Evolusi politik Turkmenistan pasca-keruntuhan Uni Soviet menawarkan salah satu studi kasus paling ekstrem mengenai bagaimana sebuah negara dapat dibentuk kembali secara total berdasarkan visi idiosinkratik satu individu. Saparmurat Atayevich Niyazov, yang memerintah dari tahun 1985 hingga kematiannya pada tahun 2006, mentransformasi republik Asia Tengah ini menjadi sebuah entitas yang nyaris sepenuhnya terisolasi, di mana batas antara kebijakan publik dan ego pribadi menjadi kabur. Fenomena yang sering disebut sebagai “Zaman Keemasan” oleh rezim tersebut sebenarnya adalah sebuah periode konsolidasi kekuasaan totaliter yang merambah hingga ke aspek paling privat dari kehidupan warga negara. Melalui penggunaan instrumen ideologis seperti buku Ruhnama, restrukturisasi kalender, serta rangkaian larangan yang sering dianggap absurd oleh pengamat luar, Niyazov menciptakan sebuah sistem yang menuntut loyalitas mutlak—sebuah beban yang secara metaforis sering disebut sebagai “pajak atas napas” melalui sumpah nasional yang mewajibkan pengabdian hingga nyawa berakhir.
Genealogi Kekuasaan: Dari Birokrasi Soviet ke Diktator Seumur Hidup
Saparmurat Niyazov lahir pada 19 Februari 1940 di Gypjak, sebuah desa di luar Ashgabat yang kemudian menjadi pusat spiritual dari kultus kepribadiannya. Kehidupan awalnya ditandai oleh tragedi kolektif dan pribadi yang mendalam; ayahnya dilaporkan tewas dalam Perang Dunia II, meskipun beberapa sumber sejarah alternatif menunjukkan kemungkinan hukuman militer, sementara ibu dan saudara-saudaranya tewas dalam gempa bumi Ashgabat yang dahsyat pada tahun 1948. Tumbuh besar di panti asuhan Soviet, Niyazov mengembangkan ketangguhan birokratis yang membawanya naik ke jajaran tinggi Partai Komunis Turkmenistan, hingga akhirnya ditunjuk oleh Mikhail Gorbachev sebagai Sekretaris Pertama pada tahun 1985 untuk membersihkan korupsi di tingkat lokal.
Namun, Niyazov terbukti bukan seorang pembaharu. Ia mempertahankan kontrol ketat selama masa Glasnost dan Perestroika, bahkan secara diam-diam mendukung upaya kudeta tahun 1991 terhadap Gorbachev sebelum akhirnya dengan cepat berbalik arah untuk memproklamasikan kemerdekaan Turkmenistan ketika Uni Soviet runtuh. Dalam masa transisi ini, Niyazov melakukan metamorfosis politik dari seorang fungsionaris partai menjadi “Türkmenbaşy” atau Bapak Seluruh Bangsa Turkmen—sebuah gelar yang diadopsi pada tahun 1993 untuk menegaskan perannya sebagai pemimpin tunggal dan arbiter budaya.
| Tahapan Konsolidasi Kekuasaan Niyazov | Tahun | Dampak Terhadap Struktur Kenegaraan |
| Sekretaris Pertama Partai Komunis | 1985 | Awal kendali atas aparatur negara RSS Turkmenistan. |
| Pengangkatan sebagai Presiden Pertama | 1990 | Transisi dari kepemimpinan partai ke jabatan eksekutif negara. |
| Proklamasi Kemerdekaan | 1991 | Pemisahan total dari kendali Moskow; pembentukan partai tunggal. |
| Referendum Perpanjangan Jabatan | 1994 | Menghilangkan kebutuhan akan pemilihan umum berkala hingga 2002. |
| Penetapan Presiden Seumur Hidup | 1999 | Parlemen (Halk Maslahaty) menghapus batas masa jabatan secara permanen. |
Kekuasaan Niyazov didukung oleh kekayaan sumber daya alam yang melimpah, terutama gas alam, yang menjadikannya salah satu cadangan terbesar di dunia. Dengan kontrol absolut atas pendapatan energi, Niyazov mampu mendanai proyek-proyek monumen yang megah sambil secara sistematis melemahkan institusi demokrasi dan masyarakat sipil. Ia menggabungkan fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam genggamannya, memastikan bahwa setiap dekrit yang dikeluarkannya memiliki kekuatan hukum yang tidak dapat diganggu gugat.
Arsitektur Ideologi: Ruhnama dan Indoktrinasi Spiritual
Inti dari upaya Niyazov untuk mendefinisikan ulang identitas nasional Turkmen adalah penerbitan Ruhnama (Buku Jiwa). Selesai ditulis pada tahun 2001, buku ini diposisikan bukan sekadar sebagai otobiografi atau risalah politik, melainkan sebagai panduan moral dan spiritual yang wajib diikuti oleh seluruh rakyat. Niyazov mengklaim bahwa buku ini lahir dari hatinya melalui kehendak Tuhan, dan ia menginstruksikan para pemuka agama untuk memberikan status yang setara dengan Al-Quran dan Alkitab.
Ruhnama menjadi instrumen utama dalam apa yang disebut sebagai ruang “epideiktik”—sebuah kondisi di mana seluruh aspek kehidupan publik diarahkan untuk pemujaan tanpa henti terhadap sang pemimpin. Pengaruh buku ini merasuk ke dalam sistem pendidikan secara destruktif. Standar pendidikan diturunkan secara drastis untuk memberi ruang bagi studi Ruhnama. Kurikulum universitas sering kali mengabaikan sains dan humaniora tradisional demi “Studi Ruhnama”, bahkan Universitas Negeri Turkmen memiliki Departemen Suci Ruhnama dari Türkmenbaşy yang Agung.
Penerapan Ruhnama dalam kehidupan sehari-hari mencakup:
- Persyaratan Karir: Mempelajari dan menghafal bagian-bagian dari Ruhnama menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan pekerjaan di sektor pemerintahan.
- Ujian Mengemudi: Para pendaftar surat izin mengemudi harus lulus ujian yang mencakup pertanyaan tentang ajaran spiritual dalam buku tersebut.
- Kewajiban Keagamaan: Masjid-masjid diwajibkan untuk memajang Ruhnama secara mencolok; kegagalan untuk melakukannya sering kali berujung pada pembongkaran bangunan masjid oleh pemerintah.
- Mitos Keselamatan: Niyazov secara terbuka menyatakan di televisi nasional bahwa siapa pun yang membaca Ruhnama sebanyak tiga kali akan mendapatkan jaminan masuk surga.
Kehadiran Ruhnama juga diperluas hingga ke luar angkasa. Pada tahun 2005, sebuah salinan buku tersebut diluncurkan ke orbit menggunakan roket Rusia agar dapat “menaklukkan ruang angkasa” dan menyebarkan pesan spiritual Turkmen ke alam semesta. Secara internal, indoktrinasi ini menciptakan generasi yang terputus dari pengetahuan global, karena Niyazov secara bersamaan mengurangi masa sekolah wajib dari 11 tahun menjadi 9 tahun, dengan argumen bahwa pendidikan yang terlalu lama hanya akan menghambat produktivitas ekonomi dasar dan kepatuhan politik.
Kalender dan Waktu: Kolonialisasi Temporal
Salah satu langkah paling kontroversial dan membingungkan yang diambil oleh Niyazov adalah restrukturisasi kalender resmi Turkmenistan pada Agustus 2002. Langkah ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menghapus sisa-sisa pengaruh Rusia dan internasional, serta menggantinya dengan simbol-simbol yang berpusat pada diri sendiri dan keluarganya. Dalam pandangan Niyazov, waktu itu sendiri harus mencerminkan narasi sejarah Turkmen yang ia konstruksi.
Nama-nama bulan dalam setahun diubah untuk menghormati dirinya, ibunya, dan tokoh-tokoh sejarah atau karya sastranya. Januari, misalnya, diganti menjadi Türkmenbaşy, sementara April diberi nama Gurbansoltan sesuai nama ibunya, Gurbansoltan Eje. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan upaya untuk menyusupkan kultus kepribadian ke dalam fungsi administratif paling dasar.
| Bulan (Tradisional) | Nama Baru (Era Niyazov) | Makna dan Referensi Kebijakan |
| Januari | Türkmenbaşy | Penghormatan langsung terhadap gelar presiden. |
| Februari | Baýdak | “Bendera”; Merujuk pada Hari Bendera yang jatuh di bulan ulang tahun Niyazov. |
| Maret | Nowruz | Tahun baru tradisional Persia/Turkmen. |
| April | Gurbansoltan | Nama ibu Niyazov, yang dimitoskan sebagai ibu bangsa. |
| Mei | Magtymguly | Penyair nasional Magtymguly Pyragy. |
| Juni | Oguz | Oguz Khan, leluhur mitologis bangsa Turkmen. |
| Juli | Gorkut | Pahlawan dari epos nasional Gorkut-Ata. |
| Agustus | Alp Arslan | Pemimpin Kekaisaran Seljuk yang Agung. |
| September | Ruhnama | Judul buku spiritual karya Niyazov. |
| Oktober | Garaşsyzlyk | “Kemerdekaan”; Merayakan kedaulatan negara. |
| November | Sanjar | Penguasa terakhir Kekaisaran Seljuk. |
| Desember | Bitaraplyk | “Netralitas”; Mengacu pada status luar negeri Turkmenistan. |
Tidak berhenti pada bulan, Niyazov juga merombak nama-nama hari dalam seminggu. Senin menjadi Başgün (Hari Utama), dan Sabtu menjadi Ruhgün (Hari Roh), yang secara khusus didedikasikan untuk refleksi atas ajaran Ruhnama. Perubahan ini memaksa media massa, sekolah, dan kantor pemerintahan untuk menggunakan terminologi baru, yang sering kali membingungkan masyarakat luas. Banyak warga, terutama generasi tua, tetap menggunakan nama-nama tradisional dalam percakapan sehari-hari, namun dalam dokumen resmi, kepatuhan adalah mutlak.
Rekayasa Linguistik: Larangan Nama dan Pengkultusan Keluarga
Sejalan dengan reformasi kalender, Niyazov melakukan intervensi mendalam terhadap bahasa Turkmen. Langkah yang paling terkenal adalah penghapusan kata asli untuk roti, çörek, dan menggantinya dengan nama ibunya, Gurbansoltan. Roti, sebagai elemen pokok dalam diet dan budaya Turkmen, kini secara simbolis menjadi pemberian dari keluarga Niyazov. Ibu Niyazov, Gurbansoltan Niýazowa, yang tewas dalam gempa bumi 1948, diangkat menjadi sosok suci nasional dengan berbagai monumen dan institusi yang menyandang namanya.
Selain itu, rezim menerapkan kebijakan “Turkmenisasi” yang agresif, yang berdampak langsung pada hak-hak minoritas etnis seperti Uzbek, Rusia, dan Tajik. Muncul laporan bahwa pejabat di provinsi-provinsi tertentu mulai mewajibkan orang tua untuk memberikan nama-nama tradisional Turkmen kepada bayi yang baru lahir, melarang penggunaan nama yang mencerminkan budaya asal mereka. Kebijakan ini merupakan pelanggaran terhadap hak identitas kultural internasional, namun bagi Niyazov, hal ini adalah langkah perlu untuk menciptakan bangsa yang homogen di bawah satu identitas.
Daftar penamaan kembali ini meluas ke geografi dan astronomi:
- Kota dan Pelabuhan: Kota Krasnovodsk diganti menjadi Türkmenbaşy.
- Benda Langit: Sebuah kawah di bulan dan sebuah meteorit dinamai sesuai dengan sang pemimpin.
- Puncak Gunung: Beberapa puncak gunung tertinggi di Turkmenistan diberi nama Niyazov atau anggota keluarganya.
- Produk Konsumsi: Wajah Niyazov menghiasi label botol vodka, cognac, teh, dan berbagai produk makanan lainnya.
“Pajak Napas”: Sumpah Kesetiaan dan Kontrol Biopolitik
Istilah “Pajak Napas” dalam konteks Turkmenistan era Niyazov merujuk pada tuntutan psikologis dan eksistensial yang luar biasa berat terhadap loyalitas warga negara. Ini bukan pajak dalam bentuk uang, melainkan kewajiban metafisik yang tertuang dalam sumpah nasional. Setiap pagi, siswa sekolah dan pegawai negeri diwajibkan untuk mengucapkan sumpah yang menyatakan: “Pada saat aku mengkhianati Saparmurat Türkmenbaşy yang Agung, biarlah napasku berhenti”. Sumpah ini mengaitkan keberlangsungan hidup biologis individu secara langsung dengan kepatuhan mereka kepada penguasa.
Sumpah tersebut mencerminkan kontrol “biopolitik” yang total, di mana negara tidak hanya mengatur tindakan luar warga, tetapi juga mencoba menguasai kesadaran batin mereka. Bagi Niyazov, pengabdian rakyat adalah utang yang harus dibayar setiap hari melalui ucapan dan tindakan yang memuliakan dirinya. Ketidakpatuhan, bahkan dalam bentuk kritik kecil, dianggap sebagai pengkhianatan terhadap negara dan dapat berujung pada hukuman penjara seumur hidup atau hilangnya kewarganegaraan.
Larangan Eksentrik dan Standarisasi Budaya
Rezim Niyazov ditandai dengan serangkaian larangan yang sering kali muncul tanpa peringatan dan didasarkan pada selera pribadi presiden. Larangan-larangan ini bertujuan untuk mengeliminasi pengaruh “Barat” atau “asing” yang dianggap dapat mengikis moralitas Turkmen, serta untuk menyeragamkan penampilan masyarakat agar lebih mudah dikontrol.
Larangan Ekspresi Seni dan Hiburan
Niyazov melarang opera, balet, dan sirkus pada tahun 2001, dengan menyatakan bahwa bentuk-bentuk seni tersebut “tidak perlu” dan bertentangan dengan warisan budaya Turkmen yang asli. Ia berpendapat bahwa rakyat Turkmen tidak secara alami memiliki apresiasi terhadap balet, sehingga memaksakannya adalah sia-sia. Sebagai gantinya, panggung-panggung negara hanya boleh menampilkan tarian dan musik rakyat yang telah disetujui, yang sering kali liriknya berisi pujian terhadap Türkmenbaşy.
Salah satu kebijakan yang paling spesifik adalah larangan penggunaan lip-sync dalam konser musik publik. Niyazov berpendapat bahwa lip-sync merusak perkembangan seni suara yang sejati dan menipu penonton. Ia ingin menciptakan “budaya baru” di mana talenta asli dihargai, namun dalam praktiknya, hal ini sering digunakan untuk membatasi ruang bagi artis populer yang tidak sejalan dengan ideologi negara.
Kontrol Penampilan dan Perilaku Pribadi
Niyazov memiliki ketertarikan yang sangat detail terhadap penampilan fisik rakyatnya. Ia melarang laki-laki memelihara janggut atau rambut panjang, yang ia anggap sebagai tanda ketidakteraturan atau pengaruh agama radikal yang tidak diinginkan. Selain itu, ia melarang penggunaan gigi emas, sebuah praktik yang umum di wilayah tersebut sebagai simbol status. Niyazov justru menyarankan rakyatnya untuk menjaga kesehatan gigi dengan “mengunyah tulang,” mengklaim telah mengamati bahwa anjing yang mengunyah tulang memiliki gigi yang sangat kuat.
Di televisi, pembaca berita wanita dilarang menggunakan makeup. Alasan resminya adalah untuk menonjolkan kecantikan alami “warna gandum” dari kulit wanita Turkmen, namun ada pula laporan yang menyebutkan bahwa Niyazov merasa kesulitan membedakan antara presenter pria dan wanita jika mereka menggunakan riasan berlebih.
| Daftar Larangan dan Kebijakan Eksentrik Niyazov | Tahun/Konteks | Alasan Resmi/Motivasi |
| Lip-Sync | 2005 | Melindungi kemurnian seni suara. |
| Balet dan Opera | 2001 | Dianggap tidak sesuai dengan budaya Turkmen. |
| Gigi Emas | 2004 | Menyarankan mengunyah tulang sebagai alternatif kesehatan. |
| Janggut dan Rambut Panjang | Berbagai dekrit | Memastikan keseragaman penampilan pria. |
| Makeup di Televisi | 2004 | Mempertahankan penampilan natural; membedakan gender. |
| Anjing di Ibu Kota | 2003 | Karena bau yang dianggap tidak menyenangkan. |
| Video Games | Berbagai sumber | Dianggap merusak moralitas pemuda. |
| Merokok di Tempat Umum | 1997 | Setelah Niyazov menjalani operasi jantung dan berhenti merokok. |
Kebijakan-kebijakan ini didukung oleh kepolisian moral dan KNB yang ketat. Di ibu kota Ashgabat, anjing-anjing diusir atau dimusnahkan karena dianggap baunya dapat mengganggu aroma bunga-bunga tertentu yang dinamai sesuai nama Niyazov. Warga bahkan dilarang mendengarkan radio di dalam mobil atau memiliki sistem stereo yang terlalu keras, karena dapat mengganggu ketenangan publik yang diatur oleh negara.
Destruksi Infrastruktur Sosial: Kesehatan dan Pendidikan
Di balik kemegahan monumen emas, Niyazov melakukan pemotongan drastis terhadap layanan publik yang sangat krusial. Pada Maret 2005, ia memerintahkan penutupan seluruh rumah sakit dan klinik di luar ibu kota Ashgabat. Alasan yang diberikan adalah efisiensi biaya; ia berargumen bahwa jika orang sakit, mereka harus datang ke ibu kota untuk mendapatkan perawatan terbaik. Keputusan ini secara efektif memutus akses layanan kesehatan bagi jutaan warga pedesaan, yang sering kali harus menempuh jarak ratusan mil dalam kondisi darurat.
Secara bersamaan, Niyazov memecat sekitar 15,000 perawat profesional dan mengganti mereka dengan tentara wajib militer muda yang tidak memiliki pelatihan medis. Dampak terhadap kesehatan publik sangat mengerikan; Turkmenistan mencatat tingkat kematian ibu dan bayi yang tinggi, sementara diskusi mengenai penyakit menular seperti AIDS, kolera, atau flu dilarang karena dianggap mencoreng citra negara yang sehat.
Dalam bidang pendidikan, selain pengurangan masa sekolah, Niyazov menutup hampir seluruh perpustakaan di pedesaan, dengan klaim bahwa “orang Turkmen rata-rata tidak membaca” dan mereka hanya memerlukan Ruhnama serta Quran. Pengurangan masa studi universitas menjadi hanya dua tahun juga bertujuan agar kaum muda lebih cepat masuk ke pasar tenaga kerja kasar, terutama untuk memenuhi kuota panen kapas tahunan yang masih menggunakan sistem kerja paksa gaya Soviet.
Megalomania Arsitektural: Membangun di Atas Gurun
Niyazov menggunakan kekayaan gas alam negara untuk membangun proyek-proyek yang sering dianggap mustahil atau tidak praktis, namun berfungsi sebagai monumen abadi bagi dirinya. Ashgabat diubah menjadi “Kota Marmer Putih” dengan ratusan gedung pencakar langit yang dilapisi marmer mahal, meskipun banyak di antaranya tetap kosong karena rakyat tidak mampu membelinya.
- Arch of Neutrality: Sebuah menara setinggi 75 meter berbentuk roket yang di puncaknya terdapat patung emas Niyazov. Patung ini dilengkapi mekanisme motor yang membuatnya berputar 360 derajat dalam 24 jam agar wajah sang pemimpin selalu menghadap matahari.
- Istana Es di Gurun: Pada tahun 2004, Niyazov memerintahkan pembangunan kompleks olahraga es raksasa di pegunungan dekat Ashgabat agar rakyatnya bisa belajar bermain ski, meskipun suhu di luar sering mencapai di atas 40 derajat Celsius.
- Walk of Health (Serdar Ýoly): Sebuah jalur tangga beton sepanjang 23 mil yang mendaki lereng pegunungan Kopet Dag. Niyazov mewajibkan menteri dan pegawai negerinya untuk mendaki jalur ini setahun sekali demi kesehatan, sementara ia sendiri sering kali menempuh perjalanan tersebut menggunakan helikopter untuk menyambut mereka di garis finis.
- Masjid Turkmenbashi Ruhy: Salah satu masjid terbesar di Asia Tengah, dibangun di Gypjak dengan biaya lebih dari $100 juta. Masjid ini unik karena di dinding-dindingnya tidak hanya terdapat ayat-ayat Quran, tetapi juga kutipan-kutipan dari Ruhnama.
Proyek-proyek ini menelan biaya miliaran dolar, sementara infrastruktur dasar di luar ibu kota tetap terbengkalai. Diperkirakan lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) negara dialokasikan ke dana khusus kepresidenan yang berada di bawah kendali langsung Niyazov, termasuk cadangan devisa besar di Deutsche Bank.
Represi Politik dan Krisis Suksesi
Selama masa pemerintahannya, Niyazov tidak menoleransi oposisi dalam bentuk apa pun. Setiap kritik dianggap sebagai pengkhianatan. Pada tahun 2002, setelah dugaan upaya pembunuhan yang melibatkan penembakan terhadap motorcade kepresidenan, Niyazov meluncurkan pembersihan besar-besaran terhadap tokoh-tokoh politik dan militer. Mantan Menteri Luar Negeri Boris Shikhmuradov ditangkap dan dipaksa memberikan pengakuan di televisi nasional—sebuah praktik yang mengingatkan pada pengadilan pameran era Stalin.
Kekuasaan Niyazov bersifat sangat personal sehingga ia tidak pernah secara resmi menunjuk ahli waris. Ketika ia meninggal mendadak akibat serangan jantung pada 21 Desember 2006, terjadi kekosongan kekuasaan sesaat. Secara konstitusional, Ketua Parlemen Öwezgeldi Ataýew seharusnya menjadi pelaksana tugas presiden, namun ia segera ditangkap atas perintah elit keamanan, dan posisi tersebut diberikan kepada Gurbanguly Berdimuhamedow, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kesehatan.
Transformasi Pasca-Niyazov: Sebuah Paradoks Kontinuitas
Di bawah Gurbanguly Berdimuhamedow, Turkmenistan memulai proses reformasi yang sangat selektif. Meskipun banyak kebijakan Niyazov yang paling eksentrik dibatalkan, struktur dasar otokrasi tetap dipertahankan. Berdimuhamedow menyadari bahwa untuk menarik investasi asing, terutama di sektor energi, ia perlu menampilkan citra negara yang sedikit lebih “rasional”.
| Kebijakan Era Niyazov | Tindakan Era Berdimuhamedow (2007-2022) |
| Kalender Keluarga | Dikembalikan ke kalender Gregorian pada Juli 2008. |
| Penggunaan Ruhnama | Dihapus dari kurikulum sekolah dan ujian masuk universitas. |
| Larangan Opera/Sirkus | Dibuka kembali secara bertahap; sirkus nasional aktif kembali. |
| Penutupan Rumah Sakit | Beberapa fasilitas di pedesaan dibuka kembali dengan investasi baru. |
| Nama-nama Geografis | Pada 2022, kota-kota yang dinamai “Niyazov” mulai diganti namanya. |
| Sumpah Kesetiaan | Kewajiban harian untuk bersumpah kepada individu dikurangi. |
Namun, Berdimuhamedow juga membangun kultus kepribadiannya sendiri. Ia mengadopsi gelar “Arkadag” (Pelindung) dan menghiasi kota dengan patung emas dirinya sendiri, termasuk monumen setinggi 21 meter yang menampilkan dirinya menunggang kuda Akhal-Teke di atas tebing marmer putih. Kebijakan internet tetap sangat terbatas, dan oposisi politik masih tidak diizinkan untuk beroperasi.
Kesimpulan: Warisan Zaman Marmer dan Emas
Era Saparmurat Niyazov di Turkmenistan merupakan periode unik dalam sejarah kontemporer yang menunjukkan bagaimana kekuasaan absolut dapat digunakan untuk melakukan eksperimen sosial berskala besar. Melalui “Pajak Napas” dalam bentuk sumpah kesetiaan, penghapusan kata-kata dasar dari bahasa, serta penguasaan atas dimensi waktu, Niyazov mencoba menciptakan realitas baru di mana negara dan dirinya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Meskipun banyak kebijakan uniknya telah dibatalkan, dampak jangka panjang dari pemerintahannya masih terasa. Kerusakan pada sistem pendidikan telah menciptakan kesenjangan keterampilan yang signifikan, sementara isolasi politik telah menghambat integrasi regional Turkmenistan. Warisan Niyazov bukan hanya terletak pada patung-patung emas yang masih tersisa, tetapi pada struktur kekuasaan yang ia bangun—sebuah model otokrasi berbasis sumber daya yang terus menjadi tantangan bagi perkembangan demokrasi di Asia Tengah. Pengalaman Turkmenistan memberikan pelajaran berharga bagi komunitas internasional mengenai risiko dari kultus kepribadian yang ekstrem dan pentingnya pengawasan terhadap distribusi kekayaan sumber daya alam di bawah rezim otoriter.
