Transformasi Tiongkok dari konfederasi negara-negara feodal yang berseteru menjadi kekaisaran tersentralisasi pada tahun 221 SM merupakan salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah manusia. Di jantung transformasi ini terdapat kebijakan Fen Shu Keng Ru (Membakar Buku dan Mengubur Cendekiawan), sebuah manuver politik radikal yang dirancang untuk menghapus keragaman intelektual demi kesatuan ideologis di bawah panji Legalisme. Kebijakan ini bukan sekadar tindakan vandalisme budaya yang impulsif, melainkan instrumen tata kelola negara yang sangat terstruktur, yang dipromosikan oleh Perdana Menteri Li Si untuk memastikan bahwa otoritas Kaisar Pertama, Qin Shi Huang, tidak tertandingi oleh kritik berbasis sejarah atau moralitas tradisional. Melalui analisis mendalam terhadap memoar politik, catatan historiografi Han, dan penemuan arkeologis modern, laporan ini akan membedah anatomi penyensoran ini, dampaknya terhadap transmisi teks klasik, serta perdebatan panjang mengenai keaslian detail peristiwa tersebut dalam sejarah Tiongkok.
Konteks Geopolitik dan Kebangkitan Hegemoni Legalisme
Keberhasilan Qin dalam menundukkan enam negara rivalnya—Han, Zhao, Wei, Chu, Yan, dan Qi—mengakhiri periode Negara-Negara Berperang (Warring States) yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kemenangan ini bukanlah kebetulan militer semata, melainkan hasil dari penerapan sistem Legalisme yang ketat yang dimulai sejak reformasi Shang Yang pada abad ke-4 SM. Legalisme memandang bahwa stabilitas negara hanya dapat dicapai melalui hukum yang tidak pandang bulu, sistem penghargaan dan hukuman yang berat, serta mobilisasi sumber daya manusia secara total untuk kepentingan agrikultur dan peperangan.
Li Si, tokoh kunci di balik unifikasi ini, adalah seorang pragmatis yang mempelajari filsafat di bawah bimbingan Xunzi, seorang pemikir Konfusianis yang memiliki pandangan skeptis terhadap sifat alami manusia. Bersama rekan sesama muridnya, Han Fei, Li Si mengembangkan visi pemerintahan yang menolak idealisme masa lalu. Ketika Qin berhasil menyatukan daratan Tiongkok, Li Si menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah penaklukan wilayah, melainkan integrasi budaya dan pemikiran dari populasi yang sangat beragam. Ia melihat bahwa para intelektual di negara-negara yang baru ditaklukkan terus menggunakan tradisi lokal dan teks-teks klasik untuk mengkritik administrasi Qin yang dianggap asing dan brutal.
Perbandingan Paradigma Intelektual: Legalisme vs. Konfusianisme
Dalam memahami motivasi di balik pembakaran buku, sangat penting untuk melihat perbedaan mendasar antara doktrin yang dianut oleh pemerintah Qin dan nilai-nilai yang dipegang oleh para cendekiawan tradisional, terutama pengikut Konfusius.
| Fitur Utama | Legalisme (Doktrin Qin) | Konfusianisme (Tradisi Klasik) |
| Sifat Dasar Manusia | Egois dan didorong oleh kepentingan pribadi; harus dikontrol melalui hukum. | Memiliki potensi moral dan dapat dididik melalui kebajikan dan ritual. |
| Sumber Otoritas | Kekuasaan absolut kaisar dan kepatuhan buta pada hukum tertulis. | Mandat Langit (Tianming) yang bergantung pada perilaku moral pemimpin. |
| Fungsi Sejarah | Sering dianggap sebagai penghambat kemajuan; masa lalu tidak boleh mendikte masa kini. | Sumber hikmat tertinggi; masa lalu adalah standar untuk menilai kebenaran masa kini. |
| Tujuan Sosial | Kekuatan militer dan kekayaan negara melalui keseragaman. | Harmoni sosial melalui hubungan hierarkis yang tepat dalam keluarga dan masyarakat. |
| Metode Kontrol | Hukuman berat (pemenggalan, kerja paksa, tato) untuk pelanggaran kecil. | Pendidikan, ritual (li), dan pengaruh moral pemimpin. |
Bagi Li Si, eksistensi “Seratus Aliran Pemikiran” adalah resep bagi anarki politik. Ia berpendapat bahwa di bawah kekuasaan tunggal Kaisar Pertama, tidak boleh ada ruang bagi interpretasi pribadi mengenai “hitam dan putih” atau benar dan salah. Otoritas kebenaran harus sepenuhnya berada di tangan negara, dan para pejabat harus menjadi satu-satunya guru bagi rakyat.
Dekrit Membakar Buku (213 SM): Anatomi Sensor Negara
Kebijakan pembakaran buku dipicu oleh sebuah insiden diplomatik di istana Xianyang pada tahun 213 SM. Dalam sebuah perjamuan kekaisaran, seorang cendekiawan bernama Chunyu Yue memberikan kritik terbuka terhadap keputusan kaisar untuk menghapus sistem feodal Zhou dan menggantinya dengan sistem komanderi (junxian). Chunyu Yue berargumen bahwa tanpa dukungan dari klan-klan bangsawan yang diberikan tanah feodal, dinasti Qin tidak akan memiliki perlindungan jika terjadi pemberontakan, sebagaimana yang terjadi pada dinasti-dinasti sebelumnya.
Li Si menanggapi argumen ini dengan sebuah memoar yang sangat tajam kepada kaisar. Ia menyatakan bahwa para cendekiawan ini “tidak mempelajari masa kini, melainkan masa lalu, untuk mencela zaman sekarang dan membingungkan rakyat banyak”. Ia menuduh para intelektual membangun reputasi pribadi dengan mendiskreditkan penguasa dan menyebarkan fitnah di tengah masyarakat. Solusi yang ditawarkan Li Si adalah penghancuran total terhadap sumber-sumber pemikiran kritis tersebut.
Ketentuan Dekrit Pembakaran Buku
Dekrit yang disetujui oleh Kaisar Qin Shi Huang menetapkan langkah-langkah drastis untuk membersihkan kekaisaran dari literatur yang dianggap subversif. Fokus utama penghancuran adalah teks-teks yang memungkinkan orang untuk membandingkan pemerintahan Qin dengan masa lalu atau yang mempromosikan ideologi alternatif.
| Kategori Buku | Status Hukum | Detail Kebijakan |
| Catatan Sejarah Negara Non-Qin | Dihancurkan | Semua catatan sejarah selain sejarah resmi Qin harus dibakar untuk menghapus memori tentang negara-negara yang telah ditaklukkan. |
| Shijing (Klasik Puisi) & Shujing (Klasik Sejarah) | Dihancurkan (Kepemilikan Pribadi) | Buku-buku ini dianggap berbahaya karena berisi narasi tentang raja-raja bijak masa lalu yang sering digunakan untuk menyindir kaisar. |
| Tulisan Seratus Aliran Pemikiran | Dihancurkan | Termasuk risalah filsafat Konfusianisme, Taoisme, dan aliran lainnya yang tidak sejalan dengan Legalisme. |
| Buku Praktis (Medis, Farmasi, Pertanian, Ramalan) | Dikecualikan | Teks-teks yang dianggap memiliki kegunaan langsung bagi kesejahteraan fisik dan produksi negara diizinkan untuk tetap disimpan. |
| Koleksi Perpustakaan Kekaisaran | Dilestarikan | Salinan master dari semua teks tetap disimpan di arsip pusat untuk digunakan oleh para akademisi resmi (boshi). |
Hukuman bagi mereka yang melanggar dekrit ini sangat berat dan mencerminkan kekejaman hukum Qin. Siapa pun yang tertangkap sedang mendiskusikan Shijing atau Shujing di tempat umum akan dijatuhi hukuman mati (execution in the marketplace). Mereka yang menggunakan sejarah untuk mengkritik kebijakan masa kini akan dihukum mati bersama seluruh anggota keluarganya (familial execution). Pejabat yang mengetahui pelanggaran namun tidak melaporkannya dianggap sama bersalahnya dengan pelanggar. Rakyat diberikan waktu tiga puluh hari untuk menyerahkan buku-buku terlarang; jika gagal, mereka akan diberi tato di wajah dan dikirim untuk bekerja paksa membangun Tembok Besar.
Insiden Mengubur Cendekiawan (212 SM): Mitos dan Realitas Eksekusi
Setahun setelah dekrit pembakaran buku, terjadi insiden kedua yang sering kali digabungkan dalam memori kolektif sebagai Fen Shu Keng Ru. Meskipun secara tradisional digambarkan sebagai pembantaian sistematis terhadap cendekiawan Konfusianis karena keyakinan mereka, penelitian sejarah yang lebih mendalam menunjukkan bahwa peristiwa ini lebih berkaitan dengan kegagalan kaisar dalam mencari keabadian.
Kaisar Qin Shi Huang sangat terobsesi dengan ramuan keabadian dan menghabiskan sumber daya yang sangat besar untuk mempekerjakan alkemis dan penyihir (fangshi) guna menemukan “obat yang tidak bisa mati”. Dua alkemis terkemuka, Hou dan Lu, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa memenuhi janji mereka dan mulai mengkritik karakter kaisar sebagai orang yang kejam, gila kuasa, dan sombong. Mereka kemudian melarikan diri, membawa serta uang dalam jumlah besar milik kaisar.
Murka karena ditipu dan difitnah, kaisar memerintahkan investigasi luas di ibu kota Xianyang untuk mencari siapa saja yang terlibat dalam “ilmu hitam” atau yang menyebarkan gosip subversif di antara para cendekiawan. Proses investigasi ini melibatkan interogasi yang keras, di mana para cendekiawan saling menuduh untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Akhirnya, sekitar 460 cendekiawan dan alkemis dinyatakan bersalah dan dieksekusi.
Analisis Istilah Keng Ru
Debat mengenai apakah para cendekiawan ini benar-benar “dikubur hidup-hidup” menjadi fokus utama dalam historiografi modern. Istilah keng (坑) secara tradisional diartikan sebagai “mengubur hidup-hidup”, namun analisis terhadap penggunaan kata tersebut dalam teks-teks kuno lainnya, termasuk dalam Shiji karya Sima Qian, sering kali merujuk pada eksekusi massal di mana tubuh korban dibuang ke dalam parit atau lubang besar, bukan dalam keadaan hidup.
| Perspektif Historiografi | Deskripsi Peristiwa | Implikasi Politik |
| Tradisional (Han) | 460 cendekiawan Konfusius dikubur hidup-hidup secara brutal karena memegang teguh ajaran suci. | Menggambarkan Qin sebagai rezim iblis untuk melegitimasi kekuasaan Han. |
| Analisis Tekstual Modern | Eksekusi massal terhadap alkemis dan cendekiawan yang dianggap penipu atau pengkhianat. | Menunjukkan bahwa motif utama kaisar adalah kemarahan pribadi dan keamanan politik, bukan sekadar kebencian pada filsafat. |
| Kritik Arkeologis | Belum ada bukti fisik kuburan massal di Xianyang yang secara spesifik berasal dari peristiwa ini. | Mempertanyakan angka “460” dan skala sebenarnya dari pembantaian tersebut. |
Reaksi terhadap eksekusi ini sangat signifikan di lingkungan istana. Fusu, putra mahkota, memperingatkan ayahnya bahwa menghukum mati begitu banyak orang yang menghormati Konfusius di saat kekaisaran baru saja bersatu akan menyebabkan ketidakstabilan dan ketakutan di seluruh negeri. Akibat kritiknya, Fusu dikirim ke perbatasan utara untuk mengawasi Jenderal Meng Tian dan pembangunan Tembok Besar, sebuah pengasingan yang nantinya akan memfasilitasi kudeta oleh Zhao Gao dan Li Si setelah kematian kaisar.
Standardisasi Budaya: Sensor Melalui Keseragaman
Kebijakan penghapusan sejarah oleh Qin tidak hanya dilakukan melalui api, tetapi juga melalui standardisasi sistemik terhadap cara informasi diproses dan disimpan. Li Si menyadari bahwa selama negara-negara lama masih mempertahankan skrip penulisan, dialek, dan sistem hukum mereka sendiri, mereka akan selalu merasa memiliki identitas yang terpisah dari kekaisaran Qin.
Salah satu pencapaian Li Si yang paling berpengaruh—namun juga berfungsi sebagai instrumen kontrol—adalah standardisasi aksara Tiongkok menjadi “Skrip Segel Kecil” (Small Seal Script). Sebelum unifikasi, setiap negara bagian memiliki gaya penulisan karakter yang berbeda, yang dikenal sebagai “Skrip Enam Negara”. Dengan mewajibkan penggunaan Skrip Segel Kecil di seluruh kekaisaran dan membuang karakter-karakter lokal yang dianggap menyimpang, pemerintah Qin secara efektif mematikan kemampuan rakyat untuk membaca catatan sejarah lokal atau dokumen hukum lama dari negara-negara yang telah ditaklukkan.
Standardisasi ini juga mencakup aspek kehidupan lainnya yang membatasi otonomi intelektual dan ekonomi:
- Mata Uang dan Satuan Ukur: Penghapusan mata uang lokal dan pengenalan koin tembaga Qin yang seragam memastikan bahwa perdagangan berada di bawah pengawasan pusat.
- Hukum yang Terpusat: Penyeragaman hukum di seluruh kekaisaran memastikan bahwa tidak ada hak istimewa lokal yang tersisa bagi kaum bangsawan lama.
- Pendidikan Birokrasi: Dengan slogan “mengambil pejabat sebagai guru,” sistem pendidikan diubah menjadi pelatihan teknis bagi calon birokrat, bukan tempat diskusi filosofis.
Standardisasi ini menciptakan infrastruktur bagi apa yang disebut sebagai “kesatuan pemikiran” rakyat. Melalui kontrol terhadap bahasa dan simbol, rezim Qin berupaya mengonfigurasi ulang realitas kognitif penduduknya, menjadikan Legalisme sebagai satu-satunya kerangka kerja yang tersedia untuk memahami dunia.
Kerusakan Intelektual dan Kehilangan Literasi Pra-Qin
Dampak dari kebijakan Fen Shu Keng Ru terhadap warisan intelektual Tiongkok sangat menghancurkan, meskipun ada perdebatan mengenai seberapa banyak kerusakan yang disebabkan langsung oleh api kaisar dibandingkan dengan kekacauan yang mengikuti jatuhnya dinasti. Sebagian besar catatan sejarah dari negara-negara selain Qin hancur total, menyisakan kesenjangan besar dalam sejarah Tiongkok kuno yang hanya bisa diisi dengan spekulasi atau fragmen-fragmen kecil yang ditemukan kemudian.
Kehilangan yang paling terasa adalah pada literatur filosofis “Seratus Aliran Pemikiran”. Banyak risalah tentang logika, retorika, dan filsafat yang lebih kecil hilang selamanya karena tidak ada lagi guru yang mampu mentransmisikan ajarannya setelah buku-buku mereka dibakar dan para cendekiawannya tertekan. Meskipun perpustakaan kekaisaran menyimpan salinan dari semua buku terlarang, koleksi ini akhirnya musnah pada tahun 206 SM ketika Xiang Yu, seorang panglima perang yang memberontak, merebut ibu kota Xianyang dan membakar istana kekaisaran. Kebakaran besar tersebut dilaporkan berlangsung selama tiga bulan, menghanguskan catatan-catatan paling berharga dari peradaban kuno yang telah dikumpulkan dengan susah payah oleh Qin.
Perkiraan Attrisi Literatur Akibat Kebijakan Qin
Data dari katalog perpustakaan Han menunjukkan tingkat kehilangan yang sangat tinggi pada periode setelah Qin.
| Era / Sumber Data | Jumlah Karya yang Terdaftar | Persentase Karya yang Hilang | Kondisi Tekstual |
| Katalog Han (Sekitar 1 M) | 677 karya. | ~77% (524 karya hilang saat ini). | Banyak teks direkonstruksi dari fragmen. |
| Klasik Konfusius | 5 Klasik Utama. | ~100% salinan asli di ibu kota hancur. | Selamat melalui transmisi lisan dan manuskrip tersembunyi. |
| Sejarah Negara Non-Qin | Puluhan catatan negara bagian. | ~95% (Hanya sedikit fragmen yang selamat). | Sejarah Tiongkok kuno menjadi sangat “Qin-sentris”. |
Beberapa cendekiawan seperti Michael Nylan berargumen bahwa kerusakan yang diakibatkan oleh Li Si mungkin telah dilebih-lebihkan oleh sejarawan Han untuk memperburuk citra Qin. Namun, fakta bahwa banyak teks klasik harus direkonstruksi dari awal di awal dinasti Han membuktikan bahwa kebijakan sensor tersebut memiliki dampak yang nyata dan meluas.
Upaya Penyelamatan dan Kontroversi Teks Baru vs. Teks Lama
Di tengah kampanye penghancuran buku, beberapa individu mengambil risiko besar untuk menyelamatkan literatur klasik. Tindakan heroik ini tidak hanya menyelamatkan teks-teks tersebut dari kepunahan, tetapi juga secara tidak sengaja memicu salah satu konflik intelektual terbesar dalam sejarah Tiongkok: kontroversi Teks Baru (Jinwen) dan Teks Lama (Guwen).
Kisah Fu Sheng dan Rekonstruksi Teks Baru
Fu Sheng, seorang cendekiawan dari era Qin, menyembunyikan salinan Shujing (Klasik Sejarah) di dalam dinding rumahnya sebelum melarikan diri ke pengasingan selama perang saudara. Ketika perdamaian kembali di bawah dinasti Han, ia kembali ke rumahnya namun menemukan bahwa teks tersebut telah sangat rusak oleh kelembapan dan rayap. Karena ia sudah sangat tua, ia mendiktekan isi buku tersebut kepada para muridnya, yang kemudian menuliskannya dalam skrip klerikal (Lishu) yang lazim pada masa Han. Teks-teks yang direkonstruksi dengan cara ini dikenal sebagai “Teks Baru” karena menggunakan aksara baru kekaisaran Han.
Penemuan di Dinding Rumah Konfusius dan Teks Lama
Sekitar seabad kemudian, saat renovasi rumah lama Konfusius di Qufu, ditemukan manuskrip-manuskrip bambu yang tersembunyi di dalam dinding ganda. Teks-teks ini mencakup versi dari Shujing, Liji (Klasik Ritual), Lunyu (Analek), dan Xiaojing. Manuskrip ini ditulis dalam aksara kuno pra-Qin yang sudah sulit dibaca oleh orang-orang masa Han. Karena keasliannya yang dikaitkan dengan masa sebelum pembakaran buku, teks-teks ini disebut “Teks Lama”.
| Dimensi Perbandingan | Tradisi Teks Baru (Jinwen) | Tradisi Teks Lama (Guwen) |
| Metode Pemulihan | Transmisi lisan dan fragmen yang disalin kembali. | Penemuan fisik manuskrip kuno di dinding rumah. |
| Aksara yang Digunakan | Skrip Klerikal Han (Current Script). | Aksara Segel Kuno (Ancient Script). |
| Perspektif Terhadap Konfusius | Dipandang sebagai nabi atau “Raja Tanpa Mahkota” yang memiliki penglihatan masa depan. | Dipandang sebagai guru besar dan editor sejarah yang rasional. |
| Orientasi Intelektual | Cenderung esoteris, penuh dengan ramalan dan apokrifa. | Cenderung filologis, fokus pada akurasi teks dan sejarah manusia. |
| Dukungan Politik | Menjadi ortodoksi resmi selama periode Han Barat. | Didukung oleh Wang Mang dan menjadi dominan di periode Han Timur. |
Debat antara kedua sekolah ini mendominasi kehidupan intelektual Tiongkok selama berabad-abad. Pendukung Teks Baru menuduh Teks Lama sebagai pemalsuan oleh Liu Xin, sementara pendukung Teks Lama menuduh Teks Baru sebagai versi yang tidak lengkap dan tercemar oleh interpretasi pribadi para cendekiawan Han awal. Konflik ini menunjukkan betapa dalamnya trauma intelektual yang diakibatkan oleh kebijakan Qin; hilangnya garis transmisi yang kontinu membuat kebenaran sejarah menjadi subjek perdebatan yang tidak pernah berakhir.
Penilaian Historiografi Modern: Skeptisisme Terhadap Sima Qian
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak sinolog modern mulai mempertanyakan narasi tradisional Fen Shu Keng Ru yang disajikan oleh Sima Qian dalam Shiji. Meskipun Sima Qian dianggap sebagai sejarawan yang teliti, ia menulis di bawah perlindungan kaisar Han, yang memiliki kepentingan ideologis untuk menggambarkan pendahulunya, Qin Shi Huang, sebagai monster yang tidak berperikemanusiaan.
Beberapa argumen yang menantang narasi tradisional meliputi:
- Ketidaksesuaian Nama Korban: Meskipun dikatakan bahwa 460 cendekiawan dieksekusi, Shiji tidak menyebutkan satu pun nama cendekiawan Konfusianis yang menjadi korban. Korban yang disebutkan justru adalah alkemis dan peramal seperti Han Zhong dan Xu Fu.
- Ketersediaan Teks di Awal Han: Fakta bahwa cendekiawan awal dinasti Han seperti Jia Yi mampu mengutip teks klasik secara ekstensif dalam tulisan-tulisan mereka menunjukkan bahwa buku-buku tersebut tidak pernah benar-benar hilang dari sirkulasi intelektual.
- Konstruksi Label “Konfusianisme”: Istilah “Konfusianisme” (Ru) sebagai sekolah filsafat yang terorganisir mungkin belum sepenuhnya terbentuk pada masa Qin; label ini kemungkinan besar diproyeksikan ke masa lalu oleh cendekiawan Han untuk menciptakan narasi martir bagi aliran mereka.
- Motivasi Penulisan Sima Qian: Sebagai sejarawan istana, Sima Qian mungkin menggunakan cerita tentang kekejaman Qin sebagai peringatan terselubung bagi kaisarnya sendiri, Kaisar Wu dari Han, yang juga mulai menunjukkan tanda-tanda tirani dan obsesi terhadap keabadian.
Meskipun demikian, kebijakan pembakaran buku sendiri jarang diragukan keberadaannya. Yang menjadi subjek perdebatan adalah efektivitas implementasinya dan apakah peristiwa “mengubur cendekiawan” adalah sebuah pembersihan intelektual yang disengaja atau sekadar kemarahan kaisar yang tertipu oleh penipu.
Perspektif Komparatif: Qin dan Praktis Biblioklasme Global
Kebijakan Fen Shu Keng Ru sering dibandingkan dengan upaya-upaya sensor dan penghancuran buku lainnya dalam sejarah manusia, yang masing-masing mencerminkan keinginan penguasa untuk mengontrol narasi masa lalu demi masa depan.
| Peristiwa Sejarah | Motivasi Utama | Mekanisme Penghancuran | Dampak Terhadap Peradaban |
| Fen Shu (Qin, 213 SM) | Unifikasi Ideologis & Konsolidasi Birokrasi. | Dekrit negara; pembakaran paksa oleh pejabat lokal. | Hilangnya sejarah regional; standarisasi budaya Tiongkok. |
| Penghancuran Alexandria (Antisitas) | Konflik Agama & Perang Sipil. | Pembakaran selama pengepungan militer. | Hilangnya repositori pengetahuan universal paling lengkap di dunia kuno. |
| Burning of Maya Codices (1562) | Konversi Agama & Penghapusan Idolatria. | Auto-da-fé yang dipimpin oleh Diego de Landa. | Penghapusan hampir seluruh sistem penulisan dan sejarah Maya. |
| Nazi Book Burning (1933) | Pemurnian Rasial & Anti-Intelektualisme. | Demonstrasi massa oleh mahasiswa dan milisi. | Simbol modern tirani; eksodus massal pemikir Jerman. |
Berbeda dengan penghancuran Alexandria yang bersifat insidental dalam perang, atau pembakaran buku oleh Nazi yang bersifat performatif, kebijakan Qin sangatlah administratif. Ini adalah upaya awal dalam sejarah untuk menggunakan birokrasi yang sangat maju guna memanipulasi ingatan kolektif sebuah bangsa. Qin Shi Huang tidak ingin hanya sekadar membakar buku; ia ingin menulis ulang sejarah sehingga ia menjadi titik awal dari segala sesuatu, “Kaisar Pertama” yang memisahkan kegelapan masa lalu dengan cahaya masa kini.
Kesimpulan: Warisan Ganda Fen Shu Keng Ru
Kebijakan penghapusan sejarah oleh Qin Shi Huang tetap menjadi salah satu contoh paling kuat tentang bagaimana kekuasaan absolut berupaya memanipulasi kebenaran intelektual. Secara lahiriah, kebijakan ini tampak sebagai kegagalan; dinasti Qin runtuh hanya empat tahun setelah kematian kaisar, dan Konfusianisme yang berusaha dihapusnya justru menjadi ideologi resmi Tiongkok selama dua milenium berikutnya.
Namun, secara substansial, visi Li Si tentang negara yang bersatu melalui hukum dan standardisasi tetap bertahan. Struktur administratif Qin menjadi dasar bagi semua dinasti masa depan, dan aksara yang distandardisasi selama periode sensor inilah yang menjadi media bagi kemajuan budaya Tiongkok selanjutnya. Ironisnya, tindakan penghancuran buku tersebut justru memaksa para cendekiawan untuk menghargai teks-teks klasik dengan cara yang lebih mendalam, menciptakan tradisi studi tekstual yang sangat teliti yang masih kita lihat dalam sinologi hari ini.
Luka yang ditinggalkan oleh Fen Shu Keng Ru dalam jiwa intelektual Tiongkok tidak pernah sepenuhnya sembuh. Ketakutan akan penyensoran dan pemusnahan ide-ide terus membayangi sejarah politik Tiongkok hingga era modern. Peristiwa ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa meskipun sebuah rezim dapat membakar kertas dan membunuh pemikir, ia tidak pernah benar-benar bisa memadamkan keinginan manusia untuk mencari kebenaran yang melampaui perintah negara. Sejarah Tiongkok, pada akhirnya, bukanlah apa yang diperintahkan kaisar untuk ditulis, melainkan apa yang berhasil diselamatkan oleh rakyat dari api kaisar tersebut.
