Intervensi negara paling masif dalam sejarah reproduksi manusia dimulai bukan dengan sebuah dekrit tunggal, melainkan dengan pergeseran paradigma ideologis yang melihat manusia bukan lagi sebagai aset strategis, melainkan sebagai beban sumber daya. Kebijakan Satu Anak (One-Child Policy/OCP) Tiongkok, yang diterapkan secara resmi antara tahun 1979 hingga 2015, merupakan eksperimen biopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala global. Kebijakan ini lahir dari ketakutan mendalam para pemimpin Tiongkok era pasca-Mao terhadap ledakan populasi yang dianggap akan melumpuhkan ambisi modernisasi ekonomi negara tersebut. Namun, keberhasilan dalam menekan angka kelahiran tersebut kini telah berbalik menjadi krisis demografi yang mengancam stabilitas ekonomi dan sosial Tiongkok, memicu kepanikan pemerintah yang kini beralih secara drastis ke kebijakan tiga anak dan berbagai insentif pro-natalitas yang agresif.
Evolusi Ideologi Kependudukan: Dari Pro-natalisme Mao ke Sibernetika Deng
Pada awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949, Mao Zedong memandang populasi besar sebagai kekuatan nasional. Mengacu pada pepatah tradisional bahwa manusia adalah hal yang paling berharga, pemerintah awalnya mendorong pertumbuhan penduduk melalui layanan kesehatan ibu dan anak yang lebih baik. Akibatnya, angka kematian menurun drastis, sementara angka kelahiran tetap tinggi, menyebabkan pertumbuhan penduduk rata-rata mencapai 2,8% per tahun, yang menambah sekitar 250 juta jiwa pada tahun 1970.
Ketegangan mulai terasa ketika pemerintah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar populasi yang membengkak tersebut. Pada tahun 1970, Rencana Lima Tahun keempat untuk pertama kalinya memasukkan target angka pertumbuhan penduduk. Kampanye sukarela bertajuk “Later, Longer, Fewer” (Wan, Xi, Shao)—yang mendorong pernikahan terlambat, jarak kelahiran yang lebih lama, dan jumlah anak yang lebih sedikit—berhasil menurunkan tingkat pertumbuhan menjadi sekitar 1,8% pada tahun 1975. Namun, setelah kematian Mao, kepemimpinan baru di bawah Deng Xiaoping merasa bahwa penurunan sukarela ini tidak cukup cepat untuk mendukung “Empat Modernisasi”.
Keputusan untuk beralih ke kebijakan wajib yang ketat dipengaruhi secara signifikan oleh ilmuwan militer seperti Song Jian, yang menerapkan teori sibernetika untuk memodelkan pertumbuhan populasi. Song memproyeksikan bahwa tanpa intervensi ekstrem, populasi Tiongkok akan melampaui 4 miliar jiwa pada tahun 2080. Model matematika ini, yang mengabaikan kompleksitas sosiologis dan hanya fokus pada daya tampung sumber daya, menetapkan bahwa populasi ideal Tiongkok adalah 700 juta jiwa. Pada 25 September 1980, melalui surat terbuka dari Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, kebijakan satu anak secara resmi diwajibkan bagi seluruh anggota partai dan secara bertahap bagi masyarakat umum.
| Periode | Kebijakan Utama | Dasar Ideologis/Tujuan | Dampak Langsung |
| 1949-1960-an | Pro-natalisme Awal | Populasi sebagai kekuatan strategis (Maoisme). | Ledakan penduduk (pertumbuhan 2,8%). |
| 1970-1979 | “Later, Longer, Fewer” | Pengurangan sukarela untuk pembangunan ekonomi. | Penurunan TFR yang signifikan sebelum OCP. |
| 1980-2015 | Kebijakan Satu Anak | Pencapaian populasi ideal 700 juta (Sibernetika). | Pencegahan 400 juta kelahiran (klaim pemerintah). |
| 2016-2020 | Kebijakan Dua Anak | Mitigasi penuaan populasi dan penyusutan tenaga kerja. | Lonjakan kelahiran sementara pada 2016, lalu turun. |
| 2021-Sekarang | Kebijakan Tiga Anak | Pencegahan keruntuhan demografis dan krisis pensiun. | Angka kelahiran tetap turun ke rekor terendah. |
Mekanisme Kontrol dan Penegakan: Antara Insentif dan Koersi
Pemerintah Tiongkok menerapkan sistem kontrol yang sangat hierarkis dan invasif untuk menegakkan kepatuhan terhadap kebijakan satu anak. Di tingkat pusat, Komisi Perencanaan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional bertanggung jawab atas target kuota kelahiran, yang kemudian didistribusikan ke tingkat provinsi, kota, dan desa. Setiap unit administrasi memiliki target pertumbuhan nol yang harus dicapai, dan kegagalan dalam memenuhi kuota ini sering kali berdampak pada karir politik para pejabat lokal.
Metode penegakan bervariasi antara “wortel” (insentif) dan “tongkat” (sanksi). Pasangan yang berkomitmen hanya memiliki satu anak diberikan “Sertifikat Kehormatan Satu Anak” yang memberi mereka hak atas tunjangan pendidikan, perawatan kesehatan prioritas, dan perumahan yang lebih baik. Sebaliknya, mereka yang melanggar dikenakan “Biaya Pemeliharaan Sosial” (Social Maintenance Fee) yang jumlahnya bisa mencapai beberapa kali lipat dari pendapatan tahunan keluarga.
Namun, sisi paling gelap dari kebijakan ini adalah penggunaan tindakan medis paksa. Terutama pada tahun 1980-an, kampanye sterilisasi dan aborsi paksa dilakukan secara luas oleh para pejabat lokal yang over-zealous untuk memenuhi kuota kelahiran. Pada tahun 1983 saja, tercatat ada 14,4 juta aborsi, 20,7 juta sterilisasi (sebagian besar pada perempuan), dan 17,8 juta pemasangan IUD, banyak di antaranya dilakukan tanpa persetujuan sukarela. Di pedesaan, ketidakpatuhan sering kali berujung pada penyitaan properti, penghancuran rumah, atau pengusiran dari pekerjaan.
Kebijakan ini juga menciptakan kasta warga negara baru yang tidak terlihat: anak-anak “ilegal” atau “anak hitam” (heihaizi) yang lahir di luar kuota. Karena orang tua mereka tidak mampu membayar denda, anak-anak ini tidak didaftarkan dalam sistem hukou (registrasi rumah tangga), yang berarti mereka tidak memiliki akses ke pendidikan publik, layanan kesehatan, atau pekerjaan formal. Jumlah anak-anak tanpa dokumen ini diperkirakan mencapai jutaan jiwa, menciptakan beban sosial jangka panjang yang tersembunyi.
Deformasi Gender: “Missing Women” dan Fenomena Bare Branches
Salah satu dampak jangka panjang yang paling merusak dari kebijakan satu anak adalah ketimpangan rasio jenis kelamin yang ekstrem. Dalam budaya Tiongkok yang bersifat patrilineal, anak laki-laki sangat dihargai sebagai penerus garis keturunan keluarga, pewaris properti, dan penanggung jawab utama perawatan orang tua di masa tua. Ketika negara membatasi keluarga hanya pada satu anak, preferensi tradisional untuk memiliki anak laki-laki berubah menjadi tindakan sistematis untuk memastikan bahwa anak tunggal tersebut bukan perempuan.
Munculnya teknologi ultrasonografi (USG) pada pertengahan 1980-an memungkinkan orang tua untuk mengetahui jenis kelamin janin, yang kemudian memicu maraknya aborsi selektif berdasarkan jenis kelamin. Meskipun pemerintah secara resmi melarang penentuan jenis kelamin janin untuk tujuan non-medis, praktik ini tetap meluas melalui pasar gelap. Selain aborsi selektif, kebijakan ini juga menyebabkan peningkatan angka penelantaran bayi perempuan, pembunuhan bayi perempuan (infanticide), dan kematian bayi perempuan karena pengasuhan yang tidak memadai.
Statistik menunjukkan deviasi yang mengerikan dari rasio jenis kelamin alami (biasanya 105 laki-laki per 100 perempuan). Pada puncaknya, Tiongkok mencatat rasio jenis kelamin saat lahir (Sex Ratio at Birth/SRB) setinggi 120 banding 100. Akibatnya, diperkirakan ada sekitar 30 hingga 40 juta “perempuan yang hilang” dari populasi Tiongkok.
Fenomena ini menciptakan krisis di pasar pernikahan, yang dikenal sebagai “marriage squeeze”. Generasi laki-laki surplus ini disebut sebagai “Guang Gun” atau “Bare Branches” (cabang gundul)—laki-laki yang tidak akan pernah bisa menikah karena kekurangan jumlah perempuan. Dampak sosiologis dari krisis ini sangat luas:
- Harga Pengantin (Bride Price) yang Meroket: Di daerah pedesaan, kelangkaan perempuan menyebabkan lonjakan tajam dalam mahar atau “cai li” yang harus dibayar laki-laki kepada keluarga perempuan, sering kali memaksa keluarga laki-laki berhutang besar-besaran.
- Perdagangan Manusia dan Pengantin Transnasional: Kelangkaan istri di dalam negeri telah memicu perdagangan perempuan dari negara-negara tetangga yang lebih miskin seperti Vietnam, Myanmar, dan Kamboja. Banyak dari perempuan ini diculik atau ditipu untuk masuk ke Tiongkok dan dipaksa menikah dengan laki-laki di pedesaan yang tidak mampu menemukan pasangan lokal.
- Ketidakstabilan Sosial dan Kriminalitas: Beberapa peneliti berpendapat bahwa konsentrasi besar laki-laki muda yang tidak menikah dan merasa gagal secara sosial dapat meningkatkan angka kekerasan, kejahatan seksual, dan potensi kerusuhan sosial. Data menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% dalam rasio jenis kelamin berkorelasi dengan kenaikan 3% dalam angka kriminalitas kekerasan.
| Tahun Sensus | Rasio Jenis Kelamin (Laki-laki per 100 Perempuan) | Estimasi Laki-laki Surplus (Usia Menikah) |
| 1982 | 108,5 | – |
| 1990 | 111,3 | – |
| 2000 | 116,9 | ~20 Juta |
| 2010 | 118,1 | ~30 Juta |
| 2020 | 111,1 | ~33 Juta |
Transformasi Struktur Keluarga: Generasi 4-2-1 dan “Little Emperors”
Kebijakan Satu Anak secara fundamental mengubah unit dasar masyarakat Tiongkok: keluarga. Sebelum kebijakan ini, struktur keluarga Tiongkok dicirikan oleh jaringan kekerabatan yang luas dengan banyak saudara dan sepupu. Kebijakan OCP menciptakan struktur “4-2-1”, di mana satu anak tunggal berdiri di puncak piramida, memikul tanggung jawab atas kesejahteraan dua orang tua dan empat kakek-nenek di masa tua mereka.
Dari sisi sosiologis, anak-anak tunggal ini sering dijuluki sebagai “Little Emperors” (Kaisar Kecil). Karena mereka adalah satu-satunya fokus investasi emosional dan finansial keluarga, mereka sering kali mendapatkan pendidikan dan nutrisi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Namun, perhatian yang berlebihan ini juga dikaitkan dengan sifat-sifat negatif seperti egoisme, kurangnya disiplin diri, dan ketidakmampuan untuk menangani tekanan sosial.
Namun, narasi “Kaisar Kecil” mengabaikan beban psikologis yang sangat berat yang harus dipikul oleh generasi ini. Sebagai satu-satunya harapan keluarga, mereka menghadapi tekanan luar biasa untuk sukses secara akademis dalam sistem Gaokao yang hiper-kompetitif. Kegagalan anak tunggal tersebut bukan hanya kegagalan pribadi, melainkan bencana bagi seluruh sistem pendukung keluarga di masa depan.
Beban finansial juga menjadi nyata melalui konsep “Enam Kantong”. Karena harga properti di kota-kota besar Tiongkok sangat tidak terjangkau bagi individu muda, pembelian rumah pertama sering kali mengandalkan tabungan hidup dari dua orang tua dan empat kakek-nenek. Hal ini mengikat kekayaan antargenerasi dalam satu aset properti yang kini berisiko terdepresiasi, meninggalkan anak tunggal tersebut sebagai penjaga utang keluarga tanpa saudara kandung untuk berbagi beban.
Efek 4-2-1 juga menciptakan krisis dalam perawatan jangka panjang. Secara tradisional, keluarga adalah sistem jaminan sosial utama di Tiongkok. Dengan menyusutnya jumlah anak, sistem ini mulai runtuh. Probabilitas bahwa keempat kakek-nenek akan bertahan hidup secara bersamaan saat cucu mereka lahir adalah sekitar 0,61, dan mereka diperkirakan akan hidup bersama selama 16 tahun setelah kelahiran cucu tersebut. Hal ini menciptakan periode “squeezing” di mana anak tunggal tersebut harus merawat lansia yang sakit sambil mungkin membesarkan anak mereka sendiri, yang pada akhirnya menurunkan partisipasi tenaga kerja dan produktivitas nasional.
Penuaan Populasi dan Krisis Pensiun: Bom Waktu yang Berdetak
Keberhasilan Tiongkok dalam menurunkan tingkat fertilitas dari 2,6 pada akhir 1980-an menjadi sekitar 1,0 pada tahun 2025 telah menciptakan salah satu masyarakat dengan penuaan tercepat di dunia. Berbeda dengan negara-negara maju yang “menjadi kaya sebelum menjadi tua”, Tiongkok kini menghadapi risiko “menjadi tua sebelum menjadi kaya”.
Penyusutan angkatan kerja Tiongkok dimulai secara nyata sekitar tahun 2014. Antara tahun 2010 dan 2020, populasi usia kerja menyusut sebanyak 40 juta orang. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2040, sekitar 402 juta orang atau 28% dari populasi Tiongkok akan berusia di atas 60 tahun—jumlah yang lebih besar dari seluruh populasi Amerika Serikat.
Krisis demografi ini secara langsung menghantam sistem pensiun nasional Tiongkok. Sistem pensiun Tiongkok yang bersifat pay-as-you-go sangat bergantung pada rasio pekerja yang aktif berkontribusi terhadap jumlah pensiunan yang menarik manfaat. Rasio ini terus menurun secara mengkhawatirkan:
| Indikator Pensiun | Realitas 2020 | Proyeksi 2035/2050 |
| Status Dana Pensiun (NSSF) | Tercatat defisit tahunan pertama pada 2020 | Diprediksi habis total pada 2035 |
| Jumlah Lansia (>60 thn) | 18,7% dari populasi | 34,6% dari populasi pada 2050 |
| Rasio Pekerja:Retiree | ~3,0 : 1 | Turun menjadi ~1,5 : 1 pada 2050 |
| Defisit Akumulasi | – | RMB 147 triliun pada 2050 tanpa reformasi |
Untuk menutupi kesenjangan ini, pemerintah Tiongkok mungkin terpaksa menggunakan setara dengan 10% dari PDB untuk mensubsidi dana pensiun. Meskipun pemerintah telah mencoba mendorong program pensiun swasta, partisipasinya masih sangat rendah karena kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap masa depan ekonomi dan rendahnya pendapatan rata-rata. Langkah menaikkan usia pensiun, yang saat ini masih di angka 60 tahun untuk pria dan 50-55 tahun untuk wanita, menjadi keharusan politik yang sangat tidak populer dan berisiko memicu kemarahan publik.
Kegagalan Kebijakan Dua dan Tiga Anak: Mengapa Rakyat Tidak Ingin Hamil?
Menghadapi kenyataan bahwa populasi Tiongkok mulai menyusut lebih awal dari perkiraan (pertama kali pada tahun 2022 sejak kelaparan hebat 1961), Beijing melonggarkan kontrol kelahirannya. Kebijakan dua anak (2016) dan tiga anak (2021) merupakan upaya putus asa untuk merangsang pertumbuhan penduduk. Namun, hasil dari relaksasi ini sangat mengecewakan. Angka kelahiran tahunan terus merosot dari 18,8 juta pada 2016 menjadi kurang dari 8 juta pada tahun 2025.
Ada hambatan struktural dan budaya yang mendalam yang membuat kebijakan ini tidak efektif:
- Biaya Hidup yang Melumpuhkan: Harga properti di pusat kota seperti Shanghai bisa mencapai 118.000 yuan per meter persegi, sementara upah tahunan rata-rata hanya sekitar 90.000 yuan. Memiliki satu anak saja sudah dianggap sebagai kemewahan finansial bagi banyak pasangan muda.
- Perang Pendidikan (Involusi): Meskipun sekolah negeri gratis, budaya persaingan yang intens memaksa orang tua menghabiskan hingga 70% dari pendapatan rumah tangga mereka untuk bimbingan belajar dan kegiatan ekstra kurikuler agar anak mereka bisa kompetitif.
- Budaya Kerja 996: Jam kerja yang panjang (dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, 6 hari seminggu) tidak menyisakan waktu bagi orang tua untuk mengasuh anak, membuat prospek memiliki lebih dari satu anak menjadi beban yang tak tertahankan.
- Perubahan Nilai Sosial: Generasi muda, terutama wanita berpendidikan, semakin menghargai otonomi pribadi dan kemajuan karir daripada peran tradisional sebagai ibu. Munculnya gerakan “Tang Ping” (Lying Flat) mencerminkan penolakan generasi ini terhadap tekanan sosial untuk menikah dan bereproduksi dalam sistem yang dianggap eksploitatif.
Strategi Pro-natalis 2025-2026: Dari Insentif ke “Carrot and Stick”
Memasuki tahun 2025 dan 2026, kepanikan pemerintah Tiongkok semakin terlihat melalui peluncuran paket kebijakan pro-natalis yang semakin agresif. Beijing telah mengalokasikan sekitar 90 miliar yuan untuk program subsidi pengasuhan anak nasional yang pertama.
Berikut adalah ringkasan intervensi terbaru yang diterapkan antara 2024 hingga 2026:
| Jenis Kebijakan | Detail Intervensi | Tujuan Strategis |
| Subsidi Tunai (Jan 2025) | CNY 3.600 ($500) per tahun untuk anak di bawah 3 tahun. | Mengurangi hambatan biaya awal pengasuhan. |
| Pajak Kontrasepsi (Jan 2026) | Pengenaan PPN 13% pada kondom dan alat kontrasepsi lainnya. | Menghambat pencegahan kehamilan secara tidak langsung. |
| Dukungan Medis | Perluasan asuransi kesehatan untuk IVF dan epidural universal pada 2025. | Meningkatkan keselamatan dan kemudahan reproduksi. |
| Reformasi Pernikahan | Izin menikah tanpa harus di domisili registrasi (hukou). | Memfasilitasi pernikahan di kalangan migran urban. |
| Insentif Lokal | Bonus kelahiran hingga 100.000 yuan di beberapa daerah (Hohhot). | Eksperimen lokal untuk meningkatkan daya tarik fertilitas. |
Namun, kebijakan ini juga memicu kekhawatiran akan kembalinya metode koersif, namun kali ini untuk memaksa kelahiran bukan mencegahnya. Meskipun para ahli seperti Yi Fuxian berpendapat bahwa larangan total terhadap aborsi sulit diterapkan karena risiko reaksi publik yang besar, beberapa provinsi seperti Shandong sudah menunjukkan tanda-tanda peningkatan tekanan terhadap wanita untuk hamil. Selain itu, pajak kondom yang baru saja diberlakukan pada awal 2026 dilihat sebagai langkah mundur yang menghambat hak reproduksi wanita demi kepentingan demografi negara.
Budaya Perlawanan: Neijuan, Tang Ping, dan Hilangnya Harapan
Inti dari kegagalan kebijakan pro-natalitas Tiongkok bukanlah teknis, melainkan eksistensial. Istilah “Neijuan” atau involusi menggambarkan perasaan terjebak dalam kompetisi yang melelahkan namun tidak menghasilkan kemajuan nyata. Bagi banyak anak muda Tiongkok, membawa anak ke dunia yang mereka anggap sebagai “treadmill tanpa ujung” dipandang sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab atau bahkan kejam.
Gerakan “Tang Ping” (Lying Flat) dan slogan-slogan seperti “generasi terakhir” (kami adalah generasi terakhir) menunjukkan pemutusan hubungan yang mendalam antara individu dan target nasional negara. Fertilitas, pada dasarnya, adalah keputusan tentang masa depan. Ketika generasi muda kehilangan kepercayaan bahwa masa depan akan lebih baik dari masa kini, mereka secara rasional memilih untuk tidak bereproduksi.
Selain itu, diskriminasi gender di tempat kerja tetap menjadi hambatan yang tidak tertangani. Wanita di Tiongkok sering kali dipandang sebagai “bom waktu” oleh pemberi kerja karena potensi mereka untuk mengambil cuti melahirkan. Tanpa reformasi struktural yang melindungi pekerjaan wanita dan berbagi beban pengasuhan antara pria dan wanita, subsidi tunai kecil kemungkinan besar tidak akan cukup untuk mengubah kalkulasi fertilitas pasangan urban.
Implikasi Global: Akhir dari Era Manufaktur Murah Tiongkok
Transformasi demografi Tiongkok tidak hanya menjadi masalah domestik, tetapi juga akan mengubah lanskap ekonomi global. Selama beberapa dekade, Tiongkok berfungsi sebagai “pabrik dunia” berkat pasokan tenaga kerja muda yang melimpah dan murah. Dengan menyusutnya angkatan kerja dan meningkatnya biaya tenaga kerja, model pertumbuhan ini tidak lagi berkelanjutan.
Banyak perusahaan multinasional kini mulai memindahkan rantai pasokan mereka ke negara-negara dengan profil demografi yang lebih muda seperti India, Vietnam, dan Indonesia. Tiongkok sendiri mencoba merespons dengan investasi masif pada robotika dan otomasi untuk mempertahankan produktivitas di tengah berkurangnya jumlah pekerja manusia. Meskipun otomasi dapat membantu di sektor manufaktur, ia tidak dapat menggantikan peran kaum muda sebagai penggerak konsumsi domestik dan inovasi yang dibutuhkan Tiongkok untuk melarikan diri dari “perangkap pendapatan menengah”.
Lebih jauh lagi, penuaan populasi Tiongkok dapat memicu pergeseran dalam geopolitik. Masyarakat yang menua cenderung lebih konservatif dan berisiko mengalami stagnasi ekonomi jangka panjang mirip dengan “Dekade yang Hilang” di Jepang, namun dengan tingkat kemakmuran per kapita yang jauh lebih rendah. Beberapa analis memperingatkan bahwa penyusutan populasi ini dapat membuat Tiongkok menjadi lebih militeristik dalam jangka pendek karena jendela peluang strategisnya mulai tertutup, atau sebaliknya, menjadi lebih terfokus pada stabilitas internal karena beban pensiun yang melumpuhkan.
Proyeksi Masa Depan: Akankah Tiongkok Menghadapi “Civilizational Collapse”?
Proyeksi demografis untuk Tiongkok tetap suram. Meskipun pemerintah telah beralih ke kebijakan tiga anak dan memberikan berbagai insentif, TFR Tiongkok tetap bertahan di level sekitar 1,0—jauh di bawah tingkat penggantian 2,1. Beberapa demografer memperkirakan bahwa populasi Tiongkok akan menyusut menjadi sekitar 1,3 miliar pada tahun 2050 dan bisa turun drastis menjadi antara 330 juta hingga 400 juta pada akhir abad ini.
Yi Fuxian menyatakan bahwa Tiongkok telah memulai “jalan tanpa jalan kembali” dalam hal demografi. Keberhasilan kebijakan satu anak dalam mengubah norma-norma sosial tentang ukuran keluarga selama 35 tahun telah menciptakan inersia budaya yang sangat sulit dibalikkan. Masyarakat Tiongkok kini telah “terkondisi” untuk melihat keluarga kecil sebagai norma, dan infrastruktur ekonomi negara tersebut (dari perumahan hingga pasar tenaga kerja) telah beradaptasi dengan realitas satu anak.
Krisis ini bukan sekadar masalah angka, melainkan ancaman terhadap kelangsungan peradaban Tiongkok itu sendiri. Penuaan yang cepat, ketimpangan gender yang permanen, dan beban fiskal dari sistem pensiun yang runtuh merupakan tantangan eksistensial yang belum pernah dihadapi oleh negara mana pun dalam skala sebesar ini tanpa melalui perang atau wabah penyakit.
Kesimpulan: Pelajaran dari Eksperimen Biopolitik Tiongkok
Kebijakan Satu Anak Tiongkok akan tercatat sebagai salah satu kesalahan kebijakan publik paling mahal dalam sejarah modern. Meskipun kebijakan ini berhasil mencegah jutaan kelahiran dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek melalui pembentukan modal yang cepat, biaya jangka panjangnya sangatlah menghancurkan. Tiongkok kini terjebak dalam deformasi demografi yang ia buat sendiri: populasi yang menua dengan cepat, puluhan juta laki-laki surplus yang tak bisa menikah, dan generasi muda yang terlalu terbebani untuk membangun keluarga.
Peralihan ke kebijakan tiga anak dan pengenaan pajak kondom pada tahun 2026 merupakan tanda kepanikan negara yang menyadari bahwa kekuatan nasionalnya sedang menguap melalui rahim-rahim yang kosong. Namun, pelajaran utama dari krisis ini adalah bahwa reproduksi manusia bukan sekadar variabel teknis yang bisa diatur melalui dekrit negara. Tanpa perubahan mendasar pada sistem jaminan sosial, pengurangan tekanan kerja, dan penghapusan diskriminasi gender, upaya Tiongkok untuk melakukan “rekayasa fertilitas balik” kemungkinan besar akan terus menghadapi tembok resistensi dari warga negaranya sendiri yang kini memilih untuk “lepas tangan” dari masa depan yang mereka anggap terlalu mahal untuk dibeli.
