)
Ketinggian Struktur 500 Meter (Lebih tinggi dari Empire State Building)
Lebar Kota 200 Meter
Target Populasi 9 Juta Jiwa (pada penyelesaian akhir 2045)
Luas Jejak Karbon 34 Kilometer Persegi
Pasokan Energi 100% Energi Terbarukan (Angin dan Surya)

Ambisi ini juga mencakup penghapusan total kendaraan pribadi dan jalan raya konvensional. Sebagai gantinya, The Line akan mengandalkan sistem transportasi berbasis kecerdasan buatan dan kereta api bawah tanah berkecepatan tinggi yang dijanjikan mampu menghubungkan ujung kota ke ujung lainnya dalam waktu hanya 20 menit. Dengan cara ini, setiap penduduk diharapkan memiliki akses ke semua kebutuhan harian dalam waktu lima menit berjalan kaki, menciptakan apa yang disebut sebagai kota 15 menit dalam skala vertikal yang belum pernah ada sebelumnya.

Rekalibrasi Strategis dan Realitas Fiskal 2026

Meskipun visi awalnya sangat megah, memasuki Februari 2026, pemerintah Arab Saudi telah secara resmi melakukan rekalibrasi terhadap skala dan jangka waktu pembangunan The Line. Laporan dari berbagai sumber internal menunjukkan bahwa proyek ini kini sedang dalam proses desain ulang yang signifikan agar lebih sesuai dengan kemampuan fiskal kerajaan dan realitas teknis konstruksi. Alih-alih mengejar target penyelesaian 170 kilometer secara linear pada tahun 2030, fokus pembangunan kini telah dipangkas menjadi segmen sepanjang 2,4 hingga 5 kilometer yang lebih dikelola dengan baik.

Perubahan strategi ini dipicu oleh beberapa faktor ekonomi yang saling tumpang tindih. Pertama, meskipun Arab Saudi memiliki cadangan minyak yang besar, volatilitas harga minyak dunia dan pengeluaran yang masif untuk megaproyek lainnya telah menekan neraca keuangan negara. Dana Investasi Publik (Public Investment Fund/PIF), yang menjadi mesin utama pembiayaan Neom, dilaporkan mulai mengalami pengetatan likuiditas dan telah melakukan penghapusan nilai (write-down) sebesar $8 miliar pada portofolio megaproyeknya karena pembengkakan biaya yang melampaui estimasi awal. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa biaya konstruksi untuk The Line secara keseluruhan dapat mencapai $17 triliun, angka yang jauh melampaui PDB tahunan Arab Saudi yang berada di kisaran $1 triliun.

Metrik Perkembangan Proyek Target Orisinal (2021) Status Rekalibrasi (Februari 2026)
Panjang Fase Pertama (2030) 170 Kilometer 2,4 – 5 Kilometer
Populasi Fase Pertama 1,5 Juta Jiwa Kurang dari 300.000 Jiwa
Fokus Industri Multifungsi General Data Center & AI Infrastructure Hub
Target Penyelesaian Akhir 2030 (Sebagian besar) 2045 – 2080
Nilai Investasi Infrastruktur $500 Miliar (Estimasi awal) > $1,5 Triliun (Proyeksi biaya total)

Selain masalah dana, tantangan logistik juga menjadi penghambat. Pembangunan The Line dilaporkan telah menyerap sekitar 20% dari pasokan baja dunia yang tersedia, sebuah angka yang secara geopolitik dan ekonomi sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kepemimpinan baru di Neom, di bawah pengawasan Aiman al-Mudaifer setelah kepergian mantan CEO Nadhmi al-Nasr, kini lebih memprioritaskan proyek-proyek yang dapat memberikan hasil ekonomi lebih cepat, seperti pengembangan pusat data bertenaga energi hijau dan logistik, daripada mengejar pencapaian arsitektural yang bersifat simbolis semata.

Kontroversi Hak Asasi Manusia: Pengusiran Suku Howeitat

Salah satu noda paling signifikan pada citra Neom sebagai utopia masa depan adalah laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis terhadap suku asli yang menghuni wilayah tersebut. Suku al-Huwaitat (Howeitat) telah menempati tanah di provinsi Tabuk, yang kini menjadi lokasi Neom, selama berabad-abad. Sejak dimulainya proyek ini pada tahun 2017, diperkirakan sekitar 20.000 anggota suku telah menghadapi ancaman pengusiran paksa tanpa konsultasi yang transparan atau kompensasi yang memadai.

Pemerintah Arab Saudi sering kali menggambarkan lahan tersebut sebagai “tanah perawan” yang tidak berpenghuni, sebuah narasi yang secara tegas dibantah oleh para ahli sejarah dan hak asasi manusia. Resistensi dari anggota suku Howeitat terhadap proyek ini telah ditanggapi dengan tindakan represif menggunakan payung hukum Undang-Undang Anti-Terorisme tahun 2017, yang memungkinkan negara untuk mengategorikan protes damai sebagai tindakan yang mengancam persatuan nasional. Tragedi yang paling menarik perhatian dunia adalah kematian Abdul Rahim al-Huwaiti pada tahun 2020, seorang aktivis lokal yang ditembak mati oleh pasukan keamanan setelah menolak meninggalkan rumahnya dan mengunggah video penentangan terhadap proyek tersebut.

Penuntutan Hukum dan Hukuman Berat

Data dari organisasi hak asasi manusia seperti ALQST menunjukkan pola hukuman yang sangat berat terhadap mereka yang berani bersuara. Berikut adalah gambaran mengenai tindakan hukum yang diambil terhadap anggota suku Howeitat:

  • Hukuman Mati: Setidaknya tiga orang, yakni Shadli, Ibrahim, dan Ataullah al-Huwaiti, telah dijatuhi hukuman mati yang dikuatkan oleh Pengadilan Pidana Khusus Arab Saudi. Mereka dituduh melakukan tindakan terorisme, meskipun banyak pengamat internasional menyatakan bahwa tuduhan tersebut hanyalah kedok untuk menekan oposisi terhadap penggusuran tanah.
  • Hukuman Penjara Jangka Panjang: Lebih dari 47 anggota suku lainnya dilaporkan berada dalam penahanan, dengan beberapa individu dijatuhi hukuman penjara antara 20 hingga 50 tahun hanya karena kritik di media sosial atau menunjukkan solidaritas terhadap keluarga mereka yang tewas.
  • Kondisi Penjara dan Penyiksaan: Terdapat laporan yang kredibel mengenai penggunaan kurungan isolasi, penyiksaan fisik dan psikologis, serta pemaksaan pengakuan bersalah terhadap para tahanan suku Howeitat.

Pakar hak asasi manusia PBB telah mendesak perusahaan-perusahaan internasional dan investor asing untuk memastikan bahwa mereka tidak berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelanggaran ini. Beberapa perusahaan konsultan besar seperti McKinsey dan Air Products telah dimintai keterangan mengenai uji tuntas (due diligence) mereka, namun banyak di antaranya yang memberikan respons yang dianggap tidak memadai atau berlindung di balik perjanjian kerahasiaan (NDA).

Analisis Kelayakan Ekologis dan Jejak Karbon Konstruksi

Promosi The Line sebagai kota net-zero karbon menghadapi skeptisisme ilmiah yang mendalam terkait dengan emisi karbon yang melekat (embodied carbon) selama proses konstruksi. Membangun dua tembok raksasa setinggi 500 meter yang membentang melintasi gurun memerlukan volume beton, baja, dan kaca yang sangat besar. Profesor Philip Oldfield dari University of New South Wales mengestimasi bahwa proses pembangunan The Line akan menghasilkan emisi sekitar 1,8 miliar ton karbon dioksida. Sebagai perbandingan, jumlah ini setara dengan lebih dari empat tahun total emisi karbon seluruh Inggris Raya, sebuah fakta yang menurut para ahli dapat membatalkan semua manfaat lingkungan dari operasional kota tersebut selama berabad-abad ke depan.

Masalah ekologis lainnya yang sangat krusial adalah lokasi The Line yang memotong jalur migrasi burung global. Wilayah pesisir Laut Merah dan Teluk Aqaba merupakan bagian dari Red Sea Flyway, sebuah jalur migrasi utama yang digunakan oleh lebih dari 2,1 miliar burung setiap tahunnya yang berpindah antara Eropa, Asia, dan Afrika. Pemasangan fasad cermin setinggi 500 meter sepanjang ratusan mil dianggap oleh banyak ahli burung sebagai “tembok kematian” yang mematikan. Burung-burung migran sering kali tidak dapat membedakan antara langit asli dengan refleksi langit pada permukaan kaca, yang mengakibatkan tabrakan fatal dalam skala besar.

Dampak Terhadap Biodiversitas dan Ekosistem Gurun

Komponen Ekologis Ancaman Utama Dampak Jangka Panjang
Burung Migran Fasad Cermin (Reflective Surfaces) Gangguan pada populasi burung lintas benua; risiko kepunahan lokal spesies seperti Elang Steppe.
Fauna Darat Fragmentasi Habitat (Tembok Linear) Terputusnya rute pergerakan hewan gurun; pengurangan keragaman genetika akibat isolasi populasi.
Terumbu Karang Air Limbah Desalinasi (Brine) Peningkatan salinitas laut yang dapat membunuh ekosistem terumbu karang yang sensitif di Laut Merah.
Iklim Mikro Efek Refleksi Panas Peningkatan suhu lokal di sekitar fasad cermin yang dapat merusak vegetasi gurun yang sudah rentan.

Meskipun pengembang Neom mengklaim akan menggunakan teknologi canggih seperti “ceramic frits” atau kaca berpola UV untuk meminimalkan tabrakan burung, para ilmuwan mencatat bahwa sejauh ini tidak ada penilaian dampak lingkungan (Environmental Impact Assessment/EIA) yang komprehensif yang telah dipublikasikan secara transparan ke publik. Selain itu, ketergantungan mutlak pada desalinasi untuk menyokong kehidupan di tengah gurun membawa risiko lingkungan tambahan berupa pembuangan air asin pekat (brine) yang dapat merusak keseimbangan kimiawi ekosistem laut di Laut Merah.

Matematika dan Urbanisme: Mengapa Garis Menjadi Masalah?

Kritik teknis yang paling mendasar terhadap The Line datang dari disiplin ilmu perencanaan perkotaan dan matematika kompleksitas. Rafael Prieto-Curiel, seorang peneliti dari Complexity Science Hub Vienna, menyatakan bahwa secara geometris, sebuah garis adalah bentuk yang paling tidak efisien untuk sebuah kota. Dalam struktur linear sepanjang 170 kilometer, jarak rata-rata antara dua penduduk yang dipilih secara acak adalah sekitar 57 kilometer, yang memaksa ketergantungan yang sangat tinggi pada transportasi mekanis berkecepatan tinggi.

Sebagai perbandingan, jika jumlah bangunan dan populasi yang sama disusun dalam bentuk lingkaran dengan radius hanya 3,3 kilometer, jarak rata-rata antara penduduk akan turun menjadi hanya 2,9 kilometer. Dalam model lingkaran ini, sebagian besar penduduk dapat berinteraksi dan berpindah tempat dengan berjalan kaki atau bersepeda, yang secara fundamental lebih berkelanjutan daripada mengandalkan sistem kereta api bawah tanah yang mahal dan rentan terhadap gangguan teknis tunggal (single point of failure).

Inefisiensi Transportasi dalam Bentuk Linear

Sistem transportasi “The Spine” yang direncanakan sebagai tulang punggung mobilitas di The Line menghadapi tantangan operasional yang signifikan:

  • Masalah Stasiun dan Waktu Berhenti: Untuk memastikan setiap penduduk berada dalam jarak jalan kaki ke stasiun, diperlukan setidaknya 86 stasiun di sepanjang jalur 170 km. Dengan banyaknya perhentian ini, kereta api tidak akan pernah bisa mencapai kecepatan maksimalnya untuk perjalanan jarak jauh, sehingga waktu tempuh rata-rata diperkirakan mencapai 60 menit, lebih lama daripada komuter di banyak kota besar tradisional yang sudah ada.
  • Kapasitas dan Konektivitas: Studi menunjukkan bahwa hanya sekitar 1,2% dari populasi di The Line yang akan berada dalam jarak jalan kaki satu sama lain. Hal ini menciptakan keterpencilan sosial dan ekonomi antar lingkungan, yang bertentangan dengan tujuan menciptakan komunitas yang bersemangat dan terintegrasi.
  • Kerentanan Infrastruktur: Dalam desain linear, tidak ada rute alternatif jika terjadi blokade pada jalur transportasi utama. Satu kecelakaan atau kegagalan teknis pada kereta api cepat dapat melumpuhkan seluruh mobilitas kota dari satu ujung ke ujung lainnya.

Kemajuan Konstruksi dan Status Lapangan 2026

Meskipun terdapat berbagai tantangan dan pengurangan skala, pekerjaan konstruksi di wilayah Neom tidak berhenti sepenuhnya. Hingga awal tahun 2026, kemajuan nyata terlihat pada pengembangan fase pertama yang kini disebut sebagai “Hidden Marina”. Segmen ini merupakan bagian sepanjang 2,4 hingga 2,5 kilometer dari The Line yang dirancang untuk menjadi area percontohan pertama yang dapat dihuni.

Hidden Marina direncanakan sebagai struktur vertikal setinggi 500 meter yang mencakup tiga modul besar yang saling terhubung. Area ini akan memiliki luas bangunan yang sangat masif, mencapai 21 juta meter persegi, jauh melampaui skala Burj Khalifa di Dubai. Targetnya, segmen ini akan siap menampung sekitar 200.000 penduduk pada tahun 2030, bertepatan dengan persiapan Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah berbagai acara internasional besar, termasuk kemungkinan FIFA World Cup 2034.

Infrastruktur Pendukung dan Teknologi Manufaktur

Investasi yang telah dikucurkan untuk infrastruktur dasar di wilayah Neom sangatlah besar. Berikut adalah detail mengenai kemajuan teknis yang telah dicapai:

  1. Pekerjaan Pondasi dan Tanah: Lebih dari 4.500 tiang pancang pondasi telah dipasang di modul Hidden Marina, dari total target 15.000 tiang pancang untuk fase awal. Setiap minggunya, sekitar satu juta meter kubik tanah diekskavasi untuk mempersiapkan fondasi struktur vertikal.
  2. Pabrik Beton Skala Besar: Neom telah meresmikan pabrik beton senilai SAR 700 juta ($186 juta) bekerja sama dengan perusahaan lokal Asas Al-Mohileb. Pabrik ini menggunakan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Utilization) untuk memproduksi beton “hijau” dengan kapasitas lebih dari 20.000 meter kubik per hari.
  3. Logistik dan Tenaga Kerja: Diperkirakan terdapat lebih dari 140.000 pekerja konstruksi dari 100 negara yang terlibat dalam pembangunan Neom saat ini, dengan porsi tenaga kerja lokal Saudi mencapai sekitar 40%.
  4. Proyek Terkait: Selain The Line, kemajuan juga terlihat pada proyek Sindalah, sebuah resor pulau mewah yang telah mulai dibuka untuk pengunjung terbatas, serta Oxagon yang mulai memposisikan diri sebagai pusat manufaktur hidrogen hijau terbesar di dunia.

Masa Depan The Line: Antara Visi dan Realitas

Perjalanan pembangunan The Line mencerminkan ketegangan antara ambisi politik yang tak terbatas dengan batasan-batasan fisik, finansial, dan moral yang nyata. Sebagai alat politik, The Line telah berhasil menarik perhatian dunia terhadap Arab Saudi dan memposisikan kerajaan sebagai pemain utama dalam inovasi teknologi global. Namun, kegagalan untuk memenuhi janji awal mengenai skala 170 kilometer pada tahun 2030 menunjukkan bahwa bahkan dengan kekayaan minyak yang melimpah, membangun kota dari nol di tengah gurun yang paling keras tetaplah merupakan tugas yang luar biasa sulit.

Strategi Arab Saudi ke depan tampaknya akan lebih berfokus pada “deliverables” atau hasil nyata yang dapat dicapai daripada janji-janji utopis. Rekalibrasi proyek menjadi segmen-segmen yang lebih kecil memungkinkan pemerintah untuk menguji konsep “Zero Gravity Urbanism” dalam skala laboratorium sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan sisa 165 kilometer lainnya. Jika Hidden Marina terbukti sukses secara ekonomi dan sosial, ia dapat menjadi model bagi pembangunan urban di masa depan. Namun, jika proyek ini gagal menarik penduduk dan investasi asing, ia berisiko menjadi “gajah putih” arsitektural yang paling mahal dalam sejarah.

Kesimpulan Strategis

The Line adalah sebuah paradoks modern: ia adalah simbol keberanian untuk bermimpi tentang masa depan tanpa karbon, namun pada saat yang sama dibangun di atas fondasi pelanggaran hak asasi manusia dan emisi karbon konstruksi yang masif. Bagi komunitas internasional, proyek ini menjadi studi kasus mengenai bagaimana ambisi sebuah negara untuk melakukan diversifikasi ekonomi pasca-minyak dapat berbenturan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan global. Keberhasilan jangka panjang The Line tidak akan diukur dari seberapa panjang cermin yang membentang di gurun, melainkan dari kemampuannya untuk berintegrasi dengan alam tanpa merusak biodiversitas, menghormati hak-hak penduduk asli, dan menciptakan lingkungan hidup yang secara matematis dan sosial efisien bagi manusia yang menghuninya. Pada akhirnya, rekalibrasi 2026 mungkin adalah langkah yang diperlukan bagi Arab Saudi untuk mengubah proyek yang “terputus dari realitas” menjadi sesuatu yang dapat benar-benar diwujudkan dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 5
Powered by MathCaptcha