Sistem pembiayaan institusi keagamaan di Republik Federal Jerman merupakan salah satu fenomena fiskal dan sosiologis yang paling unik di dunia modern. Di tengah arus sekularisasi yang semakin deras melanda Eropa Barat, Jerman tetap mempertahankan mekanisme di mana negara bertindak sebagai perantara keuangan bagi gereja-gereja dan komunitas agama tertentu melalui sistem Pajak Gereja atau Kirchensteuer. Fenomena ini menciptakan sebuah struktur di mana keanggotaan spiritual dalam sebuah komunitas iman berimplikasi langsung pada kewajiban hukum dan finansial yang bersifat wajib. Bagi masyarakat global, konsep di mana negara bertindak sebagai “penagih utang” bagi institusi keagamaan sering kali dipandang sebagai paradoks terhadap prinsip pemisahan antara gereja dan negara. Namun, dalam konteks hukum dan sejarah Jerman, hal ini merupakan hasil dari kompromi konstitusional yang panjang dan kompleks.

Istilah “Membayar untuk Beriman” bukan sekadar kiasan dalam konteks ini, melainkan refleksi dari realitas administratif di mana status keagamaan seseorang secara otomatis memicu pemotongan pendapatan antara 8% hingga 9% dari pajak penghasilan. Analisis ini akan mengeksplorasi secara mendalam akar sejarah dari sistem ini, mekanisme fiskal yang mengatur operasinya, kontroversi sosiopolitik yang menyertainya di era sekuler, serta bagaimana institusi gereja membenarkan keberadaan dana tersebut melalui penyediaan layanan sosial yang luas. Melalui tinjauan pakar ini, akan terlihat bagaimana pajak gereja bukan sekadar instrumen pendanaan, melainkan pilar dari identitas sosial dan kemitraan antara negara dan agama di Jerman.

Evolusi Historis: Dari Penjarahan Aset hingga Kompromi Konstitusional

Keberadaan Kirchensteuer di Jerman tidak dapat dipisahkan dari peristiwa traumatis dalam sejarah gereja Eropa, yaitu sekularisasi besar-besaran yang terjadi pada awal abad ke-19. Melalui Reichsdeputationshauptschluss tahun 1803, wilayah-wilayah kekuasaan gereja, terutama milik Gereja Katolik, disita oleh negara-negara bagian Jerman untuk memberikan kompensasi kepada para pangeran yang kehilangan tanah mereka akibat perang Napoleon di sebelah barat Sungai Rhine. Penyitaan aset-aset yang menghasilkan pendapatan ini, seperti tanah pertanian dan properti, meninggalkan gereja dalam keadaan bangkrut secara finansial, namun tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mengelola paroki dan layanan sosial.

Sebagai gantinya, negara-negara bagian Jerman mulai memberikan kompensasi finansial langsung yang dikenal sebagai Staatsleistungen. Namun, seiring dengan berkembangnya birokrasi negara pada pertengahan abad ke-19, pemerintah mulai mencari cara untuk mengalihkan beban pendanaan gereja kembali kepada para anggotanya. Inilah awal mula lahirnya pajak gereja sebagai bentuk pembiayaan mandiri yang difasilitasi oleh negara. Bayern, misalnya, merupakan salah satu negara bagian yang cukup lambat dalam mengadopsi sistem ini, baru memperkenalkannya secara penuh antara tahun 1892 hingga 1912. Transformasi ini menggeser model pendanaan dari kepemilikan aset tanah ke kontribusi berbasis pendapatan anggota.

Landasan hukum modern bagi pajak gereja diperkuat melalui Pasal 137 ayat 6 Konstitusi Weimar tahun 1919 (WRV), yang menyatakan bahwa komunitas agama yang memiliki status hukum sebagai badan hukum publik (Körperschaft des öffentlichen Rechts) berhak memungut pajak berdasarkan daftar pajak sipil negara. Hak ini kemudian diadopsi sepenuhnya ke dalam Hukum Dasar Jerman (Grundgesetz) pada tahun 1949 melalui Pasal 140. Dengan demikian, pajak gereja bukan lagi sekadar tradisi, melainkan hak konstitusional yang dijamin oleh negara federal.

Dasar Hukum dan Status Badan Hukum Publik

Pajak gereja hanya dapat dipungut oleh komunitas agama yang diakui sebagai badan hukum publik (Körperschaft des öffentlichen Rechts atau KdöR). Status ini memberikan hak kepada komunitas tersebut untuk menjalankan fungsi-fungsi kedaulatan tertentu, termasuk perpajakan.

Komunitas Agama Utama Status Hukum Basis Pemungutan Pajak
Gereja Katolik Roma KdöR Pajak Penghasilan / Pajak Upah
Gereja Protestan (EKD) KdöR Pajak Penghasilan / Pajak Upah
Komunitas Yahudi KdöR Pajak Budaya (Kultussteuer)
Gereja Katolik Lama KdöR Pajak Penghasilan / Pajak Upah
Komunitas Agama Bebas KdöR (tertentu) Pajak Anggota

Status “KdöR” tidak diberikan secara sembarangan. Komunitas agama harus menunjukkan stabilitas, jumlah pengikut yang signifikan, serta kesetiaan pada tatanan hukum negara untuk mendapatkan hak ini. Hal ini menciptakan hierarki di mana gereja-gereja besar memiliki akses terhadap birokrasi pajak negara, sementara komunitas agama yang lebih baru atau lebih kecil, seperti mayoritas organisasi Muslim, tidak memiliki akses serupa dan harus bergantung pada sumbangan sukarela.

Mekanisme Fiskal: Bagaimana Pajak Gereja Bekerja

Satu hal yang sering kali membingungkan wajib pajak baru di Jerman adalah cara penghitungan pajak gereja. Berbeda dengan pajak penghasilan yang dihitung dari pendapatan bruto, pajak gereja adalah pajak tambahan (surcharge) yang dihitung sebagai persentase dari jumlah pajak penghasilan yang terutang.

Secara matematis, jika seseorang memiliki beban pajak penghasilan sebesar $T$, maka jumlah pajak gereja ($K$) yang harus dibayar ditentukan oleh tarif regional ($r$):

$$K = T \times r$$

Di mana tarif $r$ adalah 8% di negara bagian Bayern dan Baden-Württemberg, serta 9% di semua negara bagian lainnya.

Variasi Regional dan Tarif Pajak

Perbedaan tarif antara 8% dan 9% mencerminkan struktur federal Jerman di mana negara bagian memiliki otonomi untuk mengatur undang-undang pajak gereja mereka sendiri.

Negara Bagian Tarif Pajak Gereja (%)
Bayern 8%
Baden-Württemberg 8%
Berlin 9%
Nordrhein-Westfalen 9%
Hamburg 9%
Niedersachsen 9%
Sachsen 9%
Hessen 9%

Penting untuk dicatat bahwa pajak ini juga berlaku untuk penghasilan dari modal (capital gains) dan tunjangan pemutusan hubungan kerja (severance payments), menjadikannya instrumen fiskal yang sangat luas cakupannya. Bagi karyawan, pajak ini dipotong secara otomatis oleh pemberi kerja setiap bulan dan dikirimkan ke kantor pajak (Finanzamt), yang kemudian meneruskannya ke gereja yang relevan.

Instrumen Perlindungan: Kappung dan Sonderausgaben

Untuk mencegah beban yang tidak proporsional bagi wajib pajak berpenghasilan sangat tinggi, sebagian besar negara bagian menerapkan mekanisme yang disebut Kappung (pembatasan). Mekanisme ini membatasi pajak gereja agar tidak melebihi persentase tertentu dari pendapatan kena pajak seseorang, biasanya berkisar antara 2,75% hingga 4%.

Analisis terhadap data fiskal menunjukkan bahwa Kappung sangat menguntungkan kelompok elit ekonomi. Misalnya, di Berlin, jika pajak gereja 9% dari pajak penghasilan melampaui 3% dari total pendapatan bruto, maka jumlahnya akan dibatasi hanya pada 3% tersebut. Hal ini memastikan bahwa meskipun seseorang memiliki pendapatan jutaan Euro, kontribusi gerejanya tetap berada dalam batas yang dapat diprediksi. Di beberapa negara bagian seperti Berlin dan Hamburg, pembatasan ini terjadi secara otomatis, sementara di negara bagian lain seperti Nordrhein-Westfalen, wajib pajak harus mengajukan permohonan secara formal kepada otoritas gereja.

Selain itu, Pajak Gereja diklasifikasikan sebagai “biaya khusus” (Sonderausgaben) dalam hukum pajak Jerman. Artinya, seluruh jumlah pajak gereja yang dibayarkan dalam satu tahun kalender dapat dikurangkan dari pendapatan kena pajak untuk tahun berikutnya. Hal ini menciptakan efek subsidi tidak langsung dari negara; dengan membayar pajak gereja, pendapatan kena pajak seseorang menjadi lebih rendah, yang pada gilirannya mengurangi beban pajak penghasilan secara keseluruhan. Secara riil, beban pajak gereja bagi wajib pajak sering kali hanya sekitar 1% dari pendapatan bruto mereka setelah memperhitungkan penghematan pajak ini.

Negara sebagai Penyedia Layanan Penagihan

Keunikan sistem Jerman terletak pada peran negara sebagai agen penagih utang bagi gereja. Kantor pajak negara melakukan semua pekerjaan administratif: melacak keanggotaan, menghitung jumlah pajak, melakukan pemotongan, dan mengelola sengketa. Untuk layanan ini, negara bagian memungut biaya administrasi sebesar 2% hingga 4,5% dari total pendapatan pajak gereja yang dikumpulkan.

Pada tahun 2024, Gereja Protestan (EKD) sendiri harus membayar sekitar 193 juta Euro kepada negara sebagai biaya layanan penagihan ini. Meskipun terdengar mahal, angka ini jauh lebih efisien bagi gereja dibandingkan jika mereka harus membangun infrastruktur perpajakan sendiri. Dari perspektif negara, sistem ini dipandang praktis karena memastikan aliran dana yang stabil bagi gereja-gereja yang mengelola ribuan institusi sosial, yang jika gagal, harus diambil alih sepenuhnya oleh negara dengan biaya yang jauh lebih tinggi.

Dinamika Keuangan: Ke mana Uang Itu Pergi?

Gereja-gereja di Jerman adalah salah satu institusi keagamaan terkaya di dunia berkat sistem ini. Pada tahun 2024, pendapatan pajak gereja untuk umat Katolik di seluruh Jerman mencapai sekitar 6,628 miliar Euro, meningkat sedikit dari 6,515 miliar Euro pada tahun sebelumnya. Gereja Protestan mencatat angka yang serupa, sekitar 6 miliar Euro. Namun, akumulasi kekayaan ini sering kali menjadi titik pusat kritik publik.

Struktur Pengeluaran dan Biaya Personel

Banyak masyarakat awam menganggap bahwa sebagian besar pajak gereja digunakan untuk membantu orang miskin. Namun, laporan keuangan gereja menunjukkan realitas yang berbeda. Pengeluaran terbesar bagi institusi gereja di Jerman adalah biaya personel.

Kategori Pengeluaran (EKD) Persentase Estimasi (%) Deskripsi
Biaya Personel > 60% Gaji pendeta, karyawan paroki, pekerja sosial, guru agama.
Pekerjaan Paroki Lokal ~ 33% Ibadah, pelayanan pastoral, musik gereja, kegiatan komunitas.
Pemeliharaan Bangunan ~ 10% Perawatan ribuan gereja bersejarah, kapel, dan gedung paroki.
Administrasi & Manajemen ~ 10% Tata kelola organisasi di tingkat distrik dan pusat.

Di Gereja Protestan (EKD), lebih dari dua pertiga pengeluaran difokuskan pada tingkat lokal, terutama untuk gaji mereka yang melayani umat secara langsung. Gereja berargumen bahwa karena “pelayanan gereja adalah pelayanan manusia,” maka wajar jika biaya terbesar adalah manusia. Namun, bagi para kritikus, hal ini terlihat seperti birokrasi agama yang membengkak yang didanai oleh pajak wajib.

Paradoks Institusi Sosial: Caritas dan Diakonie

Salah satu argumen terkuat gereja untuk mempertahankan pajak gereja adalah peran mereka dalam menjalankan layanan sosial seperti taman kanak-kanak, rumah sakit, dan panti jompo melalui organisasi seperti Caritas (Katolik) dan Diakonie (Protestan). Gereja sering menyatakan bahwa tanpa pajak ini, layanan sosial Jerman akan lumpuh.

Namun, terdapat perbedaan besar antara “persepsi publik” dan “realitas fiskal” dalam pendanaan lembaga-lembaga ini. Analisis mendalam menunjukkan bahwa organisasi seperti Caritas dan Diakonie sebenarnya didanai hampir sepenuhnya (sekitar 90% hingga 98%) oleh negara melalui dana asuransi kesehatan, asuransi perawatan, dan subsidi pemerintah, bukan dari pajak gereja. Kontribusi langsung dari pajak gereja ke anggaran operasional Caritas atau Diakonie sering kali hanya berkisar antara 1,8% hingga 6%.

Gereja membela posisi mereka dengan menyatakan bahwa meskipun kontribusi finansialnya kecil secara persentase, dana tersebut sangat krusial untuk memberikan “nilai tambah” religius, seperti pelayanan kapelan di rumah sakit, bimbingan spiritual di panti jompo, dan penutupan celah pendanaan yang tidak ditanggung oleh asuransi negara. Selain itu, kepemilikan gereja atas institusi-institusi ini memungkinkan mereka untuk menerapkan hukum ketenagakerjaan gereja yang unik, yang sering kali menjadi perdebatan hukum tersendiri.

Kirchenaustritt: Keluar dari Gereja sebagai Tindakan Hukum

Di Jerman, iman seseorang adalah masalah pribadi, tetapi keanggotaan gereja adalah masalah administratif. Untuk berhenti membayar pajak gereja, seseorang tidak cukup hanya dengan berhenti beribadah atau menyatakan diri atheis; mereka harus melakukan proses hukum resmi yang disebut Kirchenaustritt.

Prosedur dan Biaya Administrasi

Proses pengunduran diri ini dilakukan di kantor catatan sipil (Standesamt) atau pengadilan negeri (Amtsgericht), bukan di kantor paroki. Wajib pajak harus hadir secara pribadi, menunjukkan kartu identitas, dan membayar biaya administrasi.

Wilayah Otoritas Pelaksana Estimasi Biaya (Euro)
Berlin, Brandenburg, Bremen Standesamt Gratis
Bayern, Baden-Württemberg Standesamt 25 – 60
Nordrhein-Westfalen Amtsgericht 30

Pengunduran diri ini biasanya menjadi efektif pada akhir bulan di mana pernyataan tersebut dibuat atau pada bulan berikutnya, tergantung pada undang-undang negara bagian. Segera setelah proses selesai, otoritas sipil akan memperbarui data kependudukan dan menginformasikan kantor pajak untuk menghentikan pemotongan pajak gereja secara otomatis.

Konsekuensi Spiritual dan Profesional

Meskipun keluar dari gereja adalah tindakan administratif untuk tujuan pajak, gereja-gereja di Jerman sering kali memberikan sanksi spiritual yang berat. Bagi Gereja Katolik, pengunduran diri secara resmi dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap komunitas iman yang memiliki konsekuensi sakramental.

  1. Kehilangan Hak Sakramen: Seseorang yang telah keluar dari gereja secara resmi tidak diizinkan untuk menerima komuni, melakukan pengakuan dosa, atau menerima sakramen pengurapan orang sakit.
  2. Pernikahan Gereja: Pasangan yang keduanya telah keluar dari gereja tidak dapat menikah secara Katolik. Jika salah satu masih menjadi anggota, izin khusus dari uskup diperlukan.
  3. Wali Baptis (Patenamt): Untuk menjadi wali baptis atau wali penguatan (Firmung), seseorang harus menjadi anggota aktif gereja. Pengunduran diri secara otomatis menggugurkan hak ini.
  4. Pemakaman: Secara umum, gereja tidak akan memberikan layanan pemakaman religius bagi non-anggota, karena tindakan pengunduran diri dianggap sebagai pernyataan keinginan terakhir untuk tidak lagi berhubungan dengan gereja.
  5. Ketenagakerjaan: Ini adalah aspek yang paling kontroversial. Banyak posisi di rumah sakit, sekolah, dan taman kanak-kanak yang dikelola gereja mensyaratkan keanggotaan gereja. Keluar dari gereja dapat menjadi dasar hukum untuk pemutusan hubungan kerja, meskipun pengadilan Eropa dan Jerman mulai membatasi praktik ini dalam beberapa tahun terakhir.

Krisis Legitimasi di Negara yang Semakin Sekuler

Jerman saat ini berada dalam fase transisi sosiologis yang mendalam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, jumlah penganut Kristen (Katolik dan Protestan digabungkan) turun di bawah 50% dari total populasi. Penurunan ini menciptakan tekanan besar pada sistem pajak gereja.

Statistik Pengunduran Diri Massal

Tahun 2022 mencatat rekor tertinggi pengunduran diri dari gereja di Jerman, dengan lebih dari 522.000 orang keluar dari Gereja Katolik saja. Tren ini berlanjut pada tahun 2023 dan 2024, meskipun dengan sedikit penurunan kecepatan.

Tahun Keluar dari Gereja Katolik Keluar dari Gereja Protestan
2022 522.821 380.000
2023 402.694 ~380.000
2024 (Data Awal) 321.611 ~350.000

Penyebab utama dari eksodus massal ini bersifat multidimensional. Skandal pelecehan seksual yang melibatkan klerus dan cara gereja menangani skandal tersebut telah menghancurkan kepercayaan publik secara masif. Selain itu, di tengah inflasi dan kenaikan biaya hidup, banyak warga kelas menengah melihat pengunduran diri dari gereja sebagai cara termudah untuk meningkatkan pendapatan bersih bulanan mereka sebesar 50 hingga 150 Euro.

Masalah Staatsleistungen dan Janji Tahun 2025/2026

Selain pajak gereja, isu Staatsleistungen atau pembayaran tahunan dari anggaran negara kepada gereja sebagai kompensasi atas penyitaan aset tahun 1803 semakin menjadi perdebatan panas. Konstitusi Weimar tahun 1919 dan Hukum Dasar tahun 1949 sebenarnya telah mengamanatkan bahwa pembayaran ini harus dihentikan melalui mekanisme “ablösung” (pelunasan satu kali). Namun, selama lebih dari 100 tahun, perintah konstitusional ini diabaikan karena biayanya yang sangat besar.

Pada tahun 2025, negara diperkirakan akan membayar sekitar 657 juta Euro sebagai Staatsleistungen, dan angka ini diperkirakan naik menjadi 666 juta Euro pada tahun 2026. Pemerintah koalisi saat ini telah berjanji untuk akhirnya menyelesaikan masalah ini. Namun, negosiasi berjalan sangat sulit. Gereja menuntut kompensasi satu kali yang setara dengan 20 hingga 25 kali lipat dari pembayaran tahunan, yang berarti negara bagian harus mengeluarkan dana antara 10 hingga 15 miliar Euro sekaligus. Di tengah krisis anggaran publik, pengeluaran sebesar ini sulit diterima oleh pemilih, sehingga menciptakan kebuntuan politik yang terus berlanjut.

Analisis Komparatif: Bagaimana dengan Agama Lain?

Sistem pajak gereja sering dianggap diskriminatif karena tidak semua agama mendapatkan akses yang sama terhadap birokrasi negara.

Komunitas Yahudi dan Kultussteuer

Komunitas Yahudi di Jerman juga memiliki status badan hukum publik dan memungut apa yang disebut sebagai Kultussteuer. Mekanismenya hampir identik dengan pajak gereja Kristen, dengan tarif 8-9% dari pajak penghasilan. Dana ini digunakan untuk pemeliharaan sinagoga, keamanan komunitas, serta layanan pendidikan dan sosial bagi anggota komunitas Yahudi yang jumlahnya terus tumbuh melalui imigrasi dari bekas Uni Soviet.

Umat Muslim dan Tantangan “Pajak Masjid”

Berbeda dengan Kristen dan Yahudi, komunitas Muslim di Jerman yang berjumlah sekitar 5,5 juta orang tidak memungut pajak melalui negara. Hal ini disebabkan oleh struktur organisasi Islam yang sering kali berbentuk asosiasi terdaftar (eingetragener Verein) dan bukan badan hukum publik. Akibatnya, banyak masjid di Jerman bergantung pada pendanaan dari luar negeri, seperti dari pemerintah Turki melalui DITIB, atau dari negara-negara Teluk.

Terdapat diskusi politik mengenai pengenalan “Pajak Masjid” (Moscheesteuer) untuk memberikan kemandirian finansial bagi komunitas Muslim Jerman dan mengurangi pengaruh asing. Namun, prasyarat hukum untuk menjadi KdöR sangat berat, termasuk tuntutan akan struktur kepemimpinan yang tersentralisasi dan representatif, yang sering kali tidak sesuai dengan tradisi organisasi Islam yang lebih desentralisasi.

Masa Depan “Membayar untuk Beriman”

Sistem Pajak Gereja di Jerman berada pada persimpangan jalan. Di satu sisi, sistem ini menyediakan pendanaan yang tak tertandingi secara global untuk pemeliharaan budaya, seni, dan layanan sosial keagamaan. Di sisi lain, ia semakin terlihat sebagai peninggalan dari masa lalu yang tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang pluralistik dan individualistik.

Prediksi Perubahan Fiskal 2026

Meskipun pajak gereja sendiri kemungkinan besar tidak akan dihapus dalam waktu dekat karena perlindungan konstitusionalnya, beban pajak bagi warga diperkirakan akan sedikit berkurang melalui penyesuaian tarif pajak penghasilan nasional pada tahun 2026. Pemerintah berencana meningkatkan ambang batas bebas pajak (Grundfreibetrag) menjadi 12.348 Euro untuk individu. Karena pajak gereja dihitung berdasarkan pajak penghasilan, kenaikan ambang batas ini secara otomatis akan mengurangi jumlah orang yang wajib membayar pajak gereja, terutama di kalangan berpenghasilan rendah.

Pergeseran Sosiologis: Menuju Gereja yang Didanai Secara Sukarela?

Model Jerman saat ini sedang bersaing dengan model mandat yang diterapkan di negara-negara tetangga. Di Italia, sistem otto per mille memungkinkan wajib pajak memilih ke mana 0,8% dari pajak mereka dialokasikan, apakah ke gereja atau ke program bantuan sosial negara. Jika wajib pajak tidak memilih, uang tersebut tetap dipotong dan didistribusikan secara proporsional berdasarkan pilihan mayoritas. Banyak aktivis di Jerman menyarankan agar model ini diadopsi sebagai bentuk transisi yang lebih adil dan modern daripada sistem penagihan paksa saat ini.

Namun, gereja-gereja besar di Jerman sangat resisten terhadap perubahan ini. Mereka khawatir bahwa tanpa pemotongan otomatis dari pajak penghasilan, pendapatan mereka akan merosot tajam, yang akan memaksa penutupan ribuan taman kanak-kanak dan pemutusan hubungan kerja massal bagi karyawan gereja. Analisis menunjukkan bahwa jika Jerman beralih ke model donasi sukarela murni seperti di Prancis atau Amerika Serikat, pendapatan gereja bisa turun hingga 80%, yang akan mengubah wajah lanskap sosial Jerman secara permanen.

Kesimpulan: Keseimbangan Antara Tradisi dan Modernitas

Sistem Kirchensteuer di Jerman mewujudkan hubungan yang unik dan intim antara negara dan agama yang tidak ditemukan di sebagian besar negara demokrasi modern. Bagi pendukungnya, ini adalah sistem yang efisien, transparan, dan adil secara sosial karena didasarkan pada kemampuan finansial anggota. Bagi penentangnya, ini adalah bentuk paksaan institusional yang melanggar privasi religius dan menciptakan ketidakadilan bagi komunitas agama yang lebih kecil.

Realitas “Membayar untuk Beriman” di Jerman menunjukkan bahwa iman tidak hanya hidup di dalam hati para penganutnya, tetapi juga di dalam daftar gaji dan sistem perpajakan negara. Keberlangsungan sistem ini di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan gereja untuk memulihkan kepercayaan publik dan membuktikan bahwa miliaran Euro yang dikumpulkan setiap tahun benar-benar memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat, bukan sekadar untuk mempertahankan birokrasi keagamaan. Tanpa reformasi yang substansial, arus pengunduran diri yang kita saksikan pada tahun 2024 dan 2025 kemungkinan besar akan terus berlanjut, yang pada akhirnya akan memaksa rekonstruksi total terhadap kontrak sosial antara gereja, negara, dan warga di Jerman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

66 − = 60
Powered by MathCaptcha